Penerbit Bentang Budaya Bangkrut Diakuisisi Mizan

Posted by Cinta Buku on

Setelah hampir 10 tahun jumpalitan sendirian, Buldanul Khuri kini punya gandengan. Tokoh tunggal di balik Penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta, itu sebulan belakangan sering terlihat bersama Gangsar Sutrisno. Nama yang terakhir ini dikenal sebagai Manajer Promosi Penerbit Mizan, Bandung. Bahkan Gangsar, ayah dua putra itu, resmi menjadi juru mudi baru di Bentang Budaya. Akuisisi?

"Saya tidak merasa diakuisisi," kata Buldan kepada Wartawan. Selama ini, tuturnya, ia merasa single fighter. Segala urusan, dari mengedit naskah, memililih font, desain sampul, sampai mengawal ke percetakan, ia lakukan sendiri. Padahal, omsetnya per bulan mencapai Rp 100 juta, dan membutuhkan penanganan manajemen yang baik. Itu sebabnya, Buldan menggandeng Mizan. "Sejak setahun kemarin saya keluarkan unek-unek ini dengan Haidar Bagir, pemilik Mizan," kata pria bertubuh subur dan berkumis lebat itu.

Bentang Budaya dibangun pada 1994. Produknya buku-buku alternatif yang menyangkut seni, sastra, filsafat, dan aliran pemikiran. Buku-buku Bentang punya sentuhan khas pada sampulnya, dari karikatur sampai lukisan surealis yang dibingkai keren dan apik. "Banyak orang mengira saya jual Bentang karena bangkrut. Bukan begitu," Buldan memberikan penjelasan. "Ini lebih ke persoalan manajemen." Pilihan jatuh kepada Mizan, katanya, karena penerbit yang berbasis di Bandung itu lebih berpengalaman dalam bidang perbukuan.

Masuknya Mizan tentu mengubah komposisi pemilikan saham. Berapa besarnya? "Ah, itu rahasia perusahaan," kata Buldan sembari terkekeh. "Yang jelas, Mizan yang pegang saham mayoritas," Gangsar menimpali. Dalam komposisi manajemen baru, Gangsar menjadi general manager, dan Buldan salah seorang direkturnya. "Desainnya tetap disentuh oleh Buldan," kata Gangsar.

Masuknya Mizan ke Bentang, kata Direktur Utama Mizan, Haidar Bagir, punya misi memperbaiki citra penerbitan di Yogyakarta. "Dari segi pemilihan judul dan desain bagus. Begitu baca isinya, aduh malu rasanya," tutur Haidar kepada Gatra. Yang dimaksud oleh Haidar adalah karya terjemahan yang amburadul. Selain itu, royalti yang banyak dikeluhkan oleh para penulis menjadi perhatiannya.

Kata kuncinya terletak pada profesionalisme. "Bahkan saya berani mengatakan, 99% penerbit di Yogyakarta tidak profesional," ucap Buldan. Padahal, saat ini ada 60 lebih penerbitan di Yogyakarta. Ketidakprofesionalan itu sangat berkait dengan kurang teraturnya manajemen. "Di Yogya, kan semua penerbit tidak ada yang besar?" ujar Buldan.

Ketidakprofesionalan penerbit di Yogyakarta diakui oleh budayawan Dr. Bakdi Sumanto. "Ada kemungkinan mereka kekurangan dana, sehingga berbuat demikian," kata Bakdi, yang juga dosen sastra di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selama ini, sudah empat bukunya yang ditangani penerbit Yogya. "Meskipun tidak semua penerbit di sini melakukan seperti itu, saya merasa rugi," Bakdi menambahkan. Kadangkala, laporan tentang cetakan ulang juga tidak ada. "Ini juga merisaukan saya," katanya.

Sosiolog agama Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan mengalami hal yang sama. "Saya tidak bisa mengontrol royalti saya," katanya. Abdul Munir Mulkan mengaku ada sekitar 20 bukunya yang diterbitkan penerbit Yogyakarta, yang membuatnya kecewa. "Saya sering harus beberapa kali menanyakan kepada penerbit yang bersangkutan, namun jawabannya kadang plin-plan," ujar Mulkan.

Keluhan para penulis itu diakui oleh Sitoresmi Prabuningrat, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia Cabang Yogyakarta. Tapi ia tak mau sepenuhnya menyalahkan penerbit. Menurut dia, pemerintah seharusnya turut campur tangan mengatasi masalah ini. Paling tidak, subsidi bisa dikucurkan kepada penerbit-penerbit kecil. "Selama ini, pemerintah hanya membebaskan pajak kepada mereka yang menerbitkan buku-buku sekolah," katanya.

Dalam pandangan Sitoresmi, apa yang dilakukan penerbit di Yogyakarta sebenarnya layak mendapatkan acungan jempol. "Bayangkan, dengan modal idealisme, mereka harus bertarung dengan tata niaga perbukuan," katanya. Tapi modal idealisme saja tidak cukup. Dunia bisnis mesti disentuh dengan pengelolaan yang profesional, agar yang diuntungkan tidak hanya penerbit, sementara penulis jadi buntung.

Herry Mohammad
Gatra, 9 April 2004 

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru