Pramoedya Ananta Toer: Menulis Biar Dapat Duit

Posted by Cinta Buku on

Di masa tuanya, setiap pagi Pramoedya Ananta Toer punya "hobi" mengguntingi halaman-halaman surat kabar yang sudah dibacanya. Tiga surat kabar setiap hari dikoyak-koyaknya. Lalu materi-materi tulisan tertentu dipilih sebagai bahan kliping.

Dengan kepulan asap rokok yang seolah tidak pernah habis diisap, ia memotong dan melipat lembar-lembar yang dibutuhkannya. Sementara bagian koran yang tersisa ia remas-remas --seperti lembaran tulisan yang dianggap gagal-- dengan gaya khas seorang pengarang, dan membuangnya begitu saja ke lantai dapur tempat istrinya repot memasak.

Kebiasaan mengkliping itu adalah bagian dari obsesinya untuk membuat ensiklopedi tentang kawasan Indonesia; sebuah upaya yang ia rintis sejak 1980-an. "Materi kliping saya sudah bertumpuk setinggi lebih dari lima meter di lantai atas," ujarnya.

Berikut petikan wawancara Bambang Sulistiyo dari Gatra dengan Pramoedya Ananta Toer tentang obsesinya itu dan seputar buku Menggelinding 1. Wawancara dilakukan di teras rumahnya yang asri di Jalan Warung Ulan Nomor 9, Bojong Gede, Jawa Barat.

Apa tema kliping Anda ini?
Tentang Indonesia, lebih pada persoalan geografi; kawasan Indonesia. Sebab tidak ada orang Indonesia punya perhatian terhadap tanah airnya sendiri. Semua sudah disusun menurut abjad. Saya berniat menjadikannya sebagai materi ensiklopedi tentang kawasan Indonesia.

Kapan timbul rencana membuat ensiklopedi itu?
Sudah lama, sejak 1980 saya mulai mengumpulkan materi-materinya. Tapi hingga sekarang belum kesampaian karena tidak punya duit sebagai modal pembuatannya. Dalam taksiran saya, butuh sekitar US$ 1,5 juta untuk membuat ensiklopedi ini.

Selengkap apa ensiklopedi itu sehingga butuh dana begitu besar?
Contohnya saja, sampai sekarang belum pernah ada tulisan yang lengkap tentang sungai-sungai di Indonesia; dari mana sumbernya, berapa banyak cabangnya, dan di mana muaranya. Untuk menuliskan materi ini, dibutuhkan tenaga-tenaga yang bisa dikirim langsung untuk menelusuri dan mencatat sungai-sungai di setiap kabupaten di Indonesia. Bayangkan, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk itu?

Selain tentang sungai, apalagi contoh temanya?
Orang Indonesia tidak punya perhatian terhadap pulau-pulaunya sendiri, sampai ada 2.000 pulau yang tidak diketahui namanya. Ada juga pulau yang timbul dan yang tenggelam tetapi tidak terperhatikan. Waktu cucu Krakatau muncul sebagai pulau, orang Jakarta tidak ada yang datang menengok.

Ada beberapa puisi Anda dalam Menggelinding 1. Anda banyak menulis puisi?
Beberapa saja, bisa dihitung dengan jari. Puisi menurut saya tidak bisa menampung keinginan dan perasaan saya. Terbatas sekali isinya dan terikat pada simbol, irama, dan lain-lain. Daripada puisi, saya lebih menyukai prosa karena bebas dan tidak terikat.

Selain esai, Anda juga menulis begitu banyak cerpen di masa muda Anda. Apakah itu berarti Anda menyukai cerpen?
Itu bukan soal suka atau tidak suka. Saya cuma merasa nyesek kalau begitu banyak hal di kepala saya tidak dituliskan. Dan lagi, masa itu, saya anak tertua dari delapan bersaudara yatim-piatu. Tujuh orang adik saya harus saya hidupi. Untuk itu, saya harus bekerja keras. Karena kemampuan saya hanya menulis, jadi ya... menulis saja! Biar dapat duit.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru