Pembaca Mukmin, Pembaca Kafir!: Konstruksi Perbukuan dan Budaya Populer

Pembaca Mukmin, Pembaca Kafir!: Konstruksi Perbukuan dan Budaya Populer

Penulis boleh menjadi semacam dewa yang menciptakan dunia berupa buku-buku yang ditulisnya, tetapi pembacalah yang membuat buku itu memiliki makna. Tanpa kehadiran pembaca, buku tak akan pernah ada, atau kalaupun ada akan jadi dunia sepi pengarangnya sendiri. Secara esensial, seorang penulis sendiri sesungguhnya telah sekaligus berperan sebagai pembaca dalam kerja kepenulisannya. Lebih dari itu, seorang pembaca juga bisa sampai pada peran layaknya sebagai penliis baru dalam kegiatan pembaca mereka, yakni ketika mereka merekonstruksi dunia bacaan ke dalam pemikiran mereka.

Determinasi Menjadi Pembaca
Jeanne Chall dan Emily Marston (1976) pernah menjabarkan tiga determinan kuat yang membuat orang membaca. Determinan pertama adalah ketersediaan buku. Seseorang akan tertarik untuk menjadi pembaca pertama-tama karena buku-buku berada dalam jangkauan mereka, Semakin banyak buku yang tersedia dan bisa mereka peroleh dengan mudah, semakin mudah pula bagi mereka untuk merasa tertarik. Ketertarikan ini akan berkembang dari sekadar membuka sekilas kemudian mencoba untuk membaca hingga akhirnya mereka akan secara serius memahami dan memikirkan apa yang ditulis dalam sebuah buku. Hal ini akan berlanjut dan berkembang hingga mereka akan mencari dan mendapatkan buku yang lain.

Determinan kedua adalah kemampuan membaca. Kesulitan yang sering dialami oleh pembaca adalah adanya kesenjangan antara kemampuan membaca atau wawasan mereka diperhadapkan dengan bacaan yang ada. Kesulitan dan kesenjangan ini dapat berupa bahasa dan kosakata sulit, gaya dan teknis penulisan, ataupun tema dan wacana yang ditawarkan. Determinan ini terutama dialami oleh pembaca pemula dan masyarakat umum ketika harus membaca buku-buku khusus yang tidak memiliki kaitan langsung dengan kehidupan mereka. Dalam hal ini, penulis dan penerbit harus bersedia untuk memberi jembatan penghubung dan pembelajaran apresiatif agar kesenjangan ini tidak semakin lebar dan memunculkan ketidakpedulian atau antipati masyarakat terhadap buku.

Determinan ketiga adalah minat baca. Rendahnya minat baca adalah persoalan klasik yang sering dikedepankan berkaitan dengan dunia perbukuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa minat baca ini bukanlah faktor yang independen. Ada banyak aspek yang berkaitan dan harus diselesaikan bersama di antara komponen-komponen masyarakat, kaum perbukuan dan pemerintah: pajak buku, harga kertas, tingkat pendidikan, kualitas tulisan, copy-right dan penghargaan kepada penulis, pembajakan buku, dan sebagainya.

Homo Legens
Kurt Sleuchter, seorang aktivis perbukuan dari Jerman, dalam tulisan WJ Simons (1965) mengklasifikasikan pembaca buku menjadi tiga tipe: tipe mukmin (gelovige), tipe kafir (heideren), dan tipe pentobat (bekeerlingen).

Mukmin berarti beriman. Pembaca tipe mukmin adalah pembaca yang tekun "beribadah" kepada buku. Kelompok ini boleh dikatakan tak bisa hidup tanpa buku. Keseharian seorang pembaca mukmin akan diisi dengan membaca dan mencari bacaan baru. Buku adalah pegangan hidup mereka untuk mengatasi persoalan, sebagai hiburan, pengisi waktu luang, tempat berbagi, bahan rujukan dalam pemikiran dan hidup keseharian, dan seterusnya. Begitu kuatnya kecintaan mereka terhadap buku, ada suatu adagium yang mereka yakini, yakni bahwa semua pembaca buku akan masuk surga, dosa-dosa mereka akan diampuni sebanyak apa yang telah mereka baca selama hidupnya, dan surga bagi mereka adalah tempat di mana beragam dan beraneka buku berlimpah-ruah tersedia bagi mereka.

Pembaca tipe kafir adalah mereka yang membenci buku. Tipe pembaca ini adalah kelompok terbesar di masyarakat. Mereka tidak memiliki minat untuk membaca ataupun memiliki buku. Sebagian besar diantaranya bahkan tidak melihat adanya manfaat dari membaca. Para penulis, penerbit dan penjual buku harus terus berupaya agar kelompok ini mengenal dan tahu nilai-nilai positif buku dan peranannya yang penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Usaha yang tak kenal lelah akan membawa pembaca tipe kafir menjadi pembaca tipe pentobat.

Pembaca tipe pentobat adalah mereka yang bisa menempatkan buku dalam posisi yang sebenarnya. Kelompok ini bukan maniak buku yang menghabiskan waktu dan usianya hanya berkutat dengan buku, tetapi juga bukan mereka yang antipati terhadap bacaan. Buku mereka pahami sebagai dasar ilmu pengetahuan dan mereka letakkan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Kontekstualitas menjadi salah satu perhitungan penting mereka ketika berhadapan dengan buku. Bahwa ada buku yang harus mereka baca sebagai pegangan memahami persoalan hidup dan ada pula buku-buku yang dibaca sebagai tambahan pengetahuan dan kesenangan saja.

Pembaca Indonesia
Membicarakan dunia perbukuan Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari perdebatan tentang minat baca dan daya beli masyarakat. Topik ini seakan tidak pernah habis diperdebatkan dan selalu bermuara pada perdebatan ayam dan telur, manakah yang lebih dulu ada dan harus diselesaikan: rendahnya daya beli membuat minat baca sangat kurang atau kurangnya minat baca membuat daya beli buku sangat minim.

Kita dapat merunut kembali tulisan "Membaca Anak-Anak Membaca" di MATABACA (Vol.1/No.11/Juli 2003). Asumsinya adalah mahasiswa sebagai bagian dari kaum kelas menengah, setidaknya calon kelas menengah Indonesia. Dalam kaitannya dengan dunia penerbitan, mahasiswa bukan hanya calon konsumen mestinya telah berada pada tahap awal terbentuk sebagai konsumen pembaca buku. Dalam kenyataan, benang kusut perbukuan Indonesia pun bisa terbaca jelas dalam kehidupan mahasiswa, prototipe kaum terdidik yang menempati posisi utama dalam dunia perbukuan. Generalisasi mahasiswa yang buta membaca dan lumpuh menulis bolehlah kita amini bersama.

Jadi, jika mahasiswa diasumsikan sebagai wakil dari masyarakat, benarkah bahwa minat baca dan daya beli mereka rendah? Jawabannya jelas: tidak! Mereka banyak membaca komik-komik Jepang, novel-novel populer seperti Agatha Christie dan John Grisham, dan tabloid olahraga atau majalah-majalah gosip. Mereka juga mengikuti perkembangan tren perbukuan seperti terlihat dari larisnya buku-buku Kiri, Kahlil Gibran, dan serial Chicken Soup. Kemampuan finansial pun mereka miliki. Mereka bisa mengikuti perkembangan mode pakaian dan dandanan. Mereka juga mengoleksi kaset-kaset dan menonton konser-konser artis pujaaan. Handphone terbaru di saku jadi tanda dan identitas diri yang tak bisa ditinggalkan. Jelas, semua itu merupakan hobi dan kesenangan yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga buku-buku.

Bisa jadi persoalan mengapa buku-buku yang lebih bernas dan bermutu dibanding sekadar buku-buku yang dimaknai sebagai pleasure kurang diminati —tidak laku— bukanlah persoalan pembaca, tetapi dikarenakan kurangnya kemampuan penerbit dalam mengurusi pemasaran dan penyebarannya ke masyarakat. Secara sederhana, bagaimana mungkin masyarakat bisa begitu akrab dengan Coca-Cola dan "ayam Amerika", sedang teh "nasgitel" dan ayam kampung jelas jauh lebih enak dan sesuai dengan lidah kita, misalnya. Memang, persoalannya bukan sekadar kemampuan menjual dan berpromosi. Bisa dikatakan banyak aspek yang berkelindan: modal, globalisasi, kultur baru, generasi baru, dunia baru, penguasaan arus informasi, hegemoni budaya, dan seterusnya. Terlihat jelas bahwa ada proses yang terus-menerus dan berkelanjutan yang membuat masyarakat mengidentifikasikan dirinya dalam produk-produk asing tersebut.

Buku, seasing apa pun benda ini di tengah masyarakat, ternyata juga bisa berjalan sebagaimana Coca-Cola. Ketika Dewi Lestari, seorang artis penyanyi terkenal, menulis sebuah novel, ia mempromosikannya di mana-mana: jumpa fans, diskusi, televisi dan media massa lainnya. Ternyata bukunya bisa laris dan mengalami cetak ulang berulang kali. Begitu juga ketika Dani Ahmad, penyanyi terkenal, menyatakan bahwa dirinya adalah pencinta Kahlil Gibran, terjemahan karya-karya sastrawan asing ini pun jadi barang dagangan yang laris luar biasa. Lalu ketika tren serial Harry Potter dan Chicken Soup yang melanda dunia diberitakan dengan gencar di sini, terjemahan kedua buku serial ini pun menghimpun puluhan ribu pembaca yang menggemarinya.

Dalam kasus yang lebih serius, dalam arti kurang berkaitan dengan dunia selebritas, kasus larisnya buku-buku reformasi, buku-buku Kiri, dan karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah fenomena yang harus pula dicermati. Begitu juga dengan maraknya penerbitan kumpulan cerpen dan buku-buku Islam yang juga sempat diminati masyarakat.

Jadi, bagaimana penerbit membangun jembatan yang bisa mengakrabkan buku-buku terbitannya dengan masyarakat luas dan bukan berkutat pada segmen sempit pembaca yang telah ada bisa dijadikan titik tolak pertama untuk mencapai tataran ideal: buku sebagai pondasi dasar kebudayaan modern dan keberadaban bangsa.

Goenawan Budi Susilo
Majalah MataBaca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Mempermainkan Dongeng

Mempermainkan Dongeng

1
Sapardi Djoko Damono membuka Membunuh Orang Gila (Jakarta, 2003, Penerbit Buku Kompas) dengan cerpen "Dongeng Kancil" (hlm. 1-7). Pada bagian I, "aku" pengarang ketemu kancil di rumpun bambu di hutan. "Aku" kancil mengeluh lidahnya luka dijepit bambu. Macan telah tak mempan ia tipu karena tahu akal bulus pada dongeng. Lalu kancil ia beri pilihan: bersedia dimakan atau menyediakan lidahnya dijepit bambu, sama dengan pengalaman macan pada dongeng. Karena sayang nyawa, kancil memilih pilihan kedua. Akibatnya, lidahnya luka. Ini diadukan "aku" kancil kepada "aku" pengarang. "Aku" kancil kecewa karena tipu yang dulu ampuh kini tak ampuh lagi. Ia juga punya pengalaman yang sama dengan buaya. Pendeknya, semua binatang hutan tak mampu ia tipu karena telah arif. Malah macan berkata tipu itu adalah siasat juru dongeng agar anak-anak suka mendengar dongeng kancil (hlm. 3). Karena ini "kesalahan" juru dongeng, kancil lalu bertanya, "Apa Juru Dongeng memang suka mengubah-ubah rancangannya? Apakah Juru Dongeng telah membocorkan rencananya?" "Aku" kancil lalu mengembara mencari juru dongeng.

Pengembaraan kancil mencari juru dongeng diceritakan pada bagian II, di sini yang hadir hanya "aku" kancil. Dalam pencariannya ia masuk wilayah manusia. Melihat timun timbul giur. Tahu tak ada orang, yang ada hanya orang-orang(an), ia beranikan diri mencuri. Tapi ia merasa perlu menghajar orang-orang itu dulu. Akibatnya, ia lengket pada tubuh orang-orang yang digetahi itu. Ia ditangkap pak tani lalu dikurungnya. Karena umpannya agar anjing mau menggantikan tempatnya juga gagal, saya bayangkan ia besok disate—bukan kesimpulan dongeng Sapardi.

Bagian III yang pendek bercerita tentang "aku" pengarang yang terus mengembara dan ini ditutup dengan "mengeluh tentang juru dongeng itu".

2
Pada cerpen itu, Sapardi bermain dengan dongeng. Ia dongengkan dongeng yang lain dari yang biasa ada. Pada dongeng, kini kancil gagal menipu macan dan buaya karena mereka telah kenal akal bulus kancil pada dongeng dulu. Karena yang menderita kancil, ia lalu bertanya, "Apa Juru Dongeng memang suka mengubah-ubah rancangannya? Apa Juru Dongeng telah membocorkan rencananya?" Tapi Sapardi tak memanfaatkan materi kedua pertanyaan ini. Ia biarkan kancil mengembara untuk mencari juru dongeng dan ini saya anggap bertanggung jawab untuk kematiannya di tangan manusia melalui orang-orangan yang benda. Suatu tragis, Kancil yang cerdik ditipu benda (mati). Ini menggelitik saya.

Saya pertanyakan kemungkinan pengembangan dongeng ini ke arah lain. Kancil berhasil menemui juru dongeng tua yang menghasilkan dongeng tua. Ia kaget dongeng telah berkembang ke arah yang berlawanan dari yang ia dongengkan. Karena tidak merasa bersalah —ia tak pernah mengubah-ubah dongengnya— ia berpikir tentu ada juru dongeng baru yang telah merusak dongengnya. Ia akhirnya bertemu dengan juru dongeng baru. Antara keduanya terjadi dialog. Mula dengan juru dongeng tua yang marah-marah. Ia tanyakan apakah hak juru dongeng muda merusak dongengnya. Ini berakhir dengan dialog antara keduanya. Juru dongeng muda punya alasan untuk mengubah jalan cerita dongeng. Karena dongeng kancil lama sudah lama beredar, ia jadi sesuatu yang terduga (predictable). Begitu mendengar judul dongeng kancil, orang akan tahu akhir cerita. Untuk penyegaran agar tak segera terduga begitu orang mendengar judul dongeng, jalan cerita mesti diubah. Ini yang menyebabkan reaksi macan pada dongengnya lain dari yang ada pada dongeng tua.

Atau ia bisa juga menjawab lain. Dalam realitas tak pernah dan tak mungkin akan terjadi macan atau buaya bisa kalah kepada kancil atau ditipu kancil. Yang lebih mungkin, kancil dimangsa macan atau buaya. Karena itu, juru dongeng muda tidak merasa perlu mesti memenangkan kancil sebagai yang dilakukan juru dongeng tua. Tak realistik. Ia juga tak merasa perlu untuk memberikan kemenangan fiktif kepada kancil. Karena dalam realitas kancil selalu jadi mangsa macan dan buaya, juru dongeng tua dalam dongengnya berusaha memenangkan kancil. Paling tidak, kancil bisa mengalahkan macan dan buaya meskipun hanya dalam dongeng, suatu yang fiktif. Di samping itu, kancil pada dongeng juru dongeng tua juga mewakili orang-orang kecil dan lemah yang tak mampu melawan kekuatan penguasa yang menekan dan menakutkan. Bila dalam realitas mereka selalu kalah, biarlah mereka menang dalam dongeng yang fiktif. Paling tidak, mereka bisa bangga mengalahkan penguasa. Atau mereka bisa bicara sesama mereka bahwa penguasa akan jatuh sama halnya dengan macan atau buaya dalam dongeng. Dengan cara ini mereka hibur diri. Atau ada harapan semu, percaya suatu hari penguasa akan kalah sama halnya dengan macan dan buaya dalam dongeng. Atau cara para orang kecil itu berpikir sama dengan orang yang baru saja dibelasah, Setelah pembelasah berhenti dan pergi, ia akan berkata, "Tunggu nanti, akan saya balas." Dan ini tak pernah terjadi karena ia selalu menghindar bila melihat orang yang pernah membelasahnya. Ia menghibur diri dengan lari kepada kemenangan fiktif falam dongeng.

Juru dongeng tua yang tak mampu menangkis alasan juru dongeng muda kembali menemui kancil menceritakan alasan juru dongeng muda mengubah dongengnya. Kancil tentunya sedih. Ia kini sadar mesti melakukan sesuatu untuk mempertahankan diri. Atau ia ajakjuru dongeng tua mengatur strategi baru menghadapi fenomena yang bersumber pada alasan juru dongeng muda. Ia, juru dongeng tua bertanggung jawab untuk mencipta dongeng yang lebih baru di mana alasan kemenangan kancil terhadap macan dan buaya lain dari yang ada pada dongeng tua. Karena juru dongeng hanya ada dalam wacana, adalah kewajiban para pengarang, orang-orang seperti Sapardi, untuk mengarang wacana baru yang menampung pemikiran yang baru saja Anda baca. Wallahu'alam.

3
Ada fenomena lain. Hanya ada satu juru dongeng. Tak ada yang muda atau tua. Bila ia didatangi kancil yang mengeluh, jawabnya tentu saja bisa sama dengan jawab juru dongeng muda. Namun, bisa juga lain. Ia sengaja mengubah dongeng.

Bila kancil menyesalinya karena tak diberi tahu, juru dongeng menjawab ia tak merasa perlu memberi tahu karena ia percaya kancil cerdik. Paling tidak, kancil yang begini, yang cerdik, yang ia ciptakan dulu dalam dongengnya.

Sesuai sifat itu, juru dongeng, percaya kancil akan dapat menghadapi sembarang kemungkinan —sama halnya dengan gadis Inggris menghadapi akal bulus saudagar Yahudi yang digunakan de Bono untuk membuka pemikirannya tentang lateral thinking. Sang gadis menolak dikawini Yahudi walaupun gagal melunasi utang. Maka oleh Yahudi itu sang gadis diberi pilihan. Ia mesti menebak pada tangan mana ada batu putih. Apa saja tebakan gadis itu ia akan kalah. Pada kedua tangan Yahudi itu yang ada hanya batu hitam. Begitu mengambil batu dari salah satu tangan, gadis itu melemparkannya ke tanah lalu bercampur dengan batu lain. Untuk tahu batu apa yang ia ambil, Yahudi ia paksa buka tangan yang satu lagi. Karena yang ada pada tangan itu batu hitam, maka yang ia ambii tadi adalah batu putih. Dengan cara ini ia lepas dari perangkap Yahudi itu. Nah, kata juru dongeng kepada kancil sebab kau gagal mengembangkan kemampuan akalmu, sesuai aduanmu, aku tarik balik (kata) cerdik yang selama ini sinonim dengan kancil —kancil yang cerdik lain dari pelanduk yang jenaka. Kau tak bisa mengambil alih kata jenaka karena pelanduk bisa marah. Bila ada "kancil jenaka", ia takut orang akan mengacaukan antara kancil dan pelanduk dan salah-salah orang juga akan menyamakannya dengan kancil. Aku juga tak mungkin melekatkan kata bodoh kepada kau karena bodoh bagiku sama dengan binguang bahasa Minang. Biarpun sedikit, tapi ada orang Minang yang mengenal cerita buyuang binguang (buyung bodoh) yang dituliskan Aman Dt. Madjo Indo menjadi bujang binguang (1935). Namun, bisa kita pertanyakan kebodohan mereka. Untuk memerawani seorang gadis, Buyuang Binguang rela berpisah dengan seluruh kambing gembalaannya —karena itu ia dianggap bodoh. Bujang Binguang juga dikatakan bodoh karena tak mau pegang benda yang bernama uang, tapi ini tak berarti ia tak berusaha mendapatkan uang. Ia rajin berusaha, tapi uang urusan istri. Dengan alasan ini, kata juru dongeng, kata bodoh tak sesuai bagi kancil. Apalagi aku pernah baca cersil Cina berjudul Pendekar Bodoh tentang seorang pendekar andal yang dijuluki kata itu. Untuk kancil aku pilihkan kata dungu. Orang dungu tidak sadar ia dungu. Ia percaya kalau pintar. Karena itu, tak berusaha belajar padahal ini ia perlukan untuk mengubah dirinya dari dungu menjadi cerdik. Aku yang merasa diri bodoh tidak pernah berhenti membaca. Tapi kau berhenti membaca dan belajar. Kau percaya sepenuhnya kepada gelar cerdik yang beberapa abad lalu aku lekatkan kepada kau. Makhluk yang dulu kau anggap dungu kini berubah menjadi pandai karena mereka beiajar dan membaca. Kecerdikan kau hanya sebatas dulu dan ini tak mungkin digunakan untuk mengalahkan kepintaran makhluk lain yang terus belajar. Kau anggap macan dan buaya sebodoh yang kau kenal dulu padahal kini mereka telah lain. Karena itu, kau yang akhirnya jadi mangsa macan atau harimau dan buaya. Jadi, jangan kau salahkan aku yang kau anggap seenaknya mengubah dongeng.

Aku juga mengubah dongeng sesuai hakikat kreativitas yang melekat pada cerita. Tanpanya, suatu cerita akan beku apalagi bila sudah dibakukan. Nah, cerita kancil juga telah beku karena telah dibakukan. Orang selalu mengaitkan kancil dengan cerdik dan akan mengalahkan macan dan buaya. Karena tidak sesuai alam di mana kancil adalah mangsa macan dan buaya, ini lalu saya ubah. Ia saya biarkan berlaku alamiah. Dengan cara ini, kancil mesti menghadapi musuhnya sebagaimana adanya. Ia harus menggunakan kemampuan akalnya —saya mungkin dipengaruhi juga oleh sistematik drama Brecht. Jadi, bila kau kini dimangsa macan dan buaya, ini hanya akibat kreativitas yang melekat pada cerita, termasuk dongeng. Kau tak berhak menyalahkan aku.

Ini bisa dilanjutkan dengan cerita selanjutnya. Dengan menggerutu ia tinggalkan juru dongeng. Ia bisa jadi kancil dungu yang hanya hidup dengan gerutunya. Atau karena tahu bodoh, ia mulai belajar. Belajar tentang kuasa binatang lain. Ia kembangkan strategi sendiri untuk menghadapi macan dan buaya. Usaha ini sangat diperlukan karena tanpanya ia akan kehilangan atribut cerdik yang selama ini melekat pada dirinya. Dulu ia bertolak dari hakikat dirinya yang cerdik dan menganggap makhluk lain dungu, kini ia bertolak dari hakikat dirinya yang bodoh dan ini memaksanya mempelajari alam dan makhluk lain untuk mampu mengembangkan strategi sendiri bila berhadapan dengan bahaya. Catatan ini saya tutup dengan pertanyaan, apakah kita punya hak mengatakan "pengarang telah mati", yang adalah judul antologi cerita (pendek) Sapardi sebelumnya (Magelang, 2001, IndonestaTera). Dengan menggunakan catatan ini, saya berharap orang akan dapat bermain dengan dongeng dan mempermainkan dongeng. Tidak hanya mendongengkan dongeng lagi.

Umar Junus, pencinta buku tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Menggali Kearifan Dongeng Tradisional

Menggali Kearifan Dongeng Tradisional

Hampir semua orang akrab atau setidaknya mengenal dongeng atau cerita rakyat. Dongeng ini hidup dari zaman ke zaman dan diturunkan melalui tradisi oral. Lebih sering cerita rakyat tersebut dituturkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sebagai dongeng pengantar tidur. Melalui tradisi seperti itulah cerita rakyat terus hidup hingga di zaman modern seperti sekarang.

Takdisangkal lagi dongeng-dongeng klasik pengantar tidur ini meninggalkan kesan yang mendalam di hati anak-anak. Bahkan Putu Wijaya dengan yakin mengatakan bahwa dongeng-dongeng pengantar tidur tradisional seperti itulah yang memberikan banyak peran cukup berarti dalam kiprah kepengarangannya. Dongeng-dongeng tradisonal yang dia dengar dari neneknya saat menjelang tidur menggoreskan jejak imajinasi dalam benaknya.

Di masa sekarang, ketika orang tua tidak lagi sempat mendongeng untuk anak-anaknya, dongeng-dongeng tradisional dituturkan dalam bentuk teks cetak. Dongeng-dongeng itu dikemas dalam bentuk buku yang bisa dengan mudah ditemukan di toko-toko buku. Fenomena seperti ini tentu sangat menggembirakan karena modernisasi memberikan sumbangan yang besar kepada kelestarian dongeng-dongeng tradisional. Ketika tradisi oral turun-temurun tidak lagi efektif, dunia modern menawarkan solusi yang tepat.

Banyak orang yang berpendapat aktivitas mendongeng orang tua kepada anak-anaknya lebih baik ketimbang sekadar membelikan anak-anak mereka buku-buku cerita. Mereka menganggap aktivitas tersebut memberikan sentuhan emosional yang lebih intens antara pendongeng (orang tua) dan yang didongengi (anak-anak). Di sisi lain, membiarkan anak-anak membaca sendiri dongeng-dongeng dari buku tidak melibatkan emosi antara orang tua dengan anak.

Terlepas dari kelemahan yang dimiliki oleh dunia modern, penerbitan dongeng-dongeng tradisonal tetap merupakan usaha yang layak untuk disyukuri.

Bila tradisi oral hanya melingkupi wilayah sosial yang sempit —keluarga atau komunitas masyarakat tertentu— maka tradisi tulis bisa memberikan ruang lebih luas. Keterbatasan ruang dan waktu teratasi berkat kemajuan teknologi manusia. Dengan begitu, dongeng-dongeng yang pada awalnya hanya menjadi konsumsi lokal bisa dibaca oleh masyarakat lebih luas. Selain itu, kendala bahasa lokal yang semula menjadi media dongeng-dongeng tersebut bisa teratasi karena dongeng-dongeng tradisional itu diceritakan kembali dalam bahasa yang lebih luas jangkauannya, dalam hal ini bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia, otomatis dongeng-dongeng tersebut bisa dinikmati oleh banyak kalangan dari berbagai bahasa ibu di Nusantara.

Kenapa Cerita Tradisional?
Seiring dengan berkembangnya otonomi dalam bidang pemerintahan pusat-daerah, wacana kearifan lokal menjadi pembicaraan yang hangat. Bila selama ini pemerintah pusat memiliki kemampuan kooptasi yang kuat baik dalam bidang pemerintahan maupun kebudayaan, maka sekarang saatnya wacana-wacana lokal mendapatkan angin segar. Dalam situasi seperti ini, mestinya dongeng tradisional memperoleh porsi yang selayaknya. Kearifan lokal dalam dongeng tradisional yang selama ini tersingkirkan atau terpendam sudah saatnya untuk digali kembali.

Pun seiring kondisi dunia yang semakin mengglobal oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi, sudah semestinya cerita rakyat mendapatkan perhatian yang lebih baik. Selama ini kita bisa merasakan betapa cengkeraman globalisasi telah menciptakan dampak yang besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Globalisasi telah menciptakan kanal besar bagi masuknya kultur dari luar (Barat).

Contoh sederhana dari pengaruh globalisasi ini adalah banyaknya buku anak-anak terjemahan pengarang luar negeri. Jika dibandingkan, jelas sekali buku anak-anak karya pengarang lokal kalah laris dibanding buku-buku terjemahan tersebut. Apalagi bila dibandingkan dengan buku-buku yang berbentuk cerita rakyat, mereka serupa bumi dengan langit. Dari hasil penyusunan jenjang buku-buku laris oleh sebuah media massa, buku-buku cerita rakyat tersebut tidak pernah menjadi buku laris (best seller). Urutan teratas buku-buku laris ditempati oleh buku atau komik, antara lain fiksi dan dongeng, terjemahan.

Lalu pertanyaannya, kenapa demikian? Penyebab paling utama karena dahsyatnya arus globalisasi. Gelombang yang besar ini memberikan pengaruh besar pula —meski tidak tersadari oleh masyarakat— sehingga menciptakan pola pikir west minded. Masyarakat sekarang telah terpola untuk mengonsumsi segala sesuatu yang berbau impor.

Desakan kultur impor ini kemudian menghasilkan generasi yang gagap budaya. Mereka terlahir dalam kultur yang canggung. Tubuh wadak mereka impor, tapi jiwa mereka lokal, bahkan tradisional. Hal ini sangat kentara ketika mereka mencoba berpakaian dan bertingkah selayaknya bangsa yang modern, tapi logika berpikir mereka masih tradisional. Mereka sangat doyan dengan teknologi karena itu merupakan bagian yang tidak bisa terlepaskan dari gaya hidup modern, tapi kepala mereka masih dipenuhi dengan takhayul dan klenik, sebagaimana terlihat pada tingginya peringkat acara-acara "hantu" televisi.

Pun demikian halnya dengan bacaan. Mereka Iebih menyukai bacaan impor ketimbang karya lokal karena Iebih bergengsi dan modern. Kondisi seperti ini mengingatkan kita kepada kondisi bangsa Indonesia pada zaman kolonial. Pada masa itu, masyarakat dari kalangan elite pribumi juga mengidap sindrom inferior dengan posisinya. Konstruksi sosial yang dibangun oleh pemerintahan kolonial menciptakan pola pikir bahwa tradisional Iebih buruk ketimbang modern. Mereka berusaha keras menyamai para majikan bule mereka dalam segala cara meski pada akhirnya mereka kelihatan kedodoran dan ngoyo woro.

Tulisan ini sama sekali tidak hendak mengatakan bahwa modern lebih buruk ketimbang tradisional. Lagi pula persoalan modern-tradisional sudah menjadi perdebatan usang. Namun, satu hal yang perlu kita cermati kembali adalah bahwa sesuatu yang berbau tradisional pun sebenarnya memiliki nilai yang tidak kalah baiknya dengan yang modern. Dalam kasus ini, cerita rakyat yang tradisional pun memiliki banyak hal bermanfaat bagi pembentukan mental bangsa.

Dengan segenap keterbatasannya, cerita rakyat masih punya peran yang harus diperhitungkan karena cerita rakyat memiliki fungsi sangat penting. Pertama, cerita-cerita tradisional merupakan hasil kreasi budaya bangsa. Penulisan kembali cerita rakyat tidak hanya sekadar (seperti jargon yang sering didengungkan oleh pemerintah) demi melestarikan kebudayaan adiluhung bangsa, melainkan lebih demi pemahaman yang lebih intens terhadap kultur bangsa.

Selama ini, masyarakat pada umumnya dan pemerintah pada khususnya cenderung mengabaikan pemahaman terhadap kultur bangsa. Pelestarian budaya bangsa lebih sebagai tindakan mengelap-ngelap hasil kebudayaan yang dianggap adiluhung, bukan pada pemahaman dan pergulatan yang intens. Singkatnya, masyarakat menganggap kebudayaan sebagai sebuah benda mati yang harus dipuja-puja dan dijaga agar tidak lekang oleh musim.

Cara berpikir seperti ini nyata sekali bila kita melihat laju pembangunan selama ini. Kebijakan-kebijakan pemerintah sering kali tidak tepat dan terkesan semena-mena karena memang tidak mempertimbangkan situasi kultural dan sosial masyarakat setempat. Padahal jika mau belajar dari masa lalu bangsa, kita bisa menemukan bahwa pemahaman atas budaya bangsa sangatlah penting.

Pada masa kolonial, Belanda belajar banyak hal tentang negeri yang dijajahnya. Melalui para ahli mereka, pemerintah kolonial Belanda berusaha memahami karakter dan kelemahan kaum elite feodal dan rakyatnya. Sebagai contoh, Belanda mengirim Snouck Hurgronje ke pedalaman Aceh untuk mempelajari budaya dan tradisi masyarakat di sana. Dengan ketekunan semacam itulah pemerintah kolonial bisa menancapkan kukunya selama tiga setengah abad di Hindia Belanda.

Kedua, cerita-cerita tradisional bisa memberikan wacana alternatif bagi masyarakat. Bila selama ini masyarakat Iebih banyak dijejali oleh konstruksi sosial dan kultural Barat, sudah saatnya masyarakat memiliki alternatif lain. Dengan begitu, masyarakat menjadi Iebih bijak dalam menghadapi hiruk pikuk arus sosiokultural global.

Beberapa Persoalan
Meski demikian, dari berbagai ragam buku cerita rakyat yang telah diterbitkan, ada beberapa persoalan yang dimiliki penerbitan cerita rakyat. Persoalan-persoalan tersebut menghambat perkembangan penerbitan cerita rakyat. Salah satunya kita bisa menemukan belum adanya kategori yang konsisten dalam penerbitan cerita rakyat. Pada umumnya, cerita rakyat merupakan mitos-mitos yang diceritakan turun-temurun. Pencerita awal dari mitos tersebut tidak lagi bisa diketahui karena mereka anonim. Karena dongeng tersebut berupa mitos, kebenarannya tidak harus ditempatkan secara kaku. Realitas dan imajinasi bercampur baur dengan kepentingan-kepentingan masyarakat atau penguasa tempat mitos itu hidup. Dari jenis ini, kita bisa mengambil contoh dongeng asal usul tempat atau cerita fabel.

Jenis kedua adalah cerita sejarah. Dalam kasus ini, realitas historis lebih kuat dibandingkan jenis yang pertama. Infiltrasi unsur imajinasi ke dalam jenis kedua ini sejauh mungkin dihindari, terutama yang berkaitan dengan fakta-fakta sejarah. Bahkan orang berusaha untuk mereka ulang kenyataan lampau sedekat mungkin dengan yang sesungguhnya. Mereka menyampingkan unsur-unsur yang menodai realitas cerita ini. Dari jenis ini kita bisa mengambii contoh kisah-kisah sejarah atau cerita tentang seorang pahlawan.

Akan tetapi, pemisahan seperti ini kurang mendapat perhatian dari penerbit. Misalnya, cerita kepahlawanan (cerita tentang pahlawan-pahlawan kemerdekaan) dikategorikan ke dalam serial cerita rakyat. Kecerobohan seperti ini tentu saja sangat mengganggu. Kekacauan pengkategorian seperti ini berdampak pada penghilangan sekat antara dongeng (yang lebih dekat pada) imajinasi dengan cerita sejarah yang realitas historisnya lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Persoalan lainnya, penulisan kembali cerita rakyat tersebut lebih banyak didasarkan pada teks-teks yang sudah populer. Kecenderungan ini tentu saja bisa dimaklumi karena cerita-cerita yang sudah populer lebih menarik perhatian pembaca karena mereka sudah akrab dengan cerita tersebut. Namun, hal ini akan berakhir pada kebosanan pembaca. Semakin lama mereka akan jenuh dengan teks-teks yang melulu berupa cerita-cerita yang sudah mereka dengar atau hafal.

Kondisi seperti ini sebenarnya bisa diatasi dengan mencari teks-teks baru. Cerita rakyat bisa dicari dalam naskah-naskah kesusastraan daerah atau menggali lagi cerita-cerita rakyat yang selama ini belum dikenal oleh banyak orang. Mengingat begitu banyaknya naskah kesusastraan daerah yang telah ditranskrip atau ditransliterasi oleh para filolog Indonesia, rasanya banyak sekali naskah mentah yang siap diolah menjadi buku dongeng. Pun dengan cerita rakyat yang berkembang melalui tradisi lisan hingga sekarang dan belum pernah diceritakan kembali dalam bentuk tulis.

Persoalan berikutnya adalah gaya penulisan cerita rakyat. Selama ini gaya penulisan dongeng untuk konsumsi anak-anak sangat monoton. Bahkan kebanyakan dari buku dongeng kita masih sangat buruk. Kecenderungan penulisan cerita rakyat bersifat sederhana dan kurang memperhatikan aspek estetis tulisan tersebut. Jika dibandingkan dengan penulisan kembali cerita tradisional yang dikonsumsikan bagi orang dewasa, akan nyata sekali perbedaannya.

Para penulis ulang dongeng tradisional kelihatannya sangat khawatir dengan persoalan keterbatasan kosakata dan kemampuan berbahasa pembaca mereka, anak-anak. Karena merasa anak-anak masih memiliki perbendaharaan kata yang minim, para penulis pun merasa kurang leluasa. Akibatnya, gaya bahasa mereka menjadi monoton. Padahal, logika seperti ini mestinya dibalik. Karena kosakata anak masih minim, maka menjadi tugas penulis untuk sedikit demi sedikit memperkenalkan kosakata baru kepada mereka.

Lebih jauh lagi, penulis dongeng tradisional sudah saatnya melakukan adaptasi atau dekonstruksi atas dongeng-dongeng yang selama ini berkembang. Jika selama ini orang mengenal tokoh kancil sebagai personifikasi makhluk yang cerdik, bisa saja misalnya tokoh kancil digambarkan sebagai binatang yang licik karena menipu binatang-binatang lain demi kepentingan pribadinya. Dengan begitu, teks-teks dongeng anak-anak bisa menjadi lebih dinamis.

Persoalan yang lain adalah kurangnya promosi, atau bahasa gagahnya kampanye. Yang terakhir ini berkaitan dengan laku tidaknya buku dongeng, Selama ini buku-buku anak terjemahan selalu disertai dengan promosi besar-besaran. Terkadang pula promosi itu semakin gencar karena berbarengan dengan promosi di negara asal pengarang buku tersebut. Dunia global sekarang ini dipenuhi oleh kemajuan teknologi, yang membuat dentang promosi menjadi sangat keras gaungnya. Terlebih lagi bila promosi itu dilakukan di beberapa negara sekaligus, akan semakin kuat pengaruhnya pada khalayak.

Dengan melakukan pembenahan di beberapa persoalan tersebut, semoga saja penerbitan cerita-cerita rakyat menjadi lebih berkembang. Dengan begitu, wacana-wacana kearifan lokal yang selama ini terpendam bisa tergali dan "terbaca" oleh khalayak luas, khususnya anak-anak. Bukankah segumpal batu mulia pun tidak akan bisa memancarkan keindahannya bila terpendam jauh di dasar bumi?

Imam Risdiyanto, penulis cerita anak, anggota Komunitas Dolanan Yogyakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003

Perempuan dan Buku

Perempuan dan Buku

Buku merupakan salah satu media massa yang berfungsi memberikan informasi, sumber pengetahuan, dan wadah penyaluran aspirasi, pikiran, pendapat, bahkan perasaan sekalipun. Sebagai sebuah media yang bisa diakses secara luas oleh publik, buku dengan fungsinya mempunyai posisi penting dalam pembentukan budaya. Padahal, saat ini seluruh elemen pembentuk budaya di masyarakat, tidak bersifat netral atau didominasi oleh struktur dan kultur yang "berkuasa" dalam kemapanan, yakni struktur dan kultur patriarki.

Kemapanan kuasa patriarki dalam dunia perbukuan membawa ekses bagi perempuan baik secara kultural maupun struktural. Akibat negatif yang menimpa perempuan karena dunia perbukuan yang diformat "sangat lanang" ini sering kali tidak disadari oleh insan dan pemerhati perbukuan, bahkan sebagian orang menganggapnya "mengada-ada persoalan". Untuk itu, kita perlu melihat secara kritis dengan menggunakan analisis yang berperspektif gender dalam melihat fenomena perbukuan di Tanah Air.

Perempuan yang secara kultural sudah dianggap unintelectual, jauh dari tradisi intelektual dan keilmuan karena stereotip irasional pada perempuan, semakin terpuruk karena perempuan juga berposisi marjinal di dunia perbukuan. Industri perbukuan yang identik dengan aktivitas produksi lebih dekat dengan (dikuasai) dunia laki-laki, karena ideologi gender secara bias telah menempatkan peran perempuan pada aktivitas reproduksi. Peran reproduksi dianggap tidak bernilai ekonomi sama sekali, meskipun peran ini telah melahirkan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri itu sendiri. Selain itu, peran reproduksi ini dikaitkan dengan peran domestik yang dianggap tidak memerlukan landasan ilmiah karena bersifat alamiah, intuitif, dan keterampilan saja, sehingga dalam dunia keilmuan dan pendidikan, perempuan juga diposisikan subordinat dari laki-laki. Sejak kecil, pola asuh dan pendidikan orang tua pun sudah lebih mengutamakan pendidikan anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Bila orang tua mengalami keterbatasan kemampuan secara ekonomi untuk menyekolahkan anak-anaknya, dana pendidikan yang terbatas tersebut akan diutamakan untuk anak laki-laki. Kondisi ini menjauhkan perempuan dari buku sebagai faktor penting dalam sistem pendidikan dan tradisi keilmuan.

Secara struktural pun, dunia perbukuan lebih mind set patriarkis, sehingga dalam posisi inferior ini sulit bagi perempuan untuk meningkatkan perannya secara kuantitatif ataupun kualitatif. Bagaimana bisa mengharapkan dan mengandalkan buku sebagai media pemberdayaan perempuan, bila konstruksi struktur di dalam proses penerbitan buku tidak sensitif terhadap isu-isu perempuan atau kesetaraan gender. Bahkan, isu perempuan sering kali diangkat dalam buku dengan alasan yang sederhana, yakni sebagai daya tarik atau penglaris komoditas industri buku atau yang Iebih parah menjadikan perempuan sebagai komoditas itu sendiri. Atau kalaupun seorang penulis perempuan diorbitkan oleh penerbit, sering kali bukan kualitas materi tulisannya yang ditonjolkan, melainkan faktor "fisik" (baca: "wangi") yang lebih dipromosikan. Padahal, secara kualitas pun materi tulisannya memang berbobot dan layak diangkat ke permukaan. Dengan demikian, "buku" bisa sangat berpotensi mendiskreditkan perempuan atau sebagai media yang melakukan kekerasan psikis dan sosial terhadap perempuan.

Dalam manajemen penerbitan sendiri, masih sedikit penerbitan yang berpedoman pada manajemen yang berwawasan gender. Boleh jadi top leader sebuah penerbitan adalah seorang perempuan, namun belum tentu kebijakan manajemennya juga berwawasan gender. Sebaliknya, seorang laki-laki yang menjadi pemimpin penerbitan, namun kebijakan manajemennya justru berperspektif dan sensitif gender.

Persoalan gender bukanlah persoalan jenis kelamin, melainkan persoalan pembagian peran yang adil dan proporsional yang dikonstruksi secara sosial, tidak by nature. Manajemen penerbitan yang sudah lama dibentuk sebagai industri yang sangat maskulin, tanpa disadari memang sering memberi peran inferior kepada perempuan. Jarang sekali dalam bidang jurnalisme, baik cetak maupun elektronik, dan juga khususnya buku, menempatkan perempuan sebagai pengambil kebijakan keredaksian (redaktur/dewan redaksi). Posisi inferior dalam pengambilan kebijakan keredaksian ini menyebabkan perempuan tidak bisa turut menentukan isi dan agenda buku-buku yang akan diterbitkan oleh penerbitan. Bisa dibayangkan, betapa perempuan semakin tidak memiliki media untuk menyampaikan pikiran dan pengalaman serta pengetahuannya sebagai perempuan, apalagi menguasai media.

Perempuan menjadi kelompok minoritas dalam dunia perbukuan, atau untuk tidak menyebutnya sebagai objek dalam dunia buku kita. Situasi inilah mungkin yang menyebabkan rendahnya tradisi baca dan kepenulisan di kalangan perempuan. Selain itu, juga minimnya motivasi atau minat perempuan untuk mengetahui perkembangan perbukuan. Sebagai contoh kasus, lihat data profil konsumen pengunjung Pesta Buku Jakarta 2001 (MATABACA, Edisi Perkenalan Agustus 2002). Data tersebut menunjukkan bahwa pengunjung pesta buku lebih banyak kaum lelaki (53,1%) daripada kaum perempuan (46,9%).

Setelah proses produksi buku selesai, perempuan pun mengalami diskriminasi dalam manajemen distribusi buku karena anggapan perempuan lemah secara fisik sebagai sales marketing dan tidak paham buku. Manajemen distribusi ini, semakin memperlemah perempuan dan tidak memberi peluang baginya untuk mengembangkan konsumen buku di kalangan perempuan sendiri.

Bila perempuan sudah sangat terpuruk secara struktural dan kultural dalam kancah perbukuan, sangat sulit diharapkan perempuan bisa menguasai informasi dan pengetahuan. Padahal, menurut Foucault, relasi kuasa dan pengetahuan sangat kental. Siapa berkuasa, dia menguasai pengetahuan, yakni mengakses dan menyebarkan informasi dan pengetahuan. Selama ini, laki-lakilah yang berkuasa secara kultur dan struktur dalam segala segmen kehidupan, khususnya perbukuan. Untuk itu, tugas menjadikan buku sebagai media yang lebih sensitif gender bukan hanya tanggung jawab perempuan, melainkan juga tanggung jawab laki-laki. Pemberdayaan perempuan melalui buku hanya bisa dilakukan dengan kesadaran kolektif, bersama-sama antara laki-laki dan perempuan.

Sekarang ini, peran perempuan dalam dunia perbukuan sudah semakin meningkat. Akan tetapi, apakah peran tersebut mampu mewarnai corak perbukuan di Tanah Air. Atau hanya sekadar berperan, tapi tidak mampu berbuat banyak dalam menentukan kebijakan? Kebijakan perbukuan yang diambil tanpa melibatkan perempuan, akan semakin menempatkan perempuan dalam sisi dan tempat yang sangat jauh dari buku. Sering kali karena anggapan bahwa perempuan mempunyai tanggung jawab domestik dan reproduksi, yakni fungsi pemeliharaan, manajemen penerbitan tidak memberi peluang yang sama bagi perempuan untuk berkiprah sebagaimana laki-laki. Dengan demikian, semakin sedikit kesempatan bagi perempuan untuk meraih prestasi, kesempatan, pengetahuan, dan pengalaman di dunia kerja penerbitan yang sama dengan laki-laki.

Pada dasarnya, belum ada pedoman yang baku tentang manajemen berwawasan dan berkeadilan gender dalam penerbitan atau dunia jurnalistik. Namun, ada beberapa analisis dan evaluasi yang bisa dilakukan terhadap sebuah penerbitan untuk mencobakan manajemen yang lebih berwawasan gender, seperti yang disampaikan Atik Nurbaiti: (1) kuantitas partisipasi perempuan; (2) kualitas isu perempuan yang diangkat dalam media; (3) manajemen dan kebijakan yang dipakai (Manajemen dan Kebijakan Redaksional Berdasarkan Keadilan Gender, 1998).

Analisis lebih jauh lagi, dalam tradisi perbukuan kita, buku-buku yang lahir dari penulis asli Indonesia yang menggambarkan atau menceritakan perempuan, masih mengidentikkan perempuan dengan citra yang dibangun oleh budaya patriarkis, seperti perempuan itu keibuan, halus, harus cantik, dan patuh. Citra inilah yang akhirnya tanpa disadari membentuk gaya dan pola hidup perempuan. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana jika buku-buku yang tidak sensitif gender ini diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerus kita. Dunia yang tercipta adalah dunia yang sangat male, seperti yang kita alami sekarang ini. Dengan demikian, buku termasuk agen distribusi pengetahuan yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Harus diakui bahwa peranan media, termasuk buku, memang mampu mengubah dunia. Kekuatan potensial inilah yang harus dimanfaatkan bersama untuk mewujudkan dunia yang adil dan damai. Manifestasi ketidakadilan gender dalam media, terutama buku, harus dilenyapkan karena membunuh kepercayaan dan jatidiri perempuan sebagai manusia. Buku sebagai media pendidikan jelas mempunyai tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa melihat jenis kelamin.

Oleh: Khotimatul Husna, editor dan pemerhati masalah gender
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003

Menulis Jejak, Membuat Makna

Menulis Jejak, Membuat Makna

Dalam sebuah buku, ada banyak hal yang bisa diharapkan, termasuk kebaruan, keragaman tema, dan gagasan. Bahkan di novel atau buku utuh sekalipun, yang biasanya berusaha sekeras mungkin fokus pada satu hal dan figur tertentu, kesan atau hikmah bermacam-macam itu tetap saja mungkin muncul. Memang bisa jadi sulit betul-betul fokus pada satu tema terus mendalaminya sampai titik penghabisan bahasan, sebab ketika mendalami itu, justru muncul nuansa, tingkatan, atau gradasi. Dengan begitu, sebuah tema besar atau sebuah gagasan tertentu yang ingin didalami jadi sukar dibatasi atau diwakili oleh kata tertentu.

Mari ambil contoh, mencoba fokus pada tema "sastra" misalnya. Ada banyak yang dapat ditawarkan penulis terhadap tema itu, apakah karya, kritik, tokoh, pengaruh, gerakan, makna, nilai, dampak, termasuk wilayah-wilayah yang bisa jadi memang bersinggungan erat dengan hal itu, misalnya hubungan sastra-budaya, sastra-politik, sastra-masyarakat, sastra-filsafat, dan sastra-agama. Jika mau, penulis bisa mengambil salah satu isu untuk dibahas sedalam-dalamnya, sampai ke akar-akar unsurnya, hingga yang renik-renik, bisa sangat rinci atau bahkan dengan sorotan tajam, memfotonya dengan pembesaran sehingga pembaca bisa menilai kemampuannya menerangkan atau menjelaskan yang ia ketahui. Bisa juga dia mengambil semua isu tersebut memberikan informasi sekilas-sekilas, mencarikan yang komprehensif, memilihkan yang jarang diketahui pembaca umum, menawarkan sejumlah kebaruan, meneropong gejala yang tumbuh di suatu masa atau lingkungan, atau memperkenalkan sejumlah nama, peristiwa, juga pemaparan dan penafsiran baru.

Pendekatan berbeda itu memang melahirkan pemahaman berbeda pula. Pada pendekatan pertama sangat mungkin pembaca akan tahu seluk-beluk seluruh persoalan yang ditawarkan. Meskipun sering merupakan perjalanan yang berat dan membuat capai, jika dilakukan dengan baik, toh akan tetap mengasyikkan. Pada pendekatan kedua, pembaca diajak berjalan-jalan secara singkat, berkeliling ke sebuah taman yang indah, menerangkan yang dilihat dengan cara mengesankan, memaparkan dengan bahasa yang semoga dapat dimengerti oleh kebanyakan peserta avonturisme itu. Meskipun sekejap, jika dilakukan ke banyak tempat dan dengan bekal memadai, perjalanan itu tentu akan menjadi pengalaman yang juga mengasyikkan dan menyegarkan pikiran. Setelah kesan-kesan itu sampai, tinggal peserta memutuskan sendiri apakah mereka akan mendalaminya atau mencari petualangan baru. Tetapi inti kedua pendekatan itu sama; pengetahuan, sangat dibutuhkan agar maksud yang diinginkan penulis (pembawa berita, penyampai warta) tercapai, serta kemampuan berbahasa agar target kalangan tertentu yang dituju paham dan sadar terhadap yang mereka alami.

Di sinilah kita kemudian bisa menilai kemampuan cara seseorang menulis dan menyampaikan pengetahuannya kepada sidang pembaca. Kelancaran, kejelian, kecermatan, pengetahuan, termasuk pilihan tema, topik gagasan, sangatlah mendasar bagi penulis. Karena itu, bekal menulis menjadi sangat banyak, sebab dia tidak sekadar membutuhkan bahan bacaan ataupun terus-menerus berlatih menulis, melainkan juga berhati-hati terhadap yang dia sodorkan. Pada awalnya, pada titik tertentu, "kemampuan" menulis tentu saja bisa dijadikan catatan yang tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Sebab, bagi siapa pun menulis tetap merupakan sebuah keterampilan yang perlu terus-menerus diasah, sementara siapa pun juga berhak menerbitkan atau menunjukkan karya tulisnya pada siapa pun. Tentang ketidaklancaran, mutu, keterbacaan, kekurangan, bisa diharapkan akan lenyap dengan sendirinya jika penulis terus belajar dan berlatih cara ungkap. Pada awalnya, penulis yang paling agung pun memulai dari sebuah kata. Dia betul-betul berutang budi pada bakat, latihan, pengalaman, pencerapan, pengetahuan, pencarian, dan lain-lain yang dibutuhkan untuk dituliskan dan dibagikan kepada orang lain agar dibaca ulang. Itulah yang dinamakan karya: seorang pembaca atau kritik diminta untuk menilai dan mengapresiasi sebenarnya sudah sejauh apa keberhasilannya menulis sesuatu. Tidak ada yang namanya penulis tiba-tiba, atau buku yang tanpa pencipta, sebab Tuhan memberikan ilhamnya kepada setiap orang. Kepada penulis atau pencerita itu kita bisa berharap ada sejumlah ilham dan pengetahuan bisa kembali kita dapatkan agar tidak hilang ditelan masa dan peristiwa. Maka tidak mengherankan karya yang penuh makna akan abadi, bahkan kadang-kadang suci, bebas dari kesia-siaan. Kitab suci merupakan contoh autentik bagaimana makna menjadi satu-satunya persoalan yang paling utama disodorkan kepada pembaca. Selain itu, toh pembaca tetap saja bisa mengambil hal lain: keindahan bahasa, bunyi, hikmah dari suatu cerita, juga penafsiran mereka yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan pertimbangan.

Yang ditulis sejumlah orang juga demikian: mereka menawarkan sesuatu yang mereka alami, mengajak agar pembaca juga mendapatkan keindahan atau makna. Mereka membagi-bagikan semacam hadiah, sejumlah pencerapan, pengetahuan, dan berharap itu dapat dinikmati bersama-sama. Lewat tulisan mereka berbagi kebahagiaan, kesedihan, harapan, juga kekhawatiran, kecemasan, peringatan, rambu-rambu sosial, termasuk ajakan untuk tidak mengulang kebodohan, belajar menghindari luka, atau mempelajari sejarah, peristiwa, kejadian, mencoba mengambil sesuatu yang berharga. Tidak perlu berharga bagi semua orang, bagi seseorang pun cukup. Jangan berharap setiap tulisan akan dibaca semua orang atau kalangan, bahkan kitab suci pu n—yang diturunkan Tuhan kepada makhluk-Nya— kadang-kadang diinjak-injak dan dilecehkan oleh segolongan manusia yang merasa tidak terima. Apalagi karya seseorang, sementara yang mampu menulis pun tak terhitung jumlahnya, menawarkan banyak hal lain, mencari perhatian. Tetapi, jika telah dibaca meski oleh seorang, bolehlah kita berharap bahwa tulisan itu akan menjadi benih yang akan tumbuh di jiwa seseorang, menyuburkan seluruh potensi yang ada di dalam kemanusiaannya. Untuk suatu saat, tanpa pernah kita mampu memperkirakannya, gagasan, pengetahuan, cita-cita, atau idealisme itu akan menjadi lembaga, tumbuh mempengaruhi seseorang. Kita tak pernah tahu kapan bacaan akan langsung berpengaruh pada jiwa manusia, tetap yakinlah bahwa bacaan tak akan mati, meski dia tertimbun di bawah sadar seseorang. Suatu saat pengetahuan itu pasti akan muncul kembali, tak tahu bagaimana caranya.

Bagi masyarakat melek huruf, membaca merupakan kegiatan fundamental. Bagi penulis sendiri, membaca lebih-lebih lagi merupakan syarat untuk memulai, sebab dari sanalah pengetahuan diawali. Sebelum mampu menulis, penulis adalah pembaca. Membaca pun, setiap orang nyaris selalu mengawalinya secara terbata-bata. Dia harus mengalaminya dengan penuh kesukaran. Baru setelah mengerti, muncul pemahaman, kemudian ketakjuban, ternyata yang mereka baca itu memberi sesuatu, makna, penjelasan, dan segala hal. Membaca memberi kepuasan rohaniah. Tidak setiap pembaca kemudian mampu menulis, sebab menulis merupakan keterampilan dan sebuah ranah lain lagi. Sejumlah orang pembaca kemudian "berhenti" untuk terus menjadi pembaca, namun mereka lama-lama menjadi pembaca kritis, tahu dan mampu mengatakan kenapa sebuah tulisan baik dan buruk. Sementara pembaca yang beranjak berangkat menjadi penulis bertaruh dengan segala kemampuannya, mencoba secara hati-hati menawarkan kebaruan, sebab mereka tahu pembaca adalah raja, yang perlu dilayani, dihormati, tak bisa dibohongi. Pembaca adalah publik, massa, yang memiliki begitu banyak mata, mulut, telinga, berbagi cerita dan pengetahuan di antara sesamanya, saling menilai yang mereka tahu. Sekali seorang pembaca tahu, misalnya, seorang penulis tertentu adalah plagiator, jatuh dia tersungkur menjadi bahan hinaan. Karena itu, penulis diharapkan menyampaikan suatu kebenaran, minimal nuansa terhadap pencerapan dan cermin atas segala yang terjadi di dunia, atau renungan, jika bukan kegelisahan dan pertanyaan. Tulisan pada ujungnya berfungsi sangat banyak bagi masyarakat pembaca: alat terapi, penenangan, jawaban, kawan perjalanan, guru bimbingan, juga gudang pengetahuan dan sumber hikmah dan kebajikan.

Karena kemampuan penulis kadang-kadang terbatas hanya berasal dari yang pernah dibaca, didengar, diketahui, dicerap, dipahami, diceritakan, dibicarakan, dibagi secara diam-diam, sudah niscaya dia pun harus menuliskan segala sesuatu secara hati-hati. Kehati-hatian itu merupakan awal dari orisinalitas: sesuatu yang betul-betul baru, yang murni tumbuh dan berkembang khas, dipupuk oleh ketekunan berlatih dan bakat. Setiap penulis pada akhirnya dapat diharapkan menjadi seseorang yang orisinal, jika dia sadar terhadap yang ditulisnya, mau menyimak kesan orang terhadap karyanya, mau berbagi kritik dengan pembaca yang awas. Sampai pada tahap itu, yang dibutuhkan penulis adalah kesabaran dalam mencari dan mencapai tingkat artistik, tak berhenti oleh makian atau menyerah oleh keadaan. Karena penulis juga pribadi yang unik beserta seluruh jiwa dan bakatnya, tak pelak lagi di dalam dirinya sebenarnya sudah tersimpan potensi kejenialan. Potensi kejenialan, kekhasan, keunggulan, itu berkelindan terus-menerus dalam proses kreatif yang melahirkan karya —satu-satunya fakta autentik yang dapat dibaca oleh pembaca.

Jika pembaca merasa mampu menghakimi atau berhak menilai bahwa seorang penulis itu berbakat atau tidak, tentu semuanya lahir dari banyak pertimbangan dan keputusan tak terelakkan dari banyak faktor pertimbangan, dan ukuran. Kita tahu seagung apa pun penulis, dia tetap memiliki celah kekurangan. Semacam cacat yang mengurangi pencapaian estetika dan kesempurnaan. Kenapa ini senantiasa terjadi dan tak bisa dielakkan? Semata-mata karena manusia itu sangat sukar mendapatkan ridha (penerimaan) dari semua orang. Untungnya, celah kurang itu selalu dapat ditutup oleh penulis lain, bisa dilapis oleh pencapaian orang lain. Demikianlah, sejumlah pencapaian banyak penulis, pengetahuan masing-masing orang itu menyempurnakan kehidupan manusia, menumbuhkan peradaban, menghidupkan imajinasi, mengayakan jiwa. Interaksi dan sikap mau berbagi itu menjadi sangat berarti dan merupakan keniscayaan, sebab hanya dengan begitu manusia terus menjalankan kehidupan. Kita tak bisa hidup semata-mata oleh yang fisik, berupa benda, dan teraba, melainkan harus pula mendapatkan siraman batin, mencari spirit, ruh, kehalusan budi, kemuliaan, kebajikan. Dalam bacaan itulah dapat kita harapkan adanya khazanah yang akan membuat hidup kita mulia, meskipun kadang-kadang memang abstrak dan tak teraba, hanya bisa diresapi oleh jiwa, dicerap dalam ketenangan.

Karena itu, penulis dan pembaca sebenarnya berjumpa sebagai kawan sebaya: mereka berinteraksi dan berbagi. Mereka menawarkan dan mencoba mengapresiasi. Tanpa rasa benci, melainkan saling menghormati pencapaian. Kebaruan, yang biasanya dibawa oleh penulis muda, bercampur dengan pengaruh yang mereka dapat pada masa pembacaan atau di awal karier kepenulisan, biasanya merupakan usaha melepaskan diri dari bayang-bayang orang lain, mencoba menemukan diri sendiri sesegera mungkin, mencoba ungkapan baru secepatnya. Dari penulis muda pula kita berharap selalu muncul lahirnya generasi baru, sebab kemampatan adalah musuh manusia karena pencapaian harus terus ditemukan, karena kenyataan masih terlalu banyak yang jadi rahasia. Jadi, tak heran jika setiap penulis muda senantiasa bersiasat secara lebih keras daripada penulis yang sudah "jadi", sebab mereka berusaha tampil lebih memikat, cermat, teliti, membawa sejumlah detail yang lupa disampakan oleh penulis tua. Bisa jadi penulis tua telah mapan dengan pemikiran, selesai bertualang, telah menemukan rumah-hati upaya estetikanya, capai dengan langkah baru, tulangnya pun makin rentan dimakan usia tua. Upaya itu dilanjutkan penulis muda, yang berdarah segar, berani menjelajah daerah baru, membuka wilayah yang masih rahasia. Sebab alam, jiwa, kehidupan adalah ranah tak bertuan, gelap sebagian, menggairahkan untuk diterangkan.

Begitu selesai dibuka, kita tahu, ternyata hidup belum berhenti juga, terus bergulir, bahkan kadang-kadang berubah terlampau cepat. Nama baru muncul, hal baru ditemukan, pendekatan tertentu diwujudkan, yang terlupa diabadikan, yang diabaikan didekati kembali, yang cacat disempurnakan. Manusia terus berusaha mencapai taraf sempurna. Menulis adalah salah satu upaya agar jejak pencapaian itu tak terlupa, melainkan dimaknai, dihayati, disempurnakan di kemudian hari. Kepada penulis muda kita berharap menemukan sesuatu yang selama ini belum diketahui, sementara kepada pembaca kritis diharapkan kejujuran dan keadilan untuk menempatkan pencapaian itu pada tingkat selayaknya.

Karena itu, begitu membaca sebuah buku, ada banyak yang bisa kita harapkan, termasuk juga kebaruan, keragaman tema, dan gagasan. Lebih-lebih jika merupakan karya penulis muda. Kita bisa menilai tentang banyak hal yang dia tawarkan, menimbang yang belum pernah kita dapatkan.

Oleh: Anwar Holid, penulis, editor Penerbit ETSA, Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Membaca Damai

Membaca Damai

Membaca adalah ibadah. Seperti sabda sebuah ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia (Al-Qur'an, surat Al-Alaq). Apakah setiap aktivitas membaca memiliki nilai ibadah ataukah hanya membaca dalam kerangka keberagamaan yang akan mendapatkan pahala? Juga, membaca yang bagaimana, yang berhadap-hadapan dengan buku dan teks ataukah membaca dalam arti yang seluas-luasnya: melihat dan menafsir dunia? Akan ada banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita, itulah kiranya mengapa umat manusia dikarunia aka l—untuk mencari jawab dan memberi makna atas hidup dan kehidupannya.

Barangkali, peribahasa "tak kenal maka tak sayang" patut untuk dikemukakan di sini. Tak kenal ayat membuat hidup menjadi berat. Tak kenal membaca membuat kita sempit cakrawala. Tak kenal orang membuat kita tak peduli. Tak kenal negeri memunculkan perpecahan yang ngeri. Tak kenal keberagaman menumbuhkan peperangan. Tak kenal rakyat membuat pemimpin jadi tak arif. Tak kenal pemimpin membuat rakyat jadi pemimpi. Tak kenal maka tak sayang adalah ungkapan sederhana yang kaya makna.

Kita bisa mengenali sesuatu dengan membaca. Tak hanya itu, membaca bisa membuat kita mengetahui, mengerti, memahami, dan memberi makna pada sesuatu itu. Dari situ, hidup yang mudah, indah, dan terarah akan dapat diciptakan. Boleh jadi kita kembali sampai pada pertanyaan, membaca apa dan membaca yang bagaimanakah kiranya?

Surat Al-Alaq yang telah disinggung di awal tulisan pada bagian lain menyatakan: Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Dari sini, layaklah jika kita tidak usah lagi mempertanyakan dan memperdebatkan apa dan bagaimana dari membaca. Kiranya Tuhan itu penuh rahmat dan kasih, kita jualah yang suka ruwet dan bertikai.

November ini adalah bulan Ramadhan, bulan puasa bagi kita yang beragama Islam. Bulan penuh rahmat dan anugerah. Bulan suci yang mesti diisi dengan ibadah-ibadah. Selepas hari-hari yang penuh dengan konflik dan kepedihan, kita berharap akan tercipta kesejukan dan kedamaian di bulan ini. Apakah harapan ini hanya tinggal harapan, sungguh kita tidak tahu. Dunia global masih juga diisi dengan tragedi-tragedi, negeri kita sendiri seperti tidak mau kalah dengan sekian persoalan yang tiada henti. Akan tetapi, Tuhan amat pemurah dan penuh kasih. Kepada-Nya kita berserah diri.

Menyimak fenomena dari tahun-tahun yang lalu, membaca kitab dan buku keagamaan —juga buku umum lainnya— menjadi aktivitas yang banyak dilakukan oleh masyarakat Islam, terutama di kalangan kaum muda dan mahasiswa, dalam mengisi waktu-waktu di bulan Ramadhan ini. Aktivitas membaca ini berlanjut pula pada kegiatan-kegiatan diskusi dan bedah buku yang juga dilaksanakan di masjid-masjid. Aktivitas ini membuat masjid-masjid menjadi lebih semarak. Umat Islam disegarkan oleh pengetahuan dan cakrawala baru. Buku-buku bertambah luas jangkauannya. Membaca bukan lagi suatu kegiatan yang asing dan ganjil di masyarakat kita.

Membaca memang aktivitas yang tepat untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini. Secara fisik, membaca tidak banyak menghabiskan energi. Membaca juga membuat kita menjauh dari kegiatan-kegiatan yang mendekati kemudharatan dan keburukan. Tentu, dalam hal ini, bacaan yang kita pilih juga agak lebih terseleksi, terutama yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama.

Demikianlah, aktivitas membaca menjadi jawab atas harapan kita akan kesejukan dan kedamaian dunia. Barangkali memang tidak bisa dinafikan bahwa membaca juga membawa konsekuensi ideologis yang sangat besar. Bahwa tulisan memiliki implikasi yang luar biasa bagi pemikiran. Bahwa tulisan memuat beban-beban. Kemudian, ada usaha untuk menyensor, melarang, membakar buku. Akan tetapi, kita kini lebih butuh kedamaian. Sejelek-jelek buku —sejelek-jelek bacaan— serugi-ruginya membaca, tetap ada gunanya. Maka, mengulang apa yang telah ditulis di muka: Bacalah dengan nama Tuhanmu.... Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah.

Gunawan Budi Susilo
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Puisi Joko Pinurbo: Buku

Puisi Joko Pinurbo: Buku

Hadiah terindah yang kudapat dari buku ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.

Aku teringat sebuah buku yang pernah kulihat dua puluh tahun lalu. Buku kecil yang aku lupa-lupa ingat judulnya. Berkat jasa baik seorang pemulung bukulah akhirnya bisa kutemukan buku itu di sebuah kios buku loak yang letaknya ternyata tidak jauh-jauh amat dari rumahmu. Memang buku lama. Tapi apa bedanya lama dan baru jika aku belum pernah membacanya?

Ah, buku tua itu tidak sanggup lagi memamerkan keangkuhannya. Seluruh halamannya sudah kuning kecoklat-coklatan. Bagian pinggirnya sudah geriwing digerogoti waktu. Foto pengarangnya pun sudah pudar, bahkan keropos dan sebentar lagi hancur. Malang benar nasibmu, pengarang. Fotomu yang jelek kau tampangkan dengan penuh kebanggaan hanya untuk merana dan mungkin tak pernah digubris orang. Dan ngomong-ngomong, sudah mendapat bayaran atau belum, wahai pengarang budiman?

Buku itu isinya sederhana saja: berkhotbah tentang bagaimana sebaiknya membaca buku.
1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu.
2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kau pahami suatu saat toh akan membukakan diri.
3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu.
4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kau baca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu.

Alkisah, setelah sekian lama berpacaran dengan buku-buku, temanku seorang macan buku akhirnya menikah juga dengan pacarnya yang sungguhan, yang sama-sama pencandu buku. Karena tak biasa kasih kado, aku berikan saja buku tua itu sebagai kado pernikahannya.

Ngakunya bulan madu: baru sehari ia sudah meneleponku. Kukira mau mengucapkan terima kasih, tak tahunya cuma mau memaki-maki.
"Brengsek kau! Gara-gara buku rombeng pemberian kau, program malam pertamaku jadi kacau-balau."
"Maksud kau?"
"Ya aku jadi lebih sibuk membaca buku daripada membaca istriku."
"Terus?"
"Ia rebut buku itu, lalu ia tamparkan ke jidatku."
"O, bagus itu. Seperti awal-awal orang belajar mencintai buku kan?"
"Bagus matamu! Tahu nggak, gara-gara buku sialan itu istriku belum-belum sudah ngomongin cerai segala?"
"Ah, kau juga bego sih. Sudah sekian tahun jadi pembaca buku, belum juga tahu cara belajar membaca istrimu."
"Ala, sok tahu lu. Kawin aja belum."
"Belum atau sudah kawin kan aku sendiri yang lebih tahu. Lugu amat lu!"

Malang dapat ditolak, untung dapat diraih. Sekian tahun kemudian secara kebetulan aku bertemu pasangan pencinta buku itu di sebuah pesta buku. Mereka tampak bahagia (setidak-tidaknya di depanku).
"Kok sendirian?" sapa istri temanku.
"Dia bujang lapuk!" bisik temanku ke telinga istrinya, dan sialnya, istrinya mengangguk-angguk saja.
"Terima kasih ya untuk bukunya dulu itu," ujar istri temanku. "Salam untuk istri tercinta.*
Istri? Tercinta? Aku terbengong lama.
"Wah, bego juga lu," tukas temanku. "Ya buku-bukumu itu istrimu!"
Aku pilih melengos pergi sambil berkata dalam hati: ah, tampaknya mereka sudah pintar membaca buku.

Joko Pinurbo, dari buku puisi Telepon Genggam, Penerbit Buku Kompas, Mei 2002.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.2/Oktober 2003.

Menelusuri Buku Kehidupan 8: Sebuah Korporasi dan Kepercayaannya

Menelusuri Buku Kehidupan 8: Sebuah Korporasi dan Kepercayaannya

Alkisah dituturkan hikayat Dewi Fortuna yang turun mengembara ke bumi. Tangannya menggenggam tanduk kambing Amaltea yang di dalam rongganya terisi sejumlah besar hadiah. Ia membagi-bagikan hadiah itu kepada manusia yang ditemui sepanjang perjalanan. Namun, berhubung matanya tertutup, ia memberikannya secara acak. Ada manusia rajin yang menerima, tetapi ada juga orang malas yang memperoleh. Ada orang pintar yang mendapat, namun tak kurang terdapat juga manusia bodoh yang diberinya. Secara keseluruhan mereka yang beruntung itu sedikit (Hukum Pareto?), sebab agak sukar memang berpapasan dengan Dewi Fortuna.

Kesempatan berjumpa dengan Dewi Fortuna dapat dianggap semacam "hoki" dan itu boleh saja coba disiasati (umpama dengan ajaran Kriyasakti atau feng shui). Namun, dalam kehidupan nyata-keras ini, baik juga diutarakan ada faktor-faktor rasional yang mesti lebih dulu diperjuangkan. Umpama agar perusahaan dapat berhasil mesti ada kerja tuntas; perencanaan sasaran dan arah strategi (tak dapat kelewat jauh, karena alur masa depan adalah non-linear). Dari waktu ke waktu untuk semuanya itu perlu evaluasi, perhitungan ulang tersendiri.

Demikian setahun sebelum ia meninggal (1979), PK Ojong telah mengundang Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (LPPM) untuk membenahi korporasi Kompas-Gramedia. Sebab, selama hampir 15 tahun perusahaan berdiri, belum pernah dituangkan secara tertulis tujuan, visi; dan misinya. Begitu juga belum pernah diadakan perencanaan perusahaan, rumusan sasaran dan strategi serta budgeting (peranggaran). Selama itu perusahaan berjalan mengandalkan itikad dan watak baik, "common sense" manajemen, usaha keras, pembagian kerja serta kerja sama tim dilatarbelakangi oleh kehati-hatian dan kendali keuangan yang ketat.

Dalam perjalanan waktu selama 15 tahun itu telah terbit beberapa majalah (Intisari, Bobo, dan Hai), selain surat kabar Kompas, berdirinya toko buku dan penerbitan Gramedia, percetakan dan radio Sonora. Saat itu, korporasi sudah mempekerjakan kurang lebih sekitar 600 karyawan.

Apakah yang dilakukan Kelompok Kompas-Gramedia selama itu merupakan upaya yang ketinggalan dan terlambat? Bukankah sebuah perusahaan begitu berdiri sudah harus punya visi dan misi pegangan yang jelas dan tertulis?

Ternyata kalau dilacak dari sejarah berdirinya berbagai perusahaan yang berhasil di negara maju halnya tidakdemikian. Demikian menurut penuturan James Collins, et. al. dalam Built to Last (Random House, 1996). Pengarang buku itu menumbangkan sejumlah mitos yang selama ini diterima dan kuat beredar. Pertama, perlu sebuah ide besar untuk membangun perusahaan besar. Atau sejak awal berdirinya, perusahaan telah mempunyai visi-misi yang eksplisit (tersurat). Atau perusahaan yang amat berhasil itu melakukan langkah terbaiknya dengan perencanaan strategis yang kompleks dan cemerlang. Atau korporasi-korporasi berhasil itu memusatkan perhatiannya terutama untuk mengalahkan kompetitor.

Mitos-mitos itu coba disangkal dengan bukti-bukti oleh penulisnya. Justru hanya sedikit perusahaan visioner yang mulai kehidupannya dengan sebuah ide besar bahkan beberapa di antaranya tanpa suatu gagasan spesifik. Juga perusahaan-perusahaan itu mulai langkah awal terbaiknya lewat eksperimentasi dan bukan serta merta mulai dengan skenario canggih, ("Visionary Companies" versi Collins adalah perusahaan unggulan yang bertahan melewati sekian generasi kepemimpinan dan melampaui siklus kehidupan sekian banyak produk).

Dengan memakai acuan dari James Collins, sebagai retrospeksi saya dapat mengerti apa yang terjadi di Kelompok Kompas-Gramedia. Belum adanya visi, misi dan demikian pula perencanaan strategik tak menjadi halangan untuk sebuah perusahaan baru melangkah. Demikian yang terjadi di lebih banyak perusahaan yang berhasil dan berusia panjang. Sebetulnya juga tak begitu tepat untuk menyatakan "belum ada", hanya gagasan itu masih implisit dan ada di benak para pendiri serta belum sempat dijabarkan.

Ada parabel yang menggambarkan lomba antara kura-kura versus kelinci. Kelinci lincah, gesit dan kurang peduli terhadap sekelilingnya; sebaliknya kura-kura lambat, konsisten dan tahu ke mana harus pergi. Menurut penuturan parabel itu, akhirnya kura-kura yang menang —terlebih dulu sampai— dibanding sang kelinci. Tamsil itu berlaku untuk "The visionary companies" perusahaan-perusahaan unggulan yang walau tampak lambat "start" (mulai), di ujungnya muncul sebagai pemenang.

Falsafah Sebuah Perusahaan
Setelah sekian lama tanpa perencanaan perusahaan, sudah waktunya dilakukan penjabaran secara tertulis. Ada waktunya mulai dengan pelaksanaan, ada saatnya perlu konsolidasi dengan menata ulang secara lebih sistematik. Demikian dalam rangka menyusun "corporate planning", pihak konsultan LPPM minta agar pendiri perusahaan menuangkan pikirannya dalam satu risalah. Permohonan itu diajukan kepada PK Ojong, sebagai salah seorang pendiri.

Untuk itu, ia mengambil cuti beberapa hari di rumah peristirahatan perusahaan di Pacet. Hasilnya, sebuah risalah yang dengan rendah-hati disebutnya sebagai "Sifat Perusahaan Kita". Hakikatnya dokumen itu adalah cita-cita atau falsafah perusahaan Kelompok Kompas-Gramedia.

Ditulis dalam bahasa yang jernih dan mudah dimengerti, di situ dibentangkan bahwa para pendiri perusahaan berasal dari kalangan guru, pegawai negeri, dan wartawan. Inilah kalangan yang tidak bermodal sehingga tidak termasuk golongan ekonomi kuat. Yang dicita-citakan adalah perusahaan yang langgeng dalam arti tahan waktu, lebih dari satu generasi. Perusahaan-perusahaan di sini umumnya tidak bertahan lama. Dengan meninggalnya generasi pendiri, perusahaan itu mundurdan akhirnya mati.

Untuk mengatasinya, menurut konsep PK Ojong, pimpinan harus dilakukan secara kolektif, dengan team-work (berarti ia menjunjung interdependensi di atas independensi kepemimpinan seperti pendapat Stephen Covey), di antara persona yang berwatak baik. Watak baik yang mendapat tekanan utama itu ialah jujur, rajin, sederhana, rasional, berinisiatif, bersedia menerima pendapat orang lain, seimbang, adil, pandai membagi pekerjaan, dapat membedakan mana kepentingan sektoral dan mana kepentingan perusahaan secara keseluruhan. Baru syarat selanjutnya adalah kecerdasan, kepandaian, dan masa kerja.

Sewaktu pertama kali mendengar tekanan pada syarat "watak baik"', sebagai orang muda saya merasa PK Ojong terlalu menuntut keluhuran budi pekerti. Muncul sanggahan di hati, "Bukankah yang lebih penting prestasi dan kepandaian di pekerjaan?" Belakangan setelah makin mendalami manajemen, saya dapat mengakui kebenaran statement-nya. Peter Drucker juga punya pandangan serupa, "Integrity comes first, before the others" ("Integritas dilihat lebih dulu sebelum yang lain-lain"). Seorang boleh punya kekurangan di salah satu bidang dan itu masih bisa dimaafkan, tetapi kalau integritasnya sudah payah, dia tidak layak untuk menjadi pemimpin. T.P. Rakhmatyang lama menjadi CEO kelompok Astra pernah berceramah: "Bagi kami karakter mempunyai nilai lebih di atas kemampuan seorang pemimpin". Agaknya beberapa skandal sejumlah perusahaan di sini terjadi lebih karena tak ada ketulusan dan kelurusan hati pimpinannya.

Selanjutnya, dalam risalah itu juga dikatakan, "Dalam keadaan sekarang di mana negara kita belum merupakan negara kesejahteraan (welfare state) yang menjamin kesejahteraan setiap warga negara dari saat lahir sampai mati, tugas itu hendaknya seberapa bisa dilakukan oleh perusahaan". Ini berarti, ia (perusahaan) memperhatikan kebutuhan yang layak dari karyawan sejak masih berkarya sampai tidak mampu lagi, karena sudah lanjut usia atau sakit-sakitan. Dengan pandangan semacam ini, tak usah heran kalau Kelompok Kompas-Gramedia merupakan salah satu perusahaan swasta pertama yang tanggap dalam pendirian Yayasan Dana Pensiun.

Namun, ia juga memperingatkan, "... kesejahteraan karyawan itu tidak boleh demikian tingginya dan memahalkan biaya produksi sehingga perusahaan tidak dapat bersaing lagi dengan perusahaan lain yang sejenis dalam menawarkan produk atau jasa pada pembeli". Lebih lanjut "syarat dapat bersaing ini syarat mutlak, bila diabaikan... perusahaan kita lambat laun akan rugi dan hancur". Cukup logis dan dapat diterima akal.

Sekalipun demikian, secara keseluruhan konsep perusahaan sebagai "benteng keluarga" cukup dominan dalam mewarnai berbagai kebijakan dan peraturan di lingkungan Kelompok Kompas-Gramedia. Di samping gaji pokok, berbagai tunjangan sosiai atau fringe benefits merupakan komponen yang terberi (given) yang sering tak ada hubungannya dengan prestasi. Unsur sosial dan paternalisme menurut hemat saya tampak menonjol. Walaupun sebagian cukup besar karyawan merasa "happy", tidak sedikit dari mereka yang merasa dirinya profesional menganggap sistem yang ada kurang bersaing dan tampaknya memanjakan mereka yang kurang.

Saya kira semua ini tak terlepas dari pandangan hidup PK Ojong (yang bersama mentornya, Khoe Woen Sioe, mantan dirut PT Keng Po) terpengaruh oleh sosialisme Fabian. Fabianisme ini adalah paham sosialis-demokrat yang coba dipraktikkan Partai Buruh di Inggris. Sosialisme yang non-marxis ini berusaha memperjuangkan kesejahteraan pekerja dalam sistem ekonomi pasar bebas.

Konsultan LPPM tampaknya tak berniat menyentuh masalah-masaiah prinsipil yang berhubungan dengan falsafah perusahaan. Ia menganggap semua itu sebagai pandangan hidup pendiri dengan kekuatan dan kelemahannya. Yang lebih banyak digarap adalah bagaimana perusahaan menyusun misi, menentukan sasaran-strategis dengan jangka waktu dan penanggungjawabnya, setelah sebelumnya melakukan analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman), kemudian lebih lanjut menuangkan dalam anggaran tahunan.

Di samping itu, dengan melihat besaran dan jumlah aktivitas yang ada, diusulkan adanya pengelompokan unit dalam divisi-divisi. Demikian beberapa bagian yang sejenis membentuk divisi. Dalam restrukturisasi yang diadakan tahun 1980 muncul beberapa divisi operasional. seperti Divisi Surat kabar, Majalah, Percetakan, Penerbitan, Toko Buku dan Radio dengan penunjangnya seperti Divisi Kontrol, Keuangan, SDM dan Umum. Beberapa manajer menjadi terangkat naik dari kepala bagian menjadi kepala divisi. Atau dari "letnan" tiba-tiba saja naik pangkat menjadi "letnan kolonel". Saya pun termasuk salah seorang di antaranya.

Kehadiran konsultan LPPM temyata sudah menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola kerja perusahaan. Lebih dari itu, telah menyuntikkan orientasi baru dalam budaya korporasi. Secara metafora Charles Handy (The Gods of Management) menulis mengenai pengaruh empat dewa Yunani dalam manajemen. Zeus lambang dari patriarki dan kekuasaan tokoh sentral yang kuat di pusat. Kemudian budaya Apollo yang lebih menekankan sistem, prosedur, ketertiban dan organisasi. Sementara gaya Athenian memberi tempat paling terhormat kepada meritokrasi dan keterampilan tinggi. Akhirnya, kultur Dionysus, sang individualis seniman yang anti sistem dan menyukai kebebasan.

Tidak syak lagi dengan adanya perencanaan dan anggaran, gaya Apollonian menjadi lebih dominan dan punya pengaruh paling besar. Selama lebih dari 20 tahun dengan Manajemen Berdasar Sasaran dan strategi tahunan, korporasi KKG berhasil mencapai pertumbuhan yang berarti, walau tidak eksponensial. Gaya Apollonian memang paling efektif untuk jenis usaha, di suatu masa, di mana keadaan relatif stabil dan perencanaan jangka panjang dimungkinkan. Dengan memakai pendekatan otak kiri yang sequential, dengan logika dan analisis, masa depan sepertinya sudah ter-"peta"-kan.

Kini dengan tak menentunya keadaan dan alur yang makin non-linear dan sepertinya mendekati chaos, tampaknya pendekatan Athenian, Dionysian dan Zeusian perlu juga mendapat tempat. Sebetulnya, tak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Setiap organisasi, pada suatu waktu dan suatu tempat, memerlukan "adonan" yang senantiasa perlu diubah-ubah susunannya. Yang menjadi masalah adalah sikap dan keberanian untuk melepaskan diri dari pola pikir Aristotelian yang hanya mengenai bivalensi. Atau "ini" atau "itu". Atau mengibaskan diri dari stereotipe yang percaya hanya pada satu resep manjur tertentu —yang sudah bisa ditebak.

Prasetio dari Andersen Consulting (kini Accenture) pernah memuji nilai-nilai yang melekat pada Kelompok Kompas Gramedia. Semuanya tampak luhur dan dikagumi. Barangkali itu yang disebut ideologi inti (core ideology) yang perlu dipelihara. Namun, bagaimana dengan dorongan untuk kemajuan ("drive for progress") yang menghendaki perubahan terus-menerus dalam arah, metode, strategi, struktur, sistem, dan lain-lain?

Dengan bantuan LPPM, pernah dipancangkan tonggak kemajuan. Dengan upaya sendiri juga pernah ada terobosan. Persoalannya bagaimana kita dapat terus bergerak menari tanpa henti di seluruh lapisan sepanjang waktu? Tak begitu masalah untuk gajah yang istirahat menari, namun untuk sebuah korporasi? Korporasi itu wajib menari secara utuh dalam berbagai gaya campuran sebagai Apollo, Athena, Zeus dan Dionysus? Agaknya ini merupakan tantangan yang tidak ringan, apalagi jika untuk jangka panjang. Stamina, kelenturan dan semangat untuk pembaruan amat diperlukan.

Indra Gunawan, pecinta buku dan tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/Oktober 2003 

Upaya Mendongkrak Minat Baca

Upaya Mendongkrak Minat Baca

Setiap orang yang mengaku suka membaca, pasti betah berlama-lama di hall tujuh hingga sepuluh Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, pada 21 April-2 Mei lalu. Pasalnya, di ruangan seluas 150.000 meter persegi itu tersedia jutaan buku. Para pengunjung bisa berburu buku yang disediakan Big Bad Wolf (BBW) dengan diskon hingga 80% .

Presiden Direktur Big Bad Wolf (BBW) Indonesia, Uli Silalahi, menjelaskan bahwa BBW sudah ada sejak 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia. Bermula dari pasangan Andrew Yap dan Jacqueline Ng yang membuka toko buku sisa penerbitan. Rupanya, bisnis ini banyak peminat.

Karena itulah, Andrew Yap dan Jacqueline Ng menindaklanjuti dengan membuka bazar buku. Semula bazar hanya dalam sekala kecil-kecilan. Buku-bukunya mereka peroleh dengan mengirim proposal ke sejumlah penerbit, termasuk para penerbit besar seperti Penguin, Disney, DK, dan HarperCollins. Yang Mereka minta adalah buku-buku sisa penerbitan.

Ternyata sambutan para penerbit sangat baik. Mereka hanya mensyaratkan, buku-buku itu dijual di bazar, bukan di toko. Saat itulah untuk pertama kalinya BBW berlangsung. Pada tahun ketiga, BBW merambah ke sejumlah daerah di luar Kuala Lumpur, seperti Sarawak dan Johor.

Uli bertemu Andrew pada 2015. Saat itu, BBW sudah punya nama besar di negeri jiran tersebut. ''Waktu dia bilang jualan buku, saya tergerak sekali. Tapi saya sebagai pebisnis tetap berhitung. Saya agak berat. Dengan animo sekarang ini tampaknya tidak mungkin,'' kata Uli, mengenang situasi saat itu

Itu belum lagi ditambah adanya maraknya gawai (gadget) yang membuat orang semakin enggan membeli buku cetak. Toko buku sekelas Book & Barnes saja tutup. Teman-teman Uli pun tak ada yang percaya bahwa bisnis bazar buku bisa mendatangkan keuntungan. ''Saya dibilang gila. Akhirnya saya nekat,'' ujar Uli.

Alhasil, ketika BBW pertama kali diadakan di Jakarta pada April 2016 lalu, pengunjung pun membeludak. Jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Di acara itu, BBW menyuguhkan jutaan buku di ICE selama sepuluh hari. BBW ini punya sejumlah pakem yang tegas: diadakan minimal sepuluh hari, 24 jam, target pengunjung per hari minimal 10.000 orang, diskon besar-besaran (bahkan di Thailand sampai 90%), dan hanya di negara-negara berkembang.

BBW hari ini menjadi sebuah brand yang akan hadir di negara-negara berkembang lain di Asia. Uli menjelaskan, ke depannya, mereka membuka bazar serupa di Cina, Srilanka, Myanmar, termasuk seluruh negara Asia Tenggara. Pengecualian tentu saja untuk negara maju macam Singapura atau Jepang.

Di Indonesia, setelah mendulang sukses di Jakarta, pada Oktober tahun lalu, BBW hadir di Surabaya. Saat di Jakarta pengunjungnya mencapai 300.000, sedangkan di Surabaya 'hanya' 250.000 orang. Untuk BBW Jakarta kali ini, target pengunjung 700.000 dengan 12 hari bazar. Pada hari kesepuluh saja jumlah pengunjungnya lebih dari 500.000 orang. ''Saya rasa ini bukan sekadar tren. Walau menciptakan tren beli buku bagus juga. Tidak mungkin beli buku, lalu hanya dipajang,'' kata Uli.

Patut dicatat bahwa survei UNESCO menemukan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001%. Artinya, dalam seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca. Serupa dengan itu, nilai riset Program for Internasional Student Assesment (PISA) rata-rata 493, sedangkan nilai literasi Indonesia hanya 396.

Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah untuk mendongkrak minat baca adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud itu diwujudkan dengan wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai, khususnya bagi siswa SD, SMP, atau SMA.

Memang, kalau dibandingkan dengan negara lain, Permendikbud ini baru mengatur langkah kecil. Di Jepang, anak-anak yang hendak naik kelasnya, diwajibkan membaca 16 judul buku per tahun. Lalu Malaysia serta Singapura mewajibkan enam buku, dan Thailand mengharuskan membaca lima buku.

Indonesia layak prihatin dengan rendahnya minat baca, yang memicu kebodohan dan keterbelakangan. Berdasarkan survei Central Connecticut State University di New Britain yang dirilis pada 2016 lalu, peringkat minat baca Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara (Indonesia berada satu peringkat di atas Botswana). Penelitian itu kemudian menjadi rujukan UNESCO dalam data World's Most Literate Nations.

Selain lewat wajib membaca 15 menit sebelum belajar, upaya mendongkar minat baca juga dilakukan dengan menciptakan iklim yang mendukung tumbuh dan berkembangnya industri perbukuan. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan suguhan buku yang melimpah, kaya judul, dan tentu saja harganya terjangkau. Upaya ini, satu di antara lewat kehadiran kehadiran Undang-undang Sistem Perbukuan (Sisbuk) yang disahkan pada penghujung April lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). UU ini diharapkan membawa angin baru terhadap kemajuan industri perbukuan di Tanah Air.

Anggota Komisi X DPR Sutan Adil Hendra menyebutkan, pengesahan UU Perbukuan ini diapresiasi banyak kalangan, lantaran inisiasi dan wacana dibentuknya UU tersebut sudah digagas dalam dua periode DPR sebelum beleid tersebut disahkan. "UU Sistem Perbukuan ini sudah sepuluh tahun (digagas), berarti sudah dua kali di DPR dibahas. Alhamdulillah sekarang kita bisa rampungkan,'' ujar Sutan yang juga didapuk sebagai Ketua Panja RUU Perbukuan.

Menurut politikus Gerindra ini, pembahasan UU Perbukuan di legislatif memakan waktu cukup singkat, yakni sepuluh bulan pembahasan. Sejak diteken Presiden pada 16 April 2016, DPR langsung tancap gas membahas UU tersebut. Sutan menerangkan, dalam penggodokan tersebut, seluruh fraksi sepakat agar RUU tersebut dirampungkan menjadi undang-undang.

UU itu terdiri dari 72 pasal dan 12 bab. Ide pembentukan UU itu tidak lain adalah untuk mengakomodasi lahirnya buku-buku baru di Tanah Air yang memenuhi tiga kriteria, yakni buku yang bermutu, yang murah, dan yang merata. Sutan menyebutnya 3 M: Mutu, Murah dan Merata.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Awaluddin Tjalla, menyebutkan bahwa poin-poin utama yang disorot UU tersebut di antaranya tentang definisi buku, jenis buku, bentuk buku, dan isi buku. Ada juga menyangkut pengembangan ekosistem perbukuan yang bertanggung jawab melalui pengaturan hak dan kewajiban pelaku perbukuan. Termasuk pula bagaimana kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam ekosistem perbukuan.

Selain itu, katanya, juga dibahas pembentukan kelembagaan sebagai wujud dari wewenang dan tanggung jawab pemerintah yang berada dibawah Kemendikbud. ''Pengawasan yang mempertimbangkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi dan berkreasi,'' sebut Awaluddin.

UU ini hendak mengatur terwujudnya penyediaan buku murah dan terjangkau bagi semua kalangan. Sutan menyebutkan, pemerintah akan menjamin ketersediaan buku buat anak mulai untuk usia balita hingga pelajar. Harapannya kelak, buku untuk usia 0-12 tahun tidak dipungut biaya. Dengan demikian, ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi buta membaca dan minimnya budaya literasi.

Selanjutnya, penyediaan buku yang merata ke semua pelosok daerah. Untuk praktik di lapangan, pemerintah akan menggandeng Perpusnas yang memiliki jejaring hingga ke perpustakaan daerah. UU Sistem Perbukuan yang digodok ini, kata Sutan, akan menjadi solusi atas kekhawatiran insan perbukuan dan penulis buku. Melalui beleid ini, penerbit dan penulis memperoleh jaminan hak dari pemerintah terhadap hak cipta dan kekayaan intelektualnya. ''Di UU ini mereka (penulis) dilindungi haknya, sehingga mereka tidak macam ''hidup-mati'' dalam rangka pengabdiannya menulis buku,'' kata Sutan.

Kritik datang dari Ikapi Pusat. Wakil Ketua Bidang Humas, Riset dan Informasi Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Indra Laksana, menyatakan bahwa Ikapi turut berpartisipasi dalam sejumlah forum-forum penyusunan UU Sisbuk. ''Kami sudah secara aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam forum-forum yang memungkinkan kami terlibat. Namun dari hasilnya, ada hal-hal yang kami anggap masih berbeda dari aspirasi kami sebagai insan perbukuan,'' katanya.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ricky Pesik, mendukung kehadiran UU Sisbuk. Ia mengaku, saat ini memang masih ada banyak tantangan dalam industri perbukuan. Mulai dari masalah rendahnya minat baca hingga sistem perpajakan yang banyak dikeluhkan pelaku. Selain itu, ada pula masalah dalam sistem bagi hasil atau konsinyasi, di mana persenan ke toko buku dinilai terlalu besar. ''Banyak pekerjaan rumah dari penerbitan itu,'' kata Ricky ketika ditemui Gatra pada Kamis, 4 Mei.

Awaluddin tidak menutup mata adanya beberapa hal yang dikeluhkan oleh industri perbukuan. Itu ada kaitannya dengan bahan baku, khususnya kertas, mengingat kertas merupakan komponen utama dalam industri perbukuan. Selain itu, industri perbukuan juga mengeluhkan seputar perpajakan.''Terkait dengan pengaturan perpajakan, sudah ada UU yang mengatur tentang hal ini. Oleh karena itu UU Sistem Perbukuan tidak mengatur secara eksplisit tentang pajak,'' katanya. Dengan demikian, insentif fiskal dalam industri perbukuan dalam UU Sisbuk akan diatur dengan peraturan pemerintah, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ikapi mengaku tak habis pikir kenapa poin soal pajak tak masuk di UU Sisbuk. Masalah pajak dalam industri buku tak semata-mata bagaimana setiap buku itu masih dikenai pajak pertambahan nilai yang sebesar sepuluh persen itu. Semua komponen dalam produksi buku pun kena pajak. Mulai dari kertas yang kena cukai, lalu ketika percetakan hendak membeli kertas terkena pajak, ketika penerbit order barang ke percetakan juga kena pajak, lalu ketika buku sudah masuk ke toko pun masih ada pajak lagi. Semua komponen ini terakumulasi sehingga harga buku pun melambung.

Negara-negara lain banyak yang tak memberikan pajak bagi buku mereka. Malaysia malah sudah melangkah lebih jauh lagi dengan memberikan insentif kepada para siswa yang membeli buku. Indra menyebut, dalam tiap tahun penyelenggaraan Kuala Lumpur Book Fair, seluruh siswa tingkat dasar hingga perguruan tinggi mendapatkan voucher senilai 100-300 ringgit untuk belanja buku.

Bicara soal konsinyasi, CEO Renebook & Turos Pustaka, Luqman Hakim Arifin, mengatakan bahwa saat ini rata-rata persentase keuntungan yang diambil toko buku besar untuk satu barang sebesar 35-50% . Artinya, kalau kita membeli buku di toko seharga Rp 100.000, harga jual dari distributor atau penerbit ke toko buku sesungguhnya hanya sekitar Rp 50.000 . ''Walau besarnya tidak semua sama. Tergantung dari usia penerbit dan usia distributor,'' kata Luqman.

Di sisi lain, ada pula fakta bahwa jumlah penerbitan cetak konvensional semakin menyusut. Maka, kini bisnis penerbitan tidak hanya bicara peluang penjualan. Sekarang, bisnisnya merambah ke konten, bukan semata-mata bisnis buku. Frankfurt Bookfair pun sudah menyatakan ada transformasi, dan meninggalkan istilah buku menjadi konten. Setiap konten itu bisa dikembangkan menjadi bisnis lain, semisal film, komik, dan games.

Melihat tren sebagian masyarakat mulai beralih pola transaksinya dari luar jaringan (luring/offline) menjadi dalam jaringan (daring/online) mendorong Ikapi menawarkan solusi lain. Ikapi berupaya memfasilitasi penerbit dengan membuat toko buku daring berbasis marketplace yang bisa digunakan oleh anggota.

Flora Libra Yanti, Anthony Djafar, dan Andhika Dinata
Majalah Gatra edisi 27 / XXIII / 10 Mei 2017

Orang Awam Menulis Buku; Pengalaman Menjadi Self-Publisher

Orang Awam Menulis Buku; Pengalaman Menjadi Self-Publisher

Sore yang cerah, 14 Mei 2003. Setelah seharian suntuk menyelesaikan dua artikel tentang Hari Buku Nasional untuk dua koran daerah. Alangkah indahnya jika mencoba keluar. Menikmati temaram matahari sore ditemani buku dan teh tubruk tawar tambah sedikit madu. Beruntung ada warung yang selalu siap dengan request itu. Biasanya "ritual ini" saya akhiri dengan berkunjung ke toko buku. Pertama, mengetahui perkembangan (tema) buku. Kedua, menjaring ide untuk tulisan artikel. Ketiga—jujur saja—"cuci mata".

Tengah sibuk menyelidik buku-buku baru, tiba-tiba saya dikagetkan dengan tepukan, tepatnya sentuhan halus di bahu, "Kapan nulis buku?" suara yang saya dapatkan tepat ketika menoleh ke arah bahu. Oh, ternyata dia sahabat lama saya ketika kuliah. Pernah menjadi editor dan setting-layouters beberapa buku tulisan dosen. Kini menjadi wartawan sebuah tabloid di Jakarta. Demikian terang teman saya dalam komunikasi lisan yang akrab, hangat dan membahagiakan. Rupanya, sahabat saya ini belum tahu kalau saya sudah menulis dan menerbitkan buku, protes kecil dan upaya merevisi pertanyaan "Kapan nulis buku?" Maklum, terbilang lama kami tidak bertemu. Setelah bicara ngalor, ngidul, ber-haha hehe, saya pun tergoda menjadikan pertanyaan "Kapan nulis buku (lagi)?" sebagai keberlanjutan isi baku cakap kami.

Di MATABACA Vol. 1/No. 1/Agustus 2002, Frans M. Parera menulis "Kebanyakan kita hanya terbiasa dengan pengetahuan operasiona!, teknis, artistik, dan finansiai hasil pertanyaan 'bagaimana'. Perbukuan menantang kita memasuki horizon pengetahuan 'mengapa'... kemampuan refleksi menjadi bekal untuk mengembangkan pertanyaan 'mengapa' dan perbukuan menjadi sarana untuk kemampuan refleksi itu".

Dalam pemaknaan berbeda, pertanyaan "mengapa" menjadi hal mendasar bagi saya untuk menjadi self-publisher (penerbit swakelola): menulis sendiri, menyunting sendiri, mengemas sendiri (kalau bisa), dan memasarkan sendiri buah pikiran mereka dalam bentuk buku —pengertian minimal pemberian Bambang Trim. Mengembangkan pertanyaan "mengapa" dalam lingkup self-publisher berarti mempertanyakan dorongan hasrat/motivasi hingga seorang memilih untuk menulis sendiri buku, menyunting, menerbitkan dan memasarkan. Inherent, pilihan tema buku yang ditulis/diterbitkan.

Ada kegerahan dalam diri saya, tiap kali berkunjung ke toko buku. Ada banyak tanda tanya dalam benak saya. Tanda tanya itu kian bertambah seiring bertambahnya buku-buku dalam deretan rak. Mengapa masih saja saya betah menjadi pembaca, membuka dan membaca buku-buku orang lain. Orang lain baik dengan ukuran diri sendiri maupun orang lain dalam pengertian region (penulis/penerbit) yang berasal dari luar Semarang. Tidak satu pun karya saya di antara ratusan judul buku itu. Menghitung jumlah penerbit dari Semarang, jumlah jari tangan pun tidak akan habis. Menyadari kenyataan tersebut sering membuat saya tidak terlalu bersemangat jika hendak ke toko buku. Hingga pada satu titik, saya memutuskan diri sejenak "berpuasa" jalan-jalan ke toko buku, Dan tidak akan "berbuka" selama belum berhasil menerbitkan karya sendiri.

Sepertinya lebih merupakan sarkas-eufimis menyebut Semarang sebagai kota budaya atau pendidikan ketimbang sebuah sebutan prestatif. Kalau mobilitas masyarakat Semarang ke daerah lain terbilang tinggi, itu masih dalam pola interaksi bersifat fisik. Lebih didorong oleh orientasi afiliatif. Tidak ada yang salah dengan pola demikian, tetapi rasa-rasanya jadi kurang berimbang lantaran tidak ada produk budaya yang menyertainya.

Masyarakat Semarang diposisikan (atau memang memposisikan diri) sebagai target groups/objek penyebaran wacana dalam pesta pemikiran yang berkembang. Dialog atau tewar-menawar nilai tidak terjadi. Kalau begitu, tidak hanya impor konsumsi fisikal, pun makanan otak/pengetahuan. Sungguh, sebuah pemandangan indah jika ada dialog, ada semacam reserve, tawar-menawar nilai antar-daerah: Semarang dengan Makassar, Yogya dengan Banjarmasin, Bandung dengan Malang, Jakarta dengan Manado, dan seterusnya melalui produk kebudayaan, buku.

Alasan lain menjerumuskan diri menjadi self-publisher adalah upaya mendapatkan benefit tentang seluk-beluk perbukuan serta keuntungan bisnis yang proporsional. Dua alasan terakhir yang saya sebut tadi, terus terang saya masih sangat awam.

Bukannya tanpa hambatan saya menjadi self-publisher. Gagal dan berhasil maknanya sudah hampir berhimpit. Ada cerita menarik yang saya alami saat awal menjadi self-publisher. Mengingat ini sering saya tersenyum-senyum sendiri. Semakin saya tersadar betapa penting mengembangkan pertanyaan "mengapa".

Syahdan saya menawarkan buku Resep Kesehatan: Seri Terapi Madu, yang terdiri atas dua buku: Madu Plus untuk Kesehatan dan Vitalitas dan Ramuan Madu dengan Kayu Manis untuk Penyembuhan Kanker Tulang, Penyakit Jantung, Gangguan Lambung, kepada satu toko buku mainstream. Kebetulan ukuran fisik buku tersebut kecil karena saya maksudkan sebagai buku saku. Justru hal itulah yang menjadi alasan pertama keberatan (baca: penolakan). Gampang tercecer atau hilang, katanya. Alasan kedua —terlepas dari karakter kepribadian pegawai toko buku mainstream tersebut— harga buku terlalu mahal (dengan membandingkan dengan buku-buku lain).

"Buku ini dimaksudkan untuk kesehatan, tapi dengan huruf sekecil ini justru akan membuat orang yang baca sakit mata." Hingga entah karena kasihan atau tujuan memperolok-olok, pegawai itu mengatakan, "Barangkali kalau dijual di bus-bus bakalan laku" menutup kesuksesan penolakannya.

Agak stres juga saya. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya akan segera mencari "obat" dalam bentuk mekanisme pertahanan ego (self defence mechanism), dan obat itu saya dapat ketika membaca buku Berani Gagal: Hikmah Kegagalan karya "guru kegagalan" Billi PS. Lim. (Lagi-lagi harus berinteraksi dengan buku).

"Kegagalan pertama adalah pada saat Anda memutuskan diri untuk berhenti mencoba," demikian tulis Billi PS. Lim mengutip ucapan Stephen King, "Anda tidak gagal hanya saja belum menemukan cara yang paling sesuai/pas. Banyak yang dapat kita peroleh justu pada saat menemukan kegagalan tidak demikian jika kita mengalami keberhasilan," Lanjut Lim.

Membaca wiseword itu membuat suasana hati saya kembali membaik. Segera saya menulis daftar pertanyaan/keberatan ketika tawaran ditolak. Saya susun dengan jawaban yang sudah saya canggihkan (sophisticated) dalam bentuk paper guide, sambil membacanya secara berulang-ulang. Berharap jika ada pertanyaan sama, dapat saya jawab dengan baik.

Misalnya, huruf terlalu kecil? Tidak juga. Hampir semua koran menggunakan huruf Times New Roman 10 pt atau buku-buku yang dijadikan perbandingan menggunakan Arial 10 pt. Sementara buku (resep) ini menggunakan Garamond 10,5 pt yang terlihat tajam, sedangkan font 11 atau 12 menjadi tidak proporsional dengan ukuran buku. Agar semakin readable, dalam penyajiannya menggunakan pendekatan jurnalisme presisi atau dibuat sistematis mungkin, rapi dan ada pembedaan yang jelas antara judul resep, resep, petunjuk, dosis dan anjuran.

Ukuran buku yang terlalu kecil? Tujuan buku adalah guide book/pocket book, dapat dijadikan teman perjalanan, bisa ditaruh di kotak obat, organizer, dompet.

Harga yang terlalu mahal? Dengan harga Rp. 2.500 untuk orang yang biasa beli buku/intellectual property rights mungkin murah,  tetapi kerja intelektualnya itu yang mahal karena untuk menulis buku harus research dokumentasi yang panjang: kliping, buku, perpustakaan, website, ekperimentasi dan itu bukan sesuatu yang murah baik secara ekonomis maupun sosial (waktu, perhatian, dan lain-lain).

Tidak sia-siasaya menyiapkan catatan kecil ini. Ketika menawarkan ke toko buku lain (masih tergolong mainstream) ternyata pertanyaannnya sama. Dengan jawaban yang sudah mengalami pencangggihan, akhirnya toko buku mau membantu memasarkan. Tentu dengan diskon yang tidak bisa dibilang kecil (dan ini merupakan salah satu critical problem dalam dunia perbukuan).

Hasilnya? Sebanyak 500 eksemplar buku tentang madu habis terjual dalam waktu kurang lebih empat bulan. Dengan biaya promosi yang boleh dikatakan nol rupiah. Bahkan saya beberapa kali ditelepon untuk menyetok kembali. Kini, buku resep madu tengah memasuki proses akhir cetakan kedua.

Buku ketiga lain lagi ceritanya. Buku ketiga berjudul Pesta, Cinta dan Buku, tentang jejak pengalaman saya ketika menulis artikel di media massa. Berulang kali saya dihadapkan pada pertanyaan "mengapa". Mengapa harus menulis buku, menulis artikel, bukannya buku sejenis sudah banyak, "Kamu kan hanya menulis artikel di media lokal dengan kuantitas yang tidak banyak, you're nothing, belum pantas untuk menulis buku," bagian dari diri saya bertanya. Dari sekian panjang masa penyelesalan tulisan, waktu terbesar justu dihabiskan untuk menjawab pertanyaan mengapa tersebut.

Lama saya bersepi-sepi menyatukan kepercayaan diri yang tercerai berai. Lebih dari lima buku semuanya tentang menulis (artikel) saya baca berulang-ulang. Memetakan isi buku, menyusun dalam sebuah matrik, membanding-bandingkan hingga satu titik terang muncul, ada satu hal yang sering dilupakan oleh penulis buku (artikel), yaitu penjelasan tentang willingness to write sangat terbatas. Menempatkan pada skill (keterampilan) praktis sebagai porsi terbesar dari halaman bukunya. Ada satu hal terpenting —yang ini rupanya terlupakan— yaitu proses lahimya sebuah tulisan, bagaimana membuat orang termotivasi untuk menulis, serta kebiasaan hidup (habit) seperti apa yang dapat mendukung bagi tumbuhnya tradisi menulis yang kuat.

Temuan lain? Mereka yang menulis adalah para penulis mapan, orang-orang "lama" yang mempunyai kondisi dan tantangan berbeda dengan sekarang. Padahal, setiap buku kiat menulis (artikel) menempatkan mahasiswa dan golongan muda untuk menjadi (salah satu) target group. Saya pun berandai-andai. Seandainya yang menulis adalah anak muda, paling tidak bisa mengurangi kesenjangan umur (biologis) dan situasi (sosiologis) dengan pembaca.

Demi memperkuat alasan mengapa saya harus menulis buku Pesta, Cinta dan Buku, sekaligus pledoi atas kesimpulan belum pantas menulis buku karena selama ini menulis artikel hanya pada media di daerah, saya dapatkan dari membaca secara kontekstual (tentang ini dapat Anda baca pada tulisan saya "Membaca (Buku) Saja Belum Cukup", MATABACA Vol.1/No.12/Agustus 2003 hlm. 17-20). Ke depan, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah secara penuh, isu-isu yang mengemuka justru berada di daerah (lokal-regional).

Rasa-rasanya kok kurang adil jika semua penulis menjadikan media nasional (yang berada di Jakarta) sebagai pilihan untuk mempublikasikan tulisan. Terus, siapa yang akan melakukan transformasi proses "pencerdasan" serta sosialisasi nilai terhadap masyarakat pembaca di tingkat daerah? Padahal, jika orang daerah sendiri yang menulis tentang isu di daerah atau isu nasional, pengaruhnya terhadap daerah bukankah lebih nyekrup? Berdasarkan hal itu, lahirlah buku Pesta, Cinta dan Buku pada akhir Juli 2003. Soal distribusi boleh dibilang "sempuma" (Pesta, Cinta dan Buku sebelumnya mengalami masa penantian tiga bulan lebih di salah satu penerbit besar di Jakarta).

Jean Baptish Say (1767-1832), ekonom klasik yang terkenal dengan hukum Say mengatakan: production creates its own demand. Produksi saja suatu barang sebanyak-banyaknya, nanti pasti ada yang membeli. Demikian kira-kira terjemahan bebasnya. Hukum Say berlaku jika suatu korporasi punya dana besar sehingga dapat melakukan promosi gencar, menciptakan permintaan. Namun, buat yang punya dana cekak pilihannya safety (meminimalisasi risiko) dengan demand create its own supply. Jenis, kuantitas, kualitas, dan harga barang yang diproduksi ditentukan oleh permintaan pasar (konsumen).

Dalam konteks self-publisher, harus dilakukan apa yang dinamakan opportunity analysis. Yang tidak hanya berdasarkan kalkulasi ekonomi/bisnis, tapi juga mengikutsertakan nilai (benefit), baik melalui observasi, wawancara, maupun penyebaran kuesioner, termasuk menjawab pertanyaan mengapa.

Tulisan ini tidak ditujukan sebagai cermin kesuksesan, hanya sekadar berbagi cerita. Mungkin ketiga buku yang saya tulis dan terbitkan (buku keempat segera menyusul) tidak istimewa. Apalah artinya buku yang ditulis oleh orang biasa atau awam, lingkup distribusinya pun hanya memenuhi pasar di Semarang dan sekitarnya. Namun, mengutip epilog Joko Pinurbo dalam satu tahun MATABACA
"Belum apa-apa.
Baru langkah awal.
Kami kira, ini awal yang baik."

Agus M. Irkham, penggiat komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/Oktober 2003

Like untuk dapatkan update artikel terbaru