Mengenal Legenda Dunia Buku Anak

Nama Dr. Seuss di Indonesia memang tak setenar Walt Disney walau faktanya mereka "satu angkatan". Tetapi yakinlah, Dr. Seuss itu sungguh ada. Ia bukan dokter medis yang ahli menyembuhkan orang sakit, namun resep suka-citanya telah menghibur pecinta buku selama lebih dari 60 tahun. Untuk Anda yang benar-benar belum tahu, Dr. Seuss adalah penulis sekaligus ilustrator dongeng bergambar anak dengan alur cerita berima (nursery rhymes). Sampai detik ini, buku-bukunya dipakai institusi formal hingga rumah tangga untuk mengajarkan kosakata bahasa Inggris secara menyenangkan kepada anak-anak. Bagi orang dewasa, kisah-kisah dengan tokoh-tokoh imajinatif buatan Dr. Seuss merupakan hiburan yang mampu membuat tertawa: menangis, dan berpikir secara bersamaan.

Lahir pada 2 Maret 1904 di Springfield, Massachusetts, Theodore "Ted" Seuss Geisel adalah cucu keluarga imigran Jerman yang mengadu nasib di Amerika. Ibunya, Henrietta Seuss Geisel, dulunya membantu di toko roti ayahnya sebelum ia menikah dengan ayah Ted. Henrietta punya kebiasaan unik menghafalkan nama-nama kue pai istimewa setiap hari dengan :'menyanyikannya:i ke para pembeli, Jika Ted sulit ticfur, ibunya meninabobokan dengan "nyanyian pai" itu. Ted memuji ibunya sebagai, "inspirasiku membuat rima dan arti pentingnya dalam setiap tulisanku."

Semasa kuliah di Dartmouth College, Ted dikenal sebagai anak jahil yang aktif dan senang bergaul. Karena suka humor, Ted bekerja di majalah humor kampus Jack-O-Lantern hingga meraih posisi chief editor.

Akibat kejahilannya, ia diskors dan diturunkan dari jabatannya. Ted diam-diam terus memasok kartun-kartun stripnya ke majalah itu dengan nama samaran "Seuss" yang diambil dari nama tengahnya. Gelar "Dr." ia sisipkan karena ayahnya pernah berharap kelak Ted akan menjadi seorang dokter. Penyamaran ini tak bertahan lama karena kekhasan tiap garis dan warna ilusirasinya.

Ted tak pernah beiajar menggambar secara formal. Namun, dalam buku catatan sekolahnya pasti ada gambar makhluk-makhluk aneh membingkai potongan-potongan kalimat yang ditulisnya di sekolah. Ketika mewarnai, Ted dikenal sangat hati-hati memilih warna. Selera warna Ted sangat berbeda sehingga mudah dikenali dan menjadi trade-mark "Seuss". Meskipun karya-karyanya dinilai mampu memainkan daya khayal anak-anak dan dewasa; Ted menolak bila tulisan dan ilustrasinya dikatakan sebagai "unik dan imajinatif".

Orang yang berpengaruh besar di karier penerbitan Ted adalah Bennet Cerf. Beliau adalah "otak" di balik perjanjian Random House dan Houghton Mifflin. Cerf pernah bertaruh Ted tak akan mampu menulis buku berisi kurang dari 50 kata, dan mendesak Ted untuk menulis Green Eggs and Ham. Beliau jugalah yang meramalkan Ted akan mengguncang industri buku anak-anak. Karena ingin menjadi bagian dari revolusi itu, ia mati-matian mengonsep divisi Beginner Books.

Janet Schulman, editor buku-buku Ted yang kini menjabat wakil direktur divisi buku remaja Penerbit Random House, mengatakan bahwa proses kreatif Ted sangat misterius. "Daya konsentrasinya tinggi dan tak ingin diganggu sama sekali", kisahnya. "Saat menulis, dia sudah punya bayangan umum bentuk tulisannya. Lalu ia menempel potongan-potongan kertas itu di dinding, dan membuat 'lubang' di setiap sambungan cerita yang biasanya dijadikan titik transisinya." Ketika menghadapi kesulitan menuangkan ide, ia langsung memakai salah satu "topi berpikir" yang diambil dari koleksi topi-topi uniknya. Setelah memakai topi itu, hasil karyanya pasti memuaskan. "Ted tidak rewel seperti kebanyakan penulis yang sedang menghadapi masalah. Ted juga menerima kritik dan sukses komersil secara wajar," ujar Schulman. "Saya sangat merindukannya. Tak akan pernah ada Dr. Seuss yang lain lagi."

Seperti layaknya karya-karya hebat, buku-buku Dr. Seuss banyak dianalisis kalangan akademisi, Hampir seluruh karya Ted berbentuk buku-buku hiburan yang memotivasi anak untuk membaca. Sebagiannya (terutama buku-buku terakhir) diinspirasi suatu kejadian tertentu atau merupakan concern pribadinya. Sebagai contoh, Ted kesal dengan sejumlah papan reklame dan konstruksi yang mengganggu komunitasnya di La Jolla. Ted memang sangat perhatian terhadap lingkungan secara global, la ingin para pelaku industri, pengusaha, dan individu bertanggung jawab terhadap tindakan mereka, Buku The Lorax yang diterbitkan pada 1971, bertema kebaikan yang salah kaprah. Tokoh Once-ler yang tak bertanggung jawab dan ambisius
membangun bisnis besar yang dibiayai pohon-pohon Truffula serta makhluk-makhluk yang bergantung pada mereka. Dengan gaya "antik" Seussian-nya, secara relevan cerita ini masih mampu menggugah generasi sekarang dan menantang generasi masa depan untuk mencari solusi melalui gambaran proses kehancuran yang demikian menyentuh. Dalam acara-acara diskusi atau temu penulis, pertanyaan yang paling ia takutkan adalah pertanyaan yang sering ia tanyakan pada diri sendiri, yakni "Dari mana asal idemu?" Biasanya Ted menjawab asal-asalan, "Uber Gletch." Tidak jelas siapa yang ia maksud.

The Cat In The Hat (1955) adalah bukunya yang terkenal dan menjadi titik balik tren penulisan cerita untuk anak, sedangkan The Butter Battle Book merupakan karyanya paling kontroversial yang ditulis sebagai respons terhadap ancaman pengembangan senjata perang dan perang nuklir selama pemerintahan Reagan. Buku ini terbit tahun 1984, menggambarkan perseteruan antara suku Yooks dan Zooks. Perseteruan itu dipicu hal sederhana tentang perbedaan cara makan roti; yang satu kukuh suka mengoles mentega di bagian atas, yang lainnya di bagian bawah. Cerita diakhiri dengan halaman kosong, meninggalkan ending rnenggantung yang terbuka bagi segala interpretasi.

Ketika Ted mempresentasikan proyek ini, pihak Random House melihat "lampu bahaya". Baru kali itu (selama satu dekade mereka bekerja sama) para editor dan pengarah seni mempertanyakan konsep halaman muka, ending cerita, bahkan judul. Meski tahu bahwa tak satu pun dari mereka berniat untuk menyerang, Ted tiba-tiba berusaha mempertahankan setiap elemen yang dipertanyakan. Ted ngotot agar orisinalitas karyanya dipertahankan karena buku itu mewakili kebenaran bahaya pengembangan senjata perang. Akhirnya, beberapa perubahan dilakukan. Selama enam bulan Butter Battle bertahan di daftar best seller The New York Times, dalam kategori bacaan buku dewasa.

"Pencerahan baru" ini lantas mempengaruhi karya-karya Ted selanjutnya. Dalam periode ini, ia menulis buku-buku bertema kritik dan penyadaran sosial, dan mulai bereksperimen lagi dengan warna. Audrey —istri keduanya, setelah ia ditinggal mati istri pertama— sering memberi masukkan warna-warna kombinasi yang tak lazim dan tak terduga, yang justru mampu mendukung pemahaman terhadap askah. Orang kini benar-benar menikmati kerja keras mereka. Buku-buku sekelas The Lorax, The Butter Battle Book, dan You're Only Old Once! menjadi saksi tantangan dan risiko yang berani diambil oleh Ted.

Segunung penghargaan pernah dianugerahkan kepada Ted, termasuk gelar Honorary Doctorate of Humane Letters dari almamaternya, Dartmouth. Selain enam gelar doktor honoris lainnya, penghargaan kelas dunia yang pernah diberikan kepada Ted antara lain Piala Oscar untuk Gerald McBoing-Boing (Film Kartun Terbaik, 1951), dua piala Emmy untuk Halloween is Grinch Night dan The Grinch Grinches The Cat In The Hat (Lagu Anak-Anak istimewa Terbaik, 1977 dan 1982 secara berturut-turut), penghargaan Pulitzer (1984), penghargaan Peabody untuk animasi istimewa How The Grinch Stole Christmas! dan Horton Heara A Who! (1971), serta penghargaan New York Library Literary Lion (1986). Tiga bukunya menerima penghargaan Caldecott Honor. McElligot's Pool (1947), Bartholomew and The Oobleck (1949), dan If I Ran The Zoo (1950). Ted juga menerima penghargaan Laura Ingalls Wilder di tahun 1980 karena karya-karyanya memberi kontribusi mendasar dan pengaruh besar pad aliteratur anak-anak di Amerika.

Pada 1986, Museum Seni San Diego menggelar pameran karya-karya Ted, termasuk sejumlah lukisan dan sketsa-sketsa awalnya. Pameran itu ramai dikunjungi orang dan berkeliling ke beberapa negara bagian Amerika. Katalog pameran itu dibuat, dan diberi judul "Dr. Seuss dari Masa ke Masa: Katalog Pameran Retrospektif". Dengan gamblang booklet itu menunjukkan karya-karya mencengangkan Ted selama 60 tahun. Sayang booklet ini tak pernah dicetak ulang.

Setelah mengabdi 53 tahun menciptakan buku-buku teks dan hiburan, Dr. Seuss yang baik telah mengajarkan semua yang ia tahu. Theodore Seuss Geisel meninggal pada 24 September 1991 dalam usia 87 tahun. Mengutip kalimat dari buku terakhirnya Oh, The Places You'll Go! Dr. Seuss dengan riang memberi semangat kepada para pembaca ciliknya untuk selalu optimis mengejar cita-cita:
You're off to great places!
Today is your day!
Your mountain is waiting.
So, get on your way!

(Kau akan terbang ke tempat-tempat yang menakjubkan!
Ini harimu!
Gunungmu telah menunggu!
Jadi, lekaslah bertindak!)

Ciptanti Putri (dari berbagai sumber)
Majalah Mata Baca Vol 1 / No. 11 / Juli 2003

Dengan Jari Membaca Sastra

"Ini hari kemenangan kami. Mimpi kami selama 15 tahun untuk dapat menggandeng penerbit kini menjadi kenyataan." Ucapan itu meluncur deras dari mulut Irwan Dwi Kustanto, Kamis pekan lalu. Wajah Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra itu pun tampak ikut berseri.

Pada hari itu, Mitra Netra berhasil merangkul tiga lembaga lain. Yakni penerbit Gagas Media, Forum Indonesia Membaca, dan Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional. Mereka sepakat mengampanyekan program bertajuk: "Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandengan Tangan".

Kerja sama empat lembaga itu diwujudkan dengan penerbitan delapan novel populer Indonesia dalam format braille. Tentu saja, kedelapannya karya delapan pengarang populer pula, seperti Dewi Lestari, Ayu Utami, Fira Basuki, dan Adhitya Mulia. Wajar saja bila hal ini disambut gembira oleh para penyandang cacat mata.

"Senang sekali, karena sekarang kami tidak bergantung lagi pada 'orang awas' untuk membaca novel," ujar Dika, seorang anggota Mitra Netra. Selama ini, remaja 15 tahun itu selalu minta tolong keluarganya membacakan buku-buku cerita untuk dirinya. Kini Dika bisa membaca karya sastra dengan jarinya.

Pencetakan novel populer dalam huruf braille ini kali pertama dilakukan di Indonesia. Sebab, sejak berdiri 15 tahun silam, Mitra Netra baru mampu mem-braille-kan 760 buku pelajaran sekolah, bukan novel. Kendalanya selama ini bukan sekadar soal softcopy dari para penulis, melainkan juga karena faktor biaya.

Hingga saat ini, Mitra Netra baru memiliki dua unit mesin cetak jenis braille. Alat mirip printer komputer lama dengan jarum pelubang itu pun pinjaman dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. Satu unit hanya mampu mencetak satu muka, dan satu unit lagi bisa mencetak bolak-balik.

Kemampuan cetaknya pun sangat terbatas, sekitar 300 halaman braille per bulan --setara dengan 10-15 halaman tulisan orang melek. Belum lagi proses pracetaknya yang makan waktu cukup lama. Sebuah buku yang akan di-braille-kan harus diketik ulang dulu.

Naskah dalam bentuk MS Word itu lalu dikonversi ke huruf braille, menggunakan peranti lunak Mitra Netra Braille Converter. Tak selesai sampai di situ. Naskah dalam format braille ini mesti diperiksa dulu oleh seorang proof reader yang juga tunanetra.

Pada tahap itu, pemeriksaan dilakukan melalui braille display, perangkat baca yang diletakkan di dekat papan ketik. Setelah pemeriksaan ini selesai, barulah naskah itu dicetak. Biaya pembuatan satu buku huruf braille terhitung mahal. Sebab kertas yang dipakai adalah jenis khusus, dengan ketebalan tertentu dan berat 120-160 gram.

Jenis kertas itu digunakan untuk menjaga keawetan lubang-lubang huruf hasil cetaknya. Harganya sekitar Rp 160.000 per 1.000 lembar. Kalau dihitung-hitung, untuk mem-braille-kan satu novel setebal 200 halaman, dibutuhkan biaya sekitar Rp 320.000. Itu pun hanya untuk mencetak satu eksemplar.

Soal softcopy pengarang, kini tampaknya bukan masalah lagi bagi Mitra Netra. Setidaknya, Fira Basuki berjanji mengajak penerbit-penerbit lain mengizinkan buku terbitannya di-braille-kan. Demikian pula Gagas Media, yang telah menghubungi banyak penulis agar bersedia menerbitkan karya mereka dalam format untuk tunanetra.

"Kami merasa mendapat kehormatan membantu Mitra Netra. Royaltinya free," kata F.X. Rudi Gunawan, Direktur Gagas Media. Rudi sendiri sudah memelopori ajakannya. Satu dari delapan novel yang diluncurkan adalah karyanya, Realita, Cinta, dan Rock 'n Roll.

Novel lain yang juga diterbitkan dalam huruf braille adalah Brownies karya Fira Basuki. Juga kumpulan cerpen Filosofi Kopi karya Dewi Lestari. Adapun karya Ayu Utami yang di-braille-kan adalah Parasit Lajang. Adhitya Mulia, Icha Rahmanti, Miranda, dan Ninit Yunita turut pula mem-braille-kan karya mereka masing-masing: Jomblo, Cintapucino, Ungu Violet, dan Test Pack.

Tak sekadar buku, Dewi malah menyumbangkan suaranya di sela-sela acara peluncuran novel braille sore itu. Lantunan Eternal Flame mengalun merdu ke seputar ruangan. "Close your eyes, give me your hand darlin'/ Do you feel my heart beating/ Do you understand do you feel the same/ Or I only dreaming/ Is this burning an eternal flame...."

Jalur Lebar Kaum Tunanetra
Dukungan dan perhatian pemerintah di sejumlah negara maju pada kelompok penyandang cacat begitu besar. Terutama dilihat dari adanya fasilitas khusus bagi mereka dalam menikmati layanan publik. Termasuk penyediaan layanan perpustakaan untuk mereguk pengetahuan.

Di ''negeri Paman Sam'' saja, misalnya, setiap negara bagian yang jumlahnya 51 menyediakan perpustakaan khusus tunanetra dan penyandang cacat badan lainnya. Malah, menurut catatan situs Managing Information, jumlah perpustakaan khusus ini sekarang sudah sekitar 134, yang tersebar di seputar negeri.

Semua itu dapat berjalan berkat bantuan penyandang dana swasta. Yang lebih menarik, pemerintah pusat pun memiliki perpustakaan sejenis. Untuk memacu kegiatan layanan bagi para penyandang cacat, perpustakaan pusat ini setiap tahun memberi penghargaan kepada perpustakaan daerah yang dianggap terbaik memberi layanan dan paling berprestasi.

Tahun ini, penghargaan berjuluk Network Library of the Year Award itu jatuh ke perpustakaan Negara Bagian Illinois. Bila dibandingkan dengan Indonesia, fasilitas perpustakaan untuk kaum cacat dan tunanetra di Amerika sudah pasti jauh lebih baik.

Mitra Netra saja, setelah 15 tahun berdiri, baru mampu mendirikan tiga perpustakaan: di Jakarta, Bandung, dan Manado. Padahal, jumlah penyandang tunanetra di negeri ini yang mampu membaca tulisan braille mencapai 10.000 orang.

Keberpihakan Pemeritah Jerman pada kaum tunanetra juga terlihat jelas. Pemerintah Berlin, misalnya, sudah lama menerapkan aturan membantu kaum cacat dan tunanetra untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Di sana, setiap perusahaan diwajibkan mempekerjakan penderita cacat sebanyak 5% dari jumlah total pekerja.

Gaji dan fasilitasnya pun mesti disetarakan dengan karyawan lain yang lengkap pancaindranya. Sehingga jalur pekerjaan kaum tunanetra terbuka lebar. Lihat saja yang dialami Djenggis, warga Jerman keturunan Turki yang tunanetra. Berkat aturan main itu, pemuda berusia 23 tahun ini mendapat kesempatan bekerja di pemancar radio internasional, Deutsche Welle.

Ia duduk sebagai staf administrasi di bagian kerja sama. Tugas utama Djenggis mengurusi surat-menyurat. Untuk melakukan pekerjaannya, seperangkat komputer lengkap dengan speaker, braille display, dan sebuah pemindai tersedia di mejanya.

Peranti lunak yang digunakan Djenggis sama dengan yang dipakai Yayasan Mitra Netra di Indonesia. Djenggis tentulah bukan satu-satunya penyandang cacat yang bekerja di radio itu.

Deutsche Welle cukup banyak mempekerjakan penyandang tunanetra di bagian lain, seperti pendataan program. Demikian pula di departemen musik yang banyak membutuhkan kepekaan pendengaran. Dan kaum cacat netra pun mendapat kesempatan sama dengan mereka yang berpenglihatan normal.

Erwin Y. Salim & Miranti Soetjipto
Majalah Gatra edisi 23 / XII / 22 April 2006

Menelusuri Buku Kehidupan 5: Pulang Berarti Kembali, Peninjauan Kembali

Dalam mitoiogi Yunani, ada dituturkan kisah Dedalus dan putranya, Ikarus. Dedalus seorang empu-penemu dan seniman besar. Selama bertahun-tahun ia pernah mengabdi kepada Minos, raja Pulau Kreta. Hanya karena dianggap bersalah, ia dijebloskan ke dalam labirin yang ironisnya ciptaan Dedalus sendiri. Suatu ketika bersama Ikarus, dia merencanakan untuk lari dari Pulau Kreta. Caranya dengan membuat sayap dari bulu-bulu angsa, garuda, burung hering dan ujung sayap bangau. Bulu-bulu itu dilekatkan dengan lilin pada lengan dan pundak Ikarus dan pada tubuhnya sendiri. Jadilah kemudian mereka manusia bersayap. 

Dengan menggerak-gerakkan lengan ke atas dan ke bawah, Dedalus dan Ikarus terangkat ke udara dan mereka berhasil terbang meloloskan diri dari Pulau Kreta, Sebelumnya, Dedalus pesan wanti-wanti kepada Ikarus, "Anakku, kita tak boleh terbang terlalu rendah sebab gelombang dapat membasahi bulu-bulu sayap. Sebaliknya, kita juga tak boleh terbang terlalu tinggi sebab matahari akan melelehkan lilin yang menyatukan bulu dan sayap. Kita wajib terbang perlahan dan tenang, sebagaimana halnya burung bangau...."

Dedalus terbang dengan mantap dan aman. Sebaliknya dengan Ikarus yang merasa terlalu percaya diri, jungkir balik, naik turun di udara, malah suatu saat ingin menantang matahari. Dedalus berteriak memperingatkan lagi, namun sepertinya sudah terlambat. Ikarus seperti tersedot oleh suatu kekuatan magnetis, melesat terus ke ata s—maju tak gentar— untuk kemudian tiba-tiba saja jatuh menderas dengan kecepatan amat tinggi ke bawah. Suhu tinggi telah melelehkan lilin; sayap dan bulu sudah lepas berhamburan. Ikarus pun binasa terbanting.

Bagi saya, sebuah mitologi bukan hanya hikayat yang memikat dan menghibur. Kerap kali ia juga merupakan tutur cerita bijak yang perlu digosok dan disimak setelah dia terpendarm terlupakan selama berabad-abad.

Dari cerita Dedalus dan Ikarus, saya menarik pelajaran bahwa untuk segala sesuatu itu ada batas-batasnya. Dalam euforia kemenangan, kita sering lupa diri dan tiba-tiba merasa apa pun dapat dikerjakan. Padahal, kekuatan super seperti Zeus dan Lucifer pun mudah jatuh tanpa tanggung-tanggung.

Disamping hikayat tersebut, ada konsep lain yang memukau perhatian saya sampai sekarang, yakni di seputar terminologi "synchronicity", sinkronisitas atau "kebetulan yang bermakna". Tidak syak lagi yang banyak mempopulerkan belakangan ini adalah James Redfield, penulis buku The Celestine Prophecy. Kalau ditelusuri, tampak ditemukan jejaknya pada hasil penelitian dari Carl Gustav Jung. Jung seorang dokter dan psikolog besar adalah pembangun jembatan antara ilmu dengan spirituahtas, antara mind and matter.

Di mata Jung, sinkronisitas itu tak lain "kebetulan bermakna yang tak dapat diterangkan oleh hukum sebab-akibat". Tiba-tiba saja terjadi semacam pertemuan antara "dunia-dalam" dan "dunia-luar" lewat peristiwa kebetulan yang membuat kita menjadi terheran-heran. Tampaknya seperti ada isyarat kecil atau bimbingan yang ingin memberi arah pada jalan kehidupan yang ditempuh. Kita dapat menyangkal dan mengabaikannya atau mengikuti dengan cerdas tuntunan intuisi tersebut.

Dalam kehidupan sepanjang ini, saya memilih untuk bersikap terbuka, jujur, mau menerima adanya perubahan, tawakal, menempuh lorong-lorong misteri kehidupan. Memang ada harga yang mesti dibayar untuk suatu perubahan. Ada keremangan, kegamangan dan mungkin kekacauan, namun dengan coba berserah mengikuti gelombang alam, ada kepercayaan bahwa akhirnya kita tak akan disia-siakan. Bagaimana harus dijelaskan, bahwa dalam konfigurasi yang terjadi, kita tak semata-mata benda wayang yang digerakkan oleh Sang Dalang? Bahwa sebenarnya yang ditawarkan secara tak terduga adalah jalan ke luar dari hasrat pencarian diri yang paling dalam? Penyelenggaraan llahi adalah perwujudan dari dambaan-harapan yang lebur dalam doa, sekaligus pasrah menerima tuntunan-Nya. Let Thy Will Be Done!
 
Sekelumit peristiwa berikut ini agaknya tak lepas dari "kebetulan bermakna" yang memberi isyarat untuk menengok ke arah kemungkinan lain.

Sebuah Pertemuan yang Tak Terduga
Saya sendiri kurang begitu ingat, bagaimana asal-mula terjadinya pertemuan tersebut. Tiba-tiba saja —suatu sore— saya sudah berada di rumah Tan Eng Kie di seputar bilangan Gunung Sahari VI atau VII (kemudian hari kawasan cul de sac itu menjadi hunian taipan Liem Sioe Liong). Tan Eng Kie adalah wartawan senior, rekan sekerja Injo Beng Goat dari harian Keng Po, dan belakangan membantu di Pos Indonesia. Sebagai jurnalis kawakan pada zamannya, ia kerap keluar masuk istana, kenal akrab dengan beberapa petinggi seperti Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo dan Iain-lain, dan sering pula melakukan reportase ke luar negeri.

Sewaktu mengunjungi rumahnya, saya menjadi terkejut. Saya sudah terbiasa dengan kesederhanaan hidup, namun yang dihadapi saat itu adalah sebuah pribadi yang tidak berdaya. Seorang manusia yang sudah menyerah dalam perjuangan, Setelah dua korannya ditutup, tak begitu jelas bagaimana ia melewatkan hari-harinya. Dari caranya bicara, saya menangkap kegetiran dan kekecewaan hidup seorang wartawan tua.
Kehidupan pers pada masa Orde Lama dan Orde Baru tidak pernah langgeng. Sepertinya pedang Damocles senantiasa terayun-ayun di atas kepala, siap memenggal leher penguasa. Sekalipun media sudah nurut-manut, namun kalau keserasian "kimiawi"-nya tidak ada, cepat atau lambat musibah bredel itu akan datang juga. Saat itu saya bertanya dalam hati: berapa lama ya rata-rata usia penerbitan pers di Indonesia?

Sepulang dari pertemuan dengan Tan Eng Kie, saya jadi banyak berpikir. Apakah dia menjadi sosok dari gambaran masa depan wartawan Indonesia? Sekali waktu ia diundang dan disegani, tetapi pada waktu lain ia sudah tak diperlukan, menjadi orang terpuruk yang sudah kehilangan medianya. Saat itu sepertinya kesementaraan yang tak menentu adalah bagian kehidupan pers di negeri ini. Sepertinya saya pribadi menerima isyarat untuk menyiasati sebuah jalan lain. Mungkin saja dia "the road less travelled" atau "jalan setapak yang jarang dilalui".

Dalam buku The Importance of Living, fiisuf Dr. Lin Yu-tang dengan sedikit berseloroh membuat kategori watak berbagai bangsa. Beginilah formula yang dibuat oleh Lin Yu-tang:

Bangsa Inggris    R3    D2    H2    S1
Perancis             R2    D3    H3    S3
Rusia                 R3    D4    H1    S1
Tionghoa           R4    D1     H3    S3
Amerika            R3    D3    H2    S2

Arti kata-kata dan angka itu sebagai berikut. R menunjukkan realisme, D kemampuan untuk mimpi, H untuk rasa humor, dan S mengukur sensitivitas atau kepekaan. Semakin tinggi angka, semakin kuat ciri yang melekat kepada bangsa itu. Umpama orang Tionghoa, sense of reality-nya amat tinggi (R4), tetapi kemampuan mimpinya agak rendah (D1), sementara rasa humor dan kepekaannya cukup tinggi (H3, S3). Sebaliknya, bangsa Rusia menurut rumus Lin, tampak yang paling kurang punya rasa humor dan kepekaan, tetapi mereka pemimpi yang hebat (D4). (Sayang, Dr. Lin tak sempat menyusun formula untuk bangsa Indonesia). Sudah tentu rumus-rumus itu bersifat "pseudo-ilmiah", berdasar pengamatan atau pengalaman pribadi Lin Yu-tang.

Sekalipun demikian, sedikitnya dalam satu hal, saya diam-diam menyetujui pandangannya, Sebagai warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, saya merasa "mewarisi" sense of reality atau realisme yang cukup tinggi. Setelah 11 tahun —sampai tahun 1976— bekerja di redaksi Kompas, saya makin mempertimbangkan kenyataan yang ada.

Saya mulai jenuh bekerja rutin, sementara pemerintah Orde Baru makin kuat menancapkan kuku kekuasaannya, terlebih terhadap pers, Apakah tidak menarik untuk meninjau kemungkinan lain agar lepas dari kemacetan? Pertemuan dengan Tan Eng Kie nyata menjadi pemicu untuk mempercepat proses peralihan, Pada suatu hail tiba kesempatan itu....

Suatu siang, Jakob Oetama datang berkunjung ke desk redaksi Kompas di Palmerah Selatan. Kala itu semua redaksi dan wartawan bekerja bersama di sebuah bangsal besar tanpa penyekat. Siang hari belum banyak wartawan hadir, kebanyakan mereka tengah dinas luar. Saya sendiri sebagai redaktur sedang memilah dan memilih berita.

Sembari berdiri, secara sambil lalu, tiba-tiba Jakob Oetama membuka pembicaraan. "Sebenarnya ada lowongan di Toko Buku Gramedia untuk mendampingi Ambar. Dengan kata-katanya itu, ia sepintas ingin menawarkan sesuatu kepada 3-4 wartawan yang ada di situ.

Seingat saya, yang hadir waktu itu antara lain H. Kodhyat, Markus Duan Alo, dan R.B. Sugiantoro. Mereka mendongak sebentar ke arah pembicara, sesudah itu tunduk lagi mengetik. Tak ada reaksi apa pun yang muncul karena tampaknya kabar itu tak ada relevansinya untuk mereka. Sementara bagi saya, signal itu cukup menarik.

Sesudah menunggu seminggu, sembari berunding dengan istri di rumah, saya menghadap Jakob Oetama untuk mengutarakan minat terhadap tawaran tersebut. Jakob Oetama agak terkejut, mungkin tak menyangka kalau redaktur senior sebuah harian besar mau alih profesi ke unit yang masih sepele. Namun, dia mempersilakan saya untuk menemui P.K. Ojong. Saat itu, Toko Buku Gramedia —yang merupakan anak perusahaan— baru berjumlah dua. Yang satu di Jalan Gajah Mada 109 dengan keluasan kurang dari 100 meter persegi, sedang yang lain di Jalan Pintu Air, sedikit lebih besar dari yang pertama.

Demikian suatu pagi saya pergi menjumpai P.K. Ojong di kantornya yang sempit (untuk seorang direktur utama) di Jalan Gajah Mada 104. Saat itu ia sedang menerima tamu, hingga saya harus menunggu agak lama; terpaksa melewatkan waktu mengobrol dengan "letnan" Kurnia Munaba. Sewaktu bertemu, P.K. Ojong menyatakan gembira, kalau saya mau bergabung ke Toko Buku Gramedia. Setelah itu, sesudah satu bulan lebih lewat, tak terdengar kelanjutan beritanya. Terpaksa suatu sore yang teduh, saya menghubungi dan bertanya lagi kepadanya.

Dari pembicaraan itu tak bisa dikenali lagi, siapa yang melontarkan gagasan berikut. Disepakati bahwa kepindahan saya tak akan buru-buru diumumkan. Saya harus magang dulu di Eropa untuk mengunjungi beberapa penerbit dan toko buku di sana. Bagi saya, itu tak menjadi masalah. Selama ini sebagai wartawan, saya sudah terbiasa menyelinap, melakukan riset intensif terhadap sumber yang tak dikenal. Tak ada kesulitan. Lagi pula saya mempunyai kredo yang diyakini: "Seorang wartawan yang baik adalah pembelajar yang cepat".

Saya menyukai pindah kerja ke Toko Buku Gramedia berdasar beberapa pertimbangan. Saya gemar membaca dan di sana akan mudah menumpang baca. Kala itu Gramedia banyak mengimpor buku-buku bagus. (P.K. Ojong ikut aktif dalam menyeleksi buku mancanegara.) Yang lebih penting, keluasan panorama dunia perbukuan menjadi terbuka. Saya menjadi mengetahui buku-buku apa yang menjadi best seller atau sedang "in", hangat dibicarakan orang di dunia, mencuatnya "mazhab" baru dalam pemikiran kontemporer ataupun trend yang muncul sebagai gaya hidup mondial.

Surat kabar memang mempunyai beberapa kelebihan, seperti aktualitas dan kecepatan tinggi. Namun, buku sebagai media juga punya keunggulan tersendiri, seperti kedalaman dan ketahanan terhadap waktu. Paling tidak, untuk sejumlah buku yang memang bermutu.

Selain itu, di unit yang dipandang "sebelah mata" oleh sementara rekan senior itu, saya dapat mulai mempelajari dan mendalami ilmu manajemen. Mulai dari a-b-c-nya sampai ke tingkat mahir. Selain jurnalisme barangkali harus ada ilmu lain yang perlu ditekuni. Untuk seorang dengan realisme tinggi, keterampilan manajemen dapat merupakan perangkat penting sebagai bagian dan the art of survival (seni bertahan hidup). Bukankah pada medio tahun 1970-an itu manajemen yang berarti "membuat sesuatu terjadi lewat orang lain" sedang "naik daun" di Indonesia? Tengoklah berbagai lembaga pendidikan dan konsultasi manajemen yang tengah bertumbuhan. Betulkah ini yang dapat menjadi jawaban?

Endra Gunawan, pencinta buku tinggal di Jakarta.
Majalah Mata Baca Vol. 1 No.11 / Juli 2003 

Terkoyak Rayap Terbawa Rekan

Tujuh rak buku menyesaki paviliun berukuran 2 x 5 meter. Sedikitnya 1.500 majalah dan buku tersusun di rak itu. Tiga sampai empat eksemplar majalah kuno dibendel sederhana: dijahit dengan benang dan diberi sampul kertas minyak warna cokelat. Beberapa koran usang dibiarkan teronggok di dekat pintu paviliun.

Itulah perpustakaan pribadi Sahwanoedin di Jalan Dirgahayu 1, Pamekasan, Madura. Pria kelahiran Pulau Kangean, Sumenep, 6 Juli 1929, itu menghabiskan hari-harinya di sana. Ia berlangganan dan mengoleksi berbagai majalah dan koran yang terbit sejak 1945 hingga 2000-an.

Koleksi itu, antara lain, majalah Pedoman Islam (Makassar), tabloid Penyedar (Yogyakarta), majalah Penuntun (Jakarta), SVD (terbitan Dinas Penerangan Belanda di Surabaya), dan majalah Hikmah pimpinan M. Natsir serta Mimbar Indonesia (Jakarta). Ada pula harian Pers yang dikeluarkan pejuang-pejuang republik bermarkas di Kebon Jeruk, Jakarta.

Kala pendudukan Belanda, selain berlangganan majalah, Sahwanoedin rajin membuat reportase dan menulis opini di berbagai media. Beragam peristiwa di Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya jadi objek penulisan Sahwanoedin muda.

Tulisan itu tak hanya mengisi media cetak di tanah Jawa, seperti majalah Hikmah, Adil (Solo), Teruna, Sketsa Masa (Surabaya). Ia juga menulis di Waktu, majalah paling populer di Medan. "Waktu itu, satu tulisan dapat honor Rp 40. Kalau disertai foto, bisa sampai Rp 75," kata Sahwanoedin. Lumayan.

Berkat kegemaran berlanggaran sekaligus menulis di majalah Hikmah, Sahwanoedin muda bisa berkawan akrab dengan M. Natsir. Kini satu foto kenangan dengan perdana menteri era Orde Lama itu masih menggantung di depan pintu rumah dia.

Selain majalah, berbagai buku politik, hukum, ekonomi, dan agama juga dikoleksi. Bahkan buku saku UUD 1945 yang dicetak di atas kertas merang pun masih disimpan. "Itu koleksi saya hasil pemberian teman," ujar Sahwanoedin, yang waktu itu menjadi Wakil Kepala Kecamatan Arjasa.

Pegawai pemerintah yang digaji Rp 45 itu menyisihkan Rp 20-Rp 30 per bulan untuk berlangganan majalah mingguan. Waktu itu, harga majalah Rp 2-Rp 20. Mengapa suka mengoleksi majalah? Alasan dia sederhana. "Saya hanya lulusan sekolah rakyat dan madrasah ibtidaiyah di Arjasa, Kangean. Saya tidak ingin dianggap sebagai orang bodoh yang ketinggalan informasi," katanya.

Tak hanya sebagai kolektor, di masa pendudukan Belanda (1948) Sahwanoedin sempat mengumpulkan 30 anak lulusan SD di Sapeken untuk diajari membaca dan menulis bahasa Indonesia secara benar. Ia lakukan itu sepulang kerja di kantor kecamatan. "Cerpen-cerpen yang ada di majalah saya ajarkan ke anak-anak agar mereka tahu perjuangan bangsa Indonesia," ujarnya.

Lelaki ini memang tidak pernah diam dalam berkarya. Tahun 2004, misalnya, ia telah menyelesaikan satu buku berjudul Kangean dari Zaman Wilwatikta sampai Republik Indonesia (1350-1950). Tahun 1991-2003, ia menerbitkan majalah Kangean Nyiur Melambai berisi 20 halaman, yang terbit tiap bulan. Oplahnya hanya 200 eksemplar.

Majalah ketikan tangan itu berukuran setengah folio, yang diperbanyak dengan cara difotokopi. Semua proses pembuatan majalah dia lakukan sendirian. Majalah spesial untuk masyarakat Kepulauan Kangean dan orang Madura perantauan itu memuat kondisi Madura terkini selain soal politik nasional. "Agar masyarakat Kangean yang terpencil tahu kondisi politik nasional," tutur Sahwanoedin.

Kini perpustakaan Sahwanoedin sering jadi rujukan mahasiswa Madura. Mereka mencari referensi untuk penelitian dan skripsi. Malah ada dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan yang menganjurkan agar mahasiswanya mengunjungi perpustakaan Sahwanoedin.

Perawatan koleksi itu agar tak dimakan rayap dan jamur dilakukan dengan cara sangat sederhana. Yaitu menaruh kapur barus di sela-sela buku. Efektif? Pasti tidak. Terbukti, satu karung buku agama yang dicetak pada kertas merang tidak terselamatkan. Bagian tengah buku dikoyak rayap. Padahal, itu buku-buku langka.

Problem lain, beberapa koleksi buku dan majalah itu raib entah ke mana. Bahkan buku kesayangannya, Riwayat Perjuangan Ir. Soekarno, tidak pernah kembali ke rak di paviliun dia. "Yang meminjam teman sendiri. Saya tidak pernah mencatat kapan buku dikembalikan," katanya.

Yekthi Hesthi Murthi
Majalah Gatra edisi 30 / XII / 14 Juni 2006

Membentang Penerbit dan Media Sastra Alternatif di Yogyakarta

Dunia perbukuan berkembang pesat di Yogyakarta, Seimbang dengan tingkat apresiasi dan minat baca yang lumayan tinggi, di Yogyakarta bertumbuhanlah penerbit-penerbit kecil yang menyemarakkan dunia perbukuan dan penerbitan. Jumlahnya bisa mencapai di atas 50-an penerbit. Di antara mereka ada LKiS, Bentang, Indonesia Tera, Navila, Jendela, Pustaka Sufi, Ircisod, Insist, Qalam, Galang, Putra Langit, Pohon Sukma, Akar Indonesia, dan sebagainya.

Penerbit-penerbit kecil ini, dengan segala keterbatasannya, telah berperan positif dalam merespons kebutuhan masyarakat untuk mengakses ilmu dan informasi. Keberanian mereka untuk mengeksplorasi wacana baru dalam penyajian tema dan penggarapan estetika tampilan buku patut diacungi jempol. Kehadiran mereka akhirnya menjadi alternatif yang menyegarkan dunia perbukuan di Indonesia, yang berdampak pula pada penggairahan minat baca masyarakat.

Penyegaran kreatif ini dilahirkan oleh dan melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai "penerbit alternatif". Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh penerbit alternatif itu sebagai berikut: (1) berbekalkan semangat idealistik, (2) bukan sebagai sebuah usaha dagang yang murni profit oriented, (3) bermodal finansial yang pas-pasan, (4) dan memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo.

Munculnya istilah "penerbit alternatif" ini pernah dipertegas oleh sebuah deklarasi pendirian Asosiasi Penerbit Alternatif Indonesia (APA) yang dibacakan pada 6 Oktober 2001 (saat acara Pameran Buku Ikapi 2001) di Gedung Mandala Bakti Wanitatama dengan para deklarator yang mewakili para pekerja kepenerbitan alternatif itu sendiri, yaitu Dorothea Rosa Herliany, Buldanul Khuri, Mustofa W Hasyim, Amien Wangsitalaja, dan Soleh UG.

Konon, asosiasi yang didukung beberapa penerbit kecil di Yogyakarta ini memiliki dua tujuan, internal dan eksternal. Internalnya untuk meningkatkan kualitas penerbit, melindungi dan memberi advokasi bagi penerbit, serta meningkatkan kesejahteraan penerbit. Eksternalnya untuk memberi kesempatan pada masyarakat dalam memperoleh sumber ilmu atau bacaan yang beragam, memperjuangkan hak-hak pembaca, dan meningkatkan minat baca masyarakat.

Namun, deklarasi asosiasi tersebut tidak berlanjut dengan terlihatnya program-program nyata yang berkaitan langsung dengan dunia kepenerbitan alternatif di Yogyakarta. Bahkan, asosiasi tersebut sudah membubarkan diri atau terbubarkan dengan sendirinya? Kini di Yogyakarta mulai terdengar adanya lembaga baru serupa: yaitu Aliansi Penerbit Independen (API).

Entah apakah API juga akan bertahan dan eksis atau kemudian tenggelam seperti pendahulunya, APA, Namun, munculnya kedua lembaga ini menandakan bahwa fenomena penerbit alternatif tengah berlangsung di Yogyakarta dan para pekerja penerbit alternatif itu berusaha melakukan pembenaran terhadap penamaan "alternatif" yang diberikan kepada fenomena kepenerbitan di Yogyakarta tersebut.

Karakteristik kesantaian hidup di satu sisi dan iklim keilmuan di sisi lain, yang banyak dirujukkan pada iklim Yogyakarta, agaknya turut membidani semaraknya kepenerbitan alternatif di kota ini, Kesantaian adalah sebuah counter terhadap ketegangan hidup oleh belitan nafsu politik dan ekonomi, Penerbit-penerbit alternatif di Yogyakarta dilahirkan secara santai tanpa belenggu oleh rasa takut dan tegang berkenaan dengan persoalan politik dan ekonomi. Mereka menerbitkan buku karena memang ingin menerbitkan buku, Oleh karena itu, buku-buku yang "di luar dugaan", yang kemungkinan besar penerbit mapan tidak akan mau atau tidak akan berani menerbitkan (oleh alasan politik dan ekonomi), bisa berterbitan di kota ini.

Iklim keilmuan tentunya juga memberi kontribusi besar. Para pekerja penerbit alternatif itu berpendapat bahwa semakin banyak buku hadir ke pembaca maka semakin menguntungkan bagi si pembaca dan kemudian bagi iklim budaya baca; sealternatif apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang alternatif), sejelek apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang jelek), sekurang sempurna apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang kurang sempurna) atau setidakprosedural apa pun buku itu (kalau buku itu dibilang tidak prosedural, misalnya tidak ber-copy right dan sebagainya).

Karakteristik dan paradigma semacam ini tentu sulit ditemukan di kota-kota industri, terutama Jakarta. Maka dari itu, fenomena yang terjadi di Yogyakarta ini bisa jadi memunculkan rasa iri masyarakat perbukuan dari kota-kota lain (termasuk di dalamnya sikap sinisme dan rasa gerah).

Menuju Media Sastra Alternatif
Jika di Yogyakarta buku-buku alternatif bisa diterbitkan, buku-buku yang dalam prediksi rasional tidak akan laku juga bisa diterbitkan, akankah media-media sastra alternatif juga bisa dihidupkan di kota ini?

Media sastra —terutama sastra tulis— merupakan media yang cenderung tidak diminati secara massal sehingga cenderung tidak memiliki "masa hidup" yang panjang, Pamusuk Eneste dalam Timbul dan Tenggelamnya Majalah Kebudayaan (Matabaca, Vol.1 /No, 4/ November 2002) menyimpulkan bahwa banyak majalah kebudayaan terbit di Indonesia sejak 1930-an. Namun, saat ini hanya ada dua majalah kebudayaan yang masih rutin terbit, yaitu Horison dan Basis, ditambah dua lagi yang masih harus diuji keberlangsungan terbitnya, yaitu Kalam dan Kolong.

Dari keempat nama yang disodorkan Pamusuk itu, hanya Horison yang memiliki perhatian dalam porsi besar terhadap sastra, sementara lainnya lebih berorientasi pada kebudayaan secara umum (bahkan Basis dapat dikatakan sama sekali sudah menghilangkan rubrik sastra). Dengan demikian, bisa dikatakan Indonesia hanya memiliki satu majalah sastra, yaitu Horison. Oleh karena itu, kegelisahan untuk membuat media sastra alternatif penting untuk dimajukan, minimal untuk menyemarakkan wahana ekspresi dan publikasi sastra kita.
Lantas; kenapa Yogyakarta dimajukan sebagai kemungkinan tempat kemunculan dan keberlangsungan media sastra alternatif? Jika kita renungkan secara serius, bukan tidak mungkin jika Yogyakarta memang kondusif untuk tempat melahirkan media sastra alternatif tersebut. Beberapa alasan bisa dikemukakan, salah satunya berkaitan dengan Yogyakarta yang berkarakteristik hidup secara santai dalam mensikapi nafsu politik dan ekonomi.

Pertama, dari sisi nafsu politik. Jika dibandingkan dengan Jakarta, misalnya, suasana di Yogyakarta Iebih memberi tempat kepada tumbuhnya sikap saling menghargai di antara para pekerja sastra. Politik "perkubuan" boleh dibilang telah usang untuk dikembangkan di kota ini. Suasana ini tentu berbeda dengan Jakarta: yang bias-bias politik "perkubuan"-nya teramat kental. Di sana, setidaknya, ada kubu Utan Kayu "TUK" dan Utan Kayu "Horison" (karena Horison mulai Januari 2003 juga bermarkas di Utan Kayu) sebagai dua kubu yang memiliki power tertentu yang diperhitungkan dalam "perpolitikan" sastra, kemudian di wilayah marjinalnya terdapat komunitas Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), komunitas-komunitas sastra pergerakan yang melahirkan Media Kerja Budaya (MKB), juga komunitas-komunitas lain yang mencoba untuk Iebih bersikap independen semacam Yayasan Multimedia Sastra (YMS).

Kentalnya bias politik "perkubuan" membuat kehadiran ataupun kemunculan seseorang atau sesuatu apa pun dalam khazanah komunikasi sastra di Jakarta akan mudah direspons dalam suasana kesalingcurigaan. Melejitnya nama seorang sastrawan, pemilihan nama-nama tertentu sebagai peserta sebuah festival sastra internasional, peluncuran buku antologi sastra, penjurian-penjurian dan penghargaan-penghargaan sastra, dan sebagainya adalah peristiwa yang tak pernah luput dari nuansa politik "perkubuan" tersebut. Komunikasi sastra telah kehilangan kesahajaannya dan upaya-upaya pemajuan dunia kesusastraan rentan untuk tergiring ke penjadian dunia kesusastraan sebagai alat untuk peneguhan kubu politik.

Jika kita hendak memunculkan sebuah media sastra baru atau alternatif di Jakarta, jangan-jangan sebelum media tersebut berhasil muncul kita sudah disibukkan untuk menjawab berbagai sinisme dan kecurigaan yang ditujukan terhadap motif-motif apa pelahiran media ini, siapa berdiri di belakangnya, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berlagak kritis tapi sebetulnya melulu politis. Jika demikian, tentu Yogyakarta bisa dijadikan kota alternatif untuk penggairahan dan pemajuan sastra, termasuk menjadikan kota ini basis dari media sastra alternatif. Penggairahan dan pemajuan sastra yang diharapkan Iebih bersahaja dan tidak tenggelam oleh nafsu politik mudah-mudahan bisa dilakukan di sini.

Kedua, dari sisi nafsu ekonomi. Pamusuk Eneste dalam Matabaca edisi yang sama juga mengutip pendapat Jakob Sumardjo perihal mengapa sebuah majalah kebudayaan (atau majalah sastra) cenderung mudah mati di tengah jalan, Menurut Jakob Sumardjo, ada beberapa hal yang menyebabkan sebuah majalah kebudayaan bisa bertahan hidup, dan salah satunya bukan mengejar keuntungan komersial.

Faktor pengesampingan motif komersial inilah poin yang kemungkinan besar masih bisa dijalankan oleh komunitas sastra Yogyakarta. Sebaliknya, orang-orang dari kota-kota besar lain (seperti Jakarta dan Bandung) sulit untuk melepaskan diri dari jaring-jaring sikap hidup materialistik dan pengejaran keuntungan material semacam itu.

Kita bisa belajar dari dunia penerbitan buku secara umum. Penerbit-penerbit alternatif ini jika menerbitkan sebuah buku pertama kalinya bukan untuk mengejar keuntungan komersial, melainkan keuntungan kultural. Terbukti di Yogyakarta semangat-semangat tersebut masih bisa dipelihara, dan penerbit-penerbit alternatif tersebut juga terbukti bisa bertahan hidup di kota ini. Dari contoh bisa bertahannya penerbitan buku alternatif di Yogyakarta inilah, bukan tidak mungkin ide untuk menjadikan Yogyakarta sebagai basis penerbitan media sastra alternatif akan menemukan relevansinya.

Beberapa media sastra alternatif itu pun memang telah mulai mencoba untuk muncul dari sini, seperti Jurnal Cerpen Indonesia. Bahkan, Jurnal Puisi yang pada mulanya terbit di Jakarta dan merasa kewalahan untuk bertahan hidup dan sempat sekarat bertahun-tahun, akhirnya memilih untuk bertahan terbit di Yogyakarta.

Hal ini tentu saja masih terbuka kesempatan untuk menggagas dan melahirkan media sastra alternatif di kota ini. Kalaupun di kota ini pernah dideklarasikan Asosiasi Penerbit Alternatif (APA) dan Aliansi Penerbit Independen (API), bukan tidak mungkin akan lahir juga Asosiasi Media Sastra Alternatif (AMSA) atau Aliansi Media Sastra Independen (AMSI) yang mudah-mudahan kalis dari kepentingan politik dan ekonomi secara sempit.

Amien Wangsitalaja, penyair dan editor buku freelance.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 11/Juli 2003

Wawancara dengan Danah Zohar, Penulis Buku Spiritual Qoutient dan Spiritual Capital

Sebelum ajal menjemput, psikolog Abraham Maslow sempat menyesal karena teori piramida kebutuhan manusia yang dibuatnya ternyata terbalik. Dia sadar, piramidanya membuat orang menjadi tamak, egois, dan materialistis. Sehingga orang tidak punya kepedulian sosial karena hanya mengejar kebutuhan dasar.

Padahal, jika aktualisasi diri dipenuhi lebih dahulu, kebutuhan dasar dengan sendirinya akan terpenuhi. Danah Zohar, 62 tahun, penulis buku Spiritual Quotient, menceritakan penyesalan Maslow itu dalam buku revolusionernya yang lain: Spiritual Capital. Lewat buku itu, Danah bukan sekadar bercerita.

Ia bersama suaminya, Ian Marshall, seakan ingin mengobati penyesalan Maslow. Dengan mengejutkan mereka membalik piramida Maslow. Menurut Danah, piramida Maslow memang memberikan ruang bagi manusia untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan lebih tinggi. Tapi itu baru bisa dipikirkan jika kebutuhan paling mendasar dipenuhi terlebih dulu.

Artinya, manusia benar-benar binatang. Ia hanya ingin jadi manusia jika kondisi memungkinkan. Danah adalah seorang fisikawan, filsuf, dan pendidik manajemen. Ia menyelesaikan gelar sarjananya (BSc) di MIT (Massachusetts Institute of Technology), Amerika Serikat, pada 1966. Kemudian Danah menjadi pembicara di pelbagai konferensi internasional tentang bisnis, pendidikan, dan kepemimpinan.

Konsep penting yang ditawarkannya disebut dengan istilah kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan modal spiritual (spiritual capital). Ia menulis banyak buku, antara lain The Quantum Self (1990), The Quantum Society (1994), dan Rewiring The Corporate Brain (1997). Juga Spiritual Qoutient (2000) dan Spiritual Capital (2004).

Dua buku terakhir telah diindonesiakan oleh Mizan. Pekan lalu, Danah Zohar bertandang ke Jakarta selama sepekan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh akademisi, praktisi, dan sejumlah eksekutif Ibu Kota. Kamis sore lalu, Luqman Hakim Arifin dan G.A. Guritno dari Gatra, bersama beberapa wartawan lainnya, mewawancarai Danah Zohar di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Petikannya:

Apa tujuan gagasan Anda tentang spiritual capital?
Tujuannya untuk membuat manusia menjadi lebih bersih dan lebih baik. Tidak penting berapa banyak uang Anda di bank jika ternyata Anda merasa tidak bahagia. Pesan saya kepada semua orang: kita saat ini berada dalam krisis spiritual yang mengerikan. Krisis itulah yang membuat kita di Barat tidak bahagia, stres, dan sakit.

Resep apa yang Anda tawarkan?
Saya memberitahukan kepada mereka tentang bagaimana mengembalikan spiritualitas dalam kehidupan tanpa harus kembali ke agama. Karena agama di Barat --kecuali di Amerika Serikat-- bukan hal yang besar lagi. Di Inggris, misalnya, hanya 2% warganya yang pergi ke gereja setiap Minggu. Mungkin sekarang lebih sedikit lagi. Ketahuilah, kita punya sesuatu di diri kita sebagai manusia, yang kalau kita tahu dan bisa mengolahnya, kita bisa menjadi lebih baik dan lebih bahagia.

Apakah spiritual capital sebuah konsep baru?
Saya belum pernah mendengar orang berbicara soal spiritual capital sebelum saya. Orang berbicara soal modal sosial (social capital) sebelum saya. Tapi itu berbeda.

Apa kaitan antara spiritual capital dan spiritual intelligence?
Kalau kita mimiliki spiritual intelligence, maka kita juga memiliki spiritual capital. Yang pertama dasarnya, dan kedua output-nya. Itu sudah konsekuensi.

Anda berpendapat, spiritual capital adalah hal vital dalam kapitalisme. Apa hubungan antara spiritual capital dan kapitalisme?
Tidak ada. Spiritual capital tak ada hubungannya dengan kapitalisme kini. Apa yang terjadi di Barat, kapitalisme mendorong orang untuk mencari uang sebanyak mungkin. Dan ketika Barat bergeser dari nilai-nilai agama ke materialisme, kapitalisme berubah menjadi filsafat hidup. Uang menjadi segala-galanya.

Ini berbeda dengan spiritual capital. Saya memang berbicara mengenai "kapitalisme spiritual" (spiritual capitalism) tapi itu tidak ada kaitannya dengan kapitalisme yang ada sekarang.

Saya pikir, perusahaan kapitalis bisa mengembangkan spiritual capital, lalu berubah menjadi spiritual capitalism yang berbeda dengan kapitalisme sekarang. Ia harus berubah menjadi perusahaan yang memiliki perhatian pada komunitasnya, lingkungannya, prinsip-prinsip etika, dan kehidupan planet ini.

Dalam buku Anda, spiritual capital terkesan memberikan "spirit" bagi kapitalisme?
Saya pikir, kita tidak bisa mentransformasikan kapitalisme. Karena kapitalisme yang ada sekarang sama sekali tidak spiritual. Ia sangat materialistis dan egois. Saya bahkan menyebutnya monster yang memangsa dirinya sendiri.

Anda setuju jika spiritual capital disebut sebagai dokter untuk kapitalisme? 
Ya, saya setuju itu. Bukankah tujuan akhir spiritual capital memberikan bantuan untuk meningkatkan keuntungan, seperti yang dilakukan perusahaan besar?

Sama sekali tidak seperti itu. Memang lebih mudah bagi perusahaan kecil menerapkan spiritual capital dibandingkan perusahaan besar. Perusahaan besar memang tidak sempurna karena punya jaringan global. Tapi mereka benar-benar mencoba untuk spiritual. Bukan sekadar profit. Unilever, misalnya, yang memberikan bantuan korban gempa di Yogyakarta dan belahan dunia lain, mencoba untuk lebih spiritual.

Bagaimana Anda menemukan gagasan spiritual capital ini, sementara Anda berlatar belakang fisikawan?
Saya terlahir sebagai Kristen. Tapi saya kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan ketika saya kehilangan kakek saya. Saya bertanya kepada Tuhan, mengapa itu bisa terjadi? Lalu saya pindah ke kota kecil yang penduduknya sangat religius. Selama 11 tahun, saya disuruh pergi ke sekolah Minggu. Padahal, ibu saya sendiri tidak percaya (gereja). Ini munafik.

Lalu, apa yang Anda lakukan?
Beberapa tahun kemudian, saya berdiskusi dengan seorang ahli fisika. Di situ saya berpikir dan bertanya: "Siapa saya di alam semesta ini?" Fisika sangat membantu saya memahami dunia dan alam semesta. Fisika kuantum sungguh sangat indah dan merupakan pengalaman spiritual pertama bagi saya. Ketika masuk universitas, saya menekuni fisika. Saya kira, fisika merupakan jawaban. Ketika berumur 20-an tahun, saya mulai mencari agama dan kini sangat dekat dengan Buddhisme. Fisika dan Buddhisme hampir sama. Mereka sama dalam memandang dan berpikir mengenai alam dunia, alam semesta, dan kesadaran.

Apakah Anda juga menjalani hidup secara spiritual?
Ya, saya melakukan karena saya tertekan. Banyak sekali berita di televisi yang membuat saya tertekan. Misalnya aksi Marinir Amerika di Irak atau bencana yang terjadi di dunia. Saya sampai ingin bunuh diri dan mabuk semabuk-mabuknya untuk keluar dari hal itu. Tapi tetap tidak bisa. Saya melihat semua persoalan itu sebagai persoalan spiritual. Dengan spiritual intelligence dan spiritual capital, saya bisa keluar dari semua itu.

Apakah Anda mempengaruhi keluarga Anda dengan spiritualitas?
Anak perempuan saya iya. Tapi anak laki-laki saya tidak.

Apa arti hidup bagi Anda?
Oh... (Danah tertawa sambil mengusap-usap rambutnya, lalu diam sejenak). Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan itu? (Diam lagi). Arti hidup saya adalah terus mencari makna dari makna kehidupan saya.

Apa pencapaian Anda saat ini sudah cukup?
Saya tidak punya pencapaian-pencapaian khusus. Saya juga tidak punya pikiran untuk bisa menyelamatkan dunia. Saya hanya melakukan yang terbaik. Dan saya belum berhenti. Memang sangat penuh tekanan dengan apa yang terjadi di dunia, tapi jangan putus asa. Saya akan terus.

Majalah Gatra edisi  30 / XII / 14 Juni 2006

Seks dan Problem Budaya dalam Cerita Anak

Seks dalam kehidupan makhluk hidup menjadi kebutuhan paling vital setelah kebutuhan makan. Bagi makhluk hidup, aktivitas seksual menjadi faktor penting karena berkaitan erat dengan kebutuhan untuk berkembang biak dan meneruskan kelanjutan keturunan. Bagi manusia, aktivitas seksual tidak hanya sekadar demi menjaga kelangsungan spesies belaka, tetapi juga merupakan aktivitas yang membawa kenikmatan. Pergeseran fungsi ini terjadi karena manusia memiliki hasrat atau nafsu yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, Tidak heran bila mitos perihal penciptaan kenikmatan yang paling puncak dalam melakukan hubungan seksual kemudian banyak bermunculan. Juga ketidakmampuan atau kelemahan dalam aktivitas seksual bisa menimbulkan dampak dalam kehidupan pribadi ataupun sosial seseorang.

Seks, Kenikmatan yang Dihujat
Foucault dalam Seks dan Kekuasaan (2000) menjelaskan dengan bagus betapa seks telah menjadi demikian dilarang dan direpresi dari zaman ke zaman. Pembicaraan mengenai seksualitas sama artinya dengan pelanggaran yang tidak bisa ditolerir oleh nilai-nilai kesopanan. Bahkan untuk membicarakan seks dalam konteks yang ilmiah sekalipun, orang harus meminta maaf lebih dahulu karena telah berani membicarakan hal yang tabu dan tidak sopan.

Kekuasaan, menurut Foucault, telah mengontrol aktivitas seksual bahkan ke komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. Pengaturan masalah seks ini telah memasuki ruang-ruang pribadi manusia, Dengan melakukan kampanye di balik sarana tradisional seperti anjuran moral dan keagamaan, kekuasaan mencoba mengubah tingkah laku seksual pasangan-pasangan menjadi perilaku ekonomis dan politis yang terencana. Di Indonesia, kasus ini misalnya bisa dilihat dalam program keluarga berencana. Dalam program tersebut, aktivitas seksual dianggap sebagai aktivitas yang berkelindan dengan persoalan populasi, ekonomi, dan politik.

Kontrol kekuasaan terhadap wacana seksualitas ini juga merambah wilayah-wilayah lain, termasuk dunia fiksi, sastra. Persentuhan fiksi dengan seks langsung bisa dikategorikan dengan pornografi atau dianggap sebagai karya sastra picisan yang amoral. Bila sudah demikian, lembaga sensor resmi (badan sensor negara) ataupun tidak resmi (kelompok-kelompok agama dan sosial) segera bertindak.

Dalam kenyataannya, masyarakat sendiri berada dalam hipokrisi. Di satu sisi, mereka menganggap seks sebagai hal yang tabu, tidak pantas, dan menjijikkan. Di sisi lain, orang merasa bergairah untuk mengetahui lebih jauh segala hal yang berhubungan dengan seks. Goenawan Mohamad dalam Seks, Sastra, Kita (1981), melihat seks sebagai topik yang dikecam sekaligus memiliki daya tarik yang tidak ada habisnya. Dia menganggap persoalan seks tidak beda dengan persoalan-persoalan lain yang sama menariknya untuk ditulis. Dalam karya sastra, menurutnya, seks hanyalah semacam pose. Meneriakkan seks terlalu keras sama tidak meyakinkannya dengan terlalu hati-hati atau bahkan menolaknya.

Seks dalam Buku Bacaan Anak
Seks juga menyentuh wilayah sastra anak-anak. Dalam hal ini, saya mengandaikan kita sepakat bahwa cerita anak pun merupakan salah satu karya sastra. Namun, kadar aktivitas seksuai yang dikisahkan di dalamnya tentu saja berbeda dengan fiksi orang dewasa. Dalam cerita anak, adegan berbau seks yang erotis tidak sampai menggambarkan adegan percumbuan yang merangsang hasrat seksual, apalagi persenggamaan. Biasanya, adegan seksual dalam cerita anak hanya menggambarkan adegan berciuman, berpelukan, atau memegang tangan di antara tokoh-tokohnya.

Kendati demikian, persoalan seks dalam kaitannya dengan cerita anak menjadi lebih rumit dibanding dengan fiksi untuk orang dewasa. Cerita anak relatif tidak bisa lepas dari beban pedagogisnya, berbeda dengan fiksi yang diperuntukkan bagi orang dewasa. Memang pada awalnya keduanya diciptakan sebagai sarana pendidikan bagi pembacanya. Namun, dalam perkembangannya, fiksi untuk orang dewasa relatif bisa melepaskan diri dari tuntutan pedagogis tersebut, meski tidak selalu sepenuhnya demikian.

Sampai saat ini cerita anak masih dianggap sebagai media efektif untuk memberikan tuntunan moral dan sopan santun bagi pembacanya yang tentu saja anak-anak. Bahkan kabarnya mata kuliah yang berkaitan dengan cerita anak hanya diberikan di perguruan tinggi kependidikan karena fungsi pedagogis cerita anak tersebut. Beban fungsi demikian membuat para pengarang cerita anak-anak tidak bisa main-main karena mereka berhadapan dengan kekuatan sensor yang lebih garang. Sekali saja mereka membuat cerita yang berbau seks, hujan hujatan akan segera menimpanya sebagai orang yang dianggap merusak moral anak-anak.

Standar Norma dan Perbedaan Kultur
Benarkah seks selalu menjadi sesuatu yang tabu dan tidak layak untuk diperlihatkan di depan publik karena bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan? Ternyata tidak selalu aktivitas seksual melanggar nilai-nilai kesopanan. Norma-norma kesopanan —seperti halnya hasil kebudayaan manusia yang lain— berkaitan dengan sistem tata kemasyarakatan yang dibangun oleh masyarakat tersebut dan bersifat relatif. Sesuatu yang dianggap tidak sopan bagi sebuah masyarakat belum tentu juga berarti demikian bagi masyarakat lain. Hal ini bergantung pada kultur masyarakat tempat nilai-nilai tersebut terlahir.

Sistem budaya yang dibangun oleh masyarakat Indonesia berbeda dengan yang dibangun oleh masyarakat lain, termasuk bangsa Barat. Oleh karena itu, sudah jamak bila norma-norma yang diciptakan oleh bangsa Indonesia pun berbeda dengan yang diciptakan oleh bangsa Barat. Perbedaan kultur inilah yang kemudian membuat sebuah aktivitas bisa dianggap melanggar norma.

Misalnya, aktivitas seksual tertentu (seperti berciuman atau berpelukan) menjadi aktivitas yang biasa ditemui dalam masyarakat Barat. Norma-norma bangsa Barat memperbolehkan anggota masyarakatnya berciuman atau berpelukan di tempat umum karena aktivitas tersebut menurut tata kemasyarakatan mereka adalah salah satu bentuk ekspresi perasaan cinta kasih.

Tidak demikian halnya dengan norma kesopanan bangsa Indonesia. Kultur Indonesia tidak menjamin ekspresi perasaan seperti itu. Berciuman atau berpelukan bagi masyarakat Indonesia merupakan aktivitas yang tabu dan tidak layak untuk dipertontonkan di depan publik. Aktivitas seperti itu merupakan aktivitas yang bersifat sangat pribadi dan hanya bisa diekspresikan dalam wilayah pribadi, yaitu kamar tidur.

Sikap masyarakat Indonesia terhadap seks yang demikian itu memiliki dampak luas. Apa pun yang berbau seks langsung dianggap asusila dan tidak sesuai dengan budaya bangsa. Mulai dari media visual, audio, hingga kombinasi keduanya dikontrol ketat oleh pemerintah dan masyarakat, Mereka akan segera melontarkan kecaman bila ada di antara anggota masyarakat yang berani menyentuh atau bahkan mengeksploitasi persoalan seks, Kasus mutakhir dapat kita temukan daiam kontroversi "Goyang Ngebor" Inui Daratista atau VCD "Kamar Mandi", misalnya.

Ciuman Mesra untuk Sang Putri
Kadar keerotisan adegan seks dalam cerita anak berbeda dengan fiksi orang dewasa. Adegan seperti ini biasanya kita dapatkan dalam cerita-cerita anak adaptasi atau terjemahan dari luar negeri (baca: Barat) yang diterjemahkan atau diceritakan kembali dalam bahasa Indonesia.

Persoalan sopan dan tidak, sebenarnya lebih pada ukuran batas kesopanan antara masyarakat Barat dengan masyarakat Indonesia. Bagi masyarakat Barat, bisa saja adegan berpelukan atau berciuman antara dua manusia berbeda jenis kelamin menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, di Indonesia adegan seperti itu masih menjadi sesuatu yang tidak sopan bila dipertontonkan di depan khalayak, khususnya anak-anak. Nilai-nilai kesopanan di Indonesia tidak membiarkan pasangan lelaki-perempuan bisa bermesraan dengan berpelukan atau berciuman di sembarang tempat dan waktu. Bahkan bagi pasangan suami-istri sekalipun, masih merasa tabu untuk mempertontonkan kemesraan mereka di depan orang lain, termasuk anak-anak mereka.

Contoh cerita anak yang lumayan populer adalah cerita Putri Salju dan Tujuh Kurcaci. Dalam salah satu adegan cerita tersebut dikisahkan sang putri terbangun dari kutukan tidur panjangnya setelah seorang pangeran mencium bibirnya.
.... Dia menghampiri sang Putri, dengan lembut memberikan ciuman perpisahan pada bibirnya yang dingin .... (Snow White and The Seven Dwarf, 2000, hlm. 90).
Dalam sebuah edisi terjemahan cerita Putri Tidur (Sleeping Beauty), sang pangeran mencium sang putri untuk membangunkannya dari tidur panjang. Namun, dalam kisah ini sang pangeran mencium pipi, bukan bibirsang putri.
.... Pangeran mencium pipi sang Putri... (Putri Tidur, 1991, hlm. 23).
Saya tidak tahu adegan ini mengalami transformasi (baca: penyesuaian) dari adegan cium bibir ke cium pipi sebagai sebuah tindakan self-censor yang sengaja dilakukan oleh penerbit ataukah memang sudah demikian dalam naskah aslinya. Adegan seperti ini bagi orang Barat merupakan hal yang biasa sebagai sebuah ekspresi perasaan cinta dan sayang seseorang terhadap kekasihnya, tapi tidak demikian bagi orang Indonesia, apalagi anak-anak. Seandainya adegan ciuman ini, bahkan adegan cium pipi sekalipun, terjadi di dunia nyata masyarakat Indonesia, para orang tua pasti akan segera menutup mata anak-anak mereka.

Dalam sebuah buku cerita anak yang bercerita tentang seorang wanita Indian bernama Pocahontas, adegan erotis dilukiskan lebih eksplisit lagi, Selain teks cerita tersebut mengisahkan tentang adegan ciuman tokoh lelaki dan perempuan, masih ditambah lagi dengan gambar ilustrasi yang memperlihatkan adegan ciuman bibir
tersebut. Penggabungan teks dan gambar itu semakin memperkuat imajinasi pembaca dalam menangkap adegan ciuman di antara kedua tokoh cerita.
.... Pocahontas senang sekali. Diciumnya sahabatnya itu... (Pocahontas, 1999).
Dalam buku cerita anak lain yang berjudul Atlantis; the Lost Empire (2001), teks cerita sama sekali tidak menyinggung tentang adegan erotis, tapi gambar ilustrasi dalam buku tersebut memperlihatkan sosok wanita yang mengenakan pakaian minim yang lebih mirip dengan pakaian renang (latar cerita ini memang di lautan). Pakaian tokoh wanita cerita ini mempertontonkan paha dan sebagian besar tubuh bagian atas.

Dari beberapa contoh cerita anak tersebut, disadari atau tidak, sebenarnya seks juga sudah merambah ke dunia cerita anak. Menariknya, adegan berbau seks dalam cerita anak itu tidak memperoleh respons signifikan dari masyarakat. Mestinya persoalan seks dalam kaitan dengan moralitas dan kesopanan menjadi persoalan yang sensitif bila mengacu pada keyakinan masyarakat bahwa cerita anak adalah sebuah fiksi yang bisa dijadikan alternatif pendidikan dan penanaman nilai-nilai kesantunan pada anak-anak.

Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan anak-anak akan mengungkapkan ganjalan hatinya secara terbuka kepada publik seperti halnya orang dewasa. Namun, saya juga tidak pernah menjumpai adanya keluhan dari khalayak sebagai bentuk kontrol terhadap bacaan anak-anak, Protes hanya muncul terhadap komik Shincan yang sesungguhnya dibuat untuk konsumsi orang dewasa. Tidak demikian halnya dengan cerita anak yang dibuat semata-mata untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Tidak ada keluhan masyarakat terhadap fenomena seks dalam cerita yang dibaca anak-anak. Realitas seperti ini menurut saya sangat mengusik dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Ada beberapa hipotesis yang bisa saya tarik dalam fenomena seks dalam cerita anak ini. Pertama, cerita Putri Tidur, Putri Salju, dan cerita-cerita lainnya merupakan cerita anak klasik yang sudah biasa masyarakat dengar atau baca. Karena sudah merasa akrab dengan cerita tersebut, masyarakat merasa apa pun yang ada dalam cerita tersebut sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kultur mereka dan tidak lagi merasakan keganjilan di dalamnya.

Berikutnya, masyarakat melihat adegan erotis seperti berpelukan atau berciuman dalam cerita anak terutama yang berasal dari Barat sebagai sebuah adegan yang wajar karena model cerita seperti itu sudah menjadi sebuah klise. Sebagian besar cerita anak yang memiliki tokoh pangeran dan putri selalu berakhir dengan adegan berpelukan atau berciuman dan pernikahan kedua tokoh cerita. Adegan berpelukan atau berciuman dianggap sebagai keniscayaan dari ekspresi perasaan bahagia dalam cerita anak yang sebagian besar berakhir dengan adegan bahagia (happy ending). Tidak mustahil bila kemudian anak-anak memiliki pemahaman bahwa cinta identik dengan berciuman.

Bisa jadi juga masyarakat tidak terlalu memedulikan persoalan ini karena tidak bersentuhan langsung dengan diri mereka. Logikanya, pembaca cerita anak-anak adalah kalangan anak-anak yang tidak bisa mengekspresikan keberatan mereka terhadap sebuah cerita yang mereka dengar atau baca. Rasa suka atau tidak yang dimiliki anak-anak terhadap sebuah cerita lebih berdasarkan alasan yang tidak substansial, seperti tertarik dengan warna-warni ilustrasi di dalamnya atau karena buku tersebut baru diperoleh. Juga mereka belum bisa melakukan semacam kontrol diri saat menghadapi sebuah teks. Segala sesuatu yang ada di dalam teks mereka anggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya. Sementara itu orang tua biasanya tidak terlalu menaruh perhatian karena mereka tidak atau jarang terlibat dalam aktivitas tersebut. Berbeda dengan bila anak-anak sedang menonton televisi atau film bersama-sama orang tua ikut terlibat dalam aktivitas tersebut dan bisa meresponnya.

Barangkali juga masyarakat telah mengalami pergeseran standar nilai kesopanan sehingga adegan-adegan ciuman dan pelukan, atau ilustrasi tokoh berpakaian seksi tidak lagi dianggap tabu. Gencarnya pengaruh tayangan media-media dari berbagai macam negara yang memiliki nilai-nilai sosial dan budaya berbeda sedikit banyak membawa pengaruh dalam pemahaman masyarakat terhadap tatanan moral yang selama ini mereka pegang. Hegemoni budaya dari luar sudah meresap dalam pola pikir masyarakat Indonesia dan mengubah cara pandang mereka. Singkatnya, bila dirunut lebih jauh lagi, fenomena seks dalam cerita anak memiliki keterkaitan erat dengan tata kemasyarakatan pada umumnya dan menjadi cerminan sosial-budaya masyarakat yang senantiasa berubah. Benarkah demikian?!

Imam Risdiyanto, penggiat Komunitas Dolanan Yogyakarta.
Majalah Mata Baca edisi Vol. 1/No. 11/ Juli 2003

Obituari Daniel S. Lev: Menatap Indonesia Hingga Akhir Hayat

Sudah cukup lama saya mendengar bahwa Prof. Daniel S. Lev, kawan lama, terkena kanker. Tapi penuturan seorang kawan lain yang mengabarkan bahwa penyakitnya makin berat membuat saya buru-buru meneleponnya, sekadar menyapa. ''Telepon saya lagi ya, Toeti. Kalau bisa, datanglah ke Seattle," demikian pintanya di akhir pembicaraan. Suaranya masih keras, bersemangat.

''Dokter mengatakan, kanker saya sudah metastasis ke kepala," ujarnya dengan enteng. Mendengar suaranya tanpa nada derita itu, saya tidak bisa bilang apa-apa. Bahkan bingung memilih kata-kata yang paling pas untuk menghiburnya. ''Saya sedang menunggu mobil rumah sakit untuk di-chemo lagi. Tapi rupanya sulit juga, ya, perang melawan kanker." Sabtu 29 Juli lalu, perokok berat ini harus pergi selamanya pada usianya yang 73 tahun. Prof. Dr. Daniel S. Lev meninggalkan Arlene, 69 tahun, istrinya, dan dua anaknya, Claire dan Louis Lev.

Saya meneleponnya pada akhir Mei lalu dari Vancouver, B.C. Canada, langsung ke kediamannya di Capital Hill, Seattle. Tentang kondisinya saya dengar dari Sri Tuti Manu, seorang teman dari Washington University, Seattle. "Pak Dan akan senang kalau ditelepon atau dikunjungi," kata Sri Tuti Manu. Awal tahun ini, Pak Dan, begitu beliau biasa dipanggil, divonis dokter bahwa parunya terkena kanker.

Setelah pemberitahuan tentang penyakitnya itu, Dan Lev harus berkejaran dengan waktu karena masih banyak tugasnya yang belum diselesaikan. ''Saya sedang menyelesaikan biografi politik Yap Thiam Hien," ujarnya. Buku yang sudah sampai 900 halaman itu masih kurang dua bab lagi. Ahli hukum Yap Thiam Hien (almarhum) adalah pencetus ide hak asasi manusia di Indonesia.

Dan Lev, awal Juli lalu, juga sedang ngebut menulis postcript tentang Bung Karno. Catatan singkat di tahun 1950-an, utamanya untuk menjawab pertanyaan mengapa Presiden Soekarno mengganti sistem parlementer menjadi Demokrasi Terpimpin. Postcript ini semacam ''sambungan'' dari bukunya yang terkenal, The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1969. Penyakit kankernya memang telah menggerogoti raganya, tapi tak pernah membuat semangatnya patah. Ia tetap menatap Indonesia hingga akhir hayatnya.

Menyelesaikan MA dan doktornya dalam ilmu politik di Cornell University, Ithaca, saat menjadi murid George G. Kahin, Dan Lev tertarik akan dinamika perpolitikan Indonesia dari waktu ke waktu. Ia tertarik pada keragamannya yang sangat kompleks. Bagi Dan Lev, Indonesia bukan sakadar "rumah kedua", tetapi kehidupan orang Indonesia sangat dihayatinya. Ada semacam ikatan emosional dengan Indonesia, dengan begitu banyak tokoh Indonesia menjadi sahabatnya.

Hampir seluruh mahasiswa Indonesia yang berada di Washington State dan kawasan dekatnya --seperti Vancouver atau Berkeley, California-- disambanginya dengan hati terbuka. Dan Lev bukan seorang killer, melainkan seorang pendidik sejati yang tulus. Beliau mengajar tanpa menjejali muridnya dengan berbagai teori, tetapi diskusi lebih disorongkannya di kelas. Demokrasi tak ada gunanya kalau tak ada institusi kenegaraan seperti pengadilan yang relatif independen, transparan, kuat, dan bersih, demikian Dan Lev acapkali memberikan penekanan.

Almarhum pernah menjadi co-promotor Adnan Buyung Nasution, ketika si Abang "dibuang" ke Belanda. Dan Lev --yang selain bahasa Indonesia, juga mempelajari bahasa Belanda-- wira-wiri ke Belanda untuk membimbing si Abang. Akhirnya si Abang berhasil menyelesaikan disertasinya di Universitas Utrecht yang berjudul ''The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia'' (1992).

Meski sudah pensiun pada 1999, Dan Lev tetap menaruh perhatian besar akan perkembangan perpolitikan di Asia Tenggara, khususnya tentang konflik politik. Diingatkannya bahwa konflik dengan latar belakang keberagaman seperti Indonesia, dari sejarahnya, selalu diciptakan dari atas.

Satu hal lagi, sebagai bukti kecintaannya terhadap Indonesia ialah akan diwariskannya sebagian besar koleksi perpustakaan pribadinya ke Indonesia. Harapan Dan Lev ialah agar generasi muda bisa duduk, membaca, dan berpikir tentang bangsanya. "Indonesia berutang banyak kepada Dan Lev," kata Adnan Buyung Nasution, "Dia adalah 'duta bangsa' yang mampu menjelaskan kepada publik Barat bahwa Indonesia merupakan bangsa yang patut dihargai."

Sulit dimungkiri bahwa begitu banyak kebaikan dan atensi Dan Lev yang telah diberikan kepada masyarakat intelektual Indonesia. Bahkan itu dilakukan hingga akhir hayatnya. Namun profesor yang baik dan tulus membantu murid-muridnya ini telah pergi.

Toeti Kakiailatu, Wartawan senior
Majalah Gatra 38 / XII / 9 Agustus 2006