Sepatu dan Buku

Sepatu dan Buku

Dalam terowongan hantu Disneyland Tokyo ada rak buku tentang hantu. Lalu saya percaya (cerita) hantu hidup dalam buku. Kesan ini juga ada ketika membaca The Encyclopedia of Ghosts (Daniel Cohen, New York, 1984). Oleh karena itu, hantu(?) Dalam One Hundred Japanese Strange Creatures (Brandon Drew Hunter, 1992) "hidup" dalam imajinasi orang. Hantu yang bersarang dalam buku ini berupa catatan cerita. Akan tetapi, bukan hanya hantu yang ada dalam buku. Ada lagi yang bersarang dalam buku?

Sinetron Emperor Kang Xi meyakinkan saya pentingnya buku dalam kerajaan Cina —juga dibicarakan dalam satu acara TV Discovery dan paling tidak ini ada pada pengarangnya. Maharaja menghadiahkan rumah penuh buku kepada pegawai tinggi yang pensiun. Kesan sama ada pada cerita silat Cina. Orang belajar silat melalui buku, yang kadang berupa catatan dinding. Pendeknya, untuk punya pengetahuan, agar memiliki ilmu, orang mesti membaca. Oleh karena itu, dalam teks F30 dan F31 MSS 1589 yang ditulis di Bukittinggi awal abad ke-19 dan kini ada pada Perpustakaan Negara Malaysia, bercerita sebagai berikut.

Pada suatu hari maka datang pada majlis itu seorang lakilaki dagang memakai kain buruk. Maka duduk ia pada kesudah-sudahan majlis di belakang orang banyak pada tempat yang terkebawah. Maka segala ulama pun berkata-katalah daripada perkataan ilmu dan adalah adat mereka itu mengeluarkan suatu masalah daripada segala perkataan dan segala p.n.k.t.h yang latif-latif bersoal pada tiap-tiap duduk dalam majlis itu hingga sampailah kepada lakilaki itu. Maka dijawabnya dengan jawab yang terlebih baik daripada jubah segala orang yang duduk dalam majlis itu. Demi didengar raja Ma'mun al-Rasyid jawab lakilaki itu, maka dipujinya akan dia serta dititahkan raja ia kepada tempat duduk yang terlebih daripada tempat yang dahulu itu. Maka itupun duduklah ia. Maka tatkala datanglah pada masalah yang kedua, maka dijawab[nya] lakilaki itu.terbaik pula dari jawabnya yang dahulu itu. Maka dititahkan raja Ma'mun al-Rasyid mendudukkan dia terlebih pula daripada tempatnya yang dahulu itu. Maka tatkala sampai kepada masalah yang ketiga, maka dijawabnya pula dengan terlebih baik daripada jawabnya yang dahulu kedua itu, maka dititahkan raja Ma'mun al-Rasyid pula mendudu(k) dia hampir kepada sisinya. Maka tatkala selesailah segala ulama [maka] daripada bersoal jawab, maka dihadirkan oranglah akan air pembasuh tangan mereka itu. Maka makanan pun diangkat oranglah. Setelah selesai daripada makan, maka bangkitlah segala ulma dan fukaha dan segala hukama mohon kembali. Maka mereka itu pun kembalilah. Maka diisyaratkan raja Ma'mun al-Rasyid akan lakilaki itu menyuruhkan dia tinggal. Maka ia pun tinggal duduk. Maka hampir raja Ma'mun al-Rasyid serta ia berkatalah dengan hormat dan 'azat seperti kata 'arif: (...) artinya pakaian kamu memuliakan ia akan kamu sebelum duduk ilmu kamu memuliakan ia akan kamu. (Umar Junus, Undang-Undang Minangkabau, Wacana Intelektual dan Warna Ideology, Kuala Lumpur, Perpustakaan Negara Malaysia, 1977:227-228)

Si miskin, berpakaian buruk, dimuliakan raja karena kaya ilmu. Lalu cerita ditutup dengan: "Mulanya seorang dimuliakan karena pakaiannya, Tapi yang menentukan sebenarnya ilmunya". Raja memuliakan si miskin dengan pakaian buruk karena jawabnya atau ilmunya "lebih baik dari jubah segala orang yang duduk dalam majlis itu". Saya duga ia tak membeli jubah (yang megah) karena uang habis untuk membeli "buku" yang baginya lebih penting dari jubah. Pakaian cukup asal jadi.

Sukar menemui orang begini. Bagi umum yang hadir dalam majlis Raja Ma'mun jubah lebih penting dari buku. Oleh karena itu, dikatakan jawab si berpakaian buruk "lebih baik dari jubah segala yang duduk dalam majlis itu". Ini juga fenomena kini. Banyak yang berpikir berjuta kali untuk membeli buku harga lima puluh ribu, Dianggap mahal. Namun, tak berpikir banyak membeli sepatu setengah juta. Tidak dianggap mahal, malah dianggap wajar, karena sepatu yang pakaian kaki bagi mereka lebih utama dari buku yang pakaian otak. Keluhan yang kini ada hanya tentang mahalnya harga buku, tidak tentang mahalnya harga sepatu, Salah satunya artikel Johan Jaaffar (The New Straits Times, 24 Desember 2002).

Saya tak pasti apakah harga buku kini mahal (tapi ada yang naik), Harper's 2002 hanya $4.95 senomor tapi menjadi $5.95 pada 2003. Yang pasti, saya kurang beli buku. Sejak pensiun tak ada urgensi beli buku. Bacaan bagi saya kini hanya untuk memperkaya pengetahuan tanpa diembeli pengembangan ilmu —dulu pengembangan ilmu diembeli pengetahuan, Apalagi, begitu banyak buku dan majalah ilmiah milik saya yang belum saya baca, Kadang tergoda juga untuk membeli dan membaca buku tersebut. Saban ke toko buku biasa pulang dengan Harper's atau The New York Review of Books, atau buku yang diresensi di majalah itu. Saya kurang membeli buku karena keuangan tak mengizinkan. Ada buku yang saya ingin miliki, tapi tak saya beli karena mahal untuk saku saya atau ada faktor lain.

Kegiatan lain 50 tahun lalu menambah uang ikatan dinas sehingga saya bisa habiskan untuk membeli buku. Apalagi harga buku teks impor dengan kupon Yayasan Lektur mendapat diskon 50% sehingga harga buku terasa murah. Saya tidak hirau pakaian dan tidak ada keharusan membeli baju yang megah. Tak ada yang branded. Atau tak pernah terpikir memilikinya karena di luar jangkauan. Suasana ini terus berlanjut sampai 1960-an. Saya lebih berpikir untuk mengembangkan ilmu daripada beli mobil dan rumah, karena keduanya di luar jangkauan. Apalagi sejak 1970-an banyak barang branded masuk ke Indonesia sehingga memaksa orang berpikir untuk memilikinya. Harga terasa berada dalam jangkauan. Mobil dan rumah apalagi yang branded menjadi lebih utama dari buku.

Kejadian ini lalu mentradisi dari generasi ke generasi. Orang kurang bicara tentang buku. Sepatu yang pakaian kaki, tempat terkumpulnya toksin —menurut iklan Kinohimitsu— lebih utama dari buku yang pakaian otak. Pendeknya, kaki lebih utama dari kepala yang mengingatkan saya kepada berotak ke empu kaki, ungkapan Minang. Orang tak sadar kita bisa hidup tanpa kaki (yang utuh), tetapi tidak bisa hidup tanpa kepala, kecuali dalam cerpen "Kepala" Putu Wijaya. Kaki yang tak mutlak penting lebih dihargai dari kepala. Kaki diberi sepatu yang mahal, tetapi otak tidak diisi dengan bacaan yang berharga. Akibatnya, otak tetap kosong, Itulah kesan yang saya tangkap pada masyarakat waktu itu, apalagi saya sudah menetap di Malaysia.

Namun, tak usah terburu-buru untuk sampai pada kesimpulan ini. Sepatu dan buku merupakan dua dunia yang lain. Harga sepatu yang sesuai kaki saya tidak satu. Ada yang amat mahal dan ada pula yang amat murah. Keuangan saya melarang untuk membeli yang mahal. Saya pilih yang terbaik dari yang murah. Pada sepatu ada pilihan. Namun, tak ada pilihan pada buku. Ada pilihan untuk baju khalayak majlis Raja Ma'mun al-Rasyid, tetapi tidak ada pilihan untuk kepala (tempat otak) dan Tuhan mengkaruniakan akal kepada otak itu. Oleh karena itu, ia (baca: si berbaju buruk) sampai ke depan meskipun berbaju buruk. Atau ia tetap bisa menghadiri majlis itu tanpa sepatu atau dengan sepatu murah.

Banyak orang lebih menghargai sepatu dari kepala. Tidak pernah dipertanyakan mengapa sepatu mahal karena orang membeli brand-nya. Tapi akan dipertanyakan hasil pemikiran yang kelihatan sederhana. Kalau tidak salah, pernah dipertanyakan harga satu juta dolar yang dibayar Garuda untuk logonya. Hal yang begitu sederhana mengapa mesti dibayar mahal. Logo itu memang sederhana, tetapi kita tidak tahu masa yang diperlukan penciptanya untuk sampai kepada logo itu. Hakikatnya sama dengan telur Columbus.

Itu pandangan pengguna. Penerbit bisa punya pandangan lain. Menurut Alfons Taryadi dalam "Perang Kata dalam Kongres XV Ikapi", Matabaca, Vol. 1/No. 5/Desember 2002, ada penerbit yang ingin merendahkan harga buku dengan mencetaknya dengan kertas murah —pernah saya dengar persentase harga kertas untuk ongkos buku kecil. Ada juga yang ingin menaikkan harga buku biar pengarang menjadi "kaya" sesuai milik intelektual. Keduanya ada benarnya. Oleh karena itu, di Amerika buku bisa terbit dalam edisi kulit keras (hard cover) dan lembut (soft cover) —bukan dalam "buku saku"— karena harga untuk kedua edisi itu sama. Jika kulit keras untuk si kaya dan kulit lembut untuk si miskin, tentu saya akan memilih kulit lembut. Tapi ini bukan tanpa "gangguan". Kulit lembut —mungkin di dalamnya ada hantu karena kata lelembut "hantu" didaftarkan dalam kamus bahasa Jawa Pigeaud di bawah kata lembut —biasa dibuang sehabis dibaca (dicatat H.J. Jackson dalam Marginalia, Readers Writing in Books, New Haven, 2001).

Dengan alasan menghormati warisan, Malaysia menerbitkan karya agung dalam edisi mewah —yang selama ini terbatas kepada karya lampau— dengan harga RM200. Hal ini tentu di luar daya beli si miskin dan hanya mampu dibayar si kaya yang menjadikannya hiasan. Dengan demikian, banyak peneliti tak menggunakan edisi ini dalam penelitian karena merugikan dunia ilmu. Dan ini saya rasa berlawanan dengan ide asal penerbitan karya agung, yaitu memungkinkan orang memperolehnya dengan mudah dan diharapkan akan mengundang perdebatan.

Ada untung dan ruginya penerbitan buku dalam edisi mahal dan murah. Edisi mahal memberikan nilai lebih dan prestise kepada karya. Namun, membatasi calon pembeli. Edisi murah memberi kesempatan kepada banyak orang, namun tanpa kepastian mereka akan membeli. Banyak benda lain yang dirasa seseorang lebih penting dari buku. Jadi, tidak ada urgensi untuk membaca. Membaca yang duduk bisa menyebabkan orang menyangka ia termenung.

Oleh karena itu, perlu ada cara untuk menumbuhkan minat baca dan ini bisa berakar pada pendidikan. Saya gila baca karena waktu kuliah dulu yang penting bukan bahan kuliah melainkan bacaan. Saya pernah ujian —waktu itu semua ujian lisan— sebelum habis kuliah karena telah membaca bacaan wajib dan tak wajib. Atau mungkin juga pada materi ujian. Ujian dengan jawaban benar dan salah membatasi bacaan seseorang, Lain halnya dengan ujian yang memerlukan jawaban yang argumentatif. Orang terdorong untuk membaca banyak karena bacaan menolongnya memberikan jawaban dengan argumen yang meyakinkan.

Umar Junus, penulis, pengajar, dan kritikus sastra. Tiggal di Malaysia.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 12/Agustus 2003

Balada Seorang Penulis

Balada Seorang Penulis

"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari" (Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia).

Membaca dan merenung. Itu yang saya tulis dalam kolom hobi di buku kenangan SMA. Suratan takdir kemudian membawa saya menjadi penulis, profesi yang berkaitan dengan membaca dan merenung. Saya berani mengklaim diri sebagai penulis karena sesuai dengan definisi profesi yakni pekerjaan yang daripadanya orang memperoleh penghasilan dan untuk melakukannya memerlukan keahlian. Saya suka memasak di rumah tetapi tidak dapat menamakan diri chef. Saya suka menyanyikan lagu-lagu karya A. Riyanto atau Rinto Harahap di kamar mandi, tetapi saya tidak bisa mengklaim diri sebagai penyanyi. Karena dari dua pekerjaan tersebut saya tidak memperoleh penghasilan. Selain itu, sudah lima buku saya diterbitkan dan lumayan laku di pasaran. Saya juga menerjemahkan lima buku dan menulis artikel di media massa, baik di dalam maupun luar negeri. Saya ingin juga menulis novel.

Apa hubungan membaca dan merenung dengan menulis? Semua penulis buku memerlukan bacaan untuk latar belakang, bahan pembanding atau pendukung gagasan. Barangkali satu kekecualian adalah Sir Charles Darwin yang konon menulis buku The Origin of Species by Means of Natural Selections (1859) dari pengamatannya selama berlayar ke berbagai penjuru dunia. Di autobiografinya, Darwin mengatakan sedikit belajar dari buku meskipun kuliah di Cambridge University.

Seberapa besar pengaruh merenung dalam menulis buku? Charles Bazerman dalam bukunya The Informed Writer (1985) menulis bahwa jika orang menelan bacaan tanpa pemikiran, ia hanya akan menerima frase kosong. Ia bisa menirukan frase tersebut dalam ujian atau paling banter mampu mengatakan sesuatu yang baru. Perenungan mempengaruhi perilaku pembaca dan bisa menciptakan sesuatu yang baru.

Menulis Itu Sulit
Arswendo Atmowiloto pernah menulis buku berjudul Mengarang Itu Gampang. Sayangnya, pengalaman saya membantah klaim tersebut. Berprofesi sebagai penulis tidak mudah dari segi teknis, ekonomi, sosial, dan bahkan politik.

Dari segi teknis, ada anggapan bahwa masalah seorang penulis adalah mengisi halaman kosong: mencari kalimat pembuka dan yang lain akan mengalir. Anggapan ini lebih banyak salah daripada benarnya.

Dalam praktik, semua penulis saya kira mempunyai tujuan tertentu yang untuk mencapainya perlu rencana, strategi dan teknik. Setelah membuat rencana dan menetapkan strategi penulisan, penulis harus bisa menemukan bahan tulisan, apakah berupa dokumen hukum, buku, artikel, data statistik, maupun referensi ilmiah. Agar tulisan menarik, penulis harus mencari lelucon, kutipan atau hasil observasi langsung. Setelah bahan terkumpul, penulis harus mencari bahan dan memilih bahasa dan nada yang diperkirakan pas bagi calon pembaca. Penulis harus terampil dalam menggunakan teknik paraphrasing (mereproduksi bacaan dengan bahasa sendiri), summarizing (meringkas isi bacaan), menggunakan kutipan langsung atau tidak langsung. Penulis harus memilih apakah menggunakan struktur kalimat pendek atau panjang, sederhana atau majemuk, menggunakan kata umum atau istilah teknis.

Dari segi sosial, saya pernah ditanya anak yang baru berusia lima tahun, "Di mana kantor Bapak?" Tetangga ingin tahu bagaimana saya dapat uang padahal jarang ke luar rumah. Kerabat lebih tenang dan bangga kalau saya bekerja di perusahaan yang lebih pasti. Bahkan kalangan profesional kurang menghargai profesi ini. Pernah sebuah biro iklan memberi job membuat tulisan dalam bahasa Inggris. Dengan niat baik, pekerjaan tersebut saya lakukan meskipun belum ada kontrak. Tetapi di seperempat jalan, karena alasan yang tidak jelas, kontrak diputus dengan alasan klien mencari penulis bule. Saya tidak tahu ini cerminan inferior complex atau ketidaktahuan staf di biro iklan atau kliennya. Tidak ada jaminan orang expatriat dapat menulis dalam bahasa Inggris lebih baik, seperti tidak semua orang Indonesia dapat menulis dengan baik dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya, kalau bule tersebut dapat menuliskannya dengan baik tentu mereka akan kompetitif berkarir di negeri asalnya.

Dari segi ekonomi, ketika membaca buku masih dianggap sebagai hobi, maka peluang menulis untuk sukses secara ekonomi sangat kecil. Dengan standar royalti 10% dari harga jual dan sekali cetak hanya 3.000 eksemplar, maka penghasilan penulis buku sangat tidak memadai. Berdasarkan pengalaman, kalau buku dicetak ulang dua kali maka hasilnya hanya setara dengan biaya produksi dan biaya hidup sederhana selama menulis buku tersebut. Biaya itu untuk membeli buku referensi, koran, majalah, fotokopi data di perpustakaan, dan tinta. Menulis artikel tidak cucuk, alias hasilnya tidak sebanding dengan usaha seperti membaca, meriset dan berpikir. Saya menerima honor US$ 200 untuk sebuah artikel 1.000 kata dari media asing. Di media lokal, artikel dengan jumlah kata yang sama honornya antara Rp. 75.000 sampai Rp. 300.000. Akibatnya, bukannya bertambah, tabungan penulis menyusut selama lima tahun berprofesi sebagai penulis. Ada satu ironi lagi bagi penulis, seperti dilaporkan di jurnal mahasiswa UGM Balairung edisi 34 / XVI / 2001, banyak penulis yang dinakali penerbitnya yang ujung-ujungnya penulis menerima royalti lebih rendah dari seharusnya. Ini menegaskan anggapan bahwa penulis tidak cukup diperhitungkan dalam dunia penerbitan.

Secara legal hak cipta penulis kurang dilindungi seperti terbukti dengan keluhan banyak pengarang yang bukunya dibajak. Saya sering berkhayal suatu ketika hak cipta penulis dihormati sebagaimana di Amerika Serikat (AS). Sekitar dua tahun lalu, Pengadilan Tinggi AS memenangkan Jerry Greenberg, fotografer lepas yang menggugat penerbit digital, the National Geographic Society (NGS) untuk memberi kompensasi baru atas fotonya yang semula terbit di majalah National Geography dan kemudian dimuat di CD-ROM produksi NGS. Menurut Jerry, foto dalam CD-ROM harus diberi kompensasi baru karena mempunyai musik, iklan baru dan item lain yang tidak ada dalam terbitan cetak. Pengelola National Geography yang terbit sejak 1888, berpendapat bahwa CD-ROM tidak mengubah isi, format atau penampilan foto tersebut. Kemenangan Jerry adalah kemenangan kedua atas tuntutan hak cipta profesional lepas. Kasus ini mengikuti keputusan atas kasus Tasini melawan The New York Times yang mengatakan bahwa penerbit yang mereproduksi secara digital artikel tanpa izin, atau memberi kompensasi baru kepada pengarang dinyatakan melanggar hak cipta. Hakim dalam kasus Tasini berpendapat bahwa reproduksi artikel ke dalam mikrofilm diizinkan di bawah UU Hak Cipta AS karena artikel tersebut tampak sama persis seperti dalam cetak. Tetapi artikel di situs jejaring dipandang sebagai sebuah produk yang berbeda.

Berbagai uraian di atas kiranya cukup menjelaskan mengapa tidak banyak orang mau berprofesi penulis. Suatu ketika saya bertanya kepada editor saya di Elex Media, yang menerbitkan tiga buku saya, apakah ada pengarang yang berprofesi sebagai penulis seperti saya. Jawabannya: kelihatannya tidak ada.

Secara politik, jika Anda belajar sejarah Eropa, tempat lahirnya isme-isme yang berkembang saat ini, Anda akan mengetahui bahwa penulis adalah profesi beresiko. Pada zaman renaissans banyak penulis menjadi musuh kerajaan atau gereja. Karya mereka disensor atau dibredel dan banyak penulis yang dipenjara. Di Indonesia kita haras mencuri-curi agar bisa membaca novel Pramoedya Ananta Toer yang dilarang beredar. Saya membaca beberapa novelnya di perpustakaan kebudayaan UGM yang dipimpin almarhum Umar Kayam semasa kuliah. Pramoedya seperti kita tahu mendekam selama belasan tahun karena profesinya.

Perjalanan Menjadi Penulis
Ketika masih menjadi wartawan, saya ingin menulis buku. Toh jenis pekerjaannya sama: membaca, mengumpulkan data dan menulis. Tetapi faktanya sulit. Jangankan menulis buku, membaca buku saja sering harus dilakukan dalam bis kota atau ketika menunggu narasumber atau event yang diliput. Ketika dorongan menulis buku semakin kuat, penulis memutuskan untuk keluar dari profesi wartawan dan menjadi penulis profesional pada 1998. Untuk modal, saya membeli komputer lengkap dengan modem, mesin faksimili, perekam (untuk menangkap gagasan yang muncul saat tidak dalam posisi bagus untuk menuliskan), dan kamera. Saya memusatkan perhatian pada masalah keuangan pribadi (personal finance) karena tiga alasan.
 
Pertama, di Indonesia penulis bidang ini belum banyak. Kedua, saya mempunyai catatan dan kliping yang saya himpun selama tujuh tahun sebagai wartawan dan pengalaman menulis berita keuangan. Ketiga, saya pernah mengikuti berbagai pelatihan tentang keuangan dan sedikit ketrampilan membaca dan menulis dalam bahasa Inggris.

Sebelum membuat keputusan, saya berkonsultasi dengan beberapa wartawan senior yang umumnya memperingatkan bahwa penulis tidak bisa hidup. Salah satu alasan mengapa saya bersikukuh menjadi penulis adalah karena saya melihat potensi yang besar. Bagi saya, minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah adalah potensi bagi industri perbukuan. Di Indonesia ada ribuan media massa yang membutuhkan tulisan dari luar. Pada 1998, ketika ada boom perusahaan dotcom, berkembang frase content is king. Setiap situs jejaring, mesin pencari (search engine) atau pengecer online perlu isi segar dan bagus untuk menarik penjelajah datang lagi. Ternyata content di dunia maya bukan raja. Orang tidak mau membayar ketika mencari informasi di situs jejaring, sehingga banyak content provider dan perusahaan dotcom yang tumbang dan hanya segelintir seperti the Wall Street Journal, Consumer Reports, dan situs-situs porno- yang bertahan. Salah satu penyebabnya, pembaca harus membayar dulu sebelum mulai mengetahui materinya, yang seringkali hanyalah informasi dengan kualitas rendah.

Dari fakta ini saya khawatir jangan-jangan rendahnya oplah buku di Indonesia karena tidak memenuhi harapan pembaca umum. Ada beberapa penjelasan untuk ini. Pertama, prioritas atau komitmen pengarang buku bukan untuk kepentingan pembaca. Karena tujuannya bukan untuk pembaca, maka kualitasnya juga kurang sesuai. Bagaimanapun juga setiap buku ditulis dengan tujuan tertentu. Tujuan mengarahkan penulis untuk memusatkan pada fakta tertentu dan mengembangkan gagasan tertentu. Tujuan yang berbeda memunculkan pertanyaan berbeda bagi penulis. Contohnya adalah buku tentang Henry Ford. Selain biografi Henry Ford, tidak kurang ada 10 buku lain tentang Henry Ford karangan para penulis dengan tujuan berbeda. Biografi Ford melebih-lebihkan perannya dalam industri otomotif di AS demi keuntungan pribadi. Penulis manajemen mempelajari bagaimana Ford sukses berbisnis. Sejarawan menganalisa citra Ford sebagai legenda.
 
Kedua, kontrol kualitas penerbit kurang. Saya tahu ada beberapa konsultan, pejabat atau politisi yang mau tulisannya diterbitkan meskipun tidak menerima royalti. Bahkan ada di antara mereka ini membeli sendiri bukunya. Konon penerbit mau menerbitkan buku tersebut karena pembelian oleh si pengarang (author) nilainya lebih dari biaya produksi yang dikeluarkan oleh penerbit. Konsultan juga ada yang lebih senang menulis artikel di koran tanpa bayaran asal nama atau fotonya (atau keduanya) muncul di koran. Dari mana mereka memperoleh penghasilan? Dari bisnis utamanya, yakni menjadi konsultan. Dari sudut pandang lain, kalau mereka menulis apa yang mereka ketahui dan perlu diketahui pembaca, mereka pasti akan kehilangan bisnis konsultasinya. Tujuan pejabat dan politisi mengarang buku umumnya demi kepentingan politis atau mendukung pendapat atau kebijakan politik tertentu. Berdasarkan definisi, mereka ini bukan penulis.

Peran Penulis
Alasan lain saya ingin menjadi penulis adalah karena pengaruhnya yang besar pada pembaca dan masyarakat. Saya sering mengidentifikasikan diri dengan Agung Sedayu, tokoh dalam cerita fiksi Api di Bukit Menoreh karya SH Mintarja dan terinspirasi oleh tokoh-tokoh dalam tetralogi fiksi karya Pramoedya. Peran penulis bagi saya bahwa kemajuan Eropa ke level sekarang karena tradisi baca dan tulis yang bermula pada zaman renaissans, rangkaian pergerakan sastra dan budaya di abad 14, 15, dan 16 yang dimulai di Italia dan meluas ke seluruh penjuru Eropa. Pada waktu itu, penduduk lewat tulisan para penulis menghidupkan kembali nilai-nilai, seni dan sastra klasik dan menyebarkan ke semua kelas masyarakat. Perkembangan ini terjadi karena teknologi cetak.

Pada zaman sebelumnya, Zaman Pertengahan, hanya elit saja yang mempelajari seni dan sastra klasik. Ini seperti sastra Jawa yang hanya dipelajari kalangan keraton dan cerdik cendikia saja. Kebiasaan membaca masyarakat Eropa kemudian menimbulkan nafsu menjelajah ilmu pengetahuan, dan di antaranya adalah geografi. Ini yang memperkenalkan mereka dengan dunia baru yang membuat Eropa kaya raya sampai sekarang. Penggerak gerakan renaissans adalah humanisme, sebuah filosofi yang didasarkan pada gagasan bahwa manusia adalah mahluk rasional.

Humanisme menekankan kemuliaan dan menghargai kemampuan dan bakat individu di banyak bidang seperti olahraga, sastra dan ilmu pengetahuan.Gagasan yang berkembang selama zaman renaissans menjadi dasar bagi pemikir dan penulis di zaman pencerahan, yakni abad ke-18, zaman ketika pencapaian ilmiah mengemuka. Renaissans adalah tahap penting dalam membebaskan pikiran dari takhayul dan kesalahan yang ada di masyarakat Kristen selama Zaman Pertengahan.

Penulis juga mampu menangkap dinamika masyarakat. Perseteruan gereja dan kerajaan pada zaman renaissans misalnya mengilhami Niccolo Machiavelli menulis buku yang sangat terkenal, Il Principe (1532). Dalam bukunya ini Niccolo berpendapat bahwa seni memerintah ada pada ilmu pengetahuan bukannya pada prinsip agama. Dia memusatkan pada cara mempertahankan negara dengan sarana apapun selain the Bible. Dia bahkan menerima prinsip bahwa tujuan menghalalkan segala cara/sarana, kalimat yang banyak dikutip di mana-mana.

Menurut hemat saya, buku juga dapat berperan penting dalam membangun bangsa. Selain sarana belajar atau menyerap informasi, buku paling baik. Buku mendorong pembacanya aktif. Agar dapat memahami, mengingat atau mengembangkan bacaan, pembaca harus mampu berkomunikasi dua arah dengan bacaan. Caranya adalah dengan membuat catatan pinggir, memberikan komentar atas isi bacaan di sisi atas dan juga membuat jurnal bacaan. Sebaliknya, belajar melalui radio dan televisi akan mendorong orang cenderung pasif. Karena sifatnya sekali dan hilang maka proses komunikasi cenderung searah. Saya setuju dengan pendapat umum bahwa salah satu faktor penghambat perkembangan masyarakat Indonesia adalah belum adanya tradisi baca dan tulis.

Di Indonesia, budaya baca tulis dimulai sekitar abad ke-11, atau tepatnya tahun 1030 ketika Mpu Panuluh menulis naskah Arjuna Wiwaha dengan huruf Jawa Kuno yang mirip dengan huruf di India dan Thailand. Tradisi baca tulis latin diperkenalkan pada abad ke-16 oleh penjelajah Portugis di belahan timur dan Belanda di bagian barat. Generasi penjelajah selanjutnya berubah menjadi penjajah yang membatasi pendidikan kepada priyayi yang membuat baca tulis menjadi kebiasaan kaum elit saja. Bagi masyarakat awam, sepanjang bisa membaca nota gadai maka cukuplah sudah. Akibatnya, seperti ditulis Nancy Florida dalam Reading the Unread in Traditional Javanesse Literature, sastra Jawa mempunyai citra klasik, adiluhung, tak ternoda, dan di luar jangkauan pembaca awam. Sampai sekarang buku dianggap sebagai sesuatu yang keramat yang hanya profesor atau pejabat saja yang bisa dan mempunyai otoritas menulis buku, bukan anak seorang petani seperti saya.

Suka Duka Menjadi Penulis
Penulis bekerja sendiri, tetapi tidak terisolasi dan kesepian. Menulis melibatkan orang lain, yakni menanggapi dan mengembangkan pernyataan penulis atau orang lain. Penulis membuat produk untuk orang lain, yakni pembaca. Penulis juga membutuhkan kontak dengan pelaku di bidang yang diminatinya. Selain sebagai sumber, pelaku dibidang tersebut juga pasar potensial bagi penulis. Pengalaman menunjukkan bahwa penulis akan lebih baik kalau mempunyai teman diskusi, dan tempat meminta nasihat dan sumber inspirasi. Seorang teman yang mau membereskan komputer bermasalah dengan hanya imbalan makan siang akan sangat bermakna. Penulis mempunyai jam kerja yang panjang. Ini bisa berarti dedikasi dan atau keasyikan. Mau berprofesi penulis? Give a second thought!

Oleh: Jaka Eko Cahyono
Majalah MataBaca

Kiswanti dan Warung Baca Lebak Wangi

Kiswanti dan Warung Baca Lebak Wangi

''Akhirnya sampai di sini juga,'' Kiswanti menyapa Gatra, yang bertandang ke rumahnya yang sederhana di Kampung Saja, Parung, Bogor, Jawa Barat. Perempuan 44 tahun itu dengan ramah mempersilakan Gatra duduk di tikar pandan yang digelar di ruang tengah rumahnya. Di pojok ruangan seluas 3 x 4 meter itu, selain ada tumpukan koran dan majalah, juga terdapat rak buku.

Di ruang tamu ada lemari tempat barang dagangan dan dua komputer yang berjejer sedang dioperasikan empat bocah cilik berusia tujuh tahunan. Sayup-sayup dari ruangan samping, yang tersambung dengan rumah induk, terdengar salawat Nabi yang dilantunkan anak-anak yang sedang belajar mengaji. Di ruang berukuran 4 x 9 meter itu terpasang dua rak buku besar, tempat Kiswanti meletakkan buku-buku koleksinya.

Kebanyakan buku itu untuk anak-anak, resep makanan, novel, cerita rakyat, komik, dan keterampilan praktis. Warga di sekitar tempat Kiswanti tinggal menyebutnya ''Warabal'' alias ''Warung Baca Lebak Wangi''. Sejak Januari tahun lalu, setiap hari rumah itu tak pernah sepi dari suara anak-anak. Dari yang sekadar ingin meminjam buku sampai belajar mengaji.

Senin sampai Jumat, aktivitasnya dimulai pukul delapan pagi, untuk mengajari anak-anak umur 3-5 tahun belajar membaca. Karena terbatasnya media untuk mengajar, perempuan yang akrab dipanggil Bude ini sering mengajak mereka ke kebun singkong sebelah rumahnya. ''Saya petikin gagang daun singkong dan membentuknya jadi huruf,'' ujar Kiswanti.

Metode itu ternyata mampu membantu anak-anak membaca dengan cepat. Karena keberhasilan ini, dalam jangka enam bulan, anggotanya bertambah dari lima menjadi 30-an anak. Kiswanti menamai kegiatan itu ''Pendidikan Anak Usia Dini''. Ia tak mendaftarkan kegiatan itu ke Departemen Pendidikan Nasional, kata Kiswati, karena prosesnya ribet.

Lagi pula, kegiatan ini tak memungut biaya, sehingga Kiswanti tak merasa bersalah. Rumahnya agak lengang ketika anak-anak itu pulang. Namun, sekitar pukul dua siang, rumah itu mulai ramai lagi oleh anak-anak sekolah dasar yang belajar komputer dan mengaji. Usai salat magrib, giliran anak-anak SMP yang datang untuk belajar kelompok.

Untuk kegiatan siang sampai malam hari, Kiswanti hanya bertugas mengawasi. Tugas mengajar diserahkan kepada para sukarelawan, yang punya pendidikan lebih tinggi. Ia sangat sadar, sebagai lulusan sekolah dasar, kemampuannya terbatas. Namun ia tak menyerah pada keterbatasannya. Ibu dua anak ini memulainya 11 tahun lalu.

Kiswanti memperkenalkan budaya membaca kepada masyarakat sekitarnya dengan cara unik. Ia berjalan kaki dari rumah ke rumah sembari berjualan jamu gendong. Bukan hanya barang dagangan itu yang dibawa, melainkan juga sejumlah buku. Itulah yang dibacakan, lalu dipinjamkan kepada warga yang dijumpainya.

Sejak lima tahun lalu, Kiswanti menyisihkan uang belanjanya sebesar Rp 3.000 per hari. Setahun kemudian, hasil tabungan itu dipakai untuk membeli sepeda. Wanita perkasa itu mengayuh sepeda untuk menebarkan ilmu dari buku-buku koleksinya. Rata-rata sehari ia menempuh jalak 20 kilometer. Dengan sepeda itu, Kiswani berkeliling kampung mengedarkan buku koleksinya, tanpa memungut biaya sepeser pun.

''Anggap saja perpustakaan keliling kecil,'' kata Kiswanti. Ia merasa, buku masih menjadi barang mewah untuk keluarga-keluarga itu. "Saya bilang ke mereka, kalau anak-anak saya bisa pintar dan masuk sekolah favorit, itu karena saya membiasakan membaca buku," ujar ibunda Afief Priadi, 16 tahun, siswa terbaik SMK II Ciluar, Bogor, dan Dwi Septiani, 12 tahun, kelas V SD Lebak Wangi, itu.

Usahanya bersepeda, selama sekitar sembilan bulan pada 2003, membuahkan hasil. Tetangga sekitar, yang mayoritas buruh pabrik garmen, mulai kecanduan membaca. Jiwa mendidik Kiswanti tak hanya tertuang melalui perpustakaan, melainkan juga pada sikap tegasnya untuk tak menjual barang dagangan yang tidak bermanfaat di warungnya.

Misalnya makanan ringan berpengawet tinggi atau mainan tiup yang konon mengandung racun. "Saya kira, tidak adil kalau kita hanya berbicara keuntungan,'' ia menegaskan. Untuk mengajarkan disiplin, ia hanya menjual permen kepada anak-anak yang sudah mandi, suka minum air putih, atau sudah makan.

Ide Kiswanti menularkan budaya baca timbul ketika ia sering mendengar anak-anak di sekitarnya kerap mengeluarkan kata-kata kotor. Prihatin atas kondisi itu, ia mengumpulkan mainan bekas dan mengajak mereka bermain. Sembari bermain, ia membacakan buku-buku koleksinya.

Kemudian muncul gagasan untuk berjualan sembari membawa buku. Ia yakin, banyak masyarakat yang punya minat baca tapi tidak mampu membeli buku. Ia mendendam karena tidak mampu bersekolah. Setelah ia lulus SD, ayahnya, Trisno Suwarno, meminta maaf karena tidak mampu menyekolahkan Kiswanti ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Sang ayah berpesan, kalau ingin pintar, ia harus banyak membaca. Sebagai ganti sekolah, sang ayah membelikannya buku dan majalah bekas. Kecintaan Kiswanti pada buku sangat besar. Ia bahkan bermimpi memiliki perpustakaan sendiri. Cita-cita itu dituliskan pada selembar kertas yang ditempel di diding rumahnya di Bantul, Yogyakarta. ''Nama: Kiswanti, Lahir: Sabtu Wage, 4 Desember 1963, Cita-cita: Ingin Punya Perpustakaan Sendiri''. Begitu bunyi kertas tersebut.

Untuk mewujudkannya, ia pergi ke Jakarta dan menjadi pembantu rumah tangga untuk satu keluarga Filipina pada 1989. "Saya tidak minta dibayar dengan uang, tetapi dengan buku,'' ujarnya. Selama lima tahun bekerja di sana, Kiswanti mengumpulkan 180 buku. Sekitar tahun 1994, ia bertemu dengan Ngatmin, yang pada saat itu masih bekerja sebagai buruh bangunan. Keduanya kemudian menikah.

Setelah menikah, mereka pindah ke Parung, Bogor. Awal tinggal di sana, Kiswanti selalu takut karena setiap pulang dari Jakarta, banyak laki-laki yang mengira dirinya wanita tunasusila. ''Pada saat itu, Parung masih terkenal dengan warung remang-remang,'' ia mengenang. Setelah berumah tangga, Kiswanti masih rajin mengumpulkan buku, bahkan meminjamkannya kepada masyarakat setempat.

Karena belum punya rak buku, ia meletakkan buku koleksinya di dalam kardus. Hobinya berkeliling kampung dengan sepeda sembari meminjamkan buku sempat terhenti, karena ia terserang liver pada pertengahan 2005. Kiswanti sering merasa cepat lelah dan mual. Semula, ia mengira sedang hamil. Namun pemikiran itu hilang karena haidnya lancar. ''Tiba-tiba saja saya pingsan ketika pulang dari berkeliling,'' katanya. Ketika ia dibawa ke rumah sakit, dokter memvonis bahwa livernya terganggu.

Kiswanti pun diharuskan beristirahat. Selama enam bulan ia minum jamu temulawak. Kondisinya pun berangsur-angsur membaik. Meski ia sakit, perpustakaannya tetap berjalan. Bedanya, masyarakatlah yang mulai mendatangi rumahnya. Pada saat itulah Kiswanti merasa rumahnya sangat sempit dan tidak muat untuk menampung orang yang berkunjung.

Ketika mendapat bantuan dari Departemen Pendidikan Nasional sebanyak Rp 7 juta, ia memanfaatkan uang itu untuk membangun ruangan yang kini menjadi perpustakaan. Karena masih kurang, ia terpaksa menjual motor suaminya. Kemudian ditambah dengan uang hadiah ikut program ''Tantangan'' di Lativi. Sisa uangnya dibelikan rak dan buku-buku untuk menambah koleksi. Kini buku koleksinya mencapai 3.000-an.

Selain meminjamkan buku, Kiswanti juga mengusulkan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya, seperti kursus memasak dan menjahit. Ia pun pernah mengadakan lomba jalan sehat dan seminar kesehatan. Kini Kiswanti sedang sibuk membujuk para tetangganya untuk menanam tanaman obat atau tanaman produktif lainnya. ''Kemarin sudah ada yang panen jeruk dan menyumbang buku ke perpustakaan sebagai ucapan terima kasih,'' ujarnya.

Usaha Kiswanti tak pernah disokong dengan modal yang besar. Hanya tekad dan kecintaannya pada buku yang mendorongnya berusaha tanpa kenal lelah.

Elmy Diah Larasati
Majalah Gatra edisi 28 / XIV / 28 Mei 2008

Toko Buku Luar Jawa: Hidup Enggan Mati Tak Mau

Toko Buku Luar Jawa: Hidup Enggan Mati Tak Mau

Kalau berbicara tentang toko buku, bayangan kita pasti tertuju pada sejumlah toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung, Kharisma, dan sebagainya. Di toko buku sekelas ini, orang datang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan intelektual lewat buku, melainkan juga untuk tujuan lain: sekadar window shopping, ingin menikmati situasi toko buku sambil membolak-baiik buku sampai kumal, bahkan sekadar menemani pacar. Toko buku sekelas ini di Jawa umumnya dikelola secara profesional sehingga toko buku menjadi nyaman, tata letak buku menjadi menarik, pramuniaga sangat ramah, dan penyediaan buku sangat bervariasi. Bagaimana dengan toko buku di luar Jawa?

Tulisan ini secara ringkas menyentuh masalah pertokobukuan luar Jawa khususnya di Kawasan Indonesia Timur (KIT) berdasarkan pantauan penulis selama mengadakan lawatan ke KIT belum lama ini. Yang disoroti di sini antara lain kondisi toko buku luar Jawa (TBLJ), faktor yang menyebabkan TBLJ hidup enggan mati tak mau, upaya untuk mendenyutkan kembali nadi pertokobukuan luar Jawa, dan peluang bisnis di bidang ini. Tulisan kecil ini tidak menyinggung sejumlah toko buku besar di kota besar tertentu luar Jawa yang juga cukup "wah".

Kondisi Pertokobukuan Luar Jawa
Ungkapan hidup enggan mati tak mau sangat cocok untuk melukiskan kondisi TBLJ karena eksistensinya cukup memprihatinkan. Hal ini tercermin dalam pengelolaan toko buku yang belum profesional dalam hal penyediaan jenis buku yang minim, penataan letak buku yang kurang bagus, kekurangnyamanan toko buku, promosi yang kurang gencar, dan sebagainya.

Dapat dikatakan bahwa jenis atau judul buku yang disediakan sangat terbatas, Beberapa toko buku hanya menyediakan buku pelajaran. Di toko buku seperti ini, menemukan buku-buku umum seperti filsafat, sastra, atau budaya adalah sesuatu yang langka, Ketika sejumlah pramuniaga ditanya mengapa hanya buku-buku pelajaran yang disediakan, mereka mengatakan bahwa hanya buku-buku jenis inilah yang sedikit mendongkrak angka penjualan. "Jangankan beli buku-buku umum, beli buku pelajaran pun orang masih pikir-pikir," kata Mery, seorang pramuniaga toko buku. "Kami hanya menyediakan buku-buku pelajaran karena yang berminat beli buku sebagian besar adalah siswa. Itu pun karena mereka dipaksa oleh guru-guru mereka," tambah Lisa, rekan Mery. Di beberapa toko buku yang lain, keadaannya lain lagi. Selain buku-buku pelajaran, masih bisa ditemukan buku-buku bertema umum. Namun, buku-buku umum tersebut buku-buku lama yang mungkin sudah harus dikategorikan sebagai second-hand books. Itu pun second-handbooks untuk tingkat Indonesia, bukan second-hand books seperti di negara maju; second-hand books masih seperti buku baru atau masih dalam kondisi baik.

Penataan letak buku juga terkesan kurang profesional. Buku-buku ditata seperti penataan obat di apotek di Jawa sehingga para pembeli mengalami kesulitan dalam mencari sendiri, memilih. menimbang, dan memutuskan untuk membeli buku. Proses transaksinya adalah pembeli datang, lalu menanyakan jenis buku yang hendak dibeli kepada pramuniaga toko. Kemudian, si pramuniaga mengambiikan buku tersebut. Di sini tidak ada kesempatan bagi pembeli untuk mempertimbangkan buku sebelum memutuskan untuk membeli, apalagi sekadar untuk baca-baca atau membolak-balik buku sampai kumal seperti yang sering terjadi di Toko Buku Gramedia.

Kenyamanan dalam toko buku juga merupakan sesuatu yang hanya ada dalam bayangan. Ruangan sejuk ber-AC, alunan musik instrumental, atau lagu-lagu yang lagi hit seperti yang sering kita temukan di beberapa toko buku di Jawa juga merupakan barang langka. Dalam segi ini, orang yang pergi ke toko buku adalah orang-orang yang memang betul-betul sangat membutuhkan buku. Lain halnya kalau di Jawa, orang yang pergi ke toko buku bisa juga just for fun, hanya sekadar untuk bersenang-senang. Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa orang yang mengunjungi toko buku bisa dihitung dengan jari tangan.

Di sebuah toko buku, keadaannya lain lagi. Di sini, selain buku, juga dijual sembako. Jadi, pembeli buku bisa sekaligus membeli gula, garam, beras: atau susu bayi. Kalau diamati, pengunjung toko buku jenis ini sebagian besar hanya datang untuk membeli sembako, bukan buku. Kalau sembako disediakan di lantai lain, mungkin ceritanya lain. Yang terjadi, semua diatur atau ditata dalam satu ruangan. Apa yang menyebabkan TBLJ bernasib seperti ini?

Pelemah Nadi Toko Buku
Ada beberapa faktor yang menyebabkan TBLJ mengaiami nasib yang memprihatinkan. antara lain akses informasi, transportasi, daya beli, kurangnya perhatian pemerintah setempat, nihilnya investor di bidang pertokobukuan, dan kurangnya kerja sama pihak toko buku dengan pihak-pihak terkait.

Akses informasi baik dalam skala nasional maupun internasional masih menjadi kendala daiam khazanah TBLJ. Informasi sekitar perbukuan sangat lamban yang akhirnya menghambat kegiatan pertokobukuan. Dalam hal ini, informasi tentang buku-buku baru dan buku-buku laris yang sedang "hit" sangat lambat. Mengakses informasi atau memesan buku lewat internet masih merupakan impian semata. Masalah lain yang tidak jauh mengenaskan adalah transportasi. Faktor ini tidak hanya menjadi kendala dalam faktor biaya pengiriman, tetapi juga kecepatan pengiriman buku. Kalau buku-buku dikirim lewat darat-laut, dibutuhkan waktu lama sehingga akan terjadi keterlambatan dan buku akan sampai lebih lama.

Persoalan daya beli masyarakat juga menjadi persoalan lain yang sangat serius. Sangat mustahil bagi pihak toko buku untuk mendatangkan berbagai macam buku dalam jumlah besar kalau daya beli masyarakat masih rendah. Umumnya faktor ini dipicu oleh minat baca masyarakat yang masih berada di garis nol dan keadaan perekonomian masyarakat yang belum menggembirakan. Akibatnya, menumpuknya buku di toko buku sampai sekian tahun, yang tentu saja membuat pihak toko buku "enggan" untuk mendatangkan berbagai macam buku baru dari Jawa dalam jumlah besar dan variatif.

Perhatian pemerintah daerah di bidang ini pun masih sangat minim. Pihak toko buku tidak ubahnya seperti bakul telo yang dibiarkan berjuang sendirian demi perut sendiri.

Minimnya investor di bidang pertokobukuan juga menjadi masalah tersendiri. Bagi para investor, toko buku di KIT belum merupakan lahan usaha yang menggiurkan. Mereka belum menyadari bahwa apabila TBLJ dikelola secara profesional, bukan tidak mungkin pertokobukuan menjadi profitable sector.

Faktor lain yang ikut memperlemah nadi TBLJ adalah kurang proaktifnya pihak toko buku dalam bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. Misalnya, sangat minimnya kerja sama dengan toko buku dan penerbit-penerbit di Jawa.

Benang kusut pertokobukuan yang digambarkan di atas mungkin bisa diurai sedikit demi sedikit lewat upaya-upaya berikut.

Upaya Penyelamatan
Untuk menguatkan kembali denyut nadi TBLJ, ada beberapa upaya penyelamatan yang dapat dilakukan. Pertama, TBLJ harus bersinergi dengan penerbit dan toko buku nasional yang sebagian besar berpusat di Jawa. Sinergi semacam ini sangat penting untuk memudahkan TBLJ mendapatkan informasi perbukuan secara lebih luas dan mudah serta mendapatkan buku-buku baru yang bervariatif dengan cepat. Dengan demikian, penyebaran ilmu pengetahuan dan pendidikan juga semakin cepat dan merata sehingga masyarakat mendapat kesempatan yang sama dalam hal memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan seperti yang didapatkan di Jawa.

Kedua, harus ada kerja sama antara pemerintah daerah (pemda) dan pihak swasta daerah. Bentuk kerja sama ini lebih difokuskan pada upaya saling mendukung dalam mendirikan dan mengembangkan toko buku serta mendatangkan buku-buku baru. Dengan kerja sama seperti ini, pemda tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah, tetapi juga ikut menekan angka pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja lewat toko buku.

Ketiga, pihak TBLJ harus proaktif daiam berusaha menarik minat para investor agar mau berinvestasi di bidang pertokobukuan. Pihak toko buku atau mereka yang berminat mendirikan sebuah toko buku perlu mencari terobosan baru agar para investor berani menanamkan modal. Hal ini merupakan sebuah lahan basah bagi para investor karena apabila sebuah toko buku dikelola secara profesional, minat beli konsumen pun akan meningkat.

TBLJ tampaknya akan tetap dibelit benang kusut yang mustahil terurai jika tidak segera dibenahi. Oleh karena itu, perhatian semua pihak merupakan kunci utama daiam pengembangan dan pengelolaan TBLJ. Dengan demikian, misi dan visi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lewat buku akan terwujud.

Silvester Goridus Sukur, penulis buku, bekerja di ELTI-Gmmedia Yogyakarta.
Majalalah MataBaca Vol. 1 / No. 12 / Agustus 2003.

Paulo Freire: Bapak Pendidik Kaum Tertindas

Paulo Freire: Bapak Pendidik Kaum Tertindas

Paulo Freire (1921-1996) adalah "Bapak Pendidik Kaum Tertindas" yang cukup dikenal di seluruh dunia. Pemikirannya senantiasa relevan untuk dikedepankan berkaitan dengan pendidikan dan kebangkitan masyarakat, dari manusia-manusia yang bodoh, terbelakang, dan tertindas menjadi manusia-manusia yang memiliki pengetahuan, harga diri, dan kebebasan menggapai kemajuan. Tentu saja, mengenal dan mempelajari gagasan dan pemikirannya membutuhkan keterbukaan dan pembebasan diri yang cukup, setidaknya menjauh dari dogma anti-Marxian yang banyak dikaitkan dengan tokoh satu ini.

Tulisan ini mencoba memaparkan sebagian pemikiran Paulo Freire, terutama yang dipaparkannya melalui buku Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed (Pedagogi Pengharapan: Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas, Kanisius, 2001). Kedua buku ini layak untuk disimak, antara lain karena ditulis oleh Freire di penghujung usianya, setelah melewati berbagai pengalaman lapangan yang membuatnya mampu merefleksikan kembali pemikiran tentang pendidikan kaum tertindas. Satu buku lagi dari seri penghujung usia ini adalah; Letters to Christina dan Pedagogy of the City (1993), yang semoga akan segera kita dapatkan terjemahannya dalam bahasa Indonesianya. Karya-karya terakhir ini terasa penting karena menghidupkan kembali gagasan-gagasan dan semangat revolusioner Freiran, yang telah dituangkan dalam magnum opusnya Pedagogy of the Oppressed (1972), untuk mengentaskan kaum tertindas yang dibelanya secara mati-matian demi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan ramah.

Gagasan dan semangat revolusioner tersebut bisa kita simak dalam perjalanan panjang kehidupan Freire yang terekam dalam karya-karyanya dan media massa pada tahun 1960-an sampai 1990-an. Dilahirkan di kota Recife, Brazil pada 19 September 1921, Freire mengalami sendiri kesengsaraan kaum papa yang ditindas oleh tuan-tuan tanah yang berkolaborasi dengan penguasa militer. Kematian ayahnya sebagai penyangga perekonomian keluarga di kala Freire masih remaja dengan adik-adiknya yang kecil, menambah penderitaan keluarganya. Himpitan ekonomi ini segera mendesak Freire untuk bekerja sebagai guru bahasa Portugal, sebuah bahasa yang dikuasainya dengan baik.

Jiwa pendidik ini sesungguhnya telah dirasakan Freire sejak kecil. Dia menceritakan bagaimana, misalnya, pada masa kanak-kanak dirinya memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan. Menginjak dewasa, meski sempat menjadi pengacara, minatnya pada dunia pendidikan tidak surut, tetapi malah berkobar-kobar seiring dengan pengalaman-pengalaman yang dijumpainya di tengah-tengah kondisi sosial, ekonomi dan politik Brazil yang carut marut. Kiprah pendidikannya untuk kaum tertindas inilah kemudian yang merangsang lahirnya pemikiran-pemikiran dan praksis-praksis kebebasan, yang juga mengantarkannya ke alam pengasingan dan pembuangan. Dan kerja keras ini akhirnya berhasil mengubah wajah pendidikan di Brazil dan mengharumkan namanya di seantero dunia.

Banyak hal memang yang bisa dicatat dari pemikiran dan praksis tokoh pendidikan yang satu ini. Boleh dikata seluruh hidupnya memberikan sebuah skema gerakan yang lengkap, sejak dari caranya melihat dan merumuskan persoalan, merancang pendekatan dan strategi, menerapkannya dalam praksis atau aksi kongkret, dan mengevaluasinya secara berulang-ulang. Lagi pula, perjuangan Freire tidak hanya dipraktikkan di Brazil, tetapi juga di negara-negara lain termasuk Guinea-Bissau dan Amerika Serikat sebagai bagian dari Dunia Ketiga dan Dunia Pertama. Persoalan pokok yang dijumpainya di sejumlah negara itu adalah penindasan oleh kelompok-kelompok yang dominan terhadap kelompok-kelompok yang lemah secara ekonomi, politik, sosial dan pendidikan.

Cara pandangnya ini tampak sangat Marxian yang mengelompokkan masyarakat menjadi borjuis dan proletar. Namun, bukan berarti Freire setuju sepenuhnya dengan ide-ide Marxis. Misalnya, dia menentang aksi kekerasan yang dianjurkan Marx untuk menumpas kelas borjuis. Freire cenderung pada pendekatan dan strategi damai melalui kancah pendidikan untuk mengurai benang kusut penindasan. Menurutnya, penindasan ini tidak akan lenyap jika kaum tertindas tidak menyadari ketertindasannya dan tidak berusaha melepaskan diri dari jerat penindas-penindasnya yang sistemik. Oleh karena itu, pendidikan individu dan pendidikan masyarakat ini sangat signifikan untuk menyadarkan manusia atas persoalan penindasan yang menimpanya dan apa yang harus dilakukan demi masa depan yang lebih baik.

Tujuan utama pendidikan Freire adalah Conscientizacao, konsientisasi, penyadaran (William A. Smith, Conscientizacao: Tujuan Pendidikan Paulo Freire, 2001). Lebih tepatnya adalah peningkatan menuju kesadaran kritis sebagai fase kesadaran tertinggi. Paulo Freire membagi tingkat kesadaran menjadi tiga, yakni: magis, naif, dan kritis. Orang yang berkesadaran kritis akan mampu melihat akar persoalan penindasan dengan objektif , yakni sistem dan struktur politik, ekonomi, sosial dan kultural masyarakat. Oleh karena itu, yang harus diubah adalah sistem dan strukturnya secara keseluruhan, bukan sekedar pelaku dan bentuk lembaga-lembaga yang ada.

Berbeda halnya orang yang masih dalam tingkat kesadaran magis dan naif, dia melihat apa yang sedang terjadi di sekelilingnya secara subjektif. Orang yang berkesadaran magis memandang, misalnya; kemiskinannya sebagai masalah yang di luar jangkauannya, karena menurut dia, disebabkan oleh kekuatan-kekuatan supranatural. Dia merasa dikepung oleh kekuatan-kekuatan magis, sehingga cara berpikir seperti ini menandai kebudayaan magisnya. Sementara itu, orang yang berkesadaran naif melihat akar persoalan yang menimpanya terletak pada faktor manusia. Walaupun manusia itu merupakan faktor penting, tetapi ia hanyalah salah satu faktor dalam sebuah sistem, dan makanya tidaklah cukup mengubah penindasan dengan membidik manusianya semata.

Dicontohkan oleh Smith dalam bukunya itu, jalan keluar yang ditempuh oleh orang yang berkesadaran naif adalah menebar kebencian subjektif terhadap tuan-tuan tanah dan para penguasa sebagai pelaku penindasan. Sikap ini agak mirip, untuk tidak mengatakan sama, dengan euforia banyak kelompok masyarakat di negara kita yang menempuh cara-cara kekerasan subjektif untuk memperjuangkan aspirasinya. Kalaupun cara-cara ini berhasil, sifatnya hanya sementara dan parsial, sedangkan sistem kehidupan kita yang korup masih menyisakan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Di sinilah Paulo Freire memberikan solusi sistemik dan struktural dalam teori dan praksis pendidikannya.

Dalam buku Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire mengisahkan perjuangannya di lingkaran pemerintahan. Dipaparkannya pengalamannya sebagai Sekretaris Departemen Pendidikan Kota di Sao Paulo semasa pemerintahan Walikota Luiza Erundina. Sebagai pejabat pemerintah di Departemen Pendidikan, saat itu dia dihadapkan pada persoalan, yang disebutnya sebagai, kebangkrutan pendidikan secara kuantitatif dan kualitatif. Ada sekitar lima puluh sekolah yang rusak, lima belas ribu bangku sekolah hancur, juga macetnya keran-keran air dan putusnya aliran listrik di sekolah-sekolah di kota Sao Paulo. Bagaimana mungkin keadaan sekolah yang sedemikian mengenaskan ini bisa mendidik siswa-siswa secara baik? Belum lagi iklim kehidupan sekolah yang otoriter, kacaunya prosedur perekrutan dan pembinaan guru dan keroposnya kurikulum. Situasi ini mungkin sedikit lebih baik dibandingkan kehidupan pedesaan yang digeluti sebelumnya, tetapi secara keseluruhan: bangkrut.

Paulo Freire, khususnya melalui kedua buku di atas, menekankan pentingnya optimisme (harapan) dan hati nurani untuk menghadapi dan menuntaskan bangkrutnya kehidupan masyarakat. Lazimnya, kebangkrutan itu, apalagi kebangkrutan yang berkepanjangan seperti yang melanda Indonesia ini, menimbulkan kegusaran, kemarahan, irasionalitas, pesimisme dan sikap-sikap negatif lainnya. Sikap-sikap negatif ini pada gilirannya akan melahirkan penyakit-penyakit sosial yang semakin memperparah keadaan, padahal sangat diperlukan adanya perbaikan yang segera dan menyeluruh. Dalam hal ini, Paulo Freire mengingatkan kita untuk selalu memupuk optimisme dan hati nurani.

Kelelahan kita dalam usaha mengentaskan krisis yang tak kunjung reda ini sudah cukup menghempaskan asa kita. Kemarahan kelompok-kelompok masyarakat telah cukup memiriskan hati kita. Hampir-hampir kita limbung dan terjatuh. Di sinilah pentingnya optimisme dan hati nurani. Optimisme itu menggugah kita akan masa depan yang lebih baik. Nurani itu menyejukkan dan menenangkan jiwa kita untuk merumuskan solusi secara jernih serta mempraktikkannya. Optimisme itu menggerakkan kesadaran untuk melangkah, sedangkan hati nurani memantapkan ayunan dan pijakan kaki. Krisis ini bukannya tanpa akhir, niscaya ada hari esok yang cerah. Rasa-rasanya, optimisme dan hati nurani ini merupakan kebutuhan ontologis manusia yang akan bisa menyangga eksistensinya di dunia ini.

Lebih dari itu, optimisme dan hati nurani tersebut perlu diobjektivikasi secara kongkret. Artinya, optimisme dan hati nurani harus diejawantahkan dalam penerapan solusi sistemik berdasar modal-modal yang masih dimiliki. Dalam konteks negara kita, modal yang bisa dicatat di antaranya bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu, Pancasila sebagai kontrak sosial (meminjam istilah Ong Hok Ham), kemauan kolektif untuk keluar dari krisis, sumber daya alam yang masih cukup dan utang dari luar negeri yang masih mengalir. Akan tetapi, seperti kata banyak pengamat, sumber daya manusia (SDM) kita yang rendah menyebabkan penyelesaian krisis ini menjadi lebih lambat dibandingkan dengan Thailand dan Korea Selatan.

Dalam kasus ini, lagi-lagi kita bisa mengaca pada program-program Departemen Pendidikan Kota Sao Paulo semasa Paulo Freire menjabat sebagai pimpinannya. Untuk membidani lahirnya generasi yang menyadari kondisi lingkungannya dan yang berkualitas, Freire membentuk tim reformasi kurikulum dan pembenahan prosedur perekrutan dan pembinaan guru. Tim reformasi kurikulum beranggotakan ahli-ahli dari berbagai bidang, seperti sosiologi, antropologi, fisika, matematika, bahasa, seksologi, dan feminisme di sejumlah universitas. Sementara Freire sendiri terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya di lapangan.

Reformasi kurikulum yang digagas Freire tersebut juga melibatkan seluruh komponen sekolah: guru, siswa, tenaga administrasi, tukang kebon, karyawan kafetaria, wali murid, dan masyarakat sekitar sekolah. Mereka diwawancarai oleh Freire dan diundang dalam konferensi atau seminar yang membicarakan persoalan-persoalan pendidikan bersama-sama dengan tim reformasi kurikulum. Konferensi ini bertujuan mengeksplorasi masalah dan merumuskan solusinya dengan partisipasi seluruh peserta. Salah satu hasilnya adalah pembentukan dewan sekolah sebagai wakil masyarakat untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka. Yang hendak digarisbawahi Paulo Freire dalam program ini adalah keseriusan dan partisipasi seluruh pihak secara demokratis.

Sementara itu, untuk memperbaiki fisik sekolah, Paulo Freire mengajak pihak-pihak yang memiliki banyak dana untuk membantunya, apalagi mengingat keuangan pemerintah sangat minim. Dikisahkan, Freire merekam sekolah-sekolah yang rusak dalam video kaset, yang kemudian dipertontonkan kepada para peserta konferensi. Dari sinilah dana swadaya masyarakat mengalir, sehingga sedikit demi sedikit bangunan sekolah dan sarana pendidikan lainnya diperbaiki, bahkan dilengkapi dengan alat-alat teknologi canggih seperti internet yang dibanggakan Freire. (Freire terkejut ketika diberitahu cucunya Alexandre Dowbor, bahwa dirinya mendapat e-mail dari seorang Jerman yang ingin mengetahui alamat Freire. Tidak lama kemudian, Freire bisa berkomunikasi langsung dengan orang Jerman itu).

Apa yang dilakukan Paulo Freire tersebut baru dalam lingkup sebuah kota, dengan dukungan penuh dari walikotanya. Perlu dicatat bahwa hasil dari program-program Freire tidak langsung bisa dipetik, tetapi yang jelas Freire meninggalkan jejak yang telah mengubah wajah pendidikan Brazil, meski dia tidak lagi menduduki jabatannya di Departemen Pendidikan. Dan memang kembali harus disadari bahwa pendidikan ini merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan nasib sebuah bangsa. Pendidikan, peningkatan SDM, dan masa depan bangsa niscaya sangat terkait. Oleh karena itu, daya saing sebuah bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di era kompetisi ini benar-benar ditentukan oleh kebijakan pemerintah dan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan SDM via pendidikan.

Terakhir, meski pemikiran dan praksis Paulo Freire diakui kepopulerannya, setidaknya ada dua kritik yang bisa disampaikan. Menurut A. Sudiarja dalam sebuah diskusi buku Paulo Freire ini, sebelum diterbitkan ke dalam edisi bahasa Indonesia, Pertama, pendekatan strukturalis Freire terhadap struktur masyarakat yang tidak adil tidak tepat lagi karena dinamika masyarakat. Anthony Giddens, misalnya, lebih melihat dinamika ini sebagai praktik sosial dalam rangka strukturisasi yang kontinu. Kedua, penolakan Freire atas perjuangan kelas Marx tidak diimbangi dengan eksplorasi yang lebih mendalam tentang aksi dialog multilateral sebagaimana yang dikembangkan oleh Martin Buber dan Habermas. Freire sebatas mengusulkan dialog bilateral antara guru dan siswa, elite penindas dan kaum tertindas. Sampai di sini, tampaknya pemikiran dan praksis Freirean ini membutuhkan pemikiran dan praksis generasi penerusnya supaya lebih sesuai dengan konteks (pasca) anno horribilis ini.

Oleh: Agung Prihantoro
Majalah MataBaca

Frankfurter Buchmesse: Buku, Penulis, dan Peradaban

Frankfurter Buchmesse: Buku, Penulis, dan Peradaban

Pekan Raya Buku Frankfurt atau Frankfurter Buchmesse kembali digelar pada 10-14 Oktober lalu. Sebanyak 7.448 peserta dari 108 negara menampilkan 391.653 judul buku dalam hajatan tahunan berskala internasional itu. Selama pameran, sebanyak 154.269 orang datang sebagai pengunjung. Adapun tamu kehormatan atau guest of honour kali ini adalah budaya Katalan.

Katalan adalah sebuah rumpun bahasa yang digunakan di Laut Tengah wilayah Catalonia. Tercakup di dalamnya Andorra, sebagian daerah di Spanyol, yaitu daerah Valencia dan Kepulauan Balearic (P. Majorca, P. Ibiza, P. Formentera, dan P. Minorca), Italia (P. Sardinia hanya di kota L'Alguer), dan Prancis Selatan. Tercatat 9,1 juta jiwa di daerah itu menggunakan bahasa Katalan. Meski begitu, mereka berhasil memboyong 150 penerbit dan 1.000 judul. Sebanyak 45 buku di antaranya bertema fiksi dan kumpulan sajak, yang sebagian baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Di antara ribuan peserta, dua stan dari penerbit Indonesia ikut menyemarakkan. Mereka adalah Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) dan Koekoesan, penerbit baru yang didirikan Rieke Dyah Pitaloka dan suaminya, Donny Gahral Adian. Ikapi mengikutsertakan 700 judul buku dengan 50 judul andalan. Yang ditampilkan Ikapi adalah buku bertema sosial politik, budaya, sejarah, dan bacaan populer dari berbagai penerbit anggotanya.

Menurut Herlina Solvia Hutauruk yang mewakili Ikapi, pihaknya ikut pameran dua tahun sekali. ''Dana adalah kendalanya,'' tuturnya Herlina. Sedangkan penerbit Koekoesan, yang baru pertama ikut pameran, mengandalkan fiksi terbaru mereka, Peri Kecil di Sungai Nipah, karya Dyah Merta dan beberapa karya lainnya.

Menurut Sahat K. Panggabean, Direktur Pemasaran Koekoesan, pasangan Rieke-Donny tak bisa hadir karena mengutamakan berhari raya bersama keluarga.

Holger Warnk, pengajar antropologi di Jurusan Asia Tenggara, Universitas Frankfurt am Main, ditemui di antara pengunjung pameran buku itu. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Holger berpendapat bahwa Indonesia memiliki banyak sekali penulis sastra yang bermutu. Adapun para penulis yang mendapat perhatian pengamat sastra Jerman antara lain Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Leila Chudori, Ayu Utami, dan Jenar Maesa Ayu.

Untuk nama besar Pramoedya, tampaknya tak perlu usaha keras dalam penjualan terjemahan bukunya. Ini karena nama Pramoedya sudah kondang di Eropa. Lain halnya denga buku Ahmad Tohari yang sulit sekali dalam pemasarannya. ''Pasar bagi penulis Asia di Eropa memang tidak besar, termasuk pemenang Hadiah Nobel dari Cina atau Jepang,'' papar Holger.

Dalam ajang pameran buku Frankfurt itu, negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia tampak serius menggarap promosi buku-buku dan penulis mereka. National Arts Council, Singapura, misalnya, memperkenalkan para penulis andalan negara itu dalam sebuah buku dengan tampilan apik dan meyakinkan, Literature in Singapore. Sebanyak 59 penulis beserta karyanya dalam empat kategori bahasa ''diperkenalkan'' dalam buku itu.

Khor Kok Wah, Deputy Chief Executive Officer dari National Arts Council, menerangkan bahwa instansinya adalah bagian dari pemerintah yang bertugas mempromosikan budaya, sastra, dan penulis Singapura agar dikenal dunia internasional. Sayangnya, tak satu pun penulis tersebut datang pada pameran itu.

Apa yang dilakukan Singapura itu tampaknya menjadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah Singapura memberi dorongan penuh kepada para penerbit dan penulisnya agar dikenal oleh dunia.

Adapun Indonesia, dengan banyaknya penulis bermutu di bidangnya, bisa ikut menyapa dunia dengan menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa-bahasa dunia. Pemerintah mestinya memberi perhatian lebih pada masalah ini. Sebab buku memberi andil pada suatu peradaban, dan penulisnya adalah seniman yang mengukir peradaban itu.

Miranti Soetjipto Hirschmann (Frankfurt, Jerman)
Majalah Gatra edisi 51 / XIII / 7 November 2007

Cara Meresensi Buku

Cara Meresensi Buku

Patut disyukuri bahwa kini banyak media massa cetak memuat resensi buku. Kebaikan dan kebijaksanaan para redaktur yang telah memberikan ruang bagi para peninjau buku, merupakan angin segar bagi para bookholic (kutu buku). Kondisi seperti ini amat jauh berbeda dengan warsa 1960-an; media massa begitu jarang memberikan ruang bagi peninjau buku. Itu makanya pendapat pribadi kian dihargai di negeri ini (Wilson Nadeak, 1994:246).

Dari sejumlah buku dan artikel yang mengulas tentang resensi buku, saya nukilkan definisi resensi. Kata resensi memang jarang dipasang sebagai nama rubrik dalam media massa. Kompas dan Pikiran Rakyat memasang nama "Tinjauan Buku", Republika memakai nama "Pustaka", Galamedia memasang "Bedah Buku", majalah Gatra memakai nama "Resensi", Tempo memakai nama "Buku", dan sejumlah media pers bernapaskan Islam memasang nama "Kitabah" atau "Telaah Kitab". Padahal, semua itu pada hakikatnya berupa resensi.

Kata recensie (bahasa Beianda) sepadan dengan review (bahasa Inggris) yang semuanya bersumber dari bahasa Latin, revidere re = kembali dan videre = melihat). Pengertian "melihat kembali" meluas menjadi "mengatakan kembali" secara tertulis tentang pengalaman yang dirasakan dan dilihatnya atas sebuah karya (buku) dengan objektif. Simpulannya, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai sebuah hasil karya (buku).

Dalam praktiknya, resensi ini dibedakan antara review (tinjauan) dan criticism (timbangan). Tinjauan berarti sajian laporan tanpa disertai opini pribadi peninjau sebab peninjau mungkin bukan seorang ahli dalam bidang yang dibicarakan dalam buku bersangkutan sehingga tulisannya menyerupai ringkasan atau ikhtisar, sedangkan menimbang buku pasti mencerminkan opini pribadi peresensi. Menimbang buku atau mengkritik buku itu akan bergerak dari satu objek ke subjek. "Biasanya penulis resensi seperti ini seorang pakar atau setidaknya seseorang yang dianggap mengetahui persoalan, bahkan resensinya cenderung merupakan hasil evaluasi. Tidak jarang pula berbau analitik dan interpretatif, Dalam hal ini, resensor itu tidak lagi membicarakan isi buku, tetapi konteks dan relevansinya." (Maman S, Mahayana, "Resensi Buku; Usaha Meningkatkan Minat Baca", majalah Berita Buku No. 57 Tahun VIII, Februari 1996).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku. Pertama, tujuan meresensi buku ialah menyajikan kepada pembaca, apakah sebuah buku (fiksi atau non-fiksi) layak mendapat sambutan dari masyarakat pembaca ataukah tidak.

Kedua, pertimbangan yang disampaikan penulis resensi disesuaikan dengan selera pembaca. Oleh karena itu, pertimbangan yang disampaikan melalui sebuah media massa mungkin berbeda dengan pertimbangan lain yang dimuat media massa lainnya.

Ketiga. penulis resensi harus tahu betul tujuan pengarang buku yang bukunya hendak diresensi.

Keempat, peresensi mencantumkan riwayat buku: pengarang, penerbit, edisi, editor, penerjemah, tempat penerbit jumlah halaman, dan harga buku.

Kelima, peresensi harus mampu menunjukkan atau meyakinkan pembaca tentang buku baru atau buku yang sudah langka, termasuk golongan mana buku itu (fiksi atau non-fiksi).

Keenam, peresensi menunjukkan keunggulan buku (segi mana yang menarik dari buku yang hendak diresensi —segi penulisan dan penetapan pokok yang khusus), segi organisasi karya (kerangka buku, hubungan satu dengan yang lainnya jelas; selaras, ada perkembangan yang logis), Apakah bagian yang terdahulu menjadi sebab atau dasar bagi bagian yang lainnya. Segi bahasa (jelas, teratur, dan mudah dicerna), Segi perwajahan/layout (salah cetak dan tanda baca) yang mengganggu kenikmatan pembacaan. Kutipan atau bagian tertentu yang saling berjalinan dan mendukung antar bagian teks.

Hal yang patut diperhatikan juga ialah peresensi buku harus berotak dingin dan berhati hangat. Maksudnya, pekerjaan menulis resensi adalah menganalisis dan membandingkan sehingga ia harus berotak dingin dan berhati hangat agar intelektualnya tidak tertutup oleh emosi yang tak terkendali (meminjam istilah Sri Yudianti, "Kreativitas Pemikiran dalam Meresensi Buku: Sudahkah Terwujud?", Buku Panduan Pameran Buku Ikapi Jabar 1995).

Kasus seperti terjadi pada pengarang buku Psikolinguistik: Suatu Pengantar karya Sri Utari Subiyakto-Nababan yang merasa dirugikan pihak pembedah buku, J.D. Parera. Karena merasa dirugikan, penulis buku itu menantang Parera untuk menulis buku sejenis itu. Tanggapan penulis buku kemudian dimuat Kompas (11 Agustus 1993), nukilan pernyataannya: "Mungkin jarang kita temui suatu jawaban atau keterangan oleh penulis buku atas timbangan bukunya, sebab bahan timbangan buku bukanlah materi untuk polemik. Tetapi karena dalam hal ini, oleh berbagai hal yang ditulis penimbang buku dapat menyesatkan pembaca, saya merasa perlu sebagai penulis untuk meluruskan beberapa hal. Timbangan buku yang bersangkutan (J.D. Parera, pen) tidak/belum mengikuti konvensi timbangan buku karena sama sekali tidak membicarakan isi buku dan mengevaluasi penyajiannya, kecuali menyebutkan beberapa topik, yang menurutnya 'salah istliah' atau 'sepatutnya bukan kajian psikolinguistik'. Beliau (Parera, pen.) hanya menguraikan topik-topik apa yang penimbang akan memasukkannya jika beliau menulis buku psikolinguistik". (N. Daldjoeni "Resensi Buku yang Ditolak Pihak Pengarangnya", Kompas, 5 September 1993).

Memulai Membedah buku
Berikut ini tips untuk memulai bedah buku dari penulis terkemuka, Edwar Hower dalam bukunya Reviewing Books, The Writers Handbook, The Writer, Inc. (terjemahan Dadi Pakar).

Anda tidak perlu menjadi peresensi yang hebat agar karya anda dimuat dalam surat kabar. Banyak surat kabar daerah akan senang memuat tinjauan buku. Apa lagi jika anda seorang ahli dalam masalah yang dibahas dalam buku bersangkutan. Jika anda berpendapat ada buku yang perlu diresensi dan para pembaca akan suka atau perlu membacanya, cobalah hubungi redaksi surat kabar untuk menawarkan kesediaan anda menulis tinjauan buku tersebut.

Jika anda baru mulai menulis tinjauan buku, mungkin anda harus mendapatkan sendiri buku-buku yang akan ditinjau. Hal ini dapat dilakukan dengan membeli buku tersebut, atau mungkin juga dengan menghubungi bagian promosi/pemasaran penerbitnya. Beritahukanlah bahwa anda akan menyusun resensi buku tersebut untuk suatu media massa. Mudah-mudahan uang yang dikeluarkan untuk membeli buku itu, akan terganti oleh honorarium pemuatan tinjauan buku anda dalam media massa tersebut. Jika anda telah banyak menulis tinjauan buku dan para penerbit mengetahui karya anda, tidak mustahil mereka akan mengirimkan langsung buku-buku baru secara gratis dan meminta anda menulis tinjauannya.

Janganlah kecewa jika honorarium tinjauan buku Anda yang pertama dalam suatu media massa tidak besar. Anggaplah hal itu sebagai pelajaran dan untuk mencari pengalaman. Beberapa kliping tinjauan buku yang anda buat, dapat diperlihatkan kepada redaksi koran atau majalah lain, atau kepada penerbit buku ketika anda menawarkan jasa untuk menulis tinjauan buku.

Jika anda menghubungi redaksi surat kabar atau majalah untuk menawarkan jasa penulisan tinjauan buku, jelaskanlah jenis buku yang anda sukai atau kuasai, apakah buku sastra (fiksi), sosial, politik, atau tema lainnya. Baik juga jika anda meneliti, buku-buku apa saja yang biasa dimuat dalam koran atau majalah tertentu.

Mula-mula ketika anda membaca, buatlah catatan mengenai hal-hal yang ingin anda komentari. Sungguh mengherankan, betapa telitinya anda akan membaca buku, jika anda memegang pensil di tangan, anda dapat juga belajar banyak mengenai penulisan resensi dengan membaca tinjauan-tinjauan buku yang telah dimuat media massa.

Anda akan cepat mempelajari bahwa tinjauan buku yang baik, memuat unsur-unsur berikut ini: pembukaan yang menarik dan hidup, yaitu satu atau dua paragraf singkat yang menampilkan nama, gelar, terkadang informasi singkat tentang pengarang dan juga beberapa karya terdahulunya; ringkasan alur cerita (jika buku fiksi) atau tujuan utama dan pokok masalah suatu buku non-fiksi; pendapat penulis resensi mengenai kelebihan dan kekurangan/ kelemahan buku; paragraf singkat yang merupakan kesimpulan tentang kesan yang diperoleh dari buku tersebut.

Pembukaan
Menyusun paragraf pembuka yang menarik, merupakan tantangan paling besar pada penulisan tinjauan buku. Tujuannya untuk menarik perhatian pembaca agar mereka mau membaca hal yang ingin anda ungkapkan. Untuk memulainya, buatlah catatan-catatan. Ajukanlah sejumlah pertanyaan, misalnya, apakah yang menjadi tema utama buku tersebut, apakah keistimewaan buku tersebut dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, apakah dampak buku tersebut kepada pembaca? Kemungkinan Anda akan menemukan kalimat pembuka pada jawaban atas pertanyaan tersebut.

Nama pengarang dan judul buku non-fiksi biasanya dicantumkan pada paragraf pertama, tetapi terkadang Anda dapat memulai dengan gagasan terpenting buku tersebut.

Pada penulisan tinjauan buku non-fiksi, Anda dapat membukanya dengan latar belakang tentang masalah yang dibahas dalam buku tersebut, terutama bila hal itu merupakan hal yang baru bagi sebagian pembaca.

Ringkasan
Orang membaca tinjauan buku untuk mengetahui; apakah perlu membaca suatu buku tertentu. Anda perlu memberikan kepada mereka gambaran, apa yang ada di antara sampui-sampul buku tersebut. Ketika mengulas buku fiksi, ceritakanlah kepada pembaca tentang tokoh-tokoh utamanya, tetapi juga berikan ringkasan beberapa alurnya. Tidak ada hal yang lebih mengecewakan pengarang ataupun calon pembaca, daripada penulis resensi mengungkapkan apa yang terjadi pada akhir cerita! Biasanya penulis menyimpulkan sepertiga hingga setengah bagian pertama alur suatu novel, dan berhenti ketika suatu konflik akan diselesaikan, seorang tokoh akan membuat keputusan, atau adegan hebat akan mulai.

Lain halnya dengan tinjauan atas buku-buku non-fiksi, karya harus menyajikan pandangan menyeluruh tentang semua informasi penting. Sajikan tanggal, orang, tempat, gagasan, dan pernyataan, bagaimana pengarang tiba pada kesimpulannya.

Memilih cuplikan-cuplikan yang tepat dari buku, dapat menghidupkan tinjauan buku bagi pembaca. Carilah ucapan-ucapan yang menunjukkan kecerdikan, pengaruh, dan kekuatan pengarang, serta jelaskan kaitan antara pernyataan-pernyataan tersebut. Jangan lupa memberikan nomor halaman setelah kutipan.

Pendapat
Tatkala menyusun pendapat mengenai suatu buku, Anda dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: apakah yang diharapkan oleh pengarang, sejauh manakah ia berhasil, apakah buku tersebut dapat mempengaruhi saya, apakah yang saya sukai dari buku tersebut, dan apakah yang tidak disukai dari buku tersebut?

Baik juga jika Anda membagi penilaian menjadi dua kelompok, mengenai isi; apakah yang dikatakan pengarang dan gaya; bagaimana pengarang menyampaikannya. Jika mempertimbangkan isi karya fiksi, ajukanlah pertanyaan kepada diri sendiri (apakah para tokoh dan alurnya menarik, memikat, serta meyakinkan hingga akhir?). Mengenai gaya, buatlah kesimpulan tentang bahasa pengarang (apakah sederhana, kaku, dibuat-buat, atau puitis?).

Pada peninjauan buku non-fiksi, isi buku lebih penting daripada gaya yang digunakan, meski Anda perlu menyatakan apakah tulisan tersebut jetas dan mudah dipahami. Pertimbangkanlah, sejauh mana kesaksamaan dan pertimbangkanlah pengarang mencakup bahan, apakah fokus utama pengarang dan mengapa, apakah kesimpulannya ditopang bahan-bahan yang disajikan?

Anda boleh tidak setuju dengan kesimpulan suatu buku, tetapi Anda harus berusaha keras bersikap objektif, tidak berdebat dengan pengarang dan tidak mengatakan bagaimana Anda akan menyajikannya jika Anda menulis buku tersebut.

Paragraf Kesimpulan
Buatlah bagian penutup tinjauan buku secara singkat, lalu carilah kata-kata yang kuat, yang menyimpulkan pendapat Anda mengenai buku tersebut, Jika mungkin, ulangilah pernyataan yang dibuat pada paragraf awal. Ingat, tujuan Anda bukan hanya mengakhiri tulisan mengenai sebuah buku, melainkan juga menyajikan bagian akhir yang akan tetap dikenang sehingga menjadikan karya jurnalistik yang membanggakan, lama setelah buku dilupakan orang.

Begitulah gambaran dan langkah-langkah membedah buku. Semoga tulisan ini bermanfaat! Ada baiknya juga, Anda tentu harus membaca resensi karya orang lain, dibarengi dengan membaca buku teknik meresensi buku, misalnya, Pengantar Dunia Karang-Mengarang karya The Liang Gie (Liberty, Yogyakarta, 1992), Teknik Penulisan Timbangan Buku karya Purwono (Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, Yogyakarta, 1993), Bagaimana Menjadi Penulis yang Sukses karya Wilson Nadeak (Yayasan Pustaka Wina, Bandung, 1994), dan Dasar-Dasar Meresensi Buku karya Daniel Samad (Grasindo, Jakarta 1997).

Edi Warsidi, Ketua Kiub Baca "Kancil dan Buaya" Bandung, editor pada Penerbit Grafindo Media Pratama Bandung.
Majalalah MataBaca Vol. 1 / No. 12 / Agustus 2003.

Membaca & Menulis: Dua Keasyikan yang Saling Terkait

Membaca & Menulis: Dua Keasyikan yang Saling Terkait

"Saya tidak suka dengan cerpen Anda yang menggambarkan kehidupan hedonistis," begitu komentar seorang penanggap kepada Djenar Maesa Ayu dalam acara Menulis itu Asyik yang digelar pada 8 Februari 2003 di Toko Buku Gramedia Matraman dengan menghadirkan empat pengarang wanita: Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Violetta Simatupang, dan Dewi Lestari. Penampilan para sastrawati muda usia, cantik dan berbusana apik itu seolah membawa suasana harum, sehingga moderator M. Fajrul Rahman menjuluki acara tersebut pagelaran "sastra wangi".

Empat Pertanyaan Pokok
Acara yang diselenggarakan oleh Pustaka-Pustaka 97,4 Jakarta News FM bekerja sama dengan berbagai sponsor itu mendapatkan respon hangat dari para penggemar buku, yang kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa-mahasiswi. Kegiatan tersebut merupakan suatu peristiwa perbukuan yang penting sebagai pembelajaran bagi pengarang maupun publiknya. Dari acara semacam ini pengarang dapat mendengar tanggapan dari publik, misalnya komentar yang dikutip di awal tulisan ini. Sementara itu, para penggemar buku dapat memperoleh informasi langsung dari sumbernya mengenai latar belakang pemikiran di balik karya yang mereka baca. Mereka juga dapat belajar dari tanggapan sesama pembaca terhadap karya seorang pengarang.

Secara garis besar ada empat pertanyaan pokok yang diajukan dalam pertemuan itu. Pertama, apa sebenarnya arti menulis bagi keempat sastrawati itu. Kedua, dari mana mereka menimba bahan untuk karya mereka, dan seberapa jauh karya mereka bersifat autobiografis. Ketiga, apakah mereka menjumpai kesulitan dalam menulis. Keempat, apakah bagi mereka menulis dapat untuk hidup.

Mengenai pertanyaan pertama, keempat sastrawati itu memandang menulis sebagai sarana pengungkapan diri. Bagi mereka, menulis dibutuhkan untuk menyalurkan perasaan, pikiran, atau suasana hati tertentu seperti sedih, stres, putus cinta, dan sebagainya. Tentang pertanyaan kedua, Violetta mengemukakan, pada umumnya bila peka terhadap lingkungan kita akan menemukan banyak bahan untuk ditulis. Ia juga mengakui pengalaman hidupnya banyak mengilhami karyanya. Sebagai contoh ia membacakan sajak Oublie Moi, yang melukiskan gejolak hatinya ketika makan malam sebagai tanda perpisahan dengan pacarnya dulu di sebuah cafe di Paris. Menanggapi pertanyaan yang sama, Djenar mengatakan, cerpen-cerpennya tidak bersifat autobiografis, meskipun bisa saja pengalamannya sebagai anak mirip dengan pengalaman tokoh tertentu dalam karyanya. Dalam hal ini Fira Basuki mengaku, ia meminjam hal-hal akrab dalam kehidupan pribadi untuk karya fiktifnya, misalnya tokoh suami dalam salah satu novelnya ditampilkan sebagai seorang Filipina berdarah Tibet, seperti suaminya sendiri. Ada pun Dewi Lestari, yang berprinsip jujur terhadap diri sendiri, mengungkapkan, bila sedang terpukau dengan ide bifurkasi, misalnya, maka ia pun membuat tokoh dalam novelnya bersibuk dengan ide tersebut.

Tentang hambatan dalam menulis, Violetta mengaku, ia jarang dapat menulis sekali jadi. Satu syair bisa membutuhkan waktu berhari-hari, karena ada saja kata-kata yang perlu diubah. Di sela-sela kesibukannya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, ia harus hemat waktu, sehingga kertas tisu pun digunakan untuk mencatat ilhamnya yang tiba-tiba datang. Menurut Fira Basuki, yang sehari-hari bekerja sebagai wartawati, ia tak ada hambatan dalam kelancaran menulis.

Apakah menulis dapat untuk hidup? Bagi Djenar, Fira, maupun Violetta, menulis bukan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Lain halnya dengan Dewi Lestari. Menurutnya, menulis sebagai sarana ekspresi diri merupakan keasyikan yang tak berurusan dengan duit. Tetapi kepengarangan sebagai salah satu unsur dalam industri buku, tidak bisa tidak harus menjawab tantangan apakah profesi itu bisa untuk hidup. Dalam hal ini, sebagai pengarang ia harus berbisnis, dan karenanya perlu bekerja sama dengan banyak pihak, aktif berpromosi, dan lain sebagainya.

Tanya jawab siang itu oleh moderator digiring ke masalah apresiasi publik terhadap karya sastra. Rupanya hal itu menunjang salah satu tujuan penyelenggaraan acara tersebut. Konon, oleh adanya acara itu terjadi kenaikan penjualan buku di Toko Buku Gramedia Matraman. Hal itu sah dan sudah selayaknya. Tetapi, pada hemat saya, salah satu kelemahan acara tersebut ialah tidak dieksplorasinya keterkaitan antara membaca dan menulis dalam pengalaman keempat wanita pengarang itu. Padahal penulisan Supernova, misalnya jelas mengandalkan bacaan luas dan mendalam tentang perkembangan sains mutakhir. Bila Majalah Matabaca ada di balik acara temu pengarang pada 8 Februari itu, seyogyanya tidak lupa diekspose kaitan antara keasyikan menulis dengan keasyikan membaca.

Pengarang Bicara, Publik Bertanya
Dalam tulisan Membaca dan Mengarang, Kakak-Adik Kandung Tak Terpisahkan, penyair Taufik Ismail menyatakan, dalam hal membimbing anak didik untuk membaca dan sekaligus mengarang, bangsa kita terlambat 50 tahun. Sesudah empat setengah tahun perang revolusi dan pada 1 Januari 1950 kita seratus persen menjalankan roda pemerintahan sendiri, sejak itu kita di SMA "memberi prioritas dan gengsi berkelebihan pada ilmu eksakta dan ilmu sosial, serta mengucilkan bimbingan membaca buku, mengarang, dan apresiasi sastra", itulah sebabnya kita kini, menurut Taufik Ismail "telah menjadi bangsa yang rabun membaca buku dan lumpuh menulis" (Lih. Katalog Pameran 21st Indonesia Book Fair 2001, Membangun Budaya Baca).

Situasi yang menyedihkan itu telah mendorong Taufik Ismail dan kawan-kawannya melatih guru-guru SMU dan yang sederajat dalam bidang membaca buku, menuliskan karangan dan apresiasi sastra (MMAS). Itu berlangsung sejak tahun 2000 sampai 2001. Sebanyak 17 pelatihan berlangsung di Jawa dan Sumatera, yang diikuti oleh sekitar 900 orang guru bahasa dan sastra. Mulai September 2001 MMAS tersebut dilanjutkan ke Kalimantan, Sulawesi dan Bali-NTB.

Untuk menggugah minat siswa dan guru terhadap sastra, Majalah Horison dengan bantuan The Ford Foundation memprakarsai pelaksanaan program SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya). Menurut Taufik, di tahun 2000, 43 sastrawan masuk ke 30 sekolah di 20 kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY, berdiskusi dengan 15.000 siswa dan guru. Di tahun 2001, 60 orang sastrawan masuk ke 48 sekolah di 36 kota di Jawa Timur dan seluruh provinsi Sumatera, bertemu dengan 24.000 siswa dan guru SMU serta sekolah sederajat. Kegiatan tersebut mendapat respons yang sangat hangat dari siswa dan guru.

Acara semacam SBSB seperti itulah yang terlintas di benak saya, ketika mendengar dari Frans M. Parera, Pemimpin Umum Majalah Matabaca, bahwa ia sedang membujuk agar pihak Toko Buku Gramedia bersama Humas KKG (Kelompok Kompas Gramedia) bersedia menyelenggarakan acara temu pengarang seperti yang dilaksanakan 8 Februari lalu secara berkesinambungan, misalnya satu bulan sekali. Kategori pengarang yang ditampilkan kata Frans, diperluas, sehingga mencakup para pengarang senior dan para pengarang buku non-fiksi. Tentu saja, acara semacam itu sebaiknya terbuka untuk semua kategori pengarang dan karyanya.

Gagasan Frans itu mengingatkan saya pada mimpi yang pernah dilontarkan oleh Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama, tentang toko buku idamannya di lingkungan KKG. Menurutnya, paling tidak ada satu di antara Toko Buku Gramedia, yang seyogyanya tak hanya menjual buku, melainkan juga menjadi suatu pusat budaya, tempat orang datang berdiskusi dalam suasana kultural yang bebas, nyaman, dan santai sambil menikmati suguhan dari cafe yang ada di situ. Tahu-tahu, apa yang diimpikannya itu dalam tahun 2001 telah diwujudkan oleh para pengelola toko buku seperti QB, Ku/Bu/Ku, Limma, dan Aksara. Koran Kompas (12/8/2001) yang mengamati fenomena itu menurunkan laporan Membaca itu perlu dan "Enaak".

Bila toko-toko buku, bekerja sama dengan elemen perbukuan dan atau pihak-pihak lain, secara berkesinambungan menyelenggarakan temu antara pengarang dan publik, maka kegiatan itu dapat menunjang dan memperluas acara SBSB yang dilakukan oleh Majalah Horison. Temu pengarang seperti itu bisa dinamai Pengarang Bicara, Publik Bertanya (PBPB). Di situ diciptakan kesempatan pembelajaran bagi pengarang maupun publik penggemarnya.

Menuai Apa Yang Ditanam
Tentang tulis-menulis, seorang guru saya, J.W.M. Bakker SJ, penulis Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar (1984), mengajarkan menulis itu memanen apa yang kita tanam dengan membaca. Kebenaran ucapannya itu terwujud antara lain dalam diri salah seorang confrater-nya, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno SJ. Filsuf kita ini sangat produktif menulis buku, sekaligus sangat banyak membaca.

Dalam hal kaitan antara menulis dan membaca, Susan Sontag, pengarang novel The Volcano Lover, memberikan panduan mendasar yang jelas dan tegas. Dalam kumpulan esai 46 pengarang Amerika, Writers on Writing (2001), ia memberikan panduan: "Directions: Write, Read, Rewrite, Repeat Steps 2 and 3 as Needed." Menurutnya, menulis dan membaca merupakan dua hal yang saling terkait, sebab menulis adalah mempraktikkan, dengan intensitas dan perhatian istimewa, seni membaca. Kita menulis untuk membaca apa yang telah kita tulis dan melihat apakah itu sudah baik, dan karena tulisan kita tentu saja tidak pernah bulat-bulat baik, maka kita menulis untuk menuliskannya ulang, sekali, dua kali, sebanyak kali, sampai kita dapat merasa enak bila membacanya lagi. Kita adalah pembaca pertama tulisan kita sendiri, mungkin pembaca paling kejam. Sulit dibayangkan menulis tanpa membacanya ulang.
 
"Membaca," tulisnya, "biasanya mendahului penulisan. Dan dorongan untuk menulis hampir selalu dikobarkan oleh kegiatan membaca. Membaca, kecintaan membaca, adalah apa yang membuat kita bermimpi untuk menjadi pengarang. Dan lama sesudah kita menjadi seorang pengarang, membaca buku-buku yang ditulis oleh orang lain dan membaca ulang buku-buku kesayangan di masa lalu merupakan godaan tak tertahankan untuk menyela kesibukan menulis. Godaan untuk menyela. Hiburan. Siksaan. Dan, tentu: ilham."

Tentang membaca ulang dan merevisi karya sendiri, Hannah Arendt bisa menjadi contoh bagus. Dalam usia 22 tahun, filsuf brilian ini menulis tesis doktoral, Der Liebesbegriff bei Agustinus. Versuch einer philosophischen Interpretation (1929). Tesis ini dibacanya ulang, bahkan direvisinya dan diterbitkan dengan judul Love and Saint Augustine (1996). Ternyata pengkajian ulang karyanya itu mendorongnya untuk merevisi bukunya Origin of Totalitarianism, menulis On Revolution, serta Eichmann in Jerussalem, dengan referensi-referensi yang secara eksplisit atau implisit berwarna Augustinian.

Kaitan antara menulis dan membaca juga dengan gamblang dirumuskan dalam Aturan utama untuk seni tulis-menulis, yang ditulis oleh Stephen King (On Writing: A Memoir of the Craft, 2000). Kaidah itu berbunyi: "Menulis banyak, Membaca banyak." Ini selalu tak lupa ditekankannya bila pengarang lebih dari 30 novel pop itu berceramah tentang penulisan. Ia sendiri mempunyai agenda tetap: pagi untuk menulis, siang untuk menjawab surat-surat dan siesta, malam untuk membaca, acara keluarga, dan revisi-revisi yang tak bisa ditunda.

Tentang motivasi untuk membaca, Annie Dillard, pemenang penghargaan Pulitzer lewat karyanya Pilgrim at Tinker Creek, dalam The Writing Life (1989), menegaskan kita membaca dengan harapan pengarang akan menerangi dan mengilhami kita dengan kebijakan, keberanian, dan kemungkinan kebermaknaan, serta akan mendesakkan pada pikiran kita misteri-misteri yang paling dalam, sehingga kita merasakan lagi keagungan dan kekuatannya.

Menulis: Sebuah Perjalanan 
"Menulis adalah perjalanan," begitu Dee dalam Kata Pengantar Supernova. Ucapan ini cocok dengan gagasan penyair Patrice Veccione ketika dalam bukunya, Writing and the Spiritual Life (2001) ia berkata: "Cerita atau syair adalah pesan yang dibawa pulang penulis dari perjalanan."

Perjalanan pengarang adalah perjalanan pencarian, yang penuh ketidakpastian. Seperti dikatakan Patrice Vecchione, kita tidak dapat tahu apa yang akan kita temukan di sana atau apa yang harus kita katakan sesuai dengan panggilan kita. Kita hanya tahu bahwa hanya dengan menulis kita menemukan apa yang kita butuh ungkapkan.

Bila begitu, tak mengherankan bila pengarang kadang merasa tak mampu mengatakan dengan kata-kata apa yang harus dikatakannya, seperti dirasakan oleh Elie Wiesel, penulis Amerika Serikat berdarah Yahudi, yang selamat dari kamp Nazi di tahun 1986 mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian. Menurutnya, kendati melakukan studi atas sastra klasik Perancis, Jerman dan Amerika, ia merasa tak mampu dan mungkin tak pantas mengemban tugas sebagai orang yang selamat dari kamp Nazi dan sebagai pembawa pesan. "Saya ada hal-hal untuk dikatakan, tetapi tak memiliki kata-kata untuk mengatakannya," begitu tulisnya dalam esai "A Sacred Magic Can Elevate the Secular Story Teller" (Writers on Writing, 2001).

Bila mengalami kemacetan, menurut Patrice Vecchione, kita sebaiknya, seperti dianjurkan oleh Judith Moore (Never Eat Your Heart Out), bertanya: "Apa yang sedang saya rasakan, saya pikirkan, saya elakkan, untuk saya dengarkan?" Kita, kata Patrice Vecchione, perlu menunggu jawaban atas pertanyaan itu. Mungkin kita akan menemukan ada sesuatu yang harus dipotong, yang tidak pas di sana; mungkin kita akan tahu kita butuh memasuki kekacauan dan menemukan jawaban di sana. "Kini, kita harus menjadi bukan saja seorang penulis, melainkan juga seorang pembaca." Dalam hal ini, refleksi Vecchione bersesuaian dengan keyakinan kehidupan Augustinus dari Hippo sebagai pujangga, sekaligus pembaca.

Augustinus: Peletak Dasar Budaya Baca
Perhatian orang terhadap Augustinus dari Hippo (354-430), biasanya terfokus pada kualifikasinya sebagai seorang pujangga gereja yang sangat produktif, seperti dicatat dalam The Cambridge Dictionary of Philosophy (1995) dengan karya-karya kondang seperti Pengakuan, Tentang Trinitas, Tentang Kota Allah. Karenanya, buku Augustine the Reader (Harvard University Press, 1998), karya Brian Stock yang menyoroti kegiatannya sebagai pembaca menjadi sangat menarik.

Buku ini mengupas upaya Augustinus meletakkan dasar suatu budaya baca. Augustinus yakin, kata-kata dan imaji memainkan peranan fundamental dalam memediasi persepsi atas realitas. Sejak 386, ketika minatnya pada Kristianitas bangkit lagi, ia mencoba menempatkan penyelidikan-penyelidikannya ke dalam pengalihan-pengalihan makna dalam kerangka suatu program studi Kitab Suci. Dari situ muncul penyatuan antara wawasan-wawasan filosofis, psikologis, dan literer, yang kemudian melahirkan teori tentang membaca yang pertama-tama dikembangkan di Barat.

Adalah khotbah-khotbah Ambrosius, gurunya, yang mengajari Augustinus untuk membedakan antara makna harfiah dan makna spiritual dari teks yang bersifat edukatif dan menyodorkan model keheningan meditatif dengan cara membaca. Pertobatannya sendiri dari kehidupan sensual yang hedonistis terjadi lewat tindakan membaca. Ini semua diceritakan oleh Augustinus dalam Pengakuan buku 1-9, yang menurut Brian Stock merupakan narasi terbaik tentang peranan membaca dalam pendidikan yang membentuk pribadi Augustinus.

Dalam buku 9, ia mengungkapkan kesadarannya bahwa pemahaman tentang membaca dan menulis lebih berharga daripada kesenangan fana yang dirasakannya ketika ia meresitasi teks tertentu. Ia melihat, dalam kegiatan membaca ada aspek estetik. Respon estetik terjadi bila pembaca menganggap kenikmatan teks merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, respon asketik berlangsung bila pembaca memandang teks bacaan sebagai suatu sarana untuk mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi. Belakangan, dalam bukunya Tentang Manfaat Kepercayaan, Augustinus membayangkan suatu hermeneutika "menggunakan" dan "menikmati" yang membuat pembedaan antara teks bacaan kita sebagai sarana komunikasi, dan kebenaran-kebenaran lebih tinggi yang ke arahnya kita dibimbing. Dalam hal terakhir ini, membaca tidak lagi merupakan sutau kembara dari kesenangan yang satu kepada kesenangan yang lain, tetapi menjadi suatu "ziarah", di mana semua pengalaman tekstual diarahkan pada satu tujuan tunggal.

Dalam membentuk ide-idenya tentang membaca, Agustinus menimba banyak sumber kuno yang membawa dia memadukan kepedulian spiritual dengan refleksi metafisiknya. Namun bukan karya para penulis kuno itu, melainkan tulisan dialah yang menyediakan pernyataan-pernyataan sintetik paling awal para pengarang klasik itu bagi refleksi Barat tentang membaca, integritas, dan transedensi.

Adalah menarik bahwa terdapat dua jenis pembaca yang terbayang dalam sejarah hidup Augustinus. Pertama adalah Allah yang mengajarinya dan tak belajar apapun darinya. Kedua adalah orang-orang yang membaca karyanya. Mereka ini boleh jadi belajar dari kesalahan-kesalahannya. Augustinus melihat dirinya termasuk dalam kategori pembaca yang kedua.

Patut dicatat, dalam kariernya sebagai pujangga, pikiran Augustinus begitu diresapi oleh mentalitas pembaca sehingga perlu untuk membuat pembedaan antara tindakan membaca secara lisan atau diam dan "intensi" serta "perhatian" pikiran yang menyertainya. Ia membaca dan berefleksi atas Pengakuan 1-9 sambil sibuk menggubah buku 10. Ketika dalam tahun 430 Augustinus terbaring di ranjang menunggu ajalnya, tujuh Psalm Tobat dikopi dan digantung di samping tempat tidur sehingga ia dapat membaca, menangis dan bertobat.

Tampaknya, Augustinus dari Hippo patut menjadi sumber pembelajaran yang berguna bagi mereka yang ingin mendalami keterkaitan antara kegiatan menulis dan membaca.

Oleh: Alfons Taryadi
Majalah MataBaca Vol. 1 / No. 10 / Mei 2003

Like untuk dapatkan update artikel terbaru