Buku: Makin Ganjil Makin Lezat

Posted by Cinta Buku on

Di era cyberspace ini, buku sudah berganti "wajah" dan "rasa", dan ada juga yang "berani tampil beda". Mau bukti? Cobalah ambil buku karangan Bobbi DePorter dan Mike Hernacki berjudul Quantum Learning. Buku itu kini tengah mengguncang dunia pendidikan di Indonesia. Bayangkan, kata buku itu, proses belajar dapat dilakukan secara nyaman dan menyenangkan. Bagaimana mungkin?

Kita lihat bentuk bukunya. Di setiap halaman ganjil buku itu, tidak ada teks yang "pengap". Yang ada hanyalah teks-teks dengan huruf besar dan kebanyakan disertai gambar-gambar lucu yang menyenangkan plus menyamankan.

Memang, di halaman sebelahnya, halaman genap, kita masih melihat adanya teks yang memenuhi sekujur halaman buku. Tetapi, tunggu dulu. Jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa buku itu sama saja dengan buku lain, yang berisi teks-teks yang sulit "dikunyah".

Bahasa buku Quantum Learning ternyata membuat kita tersugesti untuk bilang: hebat, ya, manusia itu! Cobalah rasakan dengan hati, jangan dengan pikiran. Kita akan kagum dengan penyusun buku itu lantaran bahasanya yang jernih, mengalir, dan tertata.

Setelah merasakan halaman genap, kemudian lihatlah halaman ganjil. Untuk sebagian besar pembaca yang sudah merasakan lezatnya buku itu, halaman kiri dan kanan Quantum Learning mampu membuat dua belahan otak manusia bekerja serentak. Ajaib, bukan?

Masih ada satu buku lagi yang enak dan lezat "dikunyah", yakni karya dua peneliti pendidikan: Gordon Dryden dan Jeannette Vos, The Learning Revolution: To Change the Way the World Learns. Buku itu sempat menggemparkan daratan Cina gara-gara dalam sehari terjual kurang lebih 30.000 eksemplar dalam suatu masa.

Buku itu, secara menarik, mengumpulkan perubahan-perubahan yang tengah terjadi di dunia pendidikan di hampir seluruh dunia. Komentar para pakar multidisiplin yang dikutip oleh buku itu, mengenai pendidikan yang tengah berubah, dijajar secara amat memikat.

Cobalah tengok, sekali lagi bukan isinya, melainkan cara penyajiannya. Kita akan terkaget-kaget. Seluruh halaman genapnya (halaman sebelah kiri) berisi ilustrasi yang memotivasi pembacanya. Buku itu secara berani mengklaim bahwa isinya bisa dibaca dalam tempo 15 hingga 30 menit! Ajaib lagi, bukan?

Jadi, cepat-cepatlah mengubah persepsi Anda mengenai buku. Buku-buku yang beredar di masa kini sudah berubah drastis, baik dalam bentuk penampilan maupun cara penyajian gagasan pengarangnya. Selain Quantum Learning dan The Learning Revolution, ada juga buku-buku yang tergolong serius namun ditampilkan secara komikal.

Contoh buku-buku yang disebut terakhir, misalnya, buku-buku yang menguraikan hal-hal mengenai hikmah-hikmah ajaran Tionghoa kuno atau tentang ajaran-ajaran Buddha. Lewat gambar-gambar yang berkarakter dan kisah-kisah yang penuh humor, ajaran-ajaran yang penuh makna filosofis itu jadi mudah "dikunyah".

Sebagai contoh, lihatlah buku The Chinese Art of Leadership yang teksnya ditulis Adam Sia dan ilustrasinya digarap Yaohui. Buku itu diterbitkan dalam bentuk serial. Ada seri berjudul The Chinese Art of Team Building. Dengan menelan buku-buku seperti itu, para pembaca dimudahkan dalam menyerap hakikat teori manajemen mutakhir.

Contoh lain buku serius yang mudah dilahap adalah serial buku For Beginners. Anda mau belajar Teori Kuantum? Mau memahami Islam masa kini secara garis besar? Atau Anda mau tahu siapa Newton, Einstein, dan Stephen Hawking? Buku-buku serial For Beginners akan mengantar Anda ke dunia yang mengasyikkan.

Bagaimana mengetahui buku-buku yang sudah berganti "wajah" dan tampilan itu? Pertama, kunjungilah toko-toko buku setiap hari Minggu bersama anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Jadikan berkunjung ke toko buku sebagai agenda "piknik rohani" agar benak Anda disuplai oleh hal-hal yang benar-benar bergizi. Kebiasaan berkunjung ke toko buku serta mengamati sekaligus memegang-megang buku akan sangat baik untuk anak-anak. Anak-anak yang sejak dini tidak dibiasakan untuk merasai buku, kelak, bila dewasa, akan susah sekali menjadikan buku sebagai sahabatnya.

Kedua, ubahlah persepsi Anda mengenai buku. Buku bukanlah suatu benda yang memberatkan. Buku dapat disamakan dengan makanan, yaitu makanan untuk rohani. Memersepsikan buku sebagai makanan akan membuat Anda dapat melakukan apa saja terhadap buku. Misalnya, membaca buku dapat juga dilakukan dengan ngemil (memakannya sedikit demi sedikit).

Ketiga, sediakan buku di rumah secara mudah dijangkau. Kata Ali Syari'ati, cendekiawan Iran itu, "Jangan sampai rumahmu dijadikan kandang karena cuma roti dan air yang tersedia dengan mudah. Sediakan juga buku di seluruh penjuru rumahmu, sehingga jika rohanimu haus dan lapar, rohanimu akan dengan mudah memperoleh minuman dan makanannya."

Akhir kata, bulan Mei adalah "Bulan Buku", dan semoga menjadi bulan yang mengasyikkan bagi buku dan kawan-kawannya.

Hernowo, General Manager Editorial Penerbit Mizan Bandung
Majalah Gatra edisi 27 / VII 26, Mei 2001

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru