Buku Islam Tak Sebatas Fiqih dan Tasawuf

Posted by Cinta Buku on

Pajangan buku keislaman tampil paling mencolok pada arena Pesta Buku Jakarta 2001, yang berakhir Ahad malam pekan lalu. Dari 38 stan di Area A Istana Olahraga (Istora) Bung Karno, yang sewanya termahal itu, ada 24 stan (63%) penerbit buku Islam. Antara lain Mizan, Media Dakwah, Pustaka Hidayah, Gema Insani Press, serta distributor buku berbahasa Arab, Dar el-Shorouk.

"Dibandingkan dengan tahun lalu, fenomena menonjol kali ini adalah meningkatnya kehadiran penerbit buku-buku Islam," kata Ketua Panitia Mula Harahap. Bila pada 1980-an pameran didominasi penerbit buku anak-anak, maka pada 1990-an sampai sekarang, kata Mula, pameran disemarakkan oleh terbitan kitab agama dan buku teks perguruan tinggi.

Seperti biasa, pameran buku kedelapan yang berlangsung sembilan hari ini digelar oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Cabang Jakarta. Panitia menyediakan 150 stan yang dibagi dalam empat area. Area A (sisi depan Istora), B (dalam stadion), C (sayap kiri-kanan), dan Area D (bagian belakang).

Tarif sewa tiap area berbeda. Paling mahal Area A: Rp 335.000 per m2. Paling murah Area D: Rp 295.000 per m2. Ukuran tiap stan juga beragam. Paling mungil 2 x 2 meter, paling luas 3 x 6 meter. Terdapat 105 penerbit yang tampil sebagai peserta. Satu penerbit ada yang menyewa sampai enam stan. Dari sekian peserta pameran, 30 di antaranya (28,5%) terhitung sebagai penerbit buku Islam.

Buku bertemakan Islam juga diproduksi beberapa penerbit umum semacam Kompas, Gramedia, Rajawali, dan Ichtiar Baru Van Hoeve. Ada juga beberapa penerbit buku Islam yang baru pertama ikut pameran, seperti Serambi Ilmu Semesta dan Al-I'tishom Cahaya Umat. Meski newcomer, Serambi dengan penuh percaya diri memajang poster sampul terbitan andalannya: Berperang Demi Tuhan.

Terjemahan karya pakar studi lintas agama, Karen Armstrong, ini memang banyak mencuri perhatian. Adapun terjemahan karya Armstrong yang lain, Sejarah Tuhan, menjadi best seller penerbit Mizan dalam pameran kali ini. Mizan, yang bermarkas di Bandung, memang berada di garda depan geliat buku keislaman, terutama sejak awal 1980-an.

Data buku keluaran Ikapi pada 1998 pernah mencatat, dari 2.032 judul buku terbitan tahun itu, buku Islam menduduki angka terbanyak: 236 judul. Mengapa buku keislaman "mendadak" laris di pasaran? Kepala Bidang Departemen Penelitian dan Pengembangan Ikapi Pusat, Putut Widjanarko, menyebut lima faktor penyebab yang berjalin berkelindan.

Pertama, meningkatnya taraf hidup keseluruhan penduduk Indonesia, termasuk umat Islam yang mayoritas. Kedua, makin banyak keluarga muslim yang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ketiga, adanya isu kebangkitan Islam pada awal abad ke-15 Hijriah, sehingga mendorong banyak publikasi di sekitar masalah keislaman.

Sebagai faktor keempat, Putut mengungkapkan munculnya kebangkitan spiritualitas pada tingkat global. Dan kelima, sebagai blessing in disguise politik depolitisasi kampus, yang mengakibatkan banyak mahasiswa menekuni studi agama. Depolitisasi itu justru membuka cakrawala baru dalam "pengembaraan" intelektualisme generasi muda.

Menurut pengamatan Rektor Institut Agama Islam Negeri Jakarta, Prof. Azyumardi Azra, dalam dua dasawarsa terakhir peningkatan buku-buku Islam tidak hanya dari segi jumlah judul, melainkan juga spektrum temanya yang makin luas. Bila sebelumnya tema buku keislaman terbatas pada soal fikih dan tasawuf, kini melebar ke berbagai disiplin ilmu Islam: filsafat, teologi, pendidikan, tafsir, hadis, politik, ekonomi, atau sejarah.

Meski demikian, kata Azyumardi, minat utama pembaca muslim Indonesia masih ke dua bidang: fikih dan tasawuf. Menurut dia, ini terkait dengan kenyataan bahwa banyak pembaca muslim memerlukan kepastian dalam dua hal: bidang hukum formal (aspek eksoterisme Islam) dan bidang batin (aspek esoterisme Islam). "Fikih memberi ketenangan bahwa ia hidup sesuai dengan hukum Allah, sementara tasawuf memberi kesejukan dan kedamaian batin," ujar guru besar sejarah Islam itu.

Sejauh ini, banyak buku keislaman merupakan hasil terjemahan karya asing. Metode ini justru memperkenalkan beragam wacana pemikiran keagamaan kepada pembaca Indonesia. Mulai karya para pemikir revivalis seperti Abu A'la Maududi, Sayyid Qutb, atau Hassan Al- Banna; tulisan pemikir revolusioner Syiah seperti Ali Syari'ati dan Murtadha Mutahhari; pemikir Arab kontemporer seperti Abied Al-Jabiri dan Hassan Hanafi; sampai karya kalangan orientalis macam Montgomery Watt atau Maxime Rodinson.

Banyak juga terbitan pemikir Indonesia seperti Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, atau Kuntowijoyo. Namun, karya jenis ini umumnya berupa kumpulan tulisan. Azyumardi, salah seorang pemikir muslim produktif, mengaitkan kenyataan itu dengan berbagai kesibukan dan tuntutan sosial yang sulit dielakkan para cendekiawan-penulis.

Ada juga faktor lain: langkanya lembaga sponsor di Indonesia yang mau membiayai penulisan dan penerbitan buku. Namun, Azyumardi optimistis, masih banyak sumber orisinal karya penulis Indonesia yang layak menjadi buku. Misalnya yang berasal dari berbagai hasil studi akhir di perguruan tinggi. Memandang ke depan, Azyumardi berharap, penerjemahan karya-karya Indonesia ke dalam bahasa asing mesti digalakkan, sehingga karya-karya pemikir Indonesia bisa go international.

Asrori S. Karni
Majalah Gatra  36 / VII / 28 Juli 2001

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru