Bukoe

Bukoe
thumbnail

"Superzaenal": Kartunis Internasional dari Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Yomiuri International Cartoon Contest tahun 1998, 1999, 2000, dan 2003.
Seorang lelaki dengan tinggi badan kurang lebih 170 sentimeter, berkulit sawo matang, rambut kepalanya tipis, semakin ke depan semakin jarang, membuka pintu sambil senyum mengembang di bibir, mempersilakan saya masuk. Saya pun duduk di atas kursi sudut berwarna merah yang sudah tidak sempurna lagi. Dialah Zainal Abidin, peraih penghargaan

Anak keempat dari delapan bersaudara ini memulai debutnya di bidang kartun sejak 1992, saat duduk di kelas 3 SMA. Meskipun kakaknya (Nur Rochim) seorang kartunis, Zaenal lebih memilih belajar ngartun dari Budi Santoso (Itos). "Secara personal saya lebih dekat dengan Mas Itos, jadi komunikasinya lebih enak," aku Zaenal.

Pria kelahiran Kendal, 10 November, 31 tahun lalu ini terbilang cukup pesat perkembangan keterampilan ngartunnya. Tahun 1992 masuk Kokkang, di tahun itu pula karyanya langsung dimuat tabloid Bola. Timbul rasa percaya diri pada diri Zaenal. Dengan berbekal rasa pede itu, setahun kemudian ia mulai berani mengikuti lomba kartun bertaraf internasional. Tidak main-main penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky berhasil ia sabet.

Keberhasilan memenangkan cartoon contest di luar negeri semakin membuat rasa pede Zaenal kian tinggi. Sejak itu karya-karyanya tersebar di hampir semua media baik regional maupun nasional, seperti Suara Merdeka, Wawasan, Bola, Pantau, Humor, Seputar Semarang, Bola Sport, Nova, Intisari, Koran Tempo, Warta Kota, Jawa Pos, Bog-Bog, Mop, Cempaka, Merapi, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, dan beberapa media nasional lainnya. Sambil terus mengikuti cartoon contest di luar negeri.

Puncak prestasinya ketika ia memenangkan Special Prize Selection Committee dalam pameran kartun yang diselenggarakan koran Yomiuri Shimbun di Jepang tahun 2000 melalui karyanya berjudul "Pintu". Atas penghargaan ini, Zaenal berhak menerima hadiah 200.000 yen atau sekitar 13,4 juta rupiah.

Di Kokkang, Zaenal termasuk ke dalam angkatan keempat bersama Wawan Bastian dan M. Tavin. Zaenal adalah satu dari sedikit kartunis Kokkang yang menyandarkan hidupnya hanya melalui kartun. Filosofi berkaryanya adalah buang hajat. Gambar, kirim, lupakan. Dalam sehari ia bisa menghasilkan 30-50 baik gag cartoon maupun kartun strip.

"Semakin banyak karya yang dikirim, semakin besar pula kemungkinan dimuatnya," demikian timbang Zaenal. Satu redaksi koran setiap minggunya ia kirimi 5-8 kartun. Ibarat pisau, kalau tidak pernah dipakai, lama-lama kethul (tumpul)," kata Zaenal beranalogi.

Dari mana ia mendapat ide kartun itu? "Pada dasamya ide kartun tetap, hanya variasinya saja," jawab pria yang sebentar lagi akan menikah ini. "Untuk ide biasanya saya melihat katalog-katalog pameran kartun, membaca berita di koran dan nonton teve. Tapi yang paling sering ya dengan melihat katalog," tambahnya.

Bagaimana dengan jam kerjanya? Kartunis yang profilnya pernah diangkat dalam program Jelajah-Indosiar ini menjawab: "Biasanya mulai selepas salat magrib hingga subuh. Kalau tidak sekalian subuh, salatnya sering kebablasan. Tapi sekarang saya mencoba ritme baru, mulai menjelang zuhur hingga idenya mentok."

Satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang ketika membicarakan tentang kebiasaan hidup yang mendukung aktivitas berkesenian -ngartun- adalah berolahraga. Tepatnya menjaga kesehatan. Kesehatan dan kebugaran menjadi klausa prima untuk menjamin kontinuitas berkarya. Soal menjaga kesegaran dan stamina tubuh, Zaenal lebih memilih bersepeda atau jalan pagi dengan nyeker alias tanpa alas kaki.

Dengan reputasi internasional, tidakkah Zaenal ingin berhijrah ke Jakarta, menyusul teman-temannya yang telah berangkat duluan?
 
"Sebenarnya ingin juga, tapi karena peluang yang semakin sempit dan lagi alasan keluarga. membuat saya urung ke Jakarta," terang Zaenal. "Saya ingin mengibarkan nama daerah sendiri, dari kampung sendiri."

Di sela-sela ngartun —yang telah menjadi pekerjaan tetapnya— si "Superzaenal" dari Kaliwungu ini juga menerima berbagai macam job, yang penting masih berhubungan dengan gambar dan menulis. Sebuah bukti betapa Zaenal mampu menanggung "derita" dari sebuah ide.

Prestasi "Superzaenal"
Penghargaan Kontes Kartun Internasional
1993 Penghargaan Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1996 Penghargaan Knok Heist Belgia
1996 Nominasi Kartun Tabloid Bola Jakarta 
1997 Prize book/Katalog Aydin Dogan Vakfi Hurriyet Turky
1997 Juara III Lomba Karikatur Majalah Gatra-Humor Jakarta
1998 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang 
1998 Penghargaan Work Special Merit Jepang 
1998 Prize Book/Katalog Belgia
1999 Penghargaan Medali (Honorable Mention) Jepang
1999 Prize Book/Katalog Belanda
2000 Juara Kategori (Special Prize Sellection Comitte) Jepang
2001 Prize Book/Katalog Belanda
2003 Penghargaan Medali (CITATION) Jepang
2004 Nominasi Kartun Jawa Pos
2004 Juara Harapan Kartun Trans TV
2005 Juara I Lomba Poster HIV/AIDS Semarang 
2005 Juara Favorit Kartun Strip Jawa Pos

Ilustrator Buku
1. Tebak Humor Anak (Penerbit Wildan Pustaka Salam, 2004)
2. Seri Smart Word for Kids (Penerbit Wildan Pustaka Salam)
3. Ajari Aku Mencintai Kata (Fastabiq Media, 2005)
4. Humor Demokrasi (Toha Putra Centre, 2004)

Agus H. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas PasarBuku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11 Juli 2005 
09.26
thumbnail

Kelompok Kartunis Kaliwungu

Posted by Cinta Buku on

Sabtu, 21 Mei 2005. Tepat pukul 9 pagi dengan bus Semarang-Limpung, saya tiba di Masjid Agung Kaliwungu. Kaliwungu, salah satu dari sebelas kecamatan di Kabupaten Kendal. Kecamatan Kaliwungu terdiri dari 15 desa. Dari Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang, hanya sekitar 25 kilometer arah barat. Persis di depan Masjid Besar Agung —hanya terpisah oleh jalan selebar 6 meter— terdapat alun-alun Kawedanan Kaliwungu. Pagi itu tampak masih lenggang. Hanya 3-5 penarik becak dan kusir dokar (di lain tempat ada yang menyebut bendi atau delman) memarkir dokar dan becaknya di kanan-kiri jalan sepanjang alun-alun sebelah barat. 

Saya berniat hendak ke markas Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Sengaja saya datang pagi, lantaran Zaenal —salah satu anggota Kokkang— meminta saya datang lebihawal. "Nek iso teko luwih isuk Pak, sebabe ono acara syukuran, Ikhsan nembe wae menang Iomba. (Kalau bisa datang lebih pagi Pak, sebab ada acara syukuran, lkhsan baru saja memenangkan Iomba)," demikian ucap Zaenal ketika saya telepon. Sama halnya dengan Zaenal, Ikhsan juga salah satu anggota Kokkang, namun berasal dari Semarang. Ia bam saja memenangi hadiah sebesar l0 juta dari ISAI, selaku panitia lomba kartun bertema "Plus Minus 60 Tahun Indonesia Merdeka".

Saya mengenal Zaenal sekitar satu tahun berselang, secara tidak sengaja di kantor redaksi Suara Merdeka, ketika sama-sama hendak mengambil honor.

Markas Kokkang terletak di Jalan Sekopek Kaliwungu. "Baru sekitar tiga bulan rumah ini ditetapkan sebagai sekretariat Kokkang," terang Muslih yang sejak 1992 didaulat teman-temannya sebagai Ketua Teknis Kokkang dan peraih penghargaan Excellent Prize dari Yomiuri Shimbun Jepang (2000).

"Biasanya kami nebeng di salah satu rumah anggota. Di sanalah kami bertukar ide dan informasi, sekaligus tempat mengambii honor apabila kartun dimuat," katanya lagi.

Memang semua anggota mengirimkan karyanya menggunakan satu alamat. Bagi yang karyanya dimuat, honornya langsung dipotong 10% untuk kas Kokkang. "Dengan model itu, kas Kokkang lumayan cukup untuk menghidupi kegiatan-kegiatan rutin," ungkap Muslih. "Sekitar 90 persen untuk biaya kirim lomba kartun ke luar negeri," imbuh Zaenal yang sejak 2001 menjadi bendahara Kokkang.

Markas Kokkang ramai pada setiap Sabtu pagi. Ada yang mengambil honor, mencatat undangan mengikuti Iomba kartun, undangan menghadiri pameran kartun, mempersiapkan pameran, mendiskusi ide, memberikan masukan terhadap kartun yang dibawa, mengkoordinir kalau ada undangan mengikuti lomba kartun tingkat internasional, dan aktivitas lainnya.

Setiap tahun, Kokkang paling sedikit mengikuti 10 undangan lomba kartun tingkat internasional. Di antaranya Yomiuri Shimbun (Jepang), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido (Jepang), Sport Chosun International Cartoon Contest (Korea Selatan), Internationaal Cartoonfestival Knokke Heist (Belgia), International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki), Taiwan International Cartoon Contest (Taiwan), dan Nederlands Cartoonfestival (Belanda).

Komplotan Kartunis Kaliwungu berdiri pada 10 April 1981, atas prakarsa Budi Santoso (Itos) dan Darminto M. Sudarmo (Odios). Setahun kemudian, kata "komplotan" diganti menjadi "kelompok". Penggunaan "Kaliwungu" untuk memudahkan orang mengingat nama kelurahan tempat anggota Kokkang tinggal.

Itos kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Kendal sekaligus penilik kebudayaan di Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Kendal. Sementara Odios berkarier di Jakarta sebagai kontributor freelance beberapa media, menulis buku, dan menjadi konsultan desain grafis.

Sifat keanggotaan Kokkang sangat terbuka, tidak ada rekrutmen, tidak ada iuran, dan tidak harus berasal dari Kaliwungu. Terbukti ada anggota Kokkang yang berasal dari Semarang (Ikhsan Dwiono, Imam), Pegandon-Kendal (Koes Gandon), dan Jakarta (M. Nasir, M. Najib, Ifoed. M.Tavin, dan Wawan Bastian). Bahkan yang bukan anggota Kokkang pun boleh memakai nama Kokkang.

"Siapa pun boleh pakai nama Kokkang, walaupun bukan anggota, tidak ada ruginya kan? Toh nanti pada akhrinya ada seleksi alam," tambah Itos, peraih hadiah tujuh kali lomba kartun di luar negeri: Jepang (empat kali), Turki (dua kali), dan Korea Selatan.

Kini anggota Kokkang berjumlah kurang lebih 50 orang. Tapi, yang benar-benar aktif dan rutin mengirimkan kartunnya ke media, termasuk mengikuti lomba kurang lebih 25 orang. Dari 25 orang tersebut hanya sekitar 20-an yang betul-betul menggantungkan hidupnya lewat mengkartun.

Hingga sekarang, Kokkang telah melahirkan 6 angkatan. Pertumbuhan angkatan ini tidak tentu, tergantung seberapa luas kapling media. Biasanya ukuran yang digunakan untuk kelahiran sebuah generasi adalah dari kuantitas kartun yang dimuat di media serta saat seleksi karya untuk pameran. Tidak berdasarkan usia. Semakin banyak media yang menyediakan kapling kartun, semakin cepat pula kelahiran sebuah angkatan.

Dibandingkan dengan kelompok kartun lainnya, seperti Secac (Semarang), Pakyo (Yogyakarta), Pakarso (Solo), Perkara (Jakarta), Karung (Bandung), dan Ikan Asin (Banjarmasin), Kokkang boleh dibilang yang paling eksis. Kartun-kartun mereka mewarnai hampir semua media di Indonesia. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadi ilustrator, kontributor lepas, redaktur, PH untuk film dan iklan, dan wartawan, seperti M. Nasir (Bola), Wawan Bastian (Aura), Komarudin (Lampu Merah), Wahyu Widodo (Jawa Pos), Hertanto (Warta Kota), Koesnan Hoesi (Wawasan), Prie GS dan Joko Susilo (Suara Merdeka), Pujo Waluyo (BIN), Muktafin (Rakyat Merdeka), Ipong Gufron (Merapi), dan Tiyok (Bisnis Indonesia).

Beberapa anggota lainnya juga mulai merambah dunia perbukuan dengan menjadi ilustrator, seperti Muchid sudah menghasilkan 10 Seri Fabel Indonesia (Penerbit Elex Media Komputindo), Tevi Hanafi dan Muhammad Nazrudin (Penerbit Kanisius), Syaiful (Penerbit Mandira dan Wildan Pustaka Salam), Zaenal Abidin (freelance di Penerbit Wildan Pustaka Salam).

Sebagian besar kartun Kokkang berbentuk gag cartoon, sebuah istilah penanda untuk kartun yang lebih menekankan pada gerak fisik sebagai sumber kelucuan (slapstick). Hal ini disebabkan kapling media kian ciut, tidak hanya dalam jumlah tapi juga tema kartun, Kokkang pun mulai melirik media di luar negeri, salah satunya Malaysia. "Di Malaysia ada 9 majalah humor dan semuanya laris," cerita Muslih.

Kesempatan untuk menjadi kontributor majalah luar ini cukup besar. Tapi ada beberapa kendala yang mengakibatkan kesempatan itu luput diraih, seperti bahasa,sulitnya akses internet, dan pengelolaan organisasi yang masih menggunakan "manajemen bakso".

Lainnya dengan membuat kartun animasi. Adalah Slamet Sugianto, pengusaha sekaligus pemilik rumah produksl Anugerah Animasi meminta beberapa anggota Kokkang —di antaranya Tavin, Komarudin, Muchid, Didik, Bahar, Ipong, Tiyok, Zaenal— ke Jakarta (1995-1996). Selama kurang lebih satu setengah tahun mereka belajar membuat kartun animasi. Namun, sayang, krisis moneter melanda Indonesia.

Upaya lain yang diusahakan adalah mendirikan semacam kursus kartun. Di samping berfungsi sebagai profit center, juga sebagai sarana efektif untuk menyebarkan "virus" ngartun.

Matahari semakin meninggi, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Satu per satu anak-anak Kokkang mulai berdatangan. Mereka langsung menebar senyum dan tawa, saling berbagai informasi soal pemuatan karya dan hasil lomba, ada pula yang tengah asyik sambil membuka-buka majalah, tabloid dan koran, tentu saja pada rubrik kartun. Kebetulan hari itu datang sebuah paket berisi majalah Intisari edisi Mei 2005. Kartun Kaeroni ada di halaman pojok kartun.

Seperti kebanyakan kartunis lainnya, mereka pun sedikit bicara banyak tertawa. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi duta Indonesia bagi dunia. Indonesia teiah menempati ruang tersendiri di hati mereka. Buat mereka Indonesia adalah bagian dari Kaliwungu.

Agus M. Irkham, Eksponen oaseBACA! Semarang, Komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 3 No. 11, Juli 2005
18.53
thumbnail

Kekuatan di Balik Buku

Posted by Cinta Buku on

Huruf-huruf berselang-seling dengan gambar menghampar pada lembaran-lembaran kertas bertumpuk dalam satu bundel, inilah gambaran buku secara fisik. Tidak Iebih dari seonggok barang yang ada hampir di semua tempat. Buku dalam format mewah, yaitu bersampul kertas tebal bergambar indah yang dicetak di atas kertas berkualitas tinggi mampu menyumbang keartistikan dan kewibawaan ruang yang ditempati. Namun, tidak sedikit pula ruang menjadi semakin berantakan dengan kehadiran buku yang berserakan, atau karena adanya buku kumal, kusam, dan bau. Keberadaan buku dalam pandangan kebendaan tidak jauh dari penampakan tadi. Apakah makna buku sebatas penampakannya?

Kita sering mendengar ungkapan bahwa kita dapat mengubah dunia dengan buku. Benarkah demikian? Mari kita simak bagaimana agama mengubah cara manusia berpikir dan bertindak menjadi lebih baik. Dengan keyakinan keagamaannya, manusia sebagai unsur utama peradaban dunia bertindak untuk meningkatkan kualitas peradaban menjadi lebih baik. Kita tahu bahwa tuntunan yang diajarkan agama berasal dari Tuhan melalui utusan pilihan. Selanjutnya, tuntunan itu ditulis dalam buku yang kita sebut kitab suci agar tetap terjaga kemurniannya.

Panglima Jabal Al Tarik berhasil melintasi Selat Gibraltar hingga dapat menakiukkan Andalusia, yang sekarang kita kenal sebagai Spanyol, berkat keyakinannya pada kitab suci. Columbus berangkat dari Eropa untuk menemukan Amerika dengan acuan "Gloria dan Glorius" yang artinya demi kitab suci dan kemegahan kerajaan. Dia mengarungi samudra tanpa tepi yang belum pernah dijamah orang sebelumnya. Samudra yang menyimpan berjuta topan dan badai yang siap mengempas dan meluluh-lantakkan siapa pun yang mencoba mengarunginya. Dia berhasil sampai ke Benua Amerika yang saat itu mereka sebut sebagai dunia baru. Keberhasilan Columbus juga didasari oleh keyakinannya pada kitab suci. Kitab yang pembuat atau penulisnya tidak pernah dia temui secara langsung, tetapi pengaruhnya dapat merasuk ke dalam sanubari dan mendasari semua tindakannya.

Di banyak negara dengan beragam sistem pemerintahan, dari waktu ke waktu, dikenal adanya buku-buku yang diharamkan karena dianggap dapat mempengaruhi masyarakat dan membahayakan pemerintahan tersebut. Di negara besar seperti Amerika, pada zaman perbudakan, pernah menganggap buku Uncle Tom Cabin sebagai buku yang membahayakan karena bersimpati dan berpihak pada orang-orang Negro yang saat itu dianggap sebagai kaum budak, Di Rusia, pada zamannya: pernah mengharamkan buku dr. Zhivago karangan Boris Pasternak karena dianggap menentang paham komunis. Di Indonesia, bertahun-tahun buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer dilarang beredar karena dianggap membahayakan negara.

Dalam buku Bumi Manusia, Pramoedya menulis pertentangan kelas antara kelas orang miskin dengan kelas orang kaya atau penguasa yang berakhir tragis dengan semakin sengsaranya si miskin dan semakin pongahnya si kaya. Menurut pemerintah waktu itu, tulisan ini bisa menghasut pembacanya untuk berpihak secara berlebihan pada kaum duafa dan mengobarkan antipati terhadap kaum penguasa. Pada akhirnya akan mengacaukan ketenteraman masyarakat. Apakah pemerintah waktu itu tidak yakin dengan kemampuan berpikir dan penguasaan diri pembaca? Yang jelas, buku-buku Pramoedya seolah mewakili kekuatan yang harus ditaklukkan atau dimusnahkan.

Buku Harry Potter karya J.K, Rowling telah dicetak jutaan eksemplar bahkan telah difilmkan di layar lebar yang menyedot jutaan penonton. Buku ini mengisahkan penemuan jatidiri seorang Harry, Hermmione, dan Ron dalam menghadapi kehidupan di sekolah sihir Hogward maupun di luar sekolah. Lawan-lawannya seperti Lord Voldemort (Tom Riddle), Malfoy dan anaknya (Lucius dan Draco) dengan segala kekuatan, rekadaya, dan kelicikannya justru mempercepat penemuan jatidiri mereka.

Petualangan Winetoe mengisahkan persahabatan dua manusia yang latar belakang budaya sangat berbeda. Winetoe tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Indian suku Apache, sedangkan Sharlih seorang doktor dari Jerman yang berpetualang di Amerika. Dalam buku ini, Dr. Karl May sebagai penulis sekaligus tokoh dalam kisah Winetoe (Karl May dalam logat suku Indian Apache dilafalkan Sharlih) berhasil mengantar pembacanya berpihak dan mendukung tindakannya dengan Winetoe menegakkan norma kemanusiaan di daerah Wild West. Bahaya yang menghadang justru semakin memperkokoh persahabatan mereka.

Kemampuan J.K, Rowling dan Karl May dalam bercerita membuat karya mereka memiliki kekuatan dalam menghimpun orang untuk mencermati, menikmati. dan mengoleksi, bahkan menjadi acuan ide pembacanya dalam bertindak.

Dalam metoda ilmiah, tahapan proses selalu didasari oleh sesuatu yang tertulis. Orang selalu bertindak dengan mengacu pada sesuatu yang tertulis dan menulis yang telah dikerjakan. Keberadaan alat bantu kehidupan yang bermuatan teknologi, misalnya pesawat terbang, lemari pendingin, komputer, dan sejenisnya selalu didasari pada acuan tertulis, yaitu buku.

Namun, sebagaimana kodratnya, alat bantu kehidupan layaknya pisau bermata dua. Bisa dimanfaatkan untuk kebaikan atau didayagunakan bagi keburukan. Pesawat terbang misalnya, barang ini memberikan manfaat luar biasa apabila digunakan untuk mempercepat perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Sebaliknya, akan memberikan kerugian luar biasa saat digunakan untuk memusnahkan manusia dan tempat bersejarah. Pesawat terbang, seperti pada penerbangan pesawat Concord yang sekarang sudah dihentikan, tanpa sengaja membawa dampak kerusakan lapisan ozon yang kita butuhkan. Kesadaran akan manfaat dan kerugian dari sebuah produk tidak lepas dari peran buku yang ditulis para pakar penerbangan yang membuat peradaban berubah menuju arah lebih baik, Pada akhirnya, buku bisa menjadi berkah dan bisa juga menjadi musibah.

Tinggi rendahnya kualitas buku selain disebabkan wujud fisik, juga ditentukan oleh isi yang disampaikan penulisnya. Isi buku dianggap berbobot apabila setelah membaca buku tersebut pembaca dapat merasakan suatu nilai tambah ataupun bahan pemikiran yang mengarah pada perbaikan keadaan.

Sigmund Freud, yang dikenal sebagai bapak psikologi, hingga kini terus dikenang karena pemikiran yang dituangkan dalam buku Psikoanalisis dapat diterima atau dipahami oleh generasi selanjutnya. Buku-buku puisi Kahlil Gibran terus diminati pembaca karena sarat dengan makna dan perenungan. Buku-buku Danarto mengantar pembaca menikmati dunia fantasi tanpa tepi. Buku-buku petualangan Harry Potter karya J.K. Rowling dan buku-buku petualangan Winetou karya Dr. Karl May bisa membawa kita semakin percaya diri dalam berpikir dan bertindak. Apabila ingin menyerap kekuatan sambil menebar senyum baik certa maupun masam, kita dapat membaca buku-buku humor sufi semacam Nasarudin Hoya dan Abunawas. 

Buku sebagai alat perantara antara penulis ke pembacanya merupakan alat ampuh untuk mentransfer sumber energi yang sulit diukur kedalamannya.

Andra Diah Rahmawai, siswi SLTP Labshool Kebayoran
Majalah MATABACA Vol. 2/ No. 12/ Agustus 2004   
09.43
thumbnail

Hak Cipta dalam Penerbitan Buku

Posted by Cinta Buku on

Tulisan ini ditujukan untuk melengkapi tulisan Anwar Holid yang berjudul "Jangan Abaikan Halaman Hak Cipta" yang muncul di MATABACA Vol. 2/No. 10/Juni 2004, hlm. 39-40. Tulisan Anwar Holid mengulas soal pentingnya halaman hak cipta (tanggung jawab penerbit—pen.). Tulisan ini menjadi ajakan bagi pembaca (yang ingin mendalami hukum dalam penerbitan) untuk mengenali lebih jauh soal hak cipta dalam penerbitan buku. Referensi yang digunakan adalah buku Hukum Hak Cipta UUHC No. 19 Tahun 2002 karangan Prof. Dr. Eddy Damian, S.H. (Penerbit Alumni: 2004). Buku tersebut selain mengulas soal hak cipta (sejarah, perkembangan dan undang-undang) juga secara khusus membahas persoalan hak cipta dalam penerbitan buku. 

Halaman hak cipta (copyright page) adalah halaman pada buku yang memuat informasi, seperti nama penerbit (hak penerbitan), nama penulis (pemilik hak cipta/pemegang lisensi), desainer kulit muka (hak cipta desain), ilustrator, tahun penerbitan, ISBN, nama percetakan, edisi, logo penerbit, judul, undang-undang dan berbagai informasi/identitas lain. Untuk pencantuman nama desainer (juga ilustrator, fotografer) saat ini ada penerbit yang mencantumkan nama desainer di halaman lain. Sebagai contoh Penerbit Grasindo, mencantumkan nama desainer (buku-buku fiksi) di kulit muka belakang. Penulisan ini masih dalam kaidah hak cipta (moral rights).

Menurut Anwar Holid, sebuah buku tanpa berbagai keterangan di atas ibarat surat kaleng. Sebuah buku tanpa keterangan pada halaman hak cipta menunjukkan tanggung jawab penerbit yang rendah. Dalam kacamata kebudayaan (buku sebagai produk budaya) penerbit tersebut kurang bertanggung jawab dalam membangun civil society.

Hak cipta dibuat untuk memberi perlindungan baik secara moral maupun ekonomi kepada pemiliknya masing-masing. Hak cipta merupakan salah satu jenis hak yang terangkum dalam HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual/ Intellectual Property Rights). Istilah HaKI merupakan istilah baku yang secara resmi dipakai dalam Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2002 yang menggantikan UUHC 1997. Di dalam hak cipta (copyright) terkandung hak eksploitasi atau hak ekonomi (economic rights) dan hak moral (moral rights). Seorang pencipta memiliki hak atas kekayaan yang dimiliki. Oleh karena itu seorang pencipta memiliki hak untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, seperti melesensikan hak ciptaan karya tulis kepada penerbit. Di lain pihak, orang lain/pihak lain berkewajiban untuk tidak melanggar hak-hak yang dimiliki pencipta (hlm. 35).

Dalam hukum hak cipta juga berlaku hak eksklusif yang dimiliki seorang pencipta. Seandainya hak cipta penulis sudah diserahkan kepada pihak lain (misalnya penerbit), penulis masih memiliki hak eksklusif: menerbitkan karyanya dalam bentuk lain, seperti film dan komik. Hal ini tentunya dengan perjanjian yang disepakati oleh pihak penulis dan penerbit. Pihak yang diserahi hak cipta oleh penulis pun memiliki hak eksklusif untuk mengeksploitasi karya, tapi tetap dengan persetujuan antara penulis dengan penerbit tadi. Jadi, ada kesepakatan antara penulis (pencipta) dengan penerbit (pihak yang diserahi hak cipta).

Dalam dunia penerbitan buku berlaku hukum yang mengatur hak cipta yang bersangkutan dengan hak cipta lain. Contoh, perancangan kulit muka buku. Jika seorang desainer dipesan untuk merancang kulit muka sebuah buku, hak cipta kulit muka dimiliki oleh desainer tersebut. Hal tersebut disebabkan desainer tidak berada dalam satu lembaga dengan penerbitan. Akan tetapi, jika desainer merupakan bagian dari penerbit (misalnya staf desain) maka hak cipta dimiliki oleh penerbit tersebut.

Dengan demikian, makin jelas pentingnya perjanjian kerja antara pihak pencipta (penulis, desainer, ilustrator, dan fotografer) dengan pihak penerbit. Pentingnya perjanjian tersebut disebabkan seorang pencipta memiliki hak ekonomi atas hasil karyanya. Singkatnya, sebuah karya sah untuk dieksploitasi dalam bentuk lain dan tujuan lain. Mengenai pentingnya hak moral dapat dilihat dari peristiwa berikut.

Sebelum mesin cetak ditemukan, berdasarkan suatu catatan kuno ditemukan data tentang sebuah perkara hak cipta tahun 567 AD. Pada tahun tersebut, seorang biarawan Columba secara diam-diam menyalin tanpa izin kitab Mazmur yang merupakan ciptaan gurunya Abbot Finian. Saat itu, Raja King Diarmid mengetahui hal tersebut dan memerintahkan Columba menyerahkan kitab Mazmur yang disalinnya tanpa izin kepada Abbot Finian dan melarang melakukan lagi. Raja pun mengucapkan: "To every cow her calf, and to every book its copy." (terjemahan bebas: sapi betina punya anak sapi, sebuah buku punyasalinannya). Menurut Eddy Damian (hlm. 46), pernyataan to every cow her calf, and to every book its copy mengisyaratkan bahwa sebelum kelahiran undang-undang hak cipta pertama, telah ada kesadaran untuk melindungi ciptaan seorang pencipta berdasarkan alasan moral (moral impulse). Dengan demikian, sebelum ditemukan mesin cetak, alasan moral menjadi dasar untuk melindungi hak cipta seorang pencipta.

Pada pemerintahan King Richard III (Inggris) pada 1483, Inggris membuka pintu bagi peredaran buku-buku dari luar negeri. Pada akhir abad ke-16, dalam memenuhi kebutuhan buku dalam negeri, hak paten diberikan kepada penemuan baru di bidang industri, termasuk penemuan mesin cetak. Tahun 1518, kerajaan memberikan monopoli mencetak pada Richard Pynson, pimpinan badan usaha Percetakan Kerajaan bernama Stationers Company. Hal tersebut menyebabkan percetakan dan penerbitan buku hanya dimiliki perusahaan tersebut atau percetakan lain yang terdaftar sebagai anggota Stationers Company. Dalam arti lain, pencipta atau penulis, hak-haknya untuk memperbanyak karya tulis sama sekali diabaikan. Hak perbanyakan hanya ada pada percetakan (hlm. 49).

Tahun 1695, sistem monopoli di Inggris tersebut berakhir disebabkan maraknya pembajakan pelbagai barang cetakan yang dimonopoli kerajaan. Untuk mengatasi hal tersebut, lahir undang-undang hak cipta pertama di dunia, yaitu Statute of Anne. Undang-undang ini mengubah status pencipta menjadi pemilik eksklusif karya ciptanya, seperti hak khusus dan kebebasan mencetak (hlm. 50). Sejak itu, berkembang berbagai undang-undang hak cipta, seperti Konvensi Bern (1886), Konvensi Hak Cipta Universal (1955), Konvensi Roma (1961), Konvensi Jenewa (1967), dan TRIPs (1994).

Selain mengulas soal hak cipta, terutama hubungan penulis dengan penerbit (seperti perjanjian kerja, contoh surat perjanjian), buku Hukum Hak Cipta juga mengulas tentang (hak) perwajahan buku (typographical arrangements), hak waris atas suatu ciptaan (jika diketahui penciptanya sudah meninggal), lisensi, batas-batas hak cipta dan peraturan lain yang berkaitan dengan hak cipta.

Sampai saat ini, Indonesia termasuk negara yang berada dalam tingkat pelanggaran hak cipta yang besar (priority watch list), salah satunya pelanggaran hak cipta atas buku (buku-buku luar negri). Jika maraknya buku-buku penerbit baru (penerbit alternatif) yang menerbitkan buku terjemahan dengan dalih karena pentingnya memberi referensi (ilmu pengetahuan) kepada masyarakat, dengan menelusuri lebih jauh soal hak cipta, paling tidak diharapkan penerbit berpikir lebih dalam melakukan kerja budaya, yaitu menerbitkan buku dalam kaidah/hukum yang disepakati bersama dalam menciptakan proses belajar yang baik bagi masyarakat. Di sisi lain, alasan (beberapa) penerbit era 1990-an (para penerbit alternatif) menerbitkan karya terjemahan tanpa melalui perizinan disebabkan peran pemerintah yang kurang mendukung dalam mermbuat kebijakan bagi dunia perbukuan nasional saat itu. Hal ini lebih tepat jika dilihat dari kacamata sosiai-politik-budaya dibanding dari sudut hukum (karena dalam hal ini hukum dilihat sebagai perangkat pemerintah Orde Baru). Tak bisa dipungkiri bahwa maraknya buku terjemahan oleh para penerbit alternatif menyebabkan beredarnya wacana kritis bagi masyarakat yang sedikit banyak berkaitan dengan proses pencapaian reformasi.

Perkembangan media seperti internet menjadi media altematif masyarakat dalam mencari ilmu pengetahuan atau sekadar mencari informasi dan hiburan. Dalam konteks tata tertib hukum, hal ini bisa diartikan bahwa bukan internet yang dapat menggeser peran buku sebagai media informasi (ilmu pengetahuan), tapi tingginya kesadaran masyarakat (pembaca) tentang hukumlah yang bisa jadi akan menyeleksi buku-buku dengan kerja penerbitan yang benar atau tidak, Karena baik pembaca, penerbit, distributor, dan pihak lain merupakan pihak yang menjadi subjek hukum alias sepakat untuk menaati hukum.

FX. Widyatmoko, perarcang kulit muka buku dan tinggal di Bandung
Majalah Mata Baca, Vol. 2/No. 12/Agustus 2004
09.38
thumbnail

Berkutat dengan Perasaan dan Pikiran: Sebuah Refleksi Menerjemahkan

Posted by Cinta Buku on

Sejak dua tahun silam saya sudah menerjemahkan sekitar lima buku asing, sebagian besar buku-buku sastra dan satu buku psikologi, serta beberapa artikel. Beragam perasaan berkecamuk di hati ketika saya mengerjakan. Ada buku yang membuat pusing tujuh keliling, lelah dan sebal karena begitu detail menceritakan hal-hal kecil dalam keseharian. Ada juga yang membuat sedih, gembira dan tertawa karena rumit ataupun lucunya penceritaan karakter para tokohnya.

Buku pertama yang saya terjemahkan bersama Anton Kurnia (Jostein Gaarder, Misteri Soliter, Yogyakarta: Jalasutra, 2002) bukan buku yang mudah, tetapi tidak juga susah. Sebelum menerjemahkan, saya sudah diberi semacam "panduan" agar semua isi buku itu selaras untuk memudahkan proses pengeditan. Jadi, buku itu adalah buku "termudah" yang pernah saya terjemahkan. Kisahnya pun mengasyikkan meski agak aneh. Inilah buku pertama yang mengawali proses penerjemahan yang kini saya geluti.

Sebuah Rumah untuk Tuan Biswas (Yogyakarta: Jalasutra, 2003) —sebuah masterpiece V.S. Naipaul— adalah buku yang membuat saya ngos-ngosan dan tertatih-tatih mengerjakan,. Bersama Neti Meilyawati, selama hampir lima bulan kami baru bisa tuntas menerjemahkan buku tersebut. Ratusan halamannya membuat kening saya berkerut dalam, kadang-kadang merasa aneh bahkan menyebalkan. Hal-hal dalam keseharian ditulis Naipaul dengan cermat, detail dan penuh penjiwaan. Saya ingat bahwa dalam Keluarga Tulsi, keluarga mertua Tuan Biswas di Hanoman, ada ritual makan kapur (bayangkan, kapur!) dicampur sejenis cairan manis lain yang harus dimakan oleh anak-anak agar tidak kekurangan kalsium, menjijikkan. Saya pun hapal bagaimana bersin Tuan Biswas sering sekali menjadi penyebab musibah bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Memang lucu sekali, meskipun kadang-kadang terasa berlebihan. Sungguh menyedihkan saat Tuan Biswas gagal mendapatkan rumah impian yang dibelinya dari seorang pengacara. Ketika rumah baru menjadi miliknya, rumah yang tadinya selalu tampak bagus di malam hari ternyata tidak lebih dari rumah jeiek yang tak sebanding dengan uang yang sudah dikeluarkan (pada siang hari): pintu belakang tidak ada, tangga rumah "berbahaya", dan lantai bawah amblas. Kadang-kadang saya berhenti mengerjakan karena terlalu lelah dengan detail semacam itu, atau karena merasa sesak bila mendapati Tuan Biswas yang selalu ingin melakukan hal benar itu gagal dalam usahanya. Kata tersulit dalam karyanya yang tidak ada dalam kamus bahasa Inggris besar di rumah, seperti kata prognathaus yang diiringi dengan kata smile. Saya sempat kesulitan mencari kata itu, meski bisa mengira-ngira maknanya sebelum akhirnya seorang teman membantu mencarikan artinya dari sebuah kamus di perpustakaan LIA Bandung. Kata-kata yang dipakai oleh Naipaul dalam bukunya bukan kata-kata yang biasa ditemui dalam novel-novel biasa. Naipaul menggunakan bahasa Inggris khas British yang sangat "rapat" dan rumit, sungguh melelahkan dan butuh konsentrasi tinggi untuk menyelaraskan. A House for Mr. Biswas merupakan buku pertama yang langsung saya tangani sendiri.

Buku Marguerite Duras, The Lover (Yogyakarta: Jalasutra, 2004) yang baru-baru ini saya terjemahkan punya sisi lain yang tak kalah dahsyat. Tidak ada keruwetan detail keseharian di dalamnya, tetapi saya merasa tertekan dengan cara bercerita Duras yang aneh, tidak biasa dan lebih mengedepankan sisi psikologis karakternya dengan rumit, dibandingkan peristiwanya sendiri. Tidak banyak tutur kata, hanya perasaan yang dirasakan sang tokoh terurai tak biasa. Duras seperti berbicara dengan diri sendiri, membuat saya merasa gamang, tertekan dan aneh. Ketika sampai pada bagian hasrat —sang gadis mengeksplorasi tubuh mungilnya kepada seorang pria yang tergila-gila padanya— saya sempat berhenti menerjemahkan, sungguh menyesakkan. Kisah perseteruan sang gadis dengan ibunya (tanpa percakapan, hanya kilasan perasaan) membuat saya merasa sedih seolah ikut mengalami. Buku itu disebut-sebut sebagai autobiografi Duras yang tidak diakuinya, sarat kepedihan dan kisah cinta yang janggal. Bagi saya, novel ini merupakan rangkaian kisah cinta dan hidup yang indah meski penuh luka. Tidak akan ditemui happy end ataupun sad end setelah membaca bukunya. Yang ada hanya rentetan pengalaman hidup seorang perempuan istimewa. Seorang teman yang mengedit karya Virginia Woolf mengomentari pandangan saya tentang buku itu; "Duras 'sakit' ya?" Saya membalas, "Tapi Duras tidak mati bunuh diri."

Kesulitan terbesar ketika mengerjakan The Lover ketika saya harus berkutat dengan kata-kata yang "rapat" dan "padat". Untungnya buku itu hanya sebuah buku tipis. Kesalahan pertama terjadi ketika saya menerjemahkan kata Spectator menjadi Pengamat di bagian halaman persembahan. Padahal Spectator adalah nama sebuah harian, seperti halnya News Weekly atau Guardian. Wawasan adalah salah satu hal yang mutlak penting sehubungan dengan kesalahan itu. Beberapa kesalahan lain terjadi ketika saya keliru memaknai beberapa penggal kalimat, disebabkan sangat rumitnya struktur bahasa yang dipakai dalam buku itu dan pengetahuan struktur saya yang masih harus terus digali. Hal lain juga karena fakta bahwa buku itu diterbitkan pertama kali dalam bahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Barbara Gray (bayangkan pergeseran makna yang mungkin terjadi saat saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), cukup mengganggu. Untunglah, dengan hasil editan nyaris sempuma, buku The Lover bisa dibaca dengan asyik. 

Artikel tentang peraih Nobel Perdamaian 2004, Shirin Ebadi asal Iran yang saya kerjakan bersama dua teman untuk Mizan mengangkat semangat saya setinggi-tingginya. Artikel itu, ditambah riwayat hidup aktivitas dan pidato Nobel Perdamaiannya diterbitkan Mizan untuk menyambut kedatangan Ebadi, judulnya Srikandi HAM dari Negeri Muslim. Tak peduli betapa politisnya penghargaan itu (menurut banyak orang), saya merasa "dikompori" oleh kata-kata Ebadi dalam wawancaranya dengan beberapa stasiun TV terkemuka dunia yang saya terjemahkan. Ia yang bekerja dan bekerja sepanjang hidupnya untuk membantu orang-orang tertindas dengan hanya sedikit memedulikan keselamatan hidupnya itu menginspirasi saya agar melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik, Mengerjakannya tak terlalu sulit, ton masih ada kesalahan yang saya buat.

Buku Tasawuf dan Psikologi (Sufism and Psychology, karya Lynn Wilcox, Ph.D.) yang urung diterbitkan oleh penerbit pemberi order karena ternyata didahului oleh penerbit lain merupakan buku yang paling membuat saya berkeringat. Bayangkan, betapa istilah psikologi sekaligus tasawuf yang kurang saya pahami berkeliaran di seluruh isi buku itu! Sampai-sampai saya menghubungi Al —teman saya— untuk membantu menerjemahkan istilah tasawufnya. Beberapa kali ada teguran setelah seluruh buku itu selesai diterjemahkan karena pihak penerbit merasa saya membuat cukup banyak kelalaian. Kejadian itu membuat saya belajar untuk hanya menerjemahkan buku-buku yang saya suka atau kuasai. Sastra selalu mengasyikkan bagi saya. Meskipun dapat dipelajari, buku-buku selain sastra merupakan ranah baru dan asing yang masih harus saya pahami secara benar dan mendalam, tidak bisa asal menerjemahkan, bisa-bisa malah membodohi orang banyak!

Dead Poets Society (adaptasi film karya N.H. Kleinbaum, Yogyakarta: Jalasutra, 2004) merupakan buku sastra penuh puisi indah yang saya anggap seperti anak saya sendiri. Sejak penghujung 1990-an, saya sudah memiliki, membaca berulang kali sambil menikmati kembali berbagai perasaan yang berkecamuk di hati saya ketika melakukannya. Perasaan bahagia menghantui saya saat menerjemahkan. Bagaimana tidak, saya sungguh memahami mengapa Neil bunuh diri demi kebebasannya, atau sebab Todd menjadi begitu berbeda setelah diajar Pak Keating, guru barunya. Saya bahkan hapal beberapa penggal dialognya. Itu karena saya begitu mengenal buku itu. Proses menerjemahkannya pun tidak memakan waktu terlalu lama. Itulah buku pertama yang saya kerjakan dengan sangat enjoy, meski tetap membuat kecerobohan dalam menerjemahkan puisinya. Tidak mudah menerjemahkan bahasa puisi asing ke dalam bahasa kita, kesalahan interpretasi sangat mungkin terjadi. Dalam salah satu puisi ada kalimat gather ye rosebuds, yang awalnya saya terjemahkan "kumpulkanlah kuntum-kuntum bunga" bukannya "berkumpullah wahai kuntum bunga" yang lebih mengena dan tepat. Sempat terjadi perbedaan pendapat dengan editor dalam hal panggilan nama murid di Barat yang sama dengan menyebut nama belakang keluarga, dalam hal ini nama ayah. Jadi. ketika Todd dipanggil sebagai Mr. Anderson dalam acara tahunan Welton Academy, begitupun dengan sang ayah, Mr. Anderson, editor Dead Poets berpendapat pemakaian nama harus dibedakan agar mudah merujuk nama anak dan nama ayah, sedang menurut saya biarkan saja, toh pembaca akan tahu dengan sendirinya: mana anak dan mana ayah. Saya lebih memilih untuk tidak menerjemahkan tradisi Barat ke dalam tradisi kita, sedangkan editor tetap berpendapat bahwa pembedaan nama bisa memudahkan pembaca memahami isi buku itu, yang artinya mengubah pangglian Mr. Anderson (anak) dengan Todd saja.

Ketidaksepahaman antara penerjemah dan editor merupakan hal biasa yang mungkin terjadi karena pemikiran dan pertimbangan masing-masing orang takkan pernah sama. Sungguh menyenangkan jika kebetulan bekerja sama dengan editor yang rela bersusah-payah menanyakan maksud atau pendapat kita mengenai terjemahan yang kita kerjakan (pertama kali saya alami dengan editor buku Dead Poets Society). Pengalaman paling seru yang pernah saya alami sehubungan dengan proses terjemahan dan editing ketika saya bekerja sama dengan editor The Lover yang mengembalikan hasil editannya untuk saya baca baik-baik selama beberapa hari. Ia meminta saya mengoreksi pekerjaannya, apakah sesuai dengan yang saya inginkan. Menurui editor tersebut, sayalah bidan pertama yang bisa memahami isi buku itu dengan cukup baik. Padahal, setelah ia mengeditnya, tingkat keterbacaannya menjadi jauh lebih tinggi. Itulah pengalaman pertama saya bekerja sama dengan seorang editor yang sangat rendah hati, padahal berkat editor itu (dan berkat pengetahuannya yang luas) buku The Lover menjadi sebuah buku dengan tingkat keterbacaan tinggi yang enak dinikmati.

Kadang-kadang saya merasa gamang setiap kali menyadari bahwa saya sedang "membahasakan" karya orang lain kepada khalayak, apalagi jika karya itu mendapat penghargaan prestisius dan dikenal orang banyak. Sering saya merasa tidak puas saat membaca buku terjemahan yang suiit dipahami dengan kata yang melingkar-lingkar hingga sulit menangkap maknanya; entah karena saya yang bodoh atau karena kualitas terjemahan yang jelek. Kadang-kadang saya bisa langsung menanyakan sebabnya bila saya mengenal orang yang bersangkutan dengan proses penerjemahan tersebut. Biasanya jawaban yang sering diterima, "Begitulah adanya. Penulisnya memang menulis buku yang rumit, jadi bahasanya pun rumit." Padahal, bukankah penerjemahan dimaksudkan agar orang bisa lebih mudah memahami sebuah buku daiam bahasa ibunya? Saya masih sering khawatir kalau-kalau saya gagal menginterpretasikan maksud penulis, apalagi sampai melantur. Tanggung jawab saya sangat besar. Setiap kekeliruan yang dibuat, seremeh apa pun, bisa membodohi orang lain. Karena itu, saya hanya berani menerjemahkan buku-buku yang sudah saya kenal sebelumnya (seperti buku-buku sastra), baik melalui film maupun berdasarkan referensi orang yang sudah membacanya. Saya pun selalu berharap agar editor buku-buku terjemahan selalu cermat memeriksa kekeliruan yang ada hingga keterbacaan dalam bahasa sasaran menjadi lebih tinggi.

Saya cukup sering di-"panas-panasi" suami untuk memberanikan diri melamar menjadi penerjemah yang lebih profesional pada sebuah penerbit bagus di Bandung karena dia pikir saya cukup mampu melakukannya. Saya katakan bahwa saya belum terlalu berpengalaman dalam bidang itu, mungkin jika sudah menerjemahkan kurang lebih 10 buku dan semakin meminimalkan kesalahan, baru saya akan memikirkan. Menerjemahkan bukan hal mudah dilakukan, tetapi kecerdasan dan nyali dalam mengolah dan mengeksplorasi kata sepenuh rasa dan pikiran senantiasa tertantang. Menerjemahkan membuat saya "menjelajahi" dunia dan pemikiran baru yang sebagian besar belum saya alami dalam kenyataan dan rasanya sampai kapan pun pekerjaan ini tetap bisa dilakukan meski saya beranjak tua. Saya berharap tak pernah "pensiun" dari pekerjaan ini, setua dan selemah apa pun saya kelak. Semoga saja.

Septina Ferniati, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 12,  Agustus 2004  
11.00
thumbnail

Tips dan Trik Menulis Skenario: "The Nine-Act Structure" (Bag. 2)

Posted by Cinta Buku on

Kali ini kita akan membahas lanjutan teori The Nine-Act Structure. Banyak pembaca yang memberikan komentar dan pertanyaan seputar teori 9 babak ke penulis, apakah teori bercerita 9 babak lebih mengedepankan unsur konflik dan kejutan sehingga membuat para penonton/pembaca cerita film kita dicekam ketakutan? Jawabannya, tidak. Teori bercerita 9 babak memberikan "pengalaman" dan "waktu berpikir" bagi penonton untuk memecahkan masalah bersama sang aktor. Jika Anda baca artikel sebelumnya, pada babak ke-6 "reversal"/titik balik diterangkan bahwa tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Babak ke-6 dalam struktur 9 babak adalah babak paling penting dan digunakan untuk mengajak penonton turut larut dalam pemecahan masalah dalam cerita yang sedang berlangsung. Dalam film Enemy of the State, kita melihat peran Will Smith yang berakting menjadi seorang buronan pemerintah. Di babak ke-6 cerita dalam film tersebut, Will Smith menemukan informasi dari Gene Hackman tentang teori konspirasi intelijen yang sedang berlangsung di pemerintah Amerika Serikat. Akhirnya, ia menemukan cara untuk menjebak sang pemburunya dengan menggunakan kaset perekam video dan alat-alat penyadapan yang dipelajari semasa menjadi buronan.

Babak ke-6 adalah babak yang menerangkan segala inti masalah dalam cerita. Jika Anda pernah melihat film The NET dengan aktor Sandra Bullock yang berperan sebagai ahli komputer yang dikejar-kejar penguasa. Dalam film itu diceritakan, Sandra Bullock menemukan hubungan antara kerusakan program komputer dan bisnis jutaan dolar yang dapat membahayakan pemerintah Amerika Serikat. Sandra Bullock menyadari, ia harus membatalkan rencana peluncuran sebuah sistem operasi komputer yang dapat merusak dunia dengan cara melepaskan program komputer tandingan di sebuah pameran  teknologi informasi.

Membuat Cerita Drama 9 Babak
Kali ini kita akan membuat sebuah contoh outline cerita dengan setting Indonesia yang menggunakan teori 9-babak.

Act 0: Babak kejadian buruk menimpa orang lain
Ada suatu kejadian di suatu tempat yang tidak berhubungan dengan aktivitas tokoh protagonis. Seseorang terbunuh oleh orang lain (antagonis), sesuatu yang dicuri atau sesuatu yang diperebutkan. Sebuah pesawat diberitakan di koran meledak dan mengalami kecelakaan. Seluruh penumpang tewas, termasuk dua orang pasangan suami istri pengusaha Tuan dan Nyonya Sugandi.

Act 1: Babak awal dan pengenaian karakter protagonis
Sebuah pemandangan kota, menampilkan aktivitas sang karakter protagonis yang digambarkan innocent, tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari bahwa ada bahaya atau masalah yang mendekatinya.

Kita melihat aktivitas karakter tokoh utama, kita sebut saja bernama Srikandi. Srikandi adalah putri tunggal Tuan dan Nyonya Sugandi. Ia mendapatkan berita dari pengacara keluarganya tentang warisan sebidang tanah seluas 1.000 hektar di Kalimantan. Srikandi tidak pernah menduga, bila ayah dan ibunya memunyai tanah yang luas di pulau tersebut. Kita mendapatkan informasi bahwa Srikandi seorang gadis introvert dan tertutup.

Act 2: Babak kejadian buruk menimpa tokoh protagonis 
Sesuatu buruk terjadi, sosok tokoh protagonis terjebak di sebuah tempat atau kejadian yang membuatnya terperangkap, menjadi kambing hitam atau menjadi korban. Masalah semakin bertumpuk, ia menjadi buronan poiisi atau pemerintah.

Sebuah perusahaan tambang emas bernama Bre-X mendapatkan kabar bahwa tanah yang dimiliki Srikandi mengandung cadangan mineral emas sebesar 20 juta ton. Mereka berusaha mendekati Srikandi dan menawarkan uang 100 miliar rupiah untuk pembelian tanah tersebut, Srikandi menolaknya. Perusahaan Bre-X memaksa, tetapi Srikandi tetap menolak.

Act 3: Mempertemukan tokoh antihero/protagonis dengan lawan antagonis
Tokoh antihero kebingungan, ia akhirnya bertemu dengan sumber masalah secara sekelebatan. Ia heran menemui calon musuhnya (antagonis) yang justru memperburuk keadaannya.

Kesal karena tawarannya ditolak, Bre-X menyewa seorang petualang, seorang laki-laki tampan, menarik dan profesional untuk mendekati Srikandi. Sang lak|-laki tersebut (sebut saja bernama Arjuna) tertarik dengan job yang diberikan kepadanya. Ia berupaya mendekati Srikandi dan mencoba merayunya menjadi pacarnya. Srikana terlena, ia tidak mengira bahwa Arjuna adalah agen suruhan Bre-X untuk menguasai harta warisan tanahnya.

Act 4: Sebuah rencana dibuat
Tokoh antihero terpaksa membuat rencana pelarian, karena kebingungan terhadap situasi yang dihadapi. Sementara ia mendapatkan informasi jelas bahwa ia menjadi kambing hitam dari sebuah konspirasi.

Tanpa curiga sedikit pun, Srikandi memercayai Arjuna. Mereka berdua akhirnya menjadi sepasang kekasih. Srikandi terlena, hingga suatu saat Arjuna berhasil merampas sebagian dokumen harta warisan yang dimiliki.

Act 5: Menuju tujuan yang salah
Karena semakin terdesak, sang tokoh protagonis berjalan tidak tentu arah, melarikan diri dan berusaha keluar dari masalah yang justru semakin membuatnya terpuruk. Sampai suatu saat, ia membentur sesuatu yang tidak bisa dilewati. Ia jatuh. Sementara pihak lain dan tokoh antagonis tetap memburu.

Srikandi sadar telah dipermainkan Arjuna, ia akhirnya melarikan diri dari Arjuna sambil membawa sebagian dokumen penting. Arjuna berupaya mengejarnya, tetapi kehilangan jejak Srikandi bersembunyi dan pergi ke Kalimantan demi membuktikan isu kandungan emas di tanahnya tersebut.

Act 6: Titik balik
Di saat titik nadir dan kesialan hidupnya, tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Di tengah kesialan dan penderitaan hidupnya, Srikandi bertemu dengan seorang ahli geologi dan pertambangan. Ia mendapatkan informasi dari ahli tersebut bahwa ada sesuatu yang salah dalam informasi kandungan emas di tanah yang dimiliki. Ternyata menurut penelitian data di lapangan, tanah Srikandi tidak sedikit pun mengandung emas. Srikandi kaget, ia berupaya mencari informasi dan mengungkapkan rahasia skandal emas yang di gembar-gemborkan perusahaan Bre-X.

Act 7: Menjalankan rencana darurat kedua (yang tidak pernah terpikirkan)
Setelah mengetahui kelemahan musuhnya, tokoh antihero berubah menjadi tokoh superhero dan mencoba melawan penindasan yang teiah dikenakan padanya. Inilah saat pembalasan. Tokoh kita berbalik menuju tempat antagonis.

Srikandi berusaha mematangkan rencana untuk membongkar skandal emas yang menimpa dirinya. Srikandi akhirnya tahu bahwa Bre-X adalah perusahaan penipu yang berusaha mengguncangkan pasar saham dunia dengan mengembuskan isu kandungan emas yang menghebohkan. Srikandi rnenggunakan berbagai cara untuk memberi pejajaran orang-orang Bre-X dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib untuk melucuti Bre-X.

Act 8: Klimaks cerita
Cerita diakhiri dengan terbongkarnya kasus tersebut. Arjuna dan orang-orang Bre-X tertangkap. Srikandi kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang. Kandungan emas 20 juta ton ternyata cerita isapan jempol belaka.

Modifikasi
Cerita-Struktur 9 Babak
Selain memberikan dua tujuan (two goals) yang berbeda, struktur 9 babak menerangkan kita bahwa begitu banyak kemungkinan cerita menjadi lebih berisi dan menarik. Modifikasi dapat kita lakukan per babak, umpamanya kita dapat memberikan keterangan bahwa tokoh protagonis kita ternyata mempunyai kelemahan fisik, seperti sakit, cepat lelah atau cacat. Cerita menjadi lebih dramatis dengan melakukan perubahan karakter, abilitas/disabilitas kemampuan dan beberapa halangan tambahan yang memperkaya jalannya cerita skenario. Jika Anda sempat menonton film Panic Room yang dilakoni oleh Jodie Foster, kita melihat sebuah cerita yang dramatis, aktor utama film tersebut mempunyai penyakit asma yang membuatnya susah bergerak.

Pada contoh outline cerita di atas, kita dapat menambahkan beberapa masalah yang dihadapi Srikandi, umpamanya kita dapat memunculkan tokoh lain (selain Arjuna) yang ternyata tertarik menguasai surat warisan Srikandi. Atau kita berikan komponen disabilitas pada karakter Srikandi, menjadi seorang yang memunyai penyakit asma sehingga menambah ketegangan dalam cerita, Atau kita bisa mengubah karakter antagonis yang dimainkan oleh Arjuna.

Mungkin di babak ke-6 kita bisa memodifikasi karakter Arjuna: sadar bahwa ternyata ia betul-betul mencintai Srikandi dan berbalik menolongnya lepas dari kejaran Bre-X. Mungkin saja bukan?

Rumus Antagonis Menjadi Protagonis
Salah satu kejutan yang bisa ditampilkan pada penonton atau pembaca skenario kita adalah mengubah karakter antagonis menjadi karakter protagonis. Kita bisa menceritakan bahwa karakter antagonis berbalik arah, sadar akan kejahatannya dan berupaya membantu karakter antagonis pertama (tokoh utama cerita) melanjutkan tujuannya untuk mengalahkan lawan sebenarnya. Supaya cerita dapat diselami secara logika, kita dapat memberikan beberapa alternatif, sebagai berikut:

1. Tokoh antagonis dapat berubah membantu tokoh protagonis untuk melawan musuh sebenarnya jika peran tokoh antagonis adalah tokoh pembantu karakter lawan utama (antagonis utama).

2. Tokoh antagonis dapat berubah menolong tokoh protagonis apabila diberikan hubungan batin yang mengakibatkan kesadaran (kasih sayang, jatuh cinta, kasihan).

3. Tokoh antagonis kita berikan keterangan bahwa ternyata dia mempunyai "hubungan darah", pertalian saudara (ayah-anak, suami-istri, dan sebagainya). Dalam film StarWars, kita menyaksikan peran batin berkecamuk antara tokoh antagonis ayah Darth Vadder melawan Luke SkywalKer—tokoh protagonis anaknya sendiri.

Penutup
Banyak sekali elemen tambahan yang dapat kita gunakan untuk membuat skenario yang baik. Bahkan teori 9 babak sangat menolong kita mengetahui bagian cerita mana yang lemah, bagian mana yang kuat dan kita bisa memperbaikinya tempat yang tepat. Sebuah cerita layaknya sebuah bangunan, kita harus mengerti bagian-bagian tertentu untuk memperkokoh jalinan cerita tersebut. Sebuah skenario adalah sebuah struktur cerita yang padat, dan kita tidak boleh mengabaikan satu bagian pun. Untuk menguatkannya, kita membutuhkan pengetahuan tentang struktur babak cerita itu sendiri.

Sonny Set., praktisi film dan  pembuai skenario di beberapa stasiun televisi
Majalah Mata Baca Vol. 2 No.  12, Agustus 2004  
08.33
thumbnail

Ketika Gadis Kecil Memilih Telenovela Ketimbang Buku

Posted by Cinta Buku on

Neni, gadis kecil 5 tahun, tampak terpukau sekali dengan tontonan telenovela Valentina. Dia bisa menirukan Valentina, tokoh utama yang berbadan gemuk dan kacamata tebal. Dia paham juga tokoh-tokoh lain. Namun, coba sodorkan buku cerita kepadanya. Siswi TK B salah satu taman kanak-kanak di Jakarja Selatan ini tak lama membukanya. Rentetan huruf warna-warni yang bertebaran, dan gambar-gambar yang menarik tidak mampu memperangkap kedua matanya. 

Mengapa Neni lebih suka nonton ketimbang membaca buku? Pertanyaan ini tentu menggoda untuk dilacak mengingat telenovela seperti Valentina dan sejenisniya merupakan tontonan orang dewasa sementara alam pikirnya masih sangat sederhana.

Siapakah yang salah sehingga seorang anak tidak memiliki minat baca? Televisi, sekolah, lingkungan, ataukah orang tua? Mencari siapa yang salah bukanlah sesuatu yang penting bagi pemerhati masalah perbukuan, Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet. "Anak kita tidak memiliki minat baca tentu kita yang salah karena kita sebagai orang tua tidak memiliki budaya baca. Lalu mengapa kita tidak memiliki minat baca, ya karena orang tua kita. Kemudian orang kita ... dan seterusnya," ungkap Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini.

Uraian ini disampaikannya beberapa waktu lalu ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar yang bertemakan "Membangun Budaya Baca dalam Keluarga" di Jakarta.

Mencari yang salah tidaklah menyelesaikan persoalan, catatan ini sangat ditekankan oleh Riris. Lebih utama adalah bagaimana kita sebagai orang tua dapat menumbuhkan minat baca kepada anaknya. "Harus kita akui dengan jujur sudahkah kita membimbing dan mengarahkan anak-anak untuk menjadi pembaca. Sudahkah kita menyediakan lingkungan yang mendorong anak gemar membaca?" tukas Riris lagi.

Gugatan Riris tampaknya beralasan. Di saat suami istri membangun sebuah rumah, jarang dari mereka memikirkan untuk membuat ruang bacaan meskipun sederhana. Biasanya yang terpikir di mana ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, taman, dan lain-lain. Perpustakaan, biasanyaterlupakan.

Yessy Gusman yang tampil bersama Riris membenarkan lingkungan dalam hal ini keluarga berperan besar untuk menumbuhkan minat baca kepada anak. Yessy sendiri mengaku minat bacanya tumbuh karena orang tuanya yang menciptakan lingkungan yang mendorongnya untuk membaca. Begitu pula ketika melanjutkan studi di luar negeri, suasananya sangat mendukung. "Bayangkan perpustakaan di sana buka sampai pukul 12 malam. Belum lagi toko-toko bukunya menyajikan buku yang lengkap dan suasananya menarik.

Minat bacanya yang besar ini mendorong Yessy untuk menularkan tidak saja kepada anak-anaknya, tetapi juga kepada anak-anak lain. Sejak Desember 1999, Yessy berhasil rmendirikan taman bacaan di berbagai kota. Kalau awalnya dimulai dari ruangan 2,5 x 3 meter dengan sarana seadanya kini sudah 37 taman bacaan yang didirikannya. "Taman bacaan itu menjadi tempat membaca, bermain, dan belajar. Di tempat ini mereka juga belajar bersosialisasi dan mengembangkan bakat-bakatnya," papar mantan bintang film idola remaja tahun 1980-an ini.

Keluarga
Kembali lagi kepada kisah Neni. Mungkinkah minat bacanya ditumbuhkan? Jawabnya mungkin, bila orang tuanya memberikan lingkungan yang dapat mendorongnya untuk memiliki minat membaca.

Orang tua Neni mengakui selama ini mereka tidak memberikan lingkungan yang menunjang. Minat Neni terhadap Valentina tidak terlepas dari kebiasaan ibunya yang rajin mengikuti kisah jalan hidup Valentina.

Berbeda halnya dengan Ito, rekan sebaya Neni. Sejak masih merangkak Ito sudah berkenalan dengan buku. Untuk menumbuhkan minat terhadap buku, Anton dan Sri, orang tua Ito, membelikan buku khusus batita. "Itu loh, buku yang halamannya tebal-tebal. Jadi, kalau masuk ke dalam mulutnya nggak cepat rusak. Begitu pula waktu kakaknya Ito, si Ita masih batita kita kenalkan dengan buku," kisah Sri.

Mereka juga berupaya menyisihkan sebagian uang mereka untuk membeli buku. "Kami ajak mereka lihat buku di toko buku atau kalau lagi ada pameran. Tapi lebih banyak sih beli buku bekas. Biasanya di swalayan atau kampus-kampus tertentu menggelar jual buku bekas. Nah, kalau ada buku anak-anak saya borong," tambah Anton yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta.

Untuk mendorong minat kedua anaknya membaca, pasangan suami istri ini juga mendesak pengasuh anaknya untuk kerap membacakan cerita-cerita dari buku. Jadi, ketika mereka berdua bekerja, pengasuh anaknya mendongengkan kisah-kisah menarik. Nonton televisi? Ita dan Ito tetap boleh menonton televisi, tetapi hanya untuk film-film yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Tips
Riris memiliki keyakinan bahwa minat baca dapat diciptakan dengan cara menyediakan lingkungan yang mendukung. Tanpa lingkungan yang baik, mustahil minat itu dapat muncul. Untuk menciptakan lingkungan yang baik ini, Riris memiliki enam resep yang dapat digunakan.

Pertama, biarkan rumah berantakan karena buku. Orang tua biasanya tidak betah bila melihat suasana berantakan. Lukisan miring, meja berantakan, buku bertebaran dl mana-mana atau hal-hal lain yang dianggap tidak rapi kerap membuat orang tua marah. Riris beranggapan rumah yang selalu rapi adalah rumah yang tanpa jiwa. Dengan penuh keyakinan Riris mengatakan, rumah seperti itu pasti penghuninya tidak memiliki minat baca.

Kedua, orang tua harus rela mengeluarkan uang untuk beli buku. Bila buku itu dianggap penting, orang tua harus memiliki anggaran untuk membeli buku bagi anak-anaknya. Riris sendiri lebih mengutamakan anggaran untuk membeli buku ketimbang parfum.

Ketiga, anak jangan dibebani dengan berbagai macam tugas sehingga tak ada waktu baginya untuk membaca. Riris mengecam konsep pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah sehingga anak sibuk dengan beban tugas dari sekolah. Belum lagi ambisi orang tua yang ingin anaknya berprestasi lalu memasukkan anaknya untuk ikut kursus ini dan itu. Akhirnya, tak ada waktu bagi sang anak untuk membaca. Anak disiksa, dihabiskan waktunya.

Keempat, jangan banyak menerapkan banyak aturan sehingga minat anak untuk membaca berkurang. Biasanya orang tua akan marah-marah kalau anaknya membaca sembari tiduran. Orang tua akan meledak emosinya bila menemukan buku, majalah, koran, atau bacaan apa pun di toilet. Riris mengingatkan, biarkan anak menemukan suasana yang nyaman untuk membaca. Sebab, ketika seseorang masuk dalam buku maka dia masuk ke dunia lain. Kenyamanan dan waktu dibutuhkan untuk itu.

Kelima, teladan. Ratusan atau ribuan perintah untuk membaca rasanya tak berguna bila orang tua tidak memberi teladan yang baik kepada anaknya. Orang tua yang memiliki minat baca tinggi akan melihat bahwa anaknya pun memiliki kebiasaan serupa dengan dia. Buah jatuh tak jauh dari pohon, seperti itu ibaratnya.

Keenam, kritis dalam memberikan buku untuk anak yang sesuai. Memang sebaiknya anak terlibat dalam memilih buku untuknya, tetapi peranan orang tua sangat perlu agar anak mendapatkan bacaan yang baik.

Bacaan baik yang dimaksudkan adalah bacaan yang sesuai dengan usia, perkembangan, minat, kecenderungan dan kebutuhan anak. "Buku yang baik harus memiliki kombinasi antara cerita dengan alur utuh, bahasa standar, dan perwajahan yang mendukung. Anak yang membaca buku itu akan mengenang buku seperti itu seumur hidupnya," papar Ketua Dewan Juri Penghargaan Adikarya Ikapi 2004 dalam kesempatan berbeda.

Nah, kalau enam hal tadi diterapkan tentunya anak akan memiliki minat baca. Anak-anak seperti Neni akan lebih tertarik untuk masuk ke dalam buku untuk mencari dunianya ketimbang telenovela yang tidak cocok dengan dirinya.

AB Pathyradja
Majalah Mata Baca Vol. 2, No.12, Agustus 2004  
07.58
thumbnail

Nulis Fiksi Awalnya Ngawur Juga Boleh

Posted by Cinta Buku on

Sekitar 100 kursi yang tersedia hampir semuanya terisi. Para peserta pun beragam, dari pelajar SMA hingga kakek dua cucu. Mereka semua tersedot untuk mengikuti seminar yang membahas "Kiat Sukses Menulis Fiksi" di Istora Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Mengapa banyak orang -yang ingin mengikuti diskusi itu? Apakah karena Sapardi Djoko Damono dan Yudhistira Massardi sebagai pembicaranya? Ataukah karena Rieke Dyah Pitaloka yang lebih dikenal sebagai Oneng dalam lakon Bajaj Bajuri? Atau karena gratis dan diberi segelas minuman kemasan?

Salah seorang peserta yang mengaku bernama Ida menuturkan dia tertarik untuk mengikuti diskusi ini karena temanya. 'Temanya itu pas banget buat saya. Saya sudah berkali-kali mencoba untuk menulis cerpen kok mentok terus. Nah, dengan pertemuan ini saya mau belajar bagaimana sih tips membuat cerpen," paparnya lagi.

Nada yang sama dilontarkan Slamet, guru salah satu SMU negeri yang ikut dalam pertemuan ini. Dia ingin menimba dari diskusi ini sehingga dapat berguna kettka memberikan materi pelajaran kepada murid-muridnya. "Siswa saya sering mengeluh, susah mencari ide kalau diberi tugas mengarang."

Selain dua persoalan ini, pertanyaan lain juga diajukan para peserta kepada dua pembicara. Meski jawabannya tak selalu tuntas, para peserta cukup puas belajar dari kedua pembicara sekaligus mendengarkan celoteh cerdas dari Oneng.

Penguasaan Bahasa
Sejak awal dan selalu ditandaskan oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, modal dasar seorang penulis fiksi adalah penguasaan bahasa. Penguasaan bahasa bagi seorang pengarang itu mutlak dan tak bisa ditawar-tawar. "Dengan penguasaan bahasa yang baik kita dapat menyampaikan gagasan kita," ujar Guru Besar Fakuftas Sastra Universitas Indonesia ini.

Penguasaan bahasa yang dimaksudkan bukanlah memahami teori kebahasaan atau hapal rumusan bahasa EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) melainkan dapat menggunakan bahasa dengan memikat sehingga pembaca ikut terlibat dalam kisah fiksi yang dibuat. Dengan demikian, bahasa yang dikuasai adalah bahasa yang digunakan dalam masyarakat. Bukan bahasa yang terasa aneh saat dilafalkan di tengah masyarakat.

Penulis fiksi dituntut menguasai bahasa yang ada di tengah masyarakat untuk mengisahkan latar dan karakter dari tokoh yang diangkat. Untuk bahasa yang ada di pasar akan pas bila disampaikan dalam mengisahkan tokoh yang berjualan makan serabi di sudut pasar tradisional. Tentu aneh rasanya bahasa pasar tersebut dikenakan pada rapat komisaris perusahaan asuransi.

Sapardi mengingatkan sosok-sosok yang muncul dalam cerita fiksi tentu akan memunculkan dialog. "Nah dialog itu tentu harus sesuai dengan latar belakang, pendidikan, dan pengalaman sang tokoh," ujar sastrawan yang melanjutkan tradisi puisi lirik dan sajak empat seuntai ini.

Mencari Ide
Ketika seorang peserta mengeluh kesulitan dalam mencari ide, Sapardi mengingatkan fiksi adalah cerita rekaan. Apa saja bisa menjadi bahan cerita, seperti pengalaman, informasi dari koran, bisikan teman, nonton film, lihat tabrakan, patah hati, dan lain-lain. "Segala hal. Pengalaman sendiri dan orang lain dapat kita jadikan bahan cerita, Apa saja bisa jadi bahan. Imajinasi pengarangnyalah yang penting. Imajinasi itulah yang membuat cerita jadi menarik," tutur Sapardi lagi.

Penuturan Sapardi sejalan dengan pengalaman sastrawan Rusia Fyodor Dostoyevsky. Novel-novelnya banyak mengisahkan pengalaman di sekitarnya. Kemiskinan yang mendera dan kekerasan hidup yang dialami Fyodor Dostoyevsky menjadi sumber ilham untuk novel-novelnya. Pengalamannya sebagai pekerja paksa di Siberia telah memberikan masukan yang berharga ketika dia membuat model kisah rekaannya.

Tetapi tentu untuk dapat membuat kisah yang menarik tidak perlu kita menjadi buruh paksa di Siberia. Dapat disebut di sini pengalaman Seno Gumtra Ajidarma. Banyak cerpen Seno yang mengangkat isu-isu aktual dari media massa menjadi cerita menarik. Jurnalis dan cerpenis Indonesia yang terkemuka ini dijuluki oieh seorang pengamat sastra sebagai seorang yang sangat piawai dalam mengolah berita menjadi cerita, fakta menjadi dongeng, dan dongeng menjadi fakta.

Di sekeliling kita bertebaran banyak ide, prinsip ini dibenarkan oleh Yudhistira ANM Massardi. Dalam diskusi tentang fiksi ini, Yudhis mengambilkan contoh bunyi "gedubrak". Lewat satu kata ini setiap orang dapat berimprovisasi mengenai banyak hal. Misalnya, bunyi itu dibayangkan berasal dari sebuah genteng yang dilempar. Nah, kemudian dapat digali lebih lanjut dengan pertanyaan gentengnya siapa, lalu siapa yang melempar, bocor atau tidak, orangnya marah, dan lain-lain. "Teruskan dan teruskan imajinasi itu. Nanti akan terbentuk sebuah cerita," papar Yudhis.

Muntahkan Dulu
Setelah ide didapat, bagaimana memulai penulisan fiksi? Pertanyaan ini kerap menjadi kendala bagi penulis pemula. Ide cerita menarik, tetapi ketika berhadapan dengan komputer dan mesin tik bukan jari-jemari bernari di atas tuts melainkan malah bengong. Tak tahu mau mulai dari mana. Untuk persoalan ini, Yudhis berpesan jangan terlalu memusingkan masalah ini. Ketika memulai mengetik keluarkan apa saja yang ada dalam pikiran. Segala ide yang muncul ditumpahkan semuanya, setelah tuntas baru dibenahi. "Ayam dan telor mana yang lebih dulu, saya tidak peduli. Yang penting dikeluarkan dulu. Semua tulisan saya mulai dari A sampai Z," tukas Yudhis lagi.

Kemampuan teknologi komputer sekarang mi, menurut Sapardi sangat menunjang bagi seorang penulis dalam mengungkapkan ide-ide tulisan fiksi. Setelah semua ide dimuntahkan, penulis dapat memindahkan bagian-bagian tertentu agar alurnya menjadi lebih menarik. "Kita tinggal blok, copy, kemudian paste. Yang penting jangan takut. Ditulis saja, lama-lama kita akan bisa. Proses penulisan itu bisa dimuiai dari yang ngawur."

Penguasaan bahasa, sudah. Ide, juga. Penulisan siap dimulai. Ada lagi yang harus dipikirkan? Ada, yaitu sasaran pembaca. Dalam makalahnya Sapardi mengungkapkan, masyarakat pembaca zaman ini terdiri atas kelompok-kelompok yang sangat berbeda cita rasanya. Hal itulah yang menyebabkan pengarang bisa "menetapkan" untuk siapa ia menulis. Lebarnya spektrum cita rasa pembaca dalam masyarakat modern menyebabkan diterbitkannya karya sastra mulai dari jenis yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer sampai yang ditulis oleh Freddy S. Hasil karya kedua penulis ini tidak perlu dipertentangkan. Baik Pram maupun Freddy menghasilkan fiksi, dunia rekaan yang pada dasarnya, sepenuhnya merupakan imajinasi pengarang.

Pram dihargai sebagai penulis dan mendapat pengakuan internasional, sedangkan Freddy berhasil menerbitkan buku-buku yang ditinjau dari segi jumlahnya mungkin tidak ada tandingannya dalam sejarah penulisan fiksi kita.

Masing-masing penulis tadi memiliki sasaran sendiri-sendiri. Tulisan Pram disukai oleh kelompok pembaca yang menyukai sastra elite. Sementara jenis buku yang ditulis Freddy termasuk sastra populer atau picisan memiliki penggemarnya sendiri.

Selain persoalan di atas, Sapardi melihat ada faktor di luar karya sastra yang bisa menyebabkan berhasil diterima khalayak ramai. Dalam zaman yang sepenuhnya dikuasai sistem kapitaiisme, faktor pemasaran menjadi sangat penting. Segala cara untuk memasarkan karya sastra sebagai komoditas ditempuh oleh berbagai pihak yang ada kaitannya dengan karya itu: pengarang, penerbit, dan penjual buku. Dengan demikian, keberhasilan karya sastra bisa saja merupakan hasil dari rekayasa pemasaran, tetapi bisa juga sepenuhnya berdasarkan nilai artistik yang dimilikinya. "Sekarang ini promosi penting. Meski penulisnya baik seperti apa pun, tapi kalau tidak diketahui oleh pembaca, ya percuma."

Menjungkirbalikkan
Yudhis memiliki pengaiaman menarik dalam "mencuri" perhatian publik. Kalau biasanya Arjuna dikejar-kejar oleh perempuan maka dalam novelnya Arjuna Mencari Cinta malah diciptakan sebaliknya. Dalam wayang Arjuna dicitrakan sebagai sosok satria yang kerap mencari kesaktian, tetapi di dalam kisah Yudhis malah mencari cinta.

Yudhis bukan tak mengetahui pakem dalam cerita wayang, pembalikan itu memang disengajanya, "Saya jahil. Suka mengusik hal-hal yang mapan. Saya ingin mengganggu hal-hal yang sakral. Lalu dengan Arjuna Mencari Cinta, saya jungkirbalikkan sehingga menjadi heboh," tambah Yudhis.

Kisah senada dilakukan pula oleh S. Mara Gd, penulis novel misteri. Pada pertengahan dekade 1980-an, dunia sastra Indonesia diramaikan dengan novel-novel yang didominasi topik-topik percintaan dan drama rumah tangga. Rupanya S. Mara Gd memiliki jiwa pemberontakan. Meski mengandung risiko ditotak oieh pasar, S. Mara Gd tetap nekad. "Saya ingin menampilkan sesuatu yang beda. Saya tidak hanya ingin mengalir mengikuti arus," tambah S. Mara Gd.

Ternyata karya-karyanya bisa diterima masyarakat. Setelah novel pertamanya yang berjudui Misteri Dian yang Padam menyusul novel-novel lainnya, seperti Misteri Sutra yang Robek, Misteri Gelas Kembar, dan Misteri Serial Kapten Polisi Kosasih-Gozali.

Tips-tips di atas mungkin dapat berguna bagi Anda yang ingin memulai menjadi penulis fiksi. Oleh karena itu, langsung saja duduk di depan komputer atau mesin tik lalu tumpahkan segala ide yang ada, sekalipun ngawur. Kalau hai itu itu tidak dtlakukan, ratusan tips yang Anda ketahui tak akan berguna, Selamat mencoba!

A. Bobby Pr
Majalah Mata Baca, Vol. 2 No.12 Agustus 2004  
09.41
thumbnail

Linda Christanty Ber-"politik" Lewat Cerpen

Posted by Cinta Buku on

Selain seks, politik kerapkali menjadi hal yang dianggap tabu untuk diungkapkan perempuan. Dalam karya tulis, khususnya cerpen, hal ini malah menjadi tabu untuk tidak diungkapkan. Paling tidak, hal ini bisa disimak dari cerpen-cerpen yang ditulis perempuan pengarang seperti Linda Christanty yang memilih politik sebagai setting dari kebanyakan cerpennya yang termuat daiam antologi Kuda Terbang Maria Pinto.

Tak heran, bila dalam petikan komentar yang terdapat pada kulit belakang buku antologi Kuda Terbang Maria Pinto, Nirwan Dewanto mengatakan bahwasanya pada cerita pendek Linda Christanty, kita mendapatkan ampuhnya suara politik justru karena yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik dari laku dan wicara para tokoh.

Dalam sebuah kesempatan wawancara di Taman Ismail Marzuki, Linda Christanty pun bercerita cukup banyak perihal karya, diri, dan obsesinya kepada MATABACA.

Apa yang sebenarnya menjadi inspirasi bagi karya-karya Anda sehingga karya-karya tersebut banyak menyinggung soal kemanusiaan yang berkaitan dengan politik?
Aku menganggap sumberku dalam berkarya adalah kehidupan sehari-hari. Realitas ini sendiri. Bisa saja orang kemudian berimajinasi ada makhluk di Mars atau apa, aku pikir itu sah saja. Tapi untuk karyaku, aku berpikir memang sumbernya adalah kehidupan kita sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari ini, banyak sekali peristiwa. Misalnya, ketidakadilan terhadap orang kecil, pembunuhan, penganiayaan, atau perampokan. Hanya gara-gara, misalnya, orang itu tak punya uang, (maka orang itu) rela merampok dan membunuh untuk uang sekitar dua puluh ribu. Ada pemulung yang dibakar. Ada orang yang harus hilang tiba-tiba karena diculik. Dan itu realitas daiam masyarakat kita. Sering kali pelaku itu orang biasa dan korbannya juga orang biasa. Menurut saya, itu hal yang menyedihkan dan itu akibat dampak dari sistem politik kita. Pemerintah masih belum bisa menangani kehidupan masyarakat bawah, masyakarat kecil. Saya juga melihat, dalam situasi masyarakat kita seperti ini, sekarang ini, apa yang orang-orang alami saat ini, pasti berkaitan dengan sistem politik kita, berkaitan dengan sistem pemerintah kita yang sudah terjadi selama puluhan tahun. Kebijakan-kebijakan politik pemerintah salah satunya seperti (diungkapkan dalam cerpen) "Makan Malam". Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang tidak punya konsep ayah dalam hidupnya. Karena situasi politik tertentu, ayahnya pergi ke luar negeri dan tidak bisa pulang (karena) kemungkinan dia orang komunis. Nah, situasi seperti ini banyak dialami tetangga kita atau saudara kita. Banyak yang mengalami hal yang sama. Cuma ada situasi tiba-tiba orang ini harus membisu, bungkam, dan tidak bisa mengatakan itu kepada satu sama lain dan menjadi rahasia. Ternyata, (dalam) sebagian masyarakat kita pasti ada yang mengalami kekerasan atau karena politik tadi. Saya katakan itu, nggak ada salah seorang dari kita sama sekali terlepas dari sistem politik atau perilaku politik yang terjadi selama puluhan tahun ini. Ada orang yang anaknya diculik. Ada yang keluarganya hilang, yang bila kita pikir-pikir tadinya hal itu biasa. Tapi, bila kita renungkan lagi, gila ya ternyata begitu kekuasaan politik yang (selama ini) kita anggap sangat jauh dari kita. Kita selalu perdebatkan politik secara konseptual. Kita selalu berpikiran politik itu berhubungan dengan parlemen, ternyata tidak. Politik real yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari korbannya adalah orang-orang biasa dan itu yang mengilhami sebagian besar cerita pendek saya. Misalnya, realitas yang dialami Yosef Legiman dalam Kuda Terbang Maria Pinto. Dia tentara. Dia prajurit kecil. Prajurit biasa. Dia orang desa yang orang tuanya punya kebanggaan kalau dia jadi tentara. Padahal, kalau ada petani yang tanahnya digusur, ternyata anaknya juga yang harus menggusur dan menembaki orang-orang kampung. Jadi, kepedihan-kepedihan orang seperti kita itu terjadi dalam situasi yang seolah-olah absurd.

Berapa lama biasanya Anda menyelesaikan cerpen-cerpen yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Kuda Terbang Mario Pinto?
Yang paling cepat dua jam ("Makan Malam"—red.), tapi ada juga yang berbulan-bulan, seperti "Pesta Terakhir" (pernah dimuat di Koran Tempo) karena bingung akan ending-nya.

Kendala yang biasa Anda alami saat menulis dan menyeiesaikan sebuah cerpen?
Kesulitan saya mungkin dlalami juga sama penulis lain, karena sebagian besar penulis kita itu autodidak, jarang yang khusus sekolah menulis di luar negeri trus tiba-tiba menjadi penulis. Meskipun di kampus diajarkan bikin outline segala macam, tapi begitu menulis fiksi tidak pernah bagian pertama itu pembukaannya, lalu ada pseudoric, ada klimaks dan antikiimaks. Jadi, saat menulis cerpen itu duduk. Apa yang dipikirkan waktu itu dan dirasakan ditulis saja. Nah, itu ternyata problem, iya kalau memang idenya terus mengalir dan energi kita langsung bisa menyelesaikan dalam sekali duduk. Sering kali, di tengah jalan tokohnya mau dibawa ke mana, ending-nya gimana. Hal seperti itu kadang saya alami. Tapi ketika sedang betul-betul mood, semangat, dan asyik, saya merasa cerita ini betul-betul menyatu dengan diri saya. Misalnya, "Makan Malam". Cerpen itu saya selesaikan dalam waktu dua jam. Saya tidak pernah menulis cerpen sekali tulis walaupun banyak penulis lain (setelah) menulis, tidak dibaca lagi, langsung kirim. Saya tidak bisa seperti kayak gitu. Saya akan teliti lagi logika dan bahasanya.

Bisa ceritakan proses penerbitan buku kumpulan cerpen Kuda Terbang Maria Pinto yang memuat beragam cerpen Anda yang sebelumnya dipublikasikan di berbagai media?
Saya pertama (aktif) menulis cerpen sekitar tahun 1990. Sampai 1994, saya masih produktif menulis fiksi yang dimuat di harian Media Indonesia, Suara Karya, Pelita, Kompas, Bisnis Indonesia dan majalah kampus. Ada masa saya mulai jarang menulis fiksi (sekitar 1997) karena lebih berkonsentrasi ke penerbitan internal. Saya waktu itu ikut organisasi yang agak radikal. Kemudian, tahun 2000, saya bergabung dengan majalah Pantau dan menurut saya, ini adalah titik awal kedua bagi saya untuk menulis karya fiksi. Jadi, tahun 1990-an adalah titik awal pertama dan menyurut pada 1997. Saya melihat tahun 2000 adalah titik awal kedua saya untuk mulai menulis fiksi dengan gaya bertutur dan penguasaan bahasa yang sudah berkembang dari sebelumnya dengan tema yang lebih beraneka ragam. Tema mulai bergeser. dari tema-tema cinta beralih ke tema sosial dan politik. Tahun 2000 juga saya mulai memublikasikan kembali cerpen saya di Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, dan Jurnal Prosa. Kemudian, Sitok Srengenge menawarkan bagaimana kalau karya saya sebelum tahun 2000 dibukukan. Namun, untuk membukukan tahun 1990-1997 perlu waktu khusus ke perpustakaan karena saya sama sekali tidak mendokumentasikan dengan baik. Waktu itu saya berpikir akan rumit prosesnya. Jadi, saya serahkan sama Mas Sitok untuk proses selanjutnya. Misainya, aku tidak tahu harus ke penerbit sendiri, waktu itu dia (Sitok Srengenge) masih di Metafor (Metafor Publishing milik Richard Oh). Karyaku mungkin dianggap buku terlalu serius, sedangkan mereka (Metafor—red.) lebih ingin buku-buku yang Iebih populer meskipun mereka juga tidak menutup diri menerbitkan karya sastra serius. Hingga Mas Sitok bilang harusnya jadwalnya bulan ini Lin, ternyata mundur dan terus mundur. Akhirnya, saya tidak peduli lagi. Tiba-tiba, suatu hari Mas Sitok menelepon saya (saya lagi di Lombok waktu itu). Dia bilang, "Linda, saya mau keluar. Saya ingin karyamu menjadi buku pertama yang kami terbitkan." Saya bilang, wah jangan Mas, saya nggak enak nih kalau hanya gara-gara Mas Sitok nggak enak buku itu ditunda terus. Dia tetap bilang begitu dan dia bilang bagaimanapun mungkin dari segi laku atau laris itu adalah hal penting buat penerbit. Tapi dia bilang harus tetap ada karya sastra yang mungkin serius, berat, atau yang tidak langsung mudah dicerna orang, bukan sesuatu yang ringan yang bisa dibaca ketika kita duduk, tapi mungkin harus merenung, itu perlu juga diterbitkan di samping buku-buku lain. Dia kasih semangatnya begitu. Dia bilang karena saya tidak yakin juga buku saya bakal laku karena serius. Maksudnya, perang, politik nggak asyik untuk sebagian besar orang, mungkin ya. Akhirnya, diterbitkanlah (Penerbit KataKita) dan launching tanggal 26 Maret 2004. Memang ada kekurangannya karena buku pertama. Jadi, tidak diinformasikan di setiap cerpen itu pernah dimuat di mana tahun kapan.

Linda Christanty dilahirkan di Pulau Bangka tahun 1970. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah (pertama dan atas), Linda sempat kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Selama ini dia telah mempublikasikan karya-karyanya (baca: cerpen) di berbagai media massa dan mendapat pujian serta perhatian dari sejumlah pengamat sastra. Pada 1989, cerpen karya Linda bertajuk "Daun-Daun Kering" memenangkan salah satu penghargaan lomba menulis cerpen yang diselenggarakan Kompas yang kemudian dimuat di harian yang sama pada 5 Agustus 1990, Saat itu, Linda memperoleh juara harapan bersama sembilan penulis cerpen lainnya, seperti Bre Redana, Satyagraha Hoerip, dan Putu Wijaya. Apa yang telah dicapai Linda yang saat ini bekerja di Common Ground Indonesia sebagai penulis naskah radio bertajuk "Menteng Pangkalan" (150 episode) tak lepas dari kebiasaan masa kecilnya yang suka menulis dan membaca yang beberapa bacaan di antaranya dianggap belum saatnya dibaca anak-anak seusianya. Misainya, buku-buku politik milik kakeknya.

Sejak kapan Anda suka menulis?
Saya sudah menulis sejak usia delapan tahun. Pemicunya, sebuah buku catatan harian yang diberikan oleh Kakek. Dia berkata kepada saya, "Kalau kamu merasa sedih, senang, gembira, cobalah ditulis di sini." Pada waktu masih kecil, saya kan bingung bagaimana untuk mengungkapkan kesedihan itu. Kalimatnya seperti apa kira-kira. Mungkin, Kakek juga agak bingung kalau harus mendiktekan kalimat seperti itu, karena ia juga tidak tahu apa yang saya rasakan. Dia bilang begini, sekarang ini Juan Carlos, Raja Spanyol dan Putri Sofia sedang datang ke Indonesia. Jadi, pembukaan catatan harianmu tuliskan saja bahwa pada hari ini tanggal sekian bulan sekian tahun sekian Raja Juan Carlos dan Putri Sofia datang ke Indonesia. Saya buka catatan harian saya dengan kalimat itu. Selanjutnya, saya sudah mulai menulis tentang apa saja. Jadi, buku itu pun diberikan Kakek sebetulnya bukan tanpa sebab. Saya kan anak yang sering kali kalau dalam konteks orang tua kolot atau konvensional dianggap menentang. Ya, saya sebetulnya sering berdebat dengan Ibu. Saya tidak bilang menentang atau melawan, tapi sering berdebat dengan Ibu tentang hal apa pun. Tentang agama. Ibu bilang, Linda kamu salat! (Saya muslim meskipun nama saya Katolik.) Salat itu gunanya apa? Ibu menjawab, ya kita harus beribadah kepada Tuhan untuk mengucapkan syukur. Tuhan itu seperti apa bentuknya? Di mana Dia? Lagi ngapain Dia? Ibu mungkin tidak mau berdebat panjang. Dia langsung (berkata) sudah kamu menurut saja dan itu menjadi bahan pertengkaran.

Diari Anda masih ada?
Tidak ada. Ibu sering kali membaca (diari) diam-diam dan saat mengobrol hal (yang dibaca) itu diungkit-ungkit sehingga sering menjadi bahan perdebatan. Suatu hari, saya mengambil buku (berwarna merah) itu, merobek-robeknya. Kemudian, menguburnya di samping kolam di belakang rumah. Ada rasa luka. Pada waktu itu, sedih sekali. Buku itu rahasia hidup saya "sebagai anak-anak".

Mulai kapan dan bagaimana Anda mengasah keterampilan menuiis cerpen?
Saya memang sejak kecil menulis. Kemudian, mulai menuiis fiksi dalam bentuk cerpen waktu SMP di mading (majalah dinding). Ketika SMA, saya menulis juga. Tahun 1989, ada lomba (menulis cerpen yang diselenggarakan harian Kompas). Sekitar 4.000 lebih naskah masuk ke redaksi Kompas. Waktu itu, cerpen saya berjudul "Daun-Daun Kering" memenangkan juara harapan (pemenang harapan sekitar sepuluh orang). Nah, karya pemenang kemudian dipublikasikan. Saya (sejak itu) mulai terpacu secara serius untuk menulis fiksi. Caranya, saya membaca banyak buku. Kebetulan, saya orang yang suka belajar diam-diam. Jadi, lebih asyik kalau belajar diam-diam itu lewat buku baik karya sastra dunia maupun karya sastra Indonesia. Masa itu, saya suka pengarang-pengarang Jepang, seperti Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Ryonosuke Akutagawa, Yuniciru Tanijaki. Para pengarang Jepang menceritakan hal sederhana dengan cara yang begitu halus dan juga puitis. Terutama, (Yukio) Mishima, saya terkesan sekali sama salah satu novelnya tentang seorang anak kecil miskin dari keluarga nelayan yang mencintai seorang gadis secara diam-diam. Mereka tinggal di sekitar mercusuar di pantai. Itu indah sekali. Tapi, pada masa-masa kemudian bacaan saya berkembang. Saya mulai baca juga Milan Kundera, Miguel Asturias, Isabel Allende, Carlos Fuentes. Terus, saya baca juga buku cerita anak-anak karena untuk imajinasi dalam cerita anak-anak itu gila-gilaan. Yang agak menyedihkan dari kita kalau usia kita makin tua adalah kadang-kadang imajinasi kita tidak seliar saat anak-anak itu. Dengan membaca buku cerita anak-anak itu, saya jadi pulih lagi imajinasi saya yang liar dan polos.

Apa obsesi Anda saat ini atau akan datang?
Sebenarnya cita-citaku luhur (ha... ha... ha...). Aku ingin menulis novel, tapi (sayang) kurang mendisiplinkan diri. (Keinginan Linda terasa semakin kuat mengingat beberapa cerpen Linda memiliki materi kuat untuk dijadikan novel). Cerpen itu kalau sudah sampai 3.000 kata dan itu tidak mau berhenti, kita jadi bingung. Bagaimana yah menyetopnya, karena kalau halaman koran itu maksimal 2.500 kata karena ada gambar/ilustrasi. Sementara itu, aku melihat kecenderungan karakter yang ada dalam cerpen-cerpenku (Linda mengaku sering menilai, mensinisi, dan mengevaluasi dirinya sendiri) adalah karakter-karakter yang harusnya lebih berkembang dan itu tidak mungkin hanya dalam satu halaman dengan sekian ribu kata (karakter). Yang diprediksi bisa berkembang, tapi dibatasi kendala teknis ini. Aku melihatnya sayang. Memang akhirnya ada tokoh yang terpaksa aku korbankan menjadi cerpen dan karakternya terpaksa dibunuh.

Goess
Majalah Mata Baca, Vol. 2 No. 12 Agustus 2004
10.33
thumbnail

Benang Kusut Distribusi Buku di Indonesia

Posted by Cinta Buku on

Sistem distribusi buku di Indonesia sudah lama bagaikan benang kusut yang sangat sulit —kalau tidak mau dikatakan mustahil—untuk diurai kembali. Membenahi sistem distribusi buku nasional untuk menjadi lebih sehat bagaikan menegakkan benang basah. Saking kusutnya, masalah sistem distribusi buku belakangan telah menjadi isu nasional, terutama karena menyangkut pendistribusian buku yang "di luar jalur normal" khususnya distribusi buku pelajaran. Pihak-pihak yang secara langsung merasakan dampak dari sistem pendistribusian buku yang "abnormal" ini antara lain toko buku, penerbit, dan lapisan konsumen tertentu.

Ada sejumlah sistem distribusi buku yang digunakan penerbit, tetapi tulisan kecil ini hanya menyentil dua jenis sistem distribusi buku yang selama ini berlaku, yakni distribusi dengan jalur penerbit-distributor-toko buku-konsumen dan penerbit-konsumen. Sisi positif dan negatif kedua sistem distribusi buku ini menjadi fokus utama bahasan tulisan ini. Hal lain yang disorot pula mengenai alternatif sistem pendistribusian buku yang lebih sehat.

Penerbit-Distributor-Toko Buku-Konsumen
Sistem distribusi buku dengan pola penerbit-distributor-toko buku-konsumen merupakan salah satu pola tata niaga perbukuan konvensiona! yang sudah lama dianut sebagian besar penerbit di negeri ini. Penerbit menyalurkan buku kepada distributor/agen lalu distributor mendistribusikannya ke toko buku. Di toko buku inilah para konsumen mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan. Distributor dan toko buku dalam sistem ini merupakan urat nadi para penerbit. Di sini, napas penerbit sangat ditentukan oleh distributor atau toko buku. itulah sebabnya hampir semua penerbit yang masih mengandalkan jalur ini sangat memimpikan bisa memiliki toko buku sendiri. Tujuannya tentu saja untuk tetap mendenyutkan nadi usaha penerbttan. Sistem tata niaga buku konvensional ini memiliki beberapa kelebihan.

Pertama, masing-masing pihak, yakni penerbit distributor, dan toko buku, memiliki porsi sendiri-sendiri sesuai dengan fungsinya. Penerbit memfokuskan diri pada upaya menerbitkan buku-buku yang sedapat mungkin berkualitas, dan distributor atau agen memiliki lahan usaha untuk mengedarkan buku ke setiap toko buku, sementara toko buku memasarkannya kepada konsumen. Dengan menerapkan sistem tata niaga semacan ini, tercipta suatu persaingan yang sehat antar sesama penerbit. Artinya, para penerbit tidak perlu bersaing dalam memberikan diskon yang edan-edanan kalau mereka melakukan penjualan langsung ke konsumen.

Kedua, konsumen bebas menentukan pilihan apakah membeli buku tertentu atau tidak di toko buku berdasarkan pertimbangan harga dan kualitas. Konsumen terutama pada level konsumen buku-buku pelajaran tidak merasa diwajibkan untuk membeli buku yang belum tentu berkualitas. Dengan pola tata niaga buku semacam ini, toko buku tidak "dimatikan" karena penerbit tidak merangkap menjadi "tukang jual".

Selain kelebihan tersebut, sistem ini juga menghadirkan sisi gelap yang cukup memprihatinkan. Sisi gelap jalur distribusi seperti ini umumnya menimpa para penerbit, terutama para penerbit yang baru lahir dan masih belajar untuk merangkak. Masalah yang selalu harus dipikul oieh penerbit adalah besarnya potongan harga buku atau rabat yang diminta oleh distributor. Kisaran diskon yang diminta bisa mencapai 50% atau bahkan 60%. Dengan diskon sebesar ini, berapa yang diperoleh penerbit dari sebuah judul buku yang diterbitkannya? Kalau penerbit memberikan diskon sebesar 60% kepada distributor, lalu royaiti penuits 10%, itu berarti penerbit hanya mendapatkan 30%. Dari 30% ini, berapa sisanya setelah dipotong biaya produksi, biaya pemasaran, dan biaya lainnya? Lalu berapa keuntungan bersih yang harus didapatkan oleh penerbit? itu baru sebatas masalah diskon.

Persoalan lain yang timbul adalah para distributor terkadang tidak menerima semua jenis buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit. Artinya, distributor bersikap piiih-pilih, mana sekiranya buku yang kemungkinan akan laris dan mana buku yang tidak bakalan laku di toko buku. Kalau hal ini sering terjadi, ke mana sebuah penerbit harus mendistribusikan buku-buku yang ditolak oleh distributor? Masalah yang berkaitan dengan ini adalah menumpuknya buku di gudang distributor. Hal ini terjadi karena distributor tidak melanjutkan pendistribusian buku-buku tersebut ke toko-toko buku. Yang lebih parah lagi, terkadang distributor langsung mengembalikan buku-buku tertentu ke penerbitnya tanpa sedikit pun memeriksa seperti apa buku yang barusan diterimanya. Dalam konteks ini, penerbit terutama, sekali lagi. penerbit-penerbit kecil yang belum memiliki jaiur distribusi sendiri sangat bergantung pada distributor.

Masalah lain yang tidak kalah peliknya dari sistem ini adalah harga buku menjadi agak mahal begitu sampai ke tangan konsumen. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari jalur tata niaga buku yang panjang. Dalam konteks ini, semakin lama dan panjang proses pendistribusiannya maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan. Dalam proses pendistribusian yang cukup berbelok-belok ini, baik distributor maupun toko buku berharap mendapatkan keuntungan layak dari buku yang didistribusikan atau yang dijual. Lalu bagaimana dengan sistem distribusi penerbit-konsumen ?

Penerbit-Konsumen
Sistem distribusi dengan pola penerbit-konsumen juga sering disebut dengan sistem distribusi langsung. Artinya, penerbit menjual bukunya tidak melalui bantuan distributor atau toko buku melainkan menjualnya secara Iangsung kepada para konsumen. Sistem distribusi langsung ini yang belakangan menjadi isu pelik nasional umumnya berkaitan dengan distribusi buku-buku pelajaran. Bagian tulisan ini hanya berbicara tentang sistem distribusi buku pelajaran secara langsung kepada konsumen, yakni ke sekolah-sekolah.

Yang terjadi selama ini adalah para penerbit memasarkan bukunya terutama buku pelajaran ke sekolah. Persoalan ini menimbulkan pro-kontra di kalangan terkait seperti para pendidik, pemerintah, toko buku, distributor, dan penerbit. Sebagaimana sistem tata niaga buku konvensional, sistem distribusi Iangsung ini juga memiliki sisi baik dan buruk.

Segi positif dari distribusi Iangsung ini, terutama buku pelajaran, antara lain pertama, para konsumen mendapatkan buku-buku baru dengan cepat. Hal ini terjadi karena dengan distribusi langsung, otomatis mata rantai distribusi dapat dipangkas, yakni terpotongnya dua mata rantai distribusi, distributor dan toko buku. Kedua, harga buku bisa lebih murah karena pihak penerbit bisa memberikan diskon besar. Hal ini bisa terjadi karena diskon yang seharusnya merupakan jatah distributor dan toko buku bisa dimanfaatkan untuk diskon bagi konsumen, yang dalam hal ini sebagian besar sekolah. Ketiga, pihak penerbit tidak lagi bergantung pada agensi/distributor dan toko buku karena pihak penerbit memiliki akses langsung ke sekolah untuk menawarkan buku-buku terbitannya.

Sisi positif lain dari tata niaga langsung ini adalah penerbit bisa mendapatkan input langsung dari lapangan tentang kualitas buku yang diterbitkan. Dengan demikian, pihak penerbit dapat meningkatkan kualitas kerja di penerbitan, entah itu di bidang isi buku, tata letak, ataupun hal lainnya. Selain kelebihan ini, distribusi langsung juga menghadirkan persoalan memprihatinkan. Apa kelemahan distribusi langsung ini?

Pertama, toko buku berada di ambang kematian, Mengapa? Alasannya sangat jelas. Seperti diketahui, selama ini napas kehidupan toko-toko buku sangat ditentukan oleh hasil penjualan buku-buku yang didapatkannya dari penerbit, entah didapat secara langsung dari penerbit ataupun mefaiui distributor. Apa yang terjadi ketika penerbit tidak lagi menyalurkan buku-buku terbitannya ke toko buku melainkan langsung mendistribusikannya ke sekolah? Mungkin ada yang berargumentasi bahwa toko buku tidak hanya menjual buku sekolah, tetapi juga buku umum lainnya. Ini benar. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa buku sekolah masih mendominasi pasar buku di Tanah Air. Kalau elemen yang mendominasi pasar buku nasional ini mengalami suatu perubahan radikal, keguncangan akan terjadi. Kalau tidak ada campur tangan dari pihak terkait —seperti Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI) dan Gabungan Toko Buku Indonesia (GATBI)— dalam waktu yang akan datang, keadaan ini semakrn parah.

Persoalan serius lain sebagai akibat dari distribusi langsung ini adalah terjadinya persaingan yang tidak sehat antara sesama penerbit. Keadaan ini terjadi karena dalam mendistribusikan produknya pihak penerbit melakukan segala cara agar bukunya dibeii oleh konsumen terutama sekolah yang menjadi pasar utama buku pelajaran. Salah satu cara yang dapat ditempuh dengan memberikan diskon atau rabat setinggi mungkin. Dalam konteks ini, penerbit yang dapat memberikan rabat paling tinggi kepada konsumen saja yang bisa bertahan. Dengan rabat atau diskon besar yang diberikan kemungkinan besar buku terbitan dipakai di sekolah yang bersangkutan. Padahal, belum tentu buku yang dihasilkan itu berkualitas. Penerbit tertentu mungkin tidak hanya memberikan diskon atau rabat, tetapi juga memberikan semacam "uang keringat" untuk pihak yang mengurus buku-buku yang akan diteruskan kepada siswa. Sebagai konsekuensi logis dari sttuasi semacam ini, pihak sekolah (baca: guru-guru tertentu atau kepala sekolah) cenderung mengabaikan kualitas buku untuk anak didiknya karena silau oleh diskon atau rabat yang jor-joran yang ditawarkan oleh pihak penerbit. Dengan gambaran ini, jelas sekali siapa yang paling dirugikan. Kalau kondisi ini tidak diatasi, dapat dibayangkan seperti apa akibat dari buku yang kurang berkualitas semacam itu bagi mutu pendidikan di negeri ini pada beberapa masa ke depan.

Masalah yang tidak kalah kritisnya sebagai akibat dari disribusi langsung ini adalah kematian penerbit itu sendiri. Hal ini terutama dialami oleh penerbit kecil yang baru muncul. Perlu dicatat bahwa melakukan distribusi langsung ke sekolah memerlukan biaya yang tidak sedikit Ini berarti pihak penerbit harus memiliki sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas sangat penting untuk melakukan negosiasi dengan pihak konsumen sehingga buku-buku yang ditawarkan dapat menarik perhatian mereka. Segi kuantitas berkaitan dengan seberapa banyak karyawan sebuah penerbit melakukan berbagai kegiatan rutin penerbitan, promosi, dan pemasaran langsung ke sekolah. Bukankah dalam kondisi ini hanya penerbit yang bermodal besar saja yang akhirnya tetap keluar sebagai pemenang "tender"? Implikasinya, penerbit kecil tadi lambat laun hanya tinggal nama. Tragis memang. Tetapi itulah fakta yang akan dihadapi kalau sistem distribusi buku pelajaran langsung masih tetap dianut. Lalu, bagaimana caranya agar keiuar dari situasi mengenaskan ini?

Sistem Distribusi yang Sehat

Karena sistem distribusi buku pelajaran secara langsung ke sekolah lebih banyak merugikan berbagai pihak, jalur distribusi penerbit-distributor-toko buku-konsumen perlu dipertahankan untuk menjaga keseimbangan rantai simbiosis dunia perbukuan, Agar hal ini terjaga, dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak yang berkaitan, antara lain pemerintah lewat departemen pendidikan, lembaga perbukuan nasional, seperti ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), dan Gabungan Toko Buku Seluruh Indonesia (GATBI).

Pemerintah daerah lewat dinas pendidikan juga perlu mewaspadai atau mengawasi distribusi langsung buku pelajaran ke sekolah. Yang menjadi fokus perhatian dinas pendidikan daerah di sini adalah mengontrol kualitas buku pelajaran yang ditawarkan. Hal ini sangat penting untuk menghindari permainan yang kurang sehat antara pihak sekolah dan pihak penerbit, misalnya pihak sekolah tetap menerima buku yang ditawarkan pihak penerbit bukan karena kualitas melainkan karena besar diskon yang ditawarkan.

Distribusi buku langsung ke sekotah, terutama buku pelajaran, boleh saja tetap dilakukan, tetapi itu hanya sebatas pada penyampaian informasi baik berupa diskusi buku maupun lewat brosur dan penyebaran katalog. Dalam hal ini, tidak ada unsur pemaksaan bagi sekolah atau anak didik untuk membeli buku tertentu hanya karena pihak tertentu di sekolah dijanjikan untuk mendapatkan diskon atau rabat yang tinggi. Aturan baku dari lembaga perbukuan juga perlu untuk mengawasi sistem pemasaran buku ke sekolah.

Silvester G. Sukur, seorang penulis buku, bekerja sebagai Academic Coordinator ELTI-Gramedia Yogyakarta.
Majalah Mata Baca Vol. 2/ No. 12/ Agustus 2004.

08.56