Gramedia Penerbitan 30 Tahun: Buku sebagai "Cultural Products"

Gramedia Penerbitan 30 Tahun: Buku sebagai "Cultural Products"

Manufaktur Minuman Berkhasiat
Pada 30 April 2004, dalam rangka merayakan HUT Gramedia Penerbitan ke-30, berlangsung Gramedia Bookfair di Medan, Sumatra Utara. Pada waktu acara jumpa pers di sebuah Rumah Makan Padang, wartawan dari media massa mengajukan pertanyaan kepada saya, mengapa Gramedia memilih Medan sebagai lokasi pertama untuk Gramedia Bookfair 2004? Medan sudah memiliki tradisi "reading habit" sejak Pemerintahan Hindia Belanda. Dari Medan mengalir dan tersebar luas ke seluruh Nusantara, bukan saja economic products melainkan cultural products, yakni karya kreatif para pengarang yang dibesarkan di Medan. Dunia penerbitan buku dengan support-cultural dari Medan, kini sudah mencapai tingkat kemampuan berbisnis dan berniaga sampai taraf industri buku. Bookfair yang diselenggarakan menjadi atau menjalankan fungsi seperti seismograf menunjang kerja ilmu fisika bumi (geofisika), mengukur kehidupan energi bumi dengan getaran gempa buminya. Pameran buku berfungsi sebagai seismograf energi kebudayaan, yang mengukur gempa kebudayaan.

Gempa selalu mendatangkan "kehebohan, keseruan, kepanikan, dan kreativitas mencari keselamatan kehidupan dari ancaman kehidupan", Seismograf yang memperlihatkan apakah kehidupan masyarakat kita masih pada tahap chaos atau sudah dikelola model law and order. Faktor atau sumber energi sosial mana yang menjadi pegangan utama dalam memberdayakan dinamika kehidupan masyarakat agar iebih berkualitas? Singkatnya, buku seperti apa yang memberi kontribusi nyata untuk proses transformasi kehidupan masyarakat, biarpun kontribusi itu sangat terbatas, tetapi sudah menjadi partisipasi dunia penerbitan di dalam mewujudkan sebuah strategi kebudayaan untuk mendorong transformasi masyarakat menuju Indonesia Baru?

Ada dua kasus yang terjadi dalam tahun 2004: penerbitan buku (termasuk Gramedia Penerbitan dengan sekian banyak penerbitan bukunya) memperlihatkan peranan buku dengan transformasi masyarakat menuju Indonesia Baru. Kasus pertama, kata sambutan Presiden Direktur KKG, Jakob Oetomo, yang diwakili oleh Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab harian Kompas, Suryopratomo, membuka Gramedia Bookfair di Medan. Pameran buku dihubungkan dengan gejala kontemporer tentang cultural matter untuk transformasi sosial sebuah masyarakat. Ada beberapa negara di muka bumi ini yang disebut oleh Suryopratomo yang mengisahkan succes story dan failed story menjadi negara yang sukses atau negara yang gagal. Negara yang memiliki succes story, antara lain Jepang, Korea, Taiwan. Sementara negara yang failed story antara lain Kenya di Afrika dan Indonesia di Asia. Tahun 1945 sesudah Perang Dunia II, semua negara yang disebut di atas sama-sama berada di garis belakang dalam proses maraton internasional, proses konkurensi internasional hadapi negara-negara pemenang perang, seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat dan Australia. Pertanyaan yang diajukan Pemimpin Redaksi Kompas kepada hadirin, kepada Wakil Gubemur Sumatra Utara Pardade adalah mengapa dalam proses konkurensi dan maraton internasional itu, Korea, Jepang, Taiwan sudah bergerak meninggalkan posisi Kenya dan Indonesia? Faktor apakah yang menjadi dinamika kebudayaannya sehingga terjadi perbedaan kemajuan yang mencolok antara negara-negara yang sama-sama start, tetapi berbeda di dalam akselerasi kebudayaan dan peradabannya? Jawaban yang disampaikan dalam kata sambutan Gramedia Bookfair Medan itu adalah strategi kebudayaan yang berorientasi kepada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan reading habit. Negara yang secara terencana dan tersistematis membangun negara dan bangsanya melalui gerakan pendidikan massal dengan sikap ilmiah, rasional, kritis, dan rajin membaca apa saja dan di mana saja ternyata maju dengan pesat. Sebaliknya, negara seperti Indonesia dengan kelemahan mencolok di dalam gerakan pendidikan nasional yang setengah hati, atau tidak berminat kuat terhadap pengembangan sikap ilmiah dengan ukuran pada reading habit ternyata tetap terbelakang.

Kasus kedua, yang terjadi secara "diam-diam", tidak segera memamerkan diri untuk memberi warna dan karakter lain di dalam gerakan pendidikan massal adalah prakarsa dari asosiasi di dalam masyarakat perbukuan untuk merintis Sekretariat Dewan Buku Nasional (National Book Council) atas inspirasi dan mediasi dari rekomendasi UNESCO untuk gerakan kebudayaan internasional membebaskan manusia dari hambatan perdamaian dan keadilan di muka bumi. Transformasi masyarakat diukur dari nilai-nilai sosial, yakni perdamaian dan keadilan, justice and peace. Nilai-nilai sosial itu mendapat instrumen yang efektif dan efisien dalam penguasaan ilmu pengetahuan, kesenian atau kebudayaan dalam arti sederhana dan tidak serumit pikiran para ahli kebudayaan di lingkungan akademis. Salah satu misi dari Dewan Buku Nasional adalah merintis sebuah clearing house dalam jaringan clearing house dunia perniagaan dan industri nasional, yang sama-sama memperjuangkan eksistensi komoditas minuman dan kebutuhan pokok (basic needs) untuk kemajuan industri nasional. Melalui ratifikasi Undang-Undang Industri Nasional, masyarakat perbukuan yang mengidentikkan dirinya sama seperti Kadin (Kamar Dagang Indonesia) melihat dirinya dengan orientasi profit, memperjuangkan agar buku diperlakukan oleh masyarakat industri dan niaga sebagai bagian dari paket minuman sehat, jenis khas, berkhasiat yang paling berharga. Prinsip persaingan sehat yang berlaku di dalam dunia niaga dan industri juga berlaku dalam industri buku. Departemen Perdagangan dan Industri sama pentingnya di dalam pengembangan industri buku seperti Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, atau Departemen Dalam Negeri di dalam memajukan dunia buku sebagai minuman bagi masyarakat dengan gerakan rekonsiliasi. reformasi dan transformasi nasional.

Dua kasus di atas, yakni Gramedia Bookfair di Medan dan perintisan Sekretariat DBN, yang untuk sementara berkantor di Pusat Kurikulum dan Pusat Perbukuan Depdiknas adalah gugatan kebudayaan terhadap gerakan pendidikan massal di Tanah Air, yang cenderung lebih memperhatikan gerakan ketakwaan, religiositas daripada gerakan kultural berciri ilmiah, rasional dan kritis. Akar dari kemunduran, dekadensi moral bangsa sehingga dalam konkurensi internasional Indonesia berada di kloter tengah belakang, biarpun semua sama-sama dari titik nol tahun 1945.

Dari Manufaktur Minuman Menuju Transformasi
Dua kasus di atas, yang melihat buku dengan prioritas pada gerakan budaya bersikap ilmiah, rasional dan bekerja keras untuk berada di garis depan seperti semangat bangsa Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Gramedia Penerbitan menggugat dirinya ke depan untuk berpolitik kebudayaan. Karena tindakan penerbitan dengan segala tali-temali dan multiplying effect-nya merupakan tindakan kultural dengan cultural products-nya, yakni buku. Refleksi tentang transformasi menuju kebudayaan rasional, ilmiah dan berjiwa kemandirian, juga terhadap ketergantungan yang tidak sehat kepada birokrasi negara, saya sampaikan di sini dengan serantai cerita kecil, yang menjadi pengalaman saya pada bulan-bulan terakhir terlibat di dalam perayaan Gramedia 30 Tahun.

Cerita kecil yang saya sampaikan ini merupakan kesaksian pribadi (testimonium personal) atas beberapa peristiwa perbukuan, yang saya alami ketika diwawancarai pada acara Pustaka-Pustaka Radio Jakarta News FM; ketika saya diundang oleh manajemen GPU (Gramedia Pustaka Utama) menyaksikan upacara peringatan GPU 30 Tahun; ketika saya berada di tengah kesibukan Gramedia Fair di Medan. Saya ingin kaitkan kesaksian ini dengan sebuah proses transformasi kultural, yang berkaitan dengan kesibukan bekerja dengan sebuah misi transformasi, Menuju Indonesia Baru. Biarpun pekerjaan itu dilakukan—meminjam budaya perang total dari kebudayaan Cina, dari sebuah puncak bukit rendah, tetapi di sana "ada dewa"—ada kepemimpinan berpartisipasi di dalam perang total hadapi musuh-musuh kehidupan yang berkualitas. Transformasi kebudayaan sudah terjadi ketika saya menyaksikan bagaimana kerja diam-diam (tidak vokal, tetapi terbuka mendengar semuanya) yang dilakukan oleh Gramedia Penerbitan selama 30 tahun, ada panennya. Kalau ada panen selalu muncul perasaan religius (syukur kepada Tuhan), perasaan bermanfaat (usefull), perasaan menaruh harapan kepada generasi muda (generasi dengan taburan pelbagai talenta), perasaan tumbuhnya kemandirian ketika birokrasi membatasi intervensinya (kasus DBN) untuk membuka ruang lebih luas untuk dinamika perusahaan swasta.

Ketika berada di studio siaran Radio Jakarta News FM di bilangan Pondok Indah dengan lokasi yang memancarkan kebudayaan global dari civil society global, saya berdampingan dengan Priyo Utomo, Direktur Eksekutuf GPU sekarang. Saya seperti seorang petani tua yang sudah menanam pohon berusia panjang untuk mencari nafkah dan mengumpulkan kekayaan untuk solusi kehidupan miskin para petani. Sawah yang saya garap puluhan tahun, kini saya tuai dengan penuh syukur. Sudah ada petani muda yang harus meneruskan penggarapan sawah agar kualitas hidup tetap mengalami proses transendensi dan bukan dekandensi moral. Petani muda malahan sudah berani "menggurui petani tua" dengan perkembangan terbaru yang sudah terialu sulit diikuti petani tua karena berbeda zaman.

Saya lebih terharu dan bersyukur ketika telepon dari pendengar siaran di seantero kota metropolitan Jakarta dari generasi tua sampai generasi muda; yang mengakui dan menunjukkan kepercayaan (trust) kepada Gramedia Penerbitan, bahwa mereka yang kini dijuluki generasi high-tech, generasi infotech, pernah disentuh dan diinspirasi oleh berbagai cultural products yang didistribusikan oleh manufaktur cultural products Gramedia. Fajrul Rachman, host siaran Jakarta News FM mengakui bahwa perkembangan intelektualitasnya sehingga menjadi kritis dan rasional sekarang tidak lepas dari seri filsafat kontemporer dari Gramedia Penerbitan tahun 1980-an. Saya dengan tim senior Gramedia Penerbitan, yang semakin jarang hadir di Palmerah dan akan menghilang ditelan usia tidak lama lagi merasa sudah mengisi kemerdekaan pembawa buku Gramedia, sebagai bagian dari kehidupan warga negara bangsa Indonesia.

Lain lagi perasaan syukur saya ketika menghadiri acara HUT GPU di lantai V Kantor Pusat KKG di Palmerah Jakarta. Terlihat terjadi transformasi sosial. Ketika tampil di panggung, editor-editor GPU yang mayoritas wanita, generasi Kartini abad ke-21, berwajah cantik memesona, cerdas akal-budinya telah meningkat kapasitasnya sebagai editor-editor kreatif. Mereka mengedit begitu banyak naskah untuk terbit setiap bulan (sekitar 30 persen dari kapasitas produksi judul baru nasional dikerjakan oleh generasi muda editor Gramedia Penerbitan). Terbukti juga giat di dalam mengembangkan gerakan kesusastraan Indonesia kontemporer, dengan berani menerbitkan cerpen-cerpen terpilih di dalam sebuah bunga rampai. Ada kaderisasi yang berhasil demi pengembangan tradisi buku berciri narasif, deskriptif, ilmiah, rasional, dan kritis. Wajah cantik, estetis, cerdas berbahasa dan bernyanyi, tidak malu tampil di muka umum, membawa produk hasil karya akal-budinya sendiri menimbulkan sugesti baru perasaan lega ketika saya meninggalkan ruang upacara, seperti isyarat memasuki dunia pensiun dengan perasaan bebas dari post power syndrom, karena yang ditinggalkan dalam kondisi under cultural control.

Kaderisasi tidak saja di bagian redaksi dan produksi. Kaderisasi lebih menarik saya ketika bergaul lebih dekat dengan kolega departemen bisnis trade kelompok pengukur jalan, manusia Gramedia produk luar meja, bukan di belakang meja kantor. Perasaan saya lega ketika pada persiapan menjelang Gramedia Bookfair di Medan, dengan uji coba manajemen partisipasi di tingkat madya, ciri khas kepemimpinan Jakob Oetama yang berasal dari kebudayaan Jawa, mengombinasi kepemimpinan otokratis, raja-raja Jawa dan kepemimpinan demokratis pemuka-pemuka Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan visi open society, kami sama-sama bergandengan tangan pada acara briefing menjelang pameran dengan aklamasi kolektifnya: Gramedia-Yes.

Frars H. Parera, Pemimpin Umum Majalah Mata Baca
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.11/Juli 2004

Pengarang dan Akarnya

Pengarang dan Akarnya

Malam ini saya berdiri di sini di hadapan saudara-saudara sebagai seorang penerima penghargaan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award 2002-2003. Sebuah penghargaan tertinggi dan terhormat yang pernah saya terima selama 43 tahun perjalanan kepengarangan saya. Bagi saya, penghargaan ini merupakan pengakuan atas apa yang selama ini saya yakini dalam corak kepengarangan saya. Namun, saya tidak ingin mengambil kesimpulan dan menyebabkan saya dengan sangat tergesa-gesa menganggap bahwa saya telah mencapai pencapaian terbaik saya lalu terlena dan memandang apa yang telah saya hasilkan adalah puncak dari prestasi saya. Saya mengharapkan penghargaan ini menjadi dorongan perpanjangan usia kepengarangan saya, dan bisa memicu pencapaian yang lebih baik dan dia tidak menyebabkan saya terlena.

Perkembangan gaya tulisan dan aliran, sekarang ini sudah sangat maju dan luar biasa variasi pencapaian cara mereka menyuguhkannya. Sementara saya tetap terpaku pada corak kepengarangan saya; tetap pada jalur yang itu-itu juga. Tidak berubah, tetap terpatri pada penuturan menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan. Terkadang timbul rasa frustrasi pada diri saya karena tidak bisa berubah dari jalur kepengarangan saya yang konvensional itu.

Namun, saya berharap penghargaan yang sangat berharga ini bisa memicu api kepengarangan saya. Semoga saya bisa terus menghasilkan karya terbaik dan penting berikutnya. Semoga saya tidak terjebak hanya sekadar menghasilkan fotokopi dari apa yang pernah saya hasilkan. Semoga pula saya bisa terus melakukan proses kreatif, tidak hanya sekadar menjadi mesin atau tukang yang bekerja untuk memenuhi target. Saya juga berharap dan bermohon kepada Allah semoga kehidupan kepengarangan saya bisa menghasilkan karya-karya dengan nilai-nilai estetis, cerdas, orisinal dan bisa melekat lama di dalam hati pembaca. Semoga pula karya-karya yang kelak saya hasilkan bisa menjadi pengisi jiwa, pencerah kehidupan, alternatif solusi yang berharga. Yang berguna dan yang memenuhi apa yang dibutuhkan mereka, pembaca saya.

Saya tak tahu apa yang hendak saya katakan di sini. Namun, terpikir oleh saya tentang sebuah masalah yang rasanya perlu diluruskan. Walau sebenamya masalah itu tak perlu dipersoalkan. Karena masalah itu telah dilansir sejumlah media massa dan telah pula dikupas secara khusus oleh F. Rahardi, dalam kesempatan ini perlu rasanya saya gunakan untuk memperjelas apa sesungguhnya yang saya maksudkan.

Lebih kurang empat tahun lalu dalam pertemuan sastra di Makassar, saya mengatakan karya sastra itu mengandung kebohongan yang indah. Kenedi Nurhan, penyunting buku-buku saya, mengusulkan; saya setuju agar artikel ini dimuat dalam kumpulan cerita pendek saya Bibir Dalam Pispot; yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award 2002-2003.

Kebohongan yang indah yang saya maksudkan tidak dikutip secara utuh oleh media massa yang melansirnya. Padahal, di cerpen "Antena" sudah cukup jelas apa yang saya maksud dengan kebohongan yang indah itu. Namun, F. Rahardi tidak mau berdamai dengan apa yang saya maksud. Tulisnya: "... karya sastra memang beda dengan kebohongan. Bahkan karya sastra harus berusaha melawan kebohongan-kebohongan yang terjadi di masyarakat dengan mengungkapkan kebenaran." Saya setuju seratus persen pendapat itu.

Sementara, kebohongan yang saya maksud adalah sarana. Sarana yang dipakai untuk menyampaikan "melawan kebohongan-kebohongan yang terjadi di masyarakat dengan mengungkapkan kebenaran." Dia mengambil contoh cerpen "Bibir" itu. Memang pada waktu mengucapkan kata bohong itu, saya menjelaskan bahwa adegan membuka-buka pakaian dan menghapus bekas bibir itu adalah bohong belaka.

Di dalam kebohongan itulah disisipkan atau tersimpan pesan-pesan dan nilai-nilai. Inilah yang tidak dijelaskan oleh media massa yang melansir ucapan saya itu. Sebuah kebohongan yang indah. Seperti kebohongan yang dilakukan seorang dokter terhadap pasiennya. Kebohongan yang mengandung muatan terapi penyembuhan. Sama dengan kebohongan seorang pemimpin pasukan dalam usahanya menyemangati anak buahnya. Pesawat helikopter yang jatuh itu bukan ditembak lawan, katanya, tetapi jatuh karena kecelakaan. Begitu juga yang dilakukan para pengarang atau sastrawan. Mereka melakukan kebohongan hanya untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang hendak disampaikan. Di kebohongan itu pulalah terkandung nilai keindahan sebuah karya. Di kebohongan itu pulalah tercermin nilai sastranya. Maka saya bilang kebohongan jenis itu adalah kebohongan yang indah. Bila dalam sebuah karya sastra tidak ada kebohongan di dalamnya, tulisan itu adalah sebuah berita.

Jadi, jelasnya, kebohongan di dalam karya sastra adalah sarana yang dipakai untuk menyampaikan unsur-unsur nilai, pesan-pesan moral dan ide-ide. Bagi saya, sarana jauh lebih penting daripada tujuan. Tetapi, para penanggap, termasuk F. Rahardi, mengartikan kebohongan yang saya maksud adalah kebohongan yang berdasarkan apa yang dia baca pada kamus. Kebohongan yang mengandung unsur kriminal. Kejahatan.

Saya telah menyaksikan begitu banyak kepalsuan dan ketidakadilan di dalam masyarakat, yang mendorong saya untuk mengekspresikan respons pribadi dalam bentuk cerita pendek.

Saya merasa sangat berakar pada masyarakat kita, dalam pengertian saya sangat dekat dan dalam kenyataannya saya merupakan salah satu di antara anggota masyarakat itu sendiri. Namun, bersamaan itu pula, saya merasa tercerabut dari akar tradisi Tapanuli Selatan.

Karena saya tinggal di Jakarta, cerpen-cerpen saya tidak mengisahkan tentang lingkungan tradisional saya. Saya menulis tentang orang-orang Indonesia dan kelihatannya lebih banyak setting Jawa dan tokoh-tokoh Jawa yang muncul dalam cerpen-cerpen saya.

Salah satu cara saya agar dapat mengetahui apa yang terjadi di dalam masyarakat ialah dengan membaca koran secara cermat. Di samping itu, saya juga selalu bersentuhan dengan kepalsuan-kepalsuan dan ketidakadilan di dalam masyarakat lewat pergaulan langsung dengan para anggota masyarakat, mengunjungi tempat tinggal mereka, omong-omong dengan mereka, dan sebagainya.

Semua pengalaman, penghayatan, informasi, ekspresi, dan pergaulan yang saya dapatkan itu, kemudian melalui suatu proses transformasi di dalam pikiran dan hati saya akhimya menghasilkan gambaran (imaji) dan realitas baru.

Cerpen-cerpen saya merupakan perpaduan antara realitas nyata dan realitas baru dari kreativitas saya. Sebagai contoh, suatu hari saya baca di koran tentang seorang wanita yang dipaksa pencopet menelan kalungnya sendiri, karena pencopet itu marah setelah mengetahui kalung itu sebuah imitasi.

Berdasarkan peristiwa itu, kemudian saya pun menulis sebuah cerpen. Saya ingin menampilkan bahwa kemiskinan bisa menyebabkan orang berbuat nekat, tidak hanya terhadap orang lain, tetapi juga terhadap diri sendiri.

Saya kisahkan seorang saksi yang melihat pencopet menelan kalung. Pencopet itu ditangkap polisi dan dibawa ke kantor polisi. Juga saksi dan wanita pemilik kalung diminta ikut serta ke kantor polisi.
Di kantor polisi, pencopet itu disuruh minum kastroli. Akibatnya, tiga kali polisi mengawal sang pencopet masuk WC, namun polisi tidak juga menemukan kalung itu.

Akhirya, wanita pemilik kalung jatuh kasihan pada si pencopet. Mungkin saya yang salah, katanya.

Barangkali bukan dia malingnya. Hal itu sama juga dikatakan oleh saksi. Polisi lantas membebaskan pencopet. Si saksi merasa menyesal karena telah memberi kesaksian pada orang yang tidak bersalah. Dia minta maaf pada pencopet; memberinya uang untuk membeli sesuatu yang bisa memulihkan kesehatannya yang telah terus-menerus ke WC, mengajaknya naik taksi, dan mengantarkan pencopet itu pulang ke rumahnya. Dalam taksi itu si pencopet trenyuh akan ketulusan dan kebaikan si saksi itu lalu dia merasa tidak tega kalau tidak berterus terang, lalu bilang pada si saksi: "Oh, Anda adalah saksi yang benar. Anda begitu baik hati menolong saya. Saya harus mengaku di hadapan Bapak, memang sayalah yang mencopet kalung wanita itu. Saya telan kembali sebanyak tiga kali kalung itu di WC kantor polisi."

Merasa sangat kasihan pada pencopet itu, si saksi cepat-cepat kabur bersama taksi, setelah lebih dahulu menurunkan pencopet itu di sebuah jalan. Dia takut kalau-kalau pikirannya berubah dan membawa kembali pencopet itu ke kantor polisi.

Dari satu sisi, saya telah tercerabut dari masyarakat tradisi saya sendiri, di sisi lain saya merasa berakar dalam masyarakat Indonesia yang baru, seperti yang kelihatan di Jakarta.

Saya merasa, saya cukup kreatif dalam masyarakat baru ini. Barangkali bisa saya katakan, seandainya saya tidak pindah ke Jakarta, sebagai pengarang saya tidak akan berkembang seperti halnya saya sekarang.

Saya sadari masyarakat tempat saya hidup sehari-hari ini bukanlah masyarakat yang sempuma. Itulah sebabnya saya menulis, untuk menunjukkan ketidaksempumaannya agar orang sadar akan ketidaksempumaan itu dan berbuat sesuatu untuk keadilan dan kebenaran.

Saya merasa, sebagai pengarang itulah peran dan tanggung jawab saya terhadap masyarakat.

Jakarta, 17 Oktober 2003
[Tulisan ini merupakan pidato yang dibacakan oleh Hamsad Rangkuti pada penerimaan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award 2002-2003.Tulisan ini telah mengalami pengeditan seperlunya]
Majalah Mata Baca Vol. 2/ No. 4/Desember 2003

Hamsad Rangkuti: Kebohongan yang Indah dalam Sastra Konvensional

Hamsad Rangkuti: Kebohongan yang Indah dalam Sastra Konvensional

"Karya sastra itu mengandung kebohongan yang indah.... Seperti kebohongan yang dilakukan seorang dokter terhadap pasiennya. Kebohongan yang mengandung muatan terapi penyembuhan. Sama dengan kebohongan seorang pemimpin pasukan dalam usahanya menyemangati anak buahnya. Pesawat helikopter yang jatuh itu bukan ditembak lawan, katanya, tetapi jatuh karena keceiakaan. Begitu juga yang dilakukan para pengarang atau sastrawan. Mereka melakukan kebohongan hanya untuk menyampaikan pesan-pesan moral yang hendak disampaikan. Di kebohongan itu pulalah terkandung nilai keindahan sebuah karya, Di kebohongan itu pulalah tercermin nilai sastranya. Maka saya bilang kebohongan jenis itu adalah kebohongan yang indah. Bila dalam sebuah karya sastra tidakada kebohongan di dalamnya, tulisan itu adalah sebuah berita...."

Karya sastra sebagai kebohongan yang indah di atas dikemukakan Hamsad Rangkuti dalam pidato penerimaan penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2003. Hamsad Rangkuti, setelah karyanya yang bertajuk Sampah Bulan Desember hanya meraih nominasi dan gagai menjadi pemenang di tahun 2001, akhirnya meraih Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award 2002-2003, melalui buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot. Seperti tahun sebelumnya, acara penganugerahan Khatulistiwa Award kali ini juga diadakan di Plaza Senayan pada 17 Oktober 2003. Acara yang telah memasuki tahun ketiga ini pun tetap diadakan oleh QB World Books.

Prestasi yang digapai Hamsad Rangkuti ini tentu saja bukan hal mudah. Terlebih lagi, Hamsad Rangkuti dengan Bibir Dalam Pispot-nya harus bersaing dengan kumpuian puisi Telepon Genggam (Joko Pinurbo}, novel Cala Ibi (Nukila Amal), kumpulan puisi Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (Sapardi Djoko Damono), dan kumpuian puisi Lalu Batu (Radhar Panca Dahana). Kelima karya sastra ini terpilih dari 70 karya sastra yang diterbitkan di Indonesia dalam kurun waktu antara September 2002 hingga Mei 2003 dan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Eka Budianta, Endo Senggono, Frans M. Parera, Veven Sp. Wardhana, dan Yanusa Nugroho.

Bibir dalam Pispot berisi 16 cerpen karya Hamsad Rangkuti yang pernah dimuat harian Kompas (15 cerpen) dan majalah Horizon (satu cerpen) selama tahun 1979 hingga 2003. Dalam buku setebal 169 halaman ini, selain menampilkan cerpen, Hamsad Rangkuti juga menampilkan beberapa kejadian yang menjadi sumber inspirasi dari kelahiran cerpen-cerpen yang ditulisnya. Misalnya, bagaimana sesungguhnya kisah di balik kemunculan cerpen "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?", "1000? 500! 1000!", dan "Pispot".

Selain kejadian, ucapan pun bisa dijadikan Hamsad Rangkuti sebagai sumber inspirasi untuk merangkai sebuah cerita. Hal ini dipaparkan Hamsad Rangkuti untuk proses kelahiran cerpen "Dia Mulai Memanjat". Ide cerpen ini terbersit setelah Hamsad Rangkuti mendengar pelukis senior Oesman Efendi berucap kepada pelukis muda, "Kalau kau mau terkenal, penggal kepala patung di Bundaran Senayan, Katakan itu karyamu. Kau akan terkenal."

Konvensional
Ditemui di rumahnya yang sederhana di kawasan Depok beberapa hari setelah meraih Khatulistiwa Award 2003, Hamsad Rangkuti mengungkapkan apresiasinya atas penghargaan yang bam diterimanya.

"Saya merasa penghargaan itu suatu pengakuan atas profesi yang setama ini saya geluti. Saya selalu setia pada jalur konvensional. Saat ini sastra kita berkembang pesat. Apalagi dengan munculnya penulis-penulis muda sehingga mereka banyak meninggalkan jalur-jalur konvensional. Penghargaan ini (membuktikan) bahwa jalur konvensional tidak kalah mutunya. Di sana (jalur konvensional—red), saya membawakan misi kemanusiaan, membawakan penderitaan rakyat-rakyat kecil yang oleh para pengamat (dinilai) tidak cengeng, tidak memihak. Saya hanya menceritakan apa adanya, malah kadang-kadang saya menertawakan kemiskinan dan kemelaratan itu. Tapi, saya tetap menyuarakan mereka karena saya akrab dengan dunia bawah (kemiskinan—red)," ungkap suami dari Hajjah Nurwindasari ini.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai jalur konvensional yang dimaksud, ayah dari Bonang Kiswara Rangkuti, Girindra Rangkuti, Bungaria Rangkuti, dan Anggie Mauli Rangkuti ini menjelaskan, "Konvensional ini cara bertuturnya ada plot, setting, tokoh, peristiwa, penuturannya tidak berbelit-belit."

Apa yang telah dicapai Hamsad Rangkuti memang merupakan "akumuiasi" dari beragam pengalaman hidup dan kesetiaannya menulis. Dilahirkan pada 7 Mei 1943 di Titikuning, Medan, Sumatra Utara, Hamsad Rangkuti telah menapaki dunia cerpen sejak masih bersekolah di sebuah sekolah menengah di Sumatra Utara. Cerpen pertamanya berjudul "Sebuah Nyanyian di Rambung Tua" (1959) ditulis saat ia berusia 16 tahun. Setahun kemudian ia melahirkan cerpen "Mesjid" (1960) yang kemudian disusul dengan cerpen "Panggilan Rasul". Setelah cerpen ini, Hamsad mengarang "Ibu yang Pemalu", "Sebuah Spanduk", "Surat", "Jembatan", lumpuh", dan "Ikan yang Tersesat". Selama rentang waktu 1960-1979 alias 19 tahun, praktis Hamsad hanya menghasilkan tujuh cerita pendek. Pasalnya, Hamsad merasakan kesukaran untuk menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan, "Mencipta bagi saya adalah pekerjaan yang sukar," begitu ungkapnya seperti yang dimuat dalam pengantar Bibir dalam Pispot.

Keterampilan menulisnya berkembang pesat setelah empat tahun ia memiliki ilmu penulisan yang diperolehnya dari workshop penulisan skenario di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Karya pertama yang ia hasilkan setelah menguasai ilmu teknik mengarang skenario adalah cerpen berjudul "Sebuah Sajak" dan disusul "Cerita Awal Tahun".

Setelah menghasilkan dua cerpen pasca-workshop ini, Hamsad Rangkuti terus menggulirkan karya-karya lainnya, mulai dari "Dia Mulai Memanjat", "Perbuatan Sadis", "Pispot", "Ketupat Gulai Paku", "Antena", Teka-Teki Orang Desa", hingga "Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan"—cerpen yang lahir dalam proses melawan kematian. Semakin lama karya yang dihasilkan Hamsad Rangkuti tidak hanya berbentuk cerpen, tapi juga novel. Setidaknya ada tiga novel yang ia hasilkan di sela-sela kegiatannya menulis cerpen, yakni Ketika Lampu Berwarna Merah yang mengisahkan kehidupan gelandangan dan pelacur-pelacur kelas bawah di sepanjang rel; novel anak-anak berjudul Kereta Api Jam 5; dan Klamono yang mengisahkan buruh minyak di pengeboran eksplorasi dan Produksi V Sorong, Irian Jaya.

Beragam cerpen dan novel yang ditulisnya telah menempatkan Hamsad Rangkuti dalam deretan papan atas sastrawan Indonesia sekaligus mengganjarnya dengan beberapa penghargaan. Novel yang ditulisnya Ketika Lampu Berwarna Merah berhasil menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 1981) yang kemudian diterbitkan secara bersambung di harian Kompas (1981) serta diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Buku Kompas (2001). Hal serupa terjadi pada novel anak-anak berjudul Kereta Api Jam 5. Novel ini juara pertama sayembara mengarang bacaan anak-anak dan remaja 75 tahun Balai Pustaka (1992) dan memperoleh peringkat pertama kategori buku bacaan fiksi SD dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1994). Sementara itu, cerpen-cerpennya telah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen dengan judul Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000), dan Bibir dalam Pispot (2003). Selain dikumpulkan dalam antologi tunggal, cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti juga masuk dalam beberapa buku antologi cerita pendek Iain, seperti Cerpen-Cerpen Indonesia Mutakhir (1991), Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999 (1999), Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan Kompas 2000 (2000), serta Waktu Nayla: Cerpen Pilihan Kompas 2003 (2003).

Tidak hanya di dalam negeri, karya-karya Hamsad juga diakui kualitasnya di beberapa negara asing. Hal ini bisa terlihat dari adanya beberapa cerpen karya Hamsad yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jerman, seperti yang termuat dalam Menagerie 1 (1992); New Voice in Southeast Asia Solidarity (Wl); Manoa, A Pacific Journal of International Writing, University of Hawaii Press (1991); Beyond The Horison, Short Stories from Contemporary Indonesia; Journal Rima, Review of Indonesia and Malaysian Affairs University Sydney, Vol. 25 (1991).

Di Iuar kegiatan menulis, Hamsad Rangkuti juga pernah terlibat aktif di beberapa lembaga. Dia pernah menjadi pemimpin redaksi majalah sastra Horison (1986-2002), pengurus Dewan Kesenian Jakarta (1997-2002), pengurus Balai Budaya (1978-1998).

Tak salah kiranya bila sosok penggemar soto betawi di kawasan TIM ini dianugerahi beberapa penghargaan "tambahan" lain, seperti Anugerah Khusus Kompas atas kesetiaannya bergelut dalam dunia penulisan dan cerpen (2001), setelah satu tahun sebelumnya penghargaan yang kurang lebih sama diberikan oieh Pemda DKI Jakarta (2000).

Kini, Hamsad Rangkuti mencoba hidup dalam konsentrasi penuh dalam penulisan. Semua kesibukan yang selama ini pernah diembannya, di luar penulisan, telah ditinggalkan. "Banyak yang ingin kutulis," katanya suatu waktu kepada teman-temannya. Ungkapan ini seolah menjadi motivasi lain untuk mengikis rasa malas yang bisa hinggap pada saat usia terasa makin lanjut dan tak ada lagi rutinitas formal yang dilakukan. Bukan tak mungkin rasa malas semakin tak tersisa bila pria sederhana yang rutin berolahraga jalan kaki setiap pagi ini menjaiankan lelaku pribadinya dalam mengenyahkan rasa malas saat menulis, yakni mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah didatangi. Bila tak ada aral melintang, hal ini akan dilakoni Hamsad yang berencana pergi ke Inggris sebagai bagian dari "paket" hadiah yang diterimanya sebagai peraih Khatulistiwa Literary Award 2003, selain uang tunai senilai 70 juta rupiah. Sekali lagi selamat, dan kita nantikan karyanya sepulang dari sana.

Oleh: Agus Setiadi dan Winoto Anung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/Desember 2003

10 Buku Misteri Terbaik

10 Buku Misteri Terbaik

1. The Woman in White - Wilkie Collins  
Ini masih merupakan novel yang sangat misterius. Novel dengan tokoh yang sangat menarik, bagian-bagian yang indah dan pemandangan yang benar-benar menghantui, sebuah novel abad ke 19 yang sepenuhnya terbentuk dengan segala hiasannya. Ceritanya rumit, tapi aslinya ditulis dalam bentuk serial, jadi ceritanya bergerak maju dalam langkah terukur hati-hati. Banyak yang menjadi standar dalam fiksi kriminal pertama kali dilakukan di sini, jadi bukan hanya pembacaan yang menarik, tapi juga secara instruktif.

2. A Crime in the Neighborhood - Suzanne Berne
Saya telah merekomendasikan buku ini berkali-kali untuk semua jenis pembaca. Bagi saya, ini adalah sebuah novel yang menggunakan ketegangan dengan cara terbaik, bukan dengan memiliki karakter menghadapi satu rintangan yang dibikin satu demi satu dalam arus tindakan tanpa berpikir, tetapi dengan menciptakan atmosfir bahaya moral yang dalam di mana tragedi yang memuncak tampak tak terelakkan seperti itu, yah ... tragis. Ini juga salah satu buku di mana judul menjadi benar-benar tepat, dan sangat memilukan, setelah seseorang menyelesaikan buku ini. Dalam kasus ini, “kejahatan di lingkungan sekitar” ternyata jauh lebih mendalam dan tahan lama daripada tindakan kekerasan manapun.

3. A Dark-Adapted Eye - Ruth Rendell
Saya mengakui bahwa ini adalah salah satu judul terindah dalam fiksi misteri. Kabar baiknya adalah buku itu sesuai dengan judulnya. Novel ini rumit, dengan pengungkapan yang benar-benar mengejutkan, dan kedalaman penokohan membuat kontribusi besar terhadap ketegangan novel ini. Ini adalah ketegangan psikologis untuk orang dewasa, dengan orang-orang nyata yang menghadapi masalah nyata dan sangat gelap.

4. A Coffin for Dimitrios - Eric Ambler
“Bukan siapa yang melepaskan tembakan tapi siapa yang membayar peluru.” Inilah kalimat yang sejak saat itu terkenal, tapi hanya satu dari sekian banyak keindahan sastra dari buku ini. Dimitrios, dalam kehidupan dan kematian, adalah sosok yang melebihi daya tarik, hidupnya merupakan kisah perjuangan dan intrik sengit yang belum pernah saya lupakan. Tokoh sekunder digambarkan dengan sangat bagus. Dari momen Charles Latimer bertemu dengan Kolonel Haki dan mendengar Dimitrios yang misterius, pembaca kembali ke dunia Balkan yang hilang yang berkembang di antara dua perang dunia, sebuah kawah yang mendidih tentang kebijaksanaan dan tipu daya yang dibuat Ambler dengan sangat rinci.

5. True Confessions - John Gregory Dunne
Novel ini dimulai dengan sebuah kejahatan yang didasarkan pada pembunuhan Black Dahlia, dan dari sana terus-menerus diperdalam menjadi sebuah karya dengan kekuatan emosional yang hebat, lengkap dengan potret Los Angeles yang tak terlupakan di tahun 40-an. Ini adalah kisah dua saudara laki-laki, satu seorang polisi, satunya seorang pendeta, dan dengan mengikuti hubungan mereka di sepanjang jalan kejahatan yang mengerikan, buku ini akhirnya menjadi salah satu novel penebusan paling keras yang pernah saya baca.

6. The Eye of the Beholder - Marc Behm
Saya membaca novel ini bertahun-tahun yang lalu, dan tidak pernah bisa menghapusnya dari pikiran saya. Ini adalah kisah obsesi, dengan seorang detektif swasta yang hanya dipanggil The Eye yang mengikuti pembunuh berantai wanita tanpa nama selama lebih dari satu dekade. The Eye adalah penyidik swasta yang rusak secara klasik, tidak hanya sendirian, tapi sangat kesepian, dan wanita yang dia kejar adalah orang yang tidak berperasaan -namun dalam beberapa hal bisa dipahami- pembenci pria. Tarian kematian mengerikan yang menjadi kehidupan mereka adalah salah satu hubungan yang paling aneh dan paling menarik dalam fiksi misteri ini.

7. A Simple Plan - Scott Smith
Dalam novel yang sepenuhnya realistis ini, dua saudara laki-laki dan seorang teman menemukan sebuah pesawat jatuh yang reruntuhannya hancur di mana mereka menemukan sejumlah besar uang. Sebelum momen itu, tak satu pun dari orang-orang ini yang perlu membuat rencana sederhana untuk menyimpan dan menyembunyikan banyak uang yang jelas bukan milik mereka. Di tengah melakukan hal itu, mereka menjadi penjahat, sekaligus korban kejahatan. Cerita ini berkembang dengan mantap seiring dengan upah dosa menjadi semakin mahal. Inilah kisah peringatan klasik tentang hukuman, ketidakjujuran yang mungkin tepat bagi manusia biasa danorang  kebanyakan yang tidak berdosa.

8. Sneaky People - Thomas Berger
Ini bisa dibilang salah satu novel kejahatan paling lucu yang pernah ditulis. Berseting tahun 1930an, dan tokoh utamanya adalah Buddy Sandifer, dealer mobil bekas yang menginginkan satu hal yang sangat sederhana: istrinya mati. Alasannya tak kalah sederhana. Dia rindu untuk menjalani sisa hidupnya bersama Laverne, seorang wanita yang kadang samar-samar menyadari bahwa tidur dengan pria untuk uang berarti prostitusi. Usaha Buddy untuk merencanakan pembunuhan istrinya menciptakan salah satu dongeng keliru yang pernah Anda baca.

9. The Quiet American - Graham Greene
Diterbitkan pada tahun 1955, The Quiet American memberikan potret Vietnam yang sangat teramati pada malam kekalahan Prancis. Fowler, wartawan Inggris yang lelah di dunia yang pengamatannya memperkaya novel yang teramati dengan keras ini, memberikan pertentangan yang tepat dengan Alden Pyle, “orang Amerika pendiam” yang idealis yang kematian misteriusnya memberikan inti narasi cerita ini. Sebagian novel ini tentang intrik, sebagian misteri, sebagian kisah cinta, The Quiet American tetap sama kuatnya sekarang seperti saat pertama kali ditulis.

10. Cutter and Bone - Newton Thornburg

Dipuji oleh New York Times sebagai novel terbaik dari jenisnya dalam 10 tahun, Cutter and Bone adalah cerita tentang obsesi seseorang terhadap kejahatan pria lain, dalam kasus ini, sebuah pembunuhan. Apa yang membuat cerita Thornburg unik adalah bahwa “pembunuh,” pria dengan banyak uang bernama J.J. Wolfe, mungkin sama sekali tidak melakukan kejahatan. Oleh karena itu, ini adalah usaha Cutter yang gila mengejar Wolfe, lebih tepatnya bahwa keadilan dari pengejaran itu, yang memberi momentum bergairah pada buku ini.


Oleh: Thomas H. Cook

Majalah RIPPLE: Riak Ombak di Parijs van Java

Majalah RIPPLE: Riak Ombak di Parijs van Java

Bandung adalah Parijs van Java. Komparasi analogis ini mungkin benar bila ditempatkan pada masa—sekitar tahun 1920-an—ketika Bandung masih menampakkan dirinya dalam apa yang disebut Ramadhan KH sebagai "Priangan Si Jelita" di Hindia-Belanda; di mana orang dapat dengan mudah menikmati lingkungan yang memesona—dan ini rupanya mengingatkan mereka, terutama para pelancong, pada kejelitaan Paris. Karena itu, menjadi tidak berlebihan jika mereka menjuluki Bandung sebagai Parijs van Java.

Tetapi, kini, setidaknya sejak satu dasawarsa belakangan ini, julukan itu boleh dibilang terdengar berlebihan di telinga orang yang pernah merasakan sumpeknya suasana kota yang dikepung oleh bangunan-bangunan pertokoan modern yang berebut rminta diperhatikan. Mungkin itu sebabnya ingatan akan kejelitaan-kota itu seakan tak berbekas dalam kenangan kolektif masyarakatnya, yang saban hari terbiasa menikmati kemacetan lalu-lintas dengan riang. Di antara keriangan itu sejumlah anak muda masih sempat merasakan dan menikmati "riak ombak" yang berkecipak di Jalan Bali No. 1 Pav. Bandung. Tentu saja ini bukan lokasi sebuah pantai, sebab di Bandung tak ada yang namanya pantai, melainkan alamat sebuah majalah yang dikelola oleh sekelompok anak muda dengan "senang-senang", meskipun bukan berarti tak profesional dan berorientasi profit, yang dalam kamus bahasa Inggris akan tertulis—dengan huruf kapital—sebagai: RIPPLE (riak kecil).

Mengapa RIPPLE? Karena pada dasarnya mereka adalah anak-anak muda yang gemar berselancar (surfing)—dan sebab itu mereka mencintai ombak dan pantai dengan penuh seluruh. "Nama RIPPLE kami dapatkan saat baring-baring di pantai sehabis surfing," kenang Satria Nur Bambang alis Sat. NB (27 tahun), chief executive majalah ini. Untuk kecintaan itu, Sat. NB dan Dendy Darman (29 tahun), pendiri distro 347 Boardrider, memilih nama RIPPLE saat berkesepakatan menerbitkan majalah ini secara independen pada September 1999 dalam format seukuran kartu pas—atau yang biasa dikenal dalam dunia jurnalistik dengan istilah majalah saku (pocket magazine)—setebal 10 halaman,sebanyak 500 eksemplar, dan dibagi-bagikan secara gratis.

Keputusan ini bukannya tanpa pertimbangan rasional. Mereka sadar akan kenyataan bahwa anak-anak muda segenerasi mereka cenderung menyukai hal-hal yang simpel, sangkil, dan tak lazim. Karena itu, "Kami tak berpikiran muluk-muluk ketika pertama kali menerbitkan majalah ini," kata Sat kepada saya. inilah salah satu pertimbangan rasional itu—yang sekaligus menunjukkan sikap heroik mereka dalam bekerja, "Biarin nggak dapat untung, yang penting kami puas telah dapat mempersembahkan sesuatu yang 'berharga' bagi kehidupan kami sebagai anak muda," tukas Sat. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata berharga itu, karena Sat mengingatkan saya bahwa kata itu merujuk pada dua pengertian yang saling berkelindan, yaitu promosi dan sosialiasi.

Sebagai media promosi, sudah menjadi rahasia umum bahwa RIPPLE adalah corong atau alat dagang yang efektif untuk memperlancar penjualan produk clothing dan peralatan surfing serta skateboard 347 Boardrider. Sementara sebagai media sosialisasi, RIPPLE memiliki misi yang cukup "mulia" untuk menempatkan dirinya sebagai pewarta berita: peristiwa dan aktivitas skateboard dan surfing serta musik di Tanah Air. Dengan ini, boleh dibilang mereka cukup cerdik dalam memosisikan peran majalah ini di tengah kehidupan anak-anak muda di negeri ini, khususnya anak-anak muda di Bandung. Tentu saja, anak muda mana yang tak akan tergoda dengan bonus-bonus eksklusif berupa kaset band-band indie atau underground, dan merchandise cantik yang bisa didapat secara gratis pada edisi-edisi tertentu dari majalah ini.

+ Sudah baca RIPPLE #20?

- Ahhh... ada yang bilang RIPPLE itu majalah salah jalan, jalan-jalan menuju Roma....

- Hmm... ini taun 2003, semua orang boleh mengungkapkan pendapatnya....

+ Yeah... take it or fake it ... kalo mau yang bagus-bagus baca aja kartini atau femina, atau ... apa itu ... buletin manajemen ... euhhh apa??

- Qalbu

+ Yo'i!

-  Kenapa ya RIPPLE #20 ini masih banyak tentang musik, kenapa?

+ Karena memang banyak yang harus ditampilkan, banyak musik yang bagus dan jujur... no drama ... no bullshit... hahaha.
- Lalu bagaimana dengan attitudenya?

+ simak aja (cieee...), the brandals, mars volta, fall, dan lain-lain ...

- Ngomong-ngomong soal attitude... kalo kamu pengen menjadi anak punk, coba baca di sebuah majalah ibukota, di situ ada 10 cara menjadi punkers, sayangnya tidak sekalian aja dikasi formulirnya, kan keren tuh legal, terdaftar dan pasti diakui... semudah itukah? I, terdaftar dan pasti diakui... semudah itukah?

+ Ya memang, buat apa susah2 ngikutin ideologi yang beda, orang kita cuman pengen gaya kok, ngapain mesti capek-capek, semuanya udah ada kok, tinggal ngambil aja, dari film, lagu, literatur, dan kalo punya duit pergi aja keluar negeri, london, new york... trus tulis artikelnya, jangan lupa sebutin tokoh-tokoh punk, musiknya, fashionnya, sejarahnya juga kirim ke majalah di ibu kota, sisipkan foto2 biar terlihat keren dan terpercaya ... namanya juga jualan....

- Oo gitu ya? 

+ Yo'i! 

- Tapi cara tata bahasa menulis lo kok kacau gitu sih, ngelantur, susunannya kacau... mabuk lu ya?

+ Ah .. gimana sih... itu kan gua slonong boy, ga' teratur dan anti kemapanan ... gokil lu!

Dialog di atas adalah sepenggal percakapan antara editor majalah ini dengan seorang teman lamanya di sebuah taman pada suatu sore yang berangin sepoi-sepoi. Kita bisa membaca dialog ini secara lengkap dalam RIPPLE #20 (Agustus-September 2003, hlm, 8). Saya sengaja mendedahkan kembali percakapan tersebut di sini sebagai ilustrasi untuk membicarakan dua catatan penting yang dapat menandai keberadaan dan bahkan kekhasan majalah ini.

Pertama, menerbitkan majalah anak muda dengan format kartu pos tentu merupakan sesuatu yang tak lazim dilakukan, karena pilihan ini sudah pasti berlawanan dengan kebiasaan umum yang berlaku dalam dunia penerbitan majalah di Tanah Air, yang biasanya terbit dengan ukuran kertas kwarto, Tetapi pilihan ini boleh dikatakan menunjukkan keautentikan cara berpikir anak-anak muda yang mengelola majalah ini. Dengan kata lain, mereka tak hanya sekadar ingin tampil beda, tapi betul-betul memahami kecenderungan estetik anak-anak muda yang pada umumnya anti-kemapanan. Maka, menjadi tidak mengherankan jika antusiasme anak-anak muda begitu tinggi dalam merespons kehadiran majalah ini. Situasi ini terus berlangsung, bahkan saat majalah ini berganti format sebagaimana majalah anak muda yang konvensional pada edisi ke-16 (Februari 2003). Salah satu indikatornya bisa kita lihat dari luasnya wilayah pendistribusian majalah ini yang tak lagi beredar secara terbatas di kota Bandung, tapi telah menem bus kota-kota besar lainnya di Tanah Air, antara lain Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bali, Medan, dan Balikpapan; dengan angka cetak yang cukup menggiurkan: 10.000 eksemplar!

Kedua, sekalipun saat ini telah berwajah konvensional, RIPPLE tak lantas berubah menjadi majalah anak muda konvensional yang kerap bersikap manis di mata umum. Justru dengan wajah konvensional ini mereka menunjukkan potensi pemberontakan mereka secara lebih garang dan terbuka. Kita tentu tak bisa membayangkan kata-kata kasar dan jorok—seturut kacamata orang tua—yang melanggar kaidah berbahasa yang baik dan benar atau menerobos aturan-aturan EjaanYang Disempurnakan, sebagaimana yang disinyalir dalam percakapan di atas akan dimuat atau dipublikasikan dalam majalah-majalah anak muda konvensional dan mainstream.

Tetapi, menurut Sat, potensi ini mereka kerahkan tanpa maksud "gagah-gagahan" untuk mencari lawan. Sebaliknya, dengan itu mereka ingin menunjukkan kejujuran yang sudah semakin langka adanya di negeri ini termasuk bila harus menampilkan tubuh telanjang seorang model atau artis di majalah ini. Kalaupun ada pertimbangan pasar yang memengaruhi perubahan wajah majalah ini, saya kira, itu bukan sebuah aib yang harus ditutup-tutupi, sebab kenyataan ini bisa kita pahami sebagai cara mereka untuk mensiasati pasar yang tak jarang, memandang keberadaan majalah ini secara sebelah mata.

"Saya sering dibuat geram dan jengkel oleh sikap pasar (distributor dan toko buku) yang sering semena-mena menggolongkan majalah ini (saat berformat kartu pos) sebagai buku—dan sebab itu mereka menuntut potongan yang besar dari harga jualnya," kata Sat. Tetapi, lepas dari soal itu, "Kami merasa perlu berubah—karena tak ingin mapan dan stagnan di satu format dan konsep saja, maka dengan kesadaran penuh kami mengubah format majalah ini tanpa harus mengubah konsep majalah ini: 'senang-senang'," tukas Sat. Dengan konsep (atau prinsip) ini, mereka tak menjadi terbebani dengan segala implikasi yang sudah dan bakal terjadi dengan perubahan itu.

Senja itu, sesaat sebelum mematikan tape mini yang merekam pembicaraan kami, saya bertanya kepada alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu.

"Sampai kapan kalian akan berkutat dengan majalah ini?"

"Sampai kami merasa tua danbosan," jawabnya.

Wahyudin, Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM; Penggiat Lingkar Studi Seni Rupa Yogyakarta
 Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/Desember 2003

10 Novel Percintaan Cabul Terfavorit

10 Novel Percintaan Cabul Terfavorit

1. Dirty – Megan Hart
Seorang pria pengusaha kaya yang dominan dan perempuan sederhana yang patuh... Terdengar akrab? Tidak seperti Megan Hart yang menulisnya, percayalah. Ini adalah prosa cerdas yang vulgar, dan sebuah roman memilukan hati, semua terbungkus menjadi satu. Ini adalah salah satu favorit yang terakhir kali saya baca.

2. Willing Victim – Cara McKenna
Saya sudah membaca banyak buku Cara McKenna dan menyukai semuanya, tapi yang satu ini favorit saya. Itu mungkin karena ini adalah buku McKenna pertama saya, dan saya membaca semuanya dengan tangan menutup mulut saya karena shock. Cerita ini kasar dan nyata dan mengeksplorasi beberapa sisi gelap dari fantasi seksual, jadi lanjutkan dengan hati-hati.

3. Deep Desires – Charlotte Stein
Sebuah kisah tentang dua orang rusak tak diinginkan yang menginginkan segalanya dari satu sama lain, pertama dari kejauhan, dan kemudian dari jauh lebih dekat. Novel ini penuh dengan sakit hati dan nafsu. Benar-benar kasar dan indah.

4. Crooked Hearts – Patricia Gaffney
Bagi Anda yang tidak memasuki erotis, roman historis ini berdosa dengan cara yang berbeda. Saya membacanya pertama kali bertahun-tahun yang lalu dan itu menerbangkan pikiran saya. Tokoh utama pria dan wanita keduanya adalah penipu. Tokoh utama wanita berpura-pura menjadi seorang biarawati yang mengumpulkan uang untuk anak-anak. Tokoh utama pria menyamar sebagai seorang buta dan menjadi pengecut di sekitar penjahat yang memegang pisau. Ini tidak vulgar, tepatnya; itu hanya salah, salah, salah dan sangat benar.

5. Beyond Shame – Kit Rocha
Saya penggemar berat kisah berseting dystopian, dan cerita ini mendorong semua kancing baju saya. Masyarakat yang rusak, daya tarik yang tiba-tiba, dan suguhan favorit saya: tempat di mana wanita dikagumi karena seksualitas yang dalam dan gelap sama seperti para pria.

6. The Leopard Prince – Elizabeth Hoyt
Jika Anda adalah pembaca roman historis biasa, buku ini akan menjadi sesuatu yang menjijikkan, karena ini adalah hubungan yang biasanya tidak Anda lihat: perselingkuhan antara wanita bangsawan dan pelayan laki-lakinya. Dia tidak menyamar sebagai pelayan. Dia bukan bajingan rahasia seorang bangsawan. Dia adalah pembantu rumahnya, dan setiap momen yang dicuri terasa jujur dan terlarang.

7. Theory of Attraction – Delphine Dryden
Sebuah erotis yang lucu dan kutu buku. Ya, saya bilang erotis kutu buku. Tokoh utama wanitanya adalah seorang programmer komputer dan Tokoh utama prianya adalah seorang astrofisikawan tanpa keterampilan sosial. Selera seksual unik bercampur dengan lelucon Minecraft. Ini murni, menyenangkan vulgar.

8. Laid Bare – Lauren Dane
Sebuah percintaan yang panas antara kekasih yang bersatu kembali yang kemudian berkembang menjadi rumah tangga penuh kasih. Ini adalah selera seksual yang emosional dan manis bahkan sebelum teman terbaik tokoh utama pria masuk ke dalam gambar. Saya menyukai kerumitan yang dinavigasi untuk menemukan akhir yang bahagia.

9. Pleasure Unbound – Larissa Ione
Saya suka semua buku dalam seri ini, tapi sebaiknya Anda memulai dengan yang pertama. Ini adalah cerita menarik dan seksi tentang seorang pembunuh setan dan iblis lezat yang dia idamkan. Tulisan Larissa Ione adalah petualangan aksi sensual, dan saya tidak pernah bisa merasa cukup.

10. Natural Law – Joey W. Hill
Saya mendengar pembicaraan tentang buku ini selama bertahun-tahun sebelum saya membacanya. Sebuah bacaan yang begitu menakjubkan, dan sedikit menggeliat di pasar buku erotis saat ini. Tokoh utama prianya adalah seorang polisi besar dan kuat yang mendominasi dunianya dengan segala cara, tapi dia adalah orang yang tunduk secara seksual dalam cerita ini. Pembaca bisa menjadi voyeur dalam eksplorasi lezat terhadap hati dan tubuhnya.



Victoria Dahl, penulis 21 roman panas dan sebuah novel erotis cabul.

Buku, Toko Buku, Film: Ziarah Seorang Penonton

Buku, Toko Buku, Film: Ziarah Seorang Penonton

Film, Pesan, dan Realitas Sosial
Sebenarnya didasari oleh keisengan belaka, sejak setahun yang lalu saya kerap memperhatikan setting tempat dan bangunan sebuah film yang saya tonton. Kebanyakan film-film yang saya tonton keluaran Hollywood, kadang film-film dari benua Eropa (Belanda, Italia, Prancis dan Spanyol), ada juga film-film dari Asia, Amerika Latin dan sedikit film produksi dalam negeri. Karena untuk proyek pribadi serta penyakit malas yang lumayan akut, ada beberapa film yang lewat begitu saja tanpa saya perhatikan cermat dan mencatat setting tempat dan bangunan apa saja yang tampil dalam film tersebut.

Bagi saya sangat menarik untuk mencari "apa dan mengapa"-nya sebuah setting tempat dan bangunan itu ditampilkan, dikaitkan dengan keutuhan film itu, baik yang bersinggungan dengan alur cerita maupun pembangunan karakter tokohnya. Tentu saja kekurang-pahaman akan teori-teori sinema dan teknik pembuatan film membuat pencatatan saya kering dan dangkal. Tetapi, ini zaman posmo, di mana katanya penonton punya kemerdekaan untuk memberi tafsir sebuah teks (baca: film), dengan dasar pengetahuan yang dikuasainya. Pengarang sudah di liang lahat, begitu Roland Barthes menyemangati saya, sehingga saya merasa punya hak untuk membagi tafsiran saya ke sidang pembaca.

Lagi pula banyak orang pintar yang melihat film bukan sekadar karya seni, melainkan sebagai praktek sosial dan komunikasi massa. Secara praktik sosial, film dianggap memunyai keterkaitan dengan ideologi kebudayaan di mana film itu diproduksi dan dikonsumsi. Sementara sebagai komunikasi massa, film adalah media di mana pengirim pesan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada penerima pesan. Penerima pesan/pembaca kemudian melakukan proses pembacaan untuk menemukan atau menciptakan makna-makna dari pesan tersebut ketika ia bergelut dengan sebuah teks. Pesan-pesan dalam film dijelmakan dalam bentuk serangkaian gambar yang sebenarnya telah dibangun dengan kode-kode sinematografi tertentu sehingga diharapkan para penonton bisa menangkap maksud dari gambar-gambar tersebut. Makna yang ditemukan atau diciptakan oleh pembaca/penonton bisa jadi adalah makna yang tidak terpikirkan oleh si produsen makna sendiri. Barangkali ia adalah sebagian kecil   dari apa yang tidak dikatakan oleh Hermes. Anda kenal Hermes, dewa Yunani kuno, yang tidak akan berbohong, walaupun belum tentu menyampaikan semua yang ia tahu,  ketika menyampaikan sebuah pesan dari Sang Maha Dewa di langit kepada manusia.

Toko Buku Hollywood

Sebagai pencinta buku, ada beberapa film yang kelebatannya kadang masih terlintas dalam ingatan saya, yakni film-film yang memunculkan buku dan toko buku. Betapa masygulnya saya ketika menyadari bahwa buku dan toko buku minim sekali ditampilkan dalam film-film yang saya tonton. Saya agak mafhum kalau itu adalah film-film Indonesia, di mana masyarakatnya masih bisa dikatakan tuna pustaka. Tetapi, jelas saya kaget ketika mereka adalah film-film keluaran Hollywood dan Eropa, di mana ribuan judul buku diterbitkan per tahunnya dan tiap judul buku rata-rata dicetak pada kisaran ribuan, puluhan ribu bahkan ada yang sampai jutaan kopi; toko bukunya tersebar di sembarang tempat dan selalu ramai dikunjungi pengunjung dan tidak pernah sepi dari beragam kegiatan; persebarannya ditunjang oleh media massa (konon di New York sana ada media massa mingguan yang khusus mengulas melulu hanya buku, yakni New York Review of Books, atau acara bedah buku di televisi); masyarakat yang memandang buku sebagai kebutuhan, ditunjang oleh kebiasaan membaca yang sudah mendarah daging; orang bisa jadi kaya karena memilih profesi sebagai penulis.

Saya tidak mengerti, apakah kekokohan budaya membaca dan infrastruktur perbukuan di sana tidak menjadi penting bagi para pembuat film, untuk menaikkannya ke layar lebar/kaca? Ataukah mungkin karena saking kokohnya, menampilkan buku atau toko buku hanya akan membuat filmnya terlihat cerewet dan basi, mengomongkan sesuatu yang sudah biasa? Saya terus terang merasa aman untuk mengambil kemungkinan kedua. Buku dan toko buku jarang ditampilkan dalam film-film mereka karena kedua hal itu sama biasanya seperti aktivitas menggosok gigi seteiah makan dan hendak tidur. Seringkah Anda melihat kegiatan di kamar mandi itu di film-film mereka? Tetapi, bagaimana dengan film-film yang menghadirkan buku atau toko buku? Dari catatan saya, saya membaginya dalam tiga kategori. Perfama, film yang bertema tentang buku. Kedua, film yang tidak bertema buku, namun menghadirkan buku dan toko buku tidak sebagai tempelan, Ketiga, film yang menampilkan kedua hal itu hanya sebagai tempelan.

Paus, V. Hugo, dan Kekinian
Untuk kategori pertama, saya bisa menyebut film "Nineth Gate". Film yang dibintangi Johnny Depp ini bercerita tentang misteri buku tua. Seorang pemburu buku tua dan langka yang berteman dengan seorang pemilik toko buku bekas sekaligus penadah hasil buruannya. Keduanya terlibat dalam intrik-intrik perburuan buku tua misterius yang dicari-cari oleh para bookaholic. Para bookaholic dalam film ini benar-benar gila. Ada yang menyimpan koleksi bukunya di ruang tersembunyi dengan kunci pengaman canggih dan rahasia. Koleksi bukunya memang langka, rata-rata cetakan abad ke-16 sampai abad ke-19, atau buku yang dicetak dalam edisi yang sangat terbatas atau buku unik. Mereka membuat semacam klub eksklusif yang isi perbincangannya melulu buku.

Pada awal film dinarasikan Johnny Depp berhasil memperdaya seorang kolektor buku tua yang sakit-sakitan lewat anak dan menantunya yang walaupun kelihatan cerdas dan berpendidikan tinggi, lebih merelakan koleksi buku langka ayahnya dijual dengan harga miring asalkan bisa tersingkir dari mata mereka, dan ruangan bekas rak buku itu bisa diganti dengan barang-barang furniture lain kesukaan mereka, Kolektor tua itu sangat marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk bunuh diri.

Pertentangan antar-generasi mengenai pandangannya pada buku, menurut saya, tidak lepas dari citra yang melekat pada buku itu sendiri yang ditanamkan oleh masyarakat. Buku dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno, berat, serius, mengajak merenung, yang sepertinya cocok dengan pandangan kita tentang orang tua. Sementara orang muda adalah tipikal orang-orang yang cenderung hedonis, berpikir pendek, memandang hidup dengan ringan dan instan, yang jauh dari kesan yang dialamatkan pada buku. Tanpa sadar, film ini pun selalu menampilkan kolektor buku sebagai seorang tua, serius, aneh, dengan banyak kerutan di dahi.

Film ini berakhir dengan celoteh tentang ketamakan manusia dalam mendapatkan kebahagiaan lewat penguasaannya pada dunia seperti yang sudah dijanjikan oleh Lucifer, penulis buku misterius itu, dengan syarat menjual jiwanya menjadi hamba Lucifer. Dekat-dekat dengan cerita drama Faust-nya Goethe.

Teka-teki kebahagiaan itu bisa didapatkan setelah Johnny Depp mati-matian membongkar misteri yang ditawarkan oleh buku itu, dengan mencari keterkaitan antara satu fakta dengan fakta lain yang dituliskan di buku itu, dengan memahaminya keseluruhan buku itu. Setidaknya, itulah yang dijanjikan oleh pengarangnya. Saya pikir ada kaitannya dengan aksioma pada orang-orang yang membaca banyak buku, bahwa buku yang mengandung banyak pengetahuan itu bisa mengantarkan manusia untuk mengerti diri dan lingkungannya; memahami fenomena yang ada pada dirinya dan pada dunia, yang dengan itu manusia mempunyai pemikiran untuk berbuat sesuatu, menaklukkan, menyesuaikan diri atau menyingkir, demi untuk menaikkan kadar kualitas dan kuantitas hidup. Buku adalah gudang ilmu pengetahuan, jendela dunia. Semakin banyak tahu dan mengerti apa yang terjadi dalam diri dan di luar diri, semakin lebih baiklah kehidupan kemanusiaan kita. Akankah dengan itu kebahagiaan bisa tercapai? Tunggu dulu, ingatkah anda sebuah pernyataan dalam film "Matrix" yang bikin heboh itu, bahwa ketidaktahuan adalah kebahagiaan?

Bahkan dalam film "Les Miserables" (1995), buku adalah petunjuk bagi seorang Jean Vaeljen dalam mengarungi hidupnya pada masa berkuasanya kekuasaan fasis di Eropa sekitar tahun 1940-an. Film ini pada awalnya menceritakan apa yang ada dalam novel berjudul sama yang ditulis oleh Victor Hugo. Kemudian dengan sangat cantik, karakter yang ada dalam novel dan bagian awal film itu ditarik dari ruangnya dan dicocokkan pada keadaan lain, diterapkan pada masa kekinian. Sebagai seorang sopir truk yang membantu satu keluarga Yahudi untuk keluar dari Prancis yang waktu itu dianeksasi oleh Nazi Jerman, ia seorang Jean Vaeljen baru. Dalam perjalanan melepaskan diri itu, ia meminta keluarga itu menceritakan isi novel Les Miserables karena ia tidak bisa membacanya. Jadinya, secara naif, atau memang karena untuk itulah film ini dibuat, ia menemukan banyak karakter yang sama dalam novel itu dengan kenyataan di depan matanya, bahkan meramalkan apa yang akan terjadi di depan. Ia hampir menjadikan buku itu kitab sucinya dalam mengarungi hidup. Tetapi, ia dan film itu menyadari bahwa hidup tidaklah sesederhana seperti apa yang terdapat dalam novel itu.

Romantisme Kelas Menengah
Untuk kategori kedua, boleh saya sebut film "Serendipity", film yang bertema roman percintaan yang mengintegrasikan buku pada keutuhan cerita filmnya. Seorang laki-laki dan perempuan bertemu secara kebetulan, melakukan aktivitas bersama dan saling jatuh cinta. Karena merasa perasaan itu terlalu cepat datangnya, mereka memutuskan untuk mempertaruhkan masa depan hubungan mereka pada buku dan uang kertas.

Buku itu, Love in TheTime of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, yang telah ditulisi dengan nama dan alamat si perempuan, dijual/disimpan oleh perempuan itu pada sebuah toko buku bekas. Kalau buku itu bisa ditemukan oleh-si laki-laki, mereka berjodoh. Begitupun dengan nasib uang kertas itu, yang setelah ditulisi dengan alamat si laki-laki, dibelikan sesuatu oleh John Cussack, si laki-laki. Jika si perempuan bisa menemukan uang kertas itu kembali, mereka akan bersatu.

Si laki-laki memburu buku itu berbulan-bulan, dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Film ini menampilkan usaha laki-laki itu dalam gerakan cepat, karena banyaknya toko buku bekas yang ia kunjungi. Perburuan buku itu menarik perhatian calon istrinya. Ia merasa bahwa buku itu sangat penting bagi calon suaminya, maka ketika mereka akan menikah, ia menghadiahi laki-laki itu dengan buku yang selama ini di burunya. Kebetulan yang kemudian benar-benar mengubah jalan hidupnya.

Kenapa buku? Kedua orang itu adalah lulusan perguruan tinggi, berasal dari kelas menengah. Bahwa bagi mereka buku adalah barang yang penting. Tak ada salahnya bagi mereka untuk menghadiahi seseorang dalam acara yang penting dalam hidupnya dengan sebuah buku. Buku toh bisa sama romantisnya dengan sepotong cokelat atau seikat kembang merah. Dalam Film "Nineth Gate" pun, saya melihat bahwa buku dapat juga menunjukkan status sosial kalangan menengah atas yang terdidik, terobsesi dengan ekskiusivitas dan dalam gejala lain sedikit snob.

Pemilihan judul buku itu, Love in The Time of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, sangat relevan dengan apa yang diinginkan oleh tokoh-tokoh dalam film itu. Jika Anda pernah membaca buku itu, yang menurut Marquez sendiri ditulis "from my gut", Anda akan menangkap keabadian cinta, melewati perjalanan waktu dan berbagai rintangan. Mungkin seperti itulah romantisasi cinta dalam bayangan mereka. Bahwa ada konflik sosial yang secara cerdas disamarkan oleh Marquez dalam bukunya itu, tidaklah mengganggu imajinasi mereka tentang kebahagiaan bersatunya cinta oleh sesuatu di luar kekuasaan mereka. Toh konflik itu terjadi nun jauh di sana, di sebuah negara dunia ketiga. Mereka, berada di sebuah negara dunia pertama yang makmur, tentu yang mudah-mudah saja yang sampai ke mereka.

Tetapi, benarkah hanya karena mereka berasal dari perguruan tinggi dan kalangan menengah atas? Bukankah lebih banyak film yang walaupun menghadirkan tokoh dengan dua kriteria di atas, buku atau toko buku tidak ditampilkan sebagai penanda?

"Ada Apa dengan Cinta?" dan Buku?
Saya tidak tahu pasti., Kadang saya mencium bahwa aroma phobia buku tidak hanya menguar di negeri tercinta kita ini, tapi juga di sana, di sebuah peradaban yang sedang mengangkangi dunia, yang salah satu elemen pembangunnya adalah produk dari mesin cetak ciptaan Gutenberg itu. Saya masih sering membaca kekhawatiran orang tua tentang tingkah laku anak remajanya yang lebih sering menghabiskan waktu senggangnya membaca buku di kamarnya daripada bersuka ria dengan teman sebaya. Dari hasil polling saya tahu bahwa di sana pun menjadi lebih tampan/cantik adalah lebih utama dan lebih diinginkan daripada menjadi lebih pintar. Saya juga berani bertaruh bahwa dana yang mereka keluarkan untuk kosmetika atau menyalurkan hobi jauh lebih besar dibandingkan dana untuk membeli buku.

Buku yang diasosiasikan dengan kuno, berat, serius, dan karenanya layak untuk dijauhi, tampil impresif dalam film-film remaja. Saya sering menangkap citra orang yang kutu buku sebagai penyendiri, tidak gaul, aneh, berkaca mata tebal, dandanan yang out of date dengan tingkah yang selalu jadi bahan tertawaan. Pokoknya, "enggak fungky dan bikin geli". Bagi kebanyakan remaja, itu sangat menakutkan. Ketika citra itu dimamah biak, wajar jika membaca buku, menyambangi toko buku jarang mereka lakukan.

Syukurlah ada film "Ada Apa dengan Cinta?" garapan Rudi Sudjarwo, ia menawarkan citra lain remaja pencinta buku: tampan, sedikit gaul, tidak malu-malu, punya "karakter", walaupun tetap dingin. Ia penyuka puisi; di kamarnya ada gambar besar Chairil Anwar. Belum cukup juga, ditambahkan buku yang dibacanya adalah Aku, sebuah skenario film karangan Sjuman Djaya. Konon katanya, ketika demam "Ada Apa dengan Cinta?" melanda Tanah Air, banyak orang yang sengaja datang ke toko buku menanyakan buku itu. Mungkin mereka hendak meniru tingkah laku Rangga dan Cinta ketika berburu buku di Kwitang sana. Saya terkejut. Kenapa bukan toko buku "modern" yang tampil dalam adegan itu? Mungkin saja pembuat film memahami karakter kebanyakan orang Indonesia dalam berbelanja: menawar. Sesuatu yang pastilah tidak mungkin didapatkan di toko buku "modern". Tetapi, Kwitang adalah pasar buku yang menjual buku baru atau bekas dengan harga rabat. Ada faktor kesengajaan karena film itu ditujukan untuk menjadi konsumsi remaja, yang pasti kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Di sisi lain, adalah jitunya pembuat film dalam memahami karakter kebanyakan orang Indonesia ketika membeli buku; faktor isi nomor dua, yang paling menentukan dia membeli atau tidak adalah harga. Berbeda jika sedang memburu barang-barang hobi atau koleksi, di mana harga adalah faktor kesekian, harga buku adalah faktor utama karena masih nomor buncitnya kebutuhan akan buku bagi kebanyakan kita.

Saya mengajukan dugaan lain: harga buku kita memang relatif mahal bagi kebanyakan rakyat kita jika dilihat persentasenya pada pendapatan per kapita per tahun. Kita adalah salah satu negara dunia ketiga yang tingkat kesejahteraan rakyatnya sedikit lebih maju dibandingkan negara-negara Afrika sub-sahara sana. Saya bisa menyebut pajak terhadap kertas yang menjadi salah satu biang keladi mahalnya buku.

Memang seperti itu. Sudah saya katakan di muka bahwa pangsa film ini adalah para remaja yang kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Namun, lihatlah tingkah pola Cinta dan gank-nya dalam film itu, yang begitu bersemangat menonton sebuah pertunjukan musik band terkenal di deretan paling depan atau makan minum di cafe, atau seperti kebanyakan remaja kita yang biasa mengeluarkan sekian ratus ribu rupiah per bulannya untuk membeli pulsa telepon genggam. Tidak tampak kere. Apalagi om-om yang menyediakan sekian miliar sebagai anggaran untuk membeli Jaguar atau BMW seri terbaru. Membeli buku? Sudahlah.

Barangkali ini masalah konstruksi kesadaran. Di abad di mana informasi memegang peran penting dalam mengatur tingkah polah manusia, media massa, termasuk film, berhasil merekonstruksi kenyataan, mengisinya dengan nilai-nilai yang dianggap dominan dan menguntungkan, menyodorkannya pada pemirsa layaknya wahyu yang haram jika tidak diikuti. Mereka menciptakan kebutuhan, mengaburkan batas antara kebutuhan (need) dengan keinginan (want). Penonton tinggal menyesuaikan diri dengan citraan itu.

Identitas Bangsa Prancis
Saya malah menemukan bahwa buku dan toko buku dalam film drama percintaan digunakan untuk menunjang karakter aneh tokohnya, demi untuk mencapai derajat tertentu keromantikaan. Bukankah yang aneh-aneh, kadang menjadi sesuatu yang eksotis untuk coba didekati? Eksotis berarti sesuatu yang murni, peka, yang belum tercampuri oleh udara kotor dunia atau rasio. Ada sifat misterius di sana, yang sangat menantang untuk dijamah. Film "Notting Hill" adalah contohnya. Seorang pemilik toko buku khusus buku perjalanan bertemu jodohnya dengan seorang selebritis terkenal. Anda mungkin tidak suka dengan film yang renyah, yang sejak awal Anda sudah bisa menerka alur naik turunnya jalan cerita serta kesimpulan akhirnya yang biasanya happy ending.

Bagi saya sendiri, yang menarik dari film ini adalah pemilihan toko buku khusus buku perjalanan untuk menunjang karakter tokoh. Hugh Grant memerankan tokoh yang sedikit pecundang, punya mimpi besar tapi tidak bisa dicapainya. Mimpi itu adalah melanglang buana melihat dunia, meninggalkan cuaca muram kota London dan kenyinyiran kerabatnya. Sangat ironik ketika kita tahu ternyata Hugh Grant belum pernah mengunjungi satu tempat pun yang diterangkan dalam buku-buku wisata yang dijualnya. Toko buku menjadi monumen kompensasi dari ketidakmampuannya merealisasikan mimpinya.

Toko buku menjadi awal cinta mereka tumbuh, sebagaimana dalam film "The Cave" (2001), sebuah film Belanda yang mempersilakan toko buku menjadi awal tumbuhnya cinta di antara dua tokoh cerita. Di antara rak-rak buku yang sempit, Egon, seorang mahasiswa geologi, mendengar ada seseorang memainkan cello, seorang perempuan, mahasiswa sastra pada universitas yang sama dengan Egon, yang kelak menjadi istrinya. Saya sangat suka dengan interior toko bukunya. Rak-rak buku yang berhimpitan dan menjulang hingga menyentuh plafon, tumpukan buku-buku, tangga buku, di tengah terdapat sedikit ruang tempat menyimpan alat-alat musik: piano, cello, dan biola. Setiap pengunjung boleh memainkan alat musik itu. Tetapi, bisakah Anda melepaskan diri untuk tidak mengaitkan alat musik itu dengan karakter buku dan toko buku yang sudah tertanam di otak kita. Apakah cello biasa dimainkan untuk sebuah komposisi musik underground, misalnya? Semua orang tahu bahwa cello dipakai untuk mengiringi komposisi musik klasik. Membaca buku membutuhkan konsentrasi dan konsentrasi akan lebih bisa tercapai kalau ruangannya nyaman dengan musik yang seirama dengan detak jantung manusia, yaitu musik klasik.

Demikianlah saya cukup terkejut ketika ada sebuah toko buku di Bandung yang bernama "Omunium", yang menemani pengunjungnya dengan musik underground., bukan dengan musik klasik atau jazz sebagaimana biasanya.

Film-film buatan negeri Eropa, terutama film Prancis, memang paling sering memunculkan setting rak-rak buku, biasanya di dalam apartemen atau rumah biasa. Ini sesuatu yang memunculkan alternatif lain dibandingkan film-film Hollywood. Kita bisa menyaksikannya pada "Moulin Rouge" (2001), "Le Fabuleux Destin d'Amelie Poulain" (2001), atau "Les Miserables" (1995), dan masih banyak lagi. Hampir pasti. ketika kamera menyasar sebuah apartemen atau rumah tinggal, ada rak-rak buku.
                    
Saking seringnya saya melihat tampilan buku dalam film-film Prancis, yang dalam beberapa film tidak begitu memengaruhi keutuhan sebuah film, hanya sekadar numpang lewat, saya curiga jangan-jangan ada semacam kampanye "pembangunan karakter bangsa" di balik film-film itu. Namun, berbeda dengan umumnya kampanye serupa di Tanah Air, yang isinya melulu pengagungan pada tradisi dan moralitas ketimuran dan membuat oposisi biner: Timur vs Barat, dengan Barat sebagai biang kerok, kampanye mereka berupa penegasan bahwa bangsa Prancis, selain bangsa yang memiliki sense of art tinggi, menghargai tradisi, juga bangsa yang beradab, maju, menghargai intelektualitas dan rasionalitas, dengan cara mengambil alih karakter yang "melekat" pada buku. Seolah bangsa Prancis ingin menegaskan dirinya bahwa selain anggur dan cafe serta mode, buku adalah salah satu ciri lainnya dari kebangsaan Prancis.

Pembaca yang Fatalis
Bukankah buku juga lambang kesedihan, muram, rasa sakit yang coba ditahan bertahun-tahun, kekecewaan, kegetiran, ketidakpercayaan pada dunia dan manusia? Dalam film Belanda berjudul "Antonia's Line", tokoh yang cukup dipanggil dengan nama kecilnya, Crocked Fingers, melihat buku sebagai penawar sekaligus racun pada apa yang diyakini, pada apa yang dilakukan. Tua, antik, berkaca mata, rambut panjang awut-awutan, serius, tidak pernah keluar rumah, sejak ia pulang akibat terluka dalam Perang Dunia Kedua. Membaca buku terus, terutama yang bertema eksistensialisme. Karakternya dingin, sepanjang film kita tidak pernah diberi tahu apa yang sedang berkecamuk dalam batinnya. Tawar. Coba kita dengarkan apa yang diucapkannya pada ulang tahun cucunya, Antonia: mengajaknya mendaras buku Nietzsche. Hingga suatu saat ia menyadari bahwa segalanya sudah terlambat, ia tidak cukup memahami apa yang dilakukannya, tidak punya pilihan, kebosanan. Yang terbaik adalah tidak dilahirkan, tidak ada. Yang terbaik dari semuanya itu adalah mati, ia pun memutuskan bunuh diri.

Teman nonton saya berkomentar begini, "Gitu tuh kalau terlalu banyak baca buku, fatalis," Saya cuma terkekeh. Mungkin ia harusnya menjelaskan buku apa yang dimaksud. Ada buku yang kalau kita baca bukannya membuat kita fatalis, melainkan malah bergairah, bahkan mungkin agresif.

Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang menyarankan jangan terlalu dalam memelajari filsafat, nanti bisa gila. Tapi yang saya tangkap malah ketakutan manusia kehilangan eksistensinya, penguasaannya secara jelas dan terang pada apa yang ia rasakan, ia lakukan, kekuasaannya pada diri sendiri. Gila adalah keadaan di mana diri tidak bisa lagi menguasai diri lain dalam tubuhnya. Semacam pembebasan, Kebebasan dari keharusan akan kejelasan, penyeleksian, pengaturan, penundukan eksistensi secara rampat papan pada sebuah nilai atau citra yang utuh padu. Gila adalah penghancuran kesatupaduan eksistensi, identitas diri itu sendiri. Orang sebenarnya takut dengan kebebasan. Ia memberikan rasa ketidakamanan. Filsafat memberi kesempatan membuka banyak diri dalam tubuh, yang dulunya mungkin tidak diketahui atau pura-pura tidak diketahui.

Kematian, kata Heiddeger, adalah satu-satunya yang bisa menghilangkan eksistensi manusia. Karena itu, manusia takut dengan kematian. Kematian adalah semacam kejelasan "setelah siang adalah malam", pasti akan mencapainya, Kalau ada orang yang secara sengaja membuka pintu untuk kedatangannya, siapakah orang itu?

Toko Buku Aksesoris
Sementara untuk film yang dalam catatan saya masuk ke dalam kategori ketiga, yang walaupun menampilkan buku atau toko buku tapi hanya sebagai tempelan, contohnya film "You've Got Mail". Bagi saya, film ini tidak cukup keterkaitan antara karakter tokohnya dengan posisinya sebagai pemilik toko buku. Satu pemilik toko buku kecil khusus buku anak (diperankan Meg Ryan) akan disaingi oleh pemilik jaringan toko buku besar (diperankan Tom Hank). Jika Anda perhatikan secara utuh film itu, Anda akan bernostalgia tentang masa lalu, atau betapa anehnya cinta itu hadir.

Atau mungkin akan sampai pada kesimpulan bisa saja toko buku itu diganti dengan, sebutlah, toko roti. Karena, karakter tokoh tidak dibangun oleh setting bangunannya, tetapi oleh persepsi masyarakat akan betapa harusnya perempuan yang berumur lebih dari 30 tahun untuk berkeluarga atau tentang nostalgia masa lalu, atau betapa anehnya cinta itu hadir.

Publikasi atau Sepi-lseng Sendiri
Dengan naif saya sampai pada kesimpulan bahwa buku dan/atau toko buku tidak dianggap sebagai kebutuhan. Mengunjungi toko buku jarang masuk dalam agenda weekend kebanyakan kita, karena jangan-jangan tontonan kita sangat minim menampilkan gambar-gambar tentang buku atau suasana toko buku yang seimpresif, semenyenangkan, sekelas dengan mengunjungi mal atau belanja di butik. Banyak bukti yang menunjukkan ketika sebuah film idenya berasal dari buku atau menyebut-nyebut sebuah buku dalam film itu, orang-orang dengan antusias mengunjungi toko buku untuk membeli buku tersebut. Novel The Hours, karangan Michael Cunningham dan buku-buku karangan Virgiana Wolf, terkerek naik penjualannya begitu filmnya "The Hours", diputar di Jakarta. Atau buku Aku karya Sjuman Djaya yang ikut-ikutan dicari orang gara-gara numpang dalam film "Ada Apa Dengan Cinta?"

Mungkin ironis karena ia mengikuti hukum publisitas. Begitu filmnya tidak dibicarakan lagi, tergilas oleh film lain yang sama sekali tidak menampilkan buku atau toko buku sebagai sesuatu yang indah, romantis dan perlu, buku dan toko buku kembali sepi, iseng sendiri.

Mumu Muhajir, pencinta buku dan penonton film, tinggal di Yogyakarta
Majalah Mata Baca, Vo. 2/No. 4/Desember 2003

10 Tahun Goodreads sebagai Media Sosial Buku

10 Tahun Goodreads sebagai Media Sosial Buku

Sepuluh tahun setelah Goodreads didirikan oleh Otis Chandler dan istrinya, Elizabeth Khuri Chandler, dan empat tahun setelah diakuisisi oleh Amazon, media sosial baca, pemasaran, dan penelusuran buku online telah berkembang menjadi salah satu komunitas buku dan membaca yang paling berpengaruh di internet. Dan terlepas dari kekhawatiran beberapa anggota Goodreads tentang akuisisi Amazon saat diumumkan (dan beberapa ancaman untuk meninggalkan komunitas online), Goodreads telah berkembang pesat.

Situs ini menarik lebih banyak pengunjung daripada sebelumnya. Goodreads memiliki sekitar 16 juta pengguna terdaftar pada tahun 2013 dan akan menandai ulang tahun ke 10 dengan lebih dari 65 juta anggota.

Anggota Goodreads dapat membuat rak buku online, daftar buku yang mereka baca atau rencanakan untuk dibaca. Situs ini juga menawarkan ulasan dan komentar anggota terhadap buku, survei, jajak pendapat, dan kegiatan membaca, seperti Challenge Reading 2017, di mana anggota berjanji untuk membaca sejumlah buku di tahun yang akan datang. Dan Goodreads dapat membantu pembaca yang tertarik dengan karya sejarah menemukan buku dalam kategori tertentu -misalnya, sejarah militer atau zaman Elizabeth, atau bahkan fiksi sejarah.

“Ini gila,” kata Elizabeth, merenungkan perkembangan situs ini. “Kami mulai hanya dengan kami berdua, dan sekarang ini adalah komunitas membaca terbesar di dunia. Kami adalah komunitas orang yang bisa saling berbicara tentang buku-buku yang kami cintai.”

Otis mengatakan bahwa Goodreads sukses karena mampu “menghubungkan” sejumlah besar orang yang tertarik untuk berbicara tentang buku. “Ada dua kebenaran dalam penerbitan hari ini,” katanya. “Pertama, pencarian buku adalah salah satu tantangan terbesar bagi penerbit dan penulis, dan kedua, dari mulut ke mulut adalah salah satu penggerak rekomendasi buku yang paling kuat. Goodreads duduk di tempat yang manis di mana kedua peluang ini saling tumpang tindih. “Sebagai contoh persimpangan itu, dia menunjuk pada Reading Challenge, yang memacu lebih dari 2,6 juta anggota Goodread untuk masuk dengan rencana untuk membaca lebih dari 30 juta buku.

Situs ini juga menghasilkan kumpulan data tentang pembaca dan kebiasaan membaca mereka dan telah berkembang menjadi alat pemasaran bagi penerbit dan penulis individual. “Semakin banyak data mendorong semakin banyak percakapan dan membantu algoritma (rekomendasi buku) kami menjadi lebih baik,” kata Otis. Ukuran keanggotaan Goodreads dan data yang dihasilkannya menarik penerbit (dan penulis indie) untuk memasarkan buku mereka.

“Random House adalah mitra iklan penerbit pertama kami di tahun 2007,” kata Otis. “Sekarang kami memiliki seperangkat alat pemasaran yang canggih -hadiah, penawaran, potongan harga.”

Goodreads, ia menambahkan, dapat menggunakan datanya untuk menawarkan kepada para penerbit kemampuan untuk menargetkan penggemar dari berbagai penulis dengan iklan bergambar. Penggemar ini adalah anggota Goodreads yang menyimpan buku-buku berdasarkan para penulis ini atau menunjukkan ketertarikan pada mereka. Tim iklan Goodreads bekerja dengan setiap penerbit untuk membuat daftar penulis yang karyanya mirip dengan buku, itu dipromosikan untuk menargetkan iklan. Misalnya, penggemar novelis fiksi ilmiah Veronica Rossi atau Neal Shusterman, Otis menjelaskan, dapat dengan mudah ditargetkan dengan iklan bergambar untuk sebuah buku baru sebuah penerbit percaya mereka bisa nikmati. Dalam layanan terpisah, Goodreads secara khusus dapat menargetkan anggota berdasarkan selera bacanya.

Alat pemasaran lainnya di situs ini termasuk Goodreads Deals, sebuah program promosi harian yang menawari anggota diskon e-book berdasarkan buku-buku di rak, dan buletin mereka, yang memiliki lebih dari 35 juta pelanggan. Dan, sebagai anak perusahaan Amazon, Goodreads juga memungkinkan penerbit dan penulis membagikan hadiah e-book di platform Kindle.

Goodread menyediakan studi kasus yang merinci bagaimana komunitasnya dan alat pemasaran digabungkan untuk mendorong penjualan banyak buku populer. Kate Stark, seorang wakil manajer pemasaran Riverhead Books, mengatakan bahwa situs tersebut “memainkan peran utama dalam membantu The Girl on the Train untuk mencapai kesuksesan awal.” Dia mengutip pentingnya “ulasan awal dari anggota Goodreads,” dengan mengatakan bahwa “sekali dunia mulut dimulai dan pembaca merasa senang dengan buku itu, sisi sosial Goodreads memperkuat dengungan sampai ke tingkat yang luar biasa.”

Rekan penerbit St. Martin Press, Laura Clark, menggambarkan All The Ugly and Wonderful Things karya Bren Greenwood sebagai “kisah sukses komunitas Goodreads yang sebenarnya.” Dia berkata, “Tawaran Goodreads Choice Awards (diskon untuk buku yang memenangkan penghargaan) untuk All The Ugly and Wonderful Things meluncurkan buku itu ke daftar buku terlaris untuk pertama kalinya, empat bulan setelah publikasi.”

Sejak awal, Chandler melihat bahwa penulis menggunakan Goodreads untuk berhubungan dengan penggemar mereka. Saat ini, situs ini memiliki lebih dari 214.000 akun penulis -termasuk penulis populer seperti Paulo Coehlo, Neil Gaiman, Roxane Gay, dan Stephen King. Fitur Ask the Author pada situs ini memungkinkan penggemar untuk bertanya kepada penulis favorit mereka. Otis menunjuk novelis Andy Weir (The Martian), yang menjawab pertanyaan tentang astronot kesukaannya, dan penulis komik Alan Moore, yang membahas tentang budaya tanding.

“Sangat menyenangkan jika melihat dampak Goodreads terhadap kehidupan orang lain,” kata Elizabeth.

Calvin Reid
Publishers Weekly 09/25/2017

Like untuk dapatkan update artikel terbaru