Penerbit Mizan: Lurus dengan Mazhab Tengah

Posted by Cinta Buku on

Tiga puluh tahun lampau, di tengah-tengah jam kuliah, seorang mahasiswa teknik industri ITB kerap terlihat menyeberang Jalan Ganesha. Yang dituju adalah Masjid Salman yang sejuk dan teduh. Di sana ia menuaikan shalat, dilanjutkan membaca buku. Dalam perjalanan singkat tapi rutin itu, segala sesuatu yang memenuhi isi kepalanya kelak menginspirasi untuk mengubah "isi kepala" orang lain.

Memang, sejak tercatat sebagai anggota perpustakaan Masjid Salman ITB, mahasiswa bernama Haidar Bagir itu seolah digariskan untuk tidak jauh-jauh dari dunia buku dan penerbitan. Diawali dengan mengurusi pembuatan terbitan komunitas Pustaka Salman serta majalah Kharisma. Setelah itu, minat pustaka Haidar menembus batas komunitas seiring berdirinya Penerbit Mizan.

Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 20 Februari 1957, ini bersama rekannya sesama aktivis Masjid Salman, Ali Abdullah dan Zaenal Abidin Shahab, mendirikan Penerbit Mizan dengan modal awal sekitar Rp 58 juta pada 3 Mei 1983. Bersamaan dengan itu, perjalanan panjang mengampanyekan prinsip-prinsip yang melatarbelakangi "mazhab" Mizan, yaitu, "Apresiasi terhadap pluralitas keberagamaan," kata Haidar.

Mizan secara harfiah berarti "timbangan" atau "keseimbangan". Sejak memilih nama itu, Haidar sudah memancangkan "jalan tengah" sajian informasi mengenai pemikiran dan dunia Islam yang berasal dari berbagai sudut pandang. Untuk menjadi timbangan yang adil, ada kriteria informasi yang selalu jadi pegangan, yakni informasi yang bertanggung jawab, sesuai dengan standar keilmuan dan dinilai bermanfaat dalam memperbaiki kiprah umat Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta).

Itu saja, tapi tentu bukan perkara mudah. Selebihnya, para penulis dengan karya yang dianggap memenuhi kriteria itu diberi ruang tanpa ada pembatasan identitas dan pemikiran. Mizan menampung penulis yang berasal dari mazhab dan aliran pemikiran mana pun, bahkan dari kalangan luar Islam, baik pengusung sudut pandang Orientalis, penulis non-muslim, maupun yang lainnya.

Strategi bisnis tersebut membuat Mizan tampil sebagai sosok penerbitan buku-buku Islam yang apresiatif, leluasa dan lugas "bermain" di pelbagai lini pemikiran; dari yang klasik, modern, hingga liberal. Dalam perkembangan, prinsip pluralistik semacam itu menjadi "mazhab" Mizan yang relatif membedakan dengan penerbit-penerbit buku Islam lainnya.

Tahun pertama Mizan berdiri, Haidar dan kawan-kawan, dengan dukungan manajerial dari Abdillah Toha dan Anis Hadi, menerbitkan enam judul buku. Yang diterbitkan pertama adalah buku Dialog Sunnah-Syi'ah susunan Syafaruddin Al Musawi. Lantaran buku ini, Haidar dan Mizan, oleh kalangan tertentu, dituding hendak menyebarkan ajaran Syiah.

Padahal, menurut Haidar, buku itu berisi dialog penuh toleransi dan diterbitkan semata-mata demi menciptakan sikap saling memahami antar berbagai mazhab dalam Islam. Masa itu, acapkali muncul tulisan di berbagai terbitan yang mencap Syiah sebagai ajaran sesat. Maka, dari buku Dialog Sunnah-Syiah, Mizan mewujudkan jurus-jurus penyeimbang terhadap opini masyarakat yang cenderung sepihak itu.

Buku pertama sukses di pasaran. Berikutnya, Mizan menerbitkan buku-buku terjemahan karya pemikir dan ulama Syiah, seperti Ali Syari'ati, Murtadha Muthahhari, dan M. Husain Thabathabai. ''Trade mark" ini sempat memunculkan citra Mizan sebagai penerbit Syiah.

Kenyataannya, pada periode-periode awal itu pula, Mizan tercatat menerbitkan buku-buku "fundamentalis" karangan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan Al-Banna, Muhammad Quthb, Sayyid Quthb, Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Qardhawi, serta Abul A'la Al-Maududi dari Jamaah Al-Islamiyah.

Pada fase selanjutnya, Mizan mulai menerbitkan buku-buku yang mengedepankan wacana pemikiran. Ini terlihat ketika Mizan menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku karya pemikir muslim kontemporer, seperti Ismail Raji Al-Faruqi, Muhammad Iqbal, Seyyed Hossein Nasr, dan Fazlur Rahman.

Tidak hanya rajin menerjemahkan buku karangan pemikir Islam yang berasal dari luar Indonesia, para pemikir domestik pun diberi tempat. Yakni lewat penerbitan Seri Cendekiawan Muslim yang terentang mulai tahun 1987 sampai 1993. Seri ini berupa kumpulan tulisan yang menampung wacana pemikiran Islam para intelektual muslim Indonesia, seperti Azyumardi Azra, Amien Rais, Kuntowijoyo, Nurcholish Madjid, A. Syafii Maarif, Jalaluddin Rakhmat, Dawam Rahardjo, dan Deliar Noer.

Haidar menyaksikan pertumbuhan pesat Mizan. Dari enam judul pada 1983 menjadi 22 judul di tahun berikutnya. Dan geliat bisnis penerbitan Mizan terus berlanjut. Sejak 1992, secara serius Mizan membentuk penerbitan-penerbitan baru dengan spesialisasi tema berbeda. Misalnya Hikmah-Mizan yang khusus menerbitkan buku anak-anak, DAR! Mizan untuk buku-buku remaja, Qanita untuk buku-buku psikologi dan perempuan, Teraju untuk buku filsafat, dan penerbitan tetasan Mizan lainnya, seperti Kaifa, Arasy, Al-Bayan, Misykat, serta Penerbit Profetik dan Penerbit MLC.

Strategi positioning dalam aspek pemasaran itu memberi hasil positif. Rata-rata 25 buku dihasilkan dalam sebulan. Dari situ, produktivitas PT. Mizan Publika terus meningkat sebesar 30%-40% setiap tahun. Usaha Mizan pun tambah beragam. Selain memiliki percetakan, perusahaan distribusi, direct selling sendiri, ada Ekuator.com yang menjual buku secara online.

Selain itu, ada pula Mizan Learning Center yang bergerak di bidang pelatihan pembelajaran. Dan, belakangan, ada MP Bookpoint, toko buku dengan kafe dan sarana-sarana yang memanjakan pelbagai komunitas untuk kongkow-kongkow atau lebih serius dari itu.

Tidak setiap langkah pengembangan usaha Mizan berada di bawah kendali langsung Haidar. Pada 1988, suami Lubna Assegaf ini sempat "meninggalkan" Mizan dengan alasan menghindari rutinitas kerja. Sebagai gantinya, Haidar belajar lagi di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri --sekarang UIN-- Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tesisnya belum rampung waktu Haidar mendapat beasiswa di Fullbright untuk belajar di Center for Middle Eastern Studies, Harvard University, Amerika Serikat, pada 1990.

Ia juga mendapat beasiswa riset untuk penulisan disertasinya mengenai filsafat Islam dari Fullbright di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat.

Baru pada 2001, Haidar kembali aktif mengurusi penerbitan yang ia rintis itu dengan duduk sebagai Direktur Utama PT. Mizan Publika. Belakangan, ayah empat anak ini tidak hanya bergulat dalam bisnis penerbitan buku dan seputarnya, melainkan juga menekuni dunia pendidikan dan aktif membidani lahirnya beberapa sekolah unggulan berfasilitas lengkap.

Haidar mengakui, minat untuk merintis berdirinya lembaga pendidikan unggulan di Tanah Air sudah lama ada. Namun ide itu baru terealisasi ketika anak-anaknya memasuki usia sekolah, dan Haidar kesulitan menemukan sekolah yang dinilai memadai untuk buah hatinya. Begitu banyak kritik dan pertimbangan yang kompleks, yang kemudian mendorongnya untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri kala itu.

Haidar mendirikan Yayasan Lazuardi Hayati, yang menyelenggarakan pendidikan dari pra-taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama Islam di Jakarta. Di antaranya adalah TK Islam Kanita yang berdiri sejak 1994 dan SD Lazuardi yang masuk kategori unggulan karena fasilitasnya yang lengkap. Bersama Dr. Jalaludin Rakhmat, Haidar juga tercatat sebagai pendiri Yayasan Muthahhari yang mengelola SMU (Plus) Muthahhari di Jakarta dan Bandung.

Pada akhirnya, aktivitas bisnis Haidar Bagir berada di atmosfer intelektual yang sama: buku dan pendidikan. Dan semua bermula di lingkungan Masjid Salman ITB. Dulu, aktivitas Masjid Salman ITB yang meriah, bergairah, dan dihiasi begitu banyak kegiatan bikin melek mata dan pikiran Haidar Bagir muda. "Saya berutang pada Salman," ujarnya.

Bambang Sulistiyo
Majalah Gatra, 49 / XII 25 Okt 2006

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru