Bukoe

Bukoe
thumbnail

Menelusuri Buku Kehidupan 17: Saya Melihat Ada Jembatan

Posted by Cinta Buku on 19 Januari 2018

"Who Moved My Cheese" pernah dijadikan topik pembahasan seminar di Jakarta dan Bandung pada Oktober 2001. Ya, siapa yang memindahkan "keju" kita yang dapat berupa kedudukan, uang, kesenangan, ketenteraman hati, kebahagiaan keluarga? Tampaknya segalanya cepat atau lambat berubah, tak ada yang tetap di tempat. Siapa atau apa yang mendatangkan perubahan? Takdir llahi, diri sendiri, atasan pemimpin atau pergantian zaman dan lingkungan? Bagaimana sikap kita masing-masing terhadapnya? Mendahului, mengantisipasi, menyesuaikan diri, acuh tak acuh, pasrah atau melakukan perlawanan? Sesungguhnya seminar itu diilhami oleh buku laris Spencer Johnson MD dengan judul serupa. Buku tersebut pemah bertengger selama 70 minggu di daftar buku laris New York Times.

Para pembahasnya dalam seminar di Jakarta adalah Hari Darmawan, pendiri grup Matahari. Dalam usia di atas 60 tahun, ia tampak masih energetik, penuh api, persis seperti dulu sewaktu ia masih muda. Ia seorang "petarung jalanan sejati" (the real street fighter) yang sanggup bertempur dari "pintu ke pintu". Dengan semangat besar, ia ingin come back membangun "kerajaan" Matahari jilid kedua, setelah yang pertama jatuh ke tangan kelompok Lippo. Ada yang menggelarinya sebagai Gatotkaca karena semangat juangnya yang pantang menyerah.

Pembahas yang lain adalah Gede Prama, konsultan, pembicara dan penulis produktif. Ia yang percaya pada keajaiban cinta dengan sikapnya yang teguh-terkendali itu lebih mirip seorang pertapa.

Hidupnya mengalir begitu saja mengikuti jalannya falsafah air. Dalam berdoa, menurut penuturannya, ia tak pemah minta-minta lagi kepada Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur dan pasrah semata. Seandainya dipanggil setiap saat oleh Yang Mahakuasa, ia menyatakan sudah siap. Dia dijuluki sebagai Yudhistira dalam seminar tersebut.

Sementara saya sendiri selaku pembicara lainnya lebih merasa sebagai pengembara yang tengah dalam perjalanan melakukan pencarian. Hilir mudik berupaya menemukan sesuatu yang dinilai lebih benar sekaligus berharga. Ada beberapa butir mutiara yang berhasil ditemukan, tetapi tampaknya masih belum memenuhi kelengkapan. Ada tendensi, ada arah yang dituju, sementara yang sudah digenggam kadang-kadang masih dipertanyakan kembali. Agaknya pada diri seorang pengembara sejati memang ada kegelisahan senantiasa dalam mencari.

Shaman atau Sufi Korporat
Sepanjang perjalanan hidup ini saya telah menemukan sejumlah teman yang bersedia menggiurkan ide dan kebijaksanaan terbaiknya. Saya menerimanya dengan tangan terbuka, tetapi kemudian memilah-milahnya. Mana yang bisa diterima, mana yang setengah dipetik dengan catatan, mana yang perlu diendapkan dulu dan mana yang terpaksa ditolak, karena kurang sesuai dengan pandangan hidup saya. Sekalipun yang disebut pandangan hidup itu sendiri mengalami perkembangan dan perubahan. Sejujurnya sejumlah teman itu lebih banyak muncul sebagai pemikir, pengolah gagasan dan penulis. Secara pribadi dari dekat, banyak yang saya tidak kenal. Namun, lewat karya-karyanya saya dapat merasa amat dekat dengan beberapa buah pikiran mereka.

Sewaktu terombang-ambing antara dua dunia yang berbeda, bisnis dan spiritualitas, beberapa di antaranya menawarkan diri untuk mencari jalan keluar. Yang dilihat bukannya sebuah jalan kompromi, melainkan terobosan baru yang penuh makna. Sesudah abad informasi maka kelanjutannya kini disebutnya sebagai abad spiritualitas. Sehubungan dengan itu, saya hanya akan menyebut beberapa karya mereka. Seperti The Corporate Shaman karangan Richard Whiteley (sebelumnya dikenal dengan buku The Customer Driven Company), The Corporate Mystic oleh Gay Hendricks Ph.D. et.al dan The Inner Edge karya Richard Wedemeyer dkk.

The Corporate Shaman menuturkan shaman—asal kata bahasa Tungis di Siberia—sebagai penyembuh perusahaan yang "dapat melihat dalam gelap". Dalam kisah perumpamaan itu bisnis perusahaan Primetec inc. mengalami kekusutan dan kemunduran. Untung ada manajer Jason Hand, shaman modern yang berperilaku layaknya seorang eksekutif masa kini. Hanya bedanya, ia seorang penyembuh dengan sifat welas asih, tetapi sekaligus juga seorang pejuang yang melatih kekuatan (power). Kedua sifat yang seperti bertabrakan itu, berhasil diseimbangkan, sembari menekan rendah ego yang kerap merasa serba tahu. Walau Jason Hand berpengalaman puluhan tahun dan menyandang MBA dari Wharton, ia jujur mengakui untuk sejumlah hal ia merasa betul tidak tahu. Dari ketidaktahuannya itulah ia dengan rendah hati mau mencari jawaban. Agaknya di situ terletak kekuatan sejati seorang shaman korporat.

Samentara The Corporate Mystic atau "mistikus korporat" tak ada hubungannya dengan istilah "mistik" dalam arti klenik yang berkonotasi negatif itu. Kedua penulisnya, Dr. Gay Hendricks dan Dr. Kate Ludeman, setelah melakukan ribuan jam wawancara menyimpulkan, bahwa di perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern kini mulai bemuinculan para mistikus atau sufi korporat. Apa ciri yang membedakan mereka dengan kaum lainnya? Mereka memiliki 12 sifat khas yang senantiasa coba diterapkan daiam pekerjaan setiap harinya. Di antaranya dapat disebut mereka menerapkan rumus unggulan yang memadukan kemampuan logika dengan kepekaan intuisi. Bekerja dengan dua tangan pasti lebih efektif dibanding kalau hanya dengan satu tangan. Kebanyakan kaum eksekutif kita lemah dalam hal intuisi karena untuk mernperoleh kepekaan perlu latihan semacam meditasi secara disiplin setiap harinya. Intuisi itu sendiri tidak sama dengan perasaan atau feeling yang kerap melengkapi pikiran atau datang bersama dengan pengalaman. Ia adalah suara dari lubuk hati kita yang paling dalam yang bukan dari hasil penalaran, perasaan atau pencerapan inderawi.

Hal lainnya yang perlu disebut adalah para sufi korporat itu mempunyai kejujuran tinggi (tak hanya dalam masalah uang, tetapi juga berani membeberkan kelemahan diri tanpa peduli dengan citra); visi rnerancang jauh ke depan, tetapi fokus perhatian pada bumi yang dipijak; bekerja efisien dengan memusatkan perhatian sepenuhnya pada rnomen sekarang (living in the present moment).

Dialog berikut ini cukup menarik untuk disimak bersama,

Manajer X: Saya adalah pekerja keras. Jika saya belajar meditasi, apakah hal itu tak akan mengganggu pola kerja saya?
Pertapa Zen: Tidak, tidak. Meditasi hanyalah akan membuat dirimu menjadi tenang, relaks. Siapa bilang bekerja itu harus dengan keras, tegang? (The Corporate Mystic, Gay Hendricks, Ph.D. dan Kate Ludeman, Ph.D.)

Bercermin kepada Jung
Perjalanan melewati sekian dimensi memberi banyak perubahan pada cara pandang saya. Ada orang yang semula saya hormati, tetapi dalam perjalanan waktu penghargaan saya menjadi berkurang terhadapnya. Sebuah contoh: Gus Dur. Sebaliknya, ada juga orang yang semakin didalami malah menimbulkan sikap kagum akan kedalaman dan keluasan wilayah yang pernah dijelajahinya. Pada saat saya tengah mengembara, ternyata ia sudah mendahului menyelam amat jauh dengan perjalanan dirinya. Salah seorang di antaranya ialah Carl Gustav Jung (1875-1961), seorang doktor psikiatri, psikolog, tetapi juga ahli metafisika dengan minat amat luas terhadap banyak bidang.

Sejak kecil Jung sudah menunjukkan diri sebagai anak introvert—melankonik, yang suka melamun, bermimpi dan berkhayal. Alkisah dituturkan dia kerap duduk sendirian di sebuah batu besar sembari bertanya dalam hati: "Apakah saya yang sedang duduk di atas batu atau saya adalah batu di atas mana dia tengah duduk?" Ungkapan sernacam itu menimbulkan analogi dengan pertanyaan Chuang-tse, seorang Taois terkemuka, setelah dia terjaga dari mimpinya. "Apakah saya tadi bermimpi menjadi kupu-kupu atau saya adalah kupu-kupu yang bermimpi menjadi Chuang-tse?" Suatu pertanyaan yang menyerempet masalah transformasi kehidupan.

Ada suatu periode (1907-1913) ketika Jung yang dua puluh tahun lebih muda merasa dekat dengan Freud. Kebetulan keduanya tertarik pada tafsir mimpi dalam hubungannya dengan wilayah ketidaksadaran (unconsciousness) manusia. Keduanya mula-mula saling menghargai dan pernah terpikir oleh Freud untuk menjadikan Jung sebagai "putra mahkota"-nya. Namun, dalam perjalanan waktu terkuak perbedaan mendasar di antara mereka, hingga perpecahan menjadi tak terhindarkan. Freud melihat "ilmu" eksoterik dan agama hanya ilusi, sedangkan Jung berpendapat aspek spiritual dari manusia adalah amat penting. Di mata Jung, Freud dianggap rnemberi tekanan berlebihan pada aspek libido seksualis; apa-apa senantiasa ditinjau dari kacamata seks. Sementara Freud menuduh Jung kurang rasional, karena memberi tempat kepada spiritualisme dan okultisme. Freud juga berpendapat, ketidaksadaran manusia itu didominasi oleh instink dan represi, sedangkan bagi Jung wilayah ketidaksadaran itu memiliki dimensi kreatif dan spiritual. Dua-duanya tokoh akbar di bidang psikiatri dan psikologi, tetapi dengan pendapat yang saling berlawanan.

Suatu saat sewaktu perdebatan antar-mereka memuncak, tiba-tiba Jung merasa wilayah sekitar uluhatinya (solar plexus) menjadi memanas dan mendadak terdengar letusan keras dari lemari buku. Lemari itu guncang dan ambruk, lalu Jung berseru "sebentar lagi akan terjadi ledakan kedua". Benar. Braakk! Dengan ini Jung ingin menjelaskan ledakan itu berasal dari energi psikis yang tak berhasil dikendalikan dan selama ini tak pemah dipercaya oleh Freud (Menarik untuk diteliti ada-tidaknya kesamaan pola antara bekerjanya energi psikis dengan bangkrinya tenaga dalam). Dalam kehidupan Jung peristiwa semacam ini (mind over matter) beberapa kali pernah dia alami sebelumnya.

Apayang menarik perhatian saya dari perjalanan hidup Carl Jung? Ternyata sebagai ilmuwan besar ia berani mempertaruhkan reputasinya untuk menyelidiki bidang-bidang kontroversial, seperti mistisisme, paranormal, alkimia, badan halus (aura), teka-teki UFO dan I Ching. Ia tidak bersikap apriori tertebih dulu, tetapi juga tidak serla merta langsung percaya begitu saja.

Sebagai peneliti ia tidak memelihara jarak, melainkan terjun langsung untuk mengalami sendiri, dengan semangat mau memahami (verstehen). Ia menjadi pelaku yang terlibat intens sebagai subjek-objek dalam sejumlah penelitian. Sepertinya untuk menemukan terapi terhadap pasiennya, Jung tidak keberatan menjadi "kelinci percobaan". Dalam keadaan mimpi dan setengah sadar Jung melihat bayangan khayali, fantasi-fantasi dan gambaran aneh-aneh. Mulai dari bangunan gelap tersembunyi bawah tanah, gua purba, ular hitam, burung pekakak yang baru mati, sampai makhluk-makhluk ganjil yang bermunculan.

Setema berbulan-bulan tampaknya Jung larut dalam perjalanan ke alam tak sadarnya sekaligus melakukan konfrontasi terhadapnya. Ia mengalami disorientasi, kekacauan dan gangguan batin karena keberaniannya menyelam sisi-sisi paling gelap dan terdalam dari jiwanya. Dari alam tidak sadarnya muncul sosok-sosok "roh", seperti Philemon, Eliyah, Anima, Ka yang mengajaknya bertukar pikiran.

Apakah Jung telah menjadi gila? Seperti ia mengalami guncangan-guncangan, tetapi akhimya setiap kali mampu lepas keluar dan pulih kembali:.Yang menakjubkan, dari ziarah batin semacam itu Jung memperoleh inspirasi untuk kelahiran karya-karya besarnya. Seperti penemuan utamanya berupa alam tak sadar kolektif (collective unconsciousness), kumpulan arketip (archetypes), keempat fungsi kesadaran (pikiran, perasaan, intuisi dan penginderaan) sinkronitas (ada yang menyamakan dengan "penyelenggaraan Ilahi") dan individuasi (perjalanan diri mencari keutuhan). Jung yang suka membaca Also Sprach Zarathustra karya Nietzsche—di samping Goethe dan Kant—pasti menyadari bahwa chaos (kekacauan) dalam diri itu perlu ada untuk memberi tempat bagi kelahiran bintang hidup yang menari berkilauan.

Saya coba menarik pelajaran dari ihwal Jung dan suka membatin sendiri. Tampaknya penemuan dan terobosan besar terjelma, kalau sebelumnya terjadi proses penempaan lewat kesakitan (psikis dan fisik). "No Pain; No Gain" (Tanpa Kesakitan, Tanpa Perolehan), agaknya merupakan semboyan yang rnasih berlaku. Justru di tepi chaos, kreativitas besar itu dapat lahir. Ini adalah pesan yang juga disampaikan oleh para penganut teori kompleksitas (complexity theory). Dalam keadaan serba tertib dan rapi jali, yang muncul hanya kemandulan. Tekanan dan persaingan eksternal dan internal senantiasa diperlukan untuk dinamika kelompok dan kemajuan. Siapa takut?

Mencoba Menarik Perbandingan
Menelusuri Jung, walau hanya selintas, membuat saya tercenung, sebab tanpa disengaja tampaknya ada juga kemiripan minat antara kami. Jung tertarik kepada gejala supranatural, parapsikologi dan metafisika. Selain yang sudah disebutkan terlebih dulu, juga terhadap mukjizat keagamaan, medium dan kesurupan, spritualisme, astrologi, kehidupan setelah mati dan sebagainya. Jadi, bidang jelajah Jung sungguh teramat luas. Sementara saya coba memusatkan diri pada aspek-aspek tertentu saja, seperti pernapasan dan energi vital (prana, chi), penyembuhan holistik, meditasi dan bawah sadar serta prakognisi. Menjadi ahli di satu bidang saja seperti prana sudah sulit, apalagi ingin mumpuni di banyak macam bidang. Namun, Jung melakukan itu semua sebagai ilmuwan dengan latar belakang ilmu kedokteran jiwa, psikologi, arkeologi, mitologi, mistisisme dan filsafat. Hasil telaah dan temuannya itu dituangkan dalam berjilid-jilid buku dan makalah. Gaya bahasanya penuh erudisi, serius dan ditujukan lebih untuk kalangan akademik. Sebaliknya tinjauan saya lebih merupakan kesan dan refleksi seperti seorang jurnalis. Jung seorang ilmuwan besar, sedangkan saya orang yang lebih pragmatis yang mencoba menarik manfaat dari apa yang diperlajari.
Akhir-akhir ini yang menarik minat saya adalah ditemukannya buku The Tao of Jung (1996) oleh David Rosen MD dan artikel John Ryan Haule "Jung's Practice of Analysis: A Western Parallel To Ch'an Buddhism" (Journal of Individual Psychology, 2000). Tanpa disangka di sana dibeberkan sejumlah kesejajaran antara ajaran Taoisme dan Zen dengan buah pikiran Jung. Apakah ini koinsidensi biasa atau kebetulan yang mengandung makna?

Memang kemudian hari Jung banyak mendalami I Ching dan Lao Tzu, tetapi saya tak mengetahui apakah itu yang mempengaruhi buah pandangannya. Atau sebenarnya sejak semula, sedari muda Jung memang pada dasamya seorang Taois. Kalau memang demikian halnya, tampaknya persamaan dan kesejajaran wacana dan kimiawi itu dapat terjadi di mana-mana. Antara manusia di Barat dengan insan lainnya di Timur tanpa mereka perlu saling rnengenal sebelum dan sesudahnya.

Di mata saya Jung dan beberapa yang lain (seperti penutls The Corporate Shaman dan The Corporate Mystic) telah berhasil membangun jembatan antara dunia-dunia yang berlainan. Antara ilmu dengan spiritualitas, antara fisik dengan metafisika, antara rasional dengan suprarasional. Saya dengan gembira meniti jembatan di atasnya dan hilir mudik bergerak dari tepi satu ke tepi lain serta sebaliknya. Ada rasa bahagia karena perjalanan hidup ini telah menuntun saya untuk tidak berhenti mengendap di salah satu tepiannya.

Indra Gunawan, pencinta buku dan tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 12 Agustus 2004
08.33
thumbnail

Andai Saya Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

Posted by Cinta Buku on 13 Januari 2018

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukkan siswa bagaimana menulis puisi, cerpen atau novel. Sehingga, ketika mereka lulus Aliyah (SMA) mereka sudah menghasilkan puisi-puisi, cerpen-cerpen, atau novel-novel. Hanya sayang, karena kebanyakan (?) guru bahasa dan sastra kita tidak bisa menulis, siswa pun ikut-ikutan tidak bisa menulis. Sebagaimana gurunya: hanya bisa membuat daftar novel klasik yang mereka sendiri belum tentu pernah membacanya.

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia; apa yang akan saya lakukan?

Prolog
Di rumah saya banyak buku anak-anak yang saya dapatkan dari SD. Kebanyakan buku itu adalah buku-buku cerita yang saya curi ketika saya masih SD. Sekarang saya kuliah semester 6. Jadi, buku itu sudah ada sejak 9-10 tahun lalu. Beberapa memang sudah hancur, tapi kebanyakan masih bisa dibaca. Masih menyisakan kenangan bagaimana saya mendapatkannya ketika pulang sekolah.

Hampir setiap hari saya dengan teman-teman SD membaca buku di perpustakaan sekolah yang satu ruangan dengan ruang kepala sekolah. Waktu membaca hanya ketika istirahat. Bagi saya, saat itu, dunia itu luar biasa. Karena dunia dilihat lewat buku, aktivitas membaca menjadi sangat luar biasa. Saya banyak tahu sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak mungkin terjangkau, bisa saya ketahui hanya dengan membaca. Terus terang, saya sangat senang ketika bisa mengeja dan menuliskan sesuatu. Guru SD kami menyuruh, setiap kali menemukan kertas apa saja, koran misalnya, harus dibaca. Dan memang, bisa membaca itu hebat!

Tetapi masalahnya rumah kami di kampung. Bapak ibu kami petani dan pedagang kecil. Tidak mampu membeli buku. Kalupun ada uang, ke mana kami harus membeli buku. Di kampung saya tidak ada toko buku bacaan. Paling saya hanya bisa meminta ibu membelikan saya TTS dan komik Tatang S jika sedang pergi ke pasar. Hal itu saja yang bisa dilakukan. Sementara setiap hari kebutuhan membaca terus melonjak, buku-buku tidak punya, jalan keluarnya meminjam buku ke perpustakaan SD itu.

Sehari dua hari, terasa kalau memunyai buku bacaan itu asyik. Kemudian terpikir, kalau tidak dikembalikan apakah pihak sekolah pada tahu? Maka dicobalah buku-buku yang dipinjam tidak dikembalikan. Terbukti, tidak ada yang menghukum karena tidak ada yang tahu. Saya, mungkin teman saya juga, hingga kini tidak pernah punya perasaan bersalah.

Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat teman-teman membawa buku dengan tidak lapor dulu kepada penjaga perpustakaan. Saya bertanya kepada kakak yang dua tahun lebih tua, dua kelas lebih tinggi. Kata kakak saya, kalau ingin buku, ketika istirahat, masuk saja ke perpustakaan, pilih buku yang kamu suka. Nanti masukkan ke celana, bajunya keluarkan. Seperti itu kakak saya memberi trik bagaimana mencuri buku. Alhamdulillah, beberapa kali mencuri buku saya selamat.

Lulus SD saya meianjutkan ke Tsanawiyah. Meski buku di perpustakaan tidak banyak, tapi di perpustakaan itu saya sempat membaca Salah Asuhan, Deru Debu dan lain-lain. Lama-kelamaan terbangun kesadaran bahwa penulis itu hebat. Luar biasa. Saya masih ingat bagaimana herannya ketika SD, saya sering menemukan koran yang dijadikan bungkus sayuran, jika ibu berbelanja. Saya tahu, koran itu terbitnya setiap hari. Terapi masalahnya, bagaimana koran sebanyak itu ditulis bisa selesai dalam sehari. Saya tidak sempat berpikir, kalau penulis koran yang sekarang saya tahu mereka wartawan menulisnya tidak sendirian.

Deru Debu dan beberapa antologi puisi itulah yang menyebabkan saya meminta ibu membelikan saya buku tulis yang bagus. Di buku itu, saya menulis puisi. Puisi-puisi itu awalnya saya tulis di mana saja. Setelah dianggap bagus, baru dipindahkan ke buku itu. Dan, sebagaimana juga buku-buku puisi saat ini, saat itu saya hanya membolehkan satu halaman untuk satu puisi. Sampai halaman-halaman buku tulis yang saya katakan tadi habis. Kumpulan puisi itu saya beri nama dengan sebuah judul puisi. Namanya: Duri Durian.

Tahun 1997, saya sekolah Aliyah di Menes Pandeglang, buku Duri Durian itu tidak dibawa dan ketika dicari sudah tidak ada. Seandainya saja sekarang masih ada, bagaimana perkembangan saya menulis puisi bisa diketahui. Kesadaraan baru muncul: dokumentasi itu sangat penting!

Di Aliyah semuanya berubah. Kebiasaan menulis cerpen dan puisi tidak pernah dilakukan, sirna. Semua waktu dihabiskan untuk membaca buku-buku pelajaran. Tidak begitu, saya bisa tidak mendapatkan rangking. Pola pikir kami dibentuk untuk bersaing. Siswa yang mendapatkan nilai bagus adalah siswa hebat; siswa yang mendapatkan rangking adalah siswa yang cerdas. Kehebatan dan kecerdasan semuanya diukur dengan angka. Sekolah menjadi lembaga penuh persaingan, bukan kerja sama. Sekarang hasilnya mana? Angka-angka itu ternyata tidak bisa menolong saya! Hingga akhirnya saya menemukan kesadaraan baru tentang belajar setelah membaca The Accelerated Learning Handbook, meski secara praktis sudah sangat lama. Bahwa belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif. melainkan mengumpulkan pengetahun secara aktif; bahwa kerja sama di antara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.

S3 dan Rumah Dunia
Tahun 2000 saya lulus Aliyah. Merasa tidak punya uang, saya memutuskan untuk tidak kuliah. Saya hanya akan meneruskan mesantran saja. Belum saya katakan, jarak kampung saya dengan Menes tempat saya sekolah bisa ditempuh dalam waktu 3-5 jam perjalanan mobil yang mengebut. Karena itu, di Menes saya mesantran. Jadi, saya akan mesantran saja. Hingga saya menemukan brosur pendidikan komputer D1 dengan bonus 6 bahasa Asing. Saya bilang ke orang tua, saya ingin kuliah meski hanya satu tahun. Saya ingin orang tua mau membiayai saya. Orang tua setuju walau agak keberatan dengan alasan... tidak punya uang.

Saya kuliah satu tahun di Tangerang. Ternyata, lembaga pendidikan itu bullshit. Janji doang. Enam bahasa yang dijanjikan tidak pernah ada. Bahasa Jepang yang diberikan beberapa pertemuan pun setelah saya ojok-ojok, setelah beberapa kali saya diintrogasi dan diancam akan dikeluarkan karena banyak ngomong.

Di Tengerang saya mesantran juga, seperti ketika sekolah Aliyah di Menes. 

Tidak sampai lulus, saya pergi ke Serang. Tidak bilang kepada siapa-siapa kalau saya mau kuliah S1 di Serang. Tahun pertama kuliah, saya masuk Lembaga Pers Mahasiswa. Tahun kedua saya jadi sekretaris umumnya. Mulailah kemampuan menulis dilatih dengan harus terus menulis buletin mingguan dan berita mingguan. Tahun ketiga, saya bergabung dengan Sanggar Sastra Serang (S3) yang diasuh oleh penyair Toto ST Radik. Di sana saya kembali belajar menulis puisi dan cerpen. Tidak lama saya mendapatkan informasi baru, selain S3 ada juga Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang mengajarkan bagaimana menulis. Sekarang PRD berubah nama menjadi Rumah Dunia (RD). Kini, Rumah Dunia memunyai Sekretaris benama: Ibnu Adam Aviciena—yaitu saya. Di sana saya belajar menulis jurnalistik, fiksi dan skenarioTV.

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya tunjukjkan bagaimana menulis puisi dan cerpen (novel). Bagaimana saya menunjukkannya? Seperti Toto ST Radik di S3 dan Gola Gong di Rumah Dunia menunjukkan saya bagaimana menulis puisi, cerpen (novel) dan skenario TV. Sebuah metode belajar yang sederhana, gampang dan tidak melayang-layang di angkasa. Melainkan menapak di bumi! Bisa dipraktikkan dan bisa dibuktikan. Tidak seperti ketika saya Aliyah belajar bahasa dan sastra Indonesia, yang dipelajari tidak beranjak dari fungsi imbuhan, majas, dan menghapal daftar novel klasik beserta ceritanya! Hingga saya keluar Aliyah, hingga terasa tidak menemukan mana hasilnya mempelajari itu selama tiga tahun!

Rasanya, kalau belajar bisa lebih cepat dengan hasil lebih berkualitas dan ada buktinya, kenapa mesti memilih belajar yang hanya mampu memberi angka-angka?

Teori yang Menapak Bumi
Belajar teori pada prinsipnya untuk mengetahui yang ideal, yang seharusnya. Bisa dikatakan, teori sebagai gambaran abstrak dari yang praktis. Jadi, dengan teori diharapkan praktik terus menuju yang ideal lewat gambaran abstrak itu. Ketika teori tidak pernah bisa disentuh oleh hal-hal yang praktis, proses belajar bisa dianggap gagal. Contoh sederhana, kakak saya bilang waktu mengajari saya naik sepeda. "Naik sepeda itu pinggang harus stabil dan imbang..." Sekalipun kalimat ini terus dijejalkan ke dalam otak saya dan begitu paham maksud kakak saya lewat pernyataan itu, proses belajar akan tetap dianggap gagal ketika saya tidak bisa menaiki sepeda. Begitu maksud saya dengan paparan teori dan praktik. Singkatnya, teori tidak melayang-layang tak terjangkau. Teori harus bisa menapak di bumi, bisa dirasakan.

Kenyataan ini disadari betul oleh pengelola S3 dan Rumah Dunia. Dalam proses belajar menulis puisi, cerpen (novel) dan skenario TV di kedua sanggar itu, prinsip "teori yang menapak ke bumi" begitu diperhatikan. Teman-teman yang belajar minggu pagi di S3, setiap pertemuan harus mengumpulan puisi atau cerpen. Puisi atau cerpen itu dibahas setelah mempelajari teori: apakah puisi, bagaimana menulis puisi dan sebagainya. Teori-teori yang dipelajari itu, pada saat pembahasan dijadikan kacamata untuk menilai puisi-puisi itu. Karena dari awal, teori dipahami sebagai "alat" dan tujuan ideal, bahwa menurut teori anu, puisi itu harus begini dan harus begitu.

Tidak hanya sampai di situ, puisi-puisi (di S3, fokus belajar pada puisi) yang sudah dibahas, jika menurut "kacamata" kurang bagus, harus diperbaiki dan minggu depan harus dikumpulkan dengan puisi baru. Baru setelah dipandang ok disarankan untuk dikirim ke koran lokal, jika ke koran nasional belum berani, belum pede. Puisi dimuat, penulisnya harus membacakan, selain menjelaskan bagaimana puisi itu bisa lahir. Orang bilang proses kreatifnya.

Banyak metode belajar yang digunakan Toto ST Radik untuk menunjukkan jalan menulis puisi. Dikatakan menunjukkan jalan karena menurut presiden S3 ini, menulis tidak bisa diajarkan. Salah satu metode yang dipakai, yaitu dengan meminta setiap anak sanggar menyumbangkan satu kata—apa saja. Kata-kata yang terkumpul secara ramai-ramai dibuat puisi. Kata dasar yang disumbangkan boleh ditransformasi ke bentuk lain dengan menambah imbuhan. Hasilnya, sebuah puisi yang indah. Meski ini tentu tidak lahir dari sebuah ide yang menggatalakan kulit otak. Puisi lahir dari konstruksi kata-kata. Metode belajar seperti ini pernah juga disampaikan Jamal D. Rahaman dari majalah sastra Horison.

Berharap puisi dimuat tiap minggu di koran lokal tidak mungkin, mengirimkan ke media nasional belum berani, solusinya, S3 memilih membuat media sendiri. Yang dilakukan pada masa-masa awal, yaitu saat kerja sama dengan Horison bernama Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSS1) menerbitkan jurnal Ketika; pada program Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI), jurnal lain juga akan dibikin, Nama yang sedang dirancang adalah Koran Sastra.

Menurut Totot ST Radik, penyair memang gila. Orang lain cari untung, ini mencari rugi. Menerbitkan jurnal itu butuh tulisan, tulisan dibuat sendiri. Jurnal didesain sendiri, dicetak dengan uang sendiri, dijual dengan tenaga sendiri, tidak laku dibagi-bagikan sendiri. Kemudian kami menerbitkan lagi dengan segala-galanya sendiri. Lalu, di sanggar kami menertawakan diri kami. Kami bilang, "Di sini kami ada dan berbahagia."

Menjelang zuhur, kami pergi ke Rumah Dunia untuk mengikuti pelajaran berikutnya, tentang jurnalistik, fiksi dan skenario TV. Apa yang dikerjakan di S3 juga harus dikerjakan di Rumah Dunia. Tiap peserta setiap pertemuan harus menyerahkan tulisan. Di sini lebih fokus ke cerpen. Cerpen-cerpen itu dibaca dan dikritik oleh instruktur, terutama Gola Gong. Cerpen-cerpen yang dianggap memenuhi standar dikumpulkan untuk dijadikan antologi. Angkatan pertama sudah membuahkan hasil: antologi cerpen Kacamata Sidik, yang diterbitkan Senayan Abadi Publishing. Buku kedua sedang menunggu keputusan penerbit.

Lebih jauh ke depan, Rumah Dunia juga sedang mempersiapkan media sendiri. Kalau S3 berupa jurnal, Rumah Dunia entah apa. Pengelolanya sedang mempersiapkan uang untuk membeli komputer desain grafis.

Harapan yang berkali-kali dilontarkan, Rumah Dunia ingin membangun paper community. Memang saat ini juga sudah ada media berupa buletin. Tetapi itu hanya berfungsi untuk menampung informasi yang tidak tersebarkan lewat jurnal mingguan. Buletin ini terbit sebulan sekali.

Di S3 dan Rumah Dunia, kami menyadari teori belajar itu harus dari pengalaman. Kami mengatakan telah belajar menulis skenario kalau kami pernah menulisnya. Kami belum mengatakan sudah belajar jika hanya baru bermain-main pada wilayah teori. Teori tidak boleh terbang. Teori harus menapak di bumi bersama praktik.

Inilah!
Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukkan siswa bagaimana menulis puisi cerpen atau novel. Sehingga, ketika lulus Aliyah (SMA), mereka sudah menghasilkan puisi-puisi. cerpen-cerpen, atau novel-novel. Bukan menunjukkan judul-judul novel yang pernah ditulis oleh novelis masa lalu. Saya akan meminta kelas membentuk kelompok. Masing-masing kelompok lima atau sepuluh orang, misalnya memerankan sebuah komunitas yang terdiri dari penerbit koran/buku, editor, penulis, pembaca, pembicara dalam diskusi bedah buku dan sebagainya. Tiap-tiap mereka bergiliran memerankan peran-peran itu. Masing-masing mereka harus bertanggung jawab terhadap kesuksesan teman-temannya. Kalau perlu, siswa diwajibkan membawa mesin tik ke sekolah. Kelas menjadi ruang redaksi, ruang penerbitan! Bukan tempat siswa mendengarkan guru ceramah tentang fungsi imbuhan me-, di-, dan teman-temanya, yang kemudian siswa diminta memberikan contoh.

Saya andai seorang guru bahasa can sastra Indonesia, tidak akan mengulangi "kesalahan" yang sudah terjadi pada pembelajaran yang diberikan guru bahasa dan sastra Indonesia saya ketika Aliyah. Saya bersama teman-teman lain, dan mungkin sedang berlangsung pada siswa-siswa yang sekarang masih Aliyah (SMA), telah belajar bahasa dan sastra Indonesia selama enam tahun: hasilnya nihil. Kalaupun ada satu dua anak Aliyah (SMA) yang mampu menulis novel, secara nasional sistem pendidikan tetap dianggap gagal. Bandingkan angka yang mampu menulis dengan seluruh siswa Aliyah (SMA). Perbandingan yang terlalu jauh. Pembelajaran masih dianggap gagal meski perbandingan yang mampu dan tidak mampu 1:1. Maka, bagi saya untuk menjadi pengarang tidak mesti kuliah di fakultas sastra, atau memang tidak mesti kuliah di mana pun. Gola Gong bilang, dia berhenti kuliah karena perguruan tinggi tidak menjamin dirinya untuk menjadi pengarang!

Jika saya seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya katakan kepada siswa saya bahwa penulis itu hebat. Sebagaimana anehnya saya ketika masih SD membaca koran. Bagaimana teks koran yang begitu banyak bisa diterbitkan setiap hari. Seperti juga kekaguman saya kepada yang bisa menulis buku. Betapa hebatnya mereka mampu memberikan pencerahan; mampu menggerakkan saya untuk tetap sekolah walau orang tua hanya petani kecil. Pikiran saya bilang, tuh tokoh anu dalam buku anu juga menjadi orang sukses. Padahal dia orang melarat!

Hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra Indonesia adalah dengan menjadikan menulis antologi puisi/cerpen sebagai syarat bisa mengikuti ujian atau kelulusan, umpamanya. Guru bisa membagi kelas dalam kelompok-kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat antologi puisi/cerpen, dicetak di percetakan. Atau jika masih juga kesulitan, bisa menerbitkan edisi fotokopi. Ide yang menarik saya kira. Buku-buku kumpulan puisi itu selain menjadi kenangan, bisa didokumentasikan di perpustakaan pula. Adik-adik kelasnya bisa membahas sejauh mana kemampuan kakak kelas berkarya sastra.

Di sebuah SMA di Serang, ide ini sudah dilaksanakan. Guru bahasa dan sastra Indonesia mewajibkan kelas tiga untuk membuat antologi puisi. Mereka bilang, mereka terinspirasi oleh terbitnya antologi puisi Sembunyi Sampai Mati yang diterbitkan oleh Sanggar Satra Serang dan Rumah Dunia, yang kebetulan, tiga dari penulis puisi pada buku itu anak kelas tiga SMA tersebut. Namun, ketika S3 dan Rumah Dunia memestakan—istilah kami untuk mendiskusikan—antologi itu, guru bahasa dan anak SMA yang hadir hanya beberapa orang. Padahal, buku yang mereka buat hingga delapan judul, delapan kelompok. Sialnya, menurut Firman Venayaksa mahasiswa S2 Sastra Ul yang menjadi pembahas, beberapa puisi pada antologi itu adalah puisi penyair terkenal. Anehnya, guru bahasa dan sastra Indonesianya, sepertinya tidak tahu. Selayaknya, si guru yang memberi tugas itu, sekalian menjadi "editor", siapa tahu ada puisi orang yang diaku muridnya. Sialnya (lagi), pengatasnamaan puisi milik orang ini terjadi.

Ide ini, ide yang bagus. Pantas saya (kita) lakukan jika saya (kita) menjadi (atau tidak) menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia (sekalipun). Tentu yang perlu menjadi catatan, menulis puisi atau cerpen sebagai syarat kelulusan bukan beban. Melainkan pekerjaan yang mengasyikkan, pekerjaan yang menanamkan kesadaran bahwa menjadi penulis berarti menjadi orang hebat!

Menanamkan kesadaran bahwa menjadi penulis berarti menjadi orang hebat, atau mentradisikan menulis, tentu bukan hanya kesenangan yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra Indonesia saja. Maka, kalaupun bukan guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan membangun tradisi menulis, tradisinya orang-orang hebat!   
        
Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang pada Program Studi Pidana dan Politik Islam, Menjadi Sekretaris Rumati Dunia dan belajar menulis junalistik, fiksi dan skenario TV di sana. Dwilogi novel Proposal untuk Tuhan yang ditulisnya dalam proses penerbitan. Sekarang sedang menyelesaikan penulisan novel berikjtnya.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11 Juli 2004.
09.07
thumbnail

Toko Buku Ultimus Tak Sekedar Memberi Diskon

Posted by Cinta Buku on 04 Januari 2018

Sore menjelang magrib, sepasang suami-istri bergegas memasuki sebuah toko buku tak lama setelah mereka memarkir mobil. Di dalam toko, mereka sejenak asyik melihat dan memilih beberapa judul buku. Setelah menemukan buku yang dicari, mereka pun segera menuju pojok toko buku, tempat pengelola toko buku yang juga bertindak sebagai kasir berada. Di sana, mereka tak langsung membayar, tapi mengobrol. Obrolan yang keluar tidak seperti obrolan antara seorang pembeli dan penjual, melainkan obrolan yang cukup bersahabat antara tiga orang pecinta buku.

Saat obrolan masih berlangsung, beberapa mahasiswa memasuki toko buku, seperti sepasang suami istri tadi. Mereka mulai asyik melihat dan memiiih buku koleksi dari sekitar 40 penerbit yang tertata cukup rapi pada rak buku yang terletak di kiri dan kanan toko.

Itulah sedikit suasana dalam Toko Buku Ultimus saat MATABACA menyempatkan diri singgah ke toko buku yang terletak di tepi Jalan Karapitan, Bandung. Menurut Bilven yang bertugas melayani sekaligus mengelola toko buku ini, sedikitnya ada sepuluh orang dalam sehari membeli buku-buku yang dipajang di Toko Buku Ultimus. Dari kunjungan para pembeli tersebut selama tiga bulan terakhir, toko buku yang dikelolanya memperoleh omzet rata-rata sekitar 25 juta rupiah per bulan. Perolehan ini tiga kali lipat dari perolehan kotor yang pernah dicapai saat pertama kali toko buku dibuka pada pertengahan Januari 2004 yang hanya sekitar 8 juta rupiah.

Diskon
Sepintas tak ada perbedaan antara toko buku ini dengan toko buku pada umunnya. Namun, saat memasuki toko dan "menyelami" lebih dalam, ada beberapa hal yang membuatnya rada beda. Selain menawarkan suasana bersahabat, Toko Buku Ultimus memiliki jadwal buka yang panjang, yakni setiap hari mulai pukul 09.00 hingga larut malam. Toko buku ini pun memberikan diskon nyaris ke seluruh buku yang dipajangnya dengan rate minimal 20 persen. Tak heran, bila toko buku ini berani mengusung jargon "Toko Buku Diskon". Menurut Bilven, diskon menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan Toko Buku Ultimus lantaran toko buku ini harnya menyediakan buku-buku humaniora yang terdiri dari buku-buku sastra, filsafat, serta sosial-politik. Peminat dari buku-buku ini kebanyakan mahasiswa.

Selain memberikan diskon reguler dengan rate 20 persen, toko buku ini menyajikan "bulan diskon" dengan memberikan rate diskon lebih besar terhadap buku-buku yang diterbitkan penerbit tertentu. "Setiap bulan, kita bekerja sama dengan penerbit-penerbit tertentu untuk membuat 'bulan diskon'. Misalnya, bila reguler, mereka (penerbit—red.) masuk ke kita dengan memberikan rabat 30 persen, saat bulan diskon mereka memberikan rabat sebesar 50 persen. Bulan ini dengan penerbit A, B, dan seterusnya," papar Bilven yang sehari-hari dibantu dua sahabatnya, Tiwi dan Hakim, untuk mengelola Toko Buku Ultimus. Lebih lanjut pria yang saat ini sedang merampungkan tesis S2 di Institut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwasanya program ini (bulan diskon—red.) sangat menguntungkan semua pihak. Pembeli diuntungkan dengan diskon yang lebih besar sehingga buku menjadi lebih murah, sedangkan bagi penerbit juga bisa memperoleh keuntungan yang signifikan karena setoran dari hasil penjualan buku meningkat. Sebagai pembanding antara reguler dan bulan diskon, setoran (jumlah uang yang harus disetorkan Toko Buku Ultimus) bisa naik lima sampai sepuluh kali lipat sehingga banyak penerbit yang mau bekerja sama seperti itu.

Perolehan yang meningkat rupanya mengingatkan pengelola toko buku ini untuk menyisihkan sedikit dari keuntungan bersih yang diperoleh. "Sejak April (2004), Toko Buku Ultimus menyisihkan Rp.500 dari setiap buku yang terjual. Hasilnya, setiap bulan diberikan kepada lembaga atau organisasi tertentu. Misalnya, pada April yang memiliki momen hari Kartini, Ultimus memberikannya kepada Institut Perempuan. Harapan kita bukan semata-mata memberi uang, melainkan (uang tersebut) bisa digunakan untuk membuat program-program yang berhubungan dengan literatur, seperti pembuatan booklet. Jadi, semua masih dalam konteks literatur," ujar Bilven.

Sampai Juli 2004, Ultimus baru berusia sekitar tujuh bulan. Toko buku yang dibuka resmi pada 15 Januari 2004 ini didirikan oleh tujuh orang (Bilven, Fenti, Tiwi, Ayunk, Hakim, Hadi, dan Fredo) yang menjalani pendidikan di kampus yang sama, STT Telkom, dan berasal dari tiga angkatan kuliah berbeda (96/97, 97/98, 98/99) yang kebetulan adalah satu kelompok diskusi dan senang membaca buku. Sehari-hari hanya tiga dari tujuh orang yang mengebla toko buku secara langsung, Mereka antara lain Bilven, Tiwi, dan Hakim. Kesepakatan untuk mendirikan usaha ini muncul sekitar satu tahun silam (2003) setelah beberapa di antara mereka telah menyelesaikan kuliah.

"Setelah sepakat (membuat usaha toko buku), kita membuat sebuah business plan (rencana bisnis), kira-kira toko buku seperti apa yang akan kita rintis. Kemudian, kita mulai melihat beberapa toko buku yang ada di Bandung. Salah satu yang diperhatikan adalah buku apa saja yang mereka jual. Dari sana, kita melihat ada satu jenis buku yang belum dipenuhi secara maksimal oleh toko-toko buku yang ada di Bandung. Jenis buku tersebut adalah humaniora," papar Bilven.

Jenis buku ini memang menjadi salah satu ciri dari Toko Buku Ultimus yang diakui Bilven tidak ingin bersaing secara frontal dengan kios-kios buku di kompleks Palasari yang juga sering memberikan diskon terhadap buku-buku yang dijual dan banyak didatangi mahasiswa.

Persaingan memang bukan kendala yang berarti bagi Bilven dkk. karena memang mereka hanya "melengkapi" pangsa pasar yang dianggap belum digarap optimal. Namun, di luar itu, hal berbau teknis kadang membuat mereka agak kerepotan, seperti keharusan membuat laporan untuk penerbit "Penerbit yang memasukkan buku ke Ultimus sekitar ada empat puluh. Mereka memberikan sistem pembayaran konsinyasi (hasil penjualan diberikan setelah buku terjual pada periode tertentu) dan setiap bulan kita harus membuat laporan. Dengan jumlah penerbit sebanyak itu, artinya minimal satu hari kita membuat satu laporan dan itu kadang bikin repot."

Sampai saat ini, selain rutin menggelar diskon, membagikan katalog, menyisihkan keuntungan bersih, dan tentu saja membuat laporan, Ultimus telah beberapa kali menggelar event yang berkaitan dengan buku. Event ini diadakan sedikitnya tiga kali di ruang Toko Buku Ultimus, seperti peluncuran buku dan diskusi; selebihnya sering diadakan di luar toko buku, yakni kampus. Menanggapi hal ini, Bilven mengatakan, "Soal event, Ultimus biasanya bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan penerbit dan kawan-kawan di kampus dan komunitas budaya. Jadi, kerja sama melibatkan tiga pihak, penerbit, Ultimus, panitia pelaksana (kampus/komunitas budaya). Saat kerjasama penerbit menanggung pembicara/penulis, Ultimus menyiapkan publikasi atau pembicara di Bandung sebagai pembanding." Dengan segenap aktivitas dan pencapaian yang belum banyak diraih, memang wajar bila Bilven dkk. berharap dalam waktu dekat bisa segera membuat Ultimus menjadi tempat mangkal yang lebih nyaman bagi para pecinta buku, yakni dengan mendirikan perpustakaan di samping toko, dan membangun "stage" yang lebih permanen sehingga bisa mengoptimalkan beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia buku. Jadi, semakin memperkuat kesan bahwasanya Ultimus tak sekadar memberi diskon.
 
Agus Setiadi, Pencinta buku tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004
10.56
thumbnail

Menelusuri Buku Kehidupan: Momen Menakjubkan dan Paradoks

Posted by Cinta Buku on 22 Desember 2017

Masih ada kejadian kecil dari Frankfurt Book Fair (Oktober 2003) yang belum dituturkan oleh si empunya cerita. Saat itu, bersama beberapa rekan saya tengah menyusuri sejumlah stan mencari, siapa tahu ada buku Present Moment Wonderful Moment. Mungkin saja ada terselip bagaikan lembaran kertas di tengah gunungan buku di gelanggang akbar tersebut. Memang kami tak dapat mengharap banyak, karena tidak tahu nama penerbitnya, namun kalau ada jodoh atau sinkronitas, apa pun dapat terjadi. Suatu hari kami berhenti iseng, setelah lelah berjalan, di satu stan kecil berukuran 1 x 2 meter persegi: Parallax Press. Sepintas lalu mata mengerling menyapu sejumlah judul buku yang dipamerkan. Tidak begitu banyak, maklum penerbit kecil.

Tiba-tiba rekan Sulaiman Budiman setengah berseru menunjuk, "Bukankah itu buku yang Pak Indra cari-cari?" Si empunya nama datang mendekat. Memang benar di situ terpancang buku hijau tipis Present Moment Wonderful Moment, karangan Thich Nhat Hanh, seorang paderi Zen dari Vietnam. Buku itu sudah lama menarik perbatian saya, setelah James Redfield (Celestine Prophecy dalam bentuk eseinya) beberapa kali mensitirnya. Seperti terjemahan sajak berikut ini:
Menghirup napas,
saya menenangkan tubuhku
Menghembuskan napas,
Saya tersenyum
Mengembara dalam momen
kekinian
Saya tahu ini adalah momen
menakjubkan

Mendekati penjaga stan—sepertinya seorang Vietnam—saya bertanya apa dimungkinkan untuk membeli buku tersebut? Namun, karena buku itu salu-satunya yang dibawa: ia tidak dapat menjualnya. Hanya melihat kegairahan besar yang ada pada diri saya, ia membisiki agar datang pada hari terakhir pameran dan nanti boleh mengambilnya secara cuma-cuma....

Buku tersebut berisi sekumpulan gatha, syair-syair pendek disertai penjelasan dan tafsir oleh penulisnya. Syair-syair itu dapat disenandungkan dalam hati sembari melakukan pekerjaan sehari-hari. Di sinilah letak keindahannya dari "living in the present moment" (hidup dalam momen kekinian). Apa pun yang dilakukan apakah itu membasuh tangan, menyikat gigi, buang air, mencuci piring, menyapu lantai, membaca koran, mendengarkan suara tekukur, menghirup dan mengembuskan napas senantiasa disyukuri dan menjadi kesadaran yang sepenuhnya dihayati. Inilah sikap hidup meditatif yang tenggelam menyadari apa yang terjadi dengan tubuh, pikiran, perasaan dan dunia sekeliling kita. Pekerjaan apapun didekati dengan sikap yang senantiasa baru, seakan-akan baru pertama kali dikerjakan.

Saya kira ajaran Zen ini berbeda dengan sikap hidup yang hedonistis, carpe diem, "tangkaplah hari" mumpung masih ada kesempatan reguk hidup sepuas-puasnya. Umbarlah napsu, karena kesenangan adalah tujuan hidup yang semestinya, Pada Zen, justru kenikmatan dimunculkan dari pekerjaan sehari-hari yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Tak ada upaya untuk memburu peristiwa yang menghebohkan, yang sensualistis, yang dramatis.

Hal lain yang membuat saya tertarik pada Zen adalah pemahamannya mengenai pencerahan (enlightenment) yang berbeda dengan pencerahan (aufklarung) dari Barat. Pencerahan yang berjaya di Barat (1680-1780) itu terlalu mengagungkan rasionalisme dan kebebasan berpikir. Saat itu ada optimisme, bahwa dengan kecerdasan pikiran (IQ) kemajuan peradaban manusia dengan sendirinya niscaya akan menanjak. Kini pandangan semacam itu hanya mempunyai sedikit pengikut. Sebaliknya, pada Zen yang ditekankan adalah pencerahan batin, pengalaman satori, yang bebas dari abstraksi atau kata-kata muluk. Dengan demikian, apakah pencerahan pada Zen mengarah ke kecerdasan spiritual (SQ) yang holistik, yang menganggap pikiran hanya satu dari sekian banyak komponen?

Juga pada Zen, pencerahan bukan milik orang-orang tertentu yang dapat merenung, meditasi berjam-jam ataupun yang sanggup berpikir besar. Ia adalah pengalaman mendadak seperti sambaran kilatan petir yang membuat diri-sejati tiba-tiba terbuka. Guru-guru dan buku dapat menunjuk arah, tetapi pencerahan merupakan pengalaman yang sepenuhnya personal. Sebenarnya potensi pencerahan itu telah lama mengendap pada diri tiap orang—ia adalah indera di luar pancaindera yang tersembunyi, terabaikan. Atau ada juga yang menyebut pencerahan sebagai peristiwa terbukanya "mata ketiga" (the opening of the third eye).

Orang yang telah menerima pencerahan tidak akan mengaku-ngaku, bahwa ia telah tercerahkan. Ia bekerja seperti sediakala, bertingkah laku biasa, hanya orang lain mungkin tidak mengetahui, bahwa pandangan matanya kini sudah sepenuhnya baru, telah mengalami transformasi, menembus ke inti hakikat, melampaui pikiran.

Peribahasa Zen berikut ini sepenuhnya mewakili aktivitas keseharian ("Zen all the time") dari mereka yang telah menerima pencerahan.

Sebelum pencerahan memotong kayu mengangkut air 
Setelah pencerahan memotong kayu mengangkut air

Dunia luar masih seperti sediakala, hanya dunia dalam, mikrokosmos telah mengaiami transformasi perubahan. Kalau sebelum pencerahan, kerja adalah tugas-kewajiban maka setelah pencerahan kerja bukan lagi beban, melainkan menjadi dharma, panggilan dan amanah. Apakah tidak elok penghayatan seperti itu?

Teka-teki dan Paradoks
Saya kira kalau kita membicarakan Zen, sudah sepatutnya jika Taoisme juga ikut disinggung. Hubungan keduanya erat sekali bahkan Taoisme banyak berpengaruh pada Zen. Sebelum mengetahui perihal Zen, saya sendiri malah telah memiliki beberapa buku mengenai Taoisme. Taoisme adalah salah satu ajaran hidup utama di Tiongkok, selain Konfusianisme. Kalau Konfusianisme lebih banyak bicara mengenai manusia, masyarakat dan penguasa dengan pendekatan etis, bijak dan humanistik (jen dan li), Taoisme lebih tertarik mencermati jalannya Alam Semesta dengan transformasi dan perubahannya. Bagi seorang Taois, intuitive wisdom lebih unggul dari rational knowledge. Herannya penemuan fisika modern—khususnya kuantum—sampai kepada kesimpulan yang membenarkan pengamatan intuitif Taoisme tersebut (baca: The Tao of Physics, Fritjof Capra, 1976). Sepertinya intuitive wisdom yang membuka jalan dulu, kemudian rational knowledge yang menyusul dari belakang, melakukan verifikasi pembenaran.

Begitu saya membuka kitab Tao Te Ching, buah karya Lao Tzu, yang menonjol adalah aphorisme, perumpamaan dan frase-frase yang penuh teka-teki, makna kabur dan paradoks. Misalnya, "Tao yang bersinar tampak samar. Tao yang maju tampak mundur". Atau "Kembali adalah gerakan dari Tao, Menyerahkan adalah fungsi dari Tao". Kita tentu dapat melanjutkan dengan berimprovisasi, seperti "Kekuatan adalah kelemahan. Kelemahan adalah kekuatan". Atau dengar ungkapan seperti ini: "indah tetapi buruk. Buruk tetapi indah". Sepintas lalu frase itu sepertinya mirip permainan teka-teki kata yang omong kosong. Namun, kalau direnungkan, dalam situasi konkret tertentu, hal itu bukannya tak ada kebenarannya. [Sebagai conioh: (Indah muka) tapi buruk (hati). Buruk (rupa) tapi indah (hati)]. Apakah Tao itu sendiri? Banyak penerjemah dan penafsir yang memberi interpretasi yang berbeda-beda, hingga nuansanya menjadi makin kaya dan mungkin malah tambah membingungkan.

Seperti terjemahan Lin Yutang (The Wisdom of Laotse) berikut ini: "Tao itu bejana kosong (tapi......). Manfaatnya tak ada habis-habisnya. Betapa dalamnya! Menyerupai sumber asali dari semua benda" (cuplikan Bab 4). Lalu ada yang menyimpulkan Tao itu bukan hal, bukan proses, bukan zat, tetapi lebih mirip prinsip tunggal Jalan Semesta. Bagaimana sesuatu itu terjadi dan bagaimana sesuatu itu bekerja. Namun, banyak pihak lain yang tak dapat menerima definisi tersebut. Tao sejati itu tak memunyai arti atau nama dan lebih jauh: tak terumuskan. Biarlah para pakar itu berdebat dan menggali terus, sementara kita melanjutkan melihat sisi-sisi lainnya.

Dalam Taoisme yang juga penting dicatat adalah konsep perubahan yang terjadi karena dinamika interaksi antar kutub-kutub berlawanan. Yin dan Yang saling mempengaruhi terus, membuat perubahan tak terhindarkan. Dua-duanya, positif dan negatif, walaupun berlawanan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam hal ini, Lao Tzu sejalan dengan Heraclitus, filsuf Yunani yang terkenal dengan semboyannya panta rrhei, semuanya mengalir, semuanya berubah termasuk perubahan itu sendiri.

Bagaimana kemudian hubungan Zen dengan Taoisme? Ternyata kedua-duanya memiliki persamaan di samping perbedaannya. Zen adalah blending (ramuan) dari tiga budaya yang berlainan. Zen mengambil unsur Buddhisme dari India; Taoisme dan Konfusianisme dari Cina dan Shintoisme dari Jepang. Dari Taoisme ia menerima spontanitas, kewajaran dan cinta pada alam, paradoks dan mengembangkan permainan teka-teki (koan) dengan jawaban intuitif yang tak terduga-mengagetkan! Dari Konfusianisme ia menimba sikap pragmatis dalam menghadapi gaya hidup modern. Sementara dari Buddhisme ia tetap mempertahankan disiplin pencapaian satori, pengalaman pencerahan.

Taoisme lebih merupakan gaya hidup dengan disiplin yang lebih longgar. Seorang Taois umumnya lebih suka hidup bebas, independen, bohemian dan kurang mau terikat dengan konvensi yang kaku. Sementara Zen, karena aspek pragmatismenya dapat bergerak lebih fleksibel. Seorang master Zen tidak harus seorang rahib "gelo" yang muncul dalam film, tetapi dapat juga berupa sosok seorang saudagar yang kaya, santun dan dermawan. Yang penting dalam Zen adalah disiplin dalam meditasi (zazen). Olah dan praktik meditasi sendiri (experiencing) adalah lebih berharga daripada pemahaman berbagai doktrin atau ajaran tertulis, betapapun canggihnya itu.

Dalam perjalanan hidup saya, di samping pelajaran dari Barat (terutama lewat sekolah dan buku-buku wajib), ajaran seperti Taoisme dan Zen ternyata banyak mengimbangi alam pemikiran yang linear dengan yang non-linear; dualistik dengan holistik; mekanistik dengan organik; bivalensi dengan multivalensi.

Tidak Mudah Heran dan Kagetan
Memang Taoisme dan Zen membuka cara pandang baru, seperti kemampuan berpikir yang lebih lateral, melampaui sekadar memilih jawab antara "ya" dan "tidak". Ia coba menukik ke wawasan yang lebih dalam. Namun, sampai seberapa jauh relevansinya dengan pekerjaan manajemen yang saya gumuli? Demikian agaknya pertanyaan yang menyelinap ke benak si empunya cerita.

Hemat saya, cara pandang baru itu juga membawa dampak yang berarti dalam memecahkan persoalan dan mengambil keputusan. Kini muncul faktor X tambahan di mana kita dibiasakan berpikir mencari alternatif baru, dan tidak sekadar berhenti pada jawaban standar. Bukankah itu yang menjadi tugas pokok seorang eksekutif unggulan? Mengadakan diagnosa dari berbagai segi dan kemudian melakukan terapi secara lebih jitu?

Ada ungkapan yang menyatakan, jangan mudah kagetan, jangan mudah terheran-heran. Idiom seperti itu bukannya tak ada betulnya apalagi di zaman yang serba tak menentu dan tak terduga ini. Hemat saya, latihan dan bacaan mengenai Zen dan Tao itu dapat mengantar pribadi untuk lebih bisa memahami peristiwa yang ganjil atau kasus yang sepertinya tidak masuk akal, absurd.

Seperti ucapan Northcote Parkinson (Parkinson's Law, 1957) yang mengutarakan "orang yang paling sibuk, yang paling punya banyak waktu". Untuk mereka yang terbiasa berpikir dengan logika linear, hal itu kurang dapat diterima. Padahal kalau diteliti, bukannya tak ada kebenarannya. Seorang setengah pengangguran misalnya memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikan sepucuk surat. Berhubung kurang adanya tekanan waktu, ia berpikir pelan-pelan dalam merangkai kalimatnya, Sembari mulai menulis, ia juga menyelingi dengan makan roti dan minum kopi, kemudian bercanda dulu dengan burung perkututnya, sebelum menyelesaikan suratnya. Ini berbeda dengan orang sibuk yang langsung menulis dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 15 menit. Sisa waktunya kemudian dapat digunakan untuk keperluan lain. Hal itu baru menyangkut penghematan waktu untuk satu kegiatan, Bagaimana kalau orang sibuk tersebut memunyai banyak kegiatan dalam sehari?

Atau umpamanya ada keluhan dari pimpinan penerbitan sebuah majalah. Segala macam cara telah ditempuhnya untuk memperbaiki isi medianya dengan harapan sirkulasinya akan menanjak dan sebagai kelanjutannya jumlah iklannyajuga akan bertambah.

Namun, harapannya yang masuk akal itu kemudian ternyata kandas. Agaknya ia hanya memperhitungkan hubungan sebab-akibat yang lurus antara isi media dengan jumlah pembaca dan pemasang iklan. Padahal pemuatan iklan di berbagai media itu mempertimbangkan banyak faktor, selain segi isi dan sirkulasi, Di mana posisi majalah itu—sekalipun isinya sudah diperbaiki—di antara majalah lain yang sejenis? Apakah ia dapat menggolongkan diri di antara tiga besar dalam kelompoknya? Hukum Tiga atau The Rule of Three (Jagdish Sheth et.al, 2002) itu sampai seberapa jauh periu dipatuhi atau malah mesti dilanggar sama sekali? Ini baru sebagian dari sejumlah pertanyaan yang menggugat.

Kemudian sejak beberapa tahun terakhir ini saya juga mulai belajar mengapresiasi seni rupa modern. Saya dapat menikmati seni lukis dari semua mazhab, sepanjang estetikanya dapat dipertanggung-jawabkan. Rupa, rasa dan makna, demikian pedoman dari dr. Oei Hong Djin, kolektor pribadi terbesar di sini yang sekaligus juga pengamat dengan wawasan tajam.

Hanya akhir-akhir ini yang menarik perhatian saya adalah seni rupa dari aliran abstrak. Semakin sukar dipahami, semakin tertantang hati ini untuk mau menyelami lebih dalam. Ternyata dengan berulang-ulang mengamati, muncul getaran roso baru yang tidak sama dengan sebelumnya. Dalam seni rupa realis "sekali kucing selmanya adalah kucing". Sebaliknya, dalam seni abstrak, setiap kali memandang senantiasa dimungkinkan adanya pemahaman baru yang berbeda. Kita sepertinya tak hanya harus terpaku pada satu pengertian tunggal, tetapi mulai dibebaskan untuk melihat sejumlah pilihan lain, alternatif baru. Apresiasi seperti ini makin memperkaya wawasan yang sudah diperoleh dari Zen dan Tao. Seni ternyata tak hanya menawarkan keindahan semata, tetapi juga dapat memberikan pemahaman yang baru. Secara pribadi, saya mengenal beberapa pelukis abstrak yang baik, seperti Sadali (alm.) dari Bandung yang kerap melukis subuh hari dalam keadaan alfa-meditatif. Atau Nunung WS, perupa perempuan berusia 50-an tahun yang senantiasa serius dan intens dalam menggarap karyanya. Atau Hanafi, seniman muda yang berani bereksperimen, selain dalam komposisi warna juga membebaskan kanvas dari bingkai hingga lukisan menyatu dengan ruang dan suasana. Meditatif, intens dalam berkarya dan menyatu dengan ruang, alangkah menariknya untuk disimak.

Setiap kali mendengar perdebatan yang kurang bermutu, apakah itu di media, di kantor ataupun di sebuah seminar saya hanya dapat membatin. Sudah pota pendekatannya serba mekanistis dengan tarikan garis lurus linear, masih mengotot lagi. Sembari menikmati lukisan Hanafi atau Sadali, saya dapat menenggelamkan diri membaca buku yang menggambarkan paradoks zaman ini. Misalnya Why Smart Executives Fail (Sydney Finkelstein, 2003) yang isinya cukup tajam menikam atau The Tao is Silent (Raymond M. Smullyan, 1977) dengan muatan humor-bijak yang mengendap. Kali ini saya memilih yang kedua. Tiba-tiba: "Plung! Kodok kecemplung masuk kolam. Setelah itu, sepi kembali" (haiku). Tao itu diam. Keheningan bunga yang tumbuh diam-diam tanpa kata-kata. The Tao is Silent. Saya tahu ini adalah momen yang menakjubkan.

Indra Gunawan, pencinta buku, tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004  
06.30
thumbnail

Hidup dengan Buku, Hidup dengan Hati

Posted by Cinta Buku on 16 Desember 2017

Selama hampir sebelas tahun saya menempati sebuah rumah di kawasan Dago milik keluarga Uncle (begitulah saya menyebut paman saya tercinta). Suami dan anak saya: Ilalang, pemah juga tinggal di sana selama 2-3 tahun. Rumah itu berkah bagi saya. Kebun rumah yang sangat lapang dipenuhi oleh aneka pepohonan, labu sayur, cabe rawit dan jeruk nipis yang tak pernah berhenti berbuah, ruang-ruang dalam rumah itu penuh oleh buku. Yang mengagumkan, semua buku yang ada di sana sudah tuntas dibaca Uncle.

Kemudian saya pindah ke rumah yang 1/6 lebih kecil dari rumah Dago. Rumah baru ini milik saya dan suami, artinya rumah yang bisa kami miliki sesuai uang yang kami punya. Dua bagian dindingnya menempel dengan dua rumah tetangga, satu bagiannya dengan dapur, dan satunya lagi dengan ruang tamu orang. Kepada teman yang bertanya-tanya, saya selalu berseloroh, "tembok ini simbol persatuan". Saya tak sudi berkecil hati. Di rumah baru ini ada banyak hal yang saya sukai, itu lebih dari cukup. Rumah kecil saya ini dipenuhi buku yang hampir mendominasi semua ruangan, kecuali kamar mandi dan dapur.

Kemarin saya terlibat "clash" dengan tetangga yang ruang tamunya menempel dengan kamar tidur anak saya. Beberapa kali saya pergi, bak mandi selalu saya biarkan kosong. Anehnya, setiap kali pulang saya dapati bak mandi sudah penuh terisi. Karena air ledeng kami masih menyatu (meskipun tetangga sudah memakai pompa), saya bertanya pada tetangga, "Tadi airnya ngalir ya?" Saya tak sempat berpikir kalimat itu akan membuatnya tersinggung. Tetangga sempat diam sebentar, lalu menutup pintu setelah berkata bahwa ia tidak tahu. Tak lama ia membuka lagi pintu rumahnya, marah, "Saya merasa dituduh ngutak-atik ledeng, itu tidak pantas! Gembok saja pusatnya supaya yakin tidak diutak-atik orang." Saya sempat bengong sebentar sebelum kemudian menjawab, "Saya tidak menuduh Anda...." Tetangga saya marah bukan main hingga tak mau mendengarkan saya. Setelah salat asar, saya kembali mengetuk pintu rumahnya. Sebelum ia marah-marah lagi, saya meminta maaf berkali-kali telah membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan saya barusan. Saya pun sebisa-bisanya menjelaskan sebab saya bertanya demikian, tetapi nasi sudah jadi bubur, ia tidak terima dan tak menggubris permintaan maaf saya.

Ternyata kemudian masalah itu melebar pada wilayah-wilayah lain yang lebih peka. Tetangga saya menuduh saya su'udzhan, berburuk sangka. Saya mencoba menenangkan diri dengan mengobrolkan banyak hal dengan suami. Saat itulah saya bertanya padanya, "Kenapa orang harus merasa sangat tersinggung karena hal-hal kecil?" Sahut suami, "Mungkin karena orang tidak tahu hal-hal lebih baik yang bisa ia lakukan."

Saya langsung ingat Uncle. Bukan apa-apa, ia orang yang paling jarang merasa terganggu. Dalam banyak peristiwa yang dialaminya selama hidup, ia sangat jarang terganggu. Ia sudah mengalami banyak hal dahsyat yang dihadapinya dengan kepala dingin dan tenang. Ia hanya pernah menyesal satu kali, yaitu ketika putra sulungnya mati bunuh diri di sebuah taman di Amerika. Itulah kali pertama ia menangis seperti anak kecil. Dalam keadaan senang atau susah Uncle selalu membaca, bahkan dalam keadaan sangat susah pun ia tetap membaca. Ia membaca banyak buku dan punya segudang pengalaman hebat selama hidupnya. Ia pernah menjelajah Antartika, menjadi insinyur sipil setelah lulus cum laude dari sebuah universitas di Australia, memiliki kebun bunga kala lili (waktu itu satu-satunya di Bandung) di penghujung tahun 1980-an, beternak llamas; hewan seperti unta di Australia, meneruskan kuliah S2 dalam usia 60 tahun, membuka usaha rumah makan di Sumatra, berganti agama tiga kali (Ibrani, Kristen, Islam), pernah jadi orang kaya, mengusahakan jalannya Grameen Bank di Sumatra Utara untuk membantu meminjamkan uang kepada ibu-ibu miskin agar memiliki usaha sendiri. Ia cerdas sekali. Selama tujuh tahun hidup dengannya, saya mendapatkan apa-apa yang tidak saya peroleh selama tujuh belas tahun bersama orang tua. Hebatnya, ia juga menyayangi saya seperti anak kandungnya sendiri. Ia mendidik saya untuk menghargai diri saya sendiri, meyakinkan saya bahwa saya bisa menulis, menyekolahkan saya, memaksa saya menyukai dan membaca banyak buku, juga membuat saya "bicara".

Saya sangat terkejut ketika suatu hari membersihkan kamamya, menemukan map usang yang ujung-ujungnya termakan serangga. Di dalamnya ada guntingan-guntingan koran ketika Uncle dan teman-teman peneliti di Australia mengunjungi Antartika guna kepentingan eksplorasi. Ia tak pernah menceritakannya pada saya. Fotonya bersama para peneliti lain terpampang di koran itu. Ia pun pernah membuat buku dari hasil eksplorasinya ke Papua Nugini. Buku itu cukup representatif di zamannya dan dipublikasikan secara terbatas. Ia seorang pekerja keras, tak kenal menyerah. Bertahun-tahun bekerja di DPU, semua orang tahu tangan dan pemikiran dinginnya telah menghasilkan jalan-jalan tembus ke desa-desa terpencil yang sebelumnya tak pernah diketahui orang. Sayang, ia tak pernah mempunyai teman yang benar-benar baik padanya. Sebagian besar orang yang pernah menjadi teman baiknya kemudian mengkhianatinya. Beberapa kali ia dipecat tidak hormat karena iri hati. Tetapi Uncle tak mudah dikalahkan. Ia terus bekerja. Kini ia masih menjadi konsultan sebuah LSM di Sumatra Utara. Pekerjaannya membaca, menulis, berpikir, sedangkan usianya sudah 60 tahun lebih.

Ada pengalaman sangat lucu yang tak bisa saya lupakan. Suatu kali ia salat sambil menjinjitkan kakinya. Seusai salat saya mempertanyakan hal itu, jawabnya, "My God is a happy God!" Menurutnya, Tuhan sesuai dengan apa yang kita persepsikan tentang-Nya. Sungguh banyak kejadian menyenangkan terjadi dalam masa tujuh tahun bersamanya. Kami bahkan pernah berbagi uang. Saat kebun kala lilinya hampir bangkrut, ia mengetuk kamar saya dan bertanya, "Anda punya uang?" Di dompet saya masih ada dua puluh ribu, Uncle mendapatkan sepuluh ribunya dengan wajah merah menahan malu. Saya menghiburnya dengan berkata, "Uncle dulu kaya raya, sekarang susah. Bagaimana kita bisa menghargai yang kita punya jika kita tak pernah susah barang sebentar?" Matanya berkaca-kaca. Ya, karenanyalah saya bisa mengatakan kalimat seperti itu. Ia membuat hidup saya dipenuhi limpahan kasih sayang yang mustahil saya lupakan. Setiap saya bersedih dimintanya saya tersenyum dan berkata, "look at me, kadar manusia itu dinilai bukan dari apa yang dimilikinya, tetapi dari hatinya."

Uncle selalu membaca buku dalam setiap keadaan. Dalam waktu senggang atau sibuk, ia selalu membaca dan membaca. Saya belum pernah melihatnya berleha-leha tanpa buku di sisinya. Seluruh ruangan di rumahnya dipenuhi buku. Semua jenis buku ada di sana. Ia orang yang selalu berbesar hati. Terakhir kali kami bertemu di rumah kecil saya, ia bercerita bahwa usaha rumah makannya tak berjalan lancar. "Kini saya hanya bisa naik pesawat kelas ekonomi." Ia meringis. Saya balas, "Itu pun masih naik pesawat, bandingkan dengan saya yang belum pernah naik pesawat!" Ia pun tertawa tergelak-gelak.

Buku-buku selalu ada bersamanya. Setiap kami bertemu, selalu ada buku baru yang dibelinya. Buku apa pun menghipnotisnya. Jika Anda bertanya padanya tentang tanaman, hewan, Antartika, fengshui, perekonomian, bangunan, atau apa pun yang ingin Anda tanyakan, saya jamin ia mampu menerangkannya dengan sangat detail dan terang. Ia hidup dengan buku sepanjang hidupnya, mungkin karena itulah hidupnya dijalani dengan "hati". Katanya berkali-kali "Book's not everything, it's something you can learn to be honest and wise." (Buku bukanlah segalanya, tetapi sesuatu yang bisa membuat kita belajar untuk jujur dan bijak).

Meskipun kini ia tidak semakin kaya, saya tahu ia bahagia. Bagaimana tidak? ia sudah mengalami banyak hal istimewa dalam hidupnya. Ia tak pernah menyesali keadaannya sekarang; kesulitan uang dan hampir bangkrut (lagi), karena ia toh sudah berkali-kali mengalami hal serupa. Ia akan memulai usaha lain lagi dari nol, belajar lagi, sambil tetap membaca buku dan berharap hidupnya akan baik-baik saja. Kini kami lama tak saling berkirim kabar. Saya disibukkan oleh banyak hal, ia pun demikian, tetapi saya tahu hati kami saling terpaut. Kami akan bertemu lagi suatu hari nanti, kemungkinan besar ia akan datang membawa buku-bukunya, dan dengan gayanya yang sederhana ia akan bercerita pada saya tentang hidup yang dijalaninya sekarang, atau mungkin buku yang akan ditulisnya.

Jadi, "clash" saya dengan tetangga terdekat kemarin bukan apa-apa jika dibandingkan banyak hal yang telah terjadi pada saya selama ini. Saya hanya agak sedikit menyesal atas kedunguan saya yang tak tepat memilah kata. Mungkin karena saya bukan Uncle yang sudah membaca buku teramat banyak selama hidupnya, atau yang telah mengalami banyak hal. Karenanya saya masih belum bisa menghindarkan diri dari hal-hal menyebalkan yang timbul karena mudahnya saya merasa terganggu akan hal-hal kecil di sekitar saya.

Rumah kami hanya sebuah rumah kecil, tetapi saya cukup bahagia dengan semua yang terjadi dalam kehidupan saya selama ini. Semua yang saya alami takkan mungkin saya lupakan, kadang-kadang saya ceritakan jika ada gunanya. Rumah kecil tak lagi terlalu memusingkan, karena saya hidup dengan orang-orang hebat dan baik hati. Saya tahu masih banyak yang akan terjadi dalam kehidupan saya di masa mendatang. Saya berharap akan sanggup menjalani segala sesuatunya dengan penuh kesadaran. Selama hati saya hidup, selama buku-buku masih saya baca, selama masih bisa menulis, rasanya saya tak perlu khawatir tentang apa pun.

[Untuk Uncle Ibrahim Randell Champion, you're the best thank's!]
Septina Ferniati, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004 

06.07
thumbnail

Tips dan Trik Menulis Skenario: "The Nine-Act Structure"

Posted by Cinta Buku on 02 Desember 2017

Nine Act-Structure adalah seni bercerita 9 babak untuk membuat sebuah tayangan film berdurasi 90-120 menit. Mengapa 9 babak? Untuk mengetahui sebuah proses cerita dalam sebuah film, kita harus mengetahui sebuah resep bercerita yang kini sering diadaptasi oleh banyak film Hollywood. Resep 9 babak sangat menolong setiap penuils skenario membagi pembagian babak cerita dengan lebih terstruktur dan detail. Sebelumnya, banyak sekali penulis skenario yang masih menggunakan pendekatan durasi 3 babak untuk sebuah tayangan film sepanjang 90 menit. Mereka membagi lama durasi menjadi 30 menit per babak. Akibatnya, pada awal cerita, penonton film dengan format 3 babak merasa bosan karena terjebak pada aturan konsep pengenalan karakter selama 30 menit dan harus menunggu berpuluh menit berikutnya untuk mengetahui cara-cara menyelesaikan masalah (dalam film) yang sedari awal sebenarnya mudah ditebak. Pendekatan cerita 3 babak menggunakan konsep karakter superhero-antagonis, yang ditampilkan mempunyai kelebihan, kekuatan dan penampilan layaknya manusia jagoan untuk menjalani dan menyelesaikan masalah. Sementara konsep 9 babak menggunakan konsep karakter antihero, menampilkan karakter utama yang bermasalah, korban kesewenangan di awal cerita dan terpaksa menjadi tokoh protagonis untuk menjalani dan memecahkan masalah.

"The Two-Goal Analysis"
Sebelum kita melangkah untuk meneliti bagian-bagian dari struktur 9 babak, ada baiknya kita memahami konsep dasar dari struktur 9 babak. Selain mengedepankan konsep karakter antihero, struktur 9 babak menggunakan pendekatan konsep two-goal analysis: konsep membuat cerita dengan menggunakan dua altematif ending/tujuan cerita. Konsep ini dibuat untuk "mengelabui" penonton terhadap jalannya sebuah cerita dan memberikan tujuan kedua sebagai new goal yang harus diselesaikan sang karakter protagonis. Goal kedua dijalankan di tengah cerita, yang "memaksa" karakter protagonis berpikir ulang untuk menyelesaikan masalahnya dan berbalik melawan keadaan yang semakin "menjepitnya". Cerita two-goal mempunyai plot yang sama: cerita orang teraniaya, terdesak, buronan dan menjadi kambing hitam, diburu oleh sebuah badan, musuh, pemerintah dan segala hal yang mengincar dirinya untuk dijadikan korban. Setelah mengalami berbagai penderitaan yang berat, sang tokoh yang "terlunta-lunta" berputar balik, dan berbalik melawan sang pengejarnya. Cerita perlawanan korban yang tidak bersalah terhadap ketidakadiian dan penindasan adalah dasar pembuatan konsep two-goals! Mari kita bandingkan konsep one-goal dan two-goals dalam pembuatan sebuah cerita skenario.

"The Single-goal Plot—One-goal"
Dalam rumus single-goal plot, tokoh protagonis memunyai satu masalah untuk diselesaikan dan menjadi tujuan yang selalu dipersiapkan sejak awal cerita film. Dengan menyelesaikan one-goal akan menyelesaikan keseluruhan masalah. Contoh film yang menggunakan pendekatan one-goal, antara lain The African Queen, Raider's of the Lost Ark, The River Wild, Spiderman, dan Star Trek: Generations. Film-film tersebut sangat datar dalam cerita, mudah ditebak dan tidak menghasilkan kejutan apa pun yang kini sangat didamba oleh para penonton.

Two-goals diciptakan untuk memberikan elemen kejutan dan ide cerita baru yang mampu memberikan pilihan bagi penonton untuk menikmatinya.

"The Two-goal Plot"
Two-goal plot kini banyak diadaptasi film-film sukses dunia yang mengedepankan unsur surprise, suspense dan cerita cerdas. Rumus ceritanya sederhana, tokoh protagonis terlihat diburu-buru sesuatu atau badan dan dipaksa menemukan tujuan utama pertama: lari dari pengejaran. Setelah menemukan tujuan tersebut, sang tokoh akan menemukan kesadaran untuk melawan dan merancang sebuah "aksi balasan" dengan membuat sebuah goal baru untuk memecahkan masalah yang menimpanya. Proses menemukan goal baru menjadi bagian yang mengasyikkan untuk diikuti. Kita meiihat sang tokoh protagonis "belajar menjadi pintar", menyiapkan rencana pembalasan dengan berbagai macam cara dan kecerdasan yang ditemukan di saat tergenting dan segaia aksi persiapannya yang membuat kita terperangah, betapa cerita orang yang tertindas dan mampu berbalik melawan adaiah sebuah pelajaran menarik secara filmis. Anda dapat meiihat contoh film, seperii Pelican Brief, Fugitive, Terminator 1, 2, 3, 4, Enemy of the State, Predator dan beberapa jenis film bertema intelijen dan mata-mata. Kita melihat berbagai macam intrik dan persekongkolan tingkat tinggi yang memakan korban seseorang yang semula antihero. Namun, setelah menjalani berbagai macam peristiwa, tokoh tersebut berbalik arah dan berubah menjadi tokoh pahlawan yang melawan segenap penindasan mengenai dirinya.

Beberapa contoh cerita lainnya, sebagai berikut.
•  Dalam film ET: the Extraterrestrial, tujuan utama dari tokoh anak kecil bemarna Elliot adalah rnenjaga ET dan menjadikannya teman. Tujuan kedua terjadi di menit 53 (dari total 107 menit) adalah membantu ET pulang kembali ke rumahnya di angkasa luar.
•  Dalam film Jurassic Park, Alan Grant, tokoh ilmuwan prasejarah datang ke Pulau Jurassic untuk melihat dan mengamati taman Jurassic. Tujuan kedua pada menit 88 (dari total 119 menit) adalah mencari jalan keluar dan menyelamatkan diri dari kejaran dan serangan dinosaurus.
•  Dalam film Home Alone, Kevin, tujuan awalnya adalah kembali menemukan keluarganya. Tujuan keduanya adalah mengalahkan penjahat-penjahat yang berusaha mengejarnya (menit 65 dari total 102 menit).
• Dalam Lion King, Simba kecil melarikan diri dari kelompoknya dan menjalani hidup bermalasan hingga dewasa di suatu tempat jauh dari koloninya. Ketika dewasa, Simba bertemu lagi dengan teman kecilnya dahulu yang mengingatkan Simba untuk membalas dendam kematian ayahnya. Simba sadar, dan kembali ke kelompoknya semula demi membebaskan kawanan singa yang telah dikalahkan bangsa Hyena. Tujuan kedua terjadi pada menit 65 (dari total 105 menit). Simba berbalik menghadapi masalah masa lalunya.
•  Dalam film Fugitive, dokter Richard Kimble melarikan diri dari kejaran polisi karena didakwa membunuh istrinya. Tujuan pertama ia berusaha mencari tokoh pembunuh istrinya yang bertangan satu. Tujuan kedua terjadi pada menit 88 (dari total 124 menit), Dr. Richar Kimble menemukan penjahat sebenarnya dari kejadian pembunuhan tersebut. Ia berusaha menggagalkan sebuah rencana jahat temannya yang membuat rencana meluncurkan obat berbahaya untuk masyarakat.

Konklusi
Dari total 200 film box office dunia, 190 film menggunakan rumus two-goal plot structure. Anehnya, tidak ada orang di Indonesia yang menyadari rumus ini. Jarang sekali para pengarang cerita dan penulis skenario yang mau mengamati keunikan teknik two-goals ini. Tidak karena ada beberapa rumus tambahan yang bisa membuat sebuah cerita menjadi lebih kaya dalam ide dan penggarapan.

Struktur 9 Babak
Kali ini kita akan membedah struktur 9 babak dengan lebih jelas. Jika kita amati, struktur ini sangat membantu untuk mengembangkan cerita setiap 10 menit (untuk 90 menit cerita yang dibagi dalam 9 babak). Kita harus berpikir, apa perkembangan cerita berikutnya setiap 10 menit, apa yang akan kita tambah di 10 menit berikutnya? Konflik apa yang akan diperjelas dan diperkuat dalam beberapa bagian berikutnya? Namun, kita tidak boleh hanya terpaku dengan konsep durasi. Bukan tidak mungkin durasi film kita memunyai durasi lebih pendek atau lebih panjang. Walaupun tidak bisa dibagi rata masing-masing dengan durasi 10 menit, kita masih dapat mengelompokkannya menjadi 9 babak.

Struktur 9 babak memberikan jalan keluar baru bagi setiap penulis yang ingin memberikan sentuhan kejutan pada ceritanya. Banyak sekali penulis yang mampu membuat cerita menarik dalam 30 halaman pertama. Persoalannya, bagaimana rnenjaga pembaca naskah Anda untuk menyelesaikan sampai halaman 90 dan tetap konsisten mengikuti cerita di 60 halaman sisanya! Teknik 9 babak dengan menampilkan babak balik (reversal) dari sang tokoh untuk menemukan tujuan keduanya (menyelamatkan cerita dari kebosanan). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat struktur 9 babak berikut ini.

Act 0: Babak kejadian buruk menimpa orang lain 
Ada suatu kejadian di suatu tempat yang tidak berhubungan dengan aktivitas tokoh protagonis. Seseorang terbunuh oleh orang lain (antagonis), sesuatu yang dicuri atau sesuatu yang diperebutkan.

Act 1: Babak awal dan pengenalan karakter protagonis 
Sebuah pemandangan kota, menampilkan aktivitas sang karakter protagonis yang digambarkan innocent, tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari bahwa ada bahaya atau masalah yang mendekatinya.

Act 2: Babak kejadian buruk menimpa tokoh protagonis 
Sesuatu hal buruk terjadi, sosok tokoh protagonis terjebak di sebuah tempat atau kejadian yang membuatnya terperangkap, menjadi kambing hitam atau menjadi korban. Masalah semakin bertumpuk, ia menjadi buronan polisi atau pemerintah.

Act 3: Mempertemukan tokoh antihero/protagonis dengan lawan antagonis 
Tokoh antihero kebingungan, ia akhimya bertemu dengan sumber masalah secara sekelebatan. Ia heran menemui calon musuhnya (antagonis) yang justru memperburuk keadaan.

Act 4: Sebuah rencana dibuat 
Tokoh antihero terpaksa membuat rencana pelarian, karena kebingungan terhadap situasi yang dihadapi. Sementara ia mendapatkan informasi jelas bahwa ia menjadi kambing hitam dari sebuah konspirasi.

Act 5: Menuju tujuan yang salah 
Karena semakin terdesak, sang tokoh protagonis berjalan tidak tentu arah, melarikan diri dan berusaha keluar dari masalah yang justru semakin membuatnya terpuruk. Sampai suatu saat, ia membentur sesuatu yang tidak bisa dilewati, ia jatuh. Sementara pihak lain dan tokoh antagonis tetap memburunya.

Act 6: Titik balik
Di saat titik nadir dan kesialan hidupnya, tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya, ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara "belajar mengenal dan mengatasi musuhnya".

Act 7: Menjalankan rencana darurat kedua (yang tidak pemah terpikirkan) 
Setelah mengetahui kelemahan musuh, tokoh antihero berubah menjadi tokoh superhero dan mencoba melawan penindasan yang telah dikenakan padanya. Inilah saat pembalasan. Tokoh kita berbalik menuju tempat antagonis.

Act 8: Klimaks cerita 
Perang dan klimaks cerita. 

Act 9: Penutup

Banyak film Hollywood menggunakan konsep pendekatan 9 babak, antihero dan two-goal analysis, di antaranya Fugitive, In the Line of Fire, Enemy State, Terminator 1, 2, 3, dan Pelican Brief. Lihatlah bagaimana cerita dengan cerdas dibuat, penonton tidak dapat menduga akhir dari sebuah cerita, dan berbagai kejutan lain di akhir cerita.

Konsep 9 babak adalah sebuah wacana baru cara menulis cerita. Anda bisa mengadaptasinya untuk berbagai jenis cerita, skenario bahkan novel. Tujuannya untuk membantu memecahkan kesulitan pengembangan cerita dan memperkaya alternatif berbagai macam ending cerita.

Sony Set, praktisi film
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004 
09.46
thumbnail

Ronggowarsito: Pujangga Terakhir Tanah Jawa (1802-1873)

Posted by Cinta Buku on 25 November 2017

Berbicara kesusastraan Indonesia pada umumriya, dan Jawa pada khususnya, orang tak bisa tidak harus mencatat nama pujangga agung dari Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito. Dialah pujangga besar Jawa, yang terkenal sebagai pujangga peramal yang sangat berpengaruh di Jawa dan juga sosok yang kontroversial. Ronggowarsito meninggalkan puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estetika yang menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, dan teologi telah membuatnya dianggap sebagai pujangga paripurna di Keraton Surakarta pada akhir abad ke-19. Karena itu, tersebar keyakinan, khususnya dalam masyarakat Jawa, bahwa R. Ng, Ronggowarsito adalah Pujangga Jawa terakhir, sedang penulis sesudahnya dianggap sebagai "penulis" biasa atau sastrawan saja.

Ronggowarsito juga disebut-sebut sebagai pendobrak tradisi kesusastraan konvensional Jawa. Pada masa sebelum Ronggowarsito, apa yang dinamakan kesusastraan adalah karya-karya yang berbentuk puisi resmi atau "tembang" (yakni Macapat, Sekar Tengahan dan Sekar Ageng), yang berkaitan erat dengan seni gamelan, Ronggowarsito menerobos batasan konvensional ini. Perkenalannya dengan kesusastraan Barat (antara lain melalui persahabatannya dengan Gericke, Winter dan Palmer) mulai mempengaruhi orientasi kesusastraannya. Selain tembang, dia juga mulai mengarang prosa, dan sejak itu lahirlah babak baru dalam khazanah kesusastraan Jawa, meskipun pada awalnya masyarakat Jawa masih kesulitan menerima terobosan ini. Selain itu, menurut sebuah artikel karangan Dr. Th. Pigeaud yang terbit pada 1932, kepujanggaan Ronggowarsito juga diperoleh lantaran ia dapat membawakan pemikiran filosofis dalam bentuk syair yang indah menurut cita-rasa kesusastraan Jawa. Banyak karangan filosofisnya kelak menjadi pegangan hidup rakyat Jawa kebanyakan.

Meskipun Ronggowarsito banyak mengkritik kekuasaan dan menyoroti masalah sosial yang carut-marut pada waktu itu, tetapi kedudukannya sebagai abdi raja membuatnya juga harus menulis sajak yang mengagungkan penguasa (raja). Disisi lain, Ronggowarsito juga terkenal lewat syair ramalannya yang melegenda, ramalan "Zaman Edan" yang dimuat dalam salah satu karyanya, Serat Kalatidha (Zaman Keraguan), sebuah karya yang merupakan reaksi terhadap kemerosotan moral dan sosial masyarakat pada waktu itu, Bagian ramalan yang terkenal itu berbunyi:

Amenangi jaman edan, ewuh aya
ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni boya
kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilallah karsa Allah
Sakbeja-bejane kang lali
Luwib beja kang eling Ian waspada

(dari Serat Kalatidha, Bab 8: Sinom).

Terjemahan bebasnya: "Mengalami zaman edan, akan terasa sulit dan bimbang dalam bertindak dan bernalar. Ikut gila tidak tertahankan, tetapi jika tidak ikut tidak akan mendapat bagian rezeki dan akhirnya kelaparan. Tetapi sudah menjadi kehendak Allah, semujur-mujumya (orang) yang lupa (kepada Tuhan), masih lebih mujur (orang) yang ingat (Tuhan) dan waspada."

Ramalannya tentang masa Kalabendhu banyak dipercaya orang, khususnya bagi masyarakat Jawa. Dalam sebuah puisi sebelas bait yang berjudul "Kalabendhu" dia menuliskan renungannya tentang situasi "sosio-politik dan kebudayaan" pada zamannya. Sajak ini bagi sebagian orang bahkan dianggap meramalkan situasi kekacauan atau kalabendbu yang kelak akan menimpa Indonesia. Seorang dalang Jawa terkenal, Ki Manteb Sudarsono, mengatakan bahwa sajak "Kalabendhu" memuat apa yang disebut "suryo sengkolo" atau sandi tahun matahari, yang menggambarkan kapan situasi Kalabendbu itu akan terjadi. Kalabendbu atau Zaman Kutukan konon dimulai dari tahun Pandito Ambuko Wiwaraning Naroko (Pendeta Membuka Pintu Neraka) dan berakhir pada tahun Janmo Muluk Simo Kadulu (Manusia Terbang Hilang dari Pandangan). Menurut sang dalang, sebagaimana disampaikan Rendra (1999), pendeta adalah sandi angka 7, membuka adalah 9, pintu adalah 9, dan neraka adalah 1. Berdasarkan tradisi tahun penulisan tahun Jawa yang dibaca dari belakang, sandi itu merujuk ke tahun 1997 Masehi sebagai tahun permulaan Zaman Kutukan. Sementara batas akhirnya adalah Manusia (1), Terbang (0), Hilang (0) dan Pandangan (2), atau tahun 2001 Masehi. Entah itu kebetulan atau memang ramalannya ampuh, tahun-tahun itu mengingatkan kita pada masa-masa krisis nasional yang dimulai sejak pertengahan 1997 yang ditandai oleh kekacauan yang berdarah-darah. Terlepas dari validitas dan pro-kontra ramalan itu, banyak syair Ronggowarsito hingga kini masih dipercaya mengandung ramalan masa depan yang akurat —bahkan konon dia pernah meramalkan tanggal kematiannya sendiri meialui salah satu sajaknya dalam kitab Sabdajati.

R. Ngabehi Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada 1728 Jawa (14 Maret 1802 Masehi), putra dari RM Ngabehi Pajangswara, seorang carik di Kadipaten Anom. Ibunya, Raden Ayu Pajangswara, seorang keturunan kesembilan dari Sultan Trenggono yang pernah bertakhta di Kerajaan Demak. Kakeknya, RT Sastronagoro (atau Raden Ngabehi Yasadipura II), seorang sastrawan, terkenal dengan karyanya seperti Sasana Sunu, Dasanama Jarwa dan Wicara Keras. Kakeknya pula yang pertama kali menemukan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal.

Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirim Bagus Burham, yang saat itu berusia 12 tahun, untuk nyantri ke Pesantren Gebang Tinatardi Ponorogo asuhan Kiai Kasan Besari sejak 1813. Sebagai putra bangsawan, Burham memunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo yang juga guru mistiknya. Karena kebiasaannya berjudi, Bagus Burham kehilangan semua bekalnya hanya dalam tempo setahun. Bersama abdinya, dia pergi meninggalkan pesantren dan berjualan. Belakangan dia kemudian kembali ke pesantren Kiai Besari. Namun, kenakalannya tidak kunjung mereda sampai akhirnya dia mendapat marah besar dari gurunya. Sejak itu. Bagus Burham mulai sadar, dan belajar dengan cepat —kecepatannya dalam belajar membuat guru dan teman-temannya sangat heran. Setelah keluar dari pesantren, dia dididik oleh kakeknya sendiri, dan darinya dia mendapat dasar-dasar pengetahuan kesusastraan Jawa. Dia kemudian diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata untuk mempelajari ilmu "Jawa-kawijayan" (ilmu kebatinan, Kejawen, serta ilmu kanuragan dan kesaktian untuk menolak kejahatan).

Merigingat luasnya pengetahuan Bagus Burham, pada Oktober 1818 Raja Surakarta Sri Pakubuwono IV berkenan mengangkatnya menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom dengan gelar Rangga Pujangga Anom atau Rangga Panjanganom. Pada tahun ini pula dia menikah dengan Raden Ajeng Gombak.

Dia kemudian berguru ke Surabaya dan Bali, yakni kepada Kiai Tunggulwulung di Ngadiluwih, dan Kiai Ajar Wirakanta dan Kiai Ajar Sidalaku di Tabanan. Sekembalinya ke Surakarta, pada 1822 dia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas Ngabehi Sarataka. Pada periode inilah Bagus Burham mulai menyusun buku pertamanya, Jayengbaya, yang memuat kisah tokoh Jayengbaya, seorang pengangguran yang konyol dan selalu berkhayal tentang pekerjaan. Ceritanya disusun dalam bentuk tembang Asmaradana sebanyak 250 bait.

Pada November 1821, Bagus Burham menikah dengan Raden Ajeng Gombak, putri Bupati Kediri Cakra Adiningrat. Dari pemikahan ini, dia dikaruniai enam anak. Ketika pecah Perang Diponegoro (1825-1830), dia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ronggowarsito. Pada masa ini, dia sudah menjadi guru dan banyak siswanya yang berasal dari negeri asing, seperti CF Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan sebagainya. Ronggowarsito juga bersahabat karib dengan Sri Mangkunegoro IV, raja dan sastrawan besar yang terkenal berkat karya seperti Serat Wedhatama dan Tripama. Bersama CF Winter Ronggowarsito membantu menyusun kitab Paramasatra Jawi. Winter pernah menawari Ronggowarsito untuk menjadi guru besar sastra Jawa di Belanda dengan gaji 1.000 gulden setiap bulan, tetapi ditolaknya. Ronggowarsito juga menjadi redaktur majalah Bramariani (Juru Martani) yang didirikannya bersama J. Portier. Setelah RT Sastranagara meninggal pada 21 April 1844, Ronggowarsito diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat pada 1845. Pada 1852, Raden Ajeng Gombak meninggal dunia. Ronggowarsito kemudian menikah lagi dengan RMP Jayengmarjana, Mas Ajeng Pujadewata dan Mas Ajeng Maradewata.

Ronggowarsito meninggal dunia pada 24 Desember 1873 dan dimakamkan di Palar, Klaten. Sepanjang hidupnya, Ronggowarsito mengabdi kepada enam raja, yakni Paku Buwono IV (1788-1820), Paku Buwono V (1820-1823), Paku Buwono VI (1823-1830), Paku Buwono VII (1830-1858), Paku Buwono VIII (1858-1862), dan Paku Buwono IX (1862-1893). Pada 11 November 1953, Pemerintah Republik Indonesia memberi tanda penghargaan kepadanya dengan membuat tugu patung Ronggowarsito yang diresmikan di Perpustakaan Radyapustaka Sri Wedari Surakarta oleh Presiden Soekarno.

Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang mampu menuangkan suara zamannya dalam serat-serat yang ditulisnya. Baik jumlah keseluruhan dari karya-karyanya sendiri maupun karya sadurannya belum diketahui dan masih dalam penelitian. Namun, dalam Pameran Buku Ronggowarsito yang diadakan pada November 1953 ditampilkan sebanyak 47 buku karyanya yang berbentuk tembang (sajak) dan gancaran (prosa).

Sebagai seorang inteiektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang di antaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, yang memuat ajawan tentang "manunggaling kawula-gusti" dan konsep Martabat Tujuh yang dijadikan sebagai dasar pemikiran untuk menjelaskan ajaran tentang Tuhan, asal usul kejadian manusia dan pertumbuhan janin dalam kandungan, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan Ronggowarsito dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang dan Serat Sabda Jati. Karya lainnya yang terkenal adalah Pustaka Raja Purwa, berisi kisah para dewa dan lakon-lakon wayang; Sabdatama, berisi ramalan tentang sifat zaman makmur dan tingkah manusia yang tamak; Serat Cemporet, sebuah roman-liris yang banyak dipuji gaya bahasanya yang indah; Kitab Parama Yoga yang berisi kisah unik tentang asal usul manusia; Wedharaga; dan sebagainya. Belakangan terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli tentang karya asli Ronggowarsito. Sebagian kalangan menganggap bahwa Ronggowarsito tidak menulis sendiri karya-karyanya itu, tetapi ditulis bersama orang lain. Belakangan karya-karya Ronggowarsito yang menggunakan huruf tradisional Jawa mulai diterjemahkan ke huruf latin dan ke dalam bahasa lainnya. Salah seorang perintis penerjemahan itu adalah Ki Karkono Kamajaya Partokusumo.

Tri Wibowo BS, editor dan penerjemah freelance, sekarang penunggu Rumah Pustaka Yogyakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004

10.41
thumbnail

Gramedia Penerbitan 30 Tahun: Buku sebagai "Cultural Products"

Posted by Cinta Buku on 15 November 2017

Manufaktur Minuman Berkhasiat
Pada 30 April 2004, dalam rangka merayakan HUT Gramedia Penerbitan ke-30, berlangsung Gramedia Bookfair di Medan, Sumatra Utara. Pada waktu acara jumpa pers di sebuah Rumah Makan Padang, wartawan dari media massa mengajukan pertanyaan kepada saya, mengapa Gramedia memilih Medan sebagai lokasi pertama untuk Gramedia Bookfair 2004? Medan sudah memiliki tradisi "reading habit" sejak Pemerintahan Hindia Belanda. Dari Medan mengalir dan tersebar luas ke seluruh Nusantara, bukan saja economic products melainkan cultural products, yakni karya kreatif para pengarang yang dibesarkan di Medan. Dunia penerbitan buku dengan support-cultural dari Medan, kini sudah mencapai tingkat kemampuan berbisnis dan berniaga sampai taraf industri buku. Bookfair yang diselenggarakan menjadi atau menjalankan fungsi seperti seismograf menunjang kerja ilmu fisika bumi (geofisika), mengukur kehidupan energi bumi dengan getaran gempa buminya. Pameran buku berfungsi sebagai seismograf energi kebudayaan, yang mengukur gempa kebudayaan.

Gempa selalu mendatangkan "kehebohan, keseruan, kepanikan, dan kreativitas mencari keselamatan kehidupan dari ancaman kehidupan", Seismograf yang memperlihatkan apakah kehidupan masyarakat kita masih pada tahap chaos atau sudah dikelola model law and order. Faktor atau sumber energi sosial mana yang menjadi pegangan utama dalam memberdayakan dinamika kehidupan masyarakat agar iebih berkualitas? Singkatnya, buku seperti apa yang memberi kontribusi nyata untuk proses transformasi kehidupan masyarakat, biarpun kontribusi itu sangat terbatas, tetapi sudah menjadi partisipasi dunia penerbitan di dalam mewujudkan sebuah strategi kebudayaan untuk mendorong transformasi masyarakat menuju Indonesia Baru?

Ada dua kasus yang terjadi dalam tahun 2004: penerbitan buku (termasuk Gramedia Penerbitan dengan sekian banyak penerbitan bukunya) memperlihatkan peranan buku dengan transformasi masyarakat menuju Indonesia Baru. Kasus pertama, kata sambutan Presiden Direktur KKG, Jakob Oetomo, yang diwakili oleh Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab harian Kompas, Suryopratomo, membuka Gramedia Bookfair di Medan. Pameran buku dihubungkan dengan gejala kontemporer tentang cultural matter untuk transformasi sosial sebuah masyarakat. Ada beberapa negara di muka bumi ini yang disebut oleh Suryopratomo yang mengisahkan succes story dan failed story menjadi negara yang sukses atau negara yang gagal. Negara yang memiliki succes story, antara lain Jepang, Korea, Taiwan. Sementara negara yang failed story antara lain Kenya di Afrika dan Indonesia di Asia. Tahun 1945 sesudah Perang Dunia II, semua negara yang disebut di atas sama-sama berada di garis belakang dalam proses maraton internasional, proses konkurensi internasional hadapi negara-negara pemenang perang, seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat dan Australia. Pertanyaan yang diajukan Pemimpin Redaksi Kompas kepada hadirin, kepada Wakil Gubemur Sumatra Utara Pardade adalah mengapa dalam proses konkurensi dan maraton internasional itu, Korea, Jepang, Taiwan sudah bergerak meninggalkan posisi Kenya dan Indonesia? Faktor apakah yang menjadi dinamika kebudayaannya sehingga terjadi perbedaan kemajuan yang mencolok antara negara-negara yang sama-sama start, tetapi berbeda di dalam akselerasi kebudayaan dan peradabannya? Jawaban yang disampaikan dalam kata sambutan Gramedia Bookfair Medan itu adalah strategi kebudayaan yang berorientasi kepada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan reading habit. Negara yang secara terencana dan tersistematis membangun negara dan bangsanya melalui gerakan pendidikan massal dengan sikap ilmiah, rasional, kritis, dan rajin membaca apa saja dan di mana saja ternyata maju dengan pesat. Sebaliknya, negara seperti Indonesia dengan kelemahan mencolok di dalam gerakan pendidikan nasional yang setengah hati, atau tidak berminat kuat terhadap pengembangan sikap ilmiah dengan ukuran pada reading habit ternyata tetap terbelakang.

Kasus kedua, yang terjadi secara "diam-diam", tidak segera memamerkan diri untuk memberi warna dan karakter lain di dalam gerakan pendidikan massal adalah prakarsa dari asosiasi di dalam masyarakat perbukuan untuk merintis Sekretariat Dewan Buku Nasional (National Book Council) atas inspirasi dan mediasi dari rekomendasi UNESCO untuk gerakan kebudayaan internasional membebaskan manusia dari hambatan perdamaian dan keadilan di muka bumi. Transformasi masyarakat diukur dari nilai-nilai sosial, yakni perdamaian dan keadilan, justice and peace. Nilai-nilai sosial itu mendapat instrumen yang efektif dan efisien dalam penguasaan ilmu pengetahuan, kesenian atau kebudayaan dalam arti sederhana dan tidak serumit pikiran para ahli kebudayaan di lingkungan akademis. Salah satu misi dari Dewan Buku Nasional adalah merintis sebuah clearing house dalam jaringan clearing house dunia perniagaan dan industri nasional, yang sama-sama memperjuangkan eksistensi komoditas minuman dan kebutuhan pokok (basic needs) untuk kemajuan industri nasional. Melalui ratifikasi Undang-Undang Industri Nasional, masyarakat perbukuan yang mengidentikkan dirinya sama seperti Kadin (Kamar Dagang Indonesia) melihat dirinya dengan orientasi profit, memperjuangkan agar buku diperlakukan oleh masyarakat industri dan niaga sebagai bagian dari paket minuman sehat, jenis khas, berkhasiat yang paling berharga. Prinsip persaingan sehat yang berlaku di dalam dunia niaga dan industri juga berlaku dalam industri buku. Departemen Perdagangan dan Industri sama pentingnya di dalam pengembangan industri buku seperti Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, atau Departemen Dalam Negeri di dalam memajukan dunia buku sebagai minuman bagi masyarakat dengan gerakan rekonsiliasi. reformasi dan transformasi nasional.

Dua kasus di atas, yakni Gramedia Bookfair di Medan dan perintisan Sekretariat DBN, yang untuk sementara berkantor di Pusat Kurikulum dan Pusat Perbukuan Depdiknas adalah gugatan kebudayaan terhadap gerakan pendidikan massal di Tanah Air, yang cenderung lebih memperhatikan gerakan ketakwaan, religiositas daripada gerakan kultural berciri ilmiah, rasional dan kritis. Akar dari kemunduran, dekadensi moral bangsa sehingga dalam konkurensi internasional Indonesia berada di kloter tengah belakang, biarpun semua sama-sama dari titik nol tahun 1945.

Dari Manufaktur Minuman Menuju Transformasi
Dua kasus di atas, yang melihat buku dengan prioritas pada gerakan budaya bersikap ilmiah, rasional dan bekerja keras untuk berada di garis depan seperti semangat bangsa Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Gramedia Penerbitan menggugat dirinya ke depan untuk berpolitik kebudayaan. Karena tindakan penerbitan dengan segala tali-temali dan multiplying effect-nya merupakan tindakan kultural dengan cultural products-nya, yakni buku. Refleksi tentang transformasi menuju kebudayaan rasional, ilmiah dan berjiwa kemandirian, juga terhadap ketergantungan yang tidak sehat kepada birokrasi negara, saya sampaikan di sini dengan serantai cerita kecil, yang menjadi pengalaman saya pada bulan-bulan terakhir terlibat di dalam perayaan Gramedia 30 Tahun.

Cerita kecil yang saya sampaikan ini merupakan kesaksian pribadi (testimonium personal) atas beberapa peristiwa perbukuan, yang saya alami ketika diwawancarai pada acara Pustaka-Pustaka Radio Jakarta News FM; ketika saya diundang oleh manajemen GPU (Gramedia Pustaka Utama) menyaksikan upacara peringatan GPU 30 Tahun; ketika saya berada di tengah kesibukan Gramedia Fair di Medan. Saya ingin kaitkan kesaksian ini dengan sebuah proses transformasi kultural, yang berkaitan dengan kesibukan bekerja dengan sebuah misi transformasi, Menuju Indonesia Baru. Biarpun pekerjaan itu dilakukan—meminjam budaya perang total dari kebudayaan Cina, dari sebuah puncak bukit rendah, tetapi di sana "ada dewa"—ada kepemimpinan berpartisipasi di dalam perang total hadapi musuh-musuh kehidupan yang berkualitas. Transformasi kebudayaan sudah terjadi ketika saya menyaksikan bagaimana kerja diam-diam (tidak vokal, tetapi terbuka mendengar semuanya) yang dilakukan oleh Gramedia Penerbitan selama 30 tahun, ada panennya. Kalau ada panen selalu muncul perasaan religius (syukur kepada Tuhan), perasaan bermanfaat (usefull), perasaan menaruh harapan kepada generasi muda (generasi dengan taburan pelbagai talenta), perasaan tumbuhnya kemandirian ketika birokrasi membatasi intervensinya (kasus DBN) untuk membuka ruang lebih luas untuk dinamika perusahaan swasta.

Ketika berada di studio siaran Radio Jakarta News FM di bilangan Pondok Indah dengan lokasi yang memancarkan kebudayaan global dari civil society global, saya berdampingan dengan Priyo Utomo, Direktur Eksekutuf GPU sekarang. Saya seperti seorang petani tua yang sudah menanam pohon berusia panjang untuk mencari nafkah dan mengumpulkan kekayaan untuk solusi kehidupan miskin para petani. Sawah yang saya garap puluhan tahun, kini saya tuai dengan penuh syukur. Sudah ada petani muda yang harus meneruskan penggarapan sawah agar kualitas hidup tetap mengalami proses transendensi dan bukan dekandensi moral. Petani muda malahan sudah berani "menggurui petani tua" dengan perkembangan terbaru yang sudah terialu sulit diikuti petani tua karena berbeda zaman.

Saya lebih terharu dan bersyukur ketika telepon dari pendengar siaran di seantero kota metropolitan Jakarta dari generasi tua sampai generasi muda; yang mengakui dan menunjukkan kepercayaan (trust) kepada Gramedia Penerbitan, bahwa mereka yang kini dijuluki generasi high-tech, generasi infotech, pernah disentuh dan diinspirasi oleh berbagai cultural products yang didistribusikan oleh manufaktur cultural products Gramedia. Fajrul Rachman, host siaran Jakarta News FM mengakui bahwa perkembangan intelektualitasnya sehingga menjadi kritis dan rasional sekarang tidak lepas dari seri filsafat kontemporer dari Gramedia Penerbitan tahun 1980-an. Saya dengan tim senior Gramedia Penerbitan, yang semakin jarang hadir di Palmerah dan akan menghilang ditelan usia tidak lama lagi merasa sudah mengisi kemerdekaan pembawa buku Gramedia, sebagai bagian dari kehidupan warga negara bangsa Indonesia.

Lain lagi perasaan syukur saya ketika menghadiri acara HUT GPU di lantai V Kantor Pusat KKG di Palmerah Jakarta. Terlihat terjadi transformasi sosial. Ketika tampil di panggung, editor-editor GPU yang mayoritas wanita, generasi Kartini abad ke-21, berwajah cantik memesona, cerdas akal-budinya telah meningkat kapasitasnya sebagai editor-editor kreatif. Mereka mengedit begitu banyak naskah untuk terbit setiap bulan (sekitar 30 persen dari kapasitas produksi judul baru nasional dikerjakan oleh generasi muda editor Gramedia Penerbitan). Terbukti juga giat di dalam mengembangkan gerakan kesusastraan Indonesia kontemporer, dengan berani menerbitkan cerpen-cerpen terpilih di dalam sebuah bunga rampai. Ada kaderisasi yang berhasil demi pengembangan tradisi buku berciri narasif, deskriptif, ilmiah, rasional, dan kritis. Wajah cantik, estetis, cerdas berbahasa dan bernyanyi, tidak malu tampil di muka umum, membawa produk hasil karya akal-budinya sendiri menimbulkan sugesti baru perasaan lega ketika saya meninggalkan ruang upacara, seperti isyarat memasuki dunia pensiun dengan perasaan bebas dari post power syndrom, karena yang ditinggalkan dalam kondisi under cultural control.

Kaderisasi tidak saja di bagian redaksi dan produksi. Kaderisasi lebih menarik saya ketika bergaul lebih dekat dengan kolega departemen bisnis trade kelompok pengukur jalan, manusia Gramedia produk luar meja, bukan di belakang meja kantor. Perasaan saya lega ketika pada persiapan menjelang Gramedia Bookfair di Medan, dengan uji coba manajemen partisipasi di tingkat madya, ciri khas kepemimpinan Jakob Oetama yang berasal dari kebudayaan Jawa, mengombinasi kepemimpinan otokratis, raja-raja Jawa dan kepemimpinan demokratis pemuka-pemuka Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan visi open society, kami sama-sama bergandengan tangan pada acara briefing menjelang pameran dengan aklamasi kolektifnya: Gramedia-Yes.

Frars H. Parera, Pemimpin Umum Majalah Mata Baca
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.11/Juli 2004
16.30