Sebuah Sudut untuk Buku-buku Cak Nur

Posted by Cinta Buku on

Rumah keluarga almarhum Nurcholish Madjid, cendekiawan muslim dan mantan rektor Universitas Paramadina, terletak di daerah Tanah Kusir, tepatnya Jalan Johari I Nomor 8 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada Rabu, 11 Januari, pukul 9.00 pagi, dengan menaiki Metromini 74 jurusan Blok M-Rempoa, Tempo meluncur ke sana.

Jalan Johari berada di sisi kiri Jalan Bintaro Raya, sebelah Apotik Bendi Tanah. Begitu masuk ke jalan tersebut, terlihat rumah praktek dokter mata di sebelah kanan dan tepat di sebelahnya ada Jalan Johari I yang merupakan jalan buntu.

Rumah keluarga almarhum Cak Nur, sapaan akrab kepada Nurcholish Madjid, berada paling ujung di sebelah kiri jalan. Jarak dari jalan besar menuju rumahnya sekitar 300 meter.

Rumah dua lantai tersebut cukup besar, sekitar 700 meter persegi, bernuansa modern dengan tembok bercat putih bersih. Ada dua pintu pagar hitam di depannya. Pintu pertama menuju rumah depan, sedangkan pintu kedua ke garasi dan beberapa ruang di belakang rumah.

Halaman depan rumah itu ditanami jagung dan singkong yang baru tumbuh dan pohon-pohon rindang seperti mangga dan durian. Ada pula tanaman bunga yang cukup tinggi. Di sebuah pohon yang telah ditebang, bunga anggrek putih sedang berbunga dengan indahnya. Burung-burung kecil beterbangan dengan lincah di halaman itu.

Teras rumah itu cukup lapang, seakan selalu menyambut tamu yang datang. Di ruang tamunya ada seperangkat kursi rotan bergaya Betawi dan dilengkapi sebuah rak buku besar yang dibeli sekitar 1970-an. Rak setinggi 2 meter dan 2,5 meter itu terbuat dari kayu jati.

Rak itu menampung berbagai koleksi buku keluarga Cak Nur. Ada buku-buku mengenai komputer milik dua anaknya, Nadia Madjid dan Ahmad Mikail. Buku mengenai pendidikan milik istri Nucholish, Omi Komariah. Juga buku milik Cak Nur, seperti buku filsafat, ekonomi, Islam, ensiklopedi Islam dan Arab, kumpulan jurnal dan kamus.

Hari itu Tempo disambut Ibu Omi Komariah yang tampil cerah dan segar dengan setelan baju panjang warna biru laut dan celana warna senada. Ibu Omi lantas menunjukkan ruangan kerja sekaligus perpustakaan pribadi Cak Nur di lantai dua.

Di dinding tangga menuju ke sana terdapat tiga rak gantung berpintu kaca yang berisi aneka model kereta api. Selain buku, intelektual kelahiran Jombang, Jawa Timur pada 17 Maret 1939 itu memang hobi mengoleksi kereta api, bahkan pernah bercita-cita menjadi masinis kereta api.

Dinding perpustakaan seluas 5,6 x 5,6 meter persegi itu dipenuhi rak-rak buku besar, sehingga tak ada dinding yang kosong. Ada tiga rak dengan 6 tingkat yang ditata horisontal di tengah ruangan. Di dekat pintu, ada dua lemari selebar 1 meter. Di salah satu sudut terdapat meja besar dengan seperangkat komputer dan printer.

Rak-rak itu penuh dengan buku yang ditata rapi dan diberi kode. Pengkodean dilakukan tiga staf yang ditunjuk Universitas Paramadina untuk menyusun katalog buku koleksi Cak Nur sebelum koleksi itu diletakkan di salah satu sudut perpustakaan kampus itu.

Buku-buku itu memang dihibahkan oleh keluarga Cak Nur ke Universitas Paramadina, tempat intelektual itu mengabdi sebagai rektor sejak 1998. “Kami sekeluarga tidak masalah (buku ini dihibahkan), soalnya mungkin banyak yang membutuhkan buku Bapak. Bukunya kan nggak hanya bidang filsafat dan keagamaan saja, ada politik, ekonomi, referensi juga ada,” ujar Omi Komariah.

Menurut Omi, Cak Nur tak pernah membaca satu buku saja. Biasanya dia membaca banyak buku sekaligus saat menulis untuk jurnal, makalah atau bahan kuliahnya. “Bapak itu kalau lagi keluar ke mana aja selalu nyempetin beli buku. Seperti dulu waktu ke Belanda, bukunya bisa sampai satu koper penuh. Mahalnya ampun!” katanya.

Waktu itu Cak Nur membeli buku sebanyak 3 jilid yang harganya sangat mahal. Omi sendiri lupa buku apa itu dan juga tak ingat di mana letaknya di antara ribuan buku di perpustakaan itu.

Tapi, ia ingat sebuah buku tergolong mahal berjudul The Reign of Quantity and The Signs of Times karya Rene Guenon yang terbit tahun 1989 di Pakistan. Buku itu dibeli di penghujung 1990 seharga US$ 100.

Koleksi Cak Nur terjaga baik, karena dia jarang meminjamkan bukunya, karena khawatir tidak dikembalikan. “Bukannya kita nggak percaya, ya, tapi untuk menjaga agar buku itu jangan sampai hilang. Soalnya, kalau sampai hilang, belum tentu bisa ketemu dengan buku yang sama,” kata Omi.

Buku-buku ini kebanyakan dibeli Cak Nur saat melawat di luar negeri. Nilainya mungkin sangat besar. “Pokoknya, harga semua buku bapak itu kalau dijumlah mungkin lebih mahal dari harga rumah kami,” kata dia.

Sayangnya, beberapa buku hancur dimakan rayap. “Padahal, waktu kami bikin lemari, tukang kayunya bilang ini lemari tahan rayap, tapi nyatanya tetap kena juga.”

Cak Nur memang tak pernah secara eksplisit berwasiat tentang nasib koleksi bukunya. Tapi, “Bapak berpesan ama kita supaya buku-bukunya dirawat dan dipelihara,” kata Omi.

 
M. Sohibul Iman, pejabat rektor Universitas Paramadia sejak 7 Januari 2006 yang menggantikan pejabat lama Sudirman Said Ak., MBA, menilai bahwa Cak Nur punya obsesi besar terhadap perpustakaan untuk mahasiswa di kampus itu. “Bagi dia, itu kan sebenarnya masalah berbagi ilmu, yang merupakan sesuatu yang inheren dalam diri beliau,” katanya.

Iman bercerita, satu-dua bulan sebelum Nurcholish wafat pada 29 Agustus 2005 karena penyakit hati, ia sempat berbincang- bincang di rumah cendekiawan itu tentang bagaimana menjadikan kampus mereka sebagai universitas berbasis pengetahuan dan budaya berbagi ilmu.

“Saya bertanya kepada beliau, ‘Cak Nur, satu persoalan penting dalam kajian tentang manajemen pengetahuan—kebetulan latar belakang saya dari manajemen pengetahuan—adalah apa yang memotivasi orang mau berbagi ilmu?’. Kan ada orang yang berpikir, kalau saya berbagi ilmu dengan kolega, oh dia jadi saingan saya dong dalam karier,” kata Iman.

Menurut Iman, dalam kajian ada dua jenis motivasi. Ada motivasi ekstensif, kalau diiming-imingi dia baru mau berbagi ilmu. Tapi, yang lebih langgeng adalah jenis kedua, motivasi intrinsik. Motivasi ini lahir dari dirinya, karena orang itu merasa ini sebagai misi kemanusiaan atau kontribusi sosial.

“Terus saya tanya ke Cak Nur. Di universitas kita, mungkin nggak (memunculkan jenis motivasi kedua)? Apalagi Cak Nur membangun kampus ini berdasarkan nilai-nilai religius,” kata Iman.

Cak Nur menanggapinya sangat antusias. “Dia bilang, ‘Bagi orang yang meyakini tentang adanya ganjaran dari Tuhan yang lebih besar, saya yakin semua akan berbagi ilmu, termasuk saya’.”

“Jadi, bagi Cak Nur, berbagi ilmu itu sesuatu yang inheren karena dia percaya di situlah letak kemuliaan manusia. Dengan berbagi ilmu nanti di sana mendapatkan ganjaran,” kata Iman menyimpulkan. “Saya yakin seyakin-yakinnya beliau sangat obsesif untuk membangun sesuatu di mana di situ koleksi buku-buku beliau bisa dibaca semua orang.”

Kini Universitas Paramadina sedang menyiapkan sebuah “Sudut Cak Nur” yang akan memuat buku-buku dan arsip Cak Nur yang terdiri dari tiga kategori: buku yang dia tulis, buku tentangnya yang ditulis orang lain, dan warisan buku- buku milik Cak Nur. Total koleksi itu sekitar 6.000 buku. “Yang sudah dikerjakan, dalam arti kita sudah masukkan judul-judulnya ke dalam peranti lunak, sekitar 5.500 buku,” kata Iman.

Buku-buku koleksi pribadi Cak Nur sangat beragam. Selain buku-buku eksakta dan komputer, ada pula buku-buku mengenai ilmu kemanusiaan, agama, budaya, peradaban, dan beberapa novel, di antaranya The Da Vinci Code-nya Dan Brown serta buku-buku referensi yang digunakan Brown. Koleksi buku yang paling banyak adalah buku agama. Koleksinya sangat lengkap, dari agama Islam, Kristen, Hindu, hingga Budha.

Untuk menampungnya, perpustakaan Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, Jakarta itu akan diperluas dua kali lipat dari sekarang. Laboratorium komputer yang kini berada di sebelah perpustakaan akan dipindah dan ruangnya dijadikan perpustakaan untuk koleksi Cak Nur.

Untuk menyiapkan sudut Cak Nur itu, Universitas Paramadina menugaskan tiga orang untuk mendata koleksinya. Mereka adalah Herika R. yang khusus mengelola buku-buku dan Susi Haryanti dan Kusnadi yang mengelola arsip-arsip. Susi adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Kusnadi dari Departemen Pertanian. Mereka mendapat honor Rp 120 ribu setiap datang bekerja di Johari I Nomor 8. Maklum, pendataan buku-buku itu hanya kerja sambilan mereka.

Setelah koleksi itu dipindahkan ke universitas, akan dilakukan fumigasi untuk mencegah ngengat perusak buku. Fumigasi perlu dilakukan setahun sekali.

Herika adalah pegawai PT. Medco Energy di Bandung. Dia bekerja setiap Sabtu dan Minggu selama 6 jam per hari. Dia telah bekerja sebagai pengelola koleksi pribadi Cak Nur selama 9 bulan. Pekerjaan itu dilakukan atas permintaan Universitas Paramadina yang merupakan tempat kerja Herika sebelumnya.

Dia bersedia mengelola koleksi itu karena mengaku sebagai penggemar Cak Nur. “Dengan demikian saya bisa tahu buku-buku apa saja yang dibaca Cak Nur dan dapat bersinggungan dengan pemikirannya,” kata Herika yang menghitung jumlah buku karangan Cak Nur mencapai sekitar 100 buah.

Buku-buku yang lahir dari tangan Cak Nur, di antaranya, Khazanah Intelektual Islam (1982); Islam Kemoderanan dan Keindonesiaan (1987); Islam, Doktrin dan Peradaban (1992); Islam, Kerakyatan dan Keindonesiaan (1993); Pintu-pintu Menuju Tuhan (1994); Islam, Agama Kemanusiaan (1995); dan Islam, Agama Peradaban (1995).

Dia mulai bekerja ketika Cak Nur mulai sakit-sakitan dan ingin buku-bukunya segera ditata kembali setelah disimpan di dalam kotak-kotak ketika rumahnya direnovasi dan buku-bukunya dipindahkan ke rumahnya yang lain di Kota Wisata, Cibubur.

Ia menyusun katalog buku-buku itu dengan sistem Klasifikasi Desimal Dewey yang lazim dipakai di perpustakaan. Sampai saat ini, buku-buku yang telah tersusun di rak mencapai 5.500 yang penyusunannya dilakukan berdasarkan tema buku. Sisanya sebanyak kurang lebih 500 buku masih tersimpan di dalam kotak. Seminggu sekali, buku-buku tersebut dikeluarkan satu per satu dari rak untuk dibersihkan dan disikat. Rak-rak bukunya juga turut dibersihkan dan diletakkan kapur barus di sudut-sudutnya untuk mencegah ngengat atau serangga lain.

Menurut Herika, beberapa buku milik Cak Nur masih dipinjam dan belum dikembalikan, tapi ia tak tahu persis berapa jumlahnya. Semasa hidupnya, beberapa teman dan mahasiswa Cak Nur pernah meminjam bukunya dan kemungkinan besar digunakan untuk menulis skripsi.

Menurut Herika, Cak Nur sangat menyayangi buku-buku koleksinya. Seminggu setelah operasi, meski belum bisa bicara dan harus berjalan memakai tongkat, Cak Nur dengan dipapah memaksakan diri naik ke lantai atas rumah, melihat perpustakaannya. “Setelah melihat buku-bukunya, Cak Nur tersenyum dan tampak sangat bahagia,” kata Herika.

“Sudut Cak Nur” nanti rencananya akan dibuka untuk mahasiswa Universitas Paramadina dan umum. Namun, untuk sementara ini masyarakat umum hanya diizinkan membacanya di tempat, mengingat koleksinya yang belum banyak. Bila dipinjamkan, dikhawatirkan akan menyulitkan orang lain yang membutuhkan buku itu.

Kampus itu juga menyimpan koleksi lengkap tulisan Cak Nur sejak tahun 1970-an. “Koleksi yang kayak begini kalau dipinjamkan akan susah. Kalau ini hilang, carinya lagi susah,” kata Iman sambil menunjuk setumpuk bundel kliping artikel itu di atas meja kerjanya.

Bagi Iman, “Sudut Cak Nur” ini dibangun agar orang mengenal pemikiran-pemikiran Nurcholish, baik dari apa yang ia tulis, apa yang ditulis orang lain tentang dia, dan dari buku-buku yang ia baca. “Itu semua untuk orang-orang yang pro maupun kontra terhadap Cak Nur,” katanya.

Oleh: Kurniawan | Nur Aini | Olivia Sinaga | Dewi Ramarini
Sumber: Ruang Baca Koran Tempo Edisi 24 Januari 2006

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru