Ketika Buku Filsafat Memasyarakat

Posted by Cinta Buku on

Selasa sore sekitar pukul 17.00, dua pekan lalu. Di toko buku besar di Jakarta Pusat, seorang pria muda yang masih mengenakan seragam sebuah departemen mendekati penjaga toko. Dia menanyakan buku Filsafat Etika Islam. Yang ditanya tersenyum lalu menggeleng, "Maaf, Pak, habis, belum dikirim lagi."

Buku karya Dr. M. Amin Abdullah, yang judul lengkapnya Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, itu memang laku keras. Sejak diluncurkan Agustus silam oleh penerbitnya, Mizan, buku ini cukup sulit dicari. "Pasar memang menyambut baik buku ini," ujar Amar Faishal, Kepala Divisi Umum dan Pelanggan Penerbit Mizan.

Laku kerasnya buku yang membandingkan pemikiran dua filsuf besar dunia Islam dan dunia Barat itu menandai kecenderungan baru dunia perbukuan. Buku-buku bertema filsafat, yang dulu dipandang sebelah mata, mulai digandrungi. Amar merasakan ini sejak pertengahan 2001, ketika Mizan pertama kali menerbitkan buku bertema filsafat. "Buku yang kami cetak 3.000 eksemplar itu habis dalam enam bulan," katanya.

Nung Atasana, Asisten Direktur Pemasaran PT Gramedia Pustaka Utama, juga melihat kecenderungan serupa. Sebelum 2001, Gramedia hanya menerbitkan 8-9 judul buku filsafat per tahun. Kini sampai 15 judul. Buku yang tergolong "berat" ini sejak 2001 mulai digandrungi pasar. Kata-Kata, terjemahan karya Filsuf Prancis, Jean Paul Sartre (1905-1980), yang terbit Mei tahun lalu, sudah dicetak ulang. "Buku ini sudah terjual 4.500 eksemplar," katanya.

Nung menambahkan, untuk sebuah judul, terjual 2.000 eksemplar dalam setahun saja sudah bagus. Sebab, "Biasanya 3.000 eksemplar terjual dalam waktu tiga tahun," ujar Nung, sambil menambahkan, ada 25 judul buku filsafat Gramedia yang kini beredar di pasar. Marsono Windu, Manajer Bidang Buku Penerbit Kanisius, pun membaca kecenderungan ini.

Ia malah merasakan kenaikan permintaan jenis buku "berat" itu sejak tiga tahun silam. Marsono mencontohkan buku terjemahan karya filsuf Inggris John Locke (1632-1704), Kuasa Milik Rakyat, yang terbit dua bulan lalu, dan sudah terjual sekitar 1.000 eksemplar. Dalam tiga tahun terakhir ini, ketiga penerbit itu rata-rata meluncurkan 10-15 judul per tahun.

Mizan menargetkan 18%-20% dari 50-an judul terbitannya tahun ini bertema filsafat. Gramedia memperkirakan, dari 45% buku nonfiksi yang diterbitkan, 10% bertema filsafat. Adapun Kanisius tetap mematok rata-rata 15 judul dari 200-an judul yang terbit setiap tahun. Pertanyaan yang mencuat, tentulah, mengapa masyarakat kini mulai menyukai bacaan yang terhitung sukar ini?

Marsono memperkirakan, kecenderungan itu terkait dengan maraknya diskusi dan kajian bertema filsafat oleh berbagai kelompok masyarakat muslim. "Banyak dari mereka menekuni filsafat umum yang non-Islam," katanya. Penerbit Kanisius boleh disebut perintis penerbitan buku filsafat. Sejak 1950-an, penerbit berusia 80 tahun, milik Keuskupan Agung Semarang, Jawa Tengah, ini menerbitkan buku jenis itu.

Dari 200 lebih judul buku yang terbit selama ini, beberapa di antaranya berkali-kali dicetak ulang. Misalnya karya Prof. N. Driyarkara, Filsafat Manusia, yang dicetak ulang 18 kali. Kalau Kanisius dikategorikan perintis, Mizan termasuk penerus bidang penerbitan buku filsafat Islam. Di masa lalu, Penerbit Bulan Bintang sangat aktif meluncurkan buku jenis ini. Dari serial filsafat karya Drs. Sidi Gazalba di era 1970-an, terjemahan karya filsuf Islam Dr. Muhammad Iqbal semacam Ashrar-i Khudi (Hiasan-hiasan Pribadi), hingga serial pemikiran filsuf lama Al-Ghazali.

Sayangnya, Bulan Bintang seakan tenggelam di tengah gemebyar penerbitan buku. Mizan kini tampak lebih tampil dibandingkan dengan pendahulunya itu. Penerbit yang berkedudukan di Bandung, Jawa Barat, itu juga mengkhususkan diri menerbitkan buku Islam, dan kini mulai melirik tema filsafat. Amar menilai, masyarakat kini cenderung makin menyukai buku filsafat Islam. "Secara tidak langsung, buku jenis ini menjadi alternatif lain bagi pencinta buku," katanya.

Namun, di balik kian semaraknya buku bertema filsafat, terselip satu masalah lain. Di pasar kerap kita temukan buku yang dialihbahasakan secara kaku, sehingga isinya sukar dipahami. Roh pemikiran yang terkandung di dalam karya aslinya terasa banyak menguap. Di samping ada juga yang diterjemahkan secara fleksibel dan memudahkan pembaca memahami pemikiran sang filsuf.

Erwin Y. Salim, Amalia K. Mala, Sujoko (Yogyakarta), dan Sulhan Syafi'i (Bandung)
Majalah Gatra Edisi 50 / VIII 2 November 2002

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru