Tentang Editing Buku Sastra

Ada fenomena menarik dalam penerbitan buku-buku sastra pada rentang awal milenium baru. Sejak awal 2001 yang lalu hingga kini gairah penerbitan buku-buku sastra dari pengarang dunia menggeliat di pasar buku Indonesia. Motor penggeraknya adalah karya-karya puisi Khalil Gibran. Lalu, ditengarai bahwa penerbitan karya-karya sastra klasik ini ternyata digagas oleh anak-anak muda yang oleh Kompas penerbitannya disebut penerbit rumahan. Mereka memang mendirikan penerbit dari rumah yang berada di gang-gang dan tidak tanggung-tanggung, yang diterjemahkan adalah karya pengarang besar dunia, seperti Shakespeare, Ernest Hemingway, dan banyak lagi. Namun, di balik itu muncul gugatan bahwa sebagian besar buku-buku tersebut diterjemahkan dengan sangat buruk dan kemungkinan tanpa disunting. Akibatnya, buku-buku tersebut tampak manis dalam sampulnya, tetapi amburadul di dalamnya.

Melihat hal ini pikiran pun melontar pada kondisi penerbitan buku-buku sastra yang mengandalkan editing seadanya. Saya ingat beberapa tahun silam. Suatu kali seorang mantan mahasiswa saya di Editing Unpad mendatangi saya, la bertanya tentang mekanisme menyunting puisi dan cerpen.

"Pak, apakah boleh saya menyunting kata-kata dan tanda baca dalam puisi sesuai EYD? Bagaimana pula menyunting cerpen, apakah harus disesuaikan dengan bahasa Indonesia baku dan EYD juga?"

Pertanyaan ini sepintas sepele, namun apa yang ternyata dilakukan oleh sang mahasiswa tersebut persoalannya menjadi tidak sepele. Ternyata ia lebih dulu telah menyunting bahasa puisi dari penyair —misalnya mengubah tapi menjadi tetapi, mengubah kerana menjadi karena, atau mengubah kata tuhan (dalam huruf kecil) menjadi Tuhan. Tentu saja dalam konteks karya sastra hal ini bisa berakibat fatal karena akan mengubah nilai rasa bahasa dan orisinalitas puisi tersebut.

Dengan demikian menyunting karya sastra sebenarnya akan sangat riskan jika penyunting yang diserahi tugas ternyata belum memahami hakikat karya sastra; termasuk juga bahasa sastra. Bisa jadi tanda-tanda baca yang terkadang mengandung makna tertentu di dalam puisi juga akan disunting sesuai dengan EYD. Begitupun penggunaan huruf kapital dan huruf kecil bisa pula menimbulkan salah kaprah —bukankah ada penyair kita yang menuliskan kata Tuhan dengan T kecil sebagai suatu simbol terhadap makna tertentu?

Sebenarnya ini cerita lama tentang dunia penerbitan sastra. Dunia penerbitan kita pada umumnya memang sangat lemah dalam hal penyuntingan, terlebih penyuntingan karya sastra.

Saya jadi teringat apa yang terlontar dari seorang Sapardi Djoko Damono dalam diskusi Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca (Republika, 30/9/00) tiga tahun lewat tentang lemahnya penyuntingan karya sastra. Hal ini memang kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dan rasanya beberapa tahun yang falu juga sempat terdengar keluhan seorang NH Dini tentang naskahnya yang menjadi berantakan karena ketidakpiawaian penyuntingnya.

Langkanya Penyunting, Minimnya Pengetahuan
Penyebab rendahnya kualitas penyuntingan karya ataupun buku sastra mudah sekali untuk ditengarai. Pada kenyataannya di Indonesia, ilmu penerbitan (publishing science) —yang merupakan cabang dari ilmu komunikasi— praktis tidak begitu berkembang dan tidak begitu populer. Keberadaannya seolah tersisih dari ilmu lain, bahkan ilmu ini pun hanya diselenggarakan oleh dua PTN di Indonesia dan itu pun hanya setingkat D3 (Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Penerbitan dan D3 Editing Sastra Unpad) —bandingkan dengan negara seperti AS dan Inggris yang telah menyelenggarakan pendidikan penerbitan setingkat S3. Dari dua PTN ini pun hanya Politeknik Negeri Jakarta (Jurusan Penerbitan) yang mencantumkan penyuntingan karya sastra dalam daftar mata kuliahnya. Di pihak lain, Editing Unpad yang jelas-jelas ada di Fakultas Sastra justru tidak mengadakan mata kuliah penyuntingan karya sastra.

Fenomena ini sedikit banyak berpengaruh terhadap kualitas penyuntingan buku-buku sastra. Para lulusan sastra tak serta merta bisa menyunting karya sastra karena menyunting termasuk gabungan antara seni menulis dan seni mengemas gagasan. Tidak semudah yang dibayangkan bagaimana seorang penyunting karya sastra menyusun antologi puisi, cerpen, ataupun drama.

Karena minimnya pendidikan penerbitan plus penyuntingan karya sastra, bisa diasumsikan bahwa penyunting yang bertebaran di Indonesia kini sebagian besar adalah para autodidak, Mereka hanya kebetulan "terjerumus" dalam dunia penerbitan dan menjadi penyunting atau editor (Anda bisa membaca kenyataan ini dalam buku Menjadi Penerbit terbitan Ikapi Jakarta, 2000). Namun, yang terjerumus ini terkadang juga bisa menjadi sangat ahli. Salah seorang autodidak yang sangat terkenal yang juga piawai menyunting naskah sastra adalah Pamusuk Eneste. Beliau berhasil karena beliau mencintai sastra sekaligus ilmu penyuntingan (editologi). Sampai kini beliau masih eksis sebagai penyunting karya sastra dan tampaknya kita sulit mencari generasi baru penerus pekerjaannya.

Sulitnya mencari penyunting yang andal saya alami betul di dunia penerbitan. Seorang lulusan S1 yang melamar kerja sebagai penyunting hampir pasti tidak mengetahui secara jelas apa tugas penyunting. Parahnya iagi mereka menganggap penyunting hanya sekadar pekerjaan membetulkan titik koma atau mengutak-atik bahasa. Jadi, bisa saja seorang penyunting buku sastra di sebuah penerbit hanya seorang lulusan S1 Sastra Indonesia yang sama sekali tidak memahami hakikat ilmu penyuntingan karya sastra. Akibatnya, ada batas-batas yang diianggarnya dalam etika penyuntingan dan ada hal-hal yang tidak dipahami dalam filosofi penyuntingan. Kalau sudah begini, jauh sekali mengharapkan akan berkualitasnya buku-buku terbitan penerbit Indonesia, terutama karya-karya sastra.

Mau tidak rnau, kenyataan ini bukan sekadar tanggung jawab penerbit buku untuk bisa mempekerjakan penyunting yang andal, melainkan juga tanggung jawab masyarakat dan kalangan pendidik. Tidak gampang untuk mencari seorang penyunting yang memiliki kemampuan multidimensi.

Ilmu penyuntingan hampir tak dikenal, bahkan dalam pengajaran di sekolah-sekolah kita. Jangankan mengajarkan ilmu penyuntingan (editologi), mengajarkan menulis dan mengarang saja yang merupakan karib dari penyuntingan, kita masih lemah. Seandainya keadaan ingin diubah lebih balk, berarti di setiap Fakultas Sastra minimal harus ada mata kuliah khusus penyuntingan karya sastra. Berarti lagi, di Indonesia sudah sangat mendesak diadakannya pendidikan tinggi ilmu penerbitan setingkat S1, bahkan S2. Tanpa hal ini sangat berat mengharapkan terbitnya buku-buku bermutu dari para penyunting yang autodidak. Hal ini karena bagaimanapun pengalaman dan pengetahuan mereka terbatas sehingga diperlukan beberapa tahun untuk memahami dan menerapkan editologi.

Uraian berikut bisa menjadi gambaran betapa sebenarnya penyuntingan, terutama penyuntingan karya sastra itu adalah pekerjaan berat yang menuntut keahlian khusus. Tidak semua orang dilahirkan menjadi penyunting dan terutama siap menjadi penyunting. Inilah pekerjaan yang berisiko menjenuhkan, merusakkan mata, menimbulkan rasa iri karena dirinya tidak pernah dipublikasikan, dan memungkinkan terputusnya silaturahmi dengan penulis atau pengarang karena sering berbeda pendapat.

Karya Sastra sebagai Naskah Khusus
Karya sastra dalam ilmu penerbitan digolongkan sebagai terbitan khusus dan unik (special publication). Karena itu, penanganannya pun harus khusus pula. Di antara hal khusus itu adalah perlakuan khusus terhadap bahasa sastra yang unik: perlakuan khusus terhadap penggunaan tanda baca, dan juga perlakuan khusus terhadap penggunaan istilah. Hal ini berhubungan dengan sifat karya sastra yang terkadang otonom, termasuk juga bahasanya otonom.

Interpretasi pengarang terhadap bahasa yang digunakannya mungkin berbeda dengan interpretasi umum. Karena sifatnya yang khusus, penyuntingan karya sastra pun menuntut keahlian khusus dan sensitivitas tinggi, Seorang penyunting karya sastra tidak hanya harus memastikan apakah penggunaan suatu istilah adalah disengaja atau tidak disengaja. Akan tetapi, ia juga harus mampu memastikan apakah istilah-istilah itu bisa diterima atau tidak dalam konteks tema karya tersebut. Penggunaan titik atau koma dalam puisi pada umumnya memiliki makna tertentu. Atau juga penggunaan istilah yang tidak baku, Kata catetan pada judul puisi Chatril Anwar, "Catetan Th. 1946" tentunya tidak bisa diubah seenaknya menjadi catatan. Begitupun ketika penyunting menemukan penggunaan kata yang sama, namun dengan dua penulisan yang berbeda (misalnya, kerana dan karena), editor tidak bisa menggantinya dengan serta merta menjadi bentuk yang baku. Dalam hal ini, editor harus mencari naskah autentik dari puisi tersebut atau mengkonfirmasikannya kepada pengarang.

Adalah suatu hal yang sulit untuk mengetahui berapa banyak penyuntingan yang harus dilakukan pada sebuah karya sastra. Mungkin saja nama besar pengarang turut menjadi pertimbangan untuk tidak melakukan penyuntingan berat. Namun, penyunting yang baik tentu tidak akan bersandar pada hal-hal seperti ini. Seorang pengarang dengan nama besar tak selamanya menghasilkan karya yang baik. Sebagai contoh, naskah Ernest Hemingway Man and The Sea telah mengalami penyuntingan berat sebelum akhirnya memperoleh hadiah Nobel. Karena itu, penyunting tetap harus memberlakukan penyuntingan sesuai dengan standar penanganan naskah, siapa pun pengarangnya. Hanya yang mungkin menjadi ganjalan, ada pengarang dengan nama besar merasa tak memerlukan penyunting untuk karyanya. Untuk pengarang model begini, penyunting perlu pintar-pintar menyikapinya.

Dalam penyuntingan sebuah karya, penyunting menghadapi posisi yang sulit. Di satu pihak ia harus menyunting naskah tersebut dengan benar-benar menerapkan prinsip-prinsip editologi dan di pihak lain ia harus bisa mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah diubah atau diperbaikinya dari naskah tersebut. Dengan kata lain, ia perlu menyiapkan 'amunisi' sebelum melakukan perubahan pada naskah agar mampu menghadapi protes pengarang. Namun, hal ini bukan berarti harus mencari-cari alasan untuk suatu perubahan. Di sinilah penyunting dituntut memiliki wawasan, terutama wawasan kesusastraan yang tinggi.

Apa yang perlu dipahami oleh penyunting dan merupakan etika dalam penyuntingan adalah tidak berhaknya penyunting mengubah gaya bahasa pengarang. Biar bagaimanapun gaya pengarang harus tetap dipertahankan oleh penyunting sehingga pembaca yang telah mengenal sang pengarang tetap dapat merasakan ciri khas sebuah karya sastra.

Terkadang seorang pengarang yang sadar akan keterbatasannya di bidang kebahasaan akan sangat berterima kasih kepada penyunting. Namun, penyunting perlu berhati-hati terhadap pengarang yang memang benar-benar memahami tata bahasa, sekaligus memahami pula bahasa sastra. Permainan ataupun perubahan bahasa yang dilakukannya mungkin mengandung makna tertentu yang harus dipertahankan. Karena itu jika penyunting membetulkan bahasa seperti ini tanpa konsultasi lebih dulu bisa dipastikan sang pengarang akan marah besar, seperti halnya NH Dini.

Dalam bukunya Buku Pintar Penyuntingan Naskah, Pamusuk Eneste memberikan sebuah contoh kasus menarik. Novel —sekali lagi— NH Dini yang berjudul Padang ilalang di Belakang Rumah (Gramedia, 1987) menggunakan tiga variasi kata sekaligus, yaitu kue, kuih, dan kueh. Seorang penyunting yang tidak memahami bahasa sastra mungkin beranggapan bahwa naskah ini salah ketik atau tidak konsisten sehingga kata kuih dan kueh harus dibetulkan. Tentu saja anggapan ini keliru karena dalam karya sastra mungkin saja ketiga kata tersebut memiliki makna atau nilai rasa yang berbeda sesuai dengan konteksnya. Untuk hal-hal semacam ini adalah bijak jika penyunting mengkonfirmasikannya ke pengarang yang bersangkutan sebelum mengambil keputusan untuk mengubah.

Penyuntingan tidaklah sesederhana hanya menyunting bahasa, melainkan banyak hal-hal penting di luar kebahasaan yang patut diperhatikan dengan saksama. Penyuntingan karya sastra (khususnya cerpen, novel, drama) juga menyangkut hal-hai lain yang perlu disunting, seperti plot, penokohan, perwatakan, latar, ataupun tema karya sastra itu sendiri. Misalnya, dalam hal penokohan, seorang pengarang akan menampilkan tokoh rekaan yang didasarkannya pada tokoh dalam dunia nyata, tetapi pada suatu ketika pengarang pun akan menempatkan tokoh yang benar-benar ada di dunia nyata dengan nama yang persis sama. Dalam penempatan tokoh dari dunia nyata ini, penyunting perlu meneliti biografi sang tokoh, dari mulai watak, tempat tinggalnya, asal daerahnya, dan hal lainnya sehingga benar-benar relevan dengan apa yang ditulis dalam naskah. Dan khusus untuk karya yang mungkin menampilkan tokoh-tokoh begitu banyak dengan karakter yang berbeda, dianjurkan sang penyunting menggambarkan pohon silsilah tokoh untuk menghindarkan tertukarnya karakter ataupun nama tokoh dalam cerita.

Masalah-masalah Khusus
Seorang penyunting karya sastra perlu tanggap dan siaga terhadap hal-hal yang menyangkut keselamatan (safety). Penyunting harus memastikan bahwa semua bahan dalam karya sastra tersebut adalah autentik dan merupakan ide orisinal dari pengarangnya. Yang dihindarkan tentu saja adanya kutipan-kutipan yang melanggar hak cipta atau unsur-unsur plagiat, hal-hal menyangkut pornografi, penghinaan terhadap orang/agama (ingat kasus Satanic Verse!), dan termuatnya kasus SARA.

Pada masa ORBA, karya sastra termasuk buku-buku yang dicurigai plus ditakuti secara berlebihan oleh pemerintah. Pengarang yang selalu "diabaikan" oleh penerbit Indonesia salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer. Karya sastranya dianggap berbahaya sehingga dilarang terbit. Begitupun dengan sajak-sajak Rendra, beberapanya pernah dilarang terbit di sini.

Namun, keadaan kini telah berubah jauh. Novel Pramoedya akhirnya bisa terbit dan dijual bebas, Begitupun sajak-sajak yang berisi kritik pedas terhadap pemerintah, seperti sajak Rendra, bebas dipublikasikan. Walaupun demikian, tetap ada hal-hal sensitif yang harus diperhatikan penyunting dalam menangani karya sastra seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga menyangkut peristiwa atau tokoh dalam karya sastra yang mungkin seakan benar-benar ada. Atau karya itu menggambarkan tempat, tokoh, dan kejadian yang benar-benar terjadi. Mengenai hal ini, penyunting perlu berkcnsultasi dengan pengarang untuk menghindari risiko diprotesnya karya tersebut. Kasus pemrotesan terhadap karya sastra karena dianggap tidak sesuai dengan kenyataan pernah terjadi pada novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini memaparkan satu tradisi ronggeng yaitu bukak klambu, Ahmad tohari, pengarang novel ini menggambarkan bahwa tradisi ini adalah penyerahan keperawanan seorang gadis yang baru dinobatkan menjadi ronggeng kepada siapa yang mampu membayarnya lebih tinggi. Tradisi bukak klambu dalam novel ini digugat oleh masyarakat tempat berkembangnya tradisi ronggeng tersebut. Tokoh masyarakat setempat menyatakan bahwa tradisi itu tidak pernah ada dalam ronggeng dan menganggap Tohari hanya mengada-ada. ini memperlihatkan bahwa terkadang masyarakat juga mengaitkan sastra yang tergolong imajinatif harus dekat pula dengan kenyataan sebenarnya. Padahal, dalam sastra tentu bisa saja muncul imajinasi yangtak pernah ada.

Kasus seperti ini jelas memerlukan perhatian penyunting. Hal-hal yang menyangkut budaya dari satu masyarakat yang memang benar-benar ada perlu diteliti kebenarannya. Yang jelas karya sastra bukan sekadar karya fiksi (khayalan) belaka, tetapi ada kalanya karya itu akan bersentuhan dengan dunia nyata atau didasarkan dari kisah nyata. Mungkin akan teramat sulit jika seorang penyunting harus berhadapan dengan karya sastra yang justru didasarkan pada kisah sejarah, misalnya Surapati atau Ken Arok. Sang penyunting di satu sisi harus mempertahankan karya tersebut sebagai karya sastra: dan di sisi lain juga harus menguji kebenaran karya tersebut dengan fakta sebenarnya. Batas antara khayalan dan kenyataan menjadi tipis sekali.

Tanpa Tanda Jasa
Seorang penyunting memang menghadapi tugas begitu berat, di samping juga ia harus menanggung cercaan yang hebat jika berbuat teledor. Karena itu, penyunting bukan sebuah profesi yang gampang bagi orang yang tidak memahaminya. Seorang penyunting karya sastra menurut Elizabeth Flann dan Beryl Hill dalam The Australian Editing Handbook adalah keturunan yang sangat istimewa. Mereka mengeluarkan keputusan tanpa cela, memiliki keahlian dan kebijaksanaan luar biasa, memiliki ingatan sempurna untuk hal-hal yang sepele; mampu menyimpan beberapa tema dan subtema dalam benak mereka pada satu saat, dan juga memiliki stamina yang cukup jika saja menerima telepon pada tengah malam dari pengarang yang marah besar karena titik koma pada naskahnya dihapus.

Dengan kriteria seperti itu berat memang untuk menemukan seorang penyunting karya sastra seperti yang diinginkan Sapardi ataupun NH Dini. Selain memang ilmunya sendiri tidak populer dan jarang diajarkan di Indonesia, posisi penyunting pun sering menjadi tidak mengenakkan. Bayangkan, dalam peluncuran sebuah karya, nama penyunting hampir pasti tak pernah disebut sekalipun, apalagi jika karya itu sukses luar biasa, Kebalikannya, ia akan menjadi sumber cercaan jika ternyata karya itu mengandung banyak kesalahan atau gagal di pasaran. Namun, terlepas dari semua itu, penyunting yang andal tetap harus dilahirkan di Indonesia ini jika kita memang menginginkan terbitnya karya-karya sastra yang bermutu di Indonesia. Tentunya kita tidak berharap bahwa karya sastra yang telah beredar di masyarakat justru menyimpang dari karya aslinya karena disunting oleh orang yang tidak paham sastra seperti yang dilakukan oleh mahasiswa saya tadi.

Bambang Trimarisyah, alumnus Editing Unpad, praktisi penerbitan dan konsultan perbukuan.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 7/ Februari 2003

Mengimani yang Gaib Lewat Buku

Kecenderungan Buku-Buku Mistik
Fenomena maraknya buku-buku yang bertutur gaib/mistik seperti terbitan Bethlehem Publisher: Dunia Pelet: Kutuk Di Balik Hawa Nafsu, Dunia Santet, Dunia Roh-Penyingkiran Misteri Sihir Dunia Jimat-Pusaka Pembawa Petaka, Dunia Mantra-Bahasa dari Neraka, dengan penulis Daud Tony dan Timotius Arifin; atau terbitan CV. Aneka (Solo), Masruri, Imam Suraso, Abdul Hamid Zahwan, Romo Kyai Drs. Hartoyo dengan judul-judul buku yang tidak kalah menariknya: Mengungkap Kasus Kejahatan Versi Alam Gaib, Membuang Sial-Meraih Keberuntungan, Rahasia limu Qodam, Praktek Mengusai dan Mendayagunakan Telepati-Komunikasi Magis Jarak Jauh, Kitab Kanuragan dan Mantra Asmara, dan masih banyak lagi, Masruri saja paling tidak telah menulis 70 buku bertema gaib, semua diterbitkan oleh CV. Aneka. Tidak hanya terbatas pada dua penerbit di atas, rupa-rupanya Buana llmu Populer (dari kelompok Gramedia) tidak mau ketinggalan, turut pula menerbitkan buku Misteri di Sekitar Kita-Koleksi Cerita-cerita Misteri. Cerita-cerita menarik yang benar-benar terjadi tentang dunia roh, alam gaib dan misteri yang tak terpecahkan, demikian bunyi tulisan yang menghiasi sampul depan buku ini. Masih tentang buku gaib, penerbit Pustaka Misteri dengan penulis Prayogo Gemilang mengeluarkan buku Teror Makhluk Jadi-jadian dan Misteri Kebangkitan Arwah. Dua buku itu disebut sebagai buku yang membongkar fenomena-fenomena tak terjawab melalui sejumlah kesaksian dan kisah nyata, ditulis berdasarkan hasil investigasi dan reportase si penulis.

Apa makna dari itu semua? Belum ada penelitian atau data statistik yang pasti, apakah peminat tema-tema buku-buku mistik ini pendatang baru atau para pecinta buku yang telah lama meminati dan menggeluti buku. Yang pasti, tema gaib dan mistik sekarang mulai ramai diperbincangkan dan menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan, rating acara-acara televisi tentang dunia mistik dan gaib cukup tinggi. Sekadar menyebut contoh "Kismis-Kisah Misteri" (RCTI), "Dunia Lain" (Trans TV), "Saksi Misteri" (Lativi), "Oh Seram" (ANTV), dan "Susuk Kantil Nyi Roro Kidul" (TPI) terus saja menduduki 5 besar tangga persinetronan Indonesia. (Dalam cacatan penulis paling tidak ada sekitar 23 paket program acara televisi berupa sinetron berbasis gaib). Itu yang produk lokal, sedangkan produk manca negara, seperti film seri "Charmed", "Buffy The Vampire Slayer", "The X-Files", juga tidak kalah digemari penonton. Di radio, sekadar contoh kita kenal program acara Nigtmare on the air di Radio Imelda FM-Semarang, atau Nightmare di Ardan FM-Bandung, serta radio-radio lainnya.

Tabloid dan majalah yang mengkhususkan diri menggarap tema ini mulai bermunculan bak cendawan di musim penghujan: Misteri, Misterius, dan yang terbaru adalah majalah Ghoib dengan sesanti "Mengimani yang Ghoib Secara Syariah", menyusul tabloid Posmo, juga majalah Liberty dengan 32 halaman bonus sisipan di seputar dunia gaib. Bahkan majalah Hai, yang dikenal sangat ngepop, dengan segmen pasar remaja dan anak muda (remaja-pelajar), menjadikan gaib/hantutainment sebagai tema utama, pada edisi 28 Oktober-8 November 2002. TH XXVI No. 43.

Herannya lagi jika kita search situs tentang mistik dan spiritualisme di internet, kita akan mendapatkan angka yang fantastis. Bob Jacobson, pimpinan Blue fire Consulting, menyatakan bahwa hasil pencarian melalui search angine, situs spiritual/mistisisme lebih banyak dibandingkan situs porno.

Tapi apa pun kecenderungannya, dunia penerbitan tidak dapat dilepaskan dari hukum pasar supply and demand, ada permintaan tentu ada penawaran, Minat masyarakat yang besar terhadap hal-hal yang berbau mistik dan gaib membuat para penerbit mencoba meraih peruntungan. Taruhlah CV. Aneka yang mengkhususkan diri menerbitkan buku-buku yang berbau mistik dan klenik. Buku-buku simple (tidak terlalu tebal, data apa adanya) dengan judul yang atraktif, misalnya: Memahami Dunia Tuyul, Ilmu Ngrogo Sukmo, atau Membuka Indera Keenam laris-manis bak kacang goreng, Minat masyarakat dengan buku tema gaib ini semakin terdongkrak oleh imbas gencarnya media-media massa tulis dan elektronik yang berlomba-lomba menayangkan dan mengupas persoalan dunia gaib.

Tentu saja ada hal yang unik kalau dicermati dalam perkembangan buku-buku tentang mistik. Meski mereka sama-sama mencoba mengupas tentang dunia gaib, uniknya spektrum kegaiban yang dikupas dalam buku bisa berbeda-beda. Bisa jadi meskipun berbicara tentang tema mistik namun persepsi pengarang buku yang satu dengan yang lainnya berbeda. Apa yang disebut mistik dalam satu buku bisa bermakna tahayul dalam buku lain. Begitu juga apa yang disebut mistik dalam sebuah buku bisa bermakna spiritual dalam buku yang lain. Kalau buku-buku dengan tema tasawuf kita baca dimasukkannya mistik dan unsur yang gaib ke dalam bahasan spiritualisme. Maka berbeda dengan buku-buku terbitan CV Aneka. Dalam buku-buku tersebut mistikisme bisa bermakna perklenikan atau bahkan sekedar fenomena sosial-budaya.

Apa pun tema dan bagaimana sudut pandang penulis buku-buku tentang hal ihwal gaib tentu jika diperdebatkan bisa memakan waktu dan mungkin tidak akan pernah mengalami titik temu. Hal ini bisa terjadi karena faktor beragamnya latar belakang sosial penulisnya, Seorang penulis buku yang berbau gaib dengan latar belakang agama formal yang ketat tentu mempunyai tafsir yang berbeda bila dibandingkan dengan penulis buku gaib yang berlatar belakang sosial abangan (dalam terminologi Greetz), Masyarakat sendiri juga memiliki beragam sebutan bagi mereka yang memiliki daya linuwih dalam dunia gaib ini. Ada sebutan paranormal, ki, mbah, dukun atau sebutan kyai. Anehnya bisa jadi mereka mengulas tentang fakta yang sama namun akan berbeda dalam implikasi sosialnya.

Kanalisasi
Tulisan ini tentu saja tidak sedang membandingkan beragamnya buku gaib di tengah masyarakat. Bukan mana yang lebih benar (benar menurut apa dan siapa?) yang akan diminati para pencinta buku. Namun maraknya buku dengan tema gaib ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari latar belakang dan konteks sosial dan situasi-kondisi masyarakat peminatnya.

Akhir abad ke-20 modernitas dengan rasionalitas empirisnya mengalami anti klimaks, yakni ketika kajian ilmu-ilmu pengetahuan modern mengalami kebuntuan karena tidak mampu lagi menguraikan fenomena yang ada secara akurat. Pengetahuan mengalami pergeseran, dalam istilah Fritjof Capra disebut sebagai turning-point (titik balik). Ekses dari modernitas yang menyeret manusia pada kegersangan rohaniah karena paradigma yang berkembang, terutama dalam ilmu pengetahuan yang dipandang mengabaikan unsur nilai-nllai normatif. Akibatnya, manusia mencoba mencari solusi pencerahan batin dengan menekuni kegiatan yang bernuansa spiritual sebagai katarsis jiwa yang sedang resah oleh problema hidup (krisis).

Menurut Ahmad Najib Burhani, ada kehausan spiritual pada masyarakat sebagai akibat dari paradigma modernisme yang materialistis. Hal ini merupakan akibat banyaknya ketidakpastian dalam hidup manusia sehingga dibutuhkan sebuah nilai yang mampu membawa pencerahan batin (insight) yang dapat mendamaikan hidup. Ini bersesuaian dengan Neil Mulder yang mengatakan bahwa ciri kebangkitan spiritualitas tersebut karena adanya tingkat ketidakpastian yang mengarah pada krisis.

Kebuntuan hidup seakan tengah menghadang jalan lempang ke masa depan. Rutinitas hidup bagi kebanyakan masyarakat menjadi sangat membosankan. Di tengah kegamangan, jika tidak boleh dikatakan keputusasaan dalam menjalani hidup ini, masyarakat terusik dengan sebuah pertanyaan: Adakah kehidupan yang lain (baca: gaib), yang berbeda dengan rutinitas hidup yang membosankan dan menyengsarakan ini? Inifah celah yang coba dijawab oleh para kreator tulis. 

Asumsi tersebut bisa diartikan sebagai adanya permintaan dalam hukum pasar (demand create it's own supply). Minat masyarakat yang semakin luas terhadap tema ini merupakan pangsa pasar tersendiri. Lalu penerbit pun menjawab kegelisahan masyarakat: Ada! Ada suatu dunia ajaib yang sangat berbeda dengan dunia keseharian kita yang membosankan dan menyengsarakan ini. Maka dunia kepenulisan didukung oleh penerbit beserta jaringannya berlomba-lomba menulis tentang dunia lain, dunia yang gaib, dunia yang diidamkan oleh kebanyakan masyarakat dewasa ini. Kebenaran fakta menjadi sesuatu yang tidak penting. Psikologis masyarakat harus segera mendapat kanalisasi. Keluh kesah mereka harus diredam dan didamaikan dengan menawarkan sesuatu dunia lain yang jauh berbeda dengan realitas keseharian.

Buku-buku gaib, mistik, dan klenik yang beredar setidaknya dapat menentramkan psikoiogis masyarakat. Dunia eskapis dan iman kepada yang gaib pada akhirnya menjadi arena tamasya ke dalam dunia rekaan. Istilah-istilah ruwatan, larung atau membuang sial, pesugihan, dan lain-Iain kini sangat akrab di mata pembaca buku-buku gaib. Sepertinya penerbit sendiri kurang peduli dengan muatan substantif buku-buku tersebut. Meski ada pula satu dua buku yang bermutu, namun lebih banyak yang asal-asalan. Dari segi objek pembahasan, memang sudah keberagaman namun sayang dari sisi penggarapan buku kurang kreatif. Lay-out buku yang ala kadarnya, cara bertutur yang seringkali berisi pengulangan-pengulangan, dan ilustrasi yang asal "nampang" dan terkesan sebatas memenuhi ruang (space) dan menambah ketebalan halaman buku -menunjukkan bahwa kebanyakan buku tidak digarap secara serius. Bahkan, beberapa buku hanya mengandalkan pengalaman aktual penulisnya dalam menggeluti dunia klenik tanpa didukung oleh referensi yang memadai apaiagi oleh data statistik.

Yang terjadi kemudian adalah betapa pembahasan buku dengan tema gaib lama kelamaan menjadi monoton. Pembaca buku serius di luar peminat hal gaib yang ingin menambah wawasan tentu akan kecewa bila mencermati isi kebanyakan buku-buku tersebut. Penerbit harus menyadari bahwa buku-buku tersebut tidak akan bisa terus bertahan bila hanya mengandalkan pangsa pasar tradisionalnya, yaitu komunitas masyarakat yang memang telah memiliki kencedurungan terhadap hal-hal yang sifatnya supranatural dan gaib.

Tentu saja pangsa pasar buku yang bertema mistik ini juga harus dicerdaskan. Sudah waktunya penerbit, dan penulis memikirkan lahirnya buku yang bisa jadi sangat berbeda dalam melihat fenomena gaib ini, meramu buku yang tidak hanya melihat ke-gaib-an sebagai sesuatu yang mendebarkan, menakutkan, menyeramkan, atau membuat bulu kuduk berdiri. Selama ini, pengertian mistis/gaib direduksir sebatas paranormal, dukun, shinse, peramal, tukang sihir (subjek mistis); objek mistis disederhanakan sebatas hantu, tuyul, dedemit, genderowo, setan, jin, kuntilanak, sundel, dan roh; dan medium mistis dibatasi dengan istilah-istilah ramalan, santet, tenung, teluh, kesurupan, pelet dan kebatinan. Padahal tidak tertutup kemungkinan mengupas yang gaib dan menyajikannya kepada pembaca sebagai sesuatu yang fun, rileks, sekaligus berpengetahuan dan mencerdaskan, bukannya semata-mata berorientasi jangka pendek, instan, dan pragmatis.

Untuk lebih mempermudah bayangan kita tentang content "buku gaib" yang berpengetahuan, kita bisa belajar pada majalah Warta Parapsikologi yang terbit sekitar tahun 1982 —sayangnya, kini telah almarhum. Pembahasan tentang mistis dijelaskan dengan uraian yang sistematis sehingga secara logika masih bisa diterima, rasional dan ilmiah. Majalah ini, misalnya, membahas ESP (Extra Ordinary Preception) yang dijelaskan secara detail dan sistematis.

Bila penerbit ingin meraih pangsa pasar yang lebih luas, dan memiliki prospek cerah ke depannya, tidak ada pilihan selain melakukan dekonstruksi dalam semua hal yang pernah "diimani" oleh kebanyakan pembaca buku gaib sebagaimana yang terjadi selama ini.

Agus Irkham & Ery Wibowo (Pengelola Toko Buku OaseBaca Semarang, Komunitas Pasar Buku Indonesia)
Majalah Mata Baca Vol. 1/ No. 7/ Februari 2003

Seratus Tahun Meninggal Friedrich W. Nietzsche

Seperlima hidup Friedrich Nietzsche gila dan berakhir dengan seperenam hidup lainnya terpadu dari lumpuh dan gila. Ketika pertama kali jatuh menjadi gila di jalan-jalan kota Turin, Franz Overbeck bergegas dari Basel tanggal 8 Januari 1889 pergi ke Turin menjemputnya. Terkejut menemukan Nietzsche bermata liar terbahak-bahak dalam keadaan mengerikan tergolek di sofa hotel, menggeram liar dan bangkit menari-nari. Meneriakkan diri sebagai: Yang Tersalibkan. Anti-Kristus. Dionysos. Caesar. Raja Italia. Memuja Cosima Wagner (putri Franz List), janda mendiang musikus Richard Wagner dengan nama mitis: "Adriadne, aku cinta padamu. Dionysos, Yang Tersalibkan."
 
Itulah Friedrich Nietzsche (FN) si Dionysos dalam delirium tremens menulis surat edan kepada teman dekat di awal kegilaannya di Turin. Mengapa gabungan tokoh fakta dan fiksi: Anti-Kristus Yang Tersalibkan dan Dionysos: si dewa anggur, kesuburan, phallus dan ekstase, suami dewi Adriadne dipilih menjadi alias FN? Dalam buku Ecce Homo pernah ia gariskan identifikasi perbedaan Dionysos dan Kristus
dengan aforisme khas nietzschean: "Dionysos, Ya untuk Hidup dan Ya untuk Derita. Kristus, Ya untuk Derita dan Tidak untuk Hidup". FN tidak peduli jarak perbedaan di antara tokoh Rekayasa (Dionysos) dan Nyata (Kristus). Entah dalam kesadaran moral Ya untuk menderita FN konon menurut catatan dokter Rumah Sakit Jiwa Universitas Jena sering melumar diri dengan tahi sendiri dan mengumbar kata-kata: "isteriku Cosima Wagner telah membawa aku ke sini", atau "Malam tadi aku tidur dengan 24 perempuan peiacur".

Museum Schiller kota Weimar, bekas pusat Imperium Jerman (Deutsches Reich) merayakan '100 Tahun Meninggal Nietzsche' pada 25 Agustus 2000 dengan pameran Arsip-Nietzsche yang berlangsung sembilan bulan (April-Desember) tahun 2000. Kepala Yayasan Klasik Weimar Bernd Kauffmann memperkirakan daya tarik turisme paling tidak mencapai angka 30.000 orang hingga pameran berakhir 31 Desember.

Namun hingga akhir Oktober 2000 pameran Arsip-Nietzsche ternyata baru meraih angka 6500 pengunjung. Bahkan lebih sedikit dari angka 10.000 tahun 1999. Kesungguhan minat kunjungan pada Rumah Goethe di Weimar tampaknya tetap meraih perhatian pengunjung nomor satu dengan angka 23.000 orang, pun dalam tandingan acara 100 tahun meninggal Nietzsche tahun 2000.

Pers lokal Jerman mencatat satu-dua berita peringatan "100 Tahun Meninggal Nietzsche" di beberapa kota Jerman. Pada puncak peringatan 25 Agustus 2000 di bekas Imperium Jerman Weimar, Peter Sloterdijk si Juru bahasa Nietzsche dewasa ini membawakan ceramah bernyali profetik: "Die Verbesserung der frohen Botschaft: Nietzsches Uberhumanismus" (Perbaikan Terhadap Kabar Perutusan Gembira [Injil]: Purna-humanismus Nietzsche). Ceramah itu tidak bergaung sehebat ceramah "Regein fur den Menschenpark" yang dituduh sebagai Proyek Zarathustra di Puri Elmau setahun sebelumnya. Peter Sloterdjik memang telah dikontrak sejak Oktober 1999 menjadi profesor tamu pada lembaga yang baru didirikan Stiftung Weimarer Klassik tahun 1999: Kolese Nietzsche untuk Filsafat Mutakhir (Nietzsche-Kolleg fur Gegenwartsphilosophie).

Di Rocken Negara Bagian Sachsen-Anhalt tempat pekuburan keluarga Nietzsche, berziarah sekitar 200-an simpatisan ke kuburan Nietzsche (resmi menjadi Monumen Negara tahun 1986) pada 25 Agustus siang itu. Tak jauh dari sana di Naumburg: tempat tinggal masa kecil dan muda Nietzsche diadakan acara penyerahan "Hadiah Friedrich Nietzsche" Negara Bagian Sachsen-Anhalt sebesar DM 30.000 kepada Rudiger Safranski. esais/penulis asal Berlin untuk buku dia terbaru: Nietzsche, Biographie seines Denkens (diterbitkan Penerbit Carl Hanser, Munchen Wien, 2000).

Di Hamburg bertempat di Akademi Evangelis Esplanade 15, FN dikenang dengan pembacaan korespondensi surat-menyurat antara Nietzsche dan Franz Overbeck dilakukan Rolf Becker dan Erik Schaffler dengan pungutan tiket masuk DM 10/DM 5. Dalam bagian kota Hamburg lain di "Literaturhau" (Rumah Sastra) Schwanenwik seminggu sesudahnya tanggal 1 September diadakan acara yang disebut "Kafe Filsafat" (Das phiiosophische Cafe) bertema "Nietzsche" menampilkan pembicara Rudiger Safranski dan Theo Ross (pembuat film) dengan tiket masuk DM 12/DM 6.

Diberitakan pula peringatan dengan berbeda motif wujud terjadi di beberapa negara: Yunani, Italia, Denmark, Belanda, Swis dan Israel. Sementara jauh di seberang "6000 Fut jenseits von Mensch und Zeif" (6000 kaki di seberang jarak manusia dan waktu) di luar jarak stilistikyang dipergunakan FN tanpa diketahui pers Jerman di Jakarta (Goethe Institut) dipentaskan pembacaan-dramatik Teaterawan Bandung Wawan Sofwan mengenang "100 Tahun Meninggal Nietzsche" 25 Agustus 2000 dengan peluncuran edisi Indonesia pertama kali terjemahan buku FN "Maka Berbicaralah Zarathustra" (Also Sprach Zarathustra) disertai 'Teks Pengantar' Dami N.Toda (Universitas Hamburg) diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende. Pementasan itu tak lebih dari kepedulian terhadap 'sastra Nietzsche' dengan teks episode "Awal Bicara" (Vorrede) Zarathustra Buku I. Pementasan serupa telah diawali tanggal 23 Agustus di Bandung, dan atas permintaan peminat terbatas dipentaskan lagi tanggal 3 September di Bandung disertai diskusi tentang Nietzsche.

Peringatan 100 tahun arwah Nietzsche tahun 2000 di Jerman rupanya ditandai pula dengan ledakan penerbitan Nietzsche. Dalam setahun itu terbit sekitar 50-an judul baru topik Nietzsche menambahi 1500-an jilid yang telah terdokumentasi di rak buku Bibtiotek Jerman Frankfurt. Terbitan paling mendapat pujian resensi surat kabar hingga memperoleh "Hadiah Friedrich Nietzsche" tahun 2000, ialah karya Safranski berjudul; Nietzsche Biographie seines Denkens (Nietzsche, Biografi Pemikiran Dia). 399 halaman. Dengan itu Safranski sudah pula terbukti berjasa baik sebelumnya dengan penulisan biografi Arthur Schopenhauer dan Martin Heidegger (i.e. tokoh terdahulu dikagumi FN.. tokoh kedua mengagumi FN).

Terbitan lain FN bervariasi antara sungguh-sungguh dan ringan hingga produksi untuk buku hadiah, antologi, pengantar, anekdot dan biografi singkat; dapat disebutkan pajangan beberapa judul: Friedrich Nietzsche, Chronik in Biidern und Texten (Penerbit Hanser, Munchen), Nietzsche (karya Friedrich Volker Gerhardt, Penerbit Beck, Munchen), Dertolle Mensch (karya Christoph Tiircke, Penerbit Zu Klampen, Liineburg), Derangstliche Adler: Friedrich Nietzsches Leben (karya Werner Ross, Penerbit Kastell, Munchen), Friedrich Nietzsche: Biographie (karya Curt Paul Janz, Penerbit Zweitausendeins, Frankfurt), Samtliche Briefe (Terbitan Kritische Studienausgabe, 8 Jilid), Samtlich Werke (susunan Giorgio Colli dan Mazzino Montinari, terbitan Kritische Studienausgabe, 15 jilid), Werke (susunan Karla Schlechta, CD-Rom, Directraedia, Berlin), Weisheitfiir Ubermorgen (susunan Heinz Friedrich, terbitan dtv, Munchen), Nietzsches ietzter Traum (karya roman Joachim Kohler, Penerbit Blessing), Nichtkalt Genug (karya roman biografi Bernhard Setzwein, Penerbit Haymon), Nietzsche zum Vergnugen (Penerbit Reclam), Antologi dari Nietzsche-Texten zur "Kunst der Gesundheit", Nietzsche -der gute Europaer (karya Knesebeck), Biographie in Biidern dengan foto-foto panorama, "Bibei" derNietzsche-Exsgese (15 Jilid), Terbit kembali Nietzsche und der Faschismus (karya Berhard Taureck, Penerbit Reclam), Nietzsche und die Versuchung des Antisemitismus (karya Fritz Stern, Penerbit Schwabe & Co), Nietzsche und die Deutschen (karya Steven Aschheim, penerbit Metzler), Frauen urn Nietzsche (karya Mario Leia, Penerbit Rowohlt), Vergiss die Peitsche (Karya Carol Diethe, Penerbit Europa) dan lain-lain.

Tak kalah sensasional dalam terbitan bertema Nietzsche tahun 2000 ialah sumbangan kota Yogyakarta Indonesia. Koleksi FN Bibliotek Jerman (Deutsche Bibliothek) di Frankfurt pantas dilengkapi sensasi tersebut, Dua versi terjemahan Indonesia dari sumber terjemahan Inggris Thus Spake Zarathustra terbit bersamaan bulan September 2000 di Yogyakarta menyusul terbitan terjemahan pertama kali versi bahasa asli Jerman (Also Sprach Zarathustra) tiga bulan terdahulu (Juni) oleh Penerbit Nusa Indah, Ende. Terbitan Yogyakarta ke-satu berjudul: Zarathustra. Hasil terjemahan bersama; H.B. Jassin, Ari Wijaya, Hartono Hadikusumo diterbitkan Yayasan Bentang Budaya (cetakan pertama September 2000, 572 halaman, termasuk terjemahan tulisan 'Pendahuluan' Robert John Hollingdale (2000; 3-46), penerjemah karya FN tersebut ke dalam bahasa Inggris. Dilaporkan terjemahan berdasarkan terjemahan Inggris Thus Spoke Zarathustra, Penguin Books 1977 dengan membandingkan naskah asli Also Sprach Zarathustra.

Terbitan Yogyakarta ke-dua berjudul; Sabda Zarathustra terjemahan Sudarmaji dan Ahmad Santoso, diterbitkan Penerbit Pustaka Pelajar (cetakan pertama September 2000, 497 halaman, termasuk "Catatan Penerjemah" (2000: 5-23) dan terjemahan "Kata Pengantar Elisabeth Forster-Nietzsche (1905)" (2000: 25-44). Diterangkan terjemahan bersumber pada edisi Inggris Thus Spake Zarathustra.

Kegairahan Yogyakarta menerbitkan karya FN akhir abad 20 merupakan kelanjutan 'mitos' FN tiba di Indonesia sejak penerbitan Ecce Homo, Lihatlah Dia Friedrich Nietzsche (Penerbit Pustaka Pelajar, cetakan ke-1 Februari 1998, cetakan ke-2 September 2000, 172 halaman) terjemahan Omi Intan Naomi dari edisi Inggris karya FN oleh R.J, Hollingdale Ecce Homo, How One Becomes What One Is (Penguin Book 1979, 1992).

Terbitan lain, ialah Senjakala Berhala dan Anti-Krist terjemahan Hartono Hadikusumo dari edisi Inggris The Twilight of the Idols and the Anti-Christ (Penguin Books 1968) terbitan Yayasan Bentang Budaya, cetakan ke-1 Juni 2000, cetakan ke-2 Agustus 2000, 345 halaman. Tahun 2001 masih menyusul pula repro buku cergam (cerita bergambar karikatur) susunan Marc Sautet dan gambar besar-besar karikatur karya Patrick Boussignac berjudul "Nietzsche for Beginners" (1990) terbitan Writers and Treaders Publishing, Inc. London, edisi Indonesia diterbitkan Penerbit Kanisius Yogyakarta terjemahan teks dilakukan Imelda Kusumastuty berjudul: Nietzsche untuk Pemula. Buku cergam berpenampilan esais itu secara visual menarik dengan teks singkat-singkat dengan kesimpulan gampangan bernyali meniup studi Nietzsche dengan metode 'pompa sepeda' perbengkelan pinggir jalan.

Lebih sungguhan mungkin menyaksikan pertarungan esai tajuk dua mingguan berita terkemuka Jerman mengenang 100 Tahun meninggal Friedrich Nietzsche (FN) 25 Agustus 2000. Der Spiegel (Nr.34/21 Agustus 2000: 190-8) bermarkas di Hamburg menurunkan esai tajam Johannes Saltzwedel berjudul: "Si Pembunuh Tuhan" (Der Morder Gottes). Sangat menarik pertanyaan gencar dan kesimpulan kritis yang menjadi subjudul tulisan Saltzwedel: "Siapakah Friedrich Nietzsche - seorang Nihilis sastra-seorang Purna-Manusia sinting, seorang Pemikir-garda depan Ras dan rekayasa peternakan-ras (manusia)-unggul, ataukah memang dia seorang filsuf jenius? Seratus tahun sesudah meninggalnya barulah tampak jelas dia berciri: Seorang Pemain-pemikiran visioner (ein visionarer Gedanker-Spieler)".

Mingguan Focus (Nr.34/21 Agustus 2000: 80-6) bermarkas di Munchen menurunkan esai Peter Sloterdjik. Dengan stilistik literer berbicara dari mimbar ala FN yang menilai Hidup (das Leben) sebagai "ein Experiment des Erkennenden" (sebuah eksperimen orang pintar), Peter Sloterdjik mewartakan peringatan 100 Tahun meninggal FN berjudul "Abad pertama Nietzsche" (Nietzsches Erstes Jahrhundert). Wacana subjudul Peter Sloterdjik bergaya menunjuk: "100 Tahun meninggal Sang Filsuf menantang imbangan pemikiran dan dampak" (Der 100. Todestag des Philosophen fordert zur Bilanz seines Denkens und seiner Wikung heraus).
 
Peter Sloterdijk seperti melayang-layang bersama roh FN di atas "bayangan kelabu langit utara" (= metafor sastra kesukaan FN) dengan impuls pertanyaan 'pertarungan nilai' diaktualkan dalam wacana mimpi visioner FN: "Bagaimana orang Eropa tiba pada sebuah era "Injil" ke- 5? (Wie kommen die Europaer zu einem funften Evangelium?)". Pertanyaan yang bertolak dari ilusi bilangan 'angka' Injil- "Leit-Zahl des freien Geistes" (Angka-Penentu Ruh rnerdeka) yang "mau lain" (Anders-wollend), i.e. "Angka 5"! Sementara Kristologi hanya melulu mengenal angka "4" Injil (4 Evangelia) berdasarkan penulis: Matheus, Johanes, Markus, Lukas. Angka "Injil ke-5" (Leit-Zahl 5 itu merupakan "Injil-visioner Nietzsche" yang mengelu-elukan penebusan "Europaer" (Ras Eropa) kejenjang Anti-Krist(us) diajarkan sang Purna-Manusia (Obermensch), tokoh sastra FN 'Zarathustra'.

Berlainan dengan esai interpretatif literer Peter Sloterdijk, esai Johannes Saltzwedel kritis menilai setelah 100 tahun meninggal FN barulah tampak jelas ia berciri: Seorang Pemain-pemikiran visioner (ein visionarer Gedanker-Spieler). Dalam gaya subjunktif miris pada tragedi manusia FN menulis Saltzwedel: "Dia agaknya martir dari sebuah kebenaran"... "Badut dari keabadian-keabadian baru (Possenreisser der neuen Ewigkeiten)". Sambil menimang argumen wacana Vorrede 2 (Awal Bicara 2) dari FN sendiri di dalam karya "Kebendak untuk Berkuasa" (Der Wille zur Machi): "Apa yang hendak aku kisahkan, adalah sebuah kisah dari dua abad berikut..." dan ramalan visioner yang telah ditulis FN sendiri: "Sulit mengenali siapa aku, kita tunggulah seratusan tahun -hingga masa itu mungkin terdapat seseorang jenius pengenal manusia, yang menggali siapa gerangan Tuan FN itu" (Friedrich Nietzsche 1885). Perlukah menanti putaran waktu 100 tahun lagi untuk macam temuan "mainan-pemikiran visioner" FN lain? Cuma satu kemungkinan sudah dapat dipastikan, bahwa Jerman tercatat sebagai korban interpretasi "permainan visoner" paruhan putaran pertama abad 20 di bawah resepsi Fasisme Nazi Hitler, Kedambaan pada penebusan 'Heroische Humanitat' -suatu konsep kemanusiaan pahlawan- ternyata sangat provokatif dan amis bila didarah-dagingkan pada semacam rekayasa Purna-Manusia -atau bioteknologi peternakan manusia ras, seperti tuduhan 'proyek Zarathustra' diarahkan kepada ceramah provokatif Peter Sloterdjik berjudul: "Regelnfur den Menschenpark" (Aturan untuk Per-taman-an Manusia) di Puri Elmau, Bayern-Atas, menjelang akhir Juli 1999.

Tema pemalsuan tercipta menjadi satu dengan mitos Nietzsche dalam sejarah. Pemalsu atau para pemalsu mestinya orang luar diri FN, seperti juga para penafsir pemuja dan pemitos. Pemandangan janggal terekam pada saat kesibukan persiapan "Pameran 100 Tahun Meninggal Nietzsche Tahun 2000" di Weimar. Juru Arsip Nietzsche, Roswita Wohlkopf, memilih tidak melibatkan diri. Ketika ditanya wartawati Angelika Overath mengapa tidak meiibatkan diri, Roswita Wohlkopf hanya tersenyum melambaikan tangan dan beralih kepada kesibukan lain.

Angelika Overath pernah menulis artikel: "Nietzsche di Weimar: Sebuah Alamat Rumit" (Nietzsche in Weimar: eine komplizierte Addresse) (Du, Nr. 6: Juni, 1998: 47-9) dengan kesimpulan tandas: "Pada langkah pertama dapat dikatakan tak dapat terlihat manuskrip Nietzsche yang asli di Weimar." Overath diperkuat oleh ketegasan tulisan Wolfram Groddeck "Pemalsuan Kurun Abad: Kisah edisi Nietzsche'' (Falschung des Jahrhunderts: Zur Geschichte der Nietzsche-Edition) dalam majalah Du, Nr. 6, Juni, 1998: 60-1.

Sasaran pemalsuan terutama teks-teks catatan/ tulis tangan FN yang memang senantiasa coret-coretan atau diolah kembali. Sering sulit terbaca. Terkadang sobekan manuskrip lama tertempelkan lagi, kemudian tulisan tangan orang lain menuliskan untuk dia. Mungkin bukan tanpa alasan juga. Nietzsche memang sering terserang sakit kepala hebat dan sakit mata, sehingga Heinrich Koselitz (alias "Peter Gast") sering menjadi mata dan tangan bagi dia. Buku: Manusiawi, Terlalu Manusiawi (1878 Menschtiches, Allzumenschiiches) diakui Nietzsche: "Pada dasarnya Saudara Peter Gast berstudi di Universitas Basel dahulu, sangat membantu saya menuiiskan buku itu. Saya mendikte, dengan kepala terbebat karena sangat sakit dia menulis dan juga memperbaiki, sehingga pada dasamya dia-lah sesungguhnya penulis, sementara saya hanya pengarang belaka."

Tanggal 7 Agustus 1886 buku: Di seberang Kebaikan dan Kejahatan (Jenseits von Gut und Bose) terbit atas biaya sendiri pada Penerbit C.G. Naumann - dialihkan Nietzsche kepada Penerbit Fritzsch dengan putusan, eksemplar-eksemplar yang belum lakuterjual pada penerbit terdahulu akan dipasarkan dengan prakata baru di penerbit lain (Fritzsch). Gejala seperti itu selama terjadi dalam kurun kewarasan nalar FN dapatlah dicatat sebagai sisi sejarah proses kreatif terlahir sebuah karya.

Tetapi tentu lain halnya bila gejala-gejala seperti itu terjadi pada masa setelah FN tidak lagi waras ataupun meninggal. Sejak Januari 1889 misalnya, Peter Gast membenah/membaca sandi-sandi tulisan tangan Nietzsche serta mengurusinya untuk diterbitkan menjadi utuh. Dengan kepulangan Elisabeth dari Paraguay prakarsa Peter Gast serta-merta dicela Elisabeth sebagai pemegang kuasa hak cipta untuk seluruh naskah-naskah FN. Kendati Peter Gast tetap berperan utama di sisi Elisabeth dalam hal penerbitan edisi anumerta FN.

Pemalsuan arsip FN di Weimar dilaporkan semarak terjadi sejak ketakwarasan Nietzsche. Terutama menyangkut surat-surat pribadi. Karya utama FN yang disebut-sebut sebagai inti Filsafaf FN dan dijuluki Alfred Baeumler dengan nama rumah filsafat FN: Der Wille zur Macht (Kehendak Untuk Berkuasa) ternyata hanya suntingan berdasarkan penggalan-penggalan lepas coret-coretan Nietzsche 1885-1888 diterbitkan Elisabeth dan Peter Gast pada 1901 dan 1906 sebagai Jilid XV dan XVI terbitan saku Nietzsche's Werken.

Dalam terbitan mutakhir karya itu di tangan Penerbit Kroner Stuttgart tahun 1996 muncul berjudui definitif lengkap dengan anak judul yang panjang: Der Wille zur Macht Versuch einer Umwertung alter Werte—Ausgewahlt und geordnet von Peter Gast unter Mitwirkung von Elisabeth Fnrster-Nietzsche (Kehendak Untuk Berkuasa. Sebuah Usaha Peruntasan Terhadap Segala Nilai —dipilih dan disusun Peter Gast bekerja sama dengan Elisabeth Forster-Nietzsche). Tertampil bervariasi dalam bentuk mosaik pepatah pemikiran berurut nomor 1 -1067 dengan keseluruhan 752 halaman, termasuk riwayat hidup FN: catatan penutup dan bibliografi ditulis Walter Gebhard.

Desain judul karya itu memang sudah disebut-sebut FN bertahun-tahun di dalam banyak coretan tulis tangan lepas (sejak 1883-8) tertulis juga (dengan ejaan lama) "Die Umwerthung alter Werthe" (Peruntasan Atas Segala Nilai). Berparalel dengan isi tematis Der Antichrist (Anti-Kristus) ditulis September 1888 dan "Gotzen-Dammerung" (Rembang Keberhalaan). Dalam "Vorwott" (Prakata) buku "Gotzen-Dammerung" (Rembang Keberhalaan) tercantum keterangan penting; bahwa 30 September 1888 di Turin merupakan tanggal akhir penulisan karya Rembang Keberhalaan bersamaan dengan tanggal selesai penulisan Buku I dari "Die Umwerthung aller Werthe" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai).

Maka: berdasarkan berita orisinal bersumber FN sendiri jelas berarti "Buku I" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai) yang berjudui: Erstes Buck Der Europaische Nihilismus (Buku I: Nihilisme Eropa) setebal 90-an halaman selesai ditulis FN juga pada 30 September 1888 itu di Turin. Berarti tiga bulan sebelum FN menjadi gila. Lalu bagaimana dengan Buku II-III dan Buku IV dari karya besar Der Wille zur Macht yang seluruhnya masih lebih dari 600-an halaman lagi? Apakah sejauh itu 'kebenaran' coret-coretan FN dan susupan faham Nazi dan anti-humanis di-dopping Elisabeth dan Peter Gast?

Judul: "Die Umwerthung aller Werthe" (Peruntasan Terhadap Segala Nilai) itulah dimantapkan kemudian menjadi berjudul Kehendak Untuk Berkuasa (Der Witte zur Macht).

Tubuh buku Kehendak Untuk Berkuasa tersebut terdiri dari empat buku: Erstes Buch: Der Europaische Nihilismus (Buku I: Nihilisme Eropa), hlm, 7-96, Zweites Buch: Kritik der Bisherigen Hochsten Werte (Buku II: Kritik terhadap Nilai-nilai Tertinggi Masa Kini), hlm. 99-326, Drittes Buch: Prinzip einer Neuen Wertsetzung (Buku III: Asas Sebuah Pemancangan Nilai Baru), hlm. 329-578, Viertes Buch: lucht und Zuchtung (Buku IV: Pembiakan dan Peternakan), hlm, 581-697. Ke-4 buku itu diawali prakata berjudul: Vorrede (Awal Kata) terdiri dari 4 alinea: hlm. 3-4. Topik keseluruhan 4 buku itu diurut dengan nomor berangka "1" hingga berakhir "1067". Terdapat nomor yang hanya terdiri dari sebuah wacana, misalnya dua nomor (1001, 1002) penutup 'Grundgedanke' (Pemikiran dasar) pada topik Buku IV: Zucht und Zuchtung (Pembiakan dan Peternakan), Topik bernomor "1001" berisi hanya wacana tertulis: "Nicht Menschheit", sondern Qbermensch ist das Ziel! (Bukan "Kemanusiaan" melainkan Purna-Manusia adalah sang Tujuan!). Topik bernomor 1002 dalam bahasa Italia tertulis: 'Come I'uom s'etema ..." (Maka abadilah manusia ...). Tulisan kursif untuk wacana bernomor 1001 dan 1002 di atas sesuai dengan keaslian tercetak di sana.

Kesinambungan resepsi Nietzsche selama satu abad cukup gamblang terbaca dalam antologi esai susunan Alfred Guzzoni: Seratus Tahun Penerimaan Filosofis Nietzsche (100 Jahre philosophische Nietzsche-Rezeption) terbitan 1991. Sejak pertengahan 1980-an terlihat perhatian pada FN di Eropa dan Amerika menanjak. Tetapi perhatian itu lebih tercurah pada sisi sastra Nietzsche Maka Berbicaralah Zarathustra (Also Sprach Zarathustra). Claus Zittel yang menerbitkan karya disertasinya tahun 1999 di Universitas Frankfurt (diterbitkan tahun 2000): Kalkulasi Estetik 'Maka Berbicaralah Zarathustra' Friedrich Nietzsche (Das Asthetische Kalkul von Friedrich Nietzsches Also Sprach Zarathustra) menamakan tahun 1980-an sebagai 'boom' Nietzsche. Masa awal "renesans Zarathustra".

Tanpa dilupakan Zittel mencatat kendala studi sastra Nietzsche sebagai 'anak tiri' tak disukai penelitian -karena nasib sial karya itu dicurigai sebagai kambing hitam di belakang kebringasan dua perang dunia. Sastra Purna-Manusia (Obermensch) Zarathustra Nietzsche itu telah dipesan sebagai bacaan wajib pembina moral dan propaganda semangat tempur (Erbauungsbuch und Kampfschrift) bagi tentara Jerman.

Guzzoni membagi resepsi seratus tahun Nietzsche ke dalam tiga periode berdasarkan gejala karya Nietzsche perasuk semangat 'nasionalis-sosialis' di kalangan kaum muda Jerman sejak awal abad. Esai Georg Lukacs tahun 1947: Fasisme Jerman dan Nietzsche (Der Deutsche Faschismus und Nietzsche) dimasukkan Guzzoni ke dalam periode resepsi ke-3 bersama dengan tulisan Andras Gedo tahun 1988: Mengapa Marx atau Nietzsche? (Warum Marx Oder Nietzsche?) dengan catatan tambahan: "Wajah resepsi Nietzsche 100 tahun terakhir akan menjadi tidak utuh tanpa dilihat dari latar belakang kepautan dengan paham Nazi-sosialis Drittes Reich".

Pemimpin Drittes Reich Hitler memang terkenal sebagai pengagum berat Nietzsche. Berkali-kali ia mengunjungi Elisabeth Forster-Nietzsche, adik wanita FN yang membenahi rumah meninggal Nietzsche Villa Silberblick di Weimar menjadi "Pusat Arsip Nietzsche". Konon sekitar 30.000 surat korespondensi, sketsa coretan-coretan pikiran Nietzsche tercecer dari seluruh Eropa dihimpun Elisabeth di tempat itu. Setelah Elisabeth meninggal tahun 1935, Hitler menghimpun dana membangun "Balairung Nietzsche" di samping Villa Silberblick tahun 1937.

Pameran 100 Tahun meninggal FN di Weimar sudah berlalu, Penerbitan bertema FN sebaliknya menjadi marak. Gairah kepedulian membiaskan wajah baru FN sebagai literatur visioner Eropa tampak bangkit. Tanpa kurang pula samar-samar ironi awan mendung literatur Nazi masa Hitler untuk bacaan propaganda perang membina moral dan semangat tempur (Erbauungsbuch und Kampfschrift) tentara Nazi paruhan abad silam.

Nietzsche rupanya senantiasa memiliki gambaran rancu tatkala resepsi terhadap kehadirannya di Jerman muncul bertumpang tindih dalam sosok pantulan-kaca sastra dan filsafat. Sudah dapat diramaikan terjadi tabrakan frontal tak terhindar di antara 'kebenaran' mimpi besar (fiksi) dan kebenaran nyata (fakta). Tabrakan itu telah hadir secara kiasan dan nyata di Jerman, tatkala Nietzsche sebelas tahun terakhir memang hidup sebagai pasien sakit jiwa yang lumpuh, dan Hitler di puncak kekuasaan Nazi-sosialisme menjelmakan 'rekaan' mimpi besar menjadi kebenaran: proyek bioteknologi, ras unggul, perang, pembasmian ras 6 juta turunan Yahudi serta kaum gipsi Sinti/Roma.

Dami N. Toda, kritikus sastra. Kini tinggal di Jerman.
Majalah Mata Baca, Vol. 1/No. 7/Februari 2003

Kepustakaan Populer Gramedia (KPG): Melayani Si Girang

Kegairahan membaca dalam masyarakat pada praktiknya belum banyak terpenuhi lewat bacaan-bacaan yang sudah diterbitkan. Bacaan-bacaan yang tergolong dalam segmen tertentu misalnya sains dan teknologi malah sering terjebak pada produk yang cenderung baku, dingin serta kaku bak menara gading yang celakanya malah 'menyeramkan' masyarakat, Pemikiran seorang ilmuwan melulu hanya terlihat dari hasil sehingga semakin menjauhkan masyarakat terhadap bacaan. Mindset atawa pola pikir ilmuwan yang barangkali bisa dijadikan contoh dalam kehidupan sosial semakin terasa jauh —bahkan terlupakan. Padahal pada hakekatnya ada sejumlah komponen-komponen tertentu yang barangkali bisa dihubungkan dengan cara-cara yang lebih hangat dan komunikatif.

Berawal dari kasus-kasus yang selalu tak terkomunikasikan dengan baik tersebut, Parakitri Simbolon, pria kelahiran Rianiate, Samosir lima puluh lima tahun lalu ini kemudian menggagas embrio sebuah penerbit alternatifyang bernaung dalam bendera grup penerbit Gramedia bernama KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Parakitri yang semula bekerja sebagai wartawan harian Kompas sejak 1976 merasa ada banyak hasrat membaca masyarakat yang belum terlayani terutama lewat bacaan-bacaan populer tapi bermutu.

"Ciri KPG berangkat dari nama KPG-nya sendiri, yaitu populer. Populer disini karena KPG menerbitkan sesuatu yang bagi awam terbilang rumit menjadi lebih mudah dan enak dibaca. Sebuah naskah yang penting tapi populer. Dengan kata lain, populer disini juga berarti ada persprektif baru. Itulah mengapa beberapa produk kami; seperti Kartun Fisika, Kartun Biologi, cergam Vandemekum Wartawan dan Iain-Iain disajikan dengan format yang berbeda, populer. Ini untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat rumit bisa dibuat mudah, salah satunya lewat komik atau cerita bergambar. Kalaupun teks yang berat karena sumbernya berasal dari disertasi harus enak dibaca. Buku-buku KPG semudah mungkin dibaca (readable), entah itu secara ilustratif kendati juga hasilnya bukan sepenuhnya komik, atau dengan cara lainnya, Pendekatan ilustratif dipilih karena bisa mempermudah pemaparan populer atas bagian-bagian penting perkembangan sains dan teknologi. Dasar KPG sebenarnya mendapatkan peluang yang belum pernah dilakukan penerbit lain," jelas Pax Benedanto, editor KPG.

KPG sendiri resmi dibentuk tahun 1997 dengan misi awal menerbitkan buku-buku populer tentang sains dan teknologi bagi pembaca abad 21. Sehingga, KPG juga sengaja menyimpang dari teknik-teknik pemasaran standar, yang dikenal dalam dunia bisnis sebagai segmentasi pasar. Seperti apa sosok pembaca abad 21 itu menurut Parakitri Simbolon adalah "stfat pembaca yang girang". Artinya: mereka-mereka yang girang ketika menjelajah kehidupan lewat buku. Penerbit KPG melayani pembaca yang pada praktiknya tak terlayani dalam hal kegirangan membaca.

Berbekal idealisme tersebut maka produk-produk KPG senantiasa memiliki ciri khas, yaitu populer dalam pembawaan namun tetap bermutu dalam isi sehingga terasa hangat kepada para pembacanya, "Pada dasarnya kita ingin menandai pasar kita, yaitu mereka yang tidak terlayani sifat kegirangan membaca tadi," papar Parakitri menjelaskan ide awal terbentuknya KPG. Dari ide-ide tersebut KPG kemudian menerbitkan buku-buku yang tak hanya berhenti pada produk bisnis semata melainkan dapat menciptakan pasarnya sendiri.

"Secara mudah hasrat tak terlayani itu adalah hasrat orang membaca yang bukan semata-mata harus membaca supaya lulus ujian mata kuliah, atau gengsi supaya dianggap intelek. Setelah melepaskan dunia wartawan, saya berpikir seharusnya ada hal-hal lain yang sifatnya bisa meloloskan kita dari kesulitan semacam itu," kata Parakitri.

Free Competition
Berbekal idealisme "melayani si girang" tadi, beberapa produk KPG terlihat melakukan pelbagai eksperimentasi dengan berlandaskan semangat kebermainan. Salah satu produknya bisa disebut seri komik Lagak Jakarta yang dibuat oieh Benny Rachmadi dan Muhammad 'Mice' Misrad. Seri komik yang diterbitkan sampai enam seri dan termasuk salah satu produk laris KPG ini mengangkat potret keseharian penduduk Jakarta, Parakitri menyebut Lagak Jakarta sebagai sosiologikal komik sehingga yang terjadi bukan sekadar komik biasa, melainkan potret keseharian penduduk Jakarta yang berhasil ditangkap dengan metode humor secara lucu dan menggemaskan. Lewat seri-seri seperti gaya hidup metropolis, profesi atau hingar bingar masyarakat dalam Pemilu, hiruk-pikuk kehidupan sosial Jakarta disajikan dengan ringan sehingga pembaca seakan menyimak hasil kajian sosiolog dan antropolog dalam pandangan perspektif humor.

Seri cergam yang lain adalah Vademekum Wartawan. Kendati karya terjemahan, buku ini berhasil menawarkan perspektif baru lewat ilustrasi yang menarik sehingga menjadi tak berkesan menggurui dan memudahkan pembaca untuk mengetahui seluk beluk dunia jurnalistik.

Untuk buku yang bersifat tekstual non-ilustratif atau komik, KPG menerbitkan judul-judul dengan menawarkan pandangan berbeda dari hal-hal umum. Misalnya Fisika Star Trek dengan mengungkapkan kekeliruan bahasan ilmiah yang menjadi konsep film sains fiksi legendaris Star Trek. Atau novel Mimpi-Mimpi Einstein karya Alan Lightman, yang mengungkap metode berpikir ilmuwan besar Albert Einstein dalam bentuk fiksi. Sedangkan Komik Indonesia karya Dr. Marcel Boneff sebenarnya adalah disertasi. Dalam buku ini termuat hasil penjelajahan penulis yang melihat perkembangan masyarakat Indonesia lewat produk komik-komiknya. Buku yang juga mengalami cetak ulang ini diterbitkan atas kerja sama KPG dengan Forum Jakarta-Paris. Jika sebagian besar produk-produk terlaris dari penerbit pada umumnya karya terjemahan, buku terlaris KPG adalah novel Saman karya Ayu Utami yang sampai kini sudah cetak ulang sebanyak tujuh beias kali.

Buku lain yang juga terhitung best seller adalah Dan Damai di Bumi! karya Karl May. Buku ini selain belum pemah diterjemahkan juga menunjukkan kematangan Karl May dalam dunia kepenulisan dan menunjukkan pemahaman yang sudah lebih baik tentang latar belakang negeri timur dari pengarangnya sendiri.

Produk-produk yang kini sedang dikerjakan KPG adaiah Reinventing Comics, Menemukan Kembali Komik, buku terjemahan karya Scott Mc Cloud, lanjutan dari buku sebelumnya, Undertanding Comics, Memahami Komik. Selain itu ada beberapa judul seperti Paris van Java novel karya Remy Sylado setelah Kerudung Merah Kirmizi, pemenang hadiah sastra Khatulistiwa Award 2002. Novel Paris ini sebelumnya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo.

Kompleksnya dunia perbukuan tak urung membuat kebanyakan penerbit tidak cukup hanya mengandalkan penjualan di toko-toko buku saja. Kendati penjualan di toko buku memang sudah sewajarnya dilakukan, namun dalam perkembangannya ternyata masih banyak peluang lain yang idealnya dapat mempertemukan calon pembaca terhadap bacaan-bacaan yang memang dibutuhkannya. Untuk itu KPG menerapkan sistem direct selling guna mempertemukan "pembaca girang" yang belum terlayani hasrat membacanya. Sistem direct selling ini dilakukan dengan mengumpulkan database calon pembeli yang terkumpul ketika KPG mengadakan acara seperti pameran buku, bazar launching atau diskusi. Di atas kertas pengumpulan data base ini sepertinya mudah. Kenyataannya, sesuatu yang tampak sederhana ini bukanlah pekerjaan gampang dalam sistem manajemen pemasaran dan umum di Indonesia. Namun hal ini senantiasa dilakukan sebagai salah satu program usaha jangka panjang KPG dalam hal membentuk pasarya sendiri.

Untuk jangka panjang terutama dalam pengembangan bisnis, KPG hanya ingin bekerja sebaik mungkin secara free competition sehingga tidak ada bayangan tertentu dalam menghadapi persaingan dengan penerbit lain. Selain "melayani si girang" dalam konteks idealisme penerbit, suasana kerja di KPG juga didasari rasa girang misalnya dalam upaya memperbaiki hal-hal sulit sekecil apa pun sehingga dalam perusahaannya sendiri menjadi knowledge company atau unit usaha yang sekaligus menjadi ruang belajar dalam rangka pengembangan sumber daya manusianya. Ini misalnya dapat dicontohkan dalam konsep desain KPG yang tidak berangkat dari general atau umum, melainkan partikular dengan kedetailannya. Pengenalan cukup memadai atas bentuk-bentuk huruf dari buku yang akan diterbitkan jadi pertimbangan sehingga menjadi ciri khas KPG.

Kendala Penerjemahan
Kendati akhirnya berhasil membentuk citra lewat produk-produknya yang inovatif, KPG ternyata juga mengalami kendala penerjemahan. Kendala yang toh juga dialami umumnya para penerbit, "Memang ketika menerjemahkan karya-karya komik relatif lebih mudah ketimbang teks, Tapi berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, kesulitan yang ada juga sama besarnya dengan yang bukan komik, KPG menghadapi kesulitan umum yaitu menemukan penerjemah andal, bahkan kendati kami bersedia membayar paling tinggi.

"Terjemahan sebenarnya mengandung empat tingkat. Pertama, tingkat literal, di mana kata-kata dalam bahasa asing bisa diterjemahkan namun sesungguhnya tidak dimengerti dalam bahasa Indonesianya. Kedua, adaptasi di mana sebuah terjemahan mencoba menyimpang jauh dari bahasa aslinya. Untuk tingkat kedua ini meski lebih baik dari literal, bahayanya sang editor harus bekerja lebih keras sehingga meninggalkan fungsi sesungguhnya Akibatnya, editor yang menjadi penerjemah sebenarnya. Editor seharusnya tidak harus memperbaiki terjemahan lagi. Makanya kita terpaksa tidak bisa dengan cepat menerjemahkan."

"Ketiga, idiomatik. Ada idiom-idiom bahasa Inggris yang tak mudah begitu saja diterjemahkan ke dalam idiom bahasa Indonesia. Contoh kongkrit dalam tingkat ini kata I couldn't careless. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia rada sulit kecuali dalam konteks tertentu. Si penerjemah kemudian menggunakan idiom yang sedang populer di masyarakat, yakni EGP (Emang Gue Pikirin). Sedangkan tingkat yang terakhir, saya sebut Herb Paradox dari Profesor Herbert, Di mana dalam penerjemahan yang terutama dikuasai bukan bahasa asingnya melainkan bahasa Indonesianya", ungkap Parakitri.

Salah satu akibat kendala penerjemahan ini buku From Voting to Violence karya Jack Snyder yang kelak akan diterbitkan KPG mengalami keterlambatan produksi dan peredaran. Buku ini untuk terjemahannya akhirnya dikerjakan sendiri oleh Parakitri. Alasan KPG menerbitkan buku ini karena membahas problem-problem semua negara yang hendak beralih dari kekuasaan otoriter ke demokrasi.

"Perubahan semacam ini memerlukan pengetahuan dan kesadaran tinggi dari masyarakat luas agar kita semua bisa lolos dari bahaya yang menghadang setiap negara yang sedang menuju demokrasi," jelas Parakitri setengah berpromosi.

Donny Anggoro, editor, aktivis cybersastra.
Majalah Mata Baca Vol. 1/ No. 7/ Februari 2003

Hasta Mitra Babak Belur Menyumbang Demokrasi

Di sebuah ruang berukuran 3 x 6 meter Jusuf Isak setia memelototi barisan kalimat di layar monitor LCD ukuran 17 inci. Jari-jari tangannya tak henti memenceti tombol-tombol huruf di keyboard warna hitam. Kepulan asap rokok terus keluar dari mulutnya. "Saya tak bisa bekerja tanpa rokok," katanya.

Di usianya yang ke-76, Jusuf tetap setia mengedit sejumlah naskah buku yang masuk dan --kalau ada modal-- sesekali menerbitkannya atas nama Hasta Mitra. Dibantu seorang staf, bertempat di sebuah rumah di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, kini ia tengah memeriksa sebuah memoar tentang tokoh kontroversial menjelang jatuhnya PKI. Menurut Jusuf, banyak dari naskah yang dieditnya terbit lewat penerbit lain.

"Meski tanpa profit besar, saya sudah puas kalau sebuah naskah bisa terbit dan dibaca banyak orang," katanya. Itulah motivasi yang menurut Jusuf membuat Hasta Mitra masih tetap bernapas. Pada awal berdirinya, Hasta Mitra dimaksudkan untuk menerbitkan karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak membaca naskah awal novel Pramoedya, Bumi Manusia, Yusuf merasakan bahwa novel besar dengan nilai literer tinggi tengah lahir.

Adalah Hasjim Rachman mantan Pemimpin Redaksi Bintang Timur, yang membawa Pramoedya kepada Jusuf, bekas wartawan Merdeka yang sempat mendekam 10 tahun di Rutan Salemba Jakarta. Mereka bertiga sepakat memublikasikan karya kreatif eks tapol. Mulai sastra, musik, hingga karya lukis. Belakangan yang mencuat adalah karya sastra, yang tak mungkin diterbitkan penerbit lain karena alasan keamanan dan politis.

Mereka pun sepakat dengan nama Hasta Mitra, yang berarti "tangan sahabat". Nama itu diciptakan Pramoedya. Penerbitan yang berdiri pada bulan April 1980 itu sifatnya terbuka dan berbentuk perseroan terbatas. "Kami ingin Hasta Mitra bergerak secara terbuka dan tak mau kucing-kucingan dengan penguasa," katanya.

Buku pertama yang diterbitkan Hasta Mitra adalah Bumi Manusia. Buku ini langsung habis terjual dalam waktu 10 hari. Dalam waktu 10 bulan kemudian sempat dicetak ulang hingga lima kali sebelum akhirnya dilarang beredar. Pembredelan juga langsung menimpa karya Pramoedya yang muncul berikutnya, yakni Anak Semua Bangsa.

Uniknya, sejak dilarang pada akhir Mei 1981, pihak Kejaksaan Agung hanya dapat mengumpulkan tak lebih dari 1.000 buku dari sekitar 20.000 eksemplar yang beredar. Mulai saat itu karya Pramoedya yang diterbitkan Hasta Mitra selalu dicekal. Hasta Mitra juga didepak dari keanggotaan Ikapi. "Pembredelan itu buah penilaian tidak fair sejumlah sastrawan, wartawan pemerintah, ditambah ketakutan penguasa," kata Jusuf.

Pelarangan itu, menurut Jusuf, dibangun tanpa argumentasi ilmiah dan alasan yang masuk akal. Jadi sangat bermuatan politis. Lucunya, Jusuf menambahkan, ada sastrawan yang dulu ikut memberi landasan ilmiah bagi penguasa untuk pelarangan buku Pramoedya, kini ikut menyebut Pramoedya sebagai penulis besar.

Gara-gara pembredelan, Hasta Mitra yang sempat memperkerjakan 20 eks tapol pada pertengahan 1980-an terpaksa merampingkan karyawannya. "Hasta Mitra memang bertujuan menampung eks tapol yang sulit bekerja," kata Jusuf. Namun, angan-angan menjadi badan usaha yang bisa memberi nafkah bagi banyak orang tak pernah kesampaian. "Balik modal saja kesulitan," kata Jusuf.

Tapi, ibarat petinju, meski jatuh babak belur, Hasta Mitra selalu bangkit lagi. "Itulah sumbangan Hasta Mitra untuk demokrasi. Di saat represi Orde Baru masih kuat, kami merintis perlawanan terbuka lewat buku," kata Jusuf. Bahkan, pada masa itu buku-buku keluaran Hasta Mitra menjadi semacam barometer "pergaulan" antar-aktivis prodemokrasi. "Itulah peran politik Hasta Mitra," kata Jusuf.

Sedangkan bagi Pramoedya, Hasta Mitra merupakan jantung. Dari sanalah nafkah hidup lewat royalti terus dipompakan. Kini, ketika keluarga Pramoedya sudah bisa mengelola karya-karyanya lewat Penerbit Lentera, Hasta Mitra tak lantas surut. Buku baru terus diterbitkan, termasuk Das Kapital-nya Karl Marx.

G.A. Guritno & Alexander Wibisono
Majalah Gatra edisi 14 / XI / 19 Februari 2005

Das Kapital: Revolusi Lahir dari Distorsi

Das Kapital atawa Kapital ditulis Karl Marx pada pertengahan abad ke-19. Yang melatarinya adalah praktek kapitalisme yang muram, terutama di sekitar London, Inggris. Ketika itu, sejumlah pabrik di situ sangat tidak ramah kepada kaum pekerja. Upah pun tak cukup. Yang lebih parah lagi, hanya sedikit kelompok dan penguasa bergerak membela kepentingan para buruh.

Dalam situasi demikianlah Marx mengurai dan menilai metode kapitalis, memprediksi ajal tak terhindarkan dari sistem kapitalis dan mengajak "kaum pekerja" di dunia untuk bersatu merebut hak-haknya. Waktu itu, gambaran Marx merupakan analisis dan kritik paling jelas mengenai kontradiksi internal dalam sistem kapitalis.

Ia menganalisis munculnya produksi, distribusi, komoditas, pertukaran, modal, nilai guna barang, kaum pekerja (proletar), klas borjuis, serta hubungan antara pemilik modal dan pekerja. Penting dicatat, hanya buku pertama dari tiga jilid yang direncanakan Marx sepenuhnya ia selesaikan. Dua jilid yang lain disusun dan diselesaikan oleh Engels berdasarkan pada catatan-catatan Marx.

Namun, teorinya menjadi membingungkan dan sulit dimengerti, karena dia berusaha untuk membuktikan hal-hal yang sangat abstrak secara matematis. Marx merasa dalil dan persamaan yang terinci sangatlah perlu, sebab bukunya tak hanya dimaksudkan sebagai resep moral untuk sebuah penyakit sosial, melainkan sebuah gambaran ilmiah dari jalan sejarah masyarakat dunia yang tak terhindarkan.

Oleh sebab itu, tampak sekali bahwa karyanya itu tak sekadar sebuah anjuran, melainkan sebuah ajaran yang dipenuhi paksaan. Di mata pembaca yang tergelincir menjadi pemujanya, Kapital lalu menjadi doktrin. Hal tersebut muncul di mana-mana dan tak terkendali. Sudah risiko, kalau Kapital sebagai "teks" banyak terdistorsi oleh para pengikut dan pengkritiknya.

Di Uni Soviet, misalnya, karya Marx dikutip sepotong-potong sebagai dalil pembenaran proses sosialisme dan eksploitasi atas buruh oleh negara. Kapital karya Marx tak tersentuh lagi dan terkubur oleh doktrin politik Lenin dan Stalin. Demikian pula di Cina, Kapital karya Marx hanya jadi kutipan pembenaran ilmiah pikiran Mao Tse-Tung.

Karya Marx tak lagi dibaca oleh kader partai sebagai telaah kritis atas praktek kapitalisme. Di banyak negara, partai komunis memenggal-menggal isi Kapital sebagai dalil ideologis. Paling kentara tampak pada doktrin marxisme-leninisme. Hasilnya, jutaan orang masuk dalam perjuangan revolusi partai komunis yang penuh darah dan air mata.

Namun, dalam beberapa hal harus diakui beberapa dalil Marx dalam Kapital benar. Misalnya mengenai kerangka kerja Marx untuk menganalisis dan menerangkan perubahan masyarakat secara historis. Juga mengapa ketimpangan dalam masyarakat bisa lahir dari upah yang timpang kepada pekerja, produksi barang yang berlebih, dan pasar yang tak sempurna.

Seiring dengan runtuhnya negara sosialis-komunis, sosialisme tak lagi populer. Namun selama kapitalisme masih bekerja, karya Marx tampaknya masih relevan. Tidak sebagai momok yang menakutkan. Juga bukan sekedar doktrin beku. Namun, sebagai teori kritis dan pisau analisis,.

G.A. Guritno
Majalah Gatra edisi 14 / XI / 19 Februari 2005

Menelusuri Buku Kehidupan: Kuda Putih dan Sisyphus

Beberapa waktu yang lalu, saya membongkar-bongkar buku lama yang ada di lemari tua untuk mencari sebuah buku. Yang dicari tidak ketemu, tetapi sebagai gantinya saya menemukan beberapa buku lain yang menarik perhatian saya. 

Salah satu di antaranya adalah 50 Great Short Stories yang diedit oleh Milton Crane. Entah bagaimana, setelah membolak-balik —barangkali karena faktor sinkronisitas— saya tiba pada judul "The Summer of the Beautiful White Horse" Cerita pendek karya William Saroyan itu entah sudah berapa kali saya baca, namun setiap kali pula saya senang mengulanginya kembali.

Pertama kali, saya ingat membacanya dalam terjemahan bahasa Indonesia, di majalah Star Weekly pimpinan P.K. Ojong awal tahun 60-an. Judulnya "Kuda Putih". Setelah itu saya menemukan juga di beberapa buku seperti Best Stories of William Saroyan dan sebagainya.

Mengapa cerita ini memikat hati saya? Pertama, mungkin karena jalan ceritanya mengasyikkan. Menceritakan petualangan singkat Aram (9 tahun) dan Mourad, sepupunya, yang berusia beberapa tahun lebih tua. Mereka adalah keturunan imigran Armenia yang miskin, namun punya harga diri dan kejujuran. Kedua anak belia itu memang masih hidup dalam dunia angan-angan dan mimpi. Dalam istilah bawah sadar kini masih larut dalam gelombang alfa. Mereka berangan-angan sekali waktu dapat menunggang kuda, sesuatu yang hampir mustahil, mengingat mereka dari keluarga miskin.

Tiba-tiba suatu dini hari pukul 04.00 pagi, ada ketukan di jendela kamar Aram. Aram melompat lalu melihat ke luar jendela. Ia terbelalak menyaksikan sebuah pemandangan yang tak pernah diduga. Temyata Mourad menunggang seekor kuda putih yang indah! Selanjutnya selama hampir satu musim panas, setiap pagi mereka menunggang kuda itu berkeliling kota. Suatu pengalaman hidup yang tak terlupakan.

Pertanyaannya, bagaimana kuda putih itu diperoleh? Di satu pihak, keluarga Armenia ini adalah keturunan orang-orang jujur yang tak suka mencuri. Di pihak lain, Mourad yang dikenal sebagai bocah "gila" oleh sekelilingnya, sebenarnya adalah anak yang kreatif, yang tak mengenal beban iimitasi orang-orang tua.

Saya menyukai cerita ini. Pertama, karena yang menjadi hero adalah bocah-bocah cilik yang masih innocent, lugu yang tak punya beban rasa salah, tetapi juga tak gampang untuk menyerah. Kedua, bersikap aneh dan bersifat "lain" (different) seperti Mourad ternyata juga diperlukan di dunia ini. Dengan caranya sendiri, ia bisa menangani manusia lain, kuda, anjing dan sebaliknya juga kurang peduli apa kata orang.

Setelah sekian lama, kuda yang "dipinjam" itu dikembalikan kepada pemiliknya. Si pemilik yang merupakan sahabat orang tua mereka, menerima pengembalian itu tanpa ribut-ribut, sekalipun selama ini mungkin ia tahu siapa yang "meminjam" kudanya.

Sudah tentu ada beberapa cerita lain yang juga menjadi favorit saya, Seperti "Gadis Penjual Korek Api" dari Hans Christian Anderson, "Kalung Berlian" karya Guy de Maupassant, "Duel" dari Alexander Poushkin, beberapa dari Hemingway dan Kafka. Sekalipun sudah beberapa puluh tahun lewat, namun masih segar teringat bagian-bagian tertentu dari bacaan tersebut.

Dari penulis Indonesia, saya menyenangi kumpulan sketsa Cerita dari Jakarta oleh Pramudya Ananta Toer yang tajam membedah secara getir kehidupan masyarakatbawah. Juga Pertempuran dan Saiju di Paris dari Sitor Situmorang dengan gaya prosa—liris dan protagonisnya adalah orang-orang terasing. Dan kumpulan cerita Seribu Kunang-kunang di Manhattan oleh Umar Kayam yang halus, penuh pemahaman akan berbagai derita serta kesepian manusia. Dari kalangan yang lebih muda —yang banyak dibaca tahun kemudian— saya menyenangi Negeri Kabut dari Seno Gumira Ajidarma. Kumpulan cerita yang terakhir ini mengingatkan saya pada haiku, zendan lukisan tradisional Tiongkok. Gunung di latar belakang, air sungai yang turun tenang berliku-liku seperti dalam feng shui serta kabut putih yang menudungi pemandangan. Di sini waktu seakan-akan berhenti dan yang berkuasa adalah keheningan semata.

Jadi sejak muda saya telah menyukai interpretive literature, bacaan yang meluaskan wawasan dan sekaligus memberi kedalaman mengenai hakekat eksistensi kita sebagai manusia. Ia mendorong kita untuk memahami keberadaan kita di tengah-tengah alam yang sesekali bersahabat, sesekali bermusuhan. Ia juga membantu kita untuk lebih mengerti perilaku para tetangga dan diri kita sendiri. Lewat imajinasi, ia membawa kita menukik lebih dalam ke dunia realita.

Saya tidak merasa menyesal menghabiskan waktu membaca sekian buku sastra. Bahkan saya mesti berterima kasih ketika kemudian meniti karier sebagai jurnalis dan kemudian manajer. Tidak dapat dibayangkan seandainya saya menghabiskan hidup dengan bacaan ringan dan tontonan hiburan semata yang membawa kita ke dunia pelarian. Apa jadinya saya?

Mite Sisyphus
Sudah tentu di samping membaca cerita rekaan, saya juga mendalami bacaan non-fiksi. Salah satunya yang merupakan sumber, tatkala mood, perasaan hati sewaktu-waktu tengah turun adalah The Human Machine, Secrets of Success. Buku tua (edisi tahun 1929) karya E.R. Thompson itu saya "pinjam" dari perpustakaan ayah.

Buku tipis setebal 92 halaman itu terdiri dari tulisan pendek-pendek. Masing-masing satu halaman, dalam bahasa Inggris yang mudah dicerna oleh seorang pelajar sekolah menengah. Ada beberapa kalimat dalam buku itu yang saya beri garis merah di bawahnya: 
"The man who can think is always the master of the man who can only do. The men rise highest in the world are those who can both think and do. It is never to late to form habits...."

Lalu di salah satu halaman depan buku itu saya tulis dengan pensil kutipan berikut "The man who can master his mind can master nearly everything".

Sudah jelas buku tersebut adalah bacaan motivasional. Tak malu saya mengakui, bahwa sebagai seorang yang suka menggugat, mempertanyakan yang ada di sekeliling, sesekali suka terjatuh dalam keragu-raguan sendiri. Saya bukan orang yang sekali punya keyakinan kuat, langsung menerjang maju tanpa menengok kiri-kanan. Dari waktu ke waktu, saya suka berhenti dan melakukan introspeksi kembali. Dan kemudian untuk bangkit dan bergerak lagi memerlukan dorongan motivasi. Masalahnya sering bukan ada tidaknya pengetahuan, tetapi bagaimana kepercayaan itu harus diyakini kembali.

(Untuk banyak hari, The Human Machine yang berisi petunjuk-petunjuk polos itu merupakan buku pegangan, sampai suatu hari, puluhan tahun kemudian —saya bertemu dengan The Greatest Salesman in the Whole World karya Og Mandino yang saya anggap sebagai salah satu buku rnotivasi yang terbaik).

Selain itu, ada karya lain yang lebih serius yang banyak menyita energi saya, The Myth of Sisyphus (Le Mythe de Sisyphe) yang merupakan kumpulan esei Albert Camus. Sebagai seorang muda yang masih amburadul dalam perbendaharaan bahasa Inggris dan falsafah, saya coba melahap buku itu. Tidak mengerti. Penuh pemahaman absurd dan abstrak. Perihal penalaran dan kreasi absurd; perihal manusia dan pemberontakan absurd. Namun semakin tidak mengerti, semakin penasaran diri ini.

Kitab ini adalah salah satu karya terpenting Camus yang ditulis sewaktu ia berumur 27 tahun. Dalam usia seperti itu pula Syahrir menulis karya semi-filsafat Renungan Indonesia. Wah, muda-muda sudah mampu menulis karangan berbobot, pikir saya dengan rasa kagum.

Sebenarnya esai "Mite Sisyphus" sendiri bercerita perihal hukuman para dewa yang dijatuhkan terhadap Sisyphus, ia harus mendorong terus-menerus sebuah batu besar sampai ke puncak gunung. Dari atas gunung, batu besar itu akan jatuh ke bawah oleh beratnya sendiri. Batu menggelundung turun dan Sisyphus pun terjun ke bawah. Dengan kedua tangan dan sepenuh bahunya ia kembali mengangkat batu raksasa itu dan mendorong serta menahannya sepanjang lereng gunung. Mukanya yang melekat ke batu sudah seperti batu itu sendiri. Orang akan menilai kerja hukuman yang dilakukan berulang-ulang tanpa akhir itu adalah sesuatu yang tak berguna dan tanpa harapan.

Namun di mata Camus, absurditas dan kebahagiaan adalah dua putra dari satu bumi. Keduanya tidak terpisahkan. Salah kalau dikatakan bahwa kebahagiaan lahir hanya dari penemuan absurd. Dapat juga terjadi bahwa perasaan absurd itu ditimbulkan oleh kebahagiaan. "Saya menilai bahwa semuanya baik", begitu ucap Sisyphus, setidaknya menurut Camus. Dan lebih jauh "kita harus membayangkan Sisyphus berbahagia".

Seperti sudah dinyatakan, tidak mudah bagi saya untuk memahami esai-esai Camus. Satu-satunya jalan adalah membacanya berulang-ulang kali, berhenti pada setiap kalimat dan mencoba mencernanya lagi. Juga membaca tafsir orang lain perihal pandangannya mengenai absurditas dan eksistensialisme. Baru dengan demikian diperoleh lebih banyak pemahaman dan pengertian.

Modal saya yang diusung ke sana ke mari, kalau tak paham atau tidak bisa adalah dengan mengotot dan mencoba lagi berulang-ulang sampai ada kemajuan. Misalnya, kalau harus menerjemahkan sebuah artikel dan belum menguasainya dengan betul, ya membuka kamus sebanyak mungkin, mencatat arti banyak kata dan kemudian coba menyusun terjemahannya. Jika belum bagus dan kiranya belum dimengerti oleh pembaca, ya me-rewrite-nya; menulis ulang berkali-kali sampai terasa sudah mantap. Modal ngotot semacam ini yang saya jalankan dalam mengarungi kehidupan ini. Mulai dalam memecahkan persoalan matematika sampai misalnya jadi wiraniaga menjual barang dagangan. Ngotot model Sisyphus, pantang menyerah dan tidak kenal kapok adalah satu-satunya yang bisa diperbuat.

Cuma lakon Sisyphus yang saya jalani itu tidak sama dengan mitologi Yunani yang selama ini dikenal itu. Saya melakukan modifikasi berdasar pengalaman dan penghayatan pribadi. Tidak apa kalau itu dianggap kurang tragis ataupun absurd.

Dalam versi saya, Sisyphus memang mendorong batu besar dari bawah ke atas gunung. Beberapa kali boleh jadi batu menggelinding turun lagi. Namun dan ini bedanya— setelah upaya sekian kalinya batu itu berhasil ditempatkan di puncak yang datar. Berhenti. ia memandang ke depan dan melihat gunung-gunung lain. Tantangannya, ia harus menaklukkan puncak-puncak lainnya kembali. Turun—naik—turun—naik. Kalah—menang—kalah—menang. Berkali-kali tanpa henti. Dan sebuah puncak gunung lagi berhasil diraihnya.

Jadi, seluruh gerak kemajuannya adalah mirip dengan kurva S rebah berkesinambungan, Kebahagiaannya bukan semata terletak dalam kepasrahan, tetapi juga pada harapan dan hasil. Boleh jadi darma dan karma inilah yang harus saya lakoni dalam menapaki hidup ini.

Tak Terhindarkan
Sudah tentu dunia saya bukan alam bacaan melulu, sekalipun ini harus diakui telah mernbawa dampak besar. Membuat saya makin paham dan mengerti lika-liku kehidupan, dunia dan seanteronya. Ternyata memang menarik, tetapi sekaligus mernbawa keprihatinan yang mendalam. Ada kegembiraan, tetapi juga kedukaan. Kalah—menang datang silih berganti.

Di samping membaca, masih ada serangkaian pekerjaan yang harus dilakukan. Seperti mandi, makan, tidur, berjalan, ngomong-ngomong, mendengarkan musik, gerak badan dan sebagainya. Atau pekerjaan rutin di kantor dari menulis surat, menyusun jadwal pertemuan sampai bepergian dinas, menghadiri rapat dan perjamuan sampai larut malam. Semuanya ini menyerap waktu memang dan harus dijalani, suka atau tidak disuka, menarik ataupun menjemukan. Bahkan yang rutin, karena tak dapat dihindari dan sudah merupakan ikatan, kerap menyita sebagian cukup besar dari waktu kita. Namun jalannya kehidupan betapapun harus tetap terjadi dan berlangsung.

Indra Gunawan, pencinta buku, tinggal di Jakarta.
Majalah Mata Baca Vol. 1 / No. 7 / Februari 2003

Buku Pertama yang Ditulis Penyandang Autis Indonesia

Boleh jadi, Oscar layak dinobatkan sebagai duta bagi komunitas autis Indonesia. Autistic Journey, buku yang ditulisnya dalam bahasa Inggris, telah memecah tembok pemisah antara mereka yang autis dan yang tidak. Sebagai seorang penyandang autis, Os, demikian Oscar biasa disapa, telah menaklukkan ganjalan komunikasi yang selama ini menjadi masalah ketika berinteraksi sosial.

Hampir semua orang autis memiliki kendala yang besar saat berkomunikasi, terutama dalam mengungkapkan perasaan pribadinya. Nah, tulisan Oscar dapat menjadi titik balik bagi siapa saja untuk mengubah paradigma dalam memandang seorang autis. Buku ini tak hanya bisa digunakan sebagai sumber inspirasi bagi penyandang autis lain, melainkan juga bagi orang-orang yang hidup bersama mereka.

Dengan menyimak buku ini, pembaca diajak ikut menyibak perspektif penyandang autis ketika memandang dirinya, sahabat, dan peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Secara garis besar, buku ini mengungkap kisah hidup Oscar. Tulisan ini telah ditulis selama setahun dalam website www.oscardompas.com.

Situs web itu dibangun khusus oleh ayahnya, Jeffrey Dompas, untuk mengisi energi berlebih dan menyalurkan kesenangannya terhadap bahasa Inggris dan tulis-menulis. Meskipun isinya datar, buku ini menawarkan beberapa titik simpul yang membuat orang melihat dengan cara lain lewat mata seorang penyandang autis. Lalu mencoba memahami bagaimana Os melihat, mendengar, dan merasakan hidup ini.

Di buku ini, pembaca akan melihat "keajaiban-keajaiban kecil" yang menakjubkan dari hidup Oscar. Ternyata pencapaian yang diraihnya tidak diperoleh dengan gratis, tetapi lewat perjuangan panjang yang menguras energi. Keajaiban pertama adalah pengakuan bahwa dirinya seorang autis. Kesadaran ini menjadi babak baru bagi pribadi Oscar karena berhasil menemukan identitas dirinya.

Bagi penyandang autis, pengenalan dan pengakuan diri adalah sebuah proses pemahaman yang tak semudah dilakukan orang normal. Keajaiban kedua buku ini terletak pada dukungan tak kenal lelah yang ditunjukkan kedua orangtua, adik, dan keluarga besar Oscar. Dengan jatuh bangun mereka membukakan jalan bagi Oscar untuk menemukan jati dirinya.

Lewat bukunya terlihat bagaimana Oscar mampu berinteraksi layaknya orang normal berkat pendampingan orang di sekelilingnya. Keberhasilan Oscar bisa menjadi sumber optimisme bahwa dunia penyandang autis bisa didekati secara personal, sesuai dengan diagnosis medis yang muncul.

Keajaiban terakhir adalah kemampuan bertahap Oscar untuk hidup secara natural dan humanis. Walaupun ungkapannya tidak meletup-letup, isinya memuat berserak kebajikan hidup bagi siapa saja. Bagaimana dia berusaha hidup secara normal ketika tinggal di Australia dan terpisah dari orangtuanya. Bagaimana pula dia menyesal dan mengambil hikmah setelah berkelahi.

Ada pula pengalaman uniknya ketika menyatakan cinta dan ditolak. Yang cukup menarik adalah pengakuannya terlibat dengan obat-obatan dan usahanya untuk lepas dari obat terlarang. Dan yang paling mengesankan adalah tumbuhnya religiusitas Oscar, ketika seorang staf polisi yang dikenalnya meninggal karena tsunami di Aceh. Oscar pun berjanji akan terus mengingat dia dalam doa-doanya. Menakjubkan.

Majalah Gatra edisi 27 / XI / 21 Mei 2005