Ketika Pembaca Memilih Buku

Posted by Cinta Buku on

Pembaca sebenarnya adalah hakim terakhir yang layak memutuskan mana buku terbaik. Seperti demokrasi, merekalah rakyatnya.

Tapi, rakyat itu begitu banyak dan seleranya beragam. Ketika bicara soal membaca buku, ada banyak alasan mengapa buku ini yang dibaca dan bukan buku itu. Bisa jadi hanya buku itu yang tergeletak di meja di depannya (yang mungkin buku punya tetangga yang tertinggal) atau tak sengaja mendapatkannya (bisa jadi itu hadiah dari teman atau penerbit). Apapun, pada akhirnya, merekalah pembaca buku itu.

Redaksi Ruang Baca mencoba menjaring pendapat pembaca buku mengenai buku terbaik Indonesia yang terbit sepanjang tahun ini, merentang dari Desember 2006 hingga Desember 2007.

Kami mengajukan pertanyaan: apakah buku fiksi dan nonfiksi terbaik menurut Anda? Pertanyaan itu kami kirim ke sejumlah milis perbukuan, seperti Komunitas Ruang Baca (http://groups.yahoo.com/group/ruangbaca) dan Komunitas Pasar Buku (http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/).

Berbagai reaksi muncul. Beberapa orang mengeluhkan soal batasan terbit (selama 2007) yang membuat mereka sulit menentukan buku mana yang terbaik sedangkan mereka merasa buku terbaik itu terbit sebelum 2007, sehingga tak bisa diajukan di sini.

Sejumlah jawaban yang masuk pun secara keliru memilih buku-buku yang terbit di luar kurun waktu yang ditentukan dalam survei kecil ini. Misalkan, beberapa pembaca memilih Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai buku fiksi terbaik. "Buku ini mampu membangkitkan persepsi dan persuasi sehingga pembaca terinspirasi oleh nilai-nilai positif tulisan, yang memang sebetulnya ada di mana-mana di sekitar kita, namun sering terkesampingkan," demikian pujian Ely Andrianita, salah satu pembaca yang menanggapi riset kami.

Sayangnya, buku itu terbit pada tahun 2005. Bisa jadi, karena Andrea menerbitkan dua sekuel dari novel pertama ini dan dibahas di berbagai forum, termasuk acara bincang-bincang Kick Andy, maka buku pertamanya itu seakan-akan baru saja terbit kemarin.

Seorang pembaca (yang tak bersedia dikutip identitasnya) juga keliru ketika memilih novel Lumbini karya Kris Budiman. "Ini cerita yang bagus, mengalir lancar, dengan pilihan latar tempat yang jarang dirambah novelis Indonesia," katanya. Bukan karena pilihannya salah, tapi karena buku itu terbit pada Agustus 2006.

Kesalahan serupa terjadi pada pembaca yang memilih Sekolah Itu Candu karya Roem Tomatipasang. "Dengan sebuah kesinisan dan sekaligus keoptimisan, buku ini banyak memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan kita," kata Sudarmoko, pengusul buku ini. Sayangnya, setelah kami telusuri, buku ini terbitan Pustaka Pelajar Yogyakarta pada November 1998.

Setelah memilah-milah buku-buku pilihan pembaca tersebut, akhirnya terkumpullah delapan buku terbaik menurut versi pembaca. Buku-buku fiksi terbaik itu adalah Edensor oleh Andrea Hirata, Janda dari Jirah oleh Cok Sawitri, Kalatidha oleh Seno Gumira Ajidarma, Mahasati oleh Qaris Tajudin, dan Perantau karya Gus tf Sakai,

Sedangkan tiga buku nonfiksi terbaik pilihan pembaca adalah 7 Dosa Besar Penggunaan Power Point karya Isman H. Suryaman, Antologi Drama Indonesia (1895-2000) oleh Sapardi Djoko Damono et.al., dan Cherish Every Moment karya Arvan Pradiansyah.

Ada sejumlah komentar mengapa pembaca memilih buku-buku itu. Beberapa di antaranya kami paparkan di sini. Titik Kartitiani, yang mukim di Perumahan Dasana, Tangerang, memilih buku Edensor karena "cara bertuturnya ringan, menambah pengetahuan, datanya lengkap, dan menghibur".

Sudarmoko, yang tinggal di Padang, Sumatra Barat, memilih buku Perantau karena kumpulan cerita pendek itu memberikan "sebuah gambaran yang komprehensif tentang sebuah fenomena budaya di Indonesia, merantau, dari berbagai sudut pandang, latar, peristiwa, dan tempat yang sangat bervariasi".

Hernadi Tanzil, pembaca asal Bandung yang rajin menulis resensi di blognya, memilih Cherish Every Moment karena "memberikan pesan yang singkat tapi sarat makna dan menginspirasi agar hidup kita semakin berkualitas, bisa menikmati hidup yang indah setiap saat, dan menjadi berkah bagi sesama kita di mana pun dan apa pun yang kita hadapi pada saat ini."

Sedangkan Asep Sambodja, pengajar Program Studi Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, memilih Kalatidha. "Pengarang memiliki keberanian untuk mengungkap peristiwa bersejarah di negeri ini dengan perspektif baru dan sangat memukau. Seno masih mempertahankan kepiawaiannya dalam menggunakan bahasa metaforis," katanya.

Adapun Rini Nurul Badariah, pembaca yang mukim di Cileunyi, Bandung, memilih Mahasati karena "alurnya tak pernah membosankan, cerita cinta disajikan dengan melankolis tapi proporsional dan karakter-karakternya pun sangat unik".

Demikianlah. Pembaca sudah memilih.

Oleh: Iwank
Sumber: Ruang Baca Koran Tempo Edisi 31 Desember 2007

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Like untuk dapatkan update artikel terbaru