Bukoe

Bukoe
thumbnail

Cerita dalam Komik

Posted by Cinta Buku on

Mengapa komik Dora Emon sedemikian populer? Melihat realitas Jepang, Dora Emon berhasil merepresentasikan keseharian, ia adalah pemuas ambisi Jepang dengan penemuan-penemuan teknologinya, dan Nobita adalah anak sekolah dengan represi pendidikan dan kemalasan yang diidam-idamkan. Cerminan keseharian lain dalam komik Jepang salah satunya adalah situasi dalam kereta bawah tanah; mereka bermain gameboy, membaca komik dan bahkan tidur sambil berdiri. Satu-satunya yang berbeda dengan kenyataan pada komik Jepang mungkin hanyalah pembesaran mata yang seragam. Namun, hal itu bisa dilihat sebagai representasi harapan masyarakatnya terhadap kondisi fisik mereka.

Komik menjadi lebih baik ketika masyarakat dapat melihat dirinya sendiri di dalamnya. Hal tersebut mewakili harapan, fantasi, kenyataan, atau bahkan kekalahan yang sesuai dengan konteks zamannya, Komik superhero dengan demikian adalah representasi harapan dan fantasi. Realitas superhero pada komik Indonesia di akhir 1990-an sebenarnya sama dengan era R.A. Kosasih dengan Sri Asih pada pertengahan 50-an. Namun, mengapa di masa R.A. Kosasih, komik superhero lebih bergema daripada masa akhir 90-an? Kita dapat mengembalikannya pada konteks zaman tersebut, di mana semangat perjuangan bangsa saat itu sesuai dengan representasi harapan, sekaligus fase penyerapan informasi dari luar. Dari sisi lain, keberadaan komik superhero di masa itu pun ditentangsebagai pengaruh luar. Yang menjadi pertanyaan, apakah ini hanyalah serapan semata, representasi harapan dan fantasi, atau keberhasilannya erat dengan R.A. Kosasih sebagai pionir dalam dunia komik yang sedang tumbuh? Saat ini, ketika zaman berubah dan referensi begitu beragam, dan tak ada lagi pertentangan kebudayaanTimur dan Barat, apakah harapan dalam bentuk fantasi kepahlawanan masih relevan sebagai hubungannya dengan konteks masyarakat? Apakah relevansinya hanya berlaku pada kebangkitan komik itu sendiri, dan hanya menjadi serapan mentah berbagai referensi? Apa yang terjadi sekarang adalah pengulangan yang sama, dengan bentuk visual yang berbeda. 

Setelah sekian tahun eksplorasi —yang sayangnya hanya berkembang secara visual— komik belum tumbuh dengan cerita dalam konteks yang kuat. Kita tentu tak bisa mempertanyakan referensi lagi saat ini. Jika harapan dalam fantasi kepahlawanan tidak tepat sebagai representasi lokal, realitas macam apakah kemudian yang menarik untuk diangkat sebagai komik? Harvey Pekar dengan American Splendor-nya, sayangnya telah melempar kenyataan pahit dengan menjadikan kesehariannya yang "tidak menarik" menjadi sinisme yang berharga. Harvey Pekar mampu memberi pemaknaan lebih terhadap sesuatu yang biasa bagi orang lain, seperti pernyataannya bahwa "Ordinary life is a complex stuff". Dan permasalahan sekarang bukan pada realitas atau tema, tapi pada kepekaan. Sejauh mana komikus mampu memberi makna terhadap keseharian dalam konteksnya (tanpa batasan pencapaian visual), sekaligus sejauh mana eksplorasi mereka pada medium komik itu sendiri?

Menjadi komikus tentu tidak hanya sekadar membaca begitu banyak komik, tapi juga memiliki wawasan luas sekaligus kepekaan terhadapnya. Kita dapat temukan wawasan politik internasional pada Tintin, komik karya Herge yang sempat kontroversial pada edisi "Lotus Biru". Sementara Asterix adalah contoh lain bagaimana celah kosong dalam sejarah, dimanfaatkan untuk menciptakan profil bangsa Galia dengan begitu detail. Pendekatan subjek pada komik dapat diiakukan dengan riset, pengalaman pribadi atau gabungan keduanya dengan kepekaan yang sesuai. Sinisme pada American Splendor adalah pengalaman nyata Harvey Pekar, sedangkan komik-komik Joe Sacco adalah kombinasi jurnalistik dan intensi pribadinya yang membentuk sebuah karakter pada karya.

Mungkin akan lebih mudah jika komik kita bayangkan secara sederhana, seperti ketika kita menceritakan pengalaman, fantasi atau cerita lainnya pada orang lain secara lisan. Komunikasi yang terjadi di sini kemudian tidak hanya sebatas informasi yang sampai, tapi juga memiliki tendensi khusus. Pencerita selalu punya keinginan tertentu dari pendengar, entah apakah itu merasakan hal yang sama dengannya, atau ragam impresi lain yang diinginkan. Di sinilah "struktur dan teknis bercerita" bermain, bagaimana membangun persepsi tertentu dengan medium komik bersama "kemampuan bercerita" yang dimiliki. "Kemampuan bercerita" dengan sendirinya berhubungan dengan kemampuan "membaca" pendengar, sebagai wawasan yang sama berharganya sehingga membuat komik bukanlah keinginan untuk cepat melakukan eksekusi visual pada kertas tanpa strategi. Cerita adalah proses penulisan yang terpisah, seperti profesionalisme industri komik di luar, di mana penulisan dan ilustrasi dikerjakan oleh orang yang berbeda. Mayoritas komikus lokal kita yang bekerja sendirian, seringkali menggabungkan kedua proses tersebut. Padahal dalam proses itulah kaitan antara teks dan gambar dalam sebuah cerita dapat terus digali.

Sulit menilai kualitas gambar dan teks dalam komik tanpa relasi cerita yang kuat. Keduanya tak berdiri sendiri. Kepekaan pada gambar, memiliki hal esensial seperti karakter fisik, gestur, dan sebagainya. Semuanya akan selalu berbeda dari setiap masyarakatnya. Sementara dalam teks, pemecahan bahasa Indonesia yang tepat pun perlu dipecahkan formulanya. Tidak seperti bahasa Inggris yang pada beberapa kejadian atau situasinya, telah memiliki standar kalimat yang diucapkan, bahasa Indonesia memiliki banyak variasi yang sangat ditentukan oleh karakter, lokasi, situasi, waktu dan banyak hal lainnya, yang tentunya akan selalu kembali pada konteks yang ada di dalam cerita. Ini merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama. Seperti, apakah pemecahan bunyi "Bang! Bang!"sudah selesai dengan hanya menjadi "Dor!", atau masih tersimpan potensi bunyi lain?

Hubungan erat antara tiap komponen tersebut dengan cerita, membuat gambar bukanlah semata teknis yang tinggi, melainkan juga gambar yang fasih mendukung cerita. Ada beberapa hal dalam cerita yang dapat dipecahkan oleh teks, tapi tak dapat dipecahkan oleh gambar, dan sebaliknya. Di sinilah kesatuan dari keduanya justru terjalin dari sifatnya yang berbeda. Gambar kemudian juga harus memiliki efektivitas dan bergizi dalam mendukung cerita. Merujuk pada komik-komik populer seperti Dora Emon, Shincan, American Splendor atau komik-komik Joe Sacco, kekuatan mereka justru lebih terletak pada ceritanya. Karena masih lebih baik membaca komik dengan cerita yang bagus daripada membaca komik dengan visual yang menarik tanpa cerita yang bagus.

Gambar sendiri hanyalah komponen kecil dari visualisasi. Sifat medium komik sebagai buku: memiliki halaman, kontinuitas, dimensi dan sebagainya, yang harus dipecahkan agar sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian, lebih esensial daripada sekadar eforia visual seperti kumpulan ilustrasi bagus. Kegagapan medium inilah yang menimbulkan banyak persepsi tentang graphic novel, seakan komik yang tamat sekali terbit telah memenuhi sifat bukunya sebagai novel. Padahal pemahaman lebihnya pada cerita, menyeluruh hingga eksekusinya sebagai buku. Akira karya Katsuhiro Otomo —tanpa menyebutnya sebagai graphic novel— adalah contoh sempurna bagaimana memainkan emosi tiap adegan, yang selesai seiring selesainya halaman. Komposisi panel antar-aspeknya yang sangat filmis, mengingatkan kita pada karya-karya komik Tezuka sebelumnya, sebagai kesadaran lebih untuk menggambarkan situasi menjadi lebih emosional, hingga memancing pengalaman tersendiri bagi pembacanya.

Pemahaman medium sebagai "proses mengalami halaman demi halaman", mematangkan kembali olah cerita dari proses penulisan ke dalam olah medium. Pemahaman medium ini jugalah yang mencoba mendefinisikan —jika bukan mempertanyakan— banyak hal. Karena komik memiliki konsep waktu yang berbeda dengan film, komik memiliki potensi untuk lebih kompleks daiam cerita dan karakternya. Karena "kesadaran membaca" sepenuhnya berada di tangan pembaca, komik dapat dibolak-balik lebih leluasa jika ada susunan cerita yang terlupa.

Tentu, jika kini seseorang bertanya tentang cerita apa yang akan kita tulis untuk menjadi komik, itu masih jadi pertanyaan sulit. Namun, kita bisa memulainya dengan sesuatu yang dekat dengan kita. Kepekaan dan intensitas akan bekerja dengan pendekatan analisis apa pun yang akan dilakukan, baik riset, pengalaman pribadi maupun imajinasi. Komik-komik Eko Nugroho, komik-komik Noldi, atau komik Lagak Jakarta dapat dikatakan sebagai pendekatan realitas; mereka berbagi pengalaman. Senyum getir dan tawa satir senantiasa kita lakukan, walau kita tahu bahwa tidak semuanya dibuat untuk melucu. Di sinilah "kedekatan" itu bekerja, menertawakan diri sendiri membutuhkan kejujuran dan kepekaan yang lebih berarti daripada gambar-gambar sarat teknik visual seperti aksi demo software terkini. Kita tentu tak ingin, mereka dari beberapa generasi berikutnya, lebih tertarik menggunting koleksi komik-komik kita dan menjadikannya poster daripada menyimpannya di rak buku. Menurut mereka, dinding adalah tempat bagi visual-visual menarik, sedangkan rak adalah tempat bagi buku-buku yang punya "sesuatu" untuk diceritakan.

Ade Darmawan & Ardi Yunanto, komunitas ruang rupa
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11 Juli 2005
08.16
thumbnail

Komik: Antara Seni Visual dan Ambisi Sastrawi

Posted by Cinta Buku on

Komik adalah makhluk yang sangat jelas sosoknya, sekaligus sangat tidak jelas. Jelas, karena siapa yang kesulitan mengenali komik? Tapi cobalah mendefinisikan apa itu komik. Atau cobalah tetapkan, apakah komik itu seni rupa atau seni sastra.

Sekilas pandang, kebanyakan kita mungkin akan mengategorikan begitu saja komik sebagai seni rupa —lepas  apakah ada pengakuan atau tidak dari para otoritas seni yang berkuasa. Para ahli seni tentu tugasnya menyoal legitimasi kata "seni" jika membincang apakah komik itu seni rupa atau bukan. Sementara kebanyakan kita yang awam tentu akan menggarisbawahi kata "rupa" (visual) dalam soal ini. Bukankah komik itu lazimnya terdiri dan pictorial image yang disusun?

Bagaimanapun semua akan sukar menampik bahwa komik adalah sebuah medium visual. Tapi cobalah kita pinjam definisi Scott McLoud dalam Understanding Comics yang sudah diterjemahkan oleh Penerbit KPG. Menurut Scott komik adalah "juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequences, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer." Komik, kata Scott, imaji-imaji gambar atau imaji lainnya yang dijajarkan dalam urutan yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan/atau menimbulkan tanggapan estetis pada pembacanya.

Kalau kita membaca telaah Understanding Comics, kita bisa simpulkan bahwa pengurutan imaji-imaji secara sengaja itu adalah bercerita. Menurut novelis E.M. Forster dalam Aspects of The Novel, "cerita'' adalah narasi berbagai kejadian yang disusun dalam urutan-waktu". Dengan mekanisme pengurutan imaji gambar, jelaslah komik memang hendak bercerita. Apakah sebuah komik ingin menyampaikan cara membuat sablon ("menyampaikan informasi"), atau ingin menyampaikan absurditas alam mimpi ("menimbulkan tanggapan estetis"), atau lainnya, semua itu disampaikan sebagai cerita.

Tak heran jika Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia (KPG, 1998) memakai istilah "sastra gambar" untuk komik. Lagi-lagi, kita bertemu masalah. Para otoritas sastra tentu akan menyoroti keabsahan penggunaan kata "sastra" dalam istilah ini. Namun dalam pengertian yang luas, setiap cerita punya kesempatan untuk mendapat perhitungan sebagai karya sastra (tinggallah soal apakah ia sastra buruk atau sastra baik). Ada sastra tulisan, ada juga sastra lisan. Lalu, mengapa harus tidak ada sastra gambar? Nah, yang jelas, sejarah membuktikan bahwa ada komikus-komikus yang ingin sekali mengoptimalkan potensi cerita dalam komik. Bahkan mulai banyak yang berambisi selayak para sastrawan. Misalnya, lewat komik mereka ingin menyampaikan kebenaran, ingin menyampaikan ide tentang manusia, atau ingin bereksperimen bahasa tulis dan bahasa visual. Begitulah yang bisa kita lihat, antara lain dalam karya Joe Sacco (Palestine dan Safe Area Gorazdeh), Art Spiegelman (The Shadow of No Towers), atau Setangkai Daun Surga (Taguan Hardjo). Para komikus itu memiiiki ambisi literer atau ambisi sastrawi. 

Ada fakta anekdotal soal sifat ganda komik (seni rupa dan/atau sastra-gambar). Ada dua orang muda yang bisa jadi bukti sifat ganda ini. 

Eka Kumiawan adalah sastrawan muda Indonesia yang sudah mengeluarkan empat buku di Gramedia (novel tebal Cantik Itu Luka, novel Lelaki Harimau, kumpulan cerpen Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih...). Sebelum dikenal sebagai sastrawan, ternyata dia adahah komikus dan aktivis komik di Yogyakarta, anggota kelompok Komikaze yang berdiri pada 1998.

Ade Darmawan adalah pelukis muda kita yang banyak melanglang mancanegara. Ia mendirikan komunitas Ruang Rupa, yangcukup aktif. Sebelum mendirikan Ruang Rupa, sewaktu masih di Yogyakarta, Ade membuat komik. Salah satu karyanya yang mencuat adalah buatannya bersama sebagian temannya, Ayam Majapahit.

Bukankah perjalanan karier mereka menunjukkan bahwa komik punya hubungan erat dengan sastra dan seni rupa?

Kalau di Amerika, penulis komik Neil Gaiman yang terkenal menciptakan seri Sandman (Vertigo/DC Comics) juga seorang novelis yang berhasil. Ia mengarang novel untuk orang dewasa maupun untuk anak. Novelnya yang berjudul Coraline, sebuah novel anak, sudah diterjemah oleh Penerbit Gramedia. Rekannya, yang banyak menggambar komik-komik Gaiman adalah Dave McKean. McKean, di samping seorang komikus, juga seorang desainer grafis dan pelukis yang pernah dipamerkan.

Contoh-contoh ini seakan mencolek kita dan berkata, hei... memang ada kaitan logis antara komik dengan sastra dan seni rupa. Tapi pengaruh dunia seni lukis pada komik tak sekuat pengaruh seni visual lain: film. Sebagai seni visual, film punya karakter yang serupa dengan komik, yakni sama-sama hendak bercerita. Artinya, film dan komik sama-sama hendak menangkap alur waktu yang membentuk sebuah cerita, sedang lukisan lebih hendak menangkap momen.

"Cerita" di balik sebuah lukisan (taruhlah misalnya daiam lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci) adalah kisah di balik sebuah momen yang ditangkap dalam sebingkai lukisan. Narasinya tercipta oleh pembicaraan tentang lukisan tersebut. Pada film dan komik, narasi itu lekat dalam keduanya. Bedanya, jika waktu atau kata cerita dalam film bergerak di dalam sebuah bingkai, waktu dalam komik bergerak dari satu bingkai ke bingkai lainnya.

Tak heran —untuk melanjutkan anekdot tadi— banyak penggemar komik yang kemudian menjadi sutradara atau insan film, misalnya Rizal Mantovani, Hari Dagoe, dan John Derantau. Di Amerika, nama-nama seperti Robert Rodriguez (Sin City), Kevin Smith (Clerks), dan Sam Raimi (Spiderman) merupakan contoh insan film penggemar fanatik komik.

Malah Kevin Smith diajak Marvel untuk menulis cerita komik Daredevil, dan oleh DC Comics untuk membuat cerita komik Green Arrow. Wachowsky bersaudara (trilogi The Matrix) jelas menyatakan terinspirasi antara lain oleh komik sehingga mereka juga menyelia pendalaman cerita The Matrix dalam bentuk komik.

Karena hubungan logis itu, film dan komik saling mempengaruhi. Dinamika hubungan antara film dan komik punya tiga bentuk: film menginspirasi komik, film mengadaptasi cerita komik, dan komik menginspirasi film.

Ada masa ketika yang dominan adalah film menginspirasi komik. Ini terutama terjadi pada 1940-1960-an. Di Amerika, kedua medium ini memang berkembang pesat pada era itu. Secara umum, film lebih dihormati daripada komik. Tentu keadaan ini ada prosesnya. Misalnya, fakta bahwa industri komik Amerika mengalami pukulan telak dari serangan Dr. Frederick Wertham dan senat pada 1950-an, yang menganggap komik sebagai perusak moral kaum muda.

Namun, di kalangan komikus Amerika sendiri, ada kekaguman khusus pada medium film. Mereka melihat film memberi banyak kemungkinan kreatif. Mereka menemukan, mungkin secara instingtif, film dan komik sama-sama menggunakan "jendela" frame. Apa yang dihasilkan oleh kamera dan kemudian tersaji di layar pada hakikatnya mirip dengan apa yang diguriskan kuas dan tinta pada sebuah panel di atas kertas.

Dengan kata lain, kamera dengan segala gerak-geriknya bisa dipinjam oieh komik. Bahasa atau logika kamera bisa diterapkan dalam bahasa visual komik. Jadilah komik kemudian menerapkan perubahan angle, atau gerak zoom in dan zoom out, juga teknik voice over (suara terdengar tanpa terlihat pembicaranya, mengiringi adegan yang terpampang di layar), dan sebagainya diterapkan untuk menambah efek dramatis dalam komik.

Para komikus besar macam Hal Forster (Prince Valiant), Burne Hogarth (Tarzan), Alex Raymond (Jungle Jim, Flash Gordon, Rip Kirby), dan Will Eisner (The Spirit), menerapkan logika kamera tersebut dalam panel-panel mereka. Mereka juga masih berpijak pada karakter gambar diam (still life) dari komik (kecuali Will Eisner yang terus mengembangkan tekniknya hingga akhir hayatnya —ia meninggal pada Januari 2005).

Dengan penekanan pada still life ini, teknik-teknik kamera tersebut diterjemah menjadi komposisi gambar di dalam panel. Teknik-teknik visual itu tak terlalu hendak menangkap gerak di dalam komik. Teknik angle dari atas, termasuk "pandangan burung" (bird view), digunakan untuk menangkap lanskap atau ruang yang luas —memberi konteks lingkungan pada sebuah adegan. Teknik close up membantu menekankan kehadiran sebuah ekspresi, atau menangkap detail sebuah benda.Teknik kamera menyorot dari bawah bisa menambah kesan magnitude atau kebesaran sebuah sosok. Semua itu membuat panel tak lagi seperti kamera statis yang menetap pada eye level, sepenyorotan mata kita yang sedang berdiri.

Jika para komikus di atas meminjam logika (gerak) kamera danmewujudkannya dalam komposisi adegan, ada beberapa komikus yang lebih terobsesi pada gerak yang menjadi karakter medium film. Obsesi pada gerak tersebut tampak dalam komik mereka. Salah satu yang terkenal adalah Winsor McCay (Rare Bit Friends dan Little Nemo in Slumberland).

Kebetulan Winsor McCay adalah salah seorang pelopor film animasi. Karyanya, Gertle the Dinosaur (1914) dianggap salah satu film animasi pertama. Malah karya berikutnya, The Sinking of the Lusitania (1918), merupakan film animasi drama pertama. Dalam kedua komik stripnya yang terkenal itu, menonjol dua hal yang menjadi obsesi McCay: obsesi pada gerak, dan obsesi pada fantasi-sureal.

Dalam Little Nemo..., McCay bercerita petualangan sureal Nemo di sebuah dunia fantasi —dan di ujungnya selalu berupa panel yang menggambarkan si Nemo terbangun dari mimpinya. Rare Bit Friends punya premis dan struktur cerita yang serupa, tapi versi orang dewasa. Nah, dalam kedua seri ini, McCay selalu bertumpu pada penerjemahan gerak ke dalam komik. Penerjemahan itu dicapai dengan pemilahan adegan dalam panel-panel. 
 
Misalnya sebuah cerita Rare Bit Friends yang menggambarkan tokohnya naik tangga, duduk kelelahan, terguling di tangga, terlontar keluar gedung, dan tenyata ia jatuh dari tempat tidur. Waktu terasa benar tertangkap dalam susunan adegan ini, karena McCay memusatkan perhatian pada gerak. Lihatlah contoh lain dari Little Nemo..., tergambar Nemo yang kaget karena ranjangnya punya kaki yang semakin memanjang, dan tiba-tiba berjalan bahkan berlari.

Teknik ini berkembang dalam bentuk yang beragam. Salah satu yang paling piawai menggunakan teknik merekam gerakan melalui breakdown panel-panel ini adalah Herge dalam seri Tintin.

Tetapi yang paling fenomenal dalam obsesi terhadap gerak ini tampak dalam karya-karya Osamu Tezuka, sang bapak manga. Dalam karya pertamanya, Treasure Island —sebuah adaptasi sastra klasik ke dalam setting jepang modern— Tezuka menggambarkan perjalanan mobil ke sebuah tempat sepanjang l5 halaman. Bahkan konon itu pun sudah diedit —aslinya, memakan puluhan halaman! Adegan mobil itu sepenuhnya mensimulasi gerak, karena digambarkan dari sudut pandang yang tetap seakan sebuah kamera ditempatkan di depan mobil itu. Kehadiran waktu lebih terasa dengan teknik ini.

Teknik ini praktis menjadi salah satu ciri terkuat manga. Teknik ini disebut Scott McCloud sebagai teknik moment to moment (Understanding Comics, 1993). Karena teladan Tezuka, komik Jepang kemudian berformat tebal. Mereka lebih leluasa mengeksploitasi gerak dalam teknik moment to moment tersebut. Buat sebagian orang, itulah sebabnya pengalaman membaca manga seperti menonton film; itulah mengapa manga disebut sebagai bersifat "sinematis".

Toh komik adalah komik, film adalah film. Masing-masing mengembangkan estetika, retorika, gramatika, dan semiotika mereka sendiri, Dalam perjalanan sejarah, komik kemudian menginspirasi dunia film. Bukan hanya dalam bentuk melimpahnya karakter komik yang difilmkan (komik sebagai inspirasi cerita), bahkan dalam hal percobaan bentuk.

Film Incredible Hulk karya Ang Lee, misalnya, mengadaptasi dengan cerdas panel-panel komik ke dalam medium film. Trilogi Matrix banyak menggunakan teknik gestur dan pose yang merupakan kelaziman dalam komik. Film Sin City bereksperimen dengan bersetia pada setiap panel komiknya sehingga adegan sering di-shoot menggunakan blue screen agar bisa disesuaikan dengan adegan dalam panel-panel komiknya.

Perkembangan mutakhir komik menunjukkan relasi lain: relasi dengan sastra. Yang paling mudah terlihat dari relasi ini tentu adalah praktik adaptasi karya sastra (biasanya klasik) ke dalam bentuk komik. Di Amerika, praktik ini hadir dalam bentuk penerbitan seri Classic Illustrated. Bentuk sejenis pernah nadir di Indonesia, berupa seri Album Cerita Ternama yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia pada 1977-1982.

Asumsi dari seri komik semacam ini bahwa anak-anak perlu dikenalkan kepada sastra klasik, dan komik adalah bentuk awal pengenalan itu. Di sini banyak sekali perangkap: adanya asumsi bahwa komik hanya untuk anak, dan bahwa komik adalah medium yang lebih rendah dari sastra (tulis). Dengan demikian, sastra klasik yang diadaptasi ke dalam komik selalu berupa penyederhanaan. Dengan kata lain, terjadi mutilasi teks yang mengorbankan kesastraan sang sastra klasik itu sendiri.

Namun, seri-seri semacam ini memang memenuhi fungsinya: mengenalkan sastra klasik pada anak. Jika dibaca sebagai komik saja, komik-komik macam Album Cerita Ternama tetap memberi keasyikan tersendiri. Kalangan komikus sendiri kemudian merasa tak puas dengan bentuk ini.

Salah satunya adalah Will Eisner. Ia sejak mula membuat komik (pada awal 1940-an), selalu percaya pada potensi naratif komik. Pada 1978, ia menerbitkan karyanya, Contract with God, dan menyebutnya sebagai "novel grafis". Sebutan ini sepenuhnya dengan kesadaran bahwa komik adalah sastra gambar. Dengan kata lain, Eisner memiliki sebuah ambisi sastrawi yang tinggi. Terbukti, ketika ia mengadaptasi karya-karya klasik macam Moby Dick (Herman Meaville) atau The Trial (Kafka), ia melakukan upaya penafsiran.

Harus diakui upaya tafsir Eisner itu kurang berhasil —adaptasi komiknya bernilai susastra di bawah karya aslinya. Tapi terobosan Eisner itu memancing gelombang penciptaan komik dengan ambisi sastrawi di Eropa dan Amerika. Salah satu bentuknya adalah dengan keberanian mengadaptasi karya-karya sastra kontemporer, dengan berangkat dari sebuah upaya penafsiran atas teks aslinya. Patut disebut di sini adalah rangkaian adaptasi opera klasik oleh P. Craig Russel (seperti Ring of Neblung karya Wagner dan Magic Flute karya Mozart); adaptasi Metamorphosis dan Give It Up! (Kafka) oleh Peter Kuper; dan terutama adaptasi novel Paul Auster, City of Glass oleh Paul Karasik dan David Mazzucchelli.

Dalam contoh tersebut, para komikus memahami kemampuan naratif komik yang berbeda dari prosa atau sastra tulis, dan mengembangkan susastranya sendiri. Semuanya berangkat dari tafsir atas teks aslinya, yang kemudian diolah sepenuhnya secara visual.

Maka apakah komikus harus mengejar obsesi visual, ataukah mengejar ambisi sastrawi?

Visualisasi komik ternyata beda dari medium visual lain macam lukisan dan film. Susastra komik pun jelas beda dari sastra tulis atau sastra lisan. Komik, sebermula, adalah makhluk hibrid. Komik terbaik agaknya sekaligus karya seni visual yang baik, dan karya sastra yang unggul.

Hikmat Darmawan, penulis, editor, penerjemah, dan pengamat Komik
Majalah Mata Baca Vol. 3, No. 11, Juli 2005
10.04
thumbnail

Komik: Anak Haram atau Angsa Bertelur Emas

Posted by Cinta Buku on

Arswendo Atmowiloto menyitir sebuah ungkapan menarik dalam pameran komik Indonesia di British Council pada 2004 lalu. "Ada yang bilang, kalau Anda mau bohong," katanya, "cukup bilang saja bahwa Anda tak pernah membaca komik."

Komik saat ini bernasib mendua. Di satu sisi, lazim benar orang meremehkan komik. Di sisi lain, seperti tersirat dalam ungkapan di atas, boleh dibilang tak ada orang yang tak terpajan (terekspos) oleh komik. Komik hadir di mana-mana, dalam berbagai bentuk. Buku komik, komik strip, komik pendidikan,di majalah ataupun di koran, bahkan secara on-line. Siapa tak kenal Batman, Peanuts, Tintin, Asterix & Obelix, atau Dora Emon?

Dari sudut industri, komik adalah bisnis besar. Hal ini terjadi sejak awal sejarah komik modern. Pada akhir 1800-an, saat industrialisasi sedang memapan di Inggris dan melahirkan latar kuat bagi cerita-cerita Dickens dan teori Marxisme, komik menciptakan revolusinya sendiri. Tabloid hitam-putih berisi komik Ally Sloper's Half Holiday terbit pada 1884, seharga satu penny. Segera saja tabloid ini jadi sensasi dunia penerbitan. Tokohnya, Ally Slopper, adalah sosok kelas pekerja yang mengisi liburnya dengan mabuk-mabukan.

Mudah ditebak, sosok ini segera populer di kalangan buruh Inggris saat itu. Tabloid komik ini menjadi bacaan wajib kelas pekerja dalam perjalanan kereta ke tempat kerja. Pada 1890-an, Slopper tumbuh sebagai industri merchandise, dengan melimpahnya mug, poster, dan boneka berdasar karakter ini.

Di Amerika, komik juga bertanggung jawab pada sebuah revolusi besar di bidang penerbitan surat kabar. Ketika William Randolph Hearst pada 1896 membeli The Yellow Kid karya Richard Outcault untuk korannya, The New York Journal, terjadilah persaingan keras antara Hearst dan Joseph Pullitzer. Kedua konglomerat media ini memperebutkan komik karena halaman komik meningkatkan penjualan koran secara signifikan.

Nah, seri The Yellow Kid-lah yang menciptakan halaman berwarna dalam koran untuk pertama kalinya. Pullitzer tak mau kalah dari Hearst dan membeli seri komik lain, berwarna juga, dan menggulirkan roda penerbitan koran berwarna. (Pullitzer punya cita-cita mereproduksi lukisan bermutu tinggi dari Eropa dalam rangka mengenalkan kebudayaan tinggi kepada massa pembaca—dan komik hanya batu loncatan saja).

Persaingan dua raksasa ini menciptakan standar industri penerbitan komik Amerika di kemudian hari. Komik bisa mencapai readership jutaan orang, Untuk mengakomodasi bisnis ini, diciptakanlah mekanisme sindikasi yang masih bekerja hingga kini. Salah satu sindikat terbesar adalah King Features Syndicate, yang sukses menerbitkan Tarzan (Hal Foster, Burne Hogarth, dll.), Flash Gordon (Alex Raymond), Peanuts (Schultz), hingga Calvin and Hoboes.

Industri komik Amerika mendapat darah segar ketika pada 1939, dua anak ABG Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan Superman dan terbit pertama kali dalam Action Comics #1. Komik ini menciptakan genre superhero yang kini jadi genre utama di Amerika. Pada 1940-an, komik ini mempunyai sirkulasi hingga di atas satu juta eksemplar per bulan. (Saingannya, Captain Marvel, juga terjual di atas satu juta kopi per bulan.) Tak heran jika karakter Superman ada di mana-mana: sandiwara radio, film seri, animasi, kotak makanan, snack, dan sebagainya. Dengan kata lain, Superman (juga superhero lainnya, khususnya Batman) menjadi ikon nasional Amerika hingga kini.

Pada periode 1940-an, di Eropa, sefial Tintin juga sedang memapankan popularitasnya. Sejak pertama kali diciptakan oleh Herge pada 1929, seri ini telah terjuai jutaan eksemplar dan praktis menciptakan tradisi komik Bandee Dessine (BD) di Prancis, Belgia, dan Belanda. Hingga kini, seri ini terjual kurang lebih satu juta eksemplar setiap tahunnya di seluruh dunia. Sukses serupa juga dialami oleh seri Asterix & Obelix (Gosciny dan Uderzo).

Tapi revolusi lain menguak dengan awal sederhana di Jepang. Pada 1947, seorang dokter menerbitkan Shin Takarajima (The New Treasure Island). Dokter itu bernama Osamu Tezuka. Segera saja komik yang kemudian dikenal berjenis manga ini meledak, dan Osamu Tezuka meniti jalan yang membawanya pada posisi sebagai "the god of manga". Tiga tahun kemudian, ia menciptakan Jungle Taitei atau Kimba The White Lion yang kemungkinan besar dijiplak oleh studio Walt Disney pada 1990-an menjadi The Lion King.

Pada 1951, Tezuka menciptakan tokohnya yang paling terkenal, Atom Taishi yang kemudian diubah menjadi Tetsuwan-Atom. Dunia mengenal tokoh ini sebagai Astro Boy. Salah satu revolusi penting bagi komik Jepang dari seri ini adalah penciptaan modus tandem komik dan anime (animasi Jepang). Dengan modus ini, basis pembaca komik Jepang dapat tercipta secara efektif dan mencapai angka gigantik jutaan pembaca sebagai standarnya. Sejak Astro Boy, hingga Dora Emon, Candy-candy, Dragon Ball, Ranma 1/2, Akira, dan banyak lagi, modus ini meluaskan pasar manga dan anime hingga ke Eropa dan Amerika.

Sebagai gambaran gigantiknya bisnis komik di Jepang, angka rata-rata per tahun menunjukkan bahwa 40% industri penerbitan di Jepang diisi oleh komik. Retno Kristy, vice editor in chief Elex Media Komputindo, bercerita pengalamannya ke pameran buku Jepang, "Wah, kalau di sana,yang namanya pameran buku itu penuh gambar-gambar warna-warni... wong stan-stan kebanyakan menawarkan komik kok."

Ia juga bercerita tentang reading habit masyarakat Jepang yang memungkinkan kuatnya industri komik Jepang. Di sana, rata-rata orang membaca saat naik kereta. Begitu sampai di tujuan, buku-buku komik yang setebal buku telepon itu akan diletakkan saja di bangku atau dibuang ke tong sampan. Komik-komik itu memang dirancang untuk jadi bacaan sesaat belaka—dicetak murah, dengan kertas dan tinta murahan. Apabila nanti terbukti sebuah seri laku, tentu dibuatkan edisi untuk dikoleksi, dengan mutu produksi lebih bagus. Seri terbaik biasanya akan dibuatkan edisi luksnya, dengan hard cover segala.    

Dalam situs japan-zone.com, industri komik Jepang bernilai 5 miliar yen per tahun. Menurut Frederick Schodt, dalam Dreamland Japan, pada 1995 saja 1,9 juta buku dan majalah komik terjual di Jepang dan pendapatannya mencapai 9 miliar dolar AS. Untuk lebih menegaskan besaran ini, Schodt (seperti dikutip Seno Gumira dalam artikel Dalam Bayangan Manga) menggambarkan komunitas semacam komik indie di Jepang, komunitas Dojinshi. Komunitas ini bisa menghasilkan sampai 50.000 eksemplar komik per tahun.

Beberapa tahun belakangan, industri komik Jepang memang terganggu. Pendapatan industri manga sempat turun, menurut Retno, karena melimpahnya HP yang mengganggu reading habit masyarakat Jepang. Jika biasanya orang Jepang membaca komik di kereta, kini mereka lebih asyik ber-SMS-ria. "Lha, di sana kan HP dijual sampai ke warung-warung pinggir jalan," kata Retno, Tapi, menurutnya, kini industri komik Jepang mulai stabil lagi. Lama-lama orang sana bosan juga hanya menghibur diri dengan SMS.

Bagaimana dengan industri komik lndonesia? Siapa yang menganggap industri komik di sini loyo jelas keliru. Industri komik kita termasuk yang paling tinggi sejak 1990-an hingga kini. Hanya, industri itu diisi oleh produk-produk manga.

Yang loyo adalah industri komik lokal. Dalam arti, komik yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri. Itu pun jika dibandingkan dengan kondisi di masa silam. Pada masa awal boom komik lokal, komik R.A. Kosasih konon bisa mencapai angka penjualan hingga 30.000 eksemplar. Ini sebuah angka yang tinggi, bahkan untuk ukuran penerbitan buku saat ini sekalipun. Faktanya, komik-komik wayang dan komik-komik silat sempat diproduksi ulang selama beberapa dekade sejak 1950-an hingga akhir 1970-an.

Sukar memang meraih kembali kejayaan itu. Arswendo mengurai peliknya soal ini. Dalam pameran komik Indonesia di British Council itu, ia bercerita bahwa komik lokal memang ngos-ngosan mengejar manga. "Lha, bayangkan," katanya, "Dora Emon saja saat dibeli sudah tersedia naskahnya sampai lebih dari 60-an judul, yang masing-masingnya sekitar 200-an halaman." Jadi, sudah lebih murah biayanya (karena tinggal menerjemah saja), ketersediaan produknya juga terjamin, ini tentu lebih menguntungkan penerbit, dan ini tak bisa disalahkan.

Padahal, di masa kejayaannya, komikus kita sanggup menjawab soal ketersediaan itu. Seperti diakui Arswendo, memang susah: masih belum ada formula yang pas bagi komik lokal untuk menjawab tantangan industri yang telah berubah ini. Semua —komikus, penerbit, juga pembaca— masih harus mencari formula pas itu.

Ada satu soal besar yang harus diperhitungkan: industri komik bagaimanapun terkait dengan industri buku secara umum. Industri buku di Indonesia memang kecil, bahkan jika dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang berpenduduk lebih sedikit dari Indonesia. Perbandingan kasar saja: standar penerbitan kita adalah 2000-3000 eksempiar sekali cetak. Di Malaysia, buku bisa terjual hingga ratusan ribu eksemplar.

Dengan kata lain, minat baca yang rendah pada masyarakat kita adalah sebuah kendala besar yang harus dihadapi industri komik lokal kita.

Hikrnat D., penulis dan pembicara tentang komik untuk berbagai media dan seminar/diskusi
Majalah Mata Baca Vol. 3, No. 11, Juli 2005
11.55
thumbnail

"Superzaenal": Kartunis Internasional dari Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Seorang lelaki dengan tinggi badan kurang lebih 170 sentimeter, berkulit sawo matang, rambut kepalanya tipis, semakin ke depan semakin jarang, membuka pintu sambil senyum mengembang di bibir, mempersilakan saya masuk. Saya pun duduk di atas kursi sudut berwarna merah yang sudah tidak sempurna lagi. Dialah Zainal Abidin, peraih penghargaan Yomiuri International Cartoon Contest tahun 1998, 1999, 2000, dan 2003.

Anak keempat dari delapan bersaudara ini memulai debutnya di bidang kartun sejak 1992, saat duduk di kelas 3 SMA. Meskipun kakaknya (Nur Rochim) seorang kartunis, Zaenal lebih memilih belajar ngartun dari Budi Santoso (Itos). "Secara personal saya lebih dekat dengan Mas Itos, jadi komunikasinya lebih enak," aku Zaenal.

Pria kelahiran Kendal, 10 November, 31 tahun lalu ini terbilang cukup pesat perkembangan keterampilan ngartunnya. Tahun 1992 masuk Kokkang, di tahun itu pula karyanya langsung dimuat tabloid Bola. Timbul rasa percaya diri pada diri Zaenal. Dengan berbekal rasa pede itu, setahun kemudian ia mulai berani mengikuti lomba kartun bertaraf internasional. Tidak main-main penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky berhasil ia sabet.

Keberhasilan memenangkan cartoon contest di luar negeri semakin membuat rasa pede Zaenal kian tinggi. Sejak itu karya-karyanya tersebar di hampir semua media baik regional maupun nasional, seperti Suara Merdeka, Wawasan, Bola, Pantau, Humor, Seputar Semarang, Bola Sport, Nova, Intisari, Koran Tempo, Warta Kota, Jawa Pos, Bog-Bog, Mop, Cempaka, Merapi, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, dan beberapa media nasional lainnya. Sambil terus mengikuti cartoon contest di luar negeri.

Puncak prestasinya ketika ia memenangkan Special Prize Selection Committee dalam pameran kartun yang diselenggarakan koran Yomiuri Shimbun di Jepang tahun 2000 melalui karyanya berjudul "Pintu". Atas penghargaan ini, Zaenal berhak menerima hadiah 200.000 yen atau sekitar 13,4 juta rupiah.

Di Kokkang, Zaenal termasuk ke dalam angkatan keempat bersama Wawan Bastian dan M. Tavin. Zaenal adalah satu dari sedikit kartunis Kokkang yang menyandarkan hidupnya hanya melalui kartun. Filosofi berkaryanya adalah buang hajat. Gambar, kirim, lupakan. Dalam sehari ia bisa menghasilkan 30-50 baik gag cartoon maupun kartun strip.

"Semakin banyak karya yang dikirim, semakin besar pula kemungkinan dimuatnya," demikian timbang Zaenal. Satu redaksi koran setiap minggunya ia kirimi 5-8 kartun. Ibarat pisau, kalau tidak pernah dipakai, lama-lama kethul (tumpul)," kata Zaenal beranalogi.

Dari mana ia mendapat ide kartun itu? "Pada dasamya ide kartun tetap, hanya variasinya saja," jawab pria yang sebentar lagi akan menikah ini. "Untuk ide biasanya saya melihat katalog-katalog pameran kartun, membaca berita di koran dan nonton teve. Tapi yang paling sering ya dengan melihat katalog," tambahnya.

Bagaimana dengan jam kerjanya? Kartunis yang profilnya pernah diangkat dalam program Jelajah-Indosiar ini menjawab: "Biasanya mulai selepas salat magrib hingga subuh. Kalau tidak sekalian subuh, salatnya sering kebablasan. Tapi sekarang saya mencoba ritme baru, mulai menjelang zuhur hingga idenya mentok."

Satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang ketika membicarakan tentang kebiasaan hidup yang mendukung aktivitas berkesenian -ngartun- adalah berolahraga. Tepatnya menjaga kesehatan. Kesehatan dan kebugaran menjadi klausa prima untuk menjamin kontinuitas berkarya. Soal menjaga kesegaran dan stamina tubuh, Zaenal lebih memilih bersepeda atau jalan pagi dengan nyeker alias tanpa alas kaki.

Dengan reputasi internasional, tidakkah Zaenal ingin berhijrah ke Jakarta, menyusul teman-temannya yang telah berangkat duluan?
"Sebenarnya ingin juga, tapi karena peluang yang semakin sempit dan lagi alasan keluarga. membuat saya urung ke Jakarta," terang Zaenal. "Saya ingin mengibarkan nama daerah sendiri, dari kampung sendiri."

Di sela-sela ngartun —yang telah menjadi pekerjaan tetapnya— si "Superzaenal" dari Kaliwungu ini juga menerima berbagai macam job, yang penting masih berhubungan dengan gambar dan menulis. Sebuah bukti betapa Zaenal mampu menanggung "derita" dari sebuah ide.

Prestasi "Superzaenal"
Penghargaan Kontes Kartun Internasional
1993 Penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1996 Penghargaan Knok Heist Belgia
1996 Nominasi Kartun Tabloid Bola Jakarta 
1997 Prize book/Katalog Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1997 Juara III Lomba Karikatur Majalah Gatra-Humor Jakarta
1998 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang 
1998 Penghargaan Work Special Merit Jepang 
1998 Prize Book/Katalog Belgia
1999 Penghargaan Medali (Honorable Mention) Jepang
1999 Prize Book/Katalog Belanda
2000 Juara Kategori (Special Prize Sellection Comitte) Jepang
2001 Prize Book/Katalog Belanda
2003 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang
2004 Nominasi Kartun Jawa Pos
2004 Juara Harapan Kartun Trans TV
2005 Juara I Lomba Poster HIV/AIDS Semarang 
2005 Juara Favorit Kartun Strip Jawa Pos

Ilustrator Buku
1. Tebak Humor Anak (Penerbit Wildan Pustaka Salam, 2004)
2. Seri Smart Word for Kids (Penerbit Wildan Pustaka Salam)
3. Ajari Aku Mencintai Kata (Fastabiq Media, 2005)
4. Humor Demokrasi (Toha Putra Centre, 2004)

Agus H. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas PasarBuku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11 Juli 2005 
09.26
thumbnail

Kelompok Kartunis Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Sabtu, 21 Mei 2005. Tepat pukul 9 pagi dengan bus Semarang-Limpung, saya tiba di Masjid Agung Kaliwungu. Kaliwungu, salah satu dari sebelas kecamatan di Kabupaten Kendal. Kecamatan Kaliwungu terdiri dari 15 desa. Dari Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang, hanya sekitar 25 kilometer arah barat. Persis di depan Masjid Besar Agung —hanya terpisah oleh jalan selebar 6 meter— terdapat alun-alun Kawedanan Kaliwungu. Pagi itu tampak masih lenggang. Hanya 3-5 penarik becak dan kusir dokar (di lain tempat ada yang menyebut bendi atau delman) memarkir dokar dan becaknya di kanan-kiri jalan sepanjang alun-alun sebelah barat. 

Saya berniat hendak ke markas Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Sengaja saya datang pagi, lantaran Zaenal —salah satu anggota Kokkang— meminta saya datang lebihawal. "Nek iso teko luwih isuk Pak, sebabe ono acara syukuran, Ikhsan nembe wae menang Iomba. (Kalau bisa datang lebih pagi Pak, sebab ada acara syukuran, lkhsan baru saja memenangkan Iomba)," demikian ucap Zaenal ketika saya telepon. Sama halnya dengan Zaenal, Ikhsan juga salah satu anggota Kokkang, namun berasal dari Semarang. Ia bam saja memenangi hadiah sebesar l0 juta dari ISAI, selaku panitia lomba kartun bertema "Plus Minus 60 Tahun Indonesia Merdeka".

Saya mengenal Zaenal sekitar satu tahun berselang, secara tidak sengaja di kantor redaksi Suara Merdeka, ketika sama-sama hendak mengambil honor.

Markas Kokkang terletak di Jalan Sekopek Kaliwungu. "Baru sekitar tiga bulan rumah ini ditetapkan sebagai sekretariat Kokkang," terang Muslih yang sejak 1992 didaulat teman-temannya sebagai Ketua Teknis Kokkang dan peraih penghargaan Excellent Prize dari Yomiuri Shimbun Jepang (2000).

"Biasanya kami nebeng di salah satu rumah anggota. Di sanalah kami bertukar ide dan informasi, sekaligus tempat mengambii honor apabila kartun dimuat," katanya lagi.

Memang semua anggota mengirimkan karyanya menggunakan satu alamat. Bagi yang karyanya dimuat, honornya langsung dipotong 10% untuk kas Kokkang. "Dengan model itu, kas Kokkang lumayan cukup untuk menghidupi kegiatan-kegiatan rutin," ungkap Muslih. "Sekitar 90 persen untuk biaya kirim lomba kartun ke luar negeri," imbuh Zaenal yang sejak 2001 menjadi bendahara Kokkang.

Markas Kokkang ramai pada setiap Sabtu pagi. Ada yang mengambil honor, mencatat undangan mengikuti Iomba kartun, undangan menghadiri pameran kartun, mempersiapkan pameran, mendiskusi ide, memberikan masukan terhadap kartun yang dibawa, mengkoordinir kalau ada undangan mengikuti lomba kartun tingkat internasional, dan aktivitas lainnya.

Setiap tahun, Kokkang paling sedikit mengikuti 10 undangan lomba kartun tingkat internasional. Di antaranya Yomiuri Shimbun (Jepang), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido (Jepang), Sport Chosun International Cartoon Contest (Korea Selatan), Internationaal Cartoonfestival Knokke Heist (Belgia), International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki), Taiwan International Cartoon Contest (Taiwan), dan Nederlands Cartoonfestival (Belanda).

Komplotan Kartunis Kaliwungu berdiri pada 10 April 1981, atas prakarsa Budi Santoso (Itos) dan Darminto M. Sudarmo (Odios). Setahun kemudian, kata "komplotan" diganti menjadi "kelompok". Penggunaan "Kaliwungu" untuk memudahkan orang mengingat nama kelurahan tempat anggota Kokkang tinggal.

Itos kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Kendal sekaligus penilik kebudayaan di Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Kendal. Sementara Odios berkarier di Jakarta sebagai kontributor freelance beberapa media, menulis buku, dan menjadi konsultan desain grafis.

Sifat keanggotaan Kokkang sangat terbuka, tidak ada rekrutmen, tidak ada iuran, dan tidak harus berasal dari Kaliwungu. Terbukti ada anggota Kokkang yang berasal dari Semarang (Ikhsan Dwiono, Imam), Pegandon-Kendal (Koes Gandon), dan Jakarta (M. Nasir, M. Najib, Ifoed. M.Tavin, dan Wawan Bastian). Bahkan yang bukan anggota Kokkang pun boleh memakai nama Kokkang.

"Siapa pun boleh pakai nama Kokkang, walaupun bukan anggota, tidak ada ruginya kan? Toh nanti pada akhrinya ada seleksi alam," tambah Itos, peraih hadiah tujuh kali lomba kartun di luar negeri: Jepang (empat kali), Turki (dua kali), dan Korea Selatan.

Kini anggota Kokkang berjumlah kurang lebih 50 orang. Tapi, yang benar-benar aktif dan rutin mengirimkan kartunnya ke media, termasuk mengikuti lomba kurang lebih 25 orang. Dari 25 orang tersebut hanya sekitar 20-an yang betul-betul menggantungkan hidupnya lewat mengkartun.

Hingga sekarang, Kokkang telah melahirkan 6 angkatan. Pertumbuhan angkatan ini tidak tentu, tergantung seberapa luas kapling media. Biasanya ukuran yang digunakan untuk kelahiran sebuah generasi adalah dari kuantitas kartun yang dimuat di media serta saat seleksi karya untuk pameran. Tidak berdasarkan usia. Semakin banyak media yang menyediakan kapling kartun, semakin cepat pula kelahiran sebuah angkatan.

Dibandingkan dengan kelompok kartun lainnya, seperti Secac (Semarang), Pakyo (Yogyakarta), Pakarso (Solo), Perkara (Jakarta), Karung (Bandung), dan Ikan Asin (Banjarmasin), Kokkang boleh dibilang yang paling eksis. Kartun-kartun mereka mewarnai hampir semua media di Indonesia. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadi ilustrator, kontributor lepas, redaktur, PH untuk film dan iklan, dan wartawan, seperti M. Nasir (Bola), Wawan Bastian (Aura), Komarudin (Lampu Merah), Wahyu Widodo (Jawa Pos), Hertanto (Warta Kota), Koesnan Hoesi (Wawasan), Prie GS dan Joko Susilo (Suara Merdeka), Pujo Waluyo (BIN), Muktafin (Rakyat Merdeka), Ipong Gufron (Merapi), dan Tiyok (Bisnis Indonesia).

Beberapa anggota lainnya juga mulai merambah dunia perbukuan dengan menjadi ilustrator, seperti Muchid sudah menghasilkan 10 Seri Fabel Indonesia (Penerbit Elex Media Komputindo), Tevi Hanafi dan Muhammad Nazrudin (Penerbit Kanisius), Syaiful (Penerbit Mandira dan Wildan Pustaka Salam), Zaenal Abidin (freelance di Penerbit Wildan Pustaka Salam).

Sebagian besar kartun Kokkang berbentuk gag cartoon, sebuah istilah penanda untuk kartun yang lebih menekankan pada gerak fisik sebagai sumber kelucuan (slapstick). Hal ini disebabkan kapling media kian ciut, tidak hanya dalam jumlah tapi juga tema kartun, Kokkang pun mulai melirik media di luar negeri, salah satunya Malaysia. "Di Malaysia ada 9 majalah humor dan semuanya laris," cerita Muslih.

Kesempatan untuk menjadi kontributor majalah luar ini cukup besar. Tapi ada beberapa kendala yang mengakibatkan kesempatan itu luput diraih, seperti bahasa,sulitnya akses internet, dan pengelolaan organisasi yang masih menggunakan "manajemen bakso".

Lainnya dengan membuat kartun animasi. Adalah Slamet Sugianto, pengusaha sekaligus pemilik rumah produksl Anugerah Animasi meminta beberapa anggota Kokkang —di antaranya Tavin, Komarudin, Muchid, Didik, Bahar, Ipong, Tiyok, Zaenal— ke Jakarta (1995-1996). Selama kurang lebih satu setengah tahun mereka belajar membuat kartun animasi. Namun, sayang, krisis moneter melanda Indonesia.

Upaya lain yang diusahakan adalah mendirikan semacam kursus kartun. Di samping berfungsi sebagai profit center, juga sebagai sarana efektif untuk menyebarkan "virus" ngartun.

Matahari semakin meninggi, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Satu per satu anak-anak Kokkang mulai berdatangan. Mereka langsung menebar senyum dan tawa, saling berbagai informasi soal pemuatan karya dan hasil lomba, ada pula yang tengah asyik sambil membuka-buka majalah, tabloid dan koran, tentu saja pada rubrik kartun. Kebetulan hari itu datang sebuah paket berisi majalah Intisari edisi Mei 2005. Kartun Kaeroni ada di halaman pojok kartun.

Seperti kebanyakan kartunis lainnya, mereka pun sedikit bicara banyak tertawa. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi duta Indonesia bagi dunia. Indonesia teiah menempati ruang tersendiri di hati mereka. Buat mereka Indonesia adalah bagian dari Kaliwungu.

Agus M. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11, Juli 2005
18.53
thumbnail

Kekuatan di Balik Buku

Posted by Cinta Buku on

Huruf-huruf berselang-seling dengan gambar menghampar pada lembaran-lembaran kertas bertumpuk dalam satu bundel, inilah gambaran buku secara fisik. Tidak Iebih dari seonggok barang yang ada hampir di semua tempat. Buku dalam format mewah, yaitu bersampul kertas tebal bergambar indah yang dicetak di atas kertas berkualitas tinggi mampu menyumbang keartistikan dan kewibawaan ruang yang ditempati. Namun, tidak sedikit pula ruang menjadi semakin berantakan dengan kehadiran buku yang berserakan, atau karena adanya buku kumal, kusam, dan bau. Keberadaan buku dalam pandangan kebendaan tidak jauh dari penampakan tadi. Apakah makna buku sebatas penampakannya?

Kita sering mendengar ungkapan bahwa kita dapat mengubah dunia dengan buku. Benarkah demikian? Mari kita simak bagaimana agama mengubah cara manusia berpikir dan bertindak menjadi lebih baik. Dengan keyakinan keagamaannya, manusia sebagai unsur utama peradaban dunia bertindak untuk meningkatkan kualitas peradaban menjadi lebih baik. Kita tahu bahwa tuntunan yang diajarkan agama berasal dari Tuhan melalui utusan pilihan. Selanjutnya, tuntunan itu ditulis dalam buku yang kita sebut kitab suci agar tetap terjaga kemurniannya.

Panglima Jabal Al Tarik berhasil melintasi Selat Gibraltar hingga dapat menakiukkan Andalusia, yang sekarang kita kenal sebagai Spanyol, berkat keyakinannya pada kitab suci. Columbus berangkat dari Eropa untuk menemukan Amerika dengan acuan "Gloria dan Glorius" yang artinya demi kitab suci dan kemegahan kerajaan. Dia mengarungi samudra tanpa tepi yang belum pernah dijamah orang sebelumnya. Samudra yang menyimpan berjuta topan dan badai yang siap mengempas dan meluluh-lantakkan siapa pun yang mencoba mengarunginya. Dia berhasil sampai ke Benua Amerika yang saat itu mereka sebut sebagai dunia baru. Keberhasilan Columbus juga didasari oleh keyakinannya pada kitab suci. Kitab yang pembuat atau penulisnya tidak pernah dia temui secara langsung, tetapi pengaruhnya dapat merasuk ke dalam sanubari dan mendasari semua tindakannya.

Di banyak negara dengan beragam sistem pemerintahan, dari waktu ke waktu, dikenal adanya buku-buku yang diharamkan karena dianggap dapat mempengaruhi masyarakat dan membahayakan pemerintahan tersebut. Di negara besar seperti Amerika, pada zaman perbudakan, pernah menganggap buku Uncle Tom Cabin sebagai buku yang membahayakan karena bersimpati dan berpihak pada orang-orang Negro yang saat itu dianggap sebagai kaum budak, Di Rusia, pada zamannya: pernah mengharamkan buku dr. Zhivago karangan Boris Pasternak karena dianggap menentang paham komunis. Di Indonesia, bertahun-tahun buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer dilarang beredar karena dianggap membahayakan negara.

Dalam buku Bumi Manusia, Pramoedya menulis pertentangan kelas antara kelas orang miskin dengan kelas orang kaya atau penguasa yang berakhir tragis dengan semakin sengsaranya si miskin dan semakin pongahnya si kaya. Menurut pemerintah waktu itu, tulisan ini bisa menghasut pembacanya untuk berpihak secara berlebihan pada kaum duafa dan mengobarkan antipati terhadap kaum penguasa. Pada akhirnya akan mengacaukan ketenteraman masyarakat. Apakah pemerintah waktu itu tidak yakin dengan kemampuan berpikir dan penguasaan diri pembaca? Yang jelas, buku-buku Pramoedya seolah mewakili kekuatan yang harus ditaklukkan atau dimusnahkan.

Buku Harry Potter karya J.K, Rowling telah dicetak jutaan eksemplar bahkan telah difilmkan di layar lebar yang menyedot jutaan penonton. Buku ini mengisahkan penemuan jatidiri seorang Harry, Hermmione, dan Ron dalam menghadapi kehidupan di sekolah sihir Hogward maupun di luar sekolah. Lawan-lawannya seperti Lord Voldemort (Tom Riddle), Malfoy dan anaknya (Lucius dan Draco) dengan segala kekuatan, rekadaya, dan kelicikannya justru mempercepat penemuan jatidiri mereka.

Petualangan Winetoe mengisahkan persahabatan dua manusia yang latar belakang budaya sangat berbeda. Winetoe tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Indian suku Apache, sedangkan Sharlih seorang doktor dari Jerman yang berpetualang di Amerika. Dalam buku ini, Dr. Karl May sebagai penulis sekaligus tokoh dalam kisah Winetoe (Karl May dalam logat suku Indian Apache dilafalkan Sharlih) berhasil mengantar pembacanya berpihak dan mendukung tindakannya dengan Winetoe menegakkan norma kemanusiaan di daerah Wild West. Bahaya yang menghadang justru semakin memperkokoh persahabatan mereka.

Kemampuan J.K, Rowling dan Karl May dalam bercerita membuat karya mereka memiliki kekuatan dalam menghimpun orang untuk mencermati, menikmati. dan mengoleksi, bahkan menjadi acuan ide pembacanya dalam bertindak.

Dalam metoda ilmiah, tahapan proses selalu didasari oleh sesuatu yang tertulis. Orang selalu bertindak dengan mengacu pada sesuatu yang tertulis dan menulis yang telah dikerjakan. Keberadaan alat bantu kehidupan yang bermuatan teknologi, misalnya pesawat terbang, lemari pendingin, komputer, dan sejenisnya selalu didasari pada acuan tertulis, yaitu buku.

Namun, sebagaimana kodratnya, alat bantu kehidupan layaknya pisau bermata dua. Bisa dimanfaatkan untuk kebaikan atau didayagunakan bagi keburukan. Pesawat terbang misalnya, barang ini memberikan manfaat luar biasa apabila digunakan untuk mempercepat perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Sebaliknya, akan memberikan kerugian luar biasa saat digunakan untuk memusnahkan manusia dan tempat bersejarah. Pesawat terbang, seperti pada penerbangan pesawat Concord yang sekarang sudah dihentikan, tanpa sengaja membawa dampak kerusakan lapisan ozon yang kita butuhkan. Kesadaran akan manfaat dan kerugian dari sebuah produk tidak lepas dari peran buku yang ditulis para pakar penerbangan yang membuat peradaban berubah menuju arah lebih baik, Pada akhirnya, buku bisa menjadi berkah dan bisa juga menjadi musibah.

Tinggi rendahnya kualitas buku selain disebabkan wujud fisik, juga ditentukan oleh isi yang disampaikan penulisnya. Isi buku dianggap berbobot apabila setelah membaca buku tersebut pembaca dapat merasakan suatu nilai tambah ataupun bahan pemikiran yang mengarah pada perbaikan keadaan.

Sigmund Freud, yang dikenal sebagai bapak psikologi, hingga kini terus dikenang karena pemikiran yang dituangkan dalam buku Psikoanalisis dapat diterima atau dipahami oleh generasi selanjutnya. Buku-buku puisi Kahlil Gibran terus diminati pembaca karena sarat dengan makna dan perenungan. Buku-buku Danarto mengantar pembaca menikmati dunia fantasi tanpa tepi. Buku-buku petualangan Harry Potter karya J.K. Rowling dan buku-buku petualangan Winetou karya Dr. Karl May bisa membawa kita semakin percaya diri dalam berpikir dan bertindak. Apabila ingin menyerap kekuatan sambil menebar senyum baik certa maupun masam, kita dapat membaca buku-buku humor sufi semacam Nasarudin Hoya dan Abunawas. 

Buku sebagai alat perantara antara penulis ke pembacanya merupakan alat ampuh untuk mentransfer sumber energi yang sulit diukur kedalamannya.

Andra Diah Rahmawai, siswi SLTP Labshool Kebayoran
Majalah MATABACA Vol. 2/ No. 12/ Agustus 2004   
09.43
thumbnail

Hak Cipta dalam Penerbitan Buku

Posted by Cinta Buku on

Tulisan ini ditujukan untuk melengkapi tulisan Anwar Holid yang berjudul "Jangan Abaikan Halaman Hak Cipta" yang muncul di MATABACA Vol. 2/No. 10/Juni 2004, hlm. 39-40. Tulisan Anwar Holid mengulas soal pentingnya halaman hak cipta (tanggung jawab penerbit—pen.). Tulisan ini menjadi ajakan bagi pembaca (yang ingin mendalami hukum dalam penerbitan) untuk mengenali lebih jauh soal hak cipta dalam penerbitan buku. Referensi yang digunakan adalah buku Hukum Hak Cipta UUHC No. 19 Tahun 2002 karangan Prof. Dr. Eddy Damian, S.H. (Penerbit Alumni: 2004). Buku tersebut selain mengulas soal hak cipta (sejarah, perkembangan dan undang-undang) juga secara khusus membahas persoalan hak cipta dalam penerbitan buku. 

Halaman hak cipta (copyright page) adalah halaman pada buku yang memuat informasi, seperti nama penerbit (hak penerbitan), nama penulis (pemilik hak cipta/pemegang lisensi), desainer kulit muka (hak cipta desain), ilustrator, tahun penerbitan, ISBN, nama percetakan, edisi, logo penerbit, judul, undang-undang dan berbagai informasi/identitas lain. Untuk pencantuman nama desainer (juga ilustrator, fotografer) saat ini ada penerbit yang mencantumkan nama desainer di halaman lain. Sebagai contoh Penerbit Grasindo, mencantumkan nama desainer (buku-buku fiksi) di kulit muka belakang. Penulisan ini masih dalam kaidah hak cipta (moral rights).

Menurut Anwar Holid, sebuah buku tanpa berbagai keterangan di atas ibarat surat kaleng. Sebuah buku tanpa keterangan pada halaman hak cipta menunjukkan tanggung jawab penerbit yang rendah. Dalam kacamata kebudayaan (buku sebagai produk budaya) penerbit tersebut kurang bertanggung jawab dalam membangun civil society.

Hak cipta dibuat untuk memberi perlindungan baik secara moral maupun ekonomi kepada pemiliknya masing-masing. Hak cipta merupakan salah satu jenis hak yang terangkum dalam HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual/ Intellectual Property Rights). Istilah HaKI merupakan istilah baku yang secara resmi dipakai dalam Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2002 yang menggantikan UUHC 1997. Di dalam hak cipta (copyright) terkandung hak eksploitasi atau hak ekonomi (economic rights) dan hak moral (moral rights). Seorang pencipta memiliki hak atas kekayaan yang dimiliki. Oleh karena itu seorang pencipta memiliki hak untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, seperti melesensikan hak ciptaan karya tulis kepada penerbit. Di lain pihak, orang lain/pihak lain berkewajiban untuk tidak melanggar hak-hak yang dimiliki pencipta (hlm. 35).

Dalam hukum hak cipta juga berlaku hak eksklusif yang dimiliki seorang pencipta. Seandainya hak cipta penulis sudah diserahkan kepada pihak lain (misalnya penerbit), penulis masih memiliki hak eksklusif: menerbitkan karyanya dalam bentuk lain, seperti film dan komik. Hal ini tentunya dengan perjanjian yang disepakati oleh pihak penulis dan penerbit. Pihak yang diserahi hak cipta oleh penulis pun memiliki hak eksklusif untuk mengeksploitasi karya, tapi tetap dengan persetujuan antara penulis dengan penerbit tadi. Jadi, ada kesepakatan antara penulis (pencipta) dengan penerbit (pihak yang diserahi hak cipta).

Dalam dunia penerbitan buku berlaku hukum yang mengatur hak cipta yang bersangkutan dengan hak cipta lain. Contoh, perancangan kulit muka buku. Jika seorang desainer dipesan untuk merancang kulit muka sebuah buku, hak cipta kulit muka dimiliki oleh desainer tersebut. Hal tersebut disebabkan desainer tidak berada dalam satu lembaga dengan penerbitan. Akan tetapi, jika desainer merupakan bagian dari penerbit (misalnya staf desain) maka hak cipta dimiliki oleh penerbit tersebut.

Dengan demikian, makin jelas pentingnya perjanjian kerja antara pihak pencipta (penulis, desainer, ilustrator, dan fotografer) dengan pihak penerbit. Pentingnya perjanjian tersebut disebabkan seorang pencipta memiliki hak ekonomi atas hasil karyanya. Singkatnya, sebuah karya sah untuk dieksploitasi dalam bentuk lain dan tujuan lain. Mengenai pentingnya hak moral dapat dilihat dari peristiwa berikut.

Sebelum mesin cetak ditemukan, berdasarkan suatu catatan kuno ditemukan data tentang sebuah perkara hak cipta tahun 567 AD. Pada tahun tersebut, seorang biarawan Columba secara diam-diam menyalin tanpa izin kitab Mazmur yang merupakan ciptaan gurunya Abbot Finian. Saat itu, Raja King Diarmid mengetahui hal tersebut dan memerintahkan Columba menyerahkan kitab Mazmur yang disalinnya tanpa izin kepada Abbot Finian dan melarang melakukan lagi. Raja pun mengucapkan: "To every cow her calf, and to every book its copy." (terjemahan bebas: sapi betina punya anak sapi, sebuah buku punyasalinannya). Menurut Eddy Damian (hlm. 46), pernyataan to every cow her calf, and to every book its copy mengisyaratkan bahwa sebelum kelahiran undang-undang hak cipta pertama, telah ada kesadaran untuk melindungi ciptaan seorang pencipta berdasarkan alasan moral (moral impulse). Dengan demikian, sebelum ditemukan mesin cetak, alasan moral menjadi dasar untuk melindungi hak cipta seorang pencipta.

Pada pemerintahan King Richard III (Inggris) pada 1483, Inggris membuka pintu bagi peredaran buku-buku dari luar negeri. Pada akhir abad ke-16, dalam memenuhi kebutuhan buku dalam negeri, hak paten diberikan kepada penemuan baru di bidang industri, termasuk penemuan mesin cetak. Tahun 1518, kerajaan memberikan monopoli mencetak pada Richard Pynson, pimpinan badan usaha Percetakan Kerajaan bernama Stationers Company. Hal tersebut menyebabkan percetakan dan penerbitan buku hanya dimiliki perusahaan tersebut atau percetakan lain yang terdaftar sebagai anggota Stationers Company. Dalam arti lain, pencipta atau penulis, hak-haknya untuk memperbanyak karya tulis sama sekali diabaikan. Hak perbanyakan hanya ada pada percetakan (hlm. 49).

Tahun 1695, sistem monopoli di Inggris tersebut berakhir disebabkan maraknya pembajakan pelbagai barang cetakan yang dimonopoli kerajaan. Untuk mengatasi hal tersebut, lahir undang-undang hak cipta pertama di dunia, yaitu Statute of Anne. Undang-undang ini mengubah status pencipta menjadi pemilik eksklusif karya ciptanya, seperti hak khusus dan kebebasan mencetak (hlm. 50). Sejak itu, berkembang berbagai undang-undang hak cipta, seperti Konvensi Bern (1886), Konvensi Hak Cipta Universal (1955), Konvensi Roma (1961), Konvensi Jenewa (1967), dan TRIPs (1994).

Selain mengulas soal hak cipta, terutama hubungan penulis dengan penerbit (seperti perjanjian kerja, contoh surat perjanjian), buku Hukum Hak Cipta juga mengulas tentang (hak) perwajahan buku (typographical arrangements), hak waris atas suatu ciptaan (jika diketahui penciptanya sudah meninggal), lisensi, batas-batas hak cipta dan peraturan lain yang berkaitan dengan hak cipta.

Sampai saat ini, Indonesia termasuk negara yang berada dalam tingkat pelanggaran hak cipta yang besar (priority watch list), salah satunya pelanggaran hak cipta atas buku (buku-buku luar negri). Jika maraknya buku-buku penerbit baru (penerbit alternatif) yang menerbitkan buku terjemahan dengan dalih karena pentingnya memberi referensi (ilmu pengetahuan) kepada masyarakat, dengan menelusuri lebih jauh soal hak cipta, paling tidak diharapkan penerbit berpikir lebih dalam melakukan kerja budaya, yaitu menerbitkan buku dalam kaidah/hukum yang disepakati bersama dalam menciptakan proses belajar yang baik bagi masyarakat. Di sisi lain, alasan (beberapa) penerbit era 1990-an (para penerbit alternatif) menerbitkan karya terjemahan tanpa melalui perizinan disebabkan peran pemerintah yang kurang mendukung dalam mermbuat kebijakan bagi dunia perbukuan nasional saat itu. Hal ini lebih tepat jika dilihat dari kacamata sosiai-politik-budaya dibanding dari sudut hukum (karena dalam hal ini hukum dilihat sebagai perangkat pemerintah Orde Baru). Tak bisa dipungkiri bahwa maraknya buku terjemahan oleh para penerbit alternatif menyebabkan beredarnya wacana kritis bagi masyarakat yang sedikit banyak berkaitan dengan proses pencapaian reformasi.

Perkembangan media seperti internet menjadi media altematif masyarakat dalam mencari ilmu pengetahuan atau sekadar mencari informasi dan hiburan. Dalam konteks tata tertib hukum, hal ini bisa diartikan bahwa bukan internet yang dapat menggeser peran buku sebagai media informasi (ilmu pengetahuan), tapi tingginya kesadaran masyarakat (pembaca) tentang hukumlah yang bisa jadi akan menyeleksi buku-buku dengan kerja penerbitan yang benar atau tidak, Karena baik pembaca, penerbit, distributor, dan pihak lain merupakan pihak yang menjadi subjek hukum alias sepakat untuk menaati hukum.

FX. Widyatmoko, perarcang kulit muka buku dan tinggal di Bandung
Majalah Mata Baca, Vol. 2/No. 12/Agustus 2004
09.38
thumbnail

Berkutat dengan Perasaan dan Pikiran: Sebuah Refleksi Menerjemahkan

Posted by Cinta Buku on

Sejak dua tahun silam saya sudah menerjemahkan sekitar lima buku asing, sebagian besar buku-buku sastra dan satu buku psikologi, serta beberapa artikel. Beragam perasaan berkecamuk di hati ketika saya mengerjakan. Ada buku yang membuat pusing tujuh keliling, lelah dan sebal karena begitu detail menceritakan hal-hal kecil dalam keseharian. Ada juga yang membuat sedih, gembira dan tertawa karena rumit ataupun lucunya penceritaan karakter para tokohnya.

Buku pertama yang saya terjemahkan bersama Anton Kurnia (Jostein Gaarder, Misteri Soliter, Yogyakarta: Jalasutra, 2002) bukan buku yang mudah, tetapi tidak juga susah. Sebelum menerjemahkan, saya sudah diberi semacam "panduan" agar semua isi buku itu selaras untuk memudahkan proses pengeditan. Jadi, buku itu adalah buku "termudah" yang pernah saya terjemahkan. Kisahnya pun mengasyikkan meski agak aneh. Inilah buku pertama yang mengawali proses penerjemahan yang kini saya geluti.

Sebuah Rumah untuk Tuan Biswas (Yogyakarta: Jalasutra, 2003) —sebuah masterpiece V.S. Naipaul— adalah buku yang membuat saya ngos-ngosan dan tertatih-tatih mengerjakan,. Bersama Neti Meilyawati, selama hampir lima bulan kami baru bisa tuntas menerjemahkan buku tersebut. Ratusan halamannya membuat kening saya berkerut dalam, kadang-kadang merasa aneh bahkan menyebalkan. Hal-hal dalam keseharian ditulis Naipaul dengan cermat, detail dan penuh penjiwaan. Saya ingat bahwa dalam Keluarga Tulsi, keluarga mertua Tuan Biswas di Hanoman, ada ritual makan kapur (bayangkan, kapur!) dicampur sejenis cairan manis lain yang harus dimakan oleh anak-anak agar tidak kekurangan kalsium, menjijikkan. Saya pun hapal bagaimana bersin Tuan Biswas sering sekali menjadi penyebab musibah bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Memang lucu sekali, meskipun kadang-kadang terasa berlebihan. Sungguh menyedihkan saat Tuan Biswas gagal mendapatkan rumah impian yang dibelinya dari seorang pengacara. Ketika rumah baru menjadi miliknya, rumah yang tadinya selalu tampak bagus di malam hari ternyata tidak lebih dari rumah jeiek yang tak sebanding dengan uang yang sudah dikeluarkan (pada siang hari): pintu belakang tidak ada, tangga rumah "berbahaya", dan lantai bawah amblas. Kadang-kadang saya berhenti mengerjakan karena terlalu lelah dengan detail semacam itu, atau karena merasa sesak bila mendapati Tuan Biswas yang selalu ingin melakukan hal benar itu gagal dalam usahanya. Kata tersulit dalam karyanya yang tidak ada dalam kamus bahasa Inggris besar di rumah, seperti kata prognathaus yang diiringi dengan kata smile. Saya sempat kesulitan mencari kata itu, meski bisa mengira-ngira maknanya sebelum akhirnya seorang teman membantu mencarikan artinya dari sebuah kamus di perpustakaan LIA Bandung. Kata-kata yang dipakai oleh Naipaul dalam bukunya bukan kata-kata yang biasa ditemui dalam novel-novel biasa. Naipaul menggunakan bahasa Inggris khas British yang sangat "rapat" dan rumit, sungguh melelahkan dan butuh konsentrasi tinggi untuk menyelaraskan. A House for Mr. Biswas merupakan buku pertama yang langsung saya tangani sendiri.

Buku Marguerite Duras, The Lover (Yogyakarta: Jalasutra, 2004) yang baru-baru ini saya terjemahkan punya sisi lain yang tak kalah dahsyat. Tidak ada keruwetan detail keseharian di dalamnya, tetapi saya merasa tertekan dengan cara bercerita Duras yang aneh, tidak biasa dan lebih mengedepankan sisi psikologis karakternya dengan rumit, dibandingkan peristiwanya sendiri. Tidak banyak tutur kata, hanya perasaan yang dirasakan sang tokoh terurai tak biasa. Duras seperti berbicara dengan diri sendiri, membuat saya merasa gamang, tertekan dan aneh. Ketika sampai pada bagian hasrat —sang gadis mengeksplorasi tubuh mungilnya kepada seorang pria yang tergila-gila padanya— saya sempat berhenti menerjemahkan, sungguh menyesakkan. Kisah perseteruan sang gadis dengan ibunya (tanpa percakapan, hanya kilasan perasaan) membuat saya merasa sedih seolah ikut mengalami. Buku itu disebut-sebut sebagai autobiografi Duras yang tidak diakuinya, sarat kepedihan dan kisah cinta yang janggal. Bagi saya, novel ini merupakan rangkaian kisah cinta dan hidup yang indah meski penuh luka. Tidak akan ditemui happy end ataupun sad end setelah membaca bukunya. Yang ada hanya rentetan pengalaman hidup seorang perempuan istimewa. Seorang teman yang mengedit karya Virginia Woolf mengomentari pandangan saya tentang buku itu; "Duras 'sakit' ya?" Saya membalas, "Tapi Duras tidak mati bunuh diri."

Kesulitan terbesar ketika mengerjakan The Lover ketika saya harus berkutat dengan kata-kata yang "rapat" dan "padat". Untungnya buku itu hanya sebuah buku tipis. Kesalahan pertama terjadi ketika saya menerjemahkan kata Spectator menjadi Pengamat di bagian halaman persembahan. Padahal Spectator adalah nama sebuah harian, seperti halnya News Weekly atau Guardian. Wawasan adalah salah satu hal yang mutlak penting sehubungan dengan kesalahan itu. Beberapa kesalahan lain terjadi ketika saya keliru memaknai beberapa penggal kalimat, disebabkan sangat rumitnya struktur bahasa yang dipakai dalam buku itu dan pengetahuan struktur saya yang masih harus terus digali. Hal lain juga karena fakta bahwa buku itu diterbitkan pertama kali dalam bahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Barbara Gray (bayangkan pergeseran makna yang mungkin terjadi saat saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), cukup mengganggu. Untunglah, dengan hasil editan nyaris sempuma, buku The Lover bisa dibaca dengan asyik. 

Artikel tentang peraih Nobel Perdamaian 2004, Shirin Ebadi asal Iran yang saya kerjakan bersama dua teman untuk Mizan mengangkat semangat saya setinggi-tingginya. Artikel itu, ditambah riwayat hidup aktivitas dan pidato Nobel Perdamaiannya diterbitkan Mizan untuk menyambut kedatangan Ebadi, judulnya Srikandi HAM dari Negeri Muslim. Tak peduli betapa politisnya penghargaan itu (menurut banyak orang), saya merasa "dikompori" oleh kata-kata Ebadi dalam wawancaranya dengan beberapa stasiun TV terkemuka dunia yang saya terjemahkan. Ia yang bekerja dan bekerja sepanjang hidupnya untuk membantu orang-orang tertindas dengan hanya sedikit memedulikan keselamatan hidupnya itu menginspirasi saya agar melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik, Mengerjakannya tak terlalu sulit, ton masih ada kesalahan yang saya buat.

Buku Tasawuf dan Psikologi (Sufism and Psychology, karya Lynn Wilcox, Ph.D.) yang urung diterbitkan oleh penerbit pemberi order karena ternyata didahului oleh penerbit lain merupakan buku yang paling membuat saya berkeringat. Bayangkan, betapa istilah psikologi sekaligus tasawuf yang kurang saya pahami berkeliaran di seluruh isi buku itu! Sampai-sampai saya menghubungi Al —teman saya— untuk membantu menerjemahkan istilah tasawufnya. Beberapa kali ada teguran setelah seluruh buku itu selesai diterjemahkan karena pihak penerbit merasa saya membuat cukup banyak kelalaian. Kejadian itu membuat saya belajar untuk hanya menerjemahkan buku-buku yang saya suka atau kuasai. Sastra selalu mengasyikkan bagi saya. Meskipun dapat dipelajari, buku-buku selain sastra merupakan ranah baru dan asing yang masih harus saya pahami secara benar dan mendalam, tidak bisa asal menerjemahkan, bisa-bisa malah membodohi orang banyak!

Dead Poets Society (adaptasi film karya N.H. Kleinbaum, Yogyakarta: Jalasutra, 2004) merupakan buku sastra penuh puisi indah yang saya anggap seperti anak saya sendiri. Sejak penghujung 1990-an, saya sudah memiliki, membaca berulang kali sambil menikmati kembali berbagai perasaan yang berkecamuk di hati saya ketika melakukannya. Perasaan bahagia menghantui saya saat menerjemahkan. Bagaimana tidak, saya sungguh memahami mengapa Neil bunuh diri demi kebebasannya, atau sebab Todd menjadi begitu berbeda setelah diajar Pak Keating, guru barunya. Saya bahkan hapal beberapa penggal dialognya. Itu karena saya begitu mengenal buku itu. Proses menerjemahkannya pun tidak memakan waktu terlalu lama. Itulah buku pertama yang saya kerjakan dengan sangat enjoy, meski tetap membuat kecerobohan dalam menerjemahkan puisinya. Tidak mudah menerjemahkan bahasa puisi asing ke dalam bahasa kita, kesalahan interpretasi sangat mungkin terjadi. Dalam salah satu puisi ada kalimat gather ye rosebuds, yang awalnya saya terjemahkan "kumpulkanlah kuntum-kuntum bunga" bukannya "berkumpullah wahai kuntum bunga" yang lebih mengena dan tepat. Sempat terjadi perbedaan pendapat dengan editor dalam hal panggilan nama murid di Barat yang sama dengan menyebut nama belakang keluarga, dalam hal ini nama ayah. Jadi. ketika Todd dipanggil sebagai Mr. Anderson dalam acara tahunan Welton Academy, begitupun dengan sang ayah, Mr. Anderson, editor Dead Poets berpendapat pemakaian nama harus dibedakan agar mudah merujuk nama anak dan nama ayah, sedang menurut saya biarkan saja, toh pembaca akan tahu dengan sendirinya: mana anak dan mana ayah. Saya lebih memilih untuk tidak menerjemahkan tradisi Barat ke dalam tradisi kita, sedangkan editor tetap berpendapat bahwa pembedaan nama bisa memudahkan pembaca memahami isi buku itu, yang artinya mengubah pangglian Mr. Anderson (anak) dengan Todd saja.

Ketidaksepahaman antara penerjemah dan editor merupakan hal biasa yang mungkin terjadi karena pemikiran dan pertimbangan masing-masing orang takkan pernah sama. Sungguh menyenangkan jika kebetulan bekerja sama dengan editor yang rela bersusah-payah menanyakan maksud atau pendapat kita mengenai terjemahan yang kita kerjakan (pertama kali saya alami dengan editor buku Dead Poets Society). Pengalaman paling seru yang pernah saya alami sehubungan dengan proses terjemahan dan editing ketika saya bekerja sama dengan editor The Lover yang mengembalikan hasil editannya untuk saya baca baik-baik selama beberapa hari. Ia meminta saya mengoreksi pekerjaannya, apakah sesuai dengan yang saya inginkan. Menurui editor tersebut, sayalah bidan pertama yang bisa memahami isi buku itu dengan cukup baik. Padahal, setelah ia mengeditnya, tingkat keterbacaannya menjadi jauh lebih tinggi. Itulah pengalaman pertama saya bekerja sama dengan seorang editor yang sangat rendah hati, padahal berkat editor itu (dan berkat pengetahuannya yang luas) buku The Lover menjadi sebuah buku dengan tingkat keterbacaan tinggi yang enak dinikmati.

Kadang-kadang saya merasa gamang setiap kali menyadari bahwa saya sedang "membahasakan" karya orang lain kepada khalayak, apalagi jika karya itu mendapat penghargaan prestisius dan dikenal orang banyak. Sering saya merasa tidak puas saat membaca buku terjemahan yang suiit dipahami dengan kata yang melingkar-lingkar hingga sulit menangkap maknanya; entah karena saya yang bodoh atau karena kualitas terjemahan yang jelek. Kadang-kadang saya bisa langsung menanyakan sebabnya bila saya mengenal orang yang bersangkutan dengan proses penerjemahan tersebut. Biasanya jawaban yang sering diterima, "Begitulah adanya. Penulisnya memang menulis buku yang rumit, jadi bahasanya pun rumit." Padahal, bukankah penerjemahan dimaksudkan agar orang bisa lebih mudah memahami sebuah buku daiam bahasa ibunya? Saya masih sering khawatir kalau-kalau saya gagal menginterpretasikan maksud penulis, apalagi sampai melantur. Tanggung jawab saya sangat besar. Setiap kekeliruan yang dibuat, seremeh apa pun, bisa membodohi orang lain. Karena itu, saya hanya berani menerjemahkan buku-buku yang sudah saya kenal sebelumnya (seperti buku-buku sastra), baik melalui film maupun berdasarkan referensi orang yang sudah membacanya. Saya pun selalu berharap agar editor buku-buku terjemahan selalu cermat memeriksa kekeliruan yang ada hingga keterbacaan dalam bahasa sasaran menjadi lebih tinggi.

Saya cukup sering di-"panas-panasi" suami untuk memberanikan diri melamar menjadi penerjemah yang lebih profesional pada sebuah penerbit bagus di Bandung karena dia pikir saya cukup mampu melakukannya. Saya katakan bahwa saya belum terlalu berpengalaman dalam bidang itu, mungkin jika sudah menerjemahkan kurang lebih 10 buku dan semakin meminimalkan kesalahan, baru saya akan memikirkan. Menerjemahkan bukan hal mudah dilakukan, tetapi kecerdasan dan nyali dalam mengolah dan mengeksplorasi kata sepenuh rasa dan pikiran senantiasa tertantang. Menerjemahkan membuat saya "menjelajahi" dunia dan pemikiran baru yang sebagian besar belum saya alami dalam kenyataan dan rasanya sampai kapan pun pekerjaan ini tetap bisa dilakukan meski saya beranjak tua. Saya berharap tak pernah "pensiun" dari pekerjaan ini, setua dan selemah apa pun saya kelak. Semoga saja.

Septina Ferniati, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 12,  Agustus 2004  
11.00
thumbnail

Tips dan Trik Menulis Skenario: "The Nine-Act Structure" (Bag. 2)

Posted by Cinta Buku on

Kali ini kita akan membahas lanjutan teori The Nine-Act Structure. Banyak pembaca yang memberikan komentar dan pertanyaan seputar teori 9 babak ke penulis, apakah teori bercerita 9 babak lebih mengedepankan unsur konflik dan kejutan sehingga membuat para penonton/pembaca cerita film kita dicekam ketakutan? Jawabannya, tidak. Teori bercerita 9 babak memberikan "pengalaman" dan "waktu berpikir" bagi penonton untuk memecahkan masalah bersama sang aktor. Jika Anda baca artikel sebelumnya, pada babak ke-6 "reversal"/titik balik diterangkan bahwa tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Babak ke-6 dalam struktur 9 babak adalah babak paling penting dan digunakan untuk mengajak penonton turut larut dalam pemecahan masalah dalam cerita yang sedang berlangsung. Dalam film Enemy of the State, kita melihat peran Will Smith yang berakting menjadi seorang buronan pemerintah. Di babak ke-6 cerita dalam film tersebut, Will Smith menemukan informasi dari Gene Hackman tentang teori konspirasi intelijen yang sedang berlangsung di pemerintah Amerika Serikat. Akhirnya, ia menemukan cara untuk menjebak sang pemburunya dengan menggunakan kaset perekam video dan alat-alat penyadapan yang dipelajari semasa menjadi buronan.

Babak ke-6 adalah babak yang menerangkan segala inti masalah dalam cerita. Jika Anda pernah melihat film The NET dengan aktor Sandra Bullock yang berperan sebagai ahli komputer yang dikejar-kejar penguasa. Dalam film itu diceritakan, Sandra Bullock menemukan hubungan antara kerusakan program komputer dan bisnis jutaan dolar yang dapat membahayakan pemerintah Amerika Serikat. Sandra Bullock menyadari, ia harus membatalkan rencana peluncuran sebuah sistem operasi komputer yang dapat merusak dunia dengan cara melepaskan program komputer tandingan di sebuah pameran  teknologi informasi.

Membuat Cerita Drama 9 Babak
Kali ini kita akan membuat sebuah contoh outline cerita dengan setting Indonesia yang menggunakan teori 9-babak.

Act 0: Babak kejadian buruk menimpa orang lain
Ada suatu kejadian di suatu tempat yang tidak berhubungan dengan aktivitas tokoh protagonis. Seseorang terbunuh oleh orang lain (antagonis), sesuatu yang dicuri atau sesuatu yang diperebutkan. Sebuah pesawat diberitakan di koran meledak dan mengalami kecelakaan. Seluruh penumpang tewas, termasuk dua orang pasangan suami istri pengusaha Tuan dan Nyonya Sugandi.

Act 1: Babak awal dan pengenaian karakter protagonis
Sebuah pemandangan kota, menampilkan aktivitas sang karakter protagonis yang digambarkan innocent, tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari bahwa ada bahaya atau masalah yang mendekatinya.

Kita melihat aktivitas karakter tokoh utama, kita sebut saja bernama Srikandi. Srikandi adalah putri tunggal Tuan dan Nyonya Sugandi. Ia mendapatkan berita dari pengacara keluarganya tentang warisan sebidang tanah seluas 1.000 hektar di Kalimantan. Srikandi tidak pernah menduga, bila ayah dan ibunya memunyai tanah yang luas di pulau tersebut. Kita mendapatkan informasi bahwa Srikandi seorang gadis introvert dan tertutup.

Act 2: Babak kejadian buruk menimpa tokoh protagonis 
Sesuatu buruk terjadi, sosok tokoh protagonis terjebak di sebuah tempat atau kejadian yang membuatnya terperangkap, menjadi kambing hitam atau menjadi korban. Masalah semakin bertumpuk, ia menjadi buronan poiisi atau pemerintah.

Sebuah perusahaan tambang emas bernama Bre-X mendapatkan kabar bahwa tanah yang dimiliki Srikandi mengandung cadangan mineral emas sebesar 20 juta ton. Mereka berusaha mendekati Srikandi dan menawarkan uang 100 miliar rupiah untuk pembelian tanah tersebut, Srikandi menolaknya. Perusahaan Bre-X memaksa, tetapi Srikandi tetap menolak.

Act 3: Mempertemukan tokoh antihero/protagonis dengan lawan antagonis
Tokoh antihero kebingungan, ia akhirnya bertemu dengan sumber masalah secara sekelebatan. Ia heran menemui calon musuhnya (antagonis) yang justru memperburuk keadaannya.

Kesal karena tawarannya ditolak, Bre-X menyewa seorang petualang, seorang laki-laki tampan, menarik dan profesional untuk mendekati Srikandi. Sang lak|-laki tersebut (sebut saja bernama Arjuna) tertarik dengan job yang diberikan kepadanya. Ia berupaya mendekati Srikandi dan mencoba merayunya menjadi pacarnya. Srikana terlena, ia tidak mengira bahwa Arjuna adalah agen suruhan Bre-X untuk menguasai harta warisan tanahnya.

Act 4: Sebuah rencana dibuat
Tokoh antihero terpaksa membuat rencana pelarian, karena kebingungan terhadap situasi yang dihadapi. Sementara ia mendapatkan informasi jelas bahwa ia menjadi kambing hitam dari sebuah konspirasi.

Tanpa curiga sedikit pun, Srikandi memercayai Arjuna. Mereka berdua akhirnya menjadi sepasang kekasih. Srikandi terlena, hingga suatu saat Arjuna berhasil merampas sebagian dokumen harta warisan yang dimiliki.

Act 5: Menuju tujuan yang salah
Karena semakin terdesak, sang tokoh protagonis berjalan tidak tentu arah, melarikan diri dan berusaha keluar dari masalah yang justru semakin membuatnya terpuruk. Sampai suatu saat, ia membentur sesuatu yang tidak bisa dilewati. Ia jatuh. Sementara pihak lain dan tokoh antagonis tetap memburu.

Srikandi sadar telah dipermainkan Arjuna, ia akhirnya melarikan diri dari Arjuna sambil membawa sebagian dokumen penting. Arjuna berupaya mengejarnya, tetapi kehilangan jejak Srikandi bersembunyi dan pergi ke Kalimantan demi membuktikan isu kandungan emas di tanahnya tersebut.

Act 6: Titik balik
Di saat titik nadir dan kesialan hidupnya, tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Di tengah kesialan dan penderitaan hidupnya, Srikandi bertemu dengan seorang ahli geologi dan pertambangan. Ia mendapatkan informasi dari ahli tersebut bahwa ada sesuatu yang salah dalam informasi kandungan emas di tanah yang dimiliki. Ternyata menurut penelitian data di lapangan, tanah Srikandi tidak sedikit pun mengandung emas. Srikandi kaget, ia berupaya mencari informasi dan mengungkapkan rahasia skandal emas yang di gembar-gemborkan perusahaan Bre-X.

Act 7: Menjalankan rencana darurat kedua (yang tidak pernah terpikirkan)
Setelah mengetahui kelemahan musuhnya, tokoh antihero berubah menjadi tokoh superhero dan mencoba melawan penindasan yang teiah dikenakan padanya. Inilah saat pembalasan. Tokoh kita berbalik menuju tempat antagonis.

Srikandi berusaha mematangkan rencana untuk membongkar skandal emas yang menimpa dirinya. Srikandi akhirnya tahu bahwa Bre-X adalah perusahaan penipu yang berusaha mengguncangkan pasar saham dunia dengan mengembuskan isu kandungan emas yang menghebohkan. Srikandi rnenggunakan berbagai cara untuk memberi pejajaran orang-orang Bre-X dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib untuk melucuti Bre-X.

Act 8: Klimaks cerita
Cerita diakhiri dengan terbongkarnya kasus tersebut. Arjuna dan orang-orang Bre-X tertangkap. Srikandi kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang. Kandungan emas 20 juta ton ternyata cerita isapan jempol belaka.

Modifikasi
Cerita-Struktur 9 Babak
Selain memberikan dua tujuan (two goals) yang berbeda, struktur 9 babak menerangkan kita bahwa begitu banyak kemungkinan cerita menjadi lebih berisi dan menarik. Modifikasi dapat kita lakukan per babak, umpamanya kita dapat memberikan keterangan bahwa tokoh protagonis kita ternyata mempunyai kelemahan fisik, seperti sakit, cepat lelah atau cacat. Cerita menjadi lebih dramatis dengan melakukan perubahan karakter, abilitas/disabilitas kemampuan dan beberapa halangan tambahan yang memperkaya jalannya cerita skenario. Jika Anda sempat menonton film Panic Room yang dilakoni oleh Jodie Foster, kita melihat sebuah cerita yang dramatis, aktor utama film tersebut mempunyai penyakit asma yang membuatnya susah bergerak.

Pada contoh outline cerita di atas, kita dapat menambahkan beberapa masalah yang dihadapi Srikandi, umpamanya kita dapat memunculkan tokoh lain (selain Arjuna) yang ternyata tertarik menguasai surat warisan Srikandi. Atau kita berikan komponen disabilitas pada karakter Srikandi, menjadi seorang yang memunyai penyakit asma sehingga menambah ketegangan dalam cerita, Atau kita bisa mengubah karakter antagonis yang dimainkan oleh Arjuna.

Mungkin di babak ke-6 kita bisa memodifikasi karakter Arjuna: sadar bahwa ternyata ia betul-betul mencintai Srikandi dan berbalik menolongnya lepas dari kejaran Bre-X. Mungkin saja bukan?

Rumus Antagonis Menjadi Protagonis
Salah satu kejutan yang bisa ditampilkan pada penonton atau pembaca skenario kita adalah mengubah karakter antagonis menjadi karakter protagonis. Kita bisa menceritakan bahwa karakter antagonis berbalik arah, sadar akan kejahatannya dan berupaya membantu karakter antagonis pertama (tokoh utama cerita) melanjutkan tujuannya untuk mengalahkan lawan sebenarnya. Supaya cerita dapat diselami secara logika, kita dapat memberikan beberapa alternatif, sebagai berikut:

1. Tokoh antagonis dapat berubah membantu tokoh protagonis untuk melawan musuh sebenarnya jika peran tokoh antagonis adalah tokoh pembantu karakter lawan utama (antagonis utama).

2. Tokoh antagonis dapat berubah menolong tokoh protagonis apabila diberikan hubungan batin yang mengakibatkan kesadaran (kasih sayang, jatuh cinta, kasihan).

3. Tokoh antagonis kita berikan keterangan bahwa ternyata dia mempunyai "hubungan darah", pertalian saudara (ayah-anak, suami-istri, dan sebagainya). Dalam film StarWars, kita menyaksikan peran batin berkecamuk antara tokoh antagonis ayah Darth Vadder melawan Luke SkywalKer—tokoh protagonis anaknya sendiri.

Penutup
Banyak sekali elemen tambahan yang dapat kita gunakan untuk membuat skenario yang baik. Bahkan teori 9 babak sangat menolong kita mengetahui bagian cerita mana yang lemah, bagian mana yang kuat dan kita bisa memperbaikinya tempat yang tepat. Sebuah cerita layaknya sebuah bangunan, kita harus mengerti bagian-bagian tertentu untuk memperkokoh jalinan cerita tersebut. Sebuah skenario adalah sebuah struktur cerita yang padat, dan kita tidak boleh mengabaikan satu bagian pun. Untuk menguatkannya, kita membutuhkan pengetahuan tentang struktur babak cerita itu sendiri.

Sonny Set., praktisi film dan  pembuai skenario di beberapa stasiun televisi
Majalah Mata Baca Vol. 2 No.  12, Agustus 2004  
08.33