Buku yang Menggetarkan: Mencari Makna Lain "Magnum Opus"

Buku yang Menggetarkan: Mencari Makna Lain "Magnum Opus"

Sejumlah karya manusia di dunia ini memang selalu ada yang mampu memberi pengaruh lebih dari sekadar yang pernah diperkirakan, bukan semata-mata mengalami keberuntungan, melainkan disiapkan matang-matang. Karya sastra, seni rupa, desain, musik, sinema, fotografi, teknologi, kebijakan diplomasi, dan pasti juga buku. Demikian banyak yang terpengaruh, sehingga dalam satu kurun masa atau zaman, setiap yang terkena dampaknya akan terus mampu merasakan getar pengaruhnya sampai jauh ke dalam, merasuk hingga
masa tua dan memberi campuran baik pada kepribadian maupun pikiran. Maka jangan heran jika sebuah hasil karya manusia puluhan tahun silam ternyata masih bisa memancarkan energi dan memberi pengaruh hingga masa kini, bahkan ketika sang penciptanya sendiri sudah hancur ditelan bumi. Harimau mati meninggalkan belang, karya abadi tak bisa usang. Keberadaan karya itu terus diperbincangkan, relevansi karya tersebut masih ditimbang-timbang, kontekstualitasnya tak dapat dilepaskan. Semakin banyak orang menyaksikan, membaca, mencerap, memahami, mengikuti sebuah karya, akan makin banyak pula yang kemungkinan terpengaruh. Seolah-olah karya itu memberi roh yang terus memanifes ke dalam masa dan manusia sesudahnya.

Betulkah senantiasa ada sebuah karya manusia yang bisa begitu hebat memiliki pengaruh? Bagaimana karya itu bisa demikian berpengaruh? Bagaimana mutu karya itu jika dibandingkan ciptaan sejenis? Tanpa perlu jawaban dengan kriteria sangat ilmiah, faktor paling utama penyebabnya, antara lain adanya unsur kebaruan, relevansi, kecanggihan, kontekstualitas, dan keabadian pada karya tersebut. Unsur itu bisa berkelindan satu sama lain sehingga sebenarnya bisa saja hanya salah satu yang paling menonjol. Maksudnya, orang bisa memiliki dan mengajukan banyak kriteria berbeda-beda kenapa suatu karya dimasukkan dalam kategori "magnum opus"', tapi satu hal pasti bahwa karya itu memiliki makna sangat dalam bagi setiap orang yang pernah menikmati dan menilainya. Kriteria bisa jadi nisbi, tapi makna dan nilai adalah hal berbeda. Itu bergantung pada batin, pengalaman, pilihan. Bisa jadi sebuah karya yang diagung-agungkan pada suatu masa, dipuja-puji kritik, diserap dan dibaca sangat banyak orang, pada akhirnya usang, teronggok seolah sebagai sampah, paling banter dikenang dan dirawat keagungannya di sebuah museum, untuk dibangkit-bangkitkan lagi jejak langkahnya yang pernah penuh arti. Atau karya besar itu ternyata hanya berpengaruh di kalangan tertentu di suatu massa, sehingga turunan pengaruhnya pun terbatas kalangannya. Maka sangat wajar bila ada sebuah karya besar yang memang ternyata tak mampu menyentuh batin seseorang, gagal memberi makna pada salah satu pembacanya, atau —sungguh malang— pembaca tak punya kesempatan menikmati karya besar itu. Jadi, syarat mutlak karya besar adalah karya itu harus pernah dibaca oleh seseorang. Kita tahu ada sejumlah karya besar yang merana karena tak pernah diterbitkan atau dibaca orang lain karena masih tersimpan rapi di kamar penciptanya. Kemudian tanpa sengaja baru ditemukan seseorang beberapa lama setelah kematian pengarangnya. Yang paling parah, ternyata kadang-kadang terjadi suatu karya besar pernah berusaha dihancurkan oleh penciptanya sendiri karena dia merasa karya tersebut gagal. Jika fakta tentang karya besar ternyata bisa sangat beragam, terbukti betul yang dinamakan "magnum opus" itu sangatlah relatif.

Orang bisa mengabaikan atau melupakan sebuah pencapaian, karya, dan sebagainya, sebagaimana sebuah karya bisa saja diagung-agungkan sejumlah pujian, ulasan; kritik, pembaptisan, politik media massa, padahal karya tersebut tidak lain hanya sebuah kebohongan yang direncanakan secara sistematik. Dalam konteks ini, rasanya bagus mengingat pemeo Arab bahwa mendapatkan ridha (kerelaan, penerimaan) seluruh orang itu tampak mustahil. Harus ada kesadaran bahwa sebuah karya tak mungkin dibaca setiap orang. Dengan demikian, soal karya berpengaruh, karya besar, yang konon bisa mengubah dunia, memberi wawasan baru, merupakan titik puncak pencapaian tertentu, bisa dibicarakan dari banyak sudut. Yang paling sederhana, pertanyaan siapakah yang terpengaruh dan terubah oleh karya itu? Massa, semangat zaman, gerakan. atau justru menyentuh batin personal seseorang?

Ada ilustrasi sederhana untuk ini. Di sejumlah ranah, misalnya ekonomi, filsafat, kritik sosial, Das Kapital karya Karl Marx tak bisa dipungkiri mampu menggetarkan seluruh sendi ajaran, pemikiran dan wawasan ranah itu. Nyaris dapat dipastikan semua penulis, pemikir, buku, dan ajaran ranah itu akan merujuk buku tersebut sebagai kanon—nyaris setara dengan kitab suci yang tak habis-habisnya dikutip untuk sejumlah keperluan, dicari-cari terus penafsiran baru dan pengembangan pendapat terdahulu. Tapi apakah buku yang sama memiliki daya dobrak serupa pada ranah agama dan sastra, misalnya? Pasti tidak. Baru mulai pada tahun-tahun belakangan saja Das Kapital seakan-akan memiliki pengaruh signifikan pada ranah kajian agama dan sastra. Kenapa bisa begitu? Karena orang membaca ulang karya itu dengan semangat dan pendekatan baru pula.

Terlebih-lebih misalnya pada ranah semiotika, cultural studies, atau wacana post-kolonial, meskipun selalu bisa dihubung-hubungkan, sebenarnya hubungan itu sudah tampak sebagai pemaksaan, rekayasa, diada-adakan. Kenapa? Karena Das Kapital lahir dari sejarah, masyarakat, dan masa tertentu yang belum tentu relevan dan cocok dengan ranah lain, Ada buku yang lebih besar pengaruhnya pada ranah cultural studies dibandingkan Das Kapital, yakni buku dan penulis yang sangat dini mengenalkan makna dan istilah tersebut.

Jika ditujukan secara personal misalnya, apakah Das Kapital memiliki pengaruh pada diri saya? Tentu akan saya jawab tidak. Kenapa? Karena saya belum pernah membaca buku tersebut. Saya tak mengenal dan memahaminya dengan baik. Sebab saya hanya tahu "konon katanya" lewat sejumlah ulasan orang lain di buku lain yang membahas itu. Saya bahkan belum pernah melihat edisi lengkap buku itu. Apakah saya menyesal untuk itu? Bisa jadi tidak terlalu. Saya memiliki cukup banyak buku lain yang mampu membuat batin saya gemetar, mengguncangkan keyakinan, namun pada saat yang sama menguatkan iman, mengetatkan pegangan pada sesuatu yang secara bawah sadar saya ikuti, dianggap sebagai kebenaran. Bukan menafikan pengaruh buku tersebut bagi peradaban dan pergulatan intelektual manusia. melainkan saya tak yakin dengan pengaruhnya bagi orang per orang.

Saya memang lebih bisa merasakan pencerapan hasil membaca untuk "diri" (personal) daripada "dunia" yang rasanya harus selalu berhubungan dengan massa (orang banyak). Saya yakin buku yang sangat mengesankan seseorang pasti akan memberi dampak positif bagi perilaku dan jiwanya. Membaca, menurut Hernowo—penulis Mengikat Makna— adalah upaya mencari makna, mengeksplorasi seluk-beluk hal sukar kehidupan agar mampu dicerap dan dibiasakan dalam diri seseorang. Dengan demikian, membaca bisa dibandingkan dengan sikap, wawasan, pengetahuan, atau kekayaan pengetahuan seseorang yang makin baik, sebab buku yang baik adalah gizi bagi batin, makanan bagi jiwa. Jika seseorang berkata dirinya membaca dengan benar, dampaknya harus betul-betul berpengaruh dan tampak dalam dirinya. Sebab, membaca merangsang banyak syaraf dan kepekaan hidup seseorang. Salah satu hasilnya adalah dunia penciptaan (kreativitas) yang wujudnya macam-macam, bisa tulis-menulis, seni, perilaku, metode, sikap, dan seterusnya. Artinya, ada sesuatu yang hidup di dalam diri setelah membaca dan hal itu harus mewujud pada perbuatan.

Barangkali ini sedikit mengejutkan, kenapa orang harus terbiasa dengan hal rumit dan kompleks? Bisa jadi karena kehidupan itu pada dasarnya penuh kejutan dan tak sesederhana yang kita sangka. Tuhan, kematian, perang, moral, filsafat, nyawa, agama, dan segala hal dalam hidup ini meski selalu bisa diabstraksi dengan sesuatu yang sederhana tetap merupakan misteri dan ketakjuban nyaris hampir bagi semua orang. Buku, bacaan, keterangan, memberi pengetahuan dan pemahaman tentang itu sedikit demi sedikit sesuai kapasitas seseorang. Membaca adalah menjelajahi pikiran, kemungkinan, bermain-main nalar, sementara menulis berusaha menyampaikan keinginan, ungkapan, cita-cita, idealitas, pengetahuan dengan bahasa persuasif, agar pembaca tergerak dan ikut merasakan.

Jika teringat pada sejumlah buku yang mampu memberi pengaruh kuat pada diri saya, rasanya saya bisa memahami pernyataan itu dengan cukup baik. Pengaruhnya masih terasa hingga kini. Getarannya masih kuat ada di dalam jiwa. Buku-buku itu memenuhi rasa haus akan pengetahuan, kecemasan, rasa ingin tahu, bahkan menjawab pertanyaan rumit tentang kehidupan dan fenomena peristiwa. Memang buku itu tak selalu langsung dapat dipahami meski sudah habis dibaca dalam sehari, tetapi mengherankan ternyata keinginan memahami itu tak surut oleh keragu-raguan menghadapi hal yang belum jelas demi mencerap makna. Bahkan setelah beberapa saat berselang, buku atau tulisan itu dibaca ulang, teranglah segala kegelapan itu. Makna itu seakan-akan berhamburan di depan diri saya, siap dipetik sari-sari isinya. Dengan begitu, ingatan dan artinya kembali disegarkan. Bisa jadi pengetahuan yang tertimbun dan tak terpahami dalam akal kita itu sebenarnya tak benar-benar hilang tiada arti, tetapi mencari kesempatan untuk muncul kembali atau menunggu pupuk dari pengetahuan lain sehingga mereka berkembang, tumbuh, menanti jadi matang dan waktu untuk dipanen.

Jikalah mau, tentu butuh cukup banyak energi untuk menceritakan ulang bagaimana buku-buku itu sampai bisa "menghabisi" pendirian yang saya pegang, namun pada saat bersamaan mendewasakan gagasan, melebarkan wawasan, memberi perspektif baru, keterangan lebih jernih terhadap sesuatu. Namun, ada yang lebih penting daripada sekadar menceritakan ulang, ialah ada sesuatu yang hidup dari bacaan itu. Bahwa bacaan itu kemudian menjadi teman dialog, tempat alternatif mencari jawaban, mencari keteguhan di antara keraguan. Bila ingin sendirian mengelana ke dalam belantara petualangan yang tak terperi, bacalah buku. Di sana akan kita temukan kawan baru, yang mencoba memberi pemahaman terhadap diri kita meski tak selalu menyenangkan. Buku memberi kita gizi yang berbeda, yakni kedalaman, pengamatan. Dengan itu, kita menimbang kualitas diri dan berusaha tak kenal nyerah mewujudkan idealitas.

Jadi, pernyataan terhadap pengalaman membaca dan menimbang pengaruhnya pada diri pembaca adalah kenapa buku-buku tersebut sampai bisa mempengaruhi seseorang, sedangkan buku lain yang juga dibaca tidak? Saya teringat orasi Mohamad Sobary, kolumnis produktif, pada pembukaan Pesta Buku Jakarta 2003 Juni lalu, "Buku, Kepribadian, dan Perubahan Sosial". Kalau masih jernih dalam ingatan, dia bilang ada buku relevan dan buku kontekstual. Jika tepat tafsir, buku relevan adalah buku yang memberi jawaban pada persoalan-persoalan kekinian, faktual, mendesak untuk diselesaikan. Sementara yang kontekstual adalah buku menyentak, menyadarkan, mengingatkan. Tapi lebih dari dua kategori itu, dia menyarankan agar kita, pembaca, mencari buku yang subversif, mencerahkan. Dia menyarankan itu dengan argumen bahwa dalam setiap buku sebenarnya terdapat tawaran suatu pandangan dunia, wawasan, yang berujung mampu mempengaruhi pribadi seseorang. Semakin banyak pribadi yang berubah, sesungguhnya itu menuju pada perubahan sosial.
 
Karya-karya Robert T. Kiyosaki menurutnya adalah buku relevan dengan zaman kini, yang serba kapitalistik, sehingga pandangan kita tentang kaya, miskin, kerja keras, malas, uang, investasi, pendidikan harus dibongkar habis-habisan lagi. Zaman yang akuntansinya ingin terbuka, tapi di sisi lain tahu cara berusaha dan menjalankan bisnis lebih efektif dan menangguk untung lebih besar. Pendekatan Kiyosaki terhadap ekonomi real (mikro) bisa jadi lebih kena pada kebanyakan orang daripada yang dilakukan filosof ekonomi pemenang anugerah Nobel di kalangan awam. Bisa jadi, karena itulah buku dia laris, metodenya diterapkan di banyak perusahaan, dan berpengaruh pada pikiran ribuan orang. Pada saatnya nanti, gagasan Kiyosaki itu lama-lama akan usang, diganti pemikiran lain, dilupakan. Kenapa? Karena metode seperti itu sering hanya tepat untuk sementara waktu; waktu pendek yang terbatas oleh kecepatan perubahan.

Namun. sejumlah buku ternyata mampu bertahan lebih lama terhadap waktu, perubahan pemikiran dan sosial, bisa jadi itulah yang dimaksud Mohamad Sobary dengan buku kontekstual. Nonfiksi atau fiksi jka menawarkan pandangan dunia, wawasan, nilai, perubahan sosial, moral yang bisa meruntuhkan kesadaran sebelumnya, buku seperti itu harus segera dibaca dan dicerap isinya. Sebuah buku radikal, yang akan membuat idealisms manusia pembaca sebelumnya rontok, memberi pengalaman hidup dan batin, membenamkan keyakinan usang yang harus segera ditinggalkan, tetapi seketika juga mengangkat pembaca ke arah dunia baru yang lebih dewasa, berkembang, matang. Buku yang mengantarkan manusia pada pemahaman sebenarnya seluruh aspek dirinya.

Bagi saya, Kata-Kata karya Jean-Paul Sartre (Le Mots, terjemahan Jean Couteau) adalah sebuah buku yang senantiasa kontekstual karena dari sana saya terus diguncang-guncang oleh arti pembacaan, penulisan, pemaknaan, dan saling pengaruhnya. Dari buku ini saya mendapat semangat betapa menulis merupakan salah satu pilihan jalan hidup bagi sebagian orang. Saya agak yakin hanya dengan membaca dan menulis itulah saya berani menjelajahi sejumlah kemungkinan dalam hjdup, menikmati banyak karya penulis, hidup mencari nafkah dari menulis kata-kata dan wacana, menyampaikan gagasan dan ungkapan lewat bahasa tulis, termasuk meyakini sesuatu yang akhirnya menjadi sikap dan pandangan dunia. Memang betul saya mencintai banyak hal lain selain dunia tulis-menulis, tapi rasanya bisa dibuktikan bahwa itulah yang paling saya kuasai.

Bacaan yang memesona itu perlahan-lahan terus bertambah banyak, disediakan oleh banyak pihak, menyempatkan diri menghabiskan waktu untuk mencerapkan dan mengambil sari-sari pesannya. Lama-lama setelah mendiskusikannya, saya kemudian mencoba-coba bersikap sebagaimana yang diajarkan buku itu; mencoba menjadi diri sendiri.

Teringat lagi pada ucapan Mohamad Sobary, dia menyebutkan ciri buku kontekstual adalah ia menawarkan idealisme, pemikiran, perubahan nilai, menginterpretasi perkembangan, dan akhirnya merefleksikan diri sendiri. Buku dengan kriteria kompleks seperti itu tampaknya sedikit sukar ditemukan; tapi percayalah setiap orang memiliki buku favoritnya, sebuah buku yang bisa mengubah dirinya menjadi seseorang yang baru, mengantarkan ke dunia yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Saya yakin setiap pembaca pasti memiliki "magnum opus"-nya sendiri.

Magnum opus, itulah yang saya sebut sebagai karya yang bisa membuat seseorang bergetar. Buku yang memiliki makna sangat dalam bagi keyakinan dan idealisme yang dipegang seseorang. Buku yang ketika dibaca isinya makin menyempumakan betapa nilai yang dipegang itu harus terus disempurnakan, dirawat kekayaannya, disegarkan ingatannya. Anda tak percaya? Baiklah, jika pendapat itu tak meyakinkan, saya pinjam argumen M. Quraish Shihab, seorang dai-penulisyang reputasi dan kredibilitasnya tak diragukan siapa pun, menurutnya, membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada umat manusia (oleh Tuhan). Karena membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban.

Lepas dari kritik, gembar-gembor, iklan, saran orang lain, kriteria ilmiah yang sukar, sesungguhnya setiap orang mampu menyusun daftar magnum opus bagi dirinya sendiri. Buku tak popular tulisan seseorang tak terlalu terkenal bisa jadi sangat berarti bagi seorang pembaca tertentu, akibatnya buku tersebut menjadi semacam penerang dalam hidupnya. Buku yang dipandang kritik agung, dianggap merupakan pencapaian estetika dan intelektual tertentu, sangat mungkin tak memiliki makna apa-apa di hadapan seorang pembaca bila dia tak memahami isi yang dibacanya. Buku itu jadi sekadar kumpulan nas yang tak punya arti. Dengan demikian, rasanya wajar jika saya mengajak dan meyakinkan agar setiap orang memilih, menentukan. memiliki, buku yang dalam keyakinannya memberi pengaruh terhebat dalam dirinya. Karena hanya setelah dibaca seseorang bisa menentukan sedalam apa buku itu mampu memberi getaran dalam hidupnya.

Jadi, apa lagi? Mari temukan buku yang bisa mempengaruhi diri Anda sekarang juga!

Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/Desember 2003

Buku Serba Alternatif

Buku Serba Alternatif

"Om, ada serbuan Kahlil Gibran! Kalau mau lihat, datang saja ke toko buku!" kata seorang kemenakan yang baru pulang dari toko buku.

"Memangnya kamu ingin beli itu buku?"

"Aku dapat tugas dari guru bahasa Indonesia. Aku bingung mau beli yang mana. Habis judulnya sama, penerbitnya beda-beda. Yang satu ukurannya kecil, yang satu sedang-sedang saja."

Percakapan singkat pada saat buku Kahlil Gibran banyak bermunculan itu membangkitkan rasa penasaran. Saya yang hampir setiap akhir pekan berusaha menyempatkan diri mengunjungi toko buku juga bertanya-tanya.

Sepulang kerja beberapa waktu kemudian, saya putuskan untuk mampir ke toko buku. Di gerai buku tampak beberapa tumpukan buku baru. Saya melihat sana-sini mencari apa yang kemenakan saya katakan, Saya mencari buku-buku Kahlil Gibran. Benar juga. Banyak sekali bukunya (Catatan 1). Judulnya pun lebih banyak daripada yang pernah diterbitkan Pustaka Jaya. Ukurannya lebih bervariasi. Rata-rata seukuran buku saku. Seolah-olah Kahlil Gibran hidup lagi dalam wujud buku. Saya pikir edisi cetak ulang dari penerbit Pustaka Jaya (Catatan 2). Ternyata tidak. Ini terbitan penerbit Yogyakarta. Ada Bentang, Mitra Pustaka. Tarawang, dan lainnya (Catatan 3).
 
Pustaka Jaya tidak mau ketinggaian. Mereka melakukan cetak ulang buku Kahlil Gibran dengan desain sampul yang lebih mencolok. Ukurannya pun dibuat lebih kecil daripada edisi sebelumnya. Mungkin agar mudah dibawa-bawa. Satu yang menarik, di sampul depan buku dicetak tulisan "diterjemahkan oleh...".

Kahlil Gibran adalah satu di antara sekian banyak penulis luar yang ikut menyemarakkan dunia perbukuan Indonesia. Euforia kebebasan membuka peluang penerbitan buku di Indonesia, termasuk di Yogya. Penerbit-penerbit baru bermunculan. Dari sekadar diskusi antar-aktivis mahasiswa yang memiliki kesamaan ide, hadirlah penerbit. Dari persahabatan, jadilah satu penerbit buku. Hampir setiap orang di Yogya bisa mendirikan penerbit buku, Mereka menyebutnya "penerbit alternatif". Ada pula yang lebih ingin disebut "penerbit independen".

Penerbit Alternatif
Alternatif, sebuah kosakata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Inggris, alternative (pilihan). Kata ini sebelumnya telah lebih dahulu mengemuka ketika para musisi muda menggunakannya untuk memberi julukan bagi jenis musik baru, "musik alternatif". Kini merambah pula pada seni teater, dengan dikenalkannya "teater alternatif".

Bercermin pada kata alternatif, para penerbit memberikan nuansa baru dalam mengusung tema-tema buku. Pemikiran, sastra, budaya; filsafat, dan tema-tema lain serba baru dan belum pernah dirambah penerbit yang lebih dulu ada. Penerbit alternatif tidak hanya menerbitkan buku cetak ulang atau penerjemahan karya asing. Penerbit alternatif membuat terobosan baru dengan berlomba-lomba menerbitkan karya tulis ilmiah, mulai skripsi, tesis, hingga disertasi.

Rasanya seolah latah seperti program acara di stasiun televisi swasta. Satu stasiun TV menyiarkan program misteri dan memiliki rating tinggi, semua stasiun TV ikut-ikutan menyiarkan program misteri. Juga program acara kriminal dan gosip selebritis yang hampir setiap jam bak tersaji di meja makan. Tetapi, kelatahan pendirian penerbitan buku itu tidak perlu dicela berlebihan. Masyarakat mesti berterima kasih pada terobosan yang dilakukan penerbit alternatif. Tanpa keberanian, niscaya masyarakat luas tak akan mengenal lebih jauh tokoh Che Guevara, misalnya.

Konsep alternatif di dunia perbukuan sebenarnya bukan barang baru. Dalam industri perbukuan lebih dikenal dengan independent publishing atau self publishing (penerbitan swakelola). Ada pula yang menyebutnya dengan istilah radical publishing. Saking alternatifnya, di Inggris ada penerbit yang mengkhususkan diri menerbitkan buku-buku untuk kaum gay dan fiksi gay. Mungkin di Yogya, Galang Press menyuguhkan alternatif yang bisa dianggap berbed. Dalam acara Midnight Live di Metro TV yang mengupas buku Jakarta Undercover tulisan Moammar Emka, Direktur Galang mengatakan bahwa ada pembaca menyebut penerbitnya dengan "penerbit kelenjar".

Di Amerika, self publishing bukan hal yang aneh (Catatan 4). Penerbitan seperti ini merupakan akar dari penerbit-penerbit besar yang ada saat ini. Banyak tokoh dibesarkan oleh penerbit alternatif, seperti Mark Twain, Zane Grey, Upton Sinclair. Carl Sandburg, Edgar Rice Burroughs, Stephen Crane, Edgar Allan Poe, Rudyard Kipling, Henry David Thoureau, Walt Whitman, Spencer Johnson, Ricard Bolles, dan Richard Nixon. Seperti juga dikatakan Alfons Taryadi, "Sekarang bukan modelnya membanggakan office, tapi yang penting layanan. Di Colorado ada sebuah penerbit yang dipimpin oleh hanya dua orang, entah suami-istri atau sahabatnya. Karyawannya hanya 4-10 orang. Direkturnya dia rangkap" (Catatan 5).
 
Saya teringat pada kisah Harry Bright dan Arthur Blogg yang saya baca dalam buku How to Publish a Book. Mereka berdua mencoba peruntungan nasib dengan menerbitkan buku sendiri (self publishing).

Harry Bright selalu ingin menulis sebuah buku tentang kehidupan di kotanya selama Perang Dunia II. Saudara laki-lakinya yang membuka usaha toko buku menganjurkan Harry untuk menulis dan menerbitkan bukunya. Harry menulis bukunya dengan tulisan tangan sementara saudara laki-lakinya mengetiknya menggunakan pengolah kata (word processor). Kemudian, mereka menghubungi enam percetakan lokal untuk meminta perincian harga produksi buku. Akhirnya, mereka memilih sebuah percetakan yang bersedia memberikan potongan harga untuk pembayaran tunai, 1/2 harga untuk pengiriman buku, dan1/2 harga untuk pekerjaan finishing.

Saudara laki-laki Harry memiliki kenalan seorang mahasiswa desain grafis yang dapat membantu pekerjaan desain dalam waktu bersamaan. Sementara desainer dan percetakan bekerja, Harry dan saudara laki-lakinya menyebarkan edaran kepada semua teman dan relasi, kepada radio dan koran lokal, perpustakaan, museum, dan organisasi yang berhubungan dengan tema buku.

Pada Oktober, bertepatan dengan peringatan 50 tahun pengeboman kotanya, buku Harry terbit. Harry diwawancarai koran dan radio lokal. Selama Natal, dia dapat menjual 1.000 kopi bukunya, dengan harga £ 6.99 per buah. Setelah membayar percetakan dan desainer serta membayar pajak penghasilan kepada Dinas Pajak, dia menikmati liburan panjang di Prancis Selatan untuk menulis buku selanjutnya.

Berseberangan dengan nasib mujur Harry Bright. Arthur Bloggs harus menanggung semua pembayaran yang telah dikeluarkan untuk menerbitkan bukunya.

Arthur Bloggs adalah seorang fotografer amatir. Dia memiliki sejumlah foto lokomotif kereta api. Seorang temannya memberikan saran kepadanya untuk membuat buku eksklusif berisikan foto-foto lokomotifnya. Arthur membujuk temannya memberikan dukungan dana untuk menerbitkan foto-fotonya dalam buku.

Arthur menghubungi sebuah percetakan yang dia pilih dari Yellow Pages. Dia memilih kertas dengan kualitas paling baik, format buku besar, dan metode terbaik untuk reproduksi foto, tanpa memperhatikan biayanya. Dia meminjam £ 500 dari temannya untuk membayar uang muka ke percetakan.

Sepuluh ribu kopi buku Arthur Bloggs' Railway Locomotives telah dicetak, dengan harga per buku £ 11.99. Arthur tidak memunyai ruangan di rumahnya untuk menyimpan bukunya. Kemudian, dia menata bukunya di garasi miiik temannya. Dia tidak tahu bahwa garasi itu atapnya bocor.

Buku itu dipublikasikan pada 2 Januari. Arthur mengedarkan edisi perdana bukunya dalam sebuah pesta promosi untuk media massa, tetapi tidak seorang pun yang datang. Dia mengiklankan bukunya dalam majalah khusus kereta api dan koran nasional. Dia memberikan 200 kopi bukunya kepada teman dan relasi yang berjanji akan membayarnya, tetapi kenyataannya tidak. Dia tidak memperoleh penghasilan dari kopi bukunya.

Arthur menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan distribusi nasional untuk mendistnbusikan 500 kopi bukunya. Setelah setahun, hanya 200 kopi bukunya yang terjual. Perusahaan itu mengembalikan buku yang tersisa. 4.800 kopi buku lainnya merana di dalam garasi temannya, terkena jamur, hingga akhirnya buku-buku itu terlupakan.

Arthur menjadi miskin ketika dia tidak dapat membayar tagihan percetakan. Dia terpaksa menjual rumahnya dan hidup di tepi jalan.

Kunci kesuksesan Harry Bright terletak pada faktor promosi. Ia melakukan promosi sebelum bukunya terbit. Sambil naskah bukunya dikerjakan di bagian desain dan percetakan, promosi telah ia lakukan. Tidak begitu dengan yang dilakukan Arthur Blogg.

Pemasaran Alternatif
Promosi sebagai bagian dari pemasaran (marketing) memang salah satu kunci untuk meraih pasar pembaca. Itu pula yang selalu dilakukan penerbit buku untuk memperkenalkan bukunya. Satu promosi yang rutin dilaksanakan adalah kegiatan pameran. Penerbit tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam setiap ajang pameran buku, dari skala lokal, nasional, hingga internasional. Pameran buku yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di setiap daerah merupakan momen yang tepat untuk mempromosikan dan menjual buku, khususnya buku penerbit alternatif, dengan harga miring (diskon). Juga pameran buku nasional yang diadakan setiap September, yang dikenal dengan Indonesia Book Fair. Tidak ketinggalan setiap dua tahun sekali beberapa penerbit Indonesia ikut tampil di Frankfurt Book Fair, seperti pada 2003 ini. Belum lagi acara lainnya, misalnya bedah buku dan temu pengarang (book signing).

Hampir semua toko buku di Yogya adalah toko buku diskon. Social Agency telah dikenal dan terpatri di benak orang Yogya karena identik dengan buku-buku murah.

Toko buku lainnya, Toga Mas, juga memberikan potongan harga untuk setiap buku yang dijualnya. Dengan menggandeng 50 penerbit alternatif, Toga Mas mengadakan great sale 50 penerbit Yogya dengan memberikan diskon minimal 40 persen. Kegiatan yang diadakan selama September 2003 ini mengusung tema "Buku untuk Rakyat".

Pasar buku pilihan lainnya untuk mencari buku-buku dari penerbit alternatif dengan harga lebih murah. Kawasan Shopping Center Yogya pilihan yang tepat di samping toko buku diskon. Juga di sekitar kampus UGM, Universitas Negeri Yogyakarta, dan IAIN Sunan Kalijaga. Kalau di Jakarta mungkin di kawasan Jalan Kwitang dan Pasar Senen. Di Bandung bisa di Pasar Palasari atau Pasar Suci. Karena harga buku yang murah ini, di Yogya ada anekdot: kalau mau lihat buku datanglah ke Gramedia. Kalau mau beli buku lebih baik di Social atau di Shopping. Bukunya disampul plastik lagi.

Persaingan toko buku Yogya memang sangat ramai. Tetapi ternyata toko buku baru terus bermunculan di Yogya: Tiga Serangkai, Quadrant, Maulaya, Alinea, dan masih banyak lagi. Semuanya mempromosikan diskon besar. Bahkan, kini Toko Buku Gramedia juga rutin mengadakan agenda penjualan buku dengan diskon yang tidak kalah meriah. Kalo semua toko buku bersaing memberi diskon, pastilah pembeli dan pembaca buku yang dapat untung. Tetapi, bukankah diskon itu diambil dari penerbit buku juga. Semakin besar diskon yang harus diberikan kepada konsumen, semakin besar tuntutan toko buku kepada penerbit. Untuk memenuhi tuntutan itu, penerbit menggunakan kertas dan mesin yang lebih murah, kontrol mutu pun berkurang, dan jadilah buku yang semakin merosot mutunya. Pembaca pula yang menanggung kerugian. Nah....

Kembali pada masalah promosi. Salah satu daya tarik untuk mempromosikan buku adalah menarik atau bahkan mengikat perhatian pembaca untuk mengingat nama penerbitnya. Juga sampul buku yang dibuat sedemikian khas untuk membedakannya dengan buku-buku milik penerbit lain. Dengan sekali lihat, pembaca akan tahu buku itu diterbitkan oleh siapa. Satu yang khas Yogya untuk buku dari penerbit alternatif adalah desain Si Ong "Harry" Wahyu atau Buldanul Khuri. Seperti juga Penerbit Mizan yang sampul buku-bukunya identik dengan goresan desain Gus Balon.

Dalam memberi nama penerbit, kosakata alternatif tampaknya dipilih pula sebagai pijakan. Selama ini nama penerbit berkisar pada kata media, grafika, pustaka, atau press, Setiap kali ke toko buku saya sempatkan mencatat nama-nama penerbit yang baru saya lihat namanya dan beberapa rada-rada unik. Tampaknya iseng, tetapi menarik untuk dilakukan. Ada Bendera, Benteng, Galang, Ikon, Jendela, Mata Angin, Mata Bangsa, Tarawang, Tamboer, Cupid Publisher, Jalasutra, Kalika, Gelombang Pasang, Kepel, Komunitas Ombak, Megatruh, Mijil, Putra Langit, Sumbu, Teplok Press, Tiga Dara Pustaka, serta banyak nama lainnya (Catatan 6). Ada yang memberi nama penerbitnya dengan Noise Factory. Apakah penerbit ini menerbitkan buku-buku yang membuat ribut? Ada juga Oesaha Terbitan Radja Minjak, yang entah apakah milik seorang pengusaha minyak atau modalnya berasal dari usaha berjualan minyak?

Untuk melekatkan imaji pembaca pada penerbit alternatif, cara promosi buku terus digali. Saya menemukan satu keunikan lagi. Saat naik motor daiam perjalanan ke toko buku, saya tertarik pada kaos yang dikenakan pengendara motor yang ada di depan saya. Tulisannya besar-besar: Akar Kekerasan. Rasanya, saya pernah melihat ilustrasi yang ada pada kaos itu. Setelah mengingat-ingat dan mengamati dengan saksama, gambar pada kaos sang pengendara motor mengarahkan ingatan saya pada sampul buku Akar Kekerasan karya Erich Fromm.

Ketika masuk ke sebuah toko buku, ternyata sermua pramuniaga di toko buku itu mengenakan kaos bergambar sampul buku. Di gerai khusus kaos (t-shirt) terdapat contoh-contoh kaos bergambar sampul buku. Ada Akar Kekerasan, Gegar Gender, Membaca Pikiran Tuhan, Nietsche Sabda Sang Zaratustra, Sekolah itu Candu, Biarkan Dia Mati, Di Bawah Bayang IMF, dan masih ada kaos bergambar sampul buku lainnya.

Kaos memang satu lagi yang identik dengan Yogya. Jika Bandung terkenal dengan kaos dengan ilustrasi alternatif keluaran Caladi 59 (C-59), Bali dikenal dengan kaos kata-kata plesetan khas Joger, Yogya terkenal dengan Dagadu-nya. Kaos Dagadu bukan lagi sekadar kaos yang dibeli untuk dipakai, melainkan sudah menjadi trend setter dan alternatif oleh-oleh bagi wisatawan (Catatan 7). Jadi, kini oleh-oleh Yogya bukan hanya batik, perak, bakpia, atau yangko. Kaos pun pantas sebagai souvenir. Ini yang mungkin mengilhami penerbit buku untuk membuat kaos bergambar sampul buku. Tidak hanya sampul buku yang diangkat dalam kaos. Tokoh-tokoh yang bukunya diterbitkan juga tampil di kaos, Che Guevara yang paling menonjol dalam hal ini, di samping Soekarno.

Beberapa alternatif sudah terjadi dan dijalankan penerbit Yogya. Alternatif lainnya mungkin akan muncul kemudian. Saya membaca dalam buku Marketing for Small Publisher sebuah cara tidak lazim untuk menarik perhatian masyarakat terhadap buku baru (Catatan 8). Promosi buku yang terjadi di lnggris ini sempat heboh saking alternatifnya. Dengan sebuah rekayasa, toko buku melakukan hal yang cenderung ekstrem untuk mempromosikan buku berjudul The Terrors of St. Trinians.

Miss Hermione Gingold yang berada di atas atap sebuah taksi dan berpakaian seragam St. Trinians yang terkenal, tiba di depan sebuah toko buku. Dia membuat beberapa keributan, yang dalam waktu singkat mampu mengumpulkan sejumlah orang. Kemudian, dia melemparkan sebuah batu bata ke etalase toko buku yang ada di depannya sehingga membuat penonton terperangah. Tidak hanya etalase kaca yang remuk dan hancur. Perhatian penonton langsung tertuju pada sederetan buku yang terpajang menghiasi etalase toko buku. Pada sore harinya, media cetak memuat foto keributan di depan toko buku tersebut. Muncul pula sejumlah publikasi tentang kejadian pelemparan kaca etalase toko buku. Tentu saja pasar tertarik pada insiden tersebut dan terus membicarakannya. Sejak saat itu, orang selalu teringat pada toko buku dan peristiwa tersebut.

Alternatif telah menjadi inspirasi bagi perkembangan pemikiran dan pengetahuan masyarakat, khususnya pembaca buku. Tanpa keberanian menciptakan sesuatu yang alternatif, mungkin masyarakat belum dapat membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, Karl Marx, Tan Malaka, dan banyak lainnya yang sempat dan mungkin masih dilarang beredar. Juga buku-buku karya Kahlil Gibran yang makin beragam. Ditambah lagi tema-tema lain yang bermunculan menawarkan alternatif bacaan bagi masyarakat.

Kealternatifan akan menjadi pertimbangan tersendiri. Masyarakat akan menentukan apakah sesuatu yang alternatif itu baik atau tidak? Apakah yang berbau alternatif itu akan membawa kepada keberagaman berpikir? Jangan sampai buku-buku yang tadinya hendak memberikan alternatif bagi pembaca, kemudian malah membuat pusing pembacanya, seperti dialami kemenakan saya.

lyan Wibowo, penikmat buku
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/ Desember 2003

Catatan:
1. Saya sempat mencatat sebanyak 76 judul buku Kahlil Gibran yang dipajang di rak buku di Toko Buku Gramedia, Social Agency, dan Toga Mas. Saya tidak melihat lebih jauh apakah judul buku yang berbeda-beda itu berasal dari buku yang sama dalam edisi bahasa asingnya.
2.  Pustaka Jaya menerbitkan buku Kahlil Gibran pada 1993, yaitu Sang Nabi, Taman Sang Nabi, Pasir dan Buih, Sayap-Sayap Patah, Suara Sang Guru, Surat-Surat Cinta kepada May Ziadah, Suara Sang Penyair Lagu Gelombang, Sang Pralambang. dan Potret Diri.
3.  Beberapa penerbit menerbitkan karya Kahlil Gibran, yaitu Navila, Melibas, Pustaka Pelajar, Diva Press. Padma, Inovasi, Saujana, Pustaka Gibran, Lotus, Cupid, dan Waqtu Pustaka Popular.
4.  Lebih jauh tentang self publishing dapat dibacatulisan Robert Spicer dalam buku How to Publish a Books: Step by Step Guide to Independent Publishing (How to Books, 1995) serta tulisan Dan Poynter dalam buku The Self Publishing Manual: How to Write, Print and Sell Your Own Book (Para Publishing, 1997).
5.  Dikutip dari wawancara dengan AlfonsTaryadi, "Sekarang Muncul Penerbit di Gang-Gang Kecil" dalam buku panduan Indonesia Book Fair 2002.
6.  Dari kunjungan ke toko buku, tercatat sekitar 100-an lebih penerbit baru. Penerbit ini tidak semua berdomisili di Yogya.
7.  Caladi 59 (C-59) diambil dari nama Jl. Caladi 59 (sekarang di Jl. Tikukur 10), tempat pembuatan kaos. C-59 dapat disebut pelopor pembuatan kaos (t-shirt) dengan tampilan ilustrasi yang menarik di Bandung. Joger mempakan kaos yang terkenal dengan kata-kata plesetan khasnya. Dagadu (Daya Gagas Dunia) atau artinya "matamu" merupakan pelopor pernbuatan kaos-kaos bertuliskan kata-kata plesetan dari Yogya. Dagadu didirikan oleh sejumlah mahasiswa UGM.
8.  Lebih jauh tentang pemasaran buku dapat dilihat tulisan Bill Godber, Keith Smith, dan Robert Webb dalam buku Marketing for Small Publisher (Journeyman Press, 1992),

Agatha Christie dan Saya

Agatha Christie dan Saya

Bertahun-tahun lamanya saya mengoleksi buku Agatha Christie. Semua bermula dari kesukaan saya pada Hercule Poirot yang berhasil mengelabui empat penjahat kaliber dunia dalam Empat Besar, buku pertama yang saya baca saat berusia 14 tahun. Saya terpukau pada kecerdasan Agatha Christie menciptakan "sel kelabu"yang katanya ada pada setiap otak manusia, asal mau mengasahnya. Karena uang saku yang sangat minim, saya tak dapat memanjakan diri dengan membeli buku-buku Agatha Christie di dua toko buku besar yang waktu itu ada di kota saya. Untungnya, salah satu toko, "Banten Membangun", mengizinkan pengunjungnya untuk membaca buku yang mereka pajang. Alhasil, sepulang sekolah, saat matahari sedang terik-teriknya saya akan diam-diam membuka-buka buku Agatha Christie di suatu pojok. Saya akan melahapnya dalam keheningan mencekam dan panas menyengat yang tak jadi beban lagi (waktu itu belum ada pendingin ruangan di toko itu), meskipun dengan risiko dimarahi ibu karena pulang terlambat. Dua judul yang saya ingat adalah Dan Cermin pun Retak dan Buku Harian Josephine. Untunglah tak lama, seorang teman baru di SMP, Andri, memiliki banyak koleksi Agatha Christie yang memenuhi lemari buku di kamarnya. Saya sempat meminjam (tanpa sempat mengembalikan) dua buku Agatha Christie; Pembunuhan atas Roger Ackroyd dan Buku Harian Josephine yang saya baca ulang karena belum mengerti isinya. Seorang teman saya, Sofie Dewayani, ikut andil dalam menerbitkan kembali minat saya terhadap buku-buku Agatha Christie, setelah saya dewasa.

Dari sekitar 60 buku yang sudah saya baca, Mawar Tak Berduri —yang belum saya miliki— adalah karya Agatha Christie yang paling membuat saya tergetar setelah Mereka Datang ke Bagdad, Pena Beracun, Hotel Bertram, Pria Berstelan Coklat dan Misteri Kereta Api Biru. Selain Mereka Datang ke Bagdad yang diterjemahkan oleh A. Rahartati Bambang Haryo, lima buku lainnya diterjemahkan Ny. Suwarni A.S. Bagi saya, Ny. Suwarni A.S. adalah penerjemah terbaik buku-buku Agatha Christie. Beberapa penerjemah karya Agatha Christie lainnya yang saya ketahui, yaitu Mareta, Lily Wibisono, Lanny Wasono, Indri K. Hidayat, Tanti Lesmana, dan Dra. Gyani Buditjahja. Sejauh ini, hasil terjemahan Ny. Suwarni yang saya anggap sangat mengalir dan lancar. Ia paling banyak menerjemahkan buku-buku Agatha Christie.

Mawar Tak Berduri adalah kisah tragis berlatar belakang roman yang disuguhkan dengan sederhana dan menarik dalam bukunya. Agatha Christie berperan cukup besar dalam proses kepenulisan saya, meskipun saya tidak menulis cerita-cerita misteri. Satu hal paling kuat dalam karya Agatha Christie adalah sisi psikologis tokoh-tokohnya yang digarap dengan baik. Agatha Christie mampu menggambarkan sifat manusia yang secara umum sama di belahan bumi mana pun, dengan sangat menarik dan cukup logis. Karena berpengalaman dengan buku-buku Agatha Christie, saya sudah pintar menebak bahwa nama Charles atau Derek identik dengan sifat tidak bisa dipercaya dan flamboyan; Alfred dan Bantry biasanya menjadi tokoh patuh yang lamban dan membosankan. Untuk perempuan, Agatha Christie biasanya menulis Joanna atau Arlena untuk tokoh manja, kaya dan sering gonta-ganti pasangan; Lydia biasanya mewakili tokoh perempuan utama yang cerdas dan efisien; Hilda untuk perempuan yang sering kali menjadi "ibu" bagi suaminya.

Apa yang saya dapatkan dari membaca buku-buku Agatha Christie? Salah satunya adalah penilaian diam-diam yang sering saya lakukan atas diri teman-teman berdasar intuisi dan pengalaman membaca Agatha Christie. Mungkin agak naif tapi percaya atau tidak, sering kali penilaian saya tak terlalu meleset. Suami saya sering heran dengan kenyataan itu, tapi mungkin juga tidak sepenuhnya demikian. Seorang sufi dan irfan yang hidup berabad-abad lalu pernah berwasiat, "Jadikanlah yang telah terjadi sebagai contoh bagi yang akan terjadi, sebab segala sesuatu banyak mengandung persamaan". Bagi saya, hal itu benar adanya. Mungkin Agatha Christie pun mengetahui hal itu dan memahaminya dengan baik, Siapa tahu?

Sel kelabu adalah hal misterius bagi saya. Setelah puluhan buku Agatha Christie saya baca, saya tak terlalu yakin bisa menerangkan sel kelabu dengan tepat sesuai maksud penulisnya. Sel kelabu bisa jadi bagian dalam sel-sel otak yang jumlahnya miliaran, berupa titik terang jika kita sering berpikir teratur dan sistematik mengenai sesuatu. Mungkin sel kelabu memang ada pada semua orang, namun hanya sedikit yang menyadari keberadaannya. Pada buku Mawar Tak Berduri, sel-sel kelabu Poirot menuntunnya ke tengah-tengah rumpun mawar tak berduri yang menjadi kunci segala pertanyaan membingungkan. Tapi bisa jadi itu hanya rekaan, karena hanya pada Poirot-lah sel kelabu itu dinisbahkan. Rasanya saya berani bertaruh bahwa Agatha Christie sendiri tak tahu persis apa makna sel kelabu yang tidak ada pada Ms. Marple atau Tuppence dan Tommy, pasangan detektif yang beberapa kali muncul sebagai tokoh utama buku Agatha Christie. Mungkin karena Poirot sering digambarkan demikian perfect dan agak sok; sehingga julukan-julukannya pun harus agak melangit alias tidak biasa.

Lama-kelamaan saya makin mudah menebak tersangka dalam buku Agatha Christie, mungkin karena sudah makin berpengalaman membaca buku-bukunya. Kelemahannya, kalau boleh saya bilang begitu, adalah plot yang hampir-hampir mirip meskipun tak sama benar antara buku satu dengan buku lainnya. Walaupun demikian, saya selalu bisa merasakan kelancaran kata atau menemukan ketinggian budaya suatu bangsa yang ia beberkan dalam karya-karyanya, seperti pada Nemesis, Pembunuhan di Mesopotamia, Ledakan Dendam, dan lain-lain. Dalam karya Agatha Christie juga saya temukan penghargaan tinggi terhadap kehidupan, kemanusiaan, dan kesederhanaan. Kebetulan saya rasa, jika kemudian ia meramunya dalam kisah misteri. Dengan membaca dan mendalami karya-karyanya, timbul keyakinan dalam diri saya bahwa hidup adalah realita tidak mudah dan sering menciutkan nyali, tetapi kita tetap harus melanjutkan hidup yang penuh dengan pilihan dan kemungkinan ini, mungkin untuk bersaksi atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, atau untuk belajar merasakan luka agar tak mudah melukai, kemudian menuangkannya dalam bentuk karya.

Baru-baru ini terpikir oleh saya, jangan-jangan Agatha Christie seorang penyokong feminisme pada zamannya. Kesimpulan ini saya ambil karena dia kerap menampilkan tokoh-tokoh perempuan mandiri, cerdas, bervisi, berkarakter. Bukankah sosok feminis zaman sekarang selalu ditampilkan dalam ciri demikian? Tetapi bisa jadi ia hanya mencitrakan sosok-sosok yang diinginkannya. Kalaupun demikian, terima kasih Christie!

Septina Femiati, penulis cerpen dan penerjemah
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003

Tips Memilih Buku Bagus Untuk Pemula

Tips Memilih Buku Bagus Untuk Pemula

Seiring dengan banyaknya penerbit dan toko buku baru yang bermunculan, dengan sekian banyak judul dan versi buku, memilih buku bisa menjadi persoalan yang memusingkan. Meski secara finansial kita mampu membeli banyak buku, bisa jadi kita kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk membacanya. Apalagi jika keuangan yang kita miliki cukup terbatas dan pas-pasan jumlahnya.

Berikut ini adalah tips-tips yang mempermudah Anda memilih buku, baik ketika Anda mau membeli ataupun mendahulukan buku mana yang akan Anda baca. Tips-tips ini terutama berguna untuk Anda yang masih "pemula" dan belum cukup memiliki wawasan dan feeling yang mencukupi yang biasanya tumbuh seiring dengan keakraban kita dengan buku sebagai bacaan yang mencerdaskan.

Buatlah daftar buku yang sedang Anda butuhkan. Jika belum tahu judul bukunya, tulislah tema dan golongan buku yang kira-kira sesuai. Persoalan rendahnya minat baca dan daya beli sering kali dikarenakan kebingungan pembaca berhadapan dengan beragamnya pilihan, sementara mereka merasa buta untuk mengenali buku mana yang paling sesuai bagi dirinya. Bagi Anda yang masih mengalami perasaan demikian, cobalah untuk menanyakan kepada teman yang gemar membaca atau bacalah resensi buku baru yang biasa ada di koran-koran setiap hari Minggu. Jangan sekali-sekali Anda asal membeli buku karena sampul atau judul yang menarik saja, juga jangan ikut-ikutan dengan tren buku yang sedang laris. Jika tidak sesuai, kesalahan memilih buku semacam ini akan membuat minat baca Anda semakin turun atau bahkan Anda makin antipati terhadap buku.

Mulailah dengan pengarang yang sudah Anda kenali. Mengetahui sekilas riwayat hidup dan reputasi seorang pengarang yang memiliki kesan baik bagi diri Anda akan memberi pintu yang lebar dalam diri sendiri untuk masuk dan menyelami apa yang dituliskannya. Bisa juga Anda bertanya kepada mereka yang lebih tahu dalam bidang buku yang ingin Anda baca. Misalnya, tanyakan pengarang novel atau penyair yang diakui kualitasnya. Tanyakan buku yang kira-kira cocok dengan kemampuan Anda sebagai pembaca pemula.

Bacalah sampul belakang buku, kata pengantar atau pendahuluan dan daftar isinya. Jika ingin lebih spesifik lagi lihatlah indeks yang biasa disertakan pada bagian akhir buku. Anda bisa mengetahui inti sari dan isi buku berdasarkan apa yang dituliskan di sana. Boleh juga Anda membaca salah satu bagian dari buku itu, terutama yang Anda nilai sesuai dengan subjek utama yang Anda cari. Dari sini Anda bisa memutuskan apakah buku tersebut memang layak bagi Anda atau tidak.

Untuk buku-buku terjemahan, terutama fiksi-sastra, filsafat, dan semacamnya, lihatlah penerjemah dan penerbitnya. Baca juga sekilas secara acak pada beberapa halamannya. Perhatikan apakah ada banyak kejanggalan mendasar seperti kalimat yang bertele-tele dan membingungkan, ungkapan yang tidak pas, istilah-istilah yang tidak logis, dan sebagainya. Terjemahan yang baik biasanya menyertakan daftar istilah sulit, keterangan konteks suatu bagian, dan semacamnya. Begitu pula dengan penerjemahnya, yang mestinya memiliki wawasan keilmuan dan kapabilitas sesuai dengan tema atau bidang bahasan buku yang diterjemahkan. Hal ini perlu Anda lakukan karena kini banyak sekali bermunculan penerbit dan penerjemah baru yang kurang memiliki idealisme akan kualitas sebuah buku sebagai bagian dari keberadaban. Jangan biarkan minat baca Anda dirusak oleh para pedagang buku ini hingga Anda akhirnya juga memusuhi penerbit dan buku yang sesungguhnya sangat Anda butuhkan.

Untuk buku-buku bersambung atau serial, jangan segera memutuskan untuk membeli. Sebisanya usahakan untuk meminjam kepada teman yang telah membeli. Setelah membaca dan meresapi buku tersebut, Anda bisa lebih matang memutuskan apakah buku tersebut layak Anda miliki atau tidak. Buku-buku bersambung dan serial biasanya seperti memaksa Anda untuk terus membeli buku sambungan berikutnya karena Anda akan merasa sia-sia telah membeli dan memiliki buku yang belum tamat.

Tentu saja, tulisan ini sekadar panduan ringan yang tidak harus dibuktikan kesahihannya. Sebab, sebagaimana kata sebuah amsal, "sejelek-sejelek buku, tetaplah ada gunanya". Setidaknya, dibanding tidak membaca sama sekali.

Judul asli: Buku Baik dan Sang Pemula
Oleh: Goen
Majalah Mata Baca Vol. 2/ No. 3/ November 2003

Sutan Takdir Alisjahbana Berlayar Hingga ke Grotta Azzurra

Sutan Takdir Alisjahbana Berlayar Hingga ke Grotta Azzurra

Cerita diawali dengan pertemuan Ahmad dan Janet di sebuah kapal Capri-Sorrento. Mereka sama-sama berniat liburan di Pulau Capri yang terkenal akan keindahannya itu dengan maksud untuk menghilangkan kesepian masing-masing.

Ahmad, seorang laki-laki berusia 47 tahun. Ia seorang tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia bersama kawan-kawannya dari PSI melancarkan pemberontakan terhadap Presiden Soekarno. Mereka bermaksud mendirikan pemerintahan baru, tetapi pemberontakannya gagal dan Ahmad lebih memilih lari keluar negeri. Karena letih memikirkan segala persoalan yang menimpa negerinya serta kekecewaannya atas kegagalan pemberontakannya, Ahmad memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai sekretaris di sebuah perusahaan mobil dan berniat menenangkan pikirannya dengan cara berlibur ke sebuah pulau yang indah, yaitu Pulau Capri. Di tempat wisata itu ada suatu tempat yang dinamai Grotta Azzurra (Gua Biru).

Adapun Janet Marcelin adalah seorang janda asal Perancis, berusia sekitar 35 tahun. Ia seorang yang cantik dan pandai. Janet bekerja di Museum Louvre, Paris. Janet sangat mengenai Italia, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan seni lukis, patung, dan sejarah lama. Pertemuannya dengan Ahmad telah memberikan nuansa hidup baru. Mereka sering berdiskusi tentang seni, kebudayaan, emansipasi, seks, politik, dan segala hal yang berhubungan dengan Timur-Barat.

Begitulah, cerita dalam roman Grotta Azzurra karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berlanjut dengan serangkaian diskusi panjang tentang persoalan-persoalan yang terjadi saat itu, terutama pertentangan antara budaya Timur dan Barat. Roman ini sudah jarang kita temui di toko-toko buku. Sampai saat ini belum ada edisi cetak ulang. Mungkin hal ini disebabkan oleh bobot isi cerita yang terlalu berat karena berisi ide-ide yang rumit, jumlah halaman yang cukup tebal untuk ukuran roman Indonesia (556 halaman), atau mungkin ada unsur-unsur lain yang sifatnya politis sehingga roman ini tidak dicetak lagi. Saya sendiri hanya membaca judul novel tersebut sewaktu SMU tanpa pernah melihat apalagi membacanya. Baru setelah kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, saya menemukan dan membaca novel tersebut. Terlepas dari permasalahan itu semua, ternyata roman ini tetap menarik untuk dikaji.

Tentang Sutan Takdir Alisjahbana
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dilahirkan di Natal, Tapanuli pada 11 Februari 1908. Pendidikan secara formal diawalinya di HIS (Hollands Indische School) Bengkulu (1915-1921). Kemudian, dilanjutkan ke Kweeksschool di Bukit Tinggi, Lahat, Muara Enim (1921-1925). Setelah itu, STA melanjutkan pendidikannya ke sekolah pendidikan guru (HKS) di Bandung (1925-1928) dan Hofdacte Cursus di Jakarta (1931-1933).

Semangat STA untuk belajar terus menyala. Cita-citanya untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa yang melahirkan dan membesarkannya, telah mendorong STA untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Pada 1937, STA melanjukan pendidikannya di Fakultas Hukum UI dan gelar Master in de Rechten diraihnya pada 1942.

STA tidak bernah berhenti bercita-cita, apalagi memenjarakan keinginan besarnya. Setiap kesempatan ia pergunakan untuk membangun istana masa depan yang selalu diidamkannya sehingga walaupun ia sudah kuliah di Fakultas Hukum, pada saat yang sama disempatkannya pula mengikuti kuliah-kuliah ilmu bahasa umum, filsafat, dan kebudayaan Asia Timur di Fakultas Sastra.

Pengabdiannya kepada bangsa dan negara diawalinya dengan bekerja sebagai guru SD di Palembang, Sumatra (1928-1929). Bakat besarnya di bidang sastra menjadikan STA sebagai penulis yang produktif. STA juga menjadi redaktur kepala Balai Pustaka bagian Panji Pustaka dan Buku (1930-1942). Pada masa itu, STA bersama Amir Hamzah, dan Armin Pane mendirikan majalah Pujangga Baru, sebuah majalah yang mempunyai andil besar dalam perkembangan dan pertumbuhan bahasa dan sastra Indonesia. Untuk itulah, STA dikenal sebagai pelopor angkatan Pujangga Baru.

Pada 1945, STA menerbitkan dan memimpin majalah Pembangunan, sebuah majalah yang diperuntukkan bagi kemerdekaan dan demokrasi. Tiga tahun berikutnya, STA memimpin dan menerbitkan majalah Pembinaan Bahasa Indonesia serta menerbitkan dan ikut memimpin majalah Ilmu, Teknik, dan Hidup. Adapun dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, STA pun menerbitkan dan memimpin majalah Konfronfasi (1955).

Dalam bidang kebahasaan, STA layak dinobatkan sebagai "Bapak Bahasa Indonesia", karena jasa-jasanya yang besar dalam menumbuhkembangkan dan memasyarakatkan bahasa Indonesia.

STA bukan hanya seorang ahli yang mengabdikan pemikiran dan ide-idenya untuk kemajuan dirinya, tetapi juga banyak merintis kegiatan yang bermanfaat bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. Untuk itu, pada 1938, STA mencetuskan pemikirannya untuk mengadakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama di Solo. STA juga menjadi pengambil inisiatif dan pemimpin konferensi bahasa-bahasa Asing tentang The Modernization of the Languages in Asia di Kuala Lumpur Malaysia (1967).

Keahlian STA bukan hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga masyarakat mancanegara mencatatnya sebagai putra terbaik bangsa Indonesia yang mempunyai banyak ide dan pemikiran bagi kemajuan manusia. STA diangkat menjadi anggota Societe and Lingualistique, Paris (1951). STA juga menjadi anggota Committee of Directors of the International Federation of Philosophical Societies, Brusel (1945-1949). Selain itu, ia menjadi anggota korespondensi International Commission for the Scientific and Cultural Development of Man Kind (UNESCO). Juga mendapat kehormatan menjadi tamu dan memperoleh hadiah dari Fellow Centre for Advanced Study in the Behavioral Sciences, Stanford California USA (1959-1961). Sejak 1978, STA menjadi anggota kehormatan Koninklinik Institut voor Taal-Land-en Volkenkunde, Leiden, Belanda, serta masih banyak lagi penghargaan internasional lain yang diberikan kepada STA karena pemikiran, ide, dan karya-karyanya.

Sejak usia muda, STA tak pernah berhenti berkarya. Ide-ide dan pemikirannya terus mengalir dalam karya-karyanya. Dalam bidang filsafat, STA telah menulis sejak 1952, bukunya berjudul Tentang Kebudayaan dan Sejarah Kebudayaan Indonesia, Krisis Akhlak Pemuda Indonesia (1975), Uraian-Uraian dalam Apakah Bacaan Cabul (1957), Perkembangan Sejarah Kebudayaan Dilihat dari Jurusan Nilai (1975), dan Pembimbing ke Filsafat (1977). Dalam lapangan bahasa, buku dan karangan-karangannya, antara lain Kamus Istilah I dan II (1948), Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia I dan II (1948), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1978).

STA juga aktif mengumpulkan dan memberikan komentar tentang perkembangan kesusastraan Indonesia. Komentarnya tentang perkembangan puisi termuat dalam Puisi Baru (komentar tentang puisi Indonesia klasik) dan Puisi Baru (komentar tentang puisi Indonesia modern). Hasil karya yang lain adalah Perjuangan, Tanggung Jawab dalam Kesusastraan Indonesia (kumpulan karangan tentang kesusastraan. 1977).

Karya-karya lain dalam bidang puisi, antara lain Tebaran Mega (1955), Lagu Pemacu Ombak (1979), dan Perempuan di Persimpangan Zaman. Adapun dalam bidang roman atau novel, antara lain Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1937), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941), Grotta Azzurra (3 jilid 1970), dan Kalah dan Menang (1978).

Grotta Azzurra, Sebuah Novel Ide
Ketika roman Grotta Azzurra diterbitkan, banyak pengamat dan kritikus sastra yang memberi tanggapan terhadap roman tersebut, Grotta Azzurra memang roman STA yang panjang, khususnya untuk ukuran cerita dalam sastra Indonesia. Roman ini terdiri atas tiga jilid. Isinya memuat ide-ide dan pemikiran STA tentang segala hal yang diungkapkan meialui tokoh-tokohnya.

Para pengamat dan kritikus sastra Indonesia menganggap bahwa roman Grotta Azzurra merupakan roman bertendens yang paling ekstrem, atau dengan kata lain roman tersebut merupakan "terompet" pengarang untuk menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat pembacanya. Hal serupa juga dilakukan oleh STA dalam novel Layar Terkembang. Oleh karena itu, para pengamat sastra umumriya mengatakan bahwa Grotta Azzurra merupakan kelanjutan dari Layar Terkembang.

Harry Aveling menilai Grotta Azzurra karya STA dengan cara membandingkannya dengan Layar Terkembang. Harry Aveling mengatakan, "Fungsi didaktik Layar Terkembang penting sekali. Manusianya hanya dapat dibebaskan dari ikatan masyarakat kuno untuk pengikatan baru: untuk membangun manusia modern."

Harry Aveling pun akhirnya menyamakan Grotta Azzurra dengan Layar Terkembang. Dia mengemukakan, "Pada kesan pertama, Grotta Azzurra adalah Layar Terkembang baru." Namun, menurut Harry Aveling pula, Grotta Azzurra mempunyai kelebihan dalam hal ini (nilai-nilai yang terkandung di dalamnya). Menurut Aveling, STA adalah manusia yang konsekuen dengan pendiriannya. Ia berpikir dan berkarya secara konsisten.

Grotta Azzurra memang mengundang banyak tanggapan dari kalangan pengamat sastra. Bermacam-macam kritik dilontarkan terhadap karya tersebut, tetapi muncul juga berbagai penilaian yang menilainya sebagai suatu karya yang berbobot.

Goenawan Mohamad, salah seorang penyair Indonesia yang juga dikenal sebagai esais yang cemerlang, menyempatkan diri pula menanggapi Grotta Azzurra. Goenawan mengawali tanggapannya dengan sebuah pengandaian.

Jika buku cerita yang baik adalah buku yang nikmat dibaca, maka mungkin sebuah novel Motinggo Busye lebih baik dari Grotta Azzurra. Maka roman yang dianggap hebat adalah roman yang terutama berisi diskusi-diskusi tentang paham politik, seks, seni, agama. Dengan demikian, Grotta Azzurra termasuk roman terhebat dalam kesusastraan modern Indonesia (Majalah Ekspres, 24 Oktober 1970).

Selanjutnya, Goenawan mengemukakan, "Grotta Azzurra ini terasa seperti serangkaian artikel di majalah kebudayaan. Laut Tengah yang biru merupakan keindahan tanpa akhir itu kemudian hanya jadi latar belakang yang tak perlu: lukisan alam roman ini hanya gambar dinding di kamar baca, yang bisa diganti dengan gambar dinding lain. Takdir Alisjahbana, sebagaimana sudah mulai terasa sejak Layar Terkembang-nya memang asyik masyuk dengan ide-idenya."

Masalah ide-ide yang ditarrtpilkan STA yang dipandang oleh Harry Aveling sebagai fungsi didaktik itu memang menarik perhatian orang banyak, termasuk Dr. Monique Zaini Lajoubert seorang sarjana Perancis yang mengatakan bahwa "... roman ini pertama-tama adalah roman ide dan sebagian besar terdiri dari diskusi yang panjang antara kedua tokoh utama dan orang-orang yang dijumpai mereka dalam perjalanan tentang segala macam hal, yang terutama sekali bukan saja berhubungan dengan Eropa dan Amerika Serikat, melainkan dengan negara-negara berkembang termasuk Indonesia." Lebih lanjut Dr. Monique menilai bahwa Grotta Azzurra adalah sebuah roman yang lebih mengutamakan ide ketimbang jalan cerita.

Bahwa STA selalu konsisten dalam setiap karyanya, yakni selalu mengetengahkan ide-idenya, juga kemukakan oleh Jacob Sumardjo yang mengatakan bahwa dalam Grotta Azzurra, STA lebih mementingkan ide, isi, daripada sastra. Adapun menurut Idrus, roman Grotta Azzurra adalah roman Indonesia yang terbaik sampai sekarang. Idrus juga memuji keahlian STA dalam menggodok sejarah kuno dan ilmu jiwa wanita untuk suatu maksud tertentu (dalam STA, 1985:131).

Selain tanggapan yang berisi penilaian postif terhadap roman ini, muncul juga tanggapan cukup keras yang dikemukakan Prof. A. Teeuw dalam buku Sastra Indonesia Modern II. Dalam tulisannya, A. Teeuw berpendapat bahwa Grotta Azzurra adalah suatu filsafat kebudayaan yang ditulis dalam bentuk novel (Teeuw, 1989:179), dan itu dianggap sebagai suatu kesalahan pokok oleh Teeuw. Menurutnya, STA selain berperan sebagai novelis, juga ingin berperan sebagai nabi dan guru sekaligus.

Dari sini terlihat perbedaan pendapat antara Teeuw dengan Aveling. Aveling menganggap Grotta Azzurra sebagai Layar Terkembang baru yang sarat dengan ide. Aveling sendiri mengaku bosan membaca Layar Terkembang, tetapi ia memberikan pujian terhadap Grotta Azzurra: "Cerita feminisasi Janet bagus sekali. Persatuannya dengan Ahmad wajar dan tidak dipaksakan. Kenangan bahwa percintaannya dengan itu dosa, tidak terlalu keras, walaupun masih ada. Akhir kisah percintaannya juga wajar.... Sekali lagi, Janet bagus sekali," (dalam STA, 1985:131-132).

Berbeda dengan Aveling, Teeuw lebih memuji Layar Terkembang, tetapi mengkritik Grotta Azzurra. Tentang Layar Terkembang Teeuw mengatakan, "Takdir membeberkan pemikiran itu dengan cara yang mengagumkan dalam romannya Layar Terkembang yang merupakan contoh yang baik tentang apa yang dimaksudkan oleh pengarangnya sebagai Tendenz-Kunst; dan oleh sebab itu, karya itu juga memperlihatkan kekuatan serta kelemahan kesusastraan jenis itu." (Teeuw, 1980:64-65).

Di sinilah letak kelemahan Teeuw. Ia menerima gaya STA dalam Layar Terkembang, tetapi menolak gaya yang sama dalam Grotta Azzurra. Dengan kata lain, STA yang dikritiknya konsisten dengan gayanya, sedangkan Teeuw sebagai pengkritiknya, tidak konsisten dengan sikapnya.

Berdasarkan beberapa pendapat yang diungkapkan mengenai Grotta Azzurra telah membuktikan bahwa dalam karya-karyanya STA telah menciptakan karya yang bertendens dengan maksud untuk memodernisasikan masyarakat pembacanya. Pada dasarnya, Grotta Azzurra adalah cermin idealisme STA sepenuhnya sehingga dalam Grotta Azzurra, STA lebih mengutamakan pemunculan ide-ide dan idealismenya ketimbang keindahan sastranya.

Ismail Kusmayadi, editor Penerbit Katarsis
Majalah Mata Baca Vol. 2/ No. 3/ November 2003

Machiavelli dan Kutukan Sebuah Buku

Machiavelli dan Kutukan Sebuah Buku

"Machiavelli adalah nama yang tidak asing lagi. Sayangnya, ia lebih dikenal sebagai tokoh pemikiran politik yang jahat. Machiavelli termasyhur sebagai penganjur autokrasi yang menghalalkan kekerasan, tipu daya, dan cara-cara imoral untuk melanggengkan kekuasaan, pemerintahan. dan negara."

Niccolo Machiavelli (1469-1527) termasyhur sebagai filsuf politik yang membangun gagasan bahwa politik itu mempunyai moralitasnya sendiri dan tidak terikat pada norma-norma yang lazim diterima. Tak banyak yang tahu bahwa ia juga penyair, dramawan, sejarawan, dan juga seorang filsuf politik republikan.

Machiavelli lahirdi Florence, Italia, 3 Mei 1469. Persaingan politik, perebutan wilayah, dan peperangan di Florence juga Eropa secara umum pada masa itu merupakan hal yang sering terjadi dan imbas pahitnya nyata-nyata memukul Machiavelli. Semua itu sangatlah penting bagi muncul dan berkembangnya pemikiran politik Machiavelli.

Tahun 1512, setelah tujuh tahun tersingkir dari tampuk kekuasaan di Florence, dinasti Medici (berkuasa sejak 1434) berhasil merebut kekuasaannya kembali. Lalu seperti lazimnya rezim yang kembaii naik takhta, Medici melakukan pembersihan pemerintahan dari unsur-unsur lama. Maka Machiavelli yang pada waktu itu menjadi kanselir di Republik Florence segera dipecat, dijebloskan ke penjara, dan disiksa. Ia memang terkenal sebagai sahabat dekat dan orang kepercayaan Piero Soderini sang pemimpin Republik Florence yang terguling.

Sang kanselir melihat peristiwa itu sebagai tragedi. Namun, sejarah membuat rencana lain. Peristiwa itu, kelak ternyata, membukakan jalan bagi Machiavelli untuk memasuki dunia yang menakjubkan, yakni dunia tulis-menulis di mana ia "meraih" kemasyhuran. Pengalaman di penjara dan penarikan dirinya dari panggung politik Florence membuat Machiavelli lebih banyak merenung dan menulis, bukan saja tulisan tentang politik dan kekuasaan, melainkan juga naskah drama dan puisi! Dari tahun 1513-1520, ia menulis tiga buku politiknya yang penting, yakni Il Principe (Sang Penguasa, 1513), Discorsi (Diskursus, 1515), L'Arte delta Guerra (Seni Perang, 1520). Setelah itu, ia banyak menulis karya sastra, di antaranya La Mandragola (drama sarkastik), Andria dan Clizia (puisi), Belfagor Arcidiavolo (novel), L'asine d'oro (satire), dan juga tulisan sejarah Istorie Florentine ('Sejarah Florence').

Sayangnya, daripada meraih kemasyhuran, Machiavelli lebih tepat disebut menanggungkan kemasyhuran. Ketika namanya disebut, banyak orang segera terbayang akan suatu praktik politik yang dingin, penuh muslihat licik, dan jika perlu keji! Dalam kurun lima abad setelah masa hidupnya, Machiavelli ditampilkan dalam wacana politik sebagai manusia berotak iblis. Tengoklah kamus para akademisi yang konon menjunjung tinggi objektivitas dan kewaskitaan, simaklah entri machiavellian, dan Anda akan menemukan bahwa salah satu definisinya adalah of, like, or characterized by the political principles and methods of expediency, craftiness, and duplicity set forth in Machiavelli's book, The Prince; crafty, deceitful, etc. (Webster's New World College Dictionary, 1996:809). Machiavellian tak ayal lagi dipahamkan sebagai kata yang mencakup pengertian tentang pikiran, sikap, dan tindakan yang licik, penuh tipu daya dan kejam. Begitulah orang mengenal Machiavelli sebagai pencetus ajaran politik yang tak mengindahkan segala nilai moral. Orang ramai mengistilahkannya dengan ajaran "tujuan menghalalkan segala cara" (the end justifies the means). Tak kurang dari sastrawan besar Shakespeare, melalui salah satu tokoh ciptaannya dalam naskah drama The Merry Wives of Windsor, membuat sebutan "Si Keji Machiavelli". Bagi banyak orang, nama Machiavelli memang sering terdengar atau dipelesetkan menjadi "Machevill".

Akan tetapi, ketenaran nama buruk Machiavelli itu adalah sebuah kecelakaan, kalaupun bukan kesalahan sejarah. Karena apa yang lazim dipahami sebagai machiavellian itu sesungguhnya bukan watak Machiavelli itu sendiri. Watak itu tepatnya melekat pada para penguasa yang pernah ada hingga pada zaman itu, seperti Aleksander Agung (356-323 SM), Julius Caesar (102-144 SM), Cesare Borgia (1476-1507), Girolamo Savonarola (1452-1498), dan lain-lain yang menjadi bahan kajian dan renungannya dalam Il Principe. Di sinilah letak masalahnya karena buku itu kemudian banyak dibaca orang dan menjadi sangat masyhur berabad-abad. Maka tampillah ia sebagai pemikir politik berwajah iblis. Memang sejauh orang mau mengenal Machiavelli sekadar dari Il Principe, hal itu justru menjadi batu sandungan baginya, alih-alih dapat memahami Machiavelli karena dari buku ini orang hanya menjumpai nalar dan tabiat penguasa yang dingin, ambisius, imoral, dan hanya mengenal satu tujuan: melanggengkan kekuasaannya. Il Principe memang menjadi kutukan bagi penulisnya.

Akan halnya Machiavelli sendiri, ia sesungguhnya dengan tegas memilih kekuasaan rakyat (res publica) yang manusiawi dan lurus. Machiavelli sebagai sang republikan itu terlihat nyata dalam karyanya yang lain, yakni Discorsi, yang memuat gagasan Machiavelli secara lebih kaya. Boleh dikatakan Discorsi adalah wasiat politik Machiavelli yang terlengkap. Namun sayang, tak seperti Il Principe, buku yang cukup tebal ini jarang dibaca orang. Maka Machiavelli pun tetap tampak sebagai pemicu dan penyebar pemikiran jahat dalam politik.

Sedikit saja orang yang paham akan Machiavelli, Francis Bacon (1561-1626), seorang tokoh yang berpengaruh besar dalam dunia sains berkat metode empirismenya, adalah salah satu di antara sedikit orang itu. Menurutnya, dalam Il Principe Machiavelli sekadar mengemukakan, tanpa menutup-nutupi, apa yang nyata-nyata dilakukan oleh penguasa, dan bukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Tokoh lain yang berupaya memahami Machiavelli adalah Leopold Van Ranke (1795-1886), sejarawan terkemuka dari Jerman. Ia menyatakan, "Setelah membaca bab terakhir Il Principe, barulah kita tahu bahwa apa yang Machiavelli anjurkan dalam buku tersebut didorong oleh tekad mencapai persatuan Italia daripada sekadar mengabaikan nilai-nilai moral." (Politik Kekuasaan, KPG, 1997:6).

Dalam abad ke-19 dan paruh awal abad ke-20, bayangan orang akan wajah iblis Machiavelli itu seolah-olah memperoleh pembuktiannya, karena dengan penyebaran totalitarianisme dalam kurun itu, gagasan tentang kekuasaan yang dimunculkan Machiavelli dalam Il Principe meraih relevansinya. Orang percaya bahwa Hitler (1889-1945) membaca Il Principe sebagai pengantar tidurnya seperti Napoleon (1769) melakukannya. Konon Lenin (1870-1924) dan Stalin (1879-1953) mempelajarinya dengan tekun di sebuah universitas di Rusia, sedangkan Mussolini (1883-1945) dengan bangga mengaku sebagai pengikut setia Machiavelli dan banyak menisbahkan perilakunya pada Machiavelli.

Pemikiran Machiavelli memang banyak menimbulkan salah paham, kontroversi serta kecaman yang tak habis-habisnya. Ini dapat dibaca sebagai indikasi bahwa gagasan politiknya mengandung sesuatu yang pantas untuk dipertimbangkan. Sebagian orang mengatakan bahwa Machiavelli adalah nabi atau setidaknya guru politik modern. Bagaimanapun tampak mengerikannya, Machiavelli rupanya adalah pemikir yang berhasil melihat inti nalar kekuasaan negara. Banyak orang menegaskan perbedaan antara Abad Pertengahan dan Abad Modern dengan mengacu pada Machiavelli sebagai simbol yang memisahkan kedua periode iersebut. Mereka percaya pendekatannya terhadap politik adalah khas dunia modern.

Gagasan dan karya-karya Machiavelli agaknya perlu untuk dibaca dan dikaji kembali lebih saksama. Dengan demikian, duduk perkaranya menjadi lebih jelas. Sayangnya, di Indonesia, karya Machiavelli relatif belum banyak dikenal; namun, orang sudah terkesan akan berita tentang kejahatan pemikirannya. Ini pula kiranya yang menjadi pertimbangan sejumlah penerbit kita untuk menerjemahkan, menyadur, dan menerbitkan karya-karya penting Machiavelli.

Dalam Agustus 2003 menyusul terbitnya terjemahan karya Machiavelli Art of War (Desember 2002), terbitlah edisi terjemahan Discorsi yang tidak banyak dibaca orang itu. Hal yang serupa sebelumnya jugapernah dilakukan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yakni dengan terbitnya saduran dalam bentuk cergam atas Discorsi (disadur menjadi Politik Kerakyatan) dan juga Il Principe (Politik Kekuasaan) pada 1997.

Munculnya kesadaran dan upaya semacam itu tentu saja adalah satu hal yang menggembirakan. Bukan saja karena dengan penerbitan itu masyarakat-baca memperoleh kesempatan untuk mengakses pemikiran seorang tokoh besar secara Iebih mendalam, melainkan juga di sana kita melihat satu titik cerah, yakni sebuah kemauan untuk memahami dan menghargai pemikiran, bahkan apabila sang pencetusnya terlanjur dikenal oleh banyak orang sebagai iblis yang menginspirasikan kejahatan.

Kesadaran ini penting sebab bukankah hari ini ada kecenderungan menguatnya prinsip bernalar bahwa "suara terbanyak adalah kebenaran", sedangkan kita tahu bahwa kuantitas bukanlah kriteria untuk kebenaran.

Rh.Widada, penulis dan editor pada sebuah penerbitan di Yogyakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Mistisisme Schuon: Dia yang Mencari ke dalam Belantara Keabadian

Mistisisme Schuon: Dia yang Mencari ke dalam Belantara Keabadian

Bagi sejumlah orang, Frithjof Schuon adalah nama yang menggetarkan hati dan perasaan. Termasuk saya. Saya masih mampu merasakan getaran hebat usai membacabuku terjemahannya, Memahami Islam, yang diterbitkan Pustaka Salman. Tercekam, bagaimana ada orang yang memiliki iman begitu kuat terhadap Islam dengan cara pandang dan keyakinan sendiri, seolah-olah tak dipengaruhi oleh faktor apa pun selain unsur Islam itu sendiri: Allah, Muhammad saw., Sunnah, Al-Qur'an, danjalan cara menempuhnya.

Kalimat pertama Memahami Islam itu telah menjadi pernyataan klasik: "Islam is the meeting between God as such and man as such.... Islam confronts what is immutable in God with what is permanent in man." (Islam adalah pertemuan antara Tuhan sebagaimana adanya dan manusia sebagaimana adanya.... Islam menghadapi apa yang abadi dalam Tuhan dengan sesuatu yang tetap dalam diri manusia.) Betapa berbeda cara dia "beriman" dan memeluk Islam dibandingkan saya yang mengandalkan dogma dan rukun biasa. Dia menjelaskan Islam dengan bahasa yang sangat tegas, tak berbelit-belit, langsung pada pokok, tanpa kompromi. Argumen yang dia ajukan tidak lagi menjadi alibi, melainkan kredo.

Begitu terpesonanya, hingga saya langsung ingin tahu orang macam apakah dia, yang khazanah pengetahuan tradisinya begitu luas, seakan-akan menjadi segelintir orang yang khusus dipilih untuk menjaga hikmah dan tradisi yang asal, asli, itu agar tidak sampai lenyap dari muka bumi. Padahal, seorang profesor saja berkomentar bahwa dia "terlalu menyeramkan, menakutkan" dengan segala kemampuannya itu.

Meski begitu banyak orang berpendapat bahwa tulisannya sangat sukar dibaca dan dipahami. Barangkali karena bahasa untuk menjelaskan masalah rohani dan spiritualisme memang selalu imajinatif, penuh metafora, "bersayap", dan mengawang-awang. Diperlukan kemampuan tertentu untuk memahami wacana itu. Tak terkecuali Seyyed Hossein Nashr, salah seorang murid dan "penerusnya", butuh sekitar dua tahun untuk membaca dan menyelesaikan Memahami Islam.

Kenangnya, "Meskipun tipis, buku itu sangat sukar. Awalnya saya berpendapat tak ada sesuatu yang membuat kenapa buku ini begitu penting. Kini, jika saya mengenang kembali kehidupan saya dulu, dan sebagai mahasiswa jurusan kajian agama, lebih dari lima tahun setelah saya mulai membacanya, saya baru menemukan alasan untuk menghargainya." Dalam hati, bagaimana lagi saya yang hanya baru bisa membaca lima buku terjemahannya?

Frithjof Schuon memang luar biasa. Dalam hidupnya, dia telah menulis hampir 25 buku; semuanya tentang topik yang sangat pelik dan misterius: kesejatian manusia dan hikmah yang menjadi khazanah kehidupan manusia. Di Indonesia, lima bukunya sudah diterjemahkan, antara lain Memahami Islam (Pustaka Salman), Mencari Titik Temu Agama (YOI dan Pustaka Firdaus), Islam dan Filsafat Perenial (Mizan), Akar Kondisi Manusia (Pustaka Pelajar), dan Transfigurasi Manusia (Qalam). Selain penulis, dia juga penyair dan perupa mistik. Buku puisinya yang terkenai adalah Songs for a Spiritual Traveler juga belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tema utama tulisan Schuon merupakan bayang-bayang pencarian dan hubungannya dengan sifat hakikat semesta, namun jauh dari sudut pandang "normal". Cakupan pemikirannya sekaya pengalamannya menjelajahi sudut-sudut bumi menemui suku-suku dan kelompok mistik, yang tradisional ataupun sekte agama. Selama dapat bertaut dengan spiritualisme dan perenialisme, ketertarikannya selalu besar. Tak heran dia melakukan kajian hampir terhadap semua ranah: perbandingan agama dan tradisi, perkembangan teori evolusi, feminisme, kritik kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan, Dia mencari benang merah makna penciptaan manusia secara rendah hati: untuk terus berhubungan dengan "ahli" spiritual, menyaksikan, sekaligus belajar langsung kepada mereka yang menguasai, mempraktikkan, dan memelihara tradisi itu.

Sejak muda, sejak menjadi mahasiswa di Paris, dia sudah mulai melakukan berbagai perjalanan menjelajahi Afrika Utara, Timur Dekat, Mesir, juga Turki, Di Asia dia mendalami budaya Jepang, India, Tibet; itu membuat dia akrab dan menguasai dengan baik pemikiran Shinto, Hindu, Buddha, Tao. Di akhir masa kehidupannya, dia pindah ke Amerika untuk bergabung dengan suku Indian, yang tarian ibadah, falsafah hidup, seni, dan berbagai aspek lain yang menarik perhatiannya sejak Perang Dunia Kedua. Karena itu, dia sempat tinggal di banyak tempat, paling lama di Swiss (sekitar 40 tahun) dan Amerika Serikat (sekitar 18 tahun), yang dia tinggali sejak 1980 hingga 1998, yakni tahun kematiannya.

Suatu ketika dia membawa sekte marabout Hitam ke Swiss untuk mempertunjukkan budayanya pada masyarakat Barat, Schuon berbicara kepada mereka, seorang lelaki yang dituakan kelompok itu menggambar lingkaran dengan batang radii di tanah dan menjelaskan, "Tuhan berada di pusat, seluruh jalan menuju kepada-Nya." Maka pencarian Schuon pada Tuhan dan jalan menuju Dia menjadi satu-satunya tujuan. Kadang-kadang itu harus dia lakukan dengan cara yang sangat berbahaya: menyelami hakikat seluruh agama dunia, memilah-milah tradisi yang masih murni, menelusuri kitab-kitab ajaran tua yang membutuhkan kejelian luar biasa, meloncat-loncat melintasi perbedaan antar agama. Mencari Titik Temu Agama, buku pertamanya, merupakan bukti kuat betapa upaya itu dia lakukan secara serius.

Perbedaan tradisi, ibadah, istilah, pandangan, baginya menjadi semacam kekayaan intelektual, yang akhirnya akan mengantarkan manusia pada Pencipta. Semua itu tampak seperti ribuan aliran sungai yang akhirnya menyatu menuju laut. Dan laut, kita tahu, tak pernah tumpah atau banjir meski terus-menerus diisi air dari seluruh sudut. Titik temu itulah yang dia cari terus-menerus dalam semua khazanah kebudayaan manusia, bukan menonjolkan atau meniadakan salah satu jalan setapak menuju Tuhan. Nama Muslimnya, Muhammad Isa Nuruddin, mencerminkan semangat itu: bahwa perbedaan itu bisa menjadi akar yang mampu mengantarkan manusia pada sumber cahaya.

Schuon lahir pada 18 Juni 1907 di Basel, Swiss. Ayahnya, seorang pemain biola, keturunan Jerman, ibunya dari ras Alsatia. Ayahnya tidak hanya menghadirkan khazanah musik, melainkan juga pustaka dan kehidupan spiritual yang sangat kental. Setelah ditinggal mati ayahnya ketika masih kanak-kanak, ibu membawa dia dan saudaranya kembali ke keluarganya di Mulhouse, Perancis, menjadi penduduk di sana. Kedatangan di Perancis itu membuatnya menguasai bahasa ibunya, selain Jerman.

Pencariannya pada mistisisme membuatnya mulai membaca Upanishads, Bhagavad Gita, dan karya-karya filsuf-orientalis Perancis Rene Guenon. Guenon juga yang sejak awal mendukung gerak hati intelektualnya, selain membimbing ajaran mistisisme yang mulai dia bangun. Baru, setelah berkoresponden lebih dari 20 tahun, mereka bertemu di Mesir pada 1939 —dalam perjalanan kedua Schuon ke sana. Benarlah yang diyakini para sufi itu, yakni tidak hanya mereka yang haus mencari mata air, mata air pun berusaha menemui mereka yang haus.

Dari Mulhouse dia pindah ke Paris, bekerja sebagai desainer tekstil sekaligus belajar bahasa Arab di sebuah masjid. Di sini kesempatan dan minatnya pada berbagai bentuk seni tradisi semakin dalam. Apalagi pada 1932 untuk pertama kalinya Schuon mengunjungi Aljazair dan bertemu seorang wali qutub sufi abad ke-20 (penguasa spiritual tertinggi sebuah masa yang kepadanya bergantung eksistensi kosmos), bernama Syekh Ahmad al-'Alawi. Pertemuan itu mengukuhkan pencariannya pada nilai-nilai luhur dalam tradisi kehidupan manusia.

Pada 1939, tak lama setelah dia tiba di India, Perang Dunia Kedua meletus. Keadaan itu membuatnya terpaksa kembali ke Eropa. Di Perancis dia menjalani wajib militer, namun kemudian ditawan Jerman. Dia mencari suaka ke Swiss, yang akhirnya memberi kewarganegaraan di usia dewasa, dan menjadi tanah air utamanya. Selama di Swiss inilah dia menghasilkan banyak buku yang ditulisnya dalam bahasa Perancis, menjadi eksponen paling penting gerakan perenialisme dan tradisionalisme. Selama itu pula dia secara berkala menerima kunjungan sarjana dan pemikir agama terkemuka baik dari Barat maupun Timur —salah satunya Profesor Huston Smith. Sepuluh tahun kemudian, pada 1949, dia menikah dengan seorang pelukis perempuan Jerman-Swiss yang sama-sama tertarik pada agama dan metafisika. Dengan istrinya pula dia akhirnya pindah ke Amerika untuk tinggal bersama orang Indian sejak 1980. Selama menetap dengan berbagai suku Indian itu (terutama Sioux and Crow), dia "tenggelam" dalam beragam aktivitas guna mendalami tradisi dan seni Indian yang memang sangat dekat dan selaras dengan alam. Salah satu hasilnya buku The Feathered Sun: Indians in Arts & Philosophy.

Kenapa Schuon terus-menerus menulis dan menyebarkan keyakinannya itu? Dalam wawancara dengan Sacred Web, dia mengatakan tujuannya untuk menyeru kepada orang lain juga agar terus-menerus beribadah, berdoa. "Menjadi manusia artinya harus berhubungan dengan Tuhan. Hidup tak ada maknanya tanpa itu. Kita hidup di antara berbagai bentuk, tidak di awan. Maka yang pertama kali kita butuhkan adalah ibadah. Kemudian: kembali ke Alam, lanjutnya. Salah satu bentuk ibadah adalah zikir. Katanya, "Zikir mengandung seluruh Hukum dan merupakan nalar bagi keberadaan seluruh Hukum."

Apa makna ibadah? Menurut Schuon, ibadah akan membuat orang mulia, mengetahui sifat sejatinya (yakni ruhul qudus) dan dengan itu manusia tak akan pernah kehilangan pandangan pada cahaya simbol, tanda-tanda Tuhan. Sebagai eksponen sejati gerakan Sophia Perennis, dia selalu berusaha menjelaskan sifat sejati manusia, berusaha mengingatkan agar kita kembali ke asal keadaan spiritual. Seperti sufi lain, dia juga yakin bahwa kehidupan manusia ini menanggung kesaksian terhadap sifat asal itu.

Menurutnya, pada tingkat spiritual, setiap manusia membutuhkan tiga hal: kebenaran, praktik spiritual, dan moral. Ketiga hal itu dikandung oleh metafisika, esoterisme, perenialisme, tradisi. Pemahaman mendalam pada simbol agama adalah esoterisme itu. Esoterisme murni bersemayam di setiap agama. Apa dia begitu yakin? Tampaknya ya. Pandangan esoterisme berdasar pada ruhul qudus yang bersifat sempurna karena merupakan penglihatan intelek sejati, bersumber dari wahyu. Esoterisme, metafisika, sufisme memuaskan kebutuhan terhadap bakat intelektual manusia. Maka perhatian metafisika tidak hanya pemikiran, tetapi seluruh keberadaan manusia —jauh melampaui filsafat dan agama dalam makna biasa kata tersebut.

Keyakinan ini —sekali lagi— tentu mengejutkan, jika mengingat betapa materialisme, ateisme, agnostisme, seakan-akan menjadi sesuatu yang tak bisa dibantah menyertai manusia modern, tak bisa dipisahkan darinya. Apalagi semua pendapat itu dibela dan dirayakan oleh para filsuf, pemikir seniman, bahkan selebritis. Betapa beda Schuon dengan Nietzsche, misalnya. Atau dengan mereka yang dengan gagah melemparkan Tuhan ke sudut gelap hatinya, seakan-akan Dia adalah sesuatu yang layak ditertawakan. Seruan itu, yang dilakukan Schuon bersama kawan-kawannya, seakan terlalu mudah menguap dihajar hirukpikuk kesibukan. Mengharukan ada orang yang masih yakin tentang kerinduan manusia pada Tuhan, jika kini kita sebenarnya terlalu mudah tergoda oleh dosa, syahwat, tubuh, uang, peperangan, kekuasaan, arogan, korupsi, dan segalanya. Mengharukan, karena bagi sebagian orang keyakinan itu merupakan sasaran empuk bahan tertawaan, satir, dan sinisme.

Tapi bisa dibuktikan keyakinan dan seruan Schuon itu bukan main-main, atau bisa dimentahkan dengan mudah. Pemikiran, upaya, buku-bukunya, memberi pengaruh luar biasa pada gerakan perenialisme. Seorang profesor agama, Huston Smith, yang menulis The World's Religions (Agama-Agama Manusia, versi Indonesia, YOI), mengakui pengaruh Schuon dengan mengatakan, "Dia memberi makan jiwa saya, yang tidak bisa dilakukan oleh penulis lain yang masih hidup. Dia legenda hidup, suri teladan zaman. Saya tahu tak ada pemikir lain yang masih hidup mulai mampu menandinginya." T.S. Eliot, sastrawan pendiri Faber & Faber yang menerbitkan buku Schuon edisi Inggris The Transcendent Unity of Religions menyatakan hal senada, "Saya tak menemukan lagi karya yang lebih mengesankan tentang kajian perbandingan agama Timur dan Oksidental." Karena tulisannya itu, barangkali dia adalah penulis kajian agama yang paling menggugah minat di abad ke-20 ini.

Berbeda dengan penulis dan pemikir umum, tampaknya Schuon barangkali tak pernah menggunakan buku lain sebagai daftar bahan rujukan. Minimal kelima bukunya membuktikan itu. Tampaknya dia lebih mengandalkan intuisi sebagai argumen. Semua pengetahuan atau pendapat yang dia kutip selalu dibandingkan dan dibenturkannya dengan wacana yang dikuasainya, atau dibuat sintesis dengan cara yang imajinatif. Ini sangat jelas membedakan dia dengan Annemarie Schimmel, misalnya, yang bisa mendaftar rujukan atau catatan kaki hingga puluhan halaman.

Tentu saja itu pun sedikit mengherankan. Seolah-olah dia tak membutuhkan pembenaran atau dukungan pendapat dari mereka yang juga pakar. Barangkali dia semata-mata menyandarkan pada sesuatu yang lebih agung dari itu semua, yakni intuisi dan bimbingan ruh dari Yang Mahakudus.

Bagi saya, membaca dan berusaha memahami buku-buku Schuon terasa sangat menegangkan. Sebab, seolah-olah dia mengajak berkelana menelusuri diri yang paling dalam, yang murni dan tidak membutuhkan apa-apa selain kerinduan-kerinduan pada yang Kudus. Memang tidak selalu mudah, tetapi bahasa yang imajinatif, argumen yang cerdik, dan keluasan wawasannya menantang kita untuk semakin dalam berusaha masuk pada pusat maknanya.

Ah, you are too spooky indeed. Mr Schuon!

Anwar Holid, penulis lepas, tinggal di Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003

Menelusuri Buku Kehidupan 9: Deja vu, Saya Pernah di Sini Sebelumnya

Menelusuri Buku Kehidupan 9: Deja vu, Saya Pernah di Sini Sebelumnya

Sepertinya hidup ini kerapkali bergerak melingkar kembali. Bagaikan sebuah roda ia bisa berputar sembari maju atau mundur ataupun bergerak di tempat. Suatu saat orang berada di satu titik, kemudian beberapa atau sejumlah tahun kemudian tampaknya menyentuh lagi titik tersebut. Deja vu, I have been here before. Saya sepertinya pernah berada di sini. Dia dapat berupa tempat, peristiwa atau titik perhatian yang sama. Hanya mungkin bentuk kesadarannya tidak sama. Sepertinya kesadaran memang mempunyai tingkatan yang berlapis-lapis.

Semua ini berhubungan dengan dulu sewaktu saya berkantor di lantai 3 Jalan Gajah Mada, Jakarta-Kota. Hampir setiap pagi saya turun ke lantai bawah. Di sana terletak Toko Buku Gramedia pertama yang berdiri sejak 1970. Mula-mula hanya 25 meter persegi untuk kemudian berangsur-angsur diperluas.

Saya suka mengamati buku-buku yang terletak di rak-rak. Saat itu, banyak "buku saku" (pocket books) bahasa Inggris yang dijual. Harganya relatif lebih murah dan banyak judul yang menarik. Sering kali saya membeli karena tertarik pada judul atau daftar isi. Hanya kerap tidak langsung dibaca, melainkan disimpan lebih dulu. Baru kalau ada relevansi dengan minat yang dihadapi, saya mengambil dan membacanya.

Demikian yang terjadi dengan buku The Silva Mind Control Method karangan Jose Silva dan Philip Mele. Saya baru mengeluarkannya setelah menerima undangan acara perkenalan "Mind Control Psychorientology" medio tahun 1980-an. Pembicaranya Ir. Rd Lasmono Dyar yang sebelumnya berkecimpung di bidang komputer, namun kemudian minatnya meluas ke parapsikologi dan pengendalian nir-sadar.

Sebagai orang yang lama tertarik pada "daya linuwih" (kekuatan lebih yang terpendam), saya berpendapat ada baiknya mengikuti lokakarya Silva Mind Control (SMC). Siapa tahu ada hikmah yang bisa dipetik untuk pengembangaan pribadi dan perusahaan.

Selama enam hari berturut-turut setiap malam —kurang lebih 35 jam— saya menekuni lokakarya yang diadakan Yayasan Teta. Tempatnya di sebuah rumah di Jalan Kramat VI, Jakarta. Lasmono Dyar selaku instruktur memperkenalkan konsep-konsep dasar Silva Mind Control, siapa itu Jose Silva, apa yang diharapkan dari pelatihan serta teknik-teknik yang akan dipelajari. Kedengarannya memang faniastis dan memberi harapan untuk melakukan "lompatan besar" (quantum leap) dalam pengembangan pribadi.

Adapun mind control yang dipelajari meliputi pengendalian bukan saja pikiran, melainkan juga perasaan, kemauan, laku, dan sebagainya. Memang demikian makna luas mind dalam bahasa Inggris.

Agar pengendalian itu dapat terjadi perlu kemampuan untuk relaksasi dan turun ke "bawah sadar". Demikian diperkenalkan adanya berbagai tingkatan dalam frekuensi otak kita. Sebagian besar manusia melewatkan sebagian besar waktunya pada tingkatan beta, di mana gelombang otak bergerak pada kecepatan 14 hertz atau lebih per detiknya. Inilah keadaan yang sehari-hari disebut siaga atau sadar, namun sebenarnya hanya berupa "kesadaran luar".

Setelah itu, ada tingkatan alpha atau bawah sadar dengan kecepatan gelombang otak antara 7-14 hertz per detik. Pada posisi ini, orang berada antara tidur dan terjaga. Inilah wilayah relaksasi dan meditasi yang dilatih dalam Silva Mind Control. Diri berada dalam keadaan homeostatis, di mana organ tubuh, sel dan semua zat, bergerak dan bekerja dalam keadaan seimbang. Di sini kita mulai masuk ke wilayah "kesadaran dalam".

Di bawah lagi ada tingkatan theta, saat gelombang otak bergerak makin pelan antara 4-7 putaran hertz per detik. Inilah wilayah sugesti yang amat kuat. Kebanyakan kegiatan hipnotis dilakukan pada daerah ini, Kemudian yang paling dalam adalah tingkatan delta, di mana gelombang otak bergerak sangat pelan antara 1,5 hingga 4 hertz per detik. Inilah tingkatan tidur yang pulas, di mana pemanggilan ulang dan sugesti terjadi sepenuhnya.

Bagaimana metodenya agar kita sewaktu-waktu mudah turun ke alpha? Ternyata ada langkah-langkahnya yang dimulai dengan relaksasi, menarik napas dalam-dalam dan ketika mengembuskannya sambil mengendurkan syaraf kemudian mulai menghitung mundur dari 100 turun ke 1. Bayangkan tempat damai-teduh yang pernah dikunjungi atau dikhayalkan. Kemudian katakan secara mental kata-kata penguat seperti "setiap hari dalam setiap langkah saya membaik, membaik dan membaik..." lalu secara mental ingatkan diri bahwa pada hitungan ke 5 —dimulai dari 1— saya akan kembali kepada kesadaran semula.

Pada awalnya latihan adalah semacam itu. Setelah sebulan lebih dan makin mahir countdown, hitungan dapat dikurangi, mulai dari 50 turun ke 1. Lalu berangsur-angsur malah dapat diperpendek, langsung dari 5,4,3,2,1... masuk ke alpha. Bahkan dengan teknik tiga jari (jempol, telunjuk dan jari tengah dilekatkan), orang yang sudah mahir dapat seketika masuk ke alpha.

Kebanyakan orang pada hakikatnya lebih sering berada pada gelombang beta; lalu kalau mengantuk atau melamun turun ke alpha, tidur masuk ke tetha dan bila pulasjatuh ke delta. Jadi, gelombang alpha bukan sesuatu yang asing atau tak dikenal bagi manusia kebanyakan. Hanya bedanya peyakin Silva Mind Control, tanpa susah payah dapat setiap saat masuk ke wilayah alpha. Di sana ia mencari inspirasi dan menggali jawaban atas persoalan dari "kesadaran dalam". Sementara manusia kebanyakan lebih sering bertolak dari "kesadaran luar" atau "kesadaran di permukaan". Tidak heran, kalau kualitas tindakan dan keputusannya tak begitu mendalam. Presisinya juga tak terlalu tinggi karena lebih mengandalkan nalardan perasaan saja.

Saya suka bertanyadi dalam hati, "Apakah sesungguhnya Silva Mind Control itu bukan nama lain dari hipnosis diri, self hypnosis atau tak lain semacam meditasi juga?" Lasmono Dyar menyahut kurang lebih, "Ada kesamaan arah, namun tidak serupa benar dengan apa yang dikenal selama ini."

Dalam gemuruhnya zaman, memang banyak yang ditawarkan. Oleh himpitan dan tekanan kehidupan para pencari tidak putus asa berjalan ke sana kemari menimba ilmu. Siapa tahu ditemukan sesuatu yang berharga yang dapat membantu dia dalam menjalani kehidupan. "Hidup ini sulit," kata M. Scott Peck, penulis The Road Less Travelled. Jadi, masing-masing orang mencari pegangannya sendiri-sendiri? Ada yang secara rasional berkiblat kepada rumus-rumus ilmu pengetahuan; ada pula yang khusyuk berdoa, menekuni agama; sementara ada juga yang berupaya lewat pendekatan spiritual, tanpa terlalu terikat kepada dogma-dogma. Sepertinya masing-masing memiliki kebebasan untuk memilih. Sementara Jose Silva menawarkan penemuannya, Silva Mind Control....

Silva, Murphy, Shakti Gawain, Dll.
Di mata saya, Jose Silva yang lahir tahun 1914 di Laredo, Texas adalah pribadi yang unik dan istimewa. Sejak usia empat tahun, ia sudah yatim dan tak pernah punya kesempatan mengenyam pendidikan formal. Umur enam tahun, ia telah mencari nafkah dengan berjualan surat kabar, menyemir sepatu dan pekerjaan-pekerjaan tak menentu lainnya. Jadi, ia prototipe anak jalanan.

Ia seorang pemuda yang pantang menyerah, penuh tekad mendobrak semua rintangan hidup (against all odds). Lewat korespondensi, ia belajar menjadi montir radio. Setelah lulus, ia membuka usaha servis radio yang kemudian berkembang menjadi salah satu yang paling besar di wilayahnya. Bahkan berkat keterampilannya ia diangkat menjadi pengajar elektronika di Laredo Junior College. Padahal, Jose Silva sendiri tak pernah bersekoiah. Ia belajar baca-tulis dari saudara-saudaranya yang ironisnya dihidupi oleh mata pencarian Jose Silva.

Pertemuannya dengan seorang psikiater yang tengah melakukan survei, membuat Jose Silva tertarik pada lika-liku potensi dan kejiwaan manusia, Secara otodidak ia mendalami buah pikiran Freud, Jung dan Adler, Awalnya, ia juga tertarik pada hipnosis dan menemukan sesuatu yang tampaknya paradoks; otak adalah lebih energetik, sewaktu ia kurang aktif. Pada gelombang yang frekuensinya lebih rendah (alpha, tetha), otak justru mampu menyerap dan menyimpan informasi lebih banyak.

Selama 28 tahun ia melakukan riset dan eksperimen dengan menjadikan anak-anaknya sendiri menjadi "kelinci percobaan". Ternyata dengan konsentrasi yang relaks (effortless concentration) dan latihan visualisasi mental, kecerdasan (IQ) itu dapat ditingkatkan. Bahkan salah seorang putrinya selama bincang-bincang sudah mampu membaca pikiran Jose Silva! Itulah extra sensory perception (ESP) atau persepsi di luar pancaindra atau lebih dikenal dengan indra keenam.

Eksperimen diperluas dengan 39 anak Laredo dan setiap kali tekniknya diperbaiki sampai kemudian ia berani mengadakan lokakarya untuk masyarakat umum. Semua itu terjadi setelah ia mantap dengan riset dan percobaan selama hampir 30 tahun. Kini, menurut informasi, sudah sekitar 20 juta orang di lebih dari 100 negara yang pernah belajar Silva Mind Control.

Di Indonesia sendiri, saya termasuk angkatan pertama yang mengikuti lokakarya SMC sekitar Juli 1985, Kemudian hari, saya baru mengetahui bahwa pada satu-dua angkatan sesudahnya pernah ikut belajar juga Megawati Soekarnoputri. Saya tidak mengetahui apakah ia masih tetap melatih diri dengan SMC atau tidak. Namun, hemat saya, seorang pemimpin yang akrab "menyelam" dalam gelombang alpha, akan lebih tahan bantingan dibandingkan mereka yang tidak. Teror mental dan fisik sarat mengepung hari-hari kehidupan, apalagi untuk mereka yang disebut pimpinan.

Lewat bukunya, Jose Silva menjelaskan persamaan dan perbedaan antara hipnosis diri dengan SMC. Dua-duanya berusaha menenangkan otak dan menanamkan sugesti. Pada hipnosis, penerimaan atas saran-saran itu dilakukan secara pasif, sementara pada SMC masih ada kesiagaan dan independensi untuk memberi arah. Yang penting, kemampuan untuk turun ke gelombang alpha.

Juga ia membedakan antara meditasi yang bersifat pasif dengan yang aktif atau dinamis. Pada meditasi pasif yang dicari berupa keheningan dan ketenangan diri. Sementara Silva Mind Control yang bersifat dinamis menjadikan meditasi sebagai medium untuk pemecahan masalah. Teorinya adalah problem-problem kehidupan yang berat lebih mudah "dicairkan" dengan pendekatan alpha yang kaya-intuisi dibandingkan dengan analisis beta yang lebih mengandalkan rasio dan pengetahuan belaka.

Lasmono Dyar juga mengutarakan untuk keberhasilan programming, kita harus mempunyai keinginan sebesar 100%, kepercayaan sedalam 100%, dan harapan setinggi 100%. Setelah itu. mari kita lihat sama-sama hasilnya.

Saya bukan orang yang mudah percaya akan berbagai gagasan yang banyak bertebaran di masyarakat. Sebaliknya, saya tak mau menutup diri, bersikap apriori terhadap hasil suatu peneiitian selama 28 tahun. Yang penting dijaga adalah sikap terbuka tetapi kritis, berani memilah-milah mana yang dapat dan mana yang kurang dapat diterima. Pada diri saya ada semangat untuk experiencing (mengalami) sesuatu yang baru dan layak dicoba. The proof of the pudding is by eating. Rasa lezat tidaknya sebuah kue puding adalah dengan mencobanya. Demikian saya mencoba dan mencicipi puding yang lain, yang serupa, tetapi toh tak persis sama....

Di perpustakaan saya tersimpan juga buku Creative Visualization karangan Shakti Gawain serta The Power of Your Subconscious Mind dan Secrets of The I Ching oleh Dr. Joseph Murphy, dan lain-lain. Saya suka bertanya ke dalam hati, "Kau mendalami buku-buku seperti itu, karena kurang yakin terhadap dirimu sendiri atau apa?" Jawab saya dalam dialog batin, "Mungkin juga, karena situasinya memang serba tidak menentu, tidak pasti. Namun, kalau ada kekuatan linuwih, yang masih terpendam di dalam, mengapa ia tidak diubah saja dari sesuatu yang laten menjadi riil, nyata?"

Dari Joseph Murphy saya belajar, kalau kita bertanya kepada I Ching, The Book of Changes, yang sudah berusia 5000 tahun dan memperoleh jawaban, sebenarnya jawab itu berasal dari kekuatan bawah sadar atau alpha kita sendiri (Hideki Yukawa, ahli fisika Jepang, pemenang Hadiah Nobel 1949 dan Yang Chen Ning serta Lee Tsung Dao, keduanya ahli fisika keturunan Cina, pemenang Nobel 1957 senantiasa berkonsultasi dengan I Ching dalam setiap langkah risetnya).

Sementara dari Shakti Gawain, saya memperoleh konfirmasi bahwa kekuatan visualisasi kreatif atau pembayangan alpha itu bekerja hanya untuk tujuan dan maksud baik. Bila dia disalahgunakan untuk maksud destruktif atau merusak, sesuai dengan hukum sebab-akibat (karma) ia akan kembali kepada pengirimnya. Apa yang telah ditabur akan dituai. Kalau kita menabur angin, kita akan mengetam badai. Bila kita menyebar kebaikan, kita menuai berlipat kebaikan pula.

Saya kerap bertanya juga ke dalam diri. "Selama ini apakah telah terasa manfaatnya upaya menyelam ke 'kesadaran dalam' seperti itu?" Saya juga yang menjawabnya kembali. Jadi, seperti dialog dengan diri sendiri, "Saya belum melatih dan menjalankan secara optimal. Namun, dari sekian bagian yang pernah dilakukan, saya merasa lebih banyak manfaat dari mudaratnya."

Setelah lebih dari 15 tahun lalu, saya mempelajari SMC dengan on dan off-nya, sepertinya ada kerinduan kembali untuk mendalami yang satu ini. Padahal, selama ini saya sudah berjalan cukup jauh menjelajahi yang lain-lain, Bagaimana kalau kini didekati dengan pemahaman yang tidak sekadar ingin tahu? Ya, seperti bertemu kembali dengan teman lama dari sekian tahun, namun perjumpaan kini dengan pemahaman yang lebih. Deja vu, I have been here before.

Indra Gunawan, pencinta buku dan tingga! di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol.2/No.3/November 2003

Like untuk dapatkan update artikel terbaru