Penerbit Indie: Pintu Lain Penulis Buku

Posted by Cinta Buku on

Iffah Rachmi, 26 tahun, begitu tergila-gila dengan Johnny Mushroom, tokoh utama dalam buku Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya. Kumpulan cerita pendek ini menceritakan keseharian Johnny Mushroom. Iffah mengaku "jatuh cinta" pada Johnny Mushroom sejak buku yang diterbitkan oleh Komunitas Majelis Sastra Bandung ini beredar pertama kali pada 2011 lalu. ''Ceritanya berupa humor-humor satire. Benar-benar ngegambarin potret kegelisahan kaum urban di Bandung,'' kata Iffah kepada Asri Wuni Wulandari dari Gatra, Senin lalu.

Buku Johnny Mushroom adalah satu dari sekian banyak buku indie. Buku Indie adalah sebutan untuk buku yang penerbitannya dibiayai dari kocek penulis sendiri dan diterbitkan oleh penerbit independen atau penerbit non-konvensional --lazim disebut jalur self-publishing. Sebagai penggemar buku, Iffah menilai buku-buku indie tak kalah menarik dibandingkan dengan buku terbitan penerbit konvensional. ''Punya jiwa yang lebih segar. Enggak melulu terlalu berat kayak buku-buku biasa,'' ujar perempuan yang sedang menempuh studi S-2 di Universitas Indonesia ini.

Penggemar buku indie lain, Muhammad Meisa, menceritakan bahwa ia mengenal buku indie sejak 2009 lalu. Saat itu, ia aktif di Tobucil (Toko Buku Cilik) di Bandung. Kebetulan, Tobucil menjual beberapa buku indie. Buku yang pertama kali ia beli adalah Kumpulan Cerpen Tiga Angka Enam karya Addy Gembel yang diterbitkan Minor Books, Bandung. Sampai saat ini, pria berusia 27 tahun yang akrab disapa Eca ini mengoleksi lima buku indie. ''Aku mengapresiasi usaha dan keberanian buat jadi penulis betulan,'' Eca memuji para penulis buku Indie.

Seiring dengan banyaknya penggemar dan penulis buku indie, kini bermunculan komunitas buku indie. Peluang ini ditangkap dengan jeli oleh penerbit indie, di antaranya Nulisbuku.com. Menurut pendirinya, Brilliant Yotenega, konsep buku indie sangat membantu penulis pemula yang ingin menguji kemampuan menulisnya atau penulis yang tulisannya ditolak oleh penerbit buku konvensional. Atas dasar itulah, pada 2010, Ega dan seorang rekannya, Aulia Halimatussadiah, mendirikan Nulisbuku.com. ''Kami ingin memberikan solusi bagi penulis baru untuk memulai sepak terjangnya di dunia buku,'' ujarnya.

Di usianya yang baru empat tahun, Nulisbuku.com sudah mampu menerbitkan lebih dari 5.000 buku. Mereka juga memiliki komunitas buku indie yang tergabung dalam Nulis Buku Club (NBC). Anggotanya tersebar di Jakarta, Bandung, Palembang, Medan dan Makassar. Selain melahirkan komunitas buku indie, ada bebarapa penulis jebolan Nulisbuku.com yang akhinya menjadi penulis terkenal dengan buku best seller-nya. Di antaranya, Ika Natassa.

Pada 2012, Ika pernah menulis buku di Nulisbuku.com. Buku itu berupa novel dengan judul Twivortiare. Isinya, kisah-kisahnya yang ia tulis di Twitter. Novel ini terjual lebih dari 1.000 eksemplar. Belakangan, Ika dilirik Gramedia Pustaka Utama. Penerbit besar itu, "menantang" Ika untuk menulis novel. ''Sampai sekarang sudah cetakan ketujuh,'' ujar Ika kepada Gatra.

Syarat untuk menulis di Nulisbuku.com itu mudah. Ega menuturkan, penulis yang ingin menerbitkan buku cukup mendaftar di situs nulisbuku.com. Selanjutnya, penulis dipersilakan mengunggah naskah bukunya. Nanti, oleh pihak Nulisbuku.com, atas kesepakatan penulis, sebagian naskahnya bisa dibaca secara gratis oleh pengunjung nulisbuku.com. Jika tertarik dan ingin membaca naskah secara keseluruhan, pengunjung tadi bisa membeli buku tersebut di Nulisbuku.com. ''Begitu ada yang beli, baru dicetak,'' terang Ega.

Terkait dengan biaya produksi, Ega menerangkan, pihaknya tidak mengutip biaya dari penulis alias grastis. Namun, khusus untuk editorial dan ilustrasi sampul buku, Nulisbuku.com menyediakan jasa pembuatannya. ''Tapi sifatnya tidak wajib. Misal saja ada penulis yang sudah mampu mengirimkan naskahnya dalam satu paket sampai editorial dan cover, tetap diperbolehkan,'' katanya.

Soal harga buku, penulis diberi kewenangan penuh untuk menentukan. ''Ada yang menghargakan karyanya dengan tinggi, ada juga yang menghargakan karyanya sama dengan biaya cetak,'' ujar Ega. Ketika harga jual sudah ditentukan penulis, sistem yang ada di nulisbuku.com akan langsung menghitung pembagian royalti untuk penulis dan Nulisbuku.com selaku penerbit.

Perbandingan 60% untuk penulis, 40% buat Nulisbuku.com. ''Jadi kalau ada yang ngejual bukunya sama dengan harga cetak, kita enggak dapat untung sama sekali,'' kata Ega. Meski tidak memperoleh untung, Ega tetap mengapresiasi penulis yang menjual bukunya sesuai dengan harga cetak. ''Sebenarnya bukan terletak pada untung-rugi, melainkan menyediakan solusi bagi penulis-penulis yang tidak terakomodasi oleh penerbit-penerbit besar,'' ujar Ega.

Soal pemasaran dan distribusi buku indie terbitannya, Ega menuturkan, Nulisbuku.com bekerja sama dengan sejumlah toko buku online. Strategi pemasaran ini lebih efektif dibandingkan dengan menitipkan buku ke toko buku konvensional. Namun, pihaknya tidak melarang jika ada penulis yang berinisiatif memasarkan bukunya dengan menitipkan di toko buku konvensional. ''Tapi kalau ada biaya yang dikeluarkan, itu urusan penulis,'' katanya.

Di Yogyakarta ada penerbit buku indie yang lumayan tersohor, yakni Indie Book Corner (IBC). Sejak berdiri pada 2009, kini IBC sudah menerbitkan 2.000-an buku. Meski tak membeda-bedakan genre buku yang diterbitkan, mayoritas buku-buku terbitan IBC bergenre sastra. Seperti penerbit buku indie yang lain, IBC menerapkan strategi pemasaran melalui media sosial. ''Kita tidak pernah beriklan. Jaringan dan media sosial jadi andalannya, Facebook, Twitter, blog, dan website. Juga dari mulut ke mulut,'' ujar Irwan Bajang, pendiri IBC, kepada Gatra.

Bagi penulis yang ingin naskahnya diterbitkan IBC, disediakan beberapa paket biaya. Rata-rata biaya tahap pracetak Rp 1 juta -2 juta untuk satu penerbitan. Ditambah ongkos cetak Rp15.000-Rp 20.000 per buku. Kebanyakan penulis memilih paket Rp 1 juta-Rp 2 juta, itu sudah termasuk cetak 100-an eksemplar buku.

IBC, kata Irwan, tidak sekadar penerbit, melainkan juga pembimbing penerbitan.Misalnya, ada penulis yang mengirim karya dengan gagasan jelek atau tulisan buruk, sehingga ditolak sejumlah penerbit. Penulis tidak perlu khawatir, karena IBC membuka konsultasi. Saat konsultasi, IBC akan memberikan masukan kepada penulis agar karya tersebut layak untuk diterbitkan. ''Diskusi panjang ini tidak ada tambahan fee karena kami anggap sebagai dedikasi kami ke dunia penulisan,'' ujarnya

Irwan menyayangkan masih adanya stigma buku indie adalah karya buangan atau hasil tolakan penerbit konvensional. Padahal, banyak buku indie yang dari sisi materi setara dengan buku konvensional. Bahkan, lebih berkualitas. Misalnya, IBC menerbitkan buku Sastra Postkolonial karya Katrin Bandel yang terjual 500-700 eksemplar. Buku Sebuah Kitab yang Tak Suci karya Puthut EA terjual 100 eksemplar dalam waktu hanya dua jam. ''Bagi saya, indie adalah bagaimana kita menemukan pintu atau lorong lainnya,'' ujar Irwan.

Sujud Dwi Pratisto dan Arif Koes Hernawan
Majalah Gatra, 15 / XXI 18 Februari 2015

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru