10 Novel Percintaan Cabul Terfavorit

10 Novel Percintaan Cabul Terfavorit

1. Dirty – Megan Hart
Seorang pria pengusaha kaya yang dominan dan perempuan sederhana yang patuh... Terdengar akrab? Tidak seperti Megan Hart yang menulisnya, percayalah. Ini adalah prosa cerdas yang vulgar, dan sebuah roman memilukan hati, semua terbungkus menjadi satu. Ini adalah salah satu favorit yang terakhir kali saya baca.

2. Willing Victim – Cara McKenna
Saya sudah membaca banyak buku Cara McKenna dan menyukai semuanya, tapi yang satu ini favorit saya. Itu mungkin karena ini adalah buku McKenna pertama saya, dan saya membaca semuanya dengan tangan menutup mulut saya karena shock. Cerita ini kasar dan nyata dan mengeksplorasi beberapa sisi gelap dari fantasi seksual, jadi lanjutkan dengan hati-hati.

3. Deep Desires – Charlotte Stein
Sebuah kisah tentang dua orang rusak tak diinginkan yang menginginkan segalanya dari satu sama lain, pertama dari kejauhan, dan kemudian dari jauh lebih dekat. Novel ini penuh dengan sakit hati dan nafsu. Benar-benar kasar dan indah.

4. Crooked Hearts – Patricia Gaffney
Bagi Anda yang tidak memasuki erotis, roman historis ini berdosa dengan cara yang berbeda. Saya membacanya pertama kali bertahun-tahun yang lalu dan itu menerbangkan pikiran saya. Tokoh utama pria dan wanita keduanya adalah penipu. Tokoh utama wanita berpura-pura menjadi seorang biarawati yang mengumpulkan uang untuk anak-anak. Tokoh utama pria menyamar sebagai seorang buta dan menjadi pengecut di sekitar penjahat yang memegang pisau. Ini tidak vulgar, tepatnya; itu hanya salah, salah, salah dan sangat benar.

5. Beyond Shame – Kit Rocha
Saya penggemar berat kisah berseting dystopian, dan cerita ini mendorong semua kancing baju saya. Masyarakat yang rusak, daya tarik yang tiba-tiba, dan suguhan favorit saya: tempat di mana wanita dikagumi karena seksualitas yang dalam dan gelap sama seperti para pria.

6. The Leopard Prince – Elizabeth Hoyt
Jika Anda adalah pembaca roman historis biasa, buku ini akan menjadi sesuatu yang menjijikkan, karena ini adalah hubungan yang biasanya tidak Anda lihat: perselingkuhan antara wanita bangsawan dan pelayan laki-lakinya. Dia tidak menyamar sebagai pelayan. Dia bukan bajingan rahasia seorang bangsawan. Dia adalah pembantu rumahnya, dan setiap momen yang dicuri terasa jujur dan terlarang.

7. Theory of Attraction – Delphine Dryden
Sebuah erotis yang lucu dan kutu buku. Ya, saya bilang erotis kutu buku. Tokoh utama wanitanya adalah seorang programmer komputer dan Tokoh utama prianya adalah seorang astrofisikawan tanpa keterampilan sosial. Selera seksual unik bercampur dengan lelucon Minecraft. Ini murni, menyenangkan vulgar.

8. Laid Bare – Lauren Dane
Sebuah percintaan yang panas antara kekasih yang bersatu kembali yang kemudian berkembang menjadi rumah tangga penuh kasih. Ini adalah selera seksual yang emosional dan manis bahkan sebelum teman terbaik tokoh utama pria masuk ke dalam gambar. Saya menyukai kerumitan yang dinavigasi untuk menemukan akhir yang bahagia.

9. Pleasure Unbound – Larissa Ione
Saya suka semua buku dalam seri ini, tapi sebaiknya Anda memulai dengan yang pertama. Ini adalah cerita menarik dan seksi tentang seorang pembunuh setan dan iblis lezat yang dia idamkan. Tulisan Larissa Ione adalah petualangan aksi sensual, dan saya tidak pernah bisa merasa cukup.

10. Natural Law – Joey W. Hill
Saya mendengar pembicaraan tentang buku ini selama bertahun-tahun sebelum saya membacanya. Sebuah bacaan yang begitu menakjubkan, dan sedikit menggeliat di pasar buku erotis saat ini. Tokoh utama prianya adalah seorang polisi besar dan kuat yang mendominasi dunianya dengan segala cara, tapi dia adalah orang yang tunduk secara seksual dalam cerita ini. Pembaca bisa menjadi voyeur dalam eksplorasi lezat terhadap hati dan tubuhnya.



Victoria Dahl, penulis 21 roman panas dan sebuah novel erotis cabul.

Film, Pesan, dan Realitas Sosial

Film, Pesan, dan Realitas Sosial

Sebenarnya didasari oleh keisengan belaka, sejak setahun yang lalu saya kerap memperhatikan setting tempat dan bangunan sebuah film yang saya tonton. Kebanyakan film-film yang saya tonton keluaran Hollywood, kadang film-film dari benua Eropa (Belanda, Italia, Prancis dan Spanyol), ada juga film-film dari Asia, Amerika Latin dan sedikit film produksi dalam negeri. Karena untuk proyek pribadi serta penyakit malas yang lumayan akut, ada beberapa film yang lewat begitu saja tanpa saya perhatikan cermat dan mencatat setting tempat dan bangunan apa saja yang tampil dalam film tersebut.

Bagi saya sangat menarik untuk mencari "apa dan mengapa"-nya sebuah setting tempat dan bangunan itu ditampilkan, dikaitkan dengan keutuhan film itu, baik yang bersinggungan dengan alur cerita maupun pembangunan karakter tokohnya. Tentu saja kekurang-pahaman akan teori-teori sinema dan teknik pembuatan film membuat pencatatan saya kering dan dangkal. Tetapi, ini zaman posmo, di mana katanya penonton punya kemerdekaan untuk memberi tafsir sebuah teks (baca: film), dengan dasar pengetahuan yang dikuasainya. Pengarang sudah di liang lahat, begitu Roland Barthes menyemangati saya, sehingga saya merasa punya hak untuk membagi tafsiran saya ke sidang pembaca.

Lagi pula banyak orang pintar yang melihat film bukan sekadar karya seni, melainkan sebagai praktek sosial dan komunikasi massa. Secara praktik sosial, film dianggap memunyai keterkaitan dengan ideologi kebudayaan di mana film itu diproduksi dan dikonsumsi. Sementara sebagai komunikasi massa, film adalah media di mana pengirim pesan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada penerima pesan. Penerima pesan/pembaca kemudian melakukan proses pembacaan untuk menemukan atau menciptakan makna-makna dari pesan tersebut ketika ia bergelut dengan sebuah teks. Pesan-pesan dalam film dijelmakan dalam bentuk serangkaian gambar yang sebenarnya telah dibangun dengan kode-kode sinematografi tertentu sehingga diharapkan para penonton bisa menangkap maksud dari gambar-gambar tersebut. Makna yang ditemukan atau diciptakan oleh pembaca/penonton bisa jadi adalah makna yang tidak terpikirkan oleh si produsen makna sendiri. Barangkali ia adalah sebagian kecil   dari apa yang tidak dikatakan oleh Hermes. Anda kenal Hermes, dewa Yunani kuno, yang tidak akan berbohong, walaupun belum tentu menyampaikan semua yang ia tahu,  ketika menyampaikan sebuah pesan dari Sang Maha Dewa di langit kepada manusia.

Toko Buku Hollywood

Sebagai pencinta buku, ada beberapa film yang kelebatannya kadang masih terlintas dalam ingatan saya, yakni film-film yang memunculkan buku dan toko buku. Betapa masygulnya saya ketika menyadari bahwa buku dan toko buku minim sekali ditampilkan dalam film-film yang saya tonton. Saya agak mafhum kalau itu adalah film-film Indonesia, di mana masyarakatnya masih bisa dikatakan tuna pustaka. Tetapi, jelas saya kaget ketika mereka adalah film-film keluaran Hollywood dan Eropa, di mana ribuan judul buku diterbitkan per tahunnya dan tiap judul buku rata-rata dicetak pada kisaran ribuan, puluhan ribu bahkan ada yang sampai jutaan kopi; toko bukunya tersebar di sembarang tempat dan selalu ramai dikunjungi pengunjung dan tidak pernah sepi dari beragam kegiatan; persebarannya ditunjang oleh media massa (konon di New York sana ada media massa mingguan yang khusus mengulas melulu hanya buku, yakni New York Review of Books, atau acara bedah buku di televisi); masyarakat yang memandang buku sebagai kebutuhan, ditunjang oleh kebiasaan membaca yang sudah mendarah daging; orang bisa jadi kaya karena memilih profesi sebagai penulis.

Saya tidak mengerti, apakah kekokohan budaya membaca dan infrastruktur perbukuan di sana tidak menjadi penting bagi para pembuat film, untuk menaikkannya ke layar lebar/kaca? Ataukah mungkin karena saking kokohnya, menampilkan buku atau toko buku hanya akan membuat filmnya terlihat cerewet dan basi, mengomongkan sesuatu yang sudah biasa? Saya terus terang merasa aman untuk mengambil kemungkinan kedua. Buku dan toko buku jarang ditampilkan dalam film-film mereka karena kedua hal itu sama biasanya seperti aktivitas menggosok gigi seteiah makan dan hendak tidur. Seringkah Anda melihat kegiatan di kamar mandi itu di film-film mereka? Tetapi, bagaimana dengan film-film yang menghadirkan buku atau toko buku? Dari catatan saya, saya membaginya dalam tiga kategori. Perfama, film yang bertema tentang buku. Kedua, film yang tidak bertema buku, namun menghadirkan buku dan toko buku tidak sebagai tempelan, Ketiga, film yang menampilkan kedua hal itu hanya sebagai tempelan.

Paus, V. Hugo, dan Kekinian
Untuk kategori pertama, saya bisa menyebut film "Nineth Gate". Film yang dibintangi Johnny Depp ini bercerita tentang misteri buku tua. Seorang pemburu buku tua dan langka yang berteman dengan seorang pemilik toko buku bekas sekaligus penadah hasil buruannya. Keduanya terlibat dalam intrik-intrik perburuan buku tua misterius yang dicari-cari oleh para bookaholic. Para bookaholic dalam film ini benar-benar gila. Ada yang menyimpan koleksi bukunya di ruang tersembunyi dengan kunci pengaman canggih dan rahasia. Koleksi bukunya memang langka, rata-rata cetakan abad ke-16 sampai abad ke-19, atau buku yang dicetak dalam edisi yang sangat terbatas atau buku unik. Mereka membuat semacam klub eksklusif yang isi perbincangannya melulu buku.

Pada awal film dinarasikan Johnny Depp berhasil memperdaya seorang kolektor buku tua yang sakit-sakitan lewat anak dan menantunya yang walaupun kelihatan cerdas dan berpendidikan tinggi, lebih merelakan koleksi buku langka ayahnya dijual dengan harga miring asalkan bisa tersingkir dari mata mereka, dan ruangan bekas rak buku itu bisa diganti dengan barang-barang furniture lain kesukaan mereka, Kolektor tua itu sangat marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk bunuh diri.

Pertentangan antar-generasi mengenai pandangannya pada buku, menurut saya, tidak lepas dari citra yang melekat pada buku itu sendiri yang ditanamkan oleh masyarakat. Buku dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno, berat, serius, mengajak merenung, yang sepertinya cocok dengan pandangan kita tentang orang tua. Sementara orang muda adalah tipikal orang-orang yang cenderung hedonis, berpikir pendek, memandang hidup dengan ringan dan instan, yang jauh dari kesan yang dialamatkan pada buku. Tanpa sadar, film ini pun selalu menampilkan kolektor buku sebagai seorang tua, serius, aneh, dengan banyak kerutan di dahi.

Film ini berakhir dengan celoteh tentang ketamakan manusia dalam mendapatkan kebahagiaan lewat penguasaannya pada dunia seperti yang sudah dijanjikan oleh Lucifer, penulis buku misterius itu, dengan syarat menjual jiwanya menjadi hamba Lucifer. Dekat-dekat dengan cerita drama Faust-nya Goethe.

Teka-teki kebahagiaan itu bisa didapatkan setelah Johnny Depp mati-matian membongkar misteri yang ditawarkan oleh buku itu, dengan mencari keterkaitan antara satu fakta dengan fakta lain yang dituliskan di buku itu, dengan memahaminya keseluruhan buku itu. Setidaknya, itulah yang dijanjikan oleh pengarangnya. Saya pikir ada kaitannya dengan aksioma pada orang-orang yang membaca banyak buku, bahwa buku yang mengandung banyak pengetahuan itu bisa mengantarkan manusia untuk mengerti diri dan lingkungannya; memahami fenomena yang ada pada dirinya dan pada dunia, yang dengan itu manusia mempunyai pemikiran untuk berbuat sesuatu, menaklukkan, menyesuaikan diri atau menyingkir, demi untuk menaikkan kadar kualitas dan kuantitas hidup. Buku adalah gudang ilmu pengetahuan, jendela dunia. Semakin banyak tahu dan mengerti apa yang terjadi dalam diri dan di luar diri, semakin lebih baiklah kehidupan kemanusiaan kita. Akankah dengan itu kebahagiaan bisa tercapai? Tunggu dulu, ingatkah anda sebuah pernyataan dalam film "Matrix" yang bikin heboh itu, bahwa ketidaktahuan adalah kebahagiaan?

Bahkan dalam film "Les Miserables" (1995), buku adalah petunjuk bagi seorang Jean Vaeljen dalam mengarungi hidupnya pada masa berkuasanya kekuasaan fasis di Eropa sekitar tahun 1940-an. Film ini pada awalnya menceritakan apa yang ada dalam novel berjudul sama yang ditulis oleh Victor Hugo. Kemudian dengan sangat cantik, karakter yang ada dalam novel dan bagian awal film itu ditarik dari ruangnya dan dicocokkan pada keadaan lain, diterapkan pada masa kekinian. Sebagai seorang sopir truk yang membantu satu keluarga Yahudi untuk keluar dari Prancis yang waktu itu dianeksasi oleh Nazi Jerman, ia seorang Jean Vaeljen baru. Dalam perjalanan melepaskan diri itu, ia meminta keluarga itu menceritakan isi novel Les Miserables karena ia tidak bisa membacanya. Jadinya, secara naif, atau memang karena untuk itulah film ini dibuat, ia menemukan banyak karakter yang sama dalam novel itu dengan kenyataan di depan matanya, bahkan meramalkan apa yang akan terjadi di depan. Ia hampir menjadikan buku itu kitab sucinya dalam mengarungi hidup. Tetapi, ia dan film itu menyadari bahwa hidup tidaklah sesederhana seperti apa yang terdapat dalam novel itu.

Romantisme Kelas Menengah
Untuk kategori kedua, boleh saya sebut film "Serendipity", film yang bertema roman percintaan yang mengintegrasikan buku pada keutuhan cerita filmnya. Seorang laki-laki dan perempuan bertemu secara kebetulan, melakukan aktivitas bersama dan saling jatuh cinta. Karena merasa perasaan itu terlalu cepat datangnya, mereka memutuskan untuk mempertaruhkan masa depan hubungan mereka pada buku dan uang kertas.

Buku itu, Love in TheTime of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, yang telah ditulisi dengan nama dan alamat si perempuan, dijual/disimpan oleh perempuan itu pada sebuah toko buku bekas. Kalau buku itu bisa ditemukan oleh-si laki-laki, mereka berjodoh. Begitupun dengan nasib uang kertas itu, yang setelah ditulisi dengan alamat si laki-laki, dibelikan sesuatu oleh John Cussack, si laki-laki. Jika si perempuan bisa menemukan uang kertas itu kembali, mereka akan bersatu.

Si laki-laki memburu buku itu berbulan-bulan, dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Film ini menampilkan usaha laki-laki itu dalam gerakan cepat, karena banyaknya toko buku bekas yang ia kunjungi. Perburuan buku itu menarik perhatian calon istrinya. Ia merasa bahwa buku itu sangat penting bagi calon suaminya, maka ketika mereka akan menikah, ia menghadiahi laki-laki itu dengan buku yang selama ini di burunya. Kebetulan yang kemudian benar-benar mengubah jalan hidupnya.

Kenapa buku? Kedua orang itu adalah lulusan perguruan tinggi, berasal dari kelas menengah. Bahwa bagi mereka buku adalah barang yang penting. Tak ada salahnya bagi mereka untuk menghadiahi seseorang dalam acara yang penting dalam hidupnya dengan sebuah buku. Buku toh bisa sama romantisnya dengan sepotong cokelat atau seikat kembang merah. Dalam Film "Nineth Gate" pun, saya melihat bahwa buku dapat juga menunjukkan status sosial kalangan menengah atas yang terdidik, terobsesi dengan ekskiusivitas dan dalam gejala lain sedikit snob.

Pemilihan judul buku itu, Love in The Time of Cholera, karangan Gabriel Garcia Marquez, sangat relevan dengan apa yang diinginkan oleh tokoh-tokoh dalam film itu. Jika Anda pernah membaca buku itu, yang menurut Marquez sendiri ditulis "from my gut", Anda akan menangkap keabadian cinta, melewati perjalanan waktu dan berbagai rintangan. Mungkin seperti itulah romantisasi cinta dalam bayangan mereka. Bahwa ada konflik sosial yang secara cerdas disamarkan oleh Marquez dalam bukunya itu, tidaklah mengganggu imajinasi mereka tentang kebahagiaan bersatunya cinta oleh sesuatu di luar kekuasaan mereka. Toh konflik itu terjadi nun jauh di sana, di sebuah negara dunia ketiga. Mereka, berada di sebuah negara dunia pertama yang makmur, tentu yang mudah-mudah saja yang sampai ke mereka.

Tetapi, benarkah hanya karena mereka berasal dari perguruan tinggi dan kalangan menengah atas? Bukankah lebih banyak film yang walaupun menghadirkan tokoh dengan dua kriteria di atas, buku atau toko buku tidak ditampilkan sebagai penanda?

"Ada Apa dengan Cinta?" dan Buku?
Saya tidak tahu pasti., Kadang saya mencium bahwa aroma phobia buku tidak hanya menguar di negeri tercinta kita ini, tapi juga di sana, di sebuah peradaban yang sedang mengangkangi dunia, yang salah satu elemen pembangunnya adalah produk dari mesin cetak ciptaan Gutenberg itu. Saya masih sering membaca kekhawatiran orang tua tentang tingkah laku anak remajanya yang lebih sering menghabiskan waktu senggangnya membaca buku di kamarnya daripada bersuka ria dengan teman sebaya. Dari hasil polling saya tahu bahwa di sana pun menjadi lebih tampan/cantik adalah lebih utama dan lebih diinginkan daripada menjadi lebih pintar. Saya juga berani bertaruh bahwa dana yang mereka keluarkan untuk kosmetika atau menyalurkan hobi jauh lebih besar dibandingkan dana untuk membeli buku.

Buku yang diasosiasikan dengan kuno, berat, serius, dan karenanya layak untuk dijauhi, tampil impresif dalam film-film remaja. Saya sering menangkap citra orang yang kutu buku sebagai penyendiri, tidak gaul, aneh, berkaca mata tebal, dandanan yang out of date dengan tingkah yang selalu jadi bahan tertawaan. Pokoknya, "enggak fungky dan bikin geli". Bagi kebanyakan remaja, itu sangat menakutkan. Ketika citra itu dimamah biak, wajar jika membaca buku, menyambangi toko buku jarang mereka lakukan.

Syukurlah ada film "Ada Apa dengan Cinta?" garapan Rudi Sudjarwo, ia menawarkan citra lain remaja pencinta buku: tampan, sedikit gaul, tidak malu-malu, punya "karakter", walaupun tetap dingin. Ia penyuka puisi; di kamarnya ada gambar besar Chairil Anwar. Belum cukup juga, ditambahkan buku yang dibacanya adalah Aku, sebuah skenario film karangan Sjuman Djaya. Konon katanya, ketika demam "Ada Apa dengan Cinta?" melanda Tanah Air, banyak orang yang sengaja datang ke toko buku menanyakan buku itu. Mungkin mereka hendak meniru tingkah laku Rangga dan Cinta ketika berburu buku di Kwitang sana. Saya terkejut. Kenapa bukan toko buku "modern" yang tampil dalam adegan itu? Mungkin saja pembuat film memahami karakter kebanyakan orang Indonesia dalam berbelanja: menawar. Sesuatu yang pastilah tidak mungkin didapatkan di toko buku "modern". Tetapi, Kwitang adalah pasar buku yang menjual buku baru atau bekas dengan harga rabat. Ada faktor kesengajaan karena film itu ditujukan untuk menjadi konsumsi remaja, yang pasti kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Di sisi lain, adalah jitunya pembuat film dalam memahami karakter kebanyakan orang Indonesia ketika membeli buku; faktor isi nomor dua, yang paling menentukan dia membeli atau tidak adalah harga. Berbeda jika sedang memburu barang-barang hobi atau koleksi, di mana harga adalah faktor kesekian, harga buku adalah faktor utama karena masih nomor buncitnya kebutuhan akan buku bagi kebanyakan kita.

Saya mengajukan dugaan lain: harga buku kita memang relatif mahal bagi kebanyakan rakyat kita jika dilihat persentasenya pada pendapatan per kapita per tahun. Kita adalah salah satu negara dunia ketiga yang tingkat kesejahteraan rakyatnya sedikit lebih maju dibandingkan negara-negara Afrika sub-sahara sana. Saya bisa menyebut pajak terhadap kertas yang menjadi salah satu biang keladi mahalnya buku.

Memang seperti itu. Sudah saya katakan di muka bahwa pangsa film ini adalah para remaja yang kebanyakan belum punya penghasilan sendiri. Namun, lihatlah tingkah pola Cinta dan gank-nya dalam film itu, yang begitu bersemangat menonton sebuah pertunjukan musik band terkenal di deretan paling depan atau makan minum di cafe, atau seperti kebanyakan remaja kita yang biasa mengeluarkan sekian ratus ribu rupiah per bulannya untuk membeli pulsa telepon genggam. Tidak tampak kere. Apalagi om-om yang menyediakan sekian miliar sebagai anggaran untuk membeli Jaguar atau BMW seri terbaru. Membeli buku? Sudahlah.

Barangkali ini masalah konstruksi kesadaran. Di abad di mana informasi memegang peran penting dalam mengatur tingkah polah manusia, media massa, termasuk film, berhasil merekonstruksi kenyataan, mengisinya dengan nilai-nilai yang dianggap dominan dan menguntungkan, menyodorkannya pada pemirsa layaknya wahyu yang haram jika tidak diikuti. Mereka menciptakan kebutuhan, mengaburkan batas antara kebutuhan (need) dengan keinginan (want). Penonton tinggal menyesuaikan diri dengan citraan itu.

Identitas Bangsa Prancis
Saya malah menemukan bahwa buku dan toko buku dalam film drama percintaan digunakan untuk menunjang karakter aneh tokohnya, demi untuk mencapai derajat tertentu keromantikaan. Bukankah yang aneh-aneh, kadang menjadi sesuatu yang eksotis untuk coba didekati? Eksotis berarti sesuatu yang murni, peka, yang belum tercampuri oleh udara kotor dunia atau rasio. Ada sifat misterius di sana, yang sangat menantang untuk dijamah. Film "Notting Hill" adalah contohnya. Seorang pemilik toko buku khusus buku perjalanan bertemu jodohnya dengan seorang selebritis terkenal. Anda mungkin tidak suka dengan film yang renyah, yang sejak awal Anda sudah bisa menerka alur naik turunnya jalan cerita serta kesimpulan akhirnya yang biasanya happy ending.

Bagi saya sendiri, yang menarik dari film ini adalah pemilihan toko buku khusus buku perjalanan untuk menunjang karakter tokoh. Hugh Grant memerankan tokoh yang sedikit pecundang, punya mimpi besar tapi tidak bisa dicapainya. Mimpi itu adalah melanglang buana melihat dunia, meninggalkan cuaca muram kota London dan kenyinyiran kerabatnya. Sangat ironik ketika kita tahu ternyata Hugh Grant belum pernah mengunjungi satu tempat pun yang diterangkan dalam buku-buku wisata yang dijualnya. Toko buku menjadi monumen kompensasi dari ketidakmampuannya merealisasikan mimpinya.

Toko buku menjadi awal cinta mereka tumbuh, sebagaimana dalam film "The Cave" (2001), sebuah film Belanda yang mempersilakan toko buku menjadi awal tumbuhnya cinta di antara dua tokoh cerita. Di antara rak-rak buku yang sempit, Egon, seorang mahasiswa geologi, mendengar ada seseorang memainkan cello, seorang perempuan, mahasiswa sastra pada universitas yang sama dengan Egon, yang kelak menjadi istrinya. Saya sangat suka dengan interior toko bukunya. Rak-rak buku yang berhimpitan dan menjulang hingga menyentuh plafon, tumpukan buku-buku, tangga buku, di tengah terdapat sedikit ruang tempat menyimpan alat-alat musik: piano, cello, dan biola. Setiap pengunjung boleh memainkan alat musik itu. Tetapi, bisakah Anda melepaskan diri untuk tidak mengaitkan alat musik itu dengan karakter buku dan toko buku yang sudah tertanam di otak kita. Apakah cello biasa dimainkan untuk sebuah komposisi musik underground, misalnya? Semua orang tahu bahwa cello dipakai untuk mengiringi komposisi musik klasik. Membaca buku membutuhkan konsentrasi dan konsentrasi akan lebih bisa tercapai kalau ruangannya nyaman dengan musik yang seirama dengan detak jantung manusia, yaitu musik klasik.

Demikianlah saya cukup terkejut ketika ada sebuah toko buku di Bandung yang bernama "Omunium", yang menemani pengunjungnya dengan musik underground., bukan dengan musik klasik atau jazz sebagaimana biasanya.

Film-film buatan negeri Eropa, terutama film Prancis, memang paling sering memunculkan setting rak-rak buku, biasanya di dalam apartemen atau rumah biasa. Ini sesuatu yang memunculkan alternatif lain dibandingkan film-film Hollywood. Kita bisa menyaksikannya pada "Moulin Rouge" (2001), "Le Fabuleux Destin d'Amelie Poulain" (2001), atau "Les Miserables" (1995), dan masih banyak lagi. Hampir pasti. ketika kamera menyasar sebuah apartemen atau rumah tinggal, ada rak-rak buku.
                    
Saking seringnya saya melihat tampilan buku dalam film-film Prancis, yang dalam beberapa film tidak begitu memengaruhi keutuhan sebuah film, hanya sekadar numpang lewat, saya curiga jangan-jangan ada semacam kampanye "pembangunan karakter bangsa" di balik film-film itu. Namun, berbeda dengan umumnya kampanye serupa di Tanah Air, yang isinya melulu pengagungan pada tradisi dan moralitas ketimuran dan membuat oposisi biner: Timur vs Barat, dengan Barat sebagai biang kerok, kampanye mereka berupa penegasan bahwa bangsa Prancis, selain bangsa yang memiliki sense of art tinggi, menghargai tradisi, juga bangsa yang beradab, maju, menghargai intelektualitas dan rasionalitas, dengan cara mengambil alih karakter yang "melekat" pada buku. Seolah bangsa Prancis ingin menegaskan dirinya bahwa selain anggur dan cafe serta mode, buku adalah salah satu ciri lainnya dari kebangsaan Prancis.

Pembaca yang Fatalis
Bukankah buku juga lambang kesedihan, muram, rasa sakit yang coba ditahan bertahun-tahun, kekecewaan, kegetiran, ketidakpercayaan pada dunia dan manusia? Dalam film Belanda berjudul "Antonia's Line", tokoh yang cukup dipanggil dengan nama kecilnya, Crocked Fingers, melihat buku sebagai penawar sekaligus racun pada apa yang diyakini, pada apa yang dilakukan. Tua, antik, berkaca mata, rambut panjang awut-awutan, serius, tidak pernah keluar rumah, sejak ia pulang akibat terluka dalam Perang Dunia Kedua. Membaca buku terus, terutama yang bertema eksistensialisme. Karakternya dingin, sepanjang film kita tidak pernah diberi tahu apa yang sedang berkecamuk dalam batinnya. Tawar. Coba kita dengarkan apa yang diucapkannya pada ulang tahun cucunya, Antonia: mengajaknya mendaras buku Nietzsche. Hingga suatu saat ia menyadari bahwa segalanya sudah terlambat, ia tidak cukup memahami apa yang dilakukannya, tidak punya pilihan, kebosanan. Yang terbaik adalah tidak dilahirkan, tidak ada. Yang terbaik dari semuanya itu adalah mati, ia pun memutuskan bunuh diri.

Teman nonton saya berkomentar begini, "Gitu tuh kalau terlalu banyak baca buku, fatalis," Saya cuma terkekeh. Mungkin ia harusnya menjelaskan buku apa yang dimaksud. Ada buku yang kalau kita baca bukannya membuat kita fatalis, melainkan malah bergairah, bahkan mungkin agresif.

Anda mungkin pernah mendengar ada orang yang menyarankan jangan terlalu dalam memelajari filsafat, nanti bisa gila. Tapi yang saya tangkap malah ketakutan manusia kehilangan eksistensinya, penguasaannya secara jelas dan terang pada apa yang ia rasakan, ia lakukan, kekuasaannya pada diri sendiri. Gila adalah keadaan di mana diri tidak bisa lagi menguasai diri lain dalam tubuhnya. Semacam pembebasan, Kebebasan dari keharusan akan kejelasan, penyeleksian, pengaturan, penundukan eksistensi secara rampat papan pada sebuah nilai atau citra yang utuh padu. Gila adalah penghancuran kesatupaduan eksistensi, identitas diri itu sendiri. Orang sebenarnya takut dengan kebebasan. Ia memberikan rasa ketidakamanan. Filsafat memberi kesempatan membuka banyak diri dalam tubuh, yang dulunya mungkin tidak diketahui atau pura-pura tidak diketahui.

Kematian, kata Heiddeger, adalah satu-satunya yang bisa menghilangkan eksistensi manusia. Karena itu, manusia takut dengan kematian. Kematian adalah semacam kejelasan "setelah siang adalah malam", pasti akan mencapainya, Kalau ada orang yang secara sengaja membuka pintu untuk kedatangannya, siapakah orang itu?

Toko Buku Aksesoris
Sementara untuk film yang dalam catatan saya masuk ke dalam kategori ketiga, yang walaupun menampilkan buku atau toko buku tapi hanya sebagai tempelan, contohnya film "You've Got Mail". Bagi saya, film ini tidak cukup keterkaitan antara karakter tokohnya dengan posisinya sebagai pemilik toko buku. Satu pemilik toko buku kecil khusus buku anak (diperankan Meg Ryan) akan disaingi oleh pemilik jaringan toko buku besar (diperankan Tom Hank). Jika Anda perhatikan secara utuh film itu, Anda akan bernostalgia tentang masa lalu, atau betapa anehnya cinta itu hadir.

Atau mungkin akan sampai pada kesimpulan bisa saja toko buku itu diganti dengan, sebutlah, toko roti. Karena, karakter tokoh tidak dibangun oleh setting bangunannya, tetapi oleh persepsi masyarakat akan betapa harusnya perempuan yang berumur lebih dari 30 tahun untuk berkeluarga atau tentang nostalgia masa lalu, atau betapa anehnya cinta itu hadir.

Publikasi atau Sepi-lseng Sendiri
Dengan naif saya sampai pada kesimpulan bahwa buku dan/atau toko buku tidak dianggap sebagai kebutuhan. Mengunjungi toko buku jarang masuk dalam agenda weekend kebanyakan kita, karena jangan-jangan tontonan kita sangat minim menampilkan gambar-gambar tentang buku atau suasana toko buku yang seimpresif, semenyenangkan, sekelas dengan mengunjungi mal atau belanja di butik. Banyak bukti yang menunjukkan ketika sebuah film idenya berasal dari buku atau menyebut-nyebut sebuah buku dalam film itu, orang-orang dengan antusias mengunjungi toko buku untuk membeli buku tersebut. Novel The Hours, karangan Michael Cunningham dan buku-buku karangan Virgiana Wolf, terkerek naik penjualannya begitu filmnya "The Hours", diputar di Jakarta. Atau buku Aku karya Sjuman Djaya yang ikut-ikutan dicari orang gara-gara numpang dalam film "Ada Apa Dengan Cinta?"

Mungkin ironis karena ia mengikuti hukum publisitas. Begitu filmnya tidak dibicarakan lagi, tergilas oleh film lain yang sama sekali tidak menampilkan buku atau toko buku sebagai sesuatu yang indah, romantis dan perlu, buku dan toko buku kembali sepi, iseng sendiri.

Mumu Muhajir, pencinta buku dan penonton film, tinggal di Yogyakarta
Majalah Mata Baca, Vo. 2/No. 4/Desember 2003

10 Tahun Goodreads sebagai Media Sosial Buku

10 Tahun Goodreads sebagai Media Sosial Buku

Sepuluh tahun setelah Goodreads didirikan oleh Otis Chandler dan istrinya, Elizabeth Khuri Chandler, dan empat tahun setelah diakuisisi oleh Amazon, media sosial baca, pemasaran, dan penelusuran buku online telah berkembang menjadi salah satu komunitas buku dan membaca yang paling berpengaruh di internet. Dan terlepas dari kekhawatiran beberapa anggota Goodreads tentang akuisisi Amazon saat diumumkan (dan beberapa ancaman untuk meninggalkan komunitas online), Goodreads telah berkembang pesat.

Situs ini menarik lebih banyak pengunjung daripada sebelumnya. Goodreads memiliki sekitar 16 juta pengguna terdaftar pada tahun 2013 dan akan menandai ulang tahun ke 10 dengan lebih dari 65 juta anggota.

Anggota Goodreads dapat membuat rak buku online, daftar buku yang mereka baca atau rencanakan untuk dibaca. Situs ini juga menawarkan ulasan dan komentar anggota terhadap buku, survei, jajak pendapat, dan kegiatan membaca, seperti Challenge Reading 2017, di mana anggota berjanji untuk membaca sejumlah buku di tahun yang akan datang. Dan Goodreads dapat membantu pembaca yang tertarik dengan karya sejarah menemukan buku dalam kategori tertentu -misalnya, sejarah militer atau zaman Elizabeth, atau bahkan fiksi sejarah.

“Ini gila,” kata Elizabeth, merenungkan perkembangan situs ini. “Kami mulai hanya dengan kami berdua, dan sekarang ini adalah komunitas membaca terbesar di dunia. Kami adalah komunitas orang yang bisa saling berbicara tentang buku-buku yang kami cintai.”

Otis mengatakan bahwa Goodreads sukses karena mampu “menghubungkan” sejumlah besar orang yang tertarik untuk berbicara tentang buku. “Ada dua kebenaran dalam penerbitan hari ini,” katanya. “Pertama, pencarian buku adalah salah satu tantangan terbesar bagi penerbit dan penulis, dan kedua, dari mulut ke mulut adalah salah satu penggerak rekomendasi buku yang paling kuat. Goodreads duduk di tempat yang manis di mana kedua peluang ini saling tumpang tindih. “Sebagai contoh persimpangan itu, dia menunjuk pada Reading Challenge, yang memacu lebih dari 2,6 juta anggota Goodread untuk masuk dengan rencana untuk membaca lebih dari 30 juta buku.

Situs ini juga menghasilkan kumpulan data tentang pembaca dan kebiasaan membaca mereka dan telah berkembang menjadi alat pemasaran bagi penerbit dan penulis individual. “Semakin banyak data mendorong semakin banyak percakapan dan membantu algoritma (rekomendasi buku) kami menjadi lebih baik,” kata Otis. Ukuran keanggotaan Goodreads dan data yang dihasilkannya menarik penerbit (dan penulis indie) untuk memasarkan buku mereka.

“Random House adalah mitra iklan penerbit pertama kami di tahun 2007,” kata Otis. “Sekarang kami memiliki seperangkat alat pemasaran yang canggih -hadiah, penawaran, potongan harga.”

Goodreads, ia menambahkan, dapat menggunakan datanya untuk menawarkan kepada para penerbit kemampuan untuk menargetkan penggemar dari berbagai penulis dengan iklan bergambar. Penggemar ini adalah anggota Goodreads yang menyimpan buku-buku berdasarkan para penulis ini atau menunjukkan ketertarikan pada mereka. Tim iklan Goodreads bekerja dengan setiap penerbit untuk membuat daftar penulis yang karyanya mirip dengan buku, itu dipromosikan untuk menargetkan iklan. Misalnya, penggemar novelis fiksi ilmiah Veronica Rossi atau Neal Shusterman, Otis menjelaskan, dapat dengan mudah ditargetkan dengan iklan bergambar untuk sebuah buku baru sebuah penerbit percaya mereka bisa nikmati. Dalam layanan terpisah, Goodreads secara khusus dapat menargetkan anggota berdasarkan selera bacanya.

Alat pemasaran lainnya di situs ini termasuk Goodreads Deals, sebuah program promosi harian yang menawari anggota diskon e-book berdasarkan buku-buku di rak, dan buletin mereka, yang memiliki lebih dari 35 juta pelanggan. Dan, sebagai anak perusahaan Amazon, Goodreads juga memungkinkan penerbit dan penulis membagikan hadiah e-book di platform Kindle.

Goodread menyediakan studi kasus yang merinci bagaimana komunitasnya dan alat pemasaran digabungkan untuk mendorong penjualan banyak buku populer. Kate Stark, seorang wakil manajer pemasaran Riverhead Books, mengatakan bahwa situs tersebut “memainkan peran utama dalam membantu The Girl on the Train untuk mencapai kesuksesan awal.” Dia mengutip pentingnya “ulasan awal dari anggota Goodreads,” dengan mengatakan bahwa “sekali dunia mulut dimulai dan pembaca merasa senang dengan buku itu, sisi sosial Goodreads memperkuat dengungan sampai ke tingkat yang luar biasa.”

Rekan penerbit St. Martin Press, Laura Clark, menggambarkan All The Ugly and Wonderful Things karya Bren Greenwood sebagai “kisah sukses komunitas Goodreads yang sebenarnya.” Dia berkata, “Tawaran Goodreads Choice Awards (diskon untuk buku yang memenangkan penghargaan) untuk All The Ugly and Wonderful Things meluncurkan buku itu ke daftar buku terlaris untuk pertama kalinya, empat bulan setelah publikasi.”

Sejak awal, Chandler melihat bahwa penulis menggunakan Goodreads untuk berhubungan dengan penggemar mereka. Saat ini, situs ini memiliki lebih dari 214.000 akun penulis -termasuk penulis populer seperti Paulo Coehlo, Neil Gaiman, Roxane Gay, dan Stephen King. Fitur Ask the Author pada situs ini memungkinkan penggemar untuk bertanya kepada penulis favorit mereka. Otis menunjuk novelis Andy Weir (The Martian), yang menjawab pertanyaan tentang astronot kesukaannya, dan penulis komik Alan Moore, yang membahas tentang budaya tanding.

“Sangat menyenangkan jika melihat dampak Goodreads terhadap kehidupan orang lain,” kata Elizabeth.

Calvin Reid
Publishers Weekly 09/25/2017

Cara Membuat Skenario Film Independen

Cara Membuat Skenario Film Independen

Tulisan ini sengaja saya buat setelah berdiskusi berjam-jam dengan teman-teman Bandung dari Liga Film Mahasiswa (LFM), Layarkata Network, Cinemags, Sineas Independen Bandung, patontontonton.com, dan rekan-rekan yang rela bergabung, nonton dan berdiskusi berjam-jam di Potluck Kafe, Bandung, Minggu, 12 Oktober 2003.

Dari beragam pertanyaan seputar masalah film dan teknik penulisan naskah, ada sebuah pertanyaan yang terlontar dan membuat saya berpikir ulang untuk menjawabnya. Pertanyaannya sederhana: "Bagaimana membuat skenario film independen format film pendek (0-30 menit) yang membawa berbagai macam pesan, kesadaran dan pencapaian sinematografi yang memuaskan?"

Di sini saya hanya ingin membahas bagaimana membuat film independen dari sisi skenario. Dalam pandangan saya, film adalah seni bercerita, sebuah cerita yang bagus sangat mendukung sebuah film walaupun film tersebut dibuat dengan cara sederhana. Jika sempat melihat film "Mayar", Anda akan mendapatkan berbagai macam kesan dan kesadaran tentang budaya, kehidupan politis, romantisme Indonesiawi dalam balutan suasana Yogyakarta, kesederhanaan tanpa maksud menggurui atau kesan dibuat-buat. "Mayar" sendiri berkisah tentang cerita seorang gadis bernama Mayar yang pulang ke Yogya (dalam cerita, Mayar bekerja di Jakarta) dan bertemu dengan dua orang yang mencintainya, Yang seorang menjadi pendukung calon lurah dengan lambang Pete (petai) dan seorang lagi menjadi pendukung lurah dengan lambang Lombok (cabe). Mereka saling berseteru untuk memperebutkan Mayar. Puncaknya, Mayar memilih salah seorang dari kedua pencintanya dan melakukan date dengan berjalan-jalan di sekitar Yogya dengan naik sepeda. Sementara pesaing lainnya marah-marah dan berusaha mencari-cari mereka dan menemukan berbagai macam simbol tanda kehadiran Mayar dan pasangannya. Penuils skenarionya adalah Ifa Isfansyah dari Fourcolours Films dan sampai sekarang masih berstatus mahasiswa ISI yang baru saja selesai ikut Kuliah Kerja Nyata.

Film "Mayar" memunculkan pemikiran, kritik, dan kesadaran. Dengan format sekitar 30 menit, film ini berhasil mengundang perhatian dari banyak kalangan untuk membahasnya. Sederhana dalam bercerita, namun sarat dengan pesan dan kesadaran.

Tentu masih banyak ribuan cerita yang bisa kita gali, yang mungkin bisa lebih baik dan menyegarkan. Beragam jenis ide cerita yang bisa kita buatkan skenarionya dan menghasilkan kesadaran baru. Kalau sudah begitu, pertanyaan yang muncul dari segenap pembuat film: Bagaimana cara membuat skenarionya? Bagaimana membuat skenario yang membangkitkan kesadaran? Bagaimana menilai sebuah skenario sehingga memberikan efek stimulan yang mendalam?

"Care", "Love", "Hope", dan Film Independen
Judul yang lebih tepat mungkin membuat skenario film independen berdurasi pendek (0-30 menit). Membuat skenario untuk industri komersil (TV) dalam format film pendek (30 menit) sangat sulit. Karena dibatasi dengan berbagai macam iklan, kita hanya bisa membuat kurang dari 30 menit (sekitar 20-24 menit). Sebuah cerita dibuat dengan begitu ringkas, tetapi diharapkan bagus (karena dikontrol oleh rating). Dalam kasus ini, peran produser sangat menentukan bagaimana sebuah cerita bisa diterima dan diproduksi.

Membuat skenario untuk sebuah film pendek independen lebih menantang dan menyenangkan. Kita tidak dibatasi dengan segala aturan komersil atau perhitungan rating yang kadang membuat kepala pening. Bahkan, berbagai macam ide yang kadang mentok di televisi dengan alasan komersil bisa kita muntahkan habis-habisan dalam kreativitas independen.

Seorang penulis skenario harus mampu membuat berbagai macam cerita atau mengadaptasi berbagai macam kejadian dan menuliskan dalam sebuah format skenario yang sederhana, ringkas dan padat. Teorinya gampang, rapi pelaksanaannya sangat sulit.

Ada sebuah rumus yang bisa menjadi pegangan seorang penulis untuk mulai membuat cerita. Seorang teman mau membagikan ilmunya bagaimana membuat skenario dengan baik untuk jenis film pendek. Saran ini ternyata bisa diterapkan untuk kebutuhan komersil dan independen. Sarannya sangat sederhana: "Sebuah cerita/skenario film pendek harus mampu menggambarkan care, love, dan hope pada setiap film yang diproduksi!"

Care menggambarkan kepekaan main character terhadap lingkungan, perhatian terhadap sesama, dan interaksi komunikasi dengan rekan-rekannya. Love merupakan cinta yang terjadi antara main character dengan lawan main yang berwujud kasih sayang, romantisme, atau rasa saling memiliki. Hope biasanya berada di akhir cerita, dilambangkan dengan berbagai harapan atau perasaan untuk melanjutkan (pertanyaan akan kelanjutan cerita) yang ditandai dengan kepergian salah satu orang pemain menuju tempat tugasnya. Atau sebuah dialog penutup yang menceritakan harapan terhadap masa depan.

Pada menit-menit awal, sebuah film pendek harus mampu mengeksplorasi karakter utama. Penonton diharapkan tidak perlu bertanya-tanya lebih jauh lagi bagaimana hubungan antar-tokoh. Penonton diharapkan mendapatkan penuh informasi dan bersiap melanjutkan cerita tanpa perlu pusing-pusing lagi. Menurut Jujur Prananto, "Penonton harus mendapatkan informasi sejelas-jelasnya tentang abilitas dan kemampuan tokoh tersebut. Karakter yang kuat tidak selalu bersifat ofensif (super, cantik, ganteng, dsb.). Bahkan karakter seorang tokoh yang terlihat lemah, sakit, atau menderita pun bisa menjadi 'kuat' asalkan kita memberikan informasi cukup dan mengarahkan cerita kita untuk melakukan simpati kepada karakter tersebut." 
                                        
Love dalam sebuah cerita merupakan penggambaran paling besar yang menempati ruang dalam skenario, yang timbul karena aktivitas yang dilakukan antar pendukung. Love digambarkan sebagai rasa ingin memiliki, tidak ingin kehilangan, atau perasaan untuk saling menyayangi. Jika Anda sudah masuk dalam pembuatan scene-scene yang menggambarkan aktivitas ini, disarankan menggunakan berbagai macam adegan perlambang/simbol. Bisa berupa montage shot, property, wardrobe, suasana background interior atau eksterior, dan penempatan dialog-dialog pendek yang menceritakan hubungan 1-2 orang. Tentu saja, gesture dan penggunaan adegan face to face antar-karakter masih cukup ampuh untuk menceritakan perasaan cinta. Masalahnya, bagaimana kita bisa menggambarkan keseluruhan adegan tanpa terjebak dalam adegan-adegan yang membosankan.

Hope dalam film pendek dilambangkan dalam scene-scene perpisahan: pergi, kematian, matahari terbit (tenggelam), suasana pagi, sebuah kendaraan yang melaju (bis, kapal, kereta api, dsb.). Bahkan, sebuah scene paling sedih pun dapat menimbulkan perasaan berharap terhadap sebuah cita-cita walaupun dalam cerita terasa menyakitkan. Celakanya, orang sering salah dalam menginterpretasikan adegan kematian (meregang nyawa, pemakaman, kuburan, dsb.) sehingga yang terjadi hanya adegan yang bertele-tele dan membosankan.

Untuk mengatasinya, diperlukan sebuah narasi dan musik penutup yang mengiringi scene ini. Beberapa film pendek yang berhasil kadang menggunakan teknik pengambilan gambar long shot, zoom out atau menggunakan crane untuk menghasilkan pemandangan luas (semacam est shot). Ending biasanya diarahkan menuju langit, gunung, atau suasana alam dan lingkungan yang menggambarkan area yang luas. Ini dipilih untuk memberi perspektif yang luas, yang bisa menjadi sebentuk penyadaran bagi penonton.

Antiklimaks sebagai "Hope"? 
Pernah nonton film "Brave Heart"? Menjelang akhir cerita dikisahkan proses kematian William sebagai seorang pahlawan yang dieksekusi algojo. Hope ditampilkan dengan sebuah narasi penutup dan sebuah scene yang menggambarkan semangat perjuangan. Scene paling akhir ini hanya menggunakan waktu kurang dari 20 detik, menggambarkan visualisasi semangat perjuangan terakhir dari para prajurit Skotlandia yang ditinggalkan. Lain lagi dengan film "Bedjo van Derlaak" hope justru ditampilkan dengan dialog penutup yang menyebutkan nama bayi yang baru lahir dan satu scene kematian para pejuang. Untuk lebih menimbulkan suasana "breathless", sering pula disisipkan efek slow motion guna memperlambat detik-detik keharuan.

"Ending", "Scene" Penentuan
Scene akhir yang menampilkan hope sering menimbulkan perdebatan serius di antara sutradara dan penulis skenario. Dalam kasus film independen, yang tidak terikat dengan kepentingan komersialisme, para pembuat film independen ini banyak menggunakan scene-scene terakhir untuk mengempaskan seluruh pokok pikiran yang sebelumnya telah tertuang di sepanjang film.

Ide dan Rumus Lain
Tentu saja masih banyak ide dan rumus lain yang bisa dieksplorasi. Namun, tidak semua orang tertarik membuat film yang sarat dengan pesan dan makna. Sebagaimana yang banyak mengemuka, kebanyakan film kita masih lebih banyak berisi kelucuan dan hiburan ringan semata. Bila kita mempunyai sebuah tujuan untuk membuat film yang bisa menghasilkan kesadaran dan kesegaran, sebuah film yang diharapkan mampu menyalurkan pesan-pesan yang mendalam, tidak ada salahnya Anda mencoba rumus sederhana care, love dan hope.

Apa yang bisa didapatkan dari rumus sederhana itu? Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar film independen yang mendapat penilaian terbaik di tingkat festival film dunia memunyai rumus yang sejenis care, love dan hope. Saya tidak tahu apakah rumus ini memang tepat. Yang saya selidiki, sebagian besar film independen yang dibuat dengan rumus di atas menggunakan pendekatan "menyentuh hati" para pemirsa karena tujuan sebuah fiim untuk membuat kesadaran secara logika dan membangkitkan semangat dari dalam hati. Pesan yang ditampilkan tidak bersifat menggurui atau bertele-tele dalam dialog. Kadang kita menemui sebuah film yang sebenarnya ingin mengungkapkan sebuah pesan yang baik, tapi ceritanya jadi tidak karuan karena penggarapannya yang bertele-tele dan menggunakan dialog seperti sebuah pidato atau khotbah.

Kesalahan membuat dialog sering dialami para penulis skenario yang belum memahami format dan gaya filmis secara benar. Adakalanya kita harus bercermin dengan para pembuat skenario kelas Oscar yang mampu menyajikan berbagai macam teknik dialog yang menakjubkan. Tentu saja teknik dialog di setiap negara dan budaya berbeda-beda. Bahkan, setiap wilayah industri perfilman dunia memiliki beberapa perbedaan yang intinya berasal dari kultur dan bahasa yang dipakai untuk bertutur cerita. Film India dalam penggunaan dialog antar-karakter cenderung menggunakan gaya tutur puitis, menyanyi, dan berdendang. Film-film Hollywood menggunakan pendekatan dialog langsung, kalaupun terdapat beberapa simbol untuk mengungkapkan sebuah pemikiran, mereka cenderung mempersingkat penggunaan kata-kata. Film-film Asia Timur dan Selatan paling banyak menampilkan adegan dialog tanya-jawab, obrolan, dan gaya orang-orang Asia yang terkenal mudah akrab dengan siapa saja.

Semuanya sah-sah saja, bukankah film diciptakan untuk dinikmati? Namun, jangan lupa untuk tetap menggunakan pendekatan cinta, harapan dan perhatian dalam mengungkapkan rasa. Rasa, inilah yang harus bisa diterjemahkan secara lugas dalam sebuah skenario yang Anda buat.

Sony Set, praktisi perfilman, penulis skenario, dan penulis buku Menjadi Penulis Skenario Profesional
Majalah Mata Baca Vol.2/No.4/Desember 2003

10 Buku Amerika Latin Terbaik Sepanjang Masa

10 Buku Amerika Latin Terbaik Sepanjang Masa

The Time of the Hero
Mario Vargas Llosa (1963)
Novel debut dari penulis eksperimental ini kadang-kadang digambarkan sebagai “hati nurani bangsa Peru”, cerita ini tentang anak lelaki remaja di sebuah akademi militer yang bernuansa novel Lord of the Flies. Otoritas akademi yang marah membakar 1.000 eksemplar saat penerbitan buku ini.

Hopscotch
Julio Cortázar (1963)
Pablo Neruda mengatakan bahwa mereka yang tidak membaca penulis Argentina hebat ini menderita “penyakit tak terlihat yang serius”. Novel perlawanan yang spontan, berkelok-kelok dengan ending bervariasi ini adalah tentang para pecinta yang menolak untuk membuat pengaturan.

One Hundred Years of Solitude
Gabriel García Márquez (1967)
Mendiang Gabriel García Márquez secara mengagumkan mengeksplorasi mitos dan sejarah Kolombia melalui kisah magis dan multigenerasi dari keluarga Buendía. Menulis di New York Times Book Review, William Kennedy menyatakan bahwa novel tersebut harus menjadi bacaan wajib untuk umat manusia. Cetak pohon keluarga sebelum anda memulai atau anda akan tersesat.

The Power and the Glory
Graham Greene (1940)
Dalam masterpiece Greene, seorang pendeta Katolik Roma tak dikenal yang suka mabuk melarikan diri di Meksiko pada tahun 1930an saat penganiayaan Red Shirts terhadap pendeta. Saat dia menukar ritus suci untuk tempat kudus, burung bangkai memandang rendah dia dengan “ketidakpedulian lusuh”.

The Motorcycle Diaries
Ernesto Che Guevara (diterbitkan tahun 1993)
Meninggalkan Argentina untuk bersenang-senang di atas sepeda motor yang gaduh, revolusioner Marxis muda kembali sebagai seorang pria dengan sebuah misi. Dia menjadi, dalam kata-kata putrinya: “semakin peka terhadap dunia asli Amerika Latin yang kompleks”.

The Labyrinth of Solitude
Octavio Paz (1950)
“Kesunyian adalah fakta paling dalam dari kondisi manusia,” tulis penyair Meksiko ini dalam koleksi esai yang terkenal ini. “Manusia adalah nostalgia dan pencarian persekutuan. Oleh karena itu, ketika dia menyadari dirinya sendiri, dia menyadari kekurangan orang lain, yaitu kesunyiannya.”

The House of the Spirits
Isabel Allende (1982)
Memulai hidup karena surat untuk kakek buyutnya yang berusia 100 tahun, debut novelis kelahiran Peru itu adalah sejarah Chili yang diceritakan sebagai kisah keluarga melalui garis perempuan. “Pada umur lima tahun,” katanya, “saya sudah menjadi feminis tapi tidak ada yang menggunakan kata itu di Chili.”

The Alchemist
Paulo Coelho (1988)
Memegang Guinness World Record untuk buku yang paling banyak diterjemahkan oleh penulis yang masih hidup, novel alegoris karya penulis kelahiran Brasil ini mengikuti perjalanan penggembala Andalusia muda ke Mesir. Bila Anda menginginkan sesuatu yang cukup buruk, dia diberitahu, maka Anda bisa mewujudkannya.

The Savage Detectives
Roberto Bolaño (1998)
Lahir di Santiago pada tahun 1953 –“tahun dimana Stalin dan Dylan Thomas meninggal,” tulisnya –Bolaño yang disleksia menjalani kehidupan pengembara yang berantakan dan, yang mungkin telah dimasukkan ke dalam fiksi lucu dan non-linier karyanya. Pahlawan –Penyair dari masterpiece-nya dipanggil Ulises.

Like Water for Chocolate
Laura Esquivel (1989)
“Masing-masing dari kita terlahir dengan sekotak korek api di dalam diri kita tapi kita tidak bisa menyalakan mereka sendirian,” tulis Esquivel dalam melodrama realis Meksiko yang mewah ini. Perasaan pahlawan perempuan Tita tumpah ke makanan lezat yang disiapkannya.

Frankfurt Book Fair: Ketika Musim "Belanja" Tiba

Frankfurt Book Fair: Ketika Musim "Belanja" Tiba

Frankfurt suatu pagi. Matahari Eropa acapkali enggan menampakkan dirinya. Tetapi, orang-orang sudah berdesak di kereta s-bahn atau u-bahn. Di stasiun Messe, penumpang banyak yang turun, lalu bergerak ke satu tujuan yang sama: bookfair. Inilah ajang pertemuan (meeting point) terbesar dunia, di mana para insan perbukuan (pengarang, penerbit, agensi, toko buku, distributor, dll.) bisa melakukan transaksi atau sekadar bertemu untuk mendiskusikan berbagai hal, termasuk jualan meski "resminya" dilarang melakukan transaksi jual-beli, tapi siapa bisa memonitor segala aktivitas di tiap sudut, stan atau hall yang luas itu? Melanggar "rambu" toh bisa saja terjadi di negara-negara berperadaban hi-tek.

Jerman tampaknya menjadi negara paling siap dengan ajang bookfair akbar seperti ini. Bahwa buku punya image bagus di Jerman, rupanya langsung ditanggapi dengan sigap oleh kalangan bisnis. Inilah realitanya, "membaca buku" termasuk 8 aktivitas popular paling menyenangkan bagi masyarakat negeri ini setelah mendengarkan musik, nonton televisi, membaca koran harian, ke restoran bagus, bergaul dengan teman, mengendarai mobil, makan sate (barbeque). Dan siapa sangka bagi masyarakat Jerman kegiatan membaca buku ternyata lebih menarik dibanding kegiatan menyenangkan lain, seperti berkebun, olahraga, nonton film, menjelajah internet, dan membaca majalah. Belum lagi kenyataan bahwa industri buku Jerman tergolong terbesar dalam perekonomian Eropa. Saban tahun setidaknya 80 ribu judul baru (sekitar 500 juta eksemplar) diterbitkan. Harap juga jangan diiupakan peran penemuan mesin cetak tipe Gutenberg di tahun 1450.

Saya masih termangu-mangu di stan saya di E 927. "Bisnis" macam apa bisa saya lakukan pada acara besar ini? Saya dengan 31 penerbit lain dari berbagai negara asai Asia, Amerika Latin dan Afrika Selatan, yang disatukan di Hal 6.1 itu rata-rata adalah penerbit "kecil" yang relatif miskin, yang memang khusus diundang Panitia, sebagai tamu "kehormatan". Barangkali, ya, apakah kami mesti ikuti saran Thomas Minkus, Direktur Marketing Frankfurt Book Fair ini: untuk berjualan copyrights? Membeli sih soal mudah, semua yang punya uang bisa membeli rights di sini. Tapi, menjual rights, itulah soalnya! Namun, darimana mulainya jika kami semua punya soal yang hampir sama: tak punya koneksi atau kenalan, tak punya uang, tak punya janji bertemu dengan seseorang, dan...tak mampu berbahasa Jerman! Kompletlah. Yang kami punya "hanya" buku. Bagi penerbit kecil dari negara-negara berbahasa populer seperti Inggris, Prancis, bahkan Arab sekalipun, berjualan copyrights bukan soal yang mudah. Ah, apalagi bagi orang Indonesia. Setidaknya, kita harus bergumul dulu dengan persoalan penerjemahan.

Tiba-tiba saya jadi ingat pengarang Danarto. Dia yang tiba-tiba suka menlfis surat pos atau tiba-tiba mengirim sms kepada saya itu, suatu hari, (lagi-lagi tiba-tiba saja) mengirim ini ke HP saya: "Siapa sastrawan yang sudah diterjemahkan bukunya dalam bahasa Ingris? Pramoedya, Rendra, Mochtar Lubis, Mangunwijaya, Danarto, Ramadhan, Ahmad Tohari, Dorothea, Joko Pinurbo.... Siapa lagi?" tanyanya. Ya, saya lalu menyebutkan tambahannya beberapa lagi. Tapi rupanya tak terlalu banyak. Angka 20 saja tak bisa dilampaui. Lalu setelah upaya penerjemahan itu usai, siapa penerbit Indonesia mau "bersusah-susah" menjual rights karya pengarang Indonesia? Toh jika dihitung-hitung lagi, hasil penjualan itu uangnya tak seberapa besar. Pengarang pun tak akan dapat royalti besar kecuali ia bisa menjadi J.K. Rowling atau Madonna.

Inilah juga soal yang sempat dipertanyakan oleh seseorang saat kami, para penerbit kecil itu, mengikuti suatu seminar di gedung Goethe Institute, menjelang pembukaan Book Fair, "Mengapa pengarang hanya menerima 10% royalti, sementara komponen lain daiam industri penerbitan bahkan bisa menerima persentase jauh lebih besar?" Harap tidak dilupakan, begitu jawaban Christoph Links, penerbit dari Berlin, ketika sebuah buku diterbitkan, selain menerima materi berupa royalti, ia juga menerima hal-hal lain yang non-materi: buku dibaca lebih banyak orang, tersebar lebih luas, dan nama yang harum dan entah lainnya lagi nanti.... Dan orang yang memiliki sebuah buku sebagai karya sesungguhnya jauh melampaui batas kekayaan beratus persen royalti. Terus lagi, mana sih penerbit Indonesia yang jadi kaya karena menerbitkan buku lokal, kecuali menyabet proyek inpres, atau sudah menjadi gurita besar....

Kita hidup untuk mengabdi pada roh atau daging? Kalimat ini menelusup begitu saja saat saya mengetik tulisan ini. Ah, Frankfurt bagaimanapun adalah ajang bisnis. Penerbit atau pengarang paling dicari di Frankfurt adalah yang mampu menghasilkan sebanyak-banyaknya keuntungan bagi lainnya. Namun, hidup juga pilihan. Juga angan-angan. Juga takdir. Siapa menolak mendapat uang atau malah berkah?

Frankfurt di bulan Oktober adalah pesta. Maka, lihat saja spanduk-spanduk atau poster-poster di jalanan. Seluruh negeri ini seakan sepakat merayakan pesta buku bersama saban tahun di bulan Oktober. Mulai dari penduduknya, para pejabat, sampai kendaraan umum pun, baik trem, kereta, bus, atau taksi, semuanya begitu ramah menyambut tamu-tamu dari berbagai negara yang datang untuk bookfair. Buku, benar-benar mendapat tempat khusus. Di sana ia dipestakan dengan meriah.

Di tengah kemeriahan acara besar seperti jumpa dan dansa bersama pengarang Nobel Gunter Grass, atau peluncuran spektakuler buku Muhammad Ali yang disesaki oleh banyak pengunjung, toh panitia juga memberi perhatian pada hal-hal "kecil", yang sepertinya bakal luput dari perhatian. Misalnya, yang diselenggarakan suatu hari di International Centre, sebuah forum diskusi yang menyoal tentang penerbitan buku puisi, Saya bersama dengan Toni Ward, penerbit dari Inggris; Katya Lembessi, penerbit Yunani; dan Ernst Folch, penerbit dari Catalonia, membicarakan betapa bisnis ini tak pernah mampu mendatangkan keuntungan materi. Menerbitkan buku puisi, di negara mana pun ternyata tetaplah hal yang sulit. Ini adalah "bisnis" eksklusif. Namun, toh sejak awal kami para penerbit buku puisi, jenis yang tak "populer" ini sudah paham, kami tak sedang berbisnis. Ini adalah semacam hubungan cinta, sebagaimana akhir kata yang kami dapat pada diskusi ini, love affairs of publishing poetry and gaining fame but no money!

Hari itu saya merasa sudah terlalu suntuk dengan buku. Untung saja suatu saat ada seorang kawan baik mengajak saya sedikit jalan-jalan keluar kota. Fuih. Inilah yang saya tunggu, saya bisa melarikan diri sejenak dan sedikit bisa bernapas lapang. Menyusuri jalanan yang lengang, sekitar 40 km keluar dari Frankfurt, udara yang bersih dan segar, jalanan yang lempang, tak macet sama sekali, mobil kami meluncur mengitari sebuah bukit. Di puncaknya, kami berhenti. Inilah tempat tujuan kami: hotel dan restoran Multatuli. Tepatnya terletak di Mainzer Strabe 255, Ingelheim. 

Di sana saya baru tahu kehidupan Eduard Douwes Dekker ternyata lekat dengan arti "multatuli", dari bahasa Latin yang secara bebas bisa diartikan sebagai "hidup penuh derita". Dilahirkan di Amsterdam, Dekker menghabiskan masa remajanya di Indonesia, di mana ia banyak melihat keadaan yang tidak humanis, yang menggerakkannya untuk mulai menulis di kolom-kolom. Lalu ia pergi ke Brussel dan menulis novel autobiografinya, Max Havelaar di tahun 1859. Novel yang mengkritik koloni Belanda yang hanya mengeksploitasi orang-orang Indonesia itu dengan cepat membawanya pada kemasyhuran. Dekker dikenal sebagai pengarang progresif, dan menjadi pengarang terpenting Belanda abad ke-19. Lalu ia hidup berpindah-pindah di Belanda, Belgia dan Jerman.

Tak banyak yang tahu, Dekker hidup dengan melarat. Sampai suatu ketika, ada seorang teman memberinya rumah di Ingelheim ini, sebuah rumah sederhana, yang kelak bernama Haus zu Lebzeiten Multatulis, Di rumah itulah Multatuli menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya. Ia tak banyak bergaul dengan penduduk setempat. Jiwa Multatuli labil. Hidupnya sangat menderita. Ia tak mampu mengarang lagi karena jiwanya sakit, depresi. Belum lagi asma menggerogoti pernapasannya. Multatuli terus mencari kesunyian untuk jiwa dan tubuhnya yang letih. Pada 19 Februari 1887 ia meninggal di rumah itu. Istrinya yang berurnur20 tahun lebih muda, dan seorang anak angkatnya, kemudian pulang ke Belanda. Sempat menjadi rumah bordil, sebelum akhirnya tempat tinggal terakhir Multatuli ini direnovasi dan menjadi sebuah hotel dan restoran.

Kemasyhuran dan berkah bisa dialami pengarang mana pun. Dan kegiatan bisnis selalu berputar di wilayah itu. Pebisnis ulung akan cepat mencium gelagat mana ikon, mana komoditas yang bisa diubah jadi sesuatu bernilai ekonomi tinggi. Ah, namun kehidupan tak selalu berjalan dengan gerak pasti. Sejarah dan waktu berlintasan dalam geritnya. Akhirya, aku pulang setelah waktuku penuh dengan jarak dan mimpi.

Dorothea Rosa Herliany. Direktur Penerbit IndonesiaTera, peserta tamu Frankfurt Book Fair 2003
Majalah Mata Baca, Vol. 2/No. 4/Desember 2003
 

Menjaring Pengunjung, Meraup Minat Baca

Menjaring Pengunjung, Meraup Minat Baca

Mengunjungi perpustakaan, bagi sebagian besar orang belum menjadi agenda yang menyenangkan. Gambaran perpustakaan yang kaku, hening, berdebu dan bau kertas lapuk menjadi negative brand image tersendiri. Jika dalam dunia usaha hal itu dapat berarti kemajuan besar yang dicapai suatu usaha sehingga mengakibatkan diambilnya tindakan preventif (yang sering kali diartikan negatif oleh orang awam/konsumen) demi efisiensi kinerja perusahaan. Tidak demikian halnya dengan perpustakaan; selain belum populer sebagai lahan bisnis (kecuali didampingi toko buku sebagai satu kesatuan), perpustakaan masih dipandang sebelah mata dan sebelah hati.

Paradigma inilah yang harus diubah. Saya tidak akan mengadu domba masalah rendahnya minat baca masyarakat atau mahalnya harga buku. Point of view tulisan saya mengarah pada kinerja perpustakaan itu sendiri. Saya juga tidak akan menyoroti petugas perpustakaan yang telah mengikuti seminar dan pelatihan perpustakaan di berbagai daerah, tetapi masih kesulitan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya selama ini.

Saya ajak pembaca untuk memandang sebuah perpustakaan sebagai sebuah tempat yang menyenangkan, colourful, comfortable, fasilitas kemudahan akses informasi, dan birokrasi yang tidak berbelit-belit. Setiap anggota masyarakat (yang beritikad baik) berhak datang berkunjung, membaca buku-buku, memperoleh informasi yang dibutuhkan, dan ikut serta dalam kegiatan yang diadakan perpustakaan itu.

Tujuan Wisata
Sebelumnya harap mengartikan tujuan wisata di sini sebagai salah satu alternatif tujuan orang ingin bepergian. Berwisata tak harus ke luar kota, memakan biaya besar dan waktu lama. Intinya: selepas berwisata, orang akan merasa lebih segar, relaks, dan berharap dapat menghadapi hari-hari (kerja) berikutnya dengan lebih semangat. Dengan demikian, muncul spirit I like Monday (maaf, ini bukan iklan!) and day after day.

Nah, perpustakaan dapat menjadi salah satu tujuan wisata tersebut. Buatlah paket-paket menarik, kalau perlu outbond, di seputar perpustakaan tersebut. Tentu saja jika areal perpustakaan memungkinkan. Bagi perpustakaan kecil, kegiatan bisa dilakukan dengan membatasi peserta, macam kegiatan tidak memerlukan lahan luas, yang penting menarik pengunjung.

Di tengah kegiatan, dapat diselipkan info perbukuan, temu pengarang, bazar buku, intinya agar masyarakat dapat mengenal dan berkunjung ke perpustakaan tanpa ada keterpaksaan. Jika mereka terkesan, tentu mereka tak segan datang kembali. Inilah yang saya maksudkan perpustakaan sebagai tujuan wisata dan tempat yang menyenangkan. Memang ini periu inovasi terus-menerus dan strategi bisnis yang jitu.

Penuh Warna
Pernahkah Anda mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan gambar-gambar lucu khas anak-anak, mural (lukisan dinding) yang artistik, atau di sepanjang koridor yang Anda injak adalah gambar-gambar indah sarat makna? Lalu, di sebuah temboknya bercat dasar warna terang yang sengaja disediakan untuk dilukis oleh anak-anak yang meraih prestasi dalam kegiatan yang diadakan perpustakaan. Itulah perpustakaan impian saya. Tetapi, Anda tak salah jika ingin mewujudkannya lebih dulu.

Tidak salah juga jika Anda egois dengan melukisi seluruh dinding perpustakaan yang Anda bangun, asal tetap indah dipandang mata. Tentunya tetap harus menyesuaikan lukisan atau gambar dengan tujuan perpustakaan, agar pengunjung terkesan untuk kembali lagi. Tidak bijaksana jika melukisi dinding dengan aliran surealisme yang kadang menakutkan dan absurd, sedangkan di situ ada rak bacaan anak-anak. Bisa jadi anak-anak yang berkunjung akan bingung mengartikan makna gambar, bahkan trauma untuk datang lagi!

Nyaman
Tidak harus menyediakan sofa empuk dan karpet tebal, atau ruangan ber-AC dingin untuk membuat pengunjung nyaman. Arti kenyamanan di sini adalah pengunjung memperoleh kesan ingin tahu lebih banyak, ingin tinggal berlama-lama di perpustakaan, sejak melangkahkan kaki melalui pintu masuk.

Pelayanan yang ramah, buku-buku yang ditata rapi, suasana yang tidak kaku karena masih memungkinkan pengunjung terutama anak-anak untuk berbicara bebas, dan tertawa. Memang ada sebagian orang bertipe audio, untuk mengerti sebuah bacaan dia harus mendengar suaranya sendiri atau orang lain sedang membaca artikel tersebut. Namun, ada juga yang tidak bisa terganggu suara di sekitarnya saat membaca.

Umumnya, yang berlaku di perpustakaan adalah semua diperlakukan sama rata, tidak boleh bersuara keras. Bahkan untuk bicara pun harus bisik-bisik seolah takut terdengar orang lain. Mungkin diperlukan ruangan kedap suara yang mengisolasi salah satu kelompok.

Akses Informasi
Era digital memungkinkan masyarakat memperoleh informasi luas, bebas, dan cepat. Hal ini pula yang harus diikuti sebuah perpustakaan, mulai dari komputerisasi katalog, fasilitas internet, dan pemutaran film-film bermutu dengan suara yang hanya dapat didengar melalui headphone, seperti halnya di pusat-pusat kebudayaan mancanegara yang umumnya berada di kota besar. Tentu saja hal tersebut diberlakukan sesuai tingkat kemampuan perpustakaan. Bagi perpustakaan kecil apalagi yang dikelola swadaya mungkin agak kesulitan untuk menembus tahap ini. Kecuali pengelola bersedia bersusah payah sedikit untuk mencari informasi dari mailing list di internet, segala pengetahuan yang berhubungan dengan kegiatan perbukuan, kemudian menempelkan print out-nya di papan informasi, atau menyebarkannya pada pengunjung.

Birokrasi yang Mulus
Gambaran yang nyaris sama dapat kita temui di sebagian perpustakaan daerah. Kegiatan monoton, birokrasi kaku dan senyum terpaksa petugas di dalamnya menjadi pemandangan biasa. (Bersyukurlah jika para petugas itu tersenyum, karena biasanya mereka pasang tampang kaku dan lelah!) Entah berapa banyak aturan yang menjadi pembatas ruang gerak perpustakaan itu sendiri. Setiap langkah institusi itu harus mendapat persetujuan atasan, dan tetap berada di koridor petunjuk pelaksanaan, karena jika tidak, dana tidak akan cair. Tanpa dana, suatu kegiatan perbukuan akan sulit dijalankan.

Tetapi, andaikan para petinggi perbukuan (baca: perpustakaan) pemerintah itu mau sedikit "berontak" terhadap birokrasi yang berbelit-belit, kemungkinan besar efeknya akan terasa lain. Pengunjung perpustakaan akan merasa lebih nyaman dan petugas perpustakaannya sendiri akan menghadapi suasana baru yang lebih segar dan tidak membosankan.

Apalagi jika kegiatan perbukuan yang diadakan lebih inovatif, lebih proaktif terhadap masyarakat pembaca, bekerja sama dengan berbagai pihak yang peduli terhadap perbukuan. Tak salah pula jika perpustakaan pemerintah menjalin kemitraan dengan pihak swasta (penerbit), hingga terselenggara kegiatan perbukuan yang menarik minat masyarakat banyak.

Masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk dunia perbukuan terutama perpustakaan. Yang jelas, kita harus berangkat dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang ada di sekitar perpustakaan, disertai semangat dan optimismeyang menyala. Dunia perpustakaan harus membuktikan bahwa minat baca masyarakat masih besar, dengan membuktikan animo pengunjung ke perpustakaan. Banyak jalan menuju Roma, segudang cara meraup minat baca.

Tias Tatanka, pengelola Pustakaloka Rumah Dunia
Majalah Mata Baca Vol.2/ No. 4/ Desember 2003

Penulis Produktif Dari Masa ke Masa

Penulis Produktif Dari Masa ke Masa

- "Bang, aku ini raksasa yang sedang tidur. Percayalah Bang, nanti aku kalahkan Gabriel Garcia Marquez dan Jose Saramago. Lihatlah, Bang."
+ ... (diam)
- "Bang, aku ini raksasa tidur. Aku yakin Bang."
+ "Ya aku yakin juga. Tapi kau harus banyak membaca."
- "Ah, tak pentinglah. Yang penting aku sudah baca Dostroyewski dan Albert Camus."
+ "Kalau gitu jangan terlalu lama kau tidur. Kami sudah 60. Jangan lama-lama tidurnya, nanti kami tak menyaksikan raksasa bangun."
(Kafe, esai Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002, Kompas, 2002)

Sepenggal dialog cerpenis Hudan Hidayat dan penyair Sutardji Calzoum Bachri di atas menyiratkan di mana dan kapan pun orang yang sudah memilih jalan hidup sebagai penulis, pada kenyataannya tak beda dengan profesi lainnya, yaitu dihadapkan pada sebuah tantangan bernama produktivitas.

Ya, menulis dan membaca. Itulah dua kata yang harus dipegang oleh seorang penulis walau hambatan writer's block tengah menghadang. Jika ditilik dari sejarahnya, hanya sedikit penulis yang mampu menghasilkan karya besar tanpa diimbangi dengan karya-karyanya yang lain. Sebutlah Mary Shelley dengan Frankenstein dan Dracula karya Bram Stoker. Mary Shelley dan Bram Stoker barangkali bisa disebut sebagai pengecualian. Seperti kita ketahui bersama, kendati kedua penulis itu hanya menghasilkan masing-masing satu karya, tetapi Frankenstein dan Dracula sudah diterjemahkan lebih dari 100 bahasa di seluruh dunia. Belum versi film dan bentuk adaptasi lainnya yang sudah tak terhitung.

Shelley dan Stoker dan sejumlah nama lain memang bisa disebut sebagai pengecualian. Akan tetapi, siapa tahu diam-diam mereka juga menghasilkan banyak karya dengan nama lain, sedangkan sejarah tidak atau belum mengetahuinya?

Pertanyaan mengusik, apakah berkarya cukup sekali sudah itu mati bak perkataan pujangga Chairil Anwar atau mengutip pernyataan "Si Burung Merak" Rendra "hadir dan mengalir?" Tulisan di bawah ini hanya sekadar napak tilas penulis-penulis produktif. Namun, tak ada salahnya juga sejenak kita membuka rak dan laci buku agar paling tidak dapat dibuktikan bersama-sama mana dari "adagium" kedua pujangga tadi yang tepat.

Sejarah mencatat Spaniar Lope de Vega (1562-1635) sepanjang hidupnya telah menghasilkan 2.200 karya dengan jumlah sebanyak 500 yang sudah dipublikasikan, Alexandre Dumas menghasilkan kurang lebih 1.500 judul. Novelis Afrika Selatan, Kethlen Lindsay (1903-1973) menulis sebanyak 904 novel di samping ia sendiri menggunakan kurang lebih enam nama samaran. Pada masa kini, bisa disebut Sherman Alexie, penulis peranakan Indian Amerika yang banyak menghasilkan karya dari puisi sampai esai dan kumpulan cerpen. Begitu produktifnya Alexie hingga ia mendapat predikat penulis muda terbaik versi majalah The New Yorker.

Charles Hamilton alias Frank Richards (1875-1961) semasa hidupnya begitu produktif sampai-sampai sastrawan George Orwell menyebut dirinya "pabrik tulisan". "Padahal saya berkarya dengan perasaan malu-malu," ungkap Hamilton mengomentari pendapat Orwell.

Selama 30 tahun kariernya di bidang penulisan, Hamilton menghasilkan 1,5 juta karya dengan banyak nama samaran. Sesekali ia menggunakan nama Frank Richards, Martin Clifford, Clive Clifford, Ralph Redway, Owen Conquest, dan Hilda Richards, itu pun belum termasuk 19 nama pena lainnya!

Agak mirip dengan Hamilton, di Indonesia pernah mencuat cerpenis dan novelis Ray Rizal (1955-1997). Penulis yang juga menulis biografi pelukis Affandi, Hari Sudah Tinggi, ini sampai punya empat nama pena, yaitu Zetra, Ray Fernandez, Chandra Humana, dan Ray Rizal sendiri yang ia pakai sampai akhir hayatnya. Penulis bernama asli Djufrizal bin Zulkifli ini bahkan menjelang kematiannya masih meninggalkan "utang" sejumlah delapan buku yang terdiri dari dua biografi, kumpulan cerpen, dan beberapa novel yang belum terselesaikan. Semasa hidupnya, ia menulis ratusan cerpen jika dihitung dengan yang belum diterbitkan. Oleh Radhar Panca Dahana, karya-karyanya dibilang memiliki kekuatan pyro teknik yang membawa prosasis macam Albert Camus, Arun Joshi, dan Wang Meng setelah membaca dua novelnya, Tanah Perbatasan dan Lonceng Kematian.

Produktivitas tak hanya mengacu pada banyaknya karya yang dihasilkan semasa hidup. Beberapa penulis menyembunyikan karyanya atau terlambat dikenal publik seperti Franz Kafka. Kafka, penulis kelahiran Cekoslovakia, relatif tak dikenal semasa hidupnya. Ia hanya menerbitkan beberapa karya dan banyak di antaranya hanya muncul di jurnal-jurnal sastra kecil. Ironisnya, penulis yang terkenal dengan karya masterpiece-nya Metamorfosa berhasil mengilhami banyak penulis kelas dunia, mulai dari Gabriel Garcia Marguez, Jorge Louis Borges, sampai Budi Darma, ini diam-diam menyimpan banyak naskah yang sayangnya sebagian besar sudah dihancurkan oleh penulisnya sendiri.

Karya "Sampah" dan Belum Selesai
George Simenon, sastrawan yang menurut kritikus Andre Gide adalah novelis terbaik dalam sejarah kesastraan Prancis. Semasa hidupnya, ia menulis hampir sebanyak 400 novel. Oleh Gide ia sampai disebut literature with a capital L Karya debutnya, sebuah novel populer berjudul Au Font des Arches malah ditulisnya dengan nama samaran George Sim. Karya-karyanya di luar novel kurang lebih ada 15 autobiografi dan memoar. Lucunya, di luar puja-puji Gide, Simenon sendiri menyebut karyanya tak tebih hanya rubbish alias sampah. Ia menyebutnya begitu karena sebagian besar karyanya semata hanyalah interpretasi dari masa hidupnya sendiri menjalin cinta dengan ribuan wanita yang kebanyakan adalah pelacur.

Kalau George Simenon menyebut karyanya sekadar "sampah", Dorothy Richardson (1873-1957) malah tak pernah menyelesaikan Pilgrimage sampai 13 jilid novelnya ditemukan setelah ia meninggal. Semasa hidupnya, ia menghasiikan novel Pilgrimage yang ditulis pada kurun waktu 1915-1938. Ketika ditemukan karya yang tidak selesai itu, menurut kritikus Frank Swinnerton, karya-karyanya adalah penggabungan dua teknik penulis besar seperti James Joyce dalam Ullysses dan Virginia Woolf.

Sejarah, Tradisi sampai Pergerakan
Sekilas telah dipaparkan perjalanan penulis produktif dari khazanah kesastraan dunia di mana di luar negeri begitu berkembang tradisi literernya. Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah di negeri yang terbilang begitu minimnya minat baca apalagi menulis kita tak punya sejarah mengagumkan? Jangan kecil hati dulu.

Sesungguhnya Indonesia sendiri menyimpan bibit-bibit penulis produktif yang jika ditilik dari sejarah sudah dimulai dari zaman pujangga Ranggawarsita (1802-1873). Kakek dan ayah Ranggawarsita yang sangat berpengaruh pada masa kerajaan Jawa sudah dikenal sebagai penulis produktif bahkan sebelum Ranggawarsita sendiri yang sudah dikategorikan "Mpu". Kitab Raja-Raja yang ditulis Ranggawarsita adalah buah karya terpanjang dunia sebanyak enam juta kata yang ditulisnya sebagai perjalanan sejarah nasional.

Sumbangsihnya tak hanya sekadar mencatat perjalanan sejarah di masa itu, tetapi sekaligus refleksi dari perhatiannya pada identitas Indonesia (terutama tradisi kultur Jawa) yang semakin hari kian terkikis akibat kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda. Kitab panjang tersebut sungguh revolusioner dalam khazanah kesastraan klasik Indonesia mulai dari prosa sampai puisi epik.

Pada masa pergerakan, ada Marco Kartodikromo (1890-1935), seorang jurnalis cum aktivis revolusioner. Sebagian besar karya Marco lahir di dalam penjara seperti Matahariah, novel Student Hidjo, dan syair Sama Rata Sama Rasa. Yang menarik, Marco dikenal sebagai salah satu pencuat aliran realisme sosialis bersama-sama Pramoedya Ananta Toer. Marco Kartodikromo juga pernah menerbitkan novel Mata Gelap yang isinya malah berbau pornografi hingga memicu reaksi keras dari masyarakat. Pada masa hidupnya, Marco ditahan pemerintah kolonial dan dibuang ke Boven Digoel sampai akhir hayatnya.

Perjalanan napak tilas sejarah produktivitas penulis memang mengagumkan sehingga sesungguhnya apa pun yang terjadi, mengutip sebuah slogan kampanye minat baca di Australia, life's better with books. Ya, siapa pun yang suka membaca apalagi menulis pasti mendukung pernyataan itu, baik yang sudah meraih kehidupan sejahtera maupun mereka yang hanya memiliki kekayaan pengetahuan dan kesejahteraan rohani.

Jadi. tunggu apalagi? Membaca dan berkaryalah!

Donny Anggoro, redaktur cybersastra.net dan editor sebuah penerbit di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 4 Desember 2003

Buku yang Menggetarkan: Mencari Makna Lain "Magnum Opus"

Buku yang Menggetarkan: Mencari Makna Lain "Magnum Opus"

Sejumlah karya manusia di dunia ini memang selalu ada yang mampu memberi pengaruh lebih dari sekadar yang pernah diperkirakan, bukan semata-mata mengalami keberuntungan, melainkan disiapkan matang-matang. Karya sastra, seni rupa, desain, musik, sinema, fotografi, teknologi, kebijakan diplomasi, dan pasti juga buku. Demikian banyak yang terpengaruh, sehingga dalam satu kurun masa atau zaman, setiap yang terkena dampaknya akan terus mampu merasakan getar pengaruhnya sampai jauh ke dalam, merasuk hingga
masa tua dan memberi campuran baik pada kepribadian maupun pikiran. Maka jangan heran jika sebuah hasil karya manusia puluhan tahun silam ternyata masih bisa memancarkan energi dan memberi pengaruh hingga masa kini, bahkan ketika sang penciptanya sendiri sudah hancur ditelan bumi. Harimau mati meninggalkan belang, karya abadi tak bisa usang. Keberadaan karya itu terus diperbincangkan, relevansi karya tersebut masih ditimbang-timbang, kontekstualitasnya tak dapat dilepaskan. Semakin banyak orang menyaksikan, membaca, mencerap, memahami, mengikuti sebuah karya, akan makin banyak pula yang kemungkinan terpengaruh. Seolah-olah karya itu memberi roh yang terus memanifes ke dalam masa dan manusia sesudahnya.

Betulkah senantiasa ada sebuah karya manusia yang bisa begitu hebat memiliki pengaruh? Bagaimana karya itu bisa demikian berpengaruh? Bagaimana mutu karya itu jika dibandingkan ciptaan sejenis? Tanpa perlu jawaban dengan kriteria sangat ilmiah, faktor paling utama penyebabnya, antara lain adanya unsur kebaruan, relevansi, kecanggihan, kontekstualitas, dan keabadian pada karya tersebut. Unsur itu bisa berkelindan satu sama lain sehingga sebenarnya bisa saja hanya salah satu yang paling menonjol. Maksudnya, orang bisa memiliki dan mengajukan banyak kriteria berbeda-beda kenapa suatu karya dimasukkan dalam kategori "magnum opus"', tapi satu hal pasti bahwa karya itu memiliki makna sangat dalam bagi setiap orang yang pernah menikmati dan menilainya. Kriteria bisa jadi nisbi, tapi makna dan nilai adalah hal berbeda. Itu bergantung pada batin, pengalaman, pilihan. Bisa jadi sebuah karya yang diagung-agungkan pada suatu masa, dipuja-puji kritik, diserap dan dibaca sangat banyak orang, pada akhirnya usang, teronggok seolah sebagai sampah, paling banter dikenang dan dirawat keagungannya di sebuah museum, untuk dibangkit-bangkitkan lagi jejak langkahnya yang pernah penuh arti. Atau karya besar itu ternyata hanya berpengaruh di kalangan tertentu di suatu massa, sehingga turunan pengaruhnya pun terbatas kalangannya. Maka sangat wajar bila ada sebuah karya besar yang memang ternyata tak mampu menyentuh batin seseorang, gagal memberi makna pada salah satu pembacanya, atau —sungguh malang— pembaca tak punya kesempatan menikmati karya besar itu. Jadi, syarat mutlak karya besar adalah karya itu harus pernah dibaca oleh seseorang. Kita tahu ada sejumlah karya besar yang merana karena tak pernah diterbitkan atau dibaca orang lain karena masih tersimpan rapi di kamar penciptanya. Kemudian tanpa sengaja baru ditemukan seseorang beberapa lama setelah kematian pengarangnya. Yang paling parah, ternyata kadang-kadang terjadi suatu karya besar pernah berusaha dihancurkan oleh penciptanya sendiri karena dia merasa karya tersebut gagal. Jika fakta tentang karya besar ternyata bisa sangat beragam, terbukti betul yang dinamakan "magnum opus" itu sangatlah relatif.

Orang bisa mengabaikan atau melupakan sebuah pencapaian, karya, dan sebagainya, sebagaimana sebuah karya bisa saja diagung-agungkan sejumlah pujian, ulasan; kritik, pembaptisan, politik media massa, padahal karya tersebut tidak lain hanya sebuah kebohongan yang direncanakan secara sistematik. Dalam konteks ini, rasanya bagus mengingat pemeo Arab bahwa mendapatkan ridha (kerelaan, penerimaan) seluruh orang itu tampak mustahil. Harus ada kesadaran bahwa sebuah karya tak mungkin dibaca setiap orang. Dengan demikian, soal karya berpengaruh, karya besar, yang konon bisa mengubah dunia, memberi wawasan baru, merupakan titik puncak pencapaian tertentu, bisa dibicarakan dari banyak sudut. Yang paling sederhana, pertanyaan siapakah yang terpengaruh dan terubah oleh karya itu? Massa, semangat zaman, gerakan. atau justru menyentuh batin personal seseorang?

Ada ilustrasi sederhana untuk ini. Di sejumlah ranah, misalnya ekonomi, filsafat, kritik sosial, Das Kapital karya Karl Marx tak bisa dipungkiri mampu menggetarkan seluruh sendi ajaran, pemikiran dan wawasan ranah itu. Nyaris dapat dipastikan semua penulis, pemikir, buku, dan ajaran ranah itu akan merujuk buku tersebut sebagai kanon—nyaris setara dengan kitab suci yang tak habis-habisnya dikutip untuk sejumlah keperluan, dicari-cari terus penafsiran baru dan pengembangan pendapat terdahulu. Tapi apakah buku yang sama memiliki daya dobrak serupa pada ranah agama dan sastra, misalnya? Pasti tidak. Baru mulai pada tahun-tahun belakangan saja Das Kapital seakan-akan memiliki pengaruh signifikan pada ranah kajian agama dan sastra. Kenapa bisa begitu? Karena orang membaca ulang karya itu dengan semangat dan pendekatan baru pula.

Terlebih-lebih misalnya pada ranah semiotika, cultural studies, atau wacana post-kolonial, meskipun selalu bisa dihubung-hubungkan, sebenarnya hubungan itu sudah tampak sebagai pemaksaan, rekayasa, diada-adakan. Kenapa? Karena Das Kapital lahir dari sejarah, masyarakat, dan masa tertentu yang belum tentu relevan dan cocok dengan ranah lain, Ada buku yang lebih besar pengaruhnya pada ranah cultural studies dibandingkan Das Kapital, yakni buku dan penulis yang sangat dini mengenalkan makna dan istilah tersebut.

Jika ditujukan secara personal misalnya, apakah Das Kapital memiliki pengaruh pada diri saya? Tentu akan saya jawab tidak. Kenapa? Karena saya belum pernah membaca buku tersebut. Saya tak mengenal dan memahaminya dengan baik. Sebab saya hanya tahu "konon katanya" lewat sejumlah ulasan orang lain di buku lain yang membahas itu. Saya bahkan belum pernah melihat edisi lengkap buku itu. Apakah saya menyesal untuk itu? Bisa jadi tidak terlalu. Saya memiliki cukup banyak buku lain yang mampu membuat batin saya gemetar, mengguncangkan keyakinan, namun pada saat yang sama menguatkan iman, mengetatkan pegangan pada sesuatu yang secara bawah sadar saya ikuti, dianggap sebagai kebenaran. Bukan menafikan pengaruh buku tersebut bagi peradaban dan pergulatan intelektual manusia. melainkan saya tak yakin dengan pengaruhnya bagi orang per orang.

Saya memang lebih bisa merasakan pencerapan hasil membaca untuk "diri" (personal) daripada "dunia" yang rasanya harus selalu berhubungan dengan massa (orang banyak). Saya yakin buku yang sangat mengesankan seseorang pasti akan memberi dampak positif bagi perilaku dan jiwanya. Membaca, menurut Hernowo—penulis Mengikat Makna— adalah upaya mencari makna, mengeksplorasi seluk-beluk hal sukar kehidupan agar mampu dicerap dan dibiasakan dalam diri seseorang. Dengan demikian, membaca bisa dibandingkan dengan sikap, wawasan, pengetahuan, atau kekayaan pengetahuan seseorang yang makin baik, sebab buku yang baik adalah gizi bagi batin, makanan bagi jiwa. Jika seseorang berkata dirinya membaca dengan benar, dampaknya harus betul-betul berpengaruh dan tampak dalam dirinya. Sebab, membaca merangsang banyak syaraf dan kepekaan hidup seseorang. Salah satu hasilnya adalah dunia penciptaan (kreativitas) yang wujudnya macam-macam, bisa tulis-menulis, seni, perilaku, metode, sikap, dan seterusnya. Artinya, ada sesuatu yang hidup di dalam diri setelah membaca dan hal itu harus mewujud pada perbuatan.

Barangkali ini sedikit mengejutkan, kenapa orang harus terbiasa dengan hal rumit dan kompleks? Bisa jadi karena kehidupan itu pada dasarnya penuh kejutan dan tak sesederhana yang kita sangka. Tuhan, kematian, perang, moral, filsafat, nyawa, agama, dan segala hal dalam hidup ini meski selalu bisa diabstraksi dengan sesuatu yang sederhana tetap merupakan misteri dan ketakjuban nyaris hampir bagi semua orang. Buku, bacaan, keterangan, memberi pengetahuan dan pemahaman tentang itu sedikit demi sedikit sesuai kapasitas seseorang. Membaca adalah menjelajahi pikiran, kemungkinan, bermain-main nalar, sementara menulis berusaha menyampaikan keinginan, ungkapan, cita-cita, idealitas, pengetahuan dengan bahasa persuasif, agar pembaca tergerak dan ikut merasakan.

Jika teringat pada sejumlah buku yang mampu memberi pengaruh kuat pada diri saya, rasanya saya bisa memahami pernyataan itu dengan cukup baik. Pengaruhnya masih terasa hingga kini. Getarannya masih kuat ada di dalam jiwa. Buku-buku itu memenuhi rasa haus akan pengetahuan, kecemasan, rasa ingin tahu, bahkan menjawab pertanyaan rumit tentang kehidupan dan fenomena peristiwa. Memang buku itu tak selalu langsung dapat dipahami meski sudah habis dibaca dalam sehari, tetapi mengherankan ternyata keinginan memahami itu tak surut oleh keragu-raguan menghadapi hal yang belum jelas demi mencerap makna. Bahkan setelah beberapa saat berselang, buku atau tulisan itu dibaca ulang, teranglah segala kegelapan itu. Makna itu seakan-akan berhamburan di depan diri saya, siap dipetik sari-sari isinya. Dengan begitu, ingatan dan artinya kembali disegarkan. Bisa jadi pengetahuan yang tertimbun dan tak terpahami dalam akal kita itu sebenarnya tak benar-benar hilang tiada arti, tetapi mencari kesempatan untuk muncul kembali atau menunggu pupuk dari pengetahuan lain sehingga mereka berkembang, tumbuh, menanti jadi matang dan waktu untuk dipanen.

Jikalah mau, tentu butuh cukup banyak energi untuk menceritakan ulang bagaimana buku-buku itu sampai bisa "menghabisi" pendirian yang saya pegang, namun pada saat bersamaan mendewasakan gagasan, melebarkan wawasan, memberi perspektif baru, keterangan lebih jernih terhadap sesuatu. Namun, ada yang lebih penting daripada sekadar menceritakan ulang, ialah ada sesuatu yang hidup dari bacaan itu. Bahwa bacaan itu kemudian menjadi teman dialog, tempat alternatif mencari jawaban, mencari keteguhan di antara keraguan. Bila ingin sendirian mengelana ke dalam belantara petualangan yang tak terperi, bacalah buku. Di sana akan kita temukan kawan baru, yang mencoba memberi pemahaman terhadap diri kita meski tak selalu menyenangkan. Buku memberi kita gizi yang berbeda, yakni kedalaman, pengamatan. Dengan itu, kita menimbang kualitas diri dan berusaha tak kenal nyerah mewujudkan idealitas.

Jadi, pernyataan terhadap pengalaman membaca dan menimbang pengaruhnya pada diri pembaca adalah kenapa buku-buku tersebut sampai bisa mempengaruhi seseorang, sedangkan buku lain yang juga dibaca tidak? Saya teringat orasi Mohamad Sobary, kolumnis produktif, pada pembukaan Pesta Buku Jakarta 2003 Juni lalu, "Buku, Kepribadian, dan Perubahan Sosial". Kalau masih jernih dalam ingatan, dia bilang ada buku relevan dan buku kontekstual. Jika tepat tafsir, buku relevan adalah buku yang memberi jawaban pada persoalan-persoalan kekinian, faktual, mendesak untuk diselesaikan. Sementara yang kontekstual adalah buku menyentak, menyadarkan, mengingatkan. Tapi lebih dari dua kategori itu, dia menyarankan agar kita, pembaca, mencari buku yang subversif, mencerahkan. Dia menyarankan itu dengan argumen bahwa dalam setiap buku sebenarnya terdapat tawaran suatu pandangan dunia, wawasan, yang berujung mampu mempengaruhi pribadi seseorang. Semakin banyak pribadi yang berubah, sesungguhnya itu menuju pada perubahan sosial.
 
Karya-karya Robert T. Kiyosaki menurutnya adalah buku relevan dengan zaman kini, yang serba kapitalistik, sehingga pandangan kita tentang kaya, miskin, kerja keras, malas, uang, investasi, pendidikan harus dibongkar habis-habisan lagi. Zaman yang akuntansinya ingin terbuka, tapi di sisi lain tahu cara berusaha dan menjalankan bisnis lebih efektif dan menangguk untung lebih besar. Pendekatan Kiyosaki terhadap ekonomi real (mikro) bisa jadi lebih kena pada kebanyakan orang daripada yang dilakukan filosof ekonomi pemenang anugerah Nobel di kalangan awam. Bisa jadi, karena itulah buku dia laris, metodenya diterapkan di banyak perusahaan, dan berpengaruh pada pikiran ribuan orang. Pada saatnya nanti, gagasan Kiyosaki itu lama-lama akan usang, diganti pemikiran lain, dilupakan. Kenapa? Karena metode seperti itu sering hanya tepat untuk sementara waktu; waktu pendek yang terbatas oleh kecepatan perubahan.

Namun. sejumlah buku ternyata mampu bertahan lebih lama terhadap waktu, perubahan pemikiran dan sosial, bisa jadi itulah yang dimaksud Mohamad Sobary dengan buku kontekstual. Nonfiksi atau fiksi jka menawarkan pandangan dunia, wawasan, nilai, perubahan sosial, moral yang bisa meruntuhkan kesadaran sebelumnya, buku seperti itu harus segera dibaca dan dicerap isinya. Sebuah buku radikal, yang akan membuat idealisms manusia pembaca sebelumnya rontok, memberi pengalaman hidup dan batin, membenamkan keyakinan usang yang harus segera ditinggalkan, tetapi seketika juga mengangkat pembaca ke arah dunia baru yang lebih dewasa, berkembang, matang. Buku yang mengantarkan manusia pada pemahaman sebenarnya seluruh aspek dirinya.

Bagi saya, Kata-Kata karya Jean-Paul Sartre (Le Mots, terjemahan Jean Couteau) adalah sebuah buku yang senantiasa kontekstual karena dari sana saya terus diguncang-guncang oleh arti pembacaan, penulisan, pemaknaan, dan saling pengaruhnya. Dari buku ini saya mendapat semangat betapa menulis merupakan salah satu pilihan jalan hidup bagi sebagian orang. Saya agak yakin hanya dengan membaca dan menulis itulah saya berani menjelajahi sejumlah kemungkinan dalam hjdup, menikmati banyak karya penulis, hidup mencari nafkah dari menulis kata-kata dan wacana, menyampaikan gagasan dan ungkapan lewat bahasa tulis, termasuk meyakini sesuatu yang akhirnya menjadi sikap dan pandangan dunia. Memang betul saya mencintai banyak hal lain selain dunia tulis-menulis, tapi rasanya bisa dibuktikan bahwa itulah yang paling saya kuasai.

Bacaan yang memesona itu perlahan-lahan terus bertambah banyak, disediakan oleh banyak pihak, menyempatkan diri menghabiskan waktu untuk mencerapkan dan mengambil sari-sari pesannya. Lama-lama setelah mendiskusikannya, saya kemudian mencoba-coba bersikap sebagaimana yang diajarkan buku itu; mencoba menjadi diri sendiri.

Teringat lagi pada ucapan Mohamad Sobary, dia menyebutkan ciri buku kontekstual adalah ia menawarkan idealisme, pemikiran, perubahan nilai, menginterpretasi perkembangan, dan akhirnya merefleksikan diri sendiri. Buku dengan kriteria kompleks seperti itu tampaknya sedikit sukar ditemukan; tapi percayalah setiap orang memiliki buku favoritnya, sebuah buku yang bisa mengubah dirinya menjadi seseorang yang baru, mengantarkan ke dunia yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Saya yakin setiap pembaca pasti memiliki "magnum opus"-nya sendiri.

Magnum opus, itulah yang saya sebut sebagai karya yang bisa membuat seseorang bergetar. Buku yang memiliki makna sangat dalam bagi keyakinan dan idealisme yang dipegang seseorang. Buku yang ketika dibaca isinya makin menyempumakan betapa nilai yang dipegang itu harus terus disempurnakan, dirawat kekayaannya, disegarkan ingatannya. Anda tak percaya? Baiklah, jika pendapat itu tak meyakinkan, saya pinjam argumen M. Quraish Shihab, seorang dai-penulisyang reputasi dan kredibilitasnya tak diragukan siapa pun, menurutnya, membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada umat manusia (oleh Tuhan). Karena membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban.

Lepas dari kritik, gembar-gembor, iklan, saran orang lain, kriteria ilmiah yang sukar, sesungguhnya setiap orang mampu menyusun daftar magnum opus bagi dirinya sendiri. Buku tak popular tulisan seseorang tak terlalu terkenal bisa jadi sangat berarti bagi seorang pembaca tertentu, akibatnya buku tersebut menjadi semacam penerang dalam hidupnya. Buku yang dipandang kritik agung, dianggap merupakan pencapaian estetika dan intelektual tertentu, sangat mungkin tak memiliki makna apa-apa di hadapan seorang pembaca bila dia tak memahami isi yang dibacanya. Buku itu jadi sekadar kumpulan nas yang tak punya arti. Dengan demikian, rasanya wajar jika saya mengajak dan meyakinkan agar setiap orang memilih, menentukan. memiliki, buku yang dalam keyakinannya memberi pengaruh terhebat dalam dirinya. Karena hanya setelah dibaca seseorang bisa menentukan sedalam apa buku itu mampu memberi getaran dalam hidupnya.

Jadi, apa lagi? Mari temukan buku yang bisa mempengaruhi diri Anda sekarang juga!

Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 4/Desember 2003

Like untuk dapatkan update artikel terbaru