Buku Adalah Jembatan? Belajar dari Frankfurt Book Fair

Tema pameran buku internasional di Frankfurt (Frankfurt Book Fair) tahun ini adalah “Bridges for a World Divided”, Jembatan untuk Dunia yang Tercerai-berai. Pertanyaannya, apakah “pesta buku” terbesar setiap tahun itu, tahun ini berlangsung tanggal 9-14 Oktober, mampu jadi jembatan? Tema itu sekadar utopia? Atau mengapa dan bagaimana buku bisa berfungsi sebagai jembatan?

Tiga pertanyaan itu muncul di saat saya keluar-masuk sembilan bangsal pameran. Setiap bangsal luasnya sekitar 5.000 meter persegi terletak di atas tanah seluas 9 hektar. Spontan terpikir, bisnis buku seperti halnya koran adalah bisnis informasi bisnis kata-kata. Kata-kata adalah sarana komunikasi. Berkomunikasi artinya berhubungan, analog dengan jembatan sebagai penghubung antara dua wilayah. Secara sederhana, buku adalah jembatan.

Dalam konteks Indonesia sekarang pun, tema itu aktual. Indonesia yang tercerai-berai butuh jembatan, Buku menjadi metafor jembatan, sarana bertemu, sarana perdamaian, Catatan singkat berikut ini tidak ingin memperdalam tema pameran. Melainkan sekadar reportase. Tujuannya adalah bahwa apa yang terjadi setiap tahun di Frankfurt itu, bahkan juga pameran-pameran yang sering dan rutin terjadi di berbagai negara, dapat menjadi bahan pelajaran. Indonesia dengan segala ketertinggalannya, apalagi sekarang, perlu belajar dari negara maju, tentu bukan belajar cara menikmati kemakmurannya, seperti misalnya yang terjadi dengan perpanjangan libur nasional. Keluar masuk gerai, bertemu dengan beberapa penerbit, mencoba berlagak sebagai “pemulung hak cipta”, saya punya kesan Jerman memperoleh keuntungan luar biasa. Pameran tahun ini diikuti 6.000 penerbit lebih, berasal dari 110 negara. Sepertiga di antaranya berasal dari Jerman. Kalau setiap penerbit membawa serta 10 awak, sudah ada 40.000 pengunjung luar Jerman. Warga kota Frankfurt am Main tahu benar kesempatan ini.

Di mana-mana terpasang spanduk selamat datang. Ke kawasan lokasi pameran disediakan kereta api khusus dengan stasiun yang lokasinya berada di arena pameran.

Yang diuntungkan bukan hanya pemerintah dan para penerbit buku, tetapi juga masyarakat Frankfurt. Di mana-mana ada kafe yang menyediakan makan siang maupun penghilang haus. panas maupun dingin. Penjaga gerai dan pengunjung yang konon jumlahnya sekitar 300.000 selama pameran berlangsung berada di lokasi itu sejak pukul 09.00 sampai pukul 17.00. Jadi praktis kafe-kafe itu selalu penuh, bahkan pada jam-jam makan siang perlu antre. Di berbagai sudut lokasi pameran, para pedagang kaki lima menggelar dagangan. Segala barang dijual di sana, termasuk yang tak ada kaitan dengan buku, baju bekas misalnya.

Pesta buku internasional yang selalu diselenggarakan pada bulan Oktober itu mendatangkan keuntungan berlipat, bukan hanya dari segi materi tetapi juga prestise. Frankfurt am Main yang selama ini dikenal sebagai kota perdagangan identik dengan pameran buku.

Padahal setiap tahun bukan hanya pameran buku, tetapi di lokasi yang sama setiap kali terselenggara pameran berbagai macam produk industri.

Jual-beli hak cipta memang tujuan utama. Tetapi kini setelah memasuki serial ke-54, apa pun yang berkaitan dengan industri buku dipamerkan di sana. Maka ada tiga bangsal ditempati pameran produk mesin cetak dengan segala ikutannya. Tak semua pengunjung adalah pemburu atau pemulung hak cipta. Melainkan juga para pengarang, ilustrator, peminat buku, dan pengusaha percetakan, bahkan juga pengusaha mesin cetak. Bukan hanya itu, di sana pun digelar pameran industri komputer, industri tinta, juga pengembang mesin tanpa kertas. Untuk mereka yang ingin memperdailm persoalan-persolan aktual internasional, terselenggara pula seminar-seminar di salah satu bangsal yang selalu terisi dengan acara dan dikunjungi banyak peminat.

Peristiwa 11 September di AS berdampak di sana. Peserta tahun ini turun 4 persen dibanding tahun lalu. Bahkan dibanding dua tahun sebelumnya, keramaian kali ini masih kalah. Diperkirakan target 300.000 tak tercapai, isu terorisme membuat orang takut. Takut untuk datang ke Frankfurt, takut akan aksi terorisme di tengah keramaian pameran.

Bom Bali yang menewaskan 180 orang lebih itu, yang terjadi berbarengan dengan saat pameran berlangsung, sempat membuat kaget. Peristiwa itu, ditambah dengan analisis koran-koran Jerman, sebentar membuat pengunjung mengalihkan perhatian. Tetapi sehari sesudahnya, tema dan topik pembicaraan pun kembali ke soal buku, soal tawar-menawar hak cipta, soal antre makan siang, dan soal kecanggihan Jerman mengemas pameran.

Memperhatikan judul-judul dan topik yang dibukukan, terlihat masalah terorisme sebagai mainstream persoalan internasional, Saya temukan paling tidak 10 judul buku berkaitan dengan terorisme, baik yang sudah terbit maupun akan terbit. Masalah terorisme dikupas dari segala segi, dalam bentuk bunga rampai, hasil penelitian, dan selalu dikaitkan dengan Al-Qaeda walaupun ada yang menukik lebih jauh bahwa semangat dan tindakan yang sama tidak terbatas pada salah satu agama atau golongan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, buku-buku anak, sejarah; dan kesehatan tetap dominan, Buku-buku anak sedemikian jauh dieksploitasi, sehingga nyaris sulit membedakan antara buku dan alat peraga. Buku-buku manajemen tampaknya mengurang dibanding tahun-tahun lalu ketika buku-buku manajemen membanjir dengan teori-teori baru dan spektakuler. Agama dan sejarah, termasuk buku-buku yang mengeksploitasi Hitler dan Perang Dunia II menjadi “bisnis inti” beberapa penerbit. Dari sekian agama di bumi, Islam dan Kristen terlihat dominan, terutama Islam yang ditampilkan oleh lebih dari 25 penerbit.

Buku-buku kesehatan tampaknya menurun. Itu terlihat sepintas dari brosur maupun buku-buku yang terpampang di semua bangsal, termasuk Jerman yang memakan tempat dua bangsal. Kalau dua tahun lalu di setiap bangsal bisa dijumpai buku-buku pengobatan alternative —terutama buku-buku dari Republik Rakyat Cina— tahun ini terlihat lebih sedikit. Mungkin buku-buku itu sudah diubah jadi obat-obat cina yang sekarang pun dicari orang Eropa.

Penerbit Indonesia hanya puas jadi penonton. Tiga penerbitan yang ikut —Kanisius, CSIS, BPK Gunung Mulia— perlu diberi penghargaan. Mereka punya nyali dan menangkap momentum ini sebaik-baiknya. Yang dipertimbangkan bukan sekadar faktor finansial tetapi prestise. Dulu di tahun 70-an memang sejumlah penerbit Indonesia ikut pameran, tetapi sejak 1977 keikutsertaan massal itu surut. Yang ikut sekadar satu atau dua penerbit, itu pun bukan kelompok penerbit papan atas. Sewa satu gerai terkecil ukuran 2 x 4 m sebesar Rp. 3,5 juta bukanlah alasan utama absennya penerbit-penerbit mapan. Alasan utama adalah sebagian besar dari buku-buku laris yang diterbitkan di Indonesia adalah buku terjemahan. Penerbit Indonesia masuk dalam kategori pemulung hak cipta. Dengan demikian masuk akal ikut pameran memang hanya buang uang, Tak pernah terpikir bahwa buku-buku karya pengarang dalam negeri pun ada yang sudah dialihbahasakan, seperti karya-karya Y.B. Mangunwijaya dan Pramoedya Ananta Toer, bukti kehadiran pengarang Indonesia di dunia internasional.

Terbitnya buku-buku naskah asli dalam negeri memang kait-mengait. Selain perkembangan ilmu-ilmu sosial Indonesia dikritik belum menghasilkan grand theories, kecilnya minat baca juga menjadi kendala. Tetapi bukan tidak mungkin dengan banyaknya judul buku yang terbit belakangan ini, diperoleh sejumlah buku yang pantas dipanggungkan di luar.

Penerbitan buku di Indonesia masih perlu berjalan jauh. Buku yang mempersatukan, tema pameran itu, memang amat relevan, Keadaan tercerai-berai —bukan hanya secara pembidangan ilmu, minat, dan ketertinggalan— bisa dipersatukan lewat buku. Sayang kita harus bertanya, kapankah Indonesia bukan hanya menjadi penonton dalam Frankfurt Book Fair, dan juga pameran-pameran sejenis yang lain? kapankah Indonesia menjadi peserta, dan aktif ambil bagian dalam berbagai momentum perbukuan internasional? Belajar dari kemajuan —konkretnya dunia buku— tidak ada kata terlambat!

St Sularto
Majalah Mata Baca Vol. 1 /No. 5/ Desember 2002

Syed M. Naquib Al-Attas: Menembus Langit, Menghunjam Bumi

Tokoh yang pemikiran dan karya-karyanya ditapak tilas dan dikritisi buku ini, bukan saja besar dalam dunia pemikiran, tapi sekaligus bertangan dingin melahirkan institusi pendidikan berkelas dunia; Profesor Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Almarhum Profesor Fazlur Rahman, guru pembimbing Nurcholish Madjid di Universitas Chicago, pernah berkomentar kepada penulis buku ini, "Ia adalah pemikir jenius yang dimiliki dunia Islam."

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, penulis buku yang juga sahabat Al-Attas, memulai buku ini dengan meletakkan persoalan pendidikan dalam konteks sejarah peradaban. Betapa mendasarnya soal pendidikan bagi dunia Islam, menurutnya, sudah disadari sejak gagalnya superioritas militer Khilafah Turki Utsmani (Ottoman) dalam upaya menduduki kota Wina, Austria, 1683.

Bagaimanapun, sejak zaman Romawi sampai sekarang, bidang militer dianggap cermin utama keunggulan sebuah peradaban. Di dalamnya bukan saja dapat terlihat pencapaian teknologi tercanggih, tapi juga bisa dibaca ketinggian disiplin manusia, kecerdasan, dan integritas kepribadian para jenderal dan prajuritnya. Sejak kegagalan Wina, kekalahan demi kekalahan --baik militer maupun diplomasi-- dialami oleh dunia Islam.

Sejak itu, para pemikir maupun pemimpin politik Islam memfokuskan perhatiannya pada pembangunan kembali reruntuhan peradaban. Dan itu diawali dari pendidikan. Kata saktinya adalah "modernisasi", yang kerap diartikan "westernisasi". Di dalamnya terkandung solidaritas kebangsaan, semangat inovasi, serta kebangkitan membongkar status quo.

Tren ini berlanjut pada pertengahan abad ke-20 ketika banyak bangsa Muslim merdeka dari penjajah Barat. Bangsa-bangsa baru ini menoleh pada pendidikan sebagai alat utama membangun kembali dirinya, meraih kemakmuran, dan ikut berperan serta dalam "zaman baru". Titik inilah yang dikritisi Al-Attas melalui Message to the Muslims (Risalah untuk Kaum Muslimin), yang diterbitkannya awal tahun 1973.

Menurutnya, kebanyakan pemimpin Muslim hanya memperhatikan dan bergantung pada sebab-sebab eksternal kemunduran umat Islam. Mereka berusaha memperbaiki keadaan dengan dua cara: membaratkan Islam melalui sistem pendidikan, atau, dalam kasus Kemal Attaturk, membuang jauh-jauh Islam dari bangsanya.

Bagi Al-Attas, kesimpulan dan langkah ini merupakan kesalahan. Menurutnya, persoalan pendidikan yang paling asas adalah konsep tentang ilmu (al-'ilm). Pendidikan sebagai wahana pengembangan, transfer dan penyebarluasan ilmu, tidak semata-mata bertujuan untuk kemakmuran sosial ekonomi dan politik, tetapi juga diarahkan pada tujuan spiritual.

Aspek pendidikan Islam sama kompleksnya dengan Islam itu sendiri. Dalam konsep Al-Attas pendidikan Islam harus jelas konsep-konsep metafisikanya, ilmunya, dan manusianya. Pendidikan bukan hanya menanamkan ilmu, tapi juga menanamkan adab yang meliputi ta'lim dan tarbiyah.

Tujuan pendidikan Islam bukan hanya menghasilkan warga negara yang baik dan terampil, berguna bagi negara, tapi menjadi manusia beradab. Individu-individu beradab akan melahirkan masyarakat beradab yang menghasilkan peradaban.

Karenanya, sebuah universitas harus menggambarkan manusia universal (insan kamil) dan bukan manusia sekuler. Inilah yang ditekankan Al-Attas sebagai metode tawhid. Gagasannya merupakan gambaran tentang eratnya hubungan antara ilmu dan amal. Kosep ini terwujud dengan berdirinya International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), pada 1988.

Wan Mohd Nor mengurai sistem pemikiran sahabatnya itu ke dalam tujuh bab: Pandangan Hidup Metafisikal; Ilmu Pengetahuan dan Mengetahui; Makna dan Tujuan Pendidikan; Gagasan dan Kenyataan Universitas Islam; Isi Kurikulum dan Metode Pendidikan; Islamisasi Pengetahuan Kontemporer: Dimensi Teoritis dan Kontribusi Praktis; serta yang terakhir, Respon terhadap Islamisasi Pengetahuan Kontemporer.

Buku ini berbeda dengan buku Saiyidain tentang pemikiran Iqbal yang dipetik dari prosa dan puisi pujangga besar Pakistan itu. Wan Mohd Nor menyelami 26 buku dan monolog serta sekitar 400 artikel dan makalah kuliah karya Naquib Al-Attas sepanjang hidupnya.

Dari karya pertamanya Rangkaian Ruba'iyat (Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia, 1959), hingga pidato ilmiah berjudul "The Corruption of Knowledge" di depan Kongres Agama-agama Dunia di Istambul, 1985. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke bahasa lain seperti Arab, Persia, Turki, Urdu, Malayalam, Indonesia, Prancis, Jerman, Russia, Bosnia, Jepang, Hindi, Korea, dan Albania.

Versi asli buku ini, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas: An Exposition on the Original Concept of Islamization --yang diterbitkan ISTAC pada 1998, mendapat liputan luas dalam jurnal-jurnal ilmiah di Malaysia, London, Kairo, India, Bosnia, Pakistan, dan Afrika Selatan.

Al-Attas sangat menghayati metafora konsep pohon, syajarah, dalam Al-Quran: dahannya menjulang ke langit dan akarnya menancap ke bumi. Konsep metafisikanya menempuh batas-batas supra-rasional yang melangit dan praktik-praktik kependidikannya mengakar kuat di bumi. Itulah yang disajikan Wan Mohd Nor.

Ironi Sang Jenius
"Saudara lihat ini," kata Profesor Wan Mohd Nor Wan Daud seraya menepuk kursi tamu dari kayu mahoni yang kokoh dengan motif ukiran yang indah, di ruang kerjanya. "Kalau ini dicuri lalu dijual ke luar negeri, saya masih bisa mengenalinya di mana pun ditemukan," ia menambahkan. Bukan karena ditempeli transmitter pelacak, tetapi karena desain ukirannya khas buah tangan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Lemari, rak, kusen pintu dan jendela, interior, ornamen, air mancur, tata letak bangunan, musala, bahkan taman di kampus International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), semua didesain sendiri oleh Naquib Al-Attas. Inspirasinya diambil dari semua negeri Muslim, terutama Maghribi, Kordoba, dan Melayu.

Kampus indah itu terletak di bukit permai Damansara, di tengah kota Kuala Lumpur yang supersibuk. Merasakan suasananya yang khusyuk dan berkarakter filosofis, kita seakan mulai berkenalan dengan sosok Naquib Al-Attas. Ia adalah perwira militer lulusan Sandhrust, Inggris, dan ikut bertempur melawan pemberontak komunis Malaysia. Al-Attas juga seorang pemikir, seniman, sekaligus arsitek bangunan yang teliti dan cekatan.

Lahir di Bogor, 5 September 1931, ia dibesarkan sebagai keturunan ulama Indonesia asal Hadramaut yang bersatu dengan keturunan bangsawan Johor, Melayu. Meskipun sangat kritis terhadap asas filsafat dan kebudayaan Barat, ia sendiri produk pendidikan Barat. Tingkat master di bidang Islamic Studies ditempuhnya di MacGill University, Montreal, dan tingkat S-3 ditempuhnya di SOAS (School of Oriental and African Studies), University of London.

Dalam hal ini, ia seperti melanjutkan kiprah pemikir besar Pakistan, Mohammad Iqbal. Penguasaannya terhadap kalam, falsafah, dan tasawuf menjadi rujukan internasional, terutama karya-karyanya tentang Nuruddin Al-Raniri dan Hamzah Fansuri.

Sejak awal 1988, Al-Attas bekerja keras membangun ISTAC, dibantu kawan-kawannya para pemikir dari lima benua, muslim dan non-muslim. "Framework ISTAC berdisiplin pada tradisi dan khazanah intelelektual Islam dengan intensitas tinggi menyelami persoalan Timur dan Barat, " kata Ugi Suharto, satu-satunya periset senior asal Indonesia. ISTAC tidak seperti pusat Islamic Studies sejenisnya di Montreal, Leiden, Chicago, London, Edinburgh, ataupun Cambridge yang didirikan pastor dan pendeta orientalis.

Sayangnya, ketika dunia mengakui Al-Attas dan ISTAC, justru di negerinya sendiri, Malaysia, ia tidak dihargai. Mula-mula kontraknya distop, walaupun profesor seusianya (72 tahun) masih boleh aktif di institusi lain. "Ia sangat sehat, masih mampu memberi kuliah dan memimpin," kata Hamid Fahmy Zarkasyi, kandidat doktor asal Indonesia.

Anugerah Ilmiah atas nama Abu Hamid al-Ghazzali yang disandangnya lebih dari lima tahun dihapus tanpa alasan jelas. Al-Attas kini dilarang mengajar dan membimbing tesis di institusi yang dibangunnya sendiri. Beasiswa untuk mahasiswa mancanegara diputus. ISTAC kini jadi fakultas di bawah Universitas Islam Antarbangsa, Malaysia.

Wisnu Pramudya, Pemimpin Redaksi Majalah Hidayatullah.
Majalah Gatra edisi 48 / IX / 18 Oktober 2003

Obituari H.B. Jassin (1917-2000)

Hans Bague Jassin bukanlah seorang paus sastra, melainkan seorang pencatat yang piawai. Juga seorang perawat sastra Indonesia yang telaten.

Seorang paus menahbiskan, memimpin hirarki, memerintah atas nama lembaga. Jassin tidak. Ada yang mengatakan bahwa lelaki yang cenderung pendiam ini (gamang bicara di depan umum) menahbiskan Chairil Anwar, juga sekian banyak angkatan sastra. Sesungguhnya ia cuma mengumumkan apa yang layak, yang wajar diterima oleh publik. Ketika tak seorang pun memperhatikan Chairil, Jassinlah yang berani mempertanggungjawabkan, menyurung ke depan publik, si penyair Medan itu. Jassin tajam membaca apa yang belum mampu dibaca zaman dan lingkungannya.

Namun, bila ia mengumumkan sejumlah angkatan sastra —dengan menerbitkan sekian bunga rampai— itu dilakukannya bukan terutama dengan pamrih seorang pembaptis, melainkan dengan ketekunan seorang pencatat yang bekerja sendirian dengan stamina yang mengagumkan. Ia tak putus-putus menjadi redaktur pelbagai majalah sastra dan budaya sejak 1940-an sampai ambang alaf ketiga ini: Poedjangga Baroe, Balai Pustaka, Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Seni, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetabuan, dan Horison. Hanya seorang Jassin yang bisa mengalami rentangan terpanjang sastra modern Indonesia di abad 20 ini: hidup di dalamnya, menyaksikan pasang surut dan pasang naik kaum penulis, tanpa memihak salah satu generasi. Angkatan sastra, bagi Jassin, pada dasarnya hanya pembagian, (dan bukan cerminan sebuah ide sastra), bagaikan rak-rak dalam dokumentasinya yang berimpit-impit itu.

Kritik sastra Jassin bukanlah kritik sastra yang lazim sebagaimana dipercayai kaum ilmuwan sastra, melainkan hasil catatannya sebagai redaktur majalah sastra: “pragmatis,” sebuah penilaian berdasarkan kepekaan dan akal sehat, barangkali untuk diperdebatkannya dengan redaktur lain, sebelum akhirnya diuarkan ke publik sastra. Inilah yang kita baca, misalnya dalam 4 jilid Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Memang Jassin tak selamanya tepat dan tajam. Banyak penulis cemerlang yang luput dari kuterianya. Sementara, pada usia larutnya, ia begitu toleran: semua karya bernilai di matanya.

Keteguhan lelaki kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917 ini pernah menghantarnya pada masa-masa sulit. Meski ia cuma menjalankan kehidupan sastra, ada saatnya kekuatan lain, entah itu bernama “Negara” atau “masyarakat,” yang menganggap sastra bukan sekadar sastra. Ia dikeluarkan dari Lembaga Bahasa Departemen P dan K dan Universitas Indonesia pada 1964 karena ikut meneken Manifes Kebudayaan. Ia dianggap “menghina Tuhan” karena menerbitkan cerpen Langit Makin Mendung pada 1968; dan ia dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Ia mengalami tekanan ketika menerbitkan Al-Quranul Karim Bacaan Mulia pada 1978.

Kontroversi semacam itu tak meredakan keteguhan Jassin. Lebih dari seorang redaktur yang tabah, ia juga pemburu dan penyimpan yang keras kepala. Di antara waktunya mengajar, membaca, menulis, dan menerjemahkan, Jassin, yang di puncak kesehatannya mengaku hanya tidur 4 jam sehari, membangun dokumentasinya sendiri. Ia bukan hanya menyimpan naskah asli, surat-surat penulis, buku dan majalah: ia berburu ke pasar loak, ke mana saja, juga membuat kliping sendirian. Hasilnya sebuah dokumentasi —raksasa untuk Sastra Indonesia— yang kian memenuhi rumahnya di Jalan Arimbi, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Dokumentasi itu kemudian dilembagakan, dibuka untuk publik, sebagai Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, di Taman Ismail Marzuki, berkat jasa Gubernur Ali Sadikin.

Tak akan sulit kita bersepakat bahwa Pusat Dokumentasi Sastra itulah karya Jassin yang terbesar. Siapa pun yang akan meneliti sastra Indonesia modern tidak mungkin mengabaikannya. Itulah kerja besar yang dilakukannya sejak awal 1940-an: dengan keringat sendiri, dengan kantung sendiri (juga dengan dukungan istrinya, Arsiti).

Keberadaan Pusat Dokumentasi Sastra menjadi begitu berharga ketika semua pihak hanya berseru-seru tentang pelestarian budaya dan pentingnya belajar dari sejarah, namun tak kunjung memelihara perpustakaan, museum, arsip dan lembaga dokumentasi lain dengan serius.

Jassin adalah sebuah subversi bagi kelaziman, bagi pengumuman. Sebuah teladan yang tak pernah lekang: ternyata orang seoranglah yang merawat khazanah sastra Indonesia, sementara di seberangnya, negara yang mestinya punya tanggung jawab untuk itu justru berlaku filistin sekalipun mengaku “mencerdaskan bangsa”.
Kita semua berduka cita atas berpulangnya H.B. Jassin pada 11 Maret 2000 ke hadapan Allah.

Jurnal Kalam No. 15 tahun 2000

Pesona Toko Buku dan Penyebarannya

Dalam buku A Guide to Book Publishing (University of Washington Press, 1986), Datus C. Smith, Jr. mengungkapkan bahwa di dalam setiap negara yang telah maju atau pun yang sedang berkembang, industri buku merupakan industri kecil, jika dipandang dari segi keuangan. Namun, seperti tombol kecil dapat menggerakkan dan mengendalikan mesin raksasa, atau peralatan listrik dapat menyalurkan tenaga listrik ke daerah-daerah yang jauh, begitu pula penerbitan buku (industri buku) merupakan sebuah “kunci”. Kunci bagi perkembangan pendidikan, sosial dan ekonomi serta pembangunan bangsa dan negara yang sesungguhnya.

Dalam hal ini, salah satu support system industri perbukuan yang mempunyai peranan sangat penting adalah toko buku. Toko buku merupakan saluran distribusi yang paling umum digunakan oleh para penerbit dalam mendistribusikan produk-produknya agar mudah dijangkau konsumen. Bahkan, toko buku menjadi ujung tombak dan pendukung utama pemasaran setiap penerbit. Memang, saat ini banyak penerbit yang melakukan penjualan buku secara langsung kepada konsumen. Biasanya, hal ini dilakukan dengan cara mengikuti pameran atau pesta buku yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) atau lembaga-lembaga lainnya. Selain itu, ada juga penerbit yang mengadakan pameran atau pesta buku sendiri. Para penerbit buku sekolah bahkan melakukan penjualan langsung ke sekolah-sekolah.

Namun, berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada pengunjung Jakarta Book Fair 2002, mayoritas responden membeli buku di toko buku (85,8%), sedangkan sisanya membeli buku di pameran atau pesta buku (11,2%), di tempat-tempat penjualan buku murah, seperti di kawasan Senen, Kwitang, dan Jatinegara (19%), dan di tempat lainnya (0,6%).

Dengan demikian, salah satu kunci keberhasilan pendistribusian buku sangat ditentukan oleh penyebaran toko buku di seluruh wilayah Nusantara. Semakin banyak dan semakin merata kehadiran toko buku di setiap daerah, tentu akan sangat baik karena para konsumen bisa mendapatkan buku dengan mudah.

Berdasarkan hasil laporan mahasiswa Program Studi Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta mengenai toko buku, saat ini paling tidak ada tiga toko buku besar yang mempunyai cabang di beberapa kota besar di Tanah Air. Ketiga toko buku tersebut adalah Gunung Agung, Gramedia, dan Karisma.

Toko Buku Gunung Agung didirikan pada 8 September 1953 oleh Tjio Wie Tay yang kemudian lebih dikenal dengan nama Haji Masagung (alm.) bersama The Kie Hoat. Gunung Agung yang berawal dari sebuah toko buku kecil di kaki lima yang berlokasi di Jalan Kramat Bunder, Jakarta Pusat, saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi 32 toko yang tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa dan Bali. Dari 32 toko tersebut, 14 berada di Jakarta [Jakarta Pusat (5), Jakarta Selatan (3), Jakarta Barat (3), Jakarta Timur (2), dan Jakarta Utara (1)]; Bekasi (4); Depok (1); Tangerang (1); Bogor (2); Cirebon (1); Bandung (3); Semarang (1); Surabaya (2); Bali (3).

Gramedia merupakan nama yang tidak asing lagi dalam dunia perbukuan di Tanah Air. Demikian pula halnya dengan Toko Buku Gramedia. Toko buku ini dirintis oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama —yang juga pendiri Kelompok Kompas-Gramedia— pada 1970. Berawal dari sebuah toko buku kecil berukuran 25 meter persegi di Jalan Gajah Mada 104-107, Jakarta, kini Toko Buku Gramedia telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah toko buku besar dengan 48 cabang yang tersebar di beberapa kota besar di wilayah Nusantara. Gramedia memiliki visi dan misi yang mulia, yaitu turut mencerdaskan kehidupan bangsa, menuju masyarakat baru Indonesia yang berkehidupan Pancasila. Dari 48 cabang toko buku yang ada, 13 cabang berlokasi di Jakarta [Jakarta Pusat (4), Jakarta Selatan (2), Jakarta Utara (2), Jakarta Timur (1), dan Jakarta Barat (4); Bogor (2); Bekasi (1); Tangerang (3); Cirebon (1); Bandung (4); Semarang (2); Yogyakarta (2); Surabaya (3); Jember(1); Malang (2); Bali (2); Kupang (1); Bandar Lampung (1); Palembang (1); Padang (1); Pekanbaru (1); Batam (1); Medan (2): Balikpapan (1); Banjarmasin (1); Makassar (1); Manado(1).

Jika dibandingkan dengan dua toko buku sebelumnya, Toko Buku Kharisma bisa dibilang baru. Kendati baru berdiri sejak 14 November 1995, Toko Buku Kharisma berkembang dengan sangat pesat dan mampu bersaing dengan toko-toko buku besar yang hadir jauh lebih dulu. Toko buku ini didirikan oleh sekelompok orang yang dikepalai oleh dua orang doktor yang salah satunya bernama Dr. Lindon Saputra. Sekelompok orang tersebut mendirikan Toko Buku Karisma dengan modal bersama-sama. Pertama kali didirikan di Lippo Karawaci kemudian di Mal Puri Indah. Kini, Toko Buku Karisma mempunyai 28 cabang di beberapa kota di Indonesia: Jakarta (7), Depok (1), Bekasi (2), Tangerang (1), Bogor (1), Bandung (2), Semarang (1), Solo (1), Surabaya (2), Sidoarjo (1), Bali (1), Lombok(1), Batam (2), Palembang (1), Pontianak(1),  Makassar (2), dan Samarinda (1).

Berdasarkan data tersebut di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar toko buku berada di Jakarta dan Pulau Jawa. Masih ada beberapa provinsi yang sama sekali belum terjamah oleh ketiga toko buku besar tersebut. Masyarakat Aceh, Maluku dan Papua, sampai saat ini belum bisa memperoleh buku secara mudah. Mereka belum dapat merasakan sejuknya ruangan toko buku dan ramahnya pelayanan para pramuniaga yang kerap dinikmati oleh masyarakat lain.

Jika kita kembali pada ungkapan Datus Smith di atas, bukan hal yang tidak mungkin bahwa salah satu faktor penghambat perkembangan pendidikan, sosial, dan ekonomi serta pembangunan di daerah-daerah tersebut karena terbatasnya toko buku yang ada sehingga akses mereka terhadap buku dan sarana informasi lainnya sangat terbatas. Bagi para pelaku bisnis yang bergerak di sektor toko buku, kondisi tersebut jelas menggambarkan bahwa ada peluang pasar yang belum tergarap. Terlepas dari berbagai pertimbangan, seperti faktor keamanan dan daya beli masyarakat, bukankah mereka juga sebuah peluang pasar yang patut dipertimbangkan?

Melvi
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 5/Desember 2002

Profil Hernowo: Insinyur yang Jadi Penulis Motivator

Perawakannya sedang, penampilannya selalu menebar senyum dan ceria. Sebagai seorang sahabat, ia selalu enak diajak berdiskusi, tentang berbagai hal. Ketika perbincangan mengancik ke soal membaca dan menulis, pancaran energinya menggunung. Dia bisa fasih memberikan arahan dan motivasi tentang aktivitas membaca dan menulis tersebut. Dialah Hernowo, seorang insinyur lulusan teknik industri Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1986.

Sejak karyanya, Mengikat Makna: Kiat-kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan plus Kemampuan Membaca dan Menulis (2001), terbit, nama Hernowo menjadi perbincangan di dunia perbukuan. Buku ini memberi motivasi betapa seseorang punya potensi untuk bisa membaca secara efektif dan menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Ia menggugah kesadaran bahwa membaca dan menulis akan meningkatkan kualitas hidup seorang manusia. Bahkan, dengan membaca, menurut Hernowo, rohani kita akan mendapatkan "gizi" yang baik. Dalam dua tahun, buku ini dicetak ulang lima kali.

Dua tahun kemudian, awal 2003, buku keduanya terbit, dengan judul yang tak kalah menariknya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan "Word Smart", yang kini sudah cetakan kedua. Atas kedua buku tersebut, pengasuh acara "Menembus Batas" di sebuah stasiun televisi swasta, Nurcahyo Adi Kusumo, mengirim SMS kepada Hernowo, "Saya telah membaca buku Anda. Benar-benar menggairahkan dan mendatangkan inspirasi seperti buku Anda yang pertama. Semoga Anda terus berkarya."

Berkat bukunya itu, Hernowo kerap mendapat undangan dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Ia diminta memotivasi orang agar bergairah menggeluti aktivitas yang, oleh sebagian orang, dianggap hanya milik kalangan "elite" itu.

Hernowo lahir di kota Magelang, Jawa Tengah, 12 Juli 1957. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Tayib-Daimah itu mengenal komik sejak usia sekolah dasar. Petualangan Si Buta dari Goa Hantu, Jaka Sembung, dan Gundala Putra Petir adalah komik yang menjadi bacaan setianya.

Ketika duduk di SLTP, bacaannya beralih ke cerita silat karya Kho Ping Hoo. Kisah-kisah yang sudah melegenda di Tanah Air, seperti Api di Bukit Menoreh, Nagasasra dan Sabuk Inten, serta Bende Mataram, juga menjadi bacaannya. Menurut dia, membaca karya-karya tersebut sangat mengasyikkan. "Para penulis piawai menyusun ending cerita, sehingga para pembacanya terus-menerus dirangsang untuk menantikan episode berikutnya," tutur Hernowo.

Bakatnya menulis dalam bentuk bertutur ia mulai ketika awal menjadi mahasiswa di ITB, tahun 1976. Suasana menjadi mahasiswa baru itu ia kisahkan dalam lembaran-lembaran surat kepada ayahnya yang tinggal di Magelang. "Almarhum ayah saya sangat senang dan bangga dengan kemampuan saya berkisah," katanya, mengenang.

Karena itu, ketika pada 1984 ditawari Haidar Bagir untuk bergabung dengan Penerbit Mizan, ia menerima dengan senang hati. Haidar, seorang pendiri Mizan, adalah sahabat Hernowo di ITB. Bagi Hernowo, Mizan adalah sekolah yang memberi peluang kepadanya untuk bergulat dengan pelbagai sumber informasi. Dari sini ia lalu mengembangkan kecakapan membaca dan menulis yang dapat dipelajari dan dipraktekkan, lalu dibiasakan untuk dilakukan setiap hari.

Hernowo mengaku bahwa dirinya terpikat oleh ajaran seven habits-nya Stephen R. Covey. "Untuk menjadi pembaca tekun dan penulis andal, seseorag perlu membiasakan diri berlatih membaca dan menulis secara kontinu dan konsisten," ujarnya.

Pekerjaannya di Mizan itulah yang membuat Hernowo setiap hari tak alpa dari membaca buku. Kegemarannya membaca diteruskannya dengan menulis. Dia bukan hanya membaca huruf, melainkan benar-benar memahaminya. Dia tak hanya mengetahui kekuatan sebuah buku, melainkan juga untuk siapa buku itu ditujukan.

Di Mizan, Hernowo meniti karier sebagai karyawan bagian produksi, lalu menjadi kepala bagian dan manajer produksi. Pada 1993, jabatan general manager (GM) editorial diamanatkan kepadanya. Amanat itu dilakoninya sampai 1999. Usai memegang jabatan GM editorial, Hernowo mendirikan Penerbit Kaifa, masih di bawah payung Mizan, yang memosisikan diri menerbitkan buku-buku "how to".

Pada 2001, jabatan Direktur Pelatihan dan Litbang Penerbit Mizan diembannya. Di era ini, Hernowo mencari bentuk pengemasan dan penampilan buku yang lebih fenomenal dan cocok untuk membangkitkan mesin budaya baca di Indonesia yang berkaitan dengan bahasa kata.

Ia juga menyusun kurikulum untuk melatih para pekerja keredaksian di penerbitan buku yang ditujukan buat para penulis, penerjemah, dan penyunting. Ide mendirikan sekolah menulis yang dapat mengajarkan pelbagai teknik dan kreativitas serta pengalaman menulis para penulias sukses mulai dirancang.

Setahun kemudian, 2002, Hernowo mendirikan dan sekaligus menjadi CEO Mizan Learning Center. Buku-buku yang diterbitkan di sini coba ditampilkan secara lebih mudah dibaca. Meski beberapa buku menampilkan tema-tema serius, bahasa penyajiannya dikemas dalam bentuk bahasa obrolan. "Selain mampu memberdayakan para pembacanya, juga menggerakkan," kata Hernowo, bersemangat.

Lalu, pada awal 2003, Hernowo menjadi Koordinator Mizan Writing Society. Di sini, sekolah menulis menemukan bentuknya. Yakni dengan menggulirkan aktivitas Masyarakat Tulis Mizan dengan membuka Klinik Baca-Tulis. Klinik Baca-Tulis ini bisa hadir di berbagai acara, misalnya di pameran buku atau acara perbukuan lainnya. Di sini, Klinik Baca-Tulis mengundang para penulis terkenal, dan berdialog atau memberikan konsultasi kepada mereka yang membutuhkan.

Selain bekerja di Mizan, sejak 1997 Hernowo menjadi dosen ilmu digesting (mencerna buku) di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, Bandung. Tahun 1998, ia juga menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia (bidang keterampilan menulis) di SMU (Plus) Muthahhari, Bandung. Lalu, sepanjang 2000-2001, ia mulai menekuni pelatihan quantum learning dan quantum teaching dengan menekuni dunia pembelajaran, pelatih pembangkit motivasi, pelatih dalam hal menerbitkan buku, pelatih membaca dan menulis buku.

Selain Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, kini Hernowo menyiapkan tiga karya lagi: Tujuh Warisan Berharga: Wasiat Seorang Ayah kepada Putra-putrinya dengan Menggunakan Metode Peta Pikiran, Main-main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi, dan Catatan Harian Sebulan Ramadhan.

Adapun karya suntingannya ada tiga: Aa Gym dan Fenomena Daarut Tauhiid (bersama Deden Ridwan), Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Membaca, dan Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis.

Hernowo adalah sedikit orang Indonesia yang peduli menggerakkan dunia tulis-menulis di masyarakat yang masih didominasi aktivitas tontonan dan pendengaran. Di dunia sastra, misalnya, kita mengenal penyair Taufiq Ismail yang bergiat melalui majalah Horison.

Lalu, apa penyebab minimnya pelajar atau mahasiswa tertarik ke dunia tulis-menulis? Menurut Hernowo, hal itu karena sistem pendidikannya. Pertama, mereka yang membuat buku-buku teks tentang pelajaran bahasa Indonesia adalah orang-orang yang tidak kredibel. "Siapa sih yang mengenal pengarang dalam bidang bahasa Indonesia, misalnya?" tanyanya. Pengarang buku-buku bahasa Indonesia, masih kata Hernowo, adalah mereka yang tak punya karya lain yang bisa dinikmati pembaca secara luas.

Karena tak kredibelnya mereka yang menulis buku-buku teks bahasa Indonesia itu, bahasa yang digunakan pun tak mengalamai pengembangan. "Dua hal ini sangat menunjang tidak berkembangnya pengajaran bahasa Indonesia," katanya.

Hernowo mencoba membuat terobosan. Caranya, ia tak banyak berteori, tapi memberikan arahan dan langsung praktek. Ia memberikan resep-resep generik dan bermanfaat buat siapa saja. Kiat-kiatnya yang dikemas dengan bahasa yang cukup provokatif berhasil menggugah kesadaran manusia akan arti pentingnya dunia membaca dan menulis.

Hernowo tak berhenti sampai di situ. Suami Siti Rochana dan ayah empat anak ini akan terus berkarya. Resepnya hanya satu, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, "Hari ini harus lebih baik ketimbang kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini." Bagi Hernowo, hadis itu memberikan motivasi untuk terus memiliki motivasi diri: saya akan terus berkarya!

Herry Mohammad
Majalah Gatra edisi 46 / IX / 4 Oktober 2003

Mohammad Hatta dan Anak Rohaninya, Daulat Ra’jat

Menyambut peringatan 100 tahun kelahiran Mohammad Hatta pada tahun 2002, diterbitkan sejumlah buku yang mengenangkan proklamator asal Sumatera Barat ini. Di antara berbagai buku yang terbit, sangatlah menarik untuk memperhatikan secara khusus penerbitan koran Daulat Ra’jat dalam dua jilid, antara tahun 1931 hingga 1934.

Tulisan ini mencoba membahas penerbitan koran Daulat Ra’jat itu dalam dua sisi. Pertama, akan sedikit dibahas bagaimana sumbangan yang diberikan oleh penerbitan koran ini kepada pubiik hari ini dalam kerangka pemahaman tentang sejarah pers di Indonesia, terutama pada masa kolonial Belanda. Kedua, bahasan akan diberikan kepada sosok Hatta dan koran Daulat Ra’jat yang penulis sebut sebagai anak rohani seorang intelektual bernama Mohammad Hatta.

Sumbangan bagi Penulisan Sejarah Pers Indonesia
Menarik juga dalam 1-2 tahun belakangan ini muncul sejumlah buku yang memberikan bahan lebih banyak bagi pemahaman serta penulisan sejarah pers Indonesia. Ada buku yang khusus menyoroti tentang periklanan pada masa pemerintahan kolonial (Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial 1870-1915, Yogyakarta: Tarawang, 2000), lalu juga buku reportase seorang wartawan perintis pers Indonesia, Abdul Rivai (Student Indonesia di Eropa, Jakarta: Kepustakaan Populer-Gramedia, 2000), dan juga penerbitan kembali karya kolektif tim LIPI yaitu Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (Abdurrachman, Suryomihardjo ed., Jakarta: Penerbit Kompas, 2002, edisi pertama tahun 1980 diterbitkan oleh Leknas LIPI Bekerja sama dengan Litbang Departemen Penerangan). Masih ada beberapa buku lain juga sebenarnya; namun tiga ini sekadar menyebut yang terakhir muncul.

Penerbitan koran Daulat Ra’jat pada tahun ini perlu disambut gembira, karena penerbitan buku ini akan memberikan gambaran nyata kepada para pembaca tentang bagaimana isi koran pada zaman kolonial, terutama koran yang menunjukkan sikap oposisi kepada pemerintahan kolonial Belanda, sembari di sisi lain koran ini juga memberikan pendidikan politik kepada masyarakatnya. Arti penting penerbitan buku ini ialah memberikan bahan yang bisa langsung dibaca oleh peminatnya tentang koran yang dikeluarkan kurang lebih 70 tahun yang lalu.

Kalau bukan peminat sejarah ataupun peneliti khusus, agak sulit pembaca umum bisa menemui terbitan semacam ini. Biasanya pun para peminat sejarah atau para peneliti akan menemukan koran-koran tua seperti ini di Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, atau dalam arsip-arsip pribadi para tokoh sejarah. Dengan penerbitan ini, maka koran Daulat Ra’jat bisa dibaca oleh khalayak yang lebih luas dari sekadar para peminat sejarah dan peneliti. Dari situ pembaca pun bisa mempelajari apa saja yang telah ditulis oleh para jurnalis atau pun para tokoh pergerakan kala itu.

Sangat jarang ada sebuah koran diterbitkan kembali dalam bentuk buku sebagai bahan dokumentasi. Akan tetapi, koran Daulat Ra’jat memang layak untuk diterbitkan kembali sebagai buku karena nilai historis yang dimilikinya sangat besar. Koran ini berkaitan erat dengan usaha pendidikan politik bagi masyarakat dan mencerminkan gambaran kalangan pergerakan tahun 1920-30-an yang biasa menerbitkan koran sebagai organ kepentingan politiknya (baca: kemerdekaan Indonesia). Sekadar memberikan konteks terhadap kemunculan koran ini, penting juga untuk disebutkan bahwa meskipun ketika itu sedang bersekolah di Belanda sejak awal Hatta terlibat dalam pendirian Koran itu sebagai hasil persetujuannya dengan Soedjadi, seorang tokoh pergerakan dari kelompok Merdeka di Jakarta. Keterangan tentang koran ini dapat kita baca dari memoir yang ditulis Hatta sendiri dan artikel yang ditulis oleh JD Legge, “Daulat Ra’jat and the Ideas of The Pendidikan Nasional Indonesia”, pada jurnal Indonesia dari Cornell University (No. 32, Oktober 1981).

Kita bisa membayangkan bagaimana proses yang terjadi di balik pendirian koran ini, betapa ide yang demikian brilian telah dikemas sedemikian rupa dengan segala keterbatasan alat komunikasi dan transportasi yang menghubungkan negeri Belanda dan negeri jajahannya, Hindia Belanda, pada masa itu. Sayang tak ditulis dengan cukup jelas berapa lama waktu dibutuhkan untuk sebuah surat dari Belanda untuk bisa sampai ke negeri jajahan. Dalam catatan memoir Hatta disebutkan bahwa perjalanan yang ia tempuh dari Hindia Belanda menuju negeri Belanda membutuhkan waktu 1 bulan perjalanan laut. Bisa dibayangkan itulah waktu tersingkat yang diperlukan untuk sebuah surat —berisi tulisan yang akan dimuat dalam koran Daulat Ra’jat beserta curah gagasan lainnya— dari negeri Belanda untuk sampai di negeri Hindia Belanda.

Mereka-mereka yang terlibat dalam Daulat Ra’jat antara lain: Sjahrir, Soedjadi, Murad, Sjahruzah dan Teguh. Daulat Ra’jat didirikan pada bulan September 1931, sebagai organ dari Golongan Merdeka yang didirikan oleh sejumlah orang eks anggota PNI sebelum Soekarno ditahan. Pada bulan Desember 1931, Golongan Merdeka ini bergabung dengan sejumlah kelompok lain dalam PNI Baru. Sjahrir pulang dari Belanda pada akhir tahun 1931 dan mengambil alih pimpinan koran ini semenjak edisi awal tahun 1932. Hatta baru pulang bulan September 1932 dan kemudian segera menjadi pimpinan redaksi Daulat Ra’jat. Baik Hatta maupun Sjahrir menjadi tulang punggung intelektual dari —dalam istilah Legge— kelompok nasionalis sekuler, dan setelah itu dalam koran Daulat Ra’jat ini kita akan melihat berbagai statement dari keduanya menyangkut strategi dan taktik perjuangan yang mereka lakukan.

Penerbitan kembali Daulat Ra’jat ini menarikjuga bila kita perhatikan pada berbagai aspek fisiknya. Misalnya dari soal tipografi huruf yang dipakai, besarnya koran tersebut (format) —apakah ini merupakan format yang sesungguhnya atau telah diperkecil atau diperbesar, tak ada keterangan dalam pengantar penerbitan ini —juga susunan keredaksiannya— di masa awal ada keterangan yang agak jelas tentang pengurus koran ini, namun belakangan keterangan tentang pengurus coba disebutkan “dewan redaksi” saja. Tidak pula disebutkan dalam pengantar terbitan ini, bagaimana koleksi koran ini didapat, apakah dari koleksi pribadi Moh. Hatta ataukah meminjam koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan di Belanda, seperti di Universitas Leiden.

Sayang juga beberapa hal kecil yang menjadi penting untuk melengkapi keterangan tentang penerbitan ini juga tak muncul dalam pengantar buku ini. Misalnya, berapa jumlah sirkulasi koran ini, di mana dicetak, berapa jumlah pelanggannya. Dan harus diingat juga, koran ini memang koran propaganda, dan praktik jurnalistik sama sekali jauh dari keinginan para pengasuhnya, karena artikel yang termuat di sini lebih merupakan opini ataupun artikel yang memberikan pengetahuan kepada para pembacanya. Sama sekali tak berniat untuk menjadi surat kabar umum yang lebih menekankan fungsi informasi.

Sedikit pula catatan kecil tentang nama, Daulat Ra’jat yang dipakai koran ini mencerminkan pula ideologi pada zamannya, ketika banyak surat kabar pada waktu itu menekankan ideologi tertentu dalam penamaan korannya. Ada masa pada awal abad ke-20, ketika sejumlah koran mengambil ideoiogi ‘terang’ dan dicerminkan dengan penamaan sejumlah koran dengan nama “Suluh”, “Terang”, “Obor”, “Cahaya”, seakan hendak mengatakan bahwa koran-koran yang ada ini adalah mereka yang memberikan penerangan kepada masyarakat pembacanya. Kemudian ada masanya pula ketika sejumlah penerbitan menggunakan kata “Bergerak” dalam nama terbitannya. Pada masa yang kurang lebih sama digunakan juga kata “Ra’jat” (Rakyat dalam ejaan EYD) sebagai nama terbitannya. Daulat Ra’jat masuk dalam kategori terakhir ini.

Muhammad Hatta dan Pendirian Daulat Ra’jat
Bagi Hatta, Daulat Ra’jat mungkin menjadi semacam kelanjutan penyebaran ide yang telah ia lakukan dalam majalah milik Perhimpunan Indonesia, bernama Indonesia Merdeka. Keduanya merupakan anak rohani dari seorang intelektual dan pejuang kebangsaan, Mohammad Hatta. Ide-ide Hatta tentang dunia sekitarnya, tentang impiannya ke depan —Indonesia Merdeka— dan cara-cara mana yang bisa dilakukan untuk meraihnya, tertuang dalam dua terbitan tersebut.

Kembali kita coba bayangkan bagaimana suatu ide terbang melintas lautan, dan kemudian menjadi inspirasi bagi sesama kalangan pergerakan di tanah air. Inilah contoh nyata dari apa yang disebut oleh Ben Anderson sebagai “komunitas imaji yang menghasilkan nasionalisme lewat jasa perkembangan kapiialisme media cetak”. Berminggu-minggu majalah ini masuk dalam peti yang nantinya akan disebarkan di Hindia Belanda, dan kemudian menjadikan bacaan wajib bagi kalangan pergerakan, dan memberikan landasan argumentatif bagi perjuangan mereka selanjutnya.

Namun demikian, haruslah diakui bahwa pilihan sadar Hatta untuk melakukan pendidikan model semacam ini menghasilkan dikotomi dengan apa yang dirintis oleh Sukarno dan kawan-kawannya kala itu. PNI (Partai Nasional Indonesia) pimpinan Soekarno rupanya lebih memilih model pengorganisiran massa lewat mimbar-mimbar, lewat retorika panggung, daripada melakukan pengkaderan yang aktif dan intensif seperti yang dilakukan oleh Hatta dan kawan-kawannya dalam PNI Baru sebagai kepanjangan dari Pendidikan Nasional Indonesia.

PNI Baru lebih mementingkan pembentukan kader yang terpilih, yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang memadai, yang kemudian akan mendidik lagi kader-kader lainnya. Kelompok PNI baru ini percaya bahwa untuk melakukan massa aksi harus menanti waktu sampai gerakannya sudah cukup kuat dan memiliki disiplin, berpengetahuan, memiliki kesadaran politik, dan keanggotaan yang luas. Ini yang membedakan antara PNI Baru dengan PNI sebelumnya yang lebih mengandalkan pengumpulan massa berlindung di balik retorika Soekarno.

Oleh karena itu, tidak mengherankan buat kita jika membaca kembali koran Daulat Ra’jat ini adalah membaca pamflet politik yang berisi pengetahuan yang disampaikan oleh para elit partai kepada para kadernya. Dari situ kita akan mengagumi keluasan pengetahuan dan kedalaman bacaan Hatta dan para pengasuh koran ini. Berbagai peristiwa dunia seakan tak lepas dari ulasannya. Hatta dengan tegas menunjukkan pilihan ideologinya, ia menginginkan kemerdekaan Indonesia, namun dengan jalan mendidik warganya, bukan semata-mata mengangkat senjata. Hal ini terlihat jelas misalnya dalam salah satu artikel pada edisi 20 April 1932, ada satu tulisan Hatta yang sangat terkenal berjudul “Persatoean Ditjari, Per-Sate-an Jang Ada”. Di situ Hatta menyindir ‘mabok persatoean’ yang digelorakan Soekarno sehingga menghasilkan kondisi yang oleh Hatta disebut per-sate-an. Per-sate-an di sini maksudnya, hanya dengan bertumpu pada ide persatuan, maka segala perbedaan mau coba dinafikan, dan memang pada kenyataannya tak mudah untuk menyatukan antara kelompok ningrat atau bangsawan dengan kelompok buruh atau masyarakat biasa.

Penutup
Dalam memoir Hatta sebenarnya tak ada pembahasan langsung tentang mengapa Daulat Ra’jat berhenti terbit, namun yang bisa diduga adalah setelah Hatta ditangkap bersama Sjahrir dan dibuang ke Boven Digul. Daulat Ra’jat masih sempat terbit dua nomor ketika Hatta masuk penjara di Jakarta, namun setelah itu tidak terbit lagi. Hatta tak menguraikan lebih jauh mengapa koran pendidikan itu berhenti terbit.

Bagaimana pun juga, membaca kembali naskah-naskah klasik milik Hatta sebenarnya membuat diri kita malu, bagaimana mungkin dengan keterbatasan akses informasi dan teknologi pada zaman pertengahan abad ke-20 itu, orang seperti Hatta dengan konsisten menjalankan roda pendidikan partai baik dari luar dan dalam negeri. Sementara itu pada zaman kita hidup sekarang ini, ketika perjalanan melintas benua cuma ditempuh dalam hitungan jam di bawah usia satu hari dan perkembangan teknologi komunikasi pun berkembang pesat dan memungkinkan pengiriman pesan dari berbagai wilayah dunia membuat kita bisa mengetahui perkembangan dunia dalam waktu sekejap, tapi kekonsistenan sikap seperti Hatta, dengan luas dan dalamnya pengetahuan yang dimiliki, sangat jarang ditemukan di kalangan para elit partai politik atau pun person dalam pemerintahan masa kini.

Adakah kini kita tengah bermimpi tentang masa silam? Ataukah kita memang sekarang harus kembali belajar pada generasi Hatta-Sjahrir ini: Retorika tak cukup membentuk pengertian kepada massa politik dan pendidikan adalah hal penting yang harus diutamakan siapapun.

Ignatius Haryanto, jurnalis dan wakil direktur eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 5/Desember 2002

Perang Kata dalam Kongres IKAPI

Bising! Begitu mula-mula kesan saya tentang wacana dalam Kongres XV IKAPI (Ikatan Penerbit Buku Indonesia) 23-25 September 2002. Begitu banyak perang kata terjadi mengenai berbagai hal seperti ide buku murah, misi Ikapi, distribusi buku pelajaran, Dewan Buku Nasional, pembajakan buku, dan masih banyak isu yang lain. Huh, perang kata yang sia-sia!

Kemudian, berdering dalam pikiran saya ucapan filsuf Karl R.Popper yang berbunyi: “Kemungkinan terjadinya perang dengan kata sebagai ganti perang dengan pedang justru merupakan basis peradaban itu sendiri” (Lihat, Conjectures and Refutations: the Growth of Scientific Knowledge, Hartper Torchbooks, 1968, hlm. 373). Wah, mungkin saja ada gunanya menyelisik perang kata yang riuh dalam pertemuan besar para penerbit buku di Indonesia itu.

Buku Murah vs Buku Mahal
Dalam membuka Kongres XV IKAPI di istana negara, Presiden Megawati melontarkan tantangan bagaimana membuat buku murah, misalnya dengan memakai kertas merang. Saran untuk menurunkan harga buku lewat berbagai cara pernah disampaikan Ikapi, seperti termuat dalam risalah Membangun Dunia Baru Penerbitan Buku di Indonesia (1990), termasuk usul pembuatan kertas khusus untuk buku yang lebih murah daripada kertas yang lazim untuk mencetak buku.

Tetapi, Kafi Kurnia, seorang pakar pemasaran yang diundang untuk memperluas wawasan peserta kongres, menggebrak dengan ide bahwa buku justru harus mahal, agar royalti untuk pengarang juga tinggi. Menurut Kafi, ia ada empat naskah siap terbit yang sudah ditawar orang seharga Rp. 1,5 miliar. Itu hanya akan dilepas bila dibeli Rp. 2 miliar. Di sisi lain, tujuan penerbit pun tak lepas dari duit, Semuanya, kata Kafi, berujung pada duit.

“Soal harga buku murah atau mahal itu, menurut saya relatif,” begitu cetus seorang penerbit dalam Warta Kongres, 23 September, “Untuk memajukan dunia penerbitan buku di Indonesia harus ada kesatuan visi dan keputusan yang sifatnya strategis”.

Meskipun tidak mengandung usulan konkrit, tanggapan tersebut mengacu kepada gagasan tentang perlunya menyusun kebijakan perbukuan-nasional yang komprehensif.

Namun: ide Kafi tentang duit sebagai motivasi utama pengarang maupun usaha penerbitan buku disambut baik oleh sejumiah peserta kongres. Di antara mereka ada yang menekankan pentingnya membuat buku mahal tapi bermutu, ada pula yang secara umum menggarisbawahi tuntutan agar pengurus Ikapi mendatang mempunyai “sense of business” yang tajam. Suara dari kubu lain mengingatkan, bahwa visi dan misi Ikapi mengandung kombinasi antara orientasi bisnis dan idealisme, dan karenanya, komitmen untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa menuntut anggota Ikapi mempedulikan masalah terjangkaunya harga buku bagi konsumen, sesuai dengan salah satu sasaran jangka pendek kepengurusan Ikapi 1998-2002. Paduan antara kedua orirentasi tersebut memang sepatutnya mencirikan anggota Ikapi sebagai penerbit yang tak hanya memburu profit. Seperti ditegaskan di dalam buku 50 Tahun Ikapi Membangun Masyarakat Cerdas (2000), sebagai pengusaha, penerbit harus bisa survive dan meraih laba, namun itu semua diperuntukkan bagi upaya membangun masyarakat cerdas, berkualitas dan berbudaya.

Upeti untuk Guru
Silang pendapat lain yang menghangat dalam kongres ini menyangkut masalah distribusi buku pelajaran. Penerbit yang langsung memasarkan buku peiajaran ke sekolah dituding telah merusak mental guru dengan saling berlomba memberi mereka bermacam upeti agar buku yang ditawarkan ke sekolah mendapat rekomendasi positif. Sebaliknya, penerbit buku sekolah mengklaim bahwa kegiatan mendistribusikan buku pelajaran sampai ke tempat-tempat terpencil seperti Sangir Talaut, Enggano, dan banyak yang lain, perlu mendapat penghargaan pemerintah. Tetapi seorang peserta lain menyebut persaingan keras dalam pemasaran buku pelajaran antara penerbit dan toko buku, atau antar penerbit buku sekolah bersifat alamiah saja, bak ayam mematuk cacing, dan elang menyambar ayam.

Debat lain menyangkut status Dewan Buku Nasionai (DBN), yang oleh Ikapi bersama asosiasi perbukuan yang lain telah dideklarasikan 18 September 2002. Ada yang menginginkan DBN sama sekali tidak terkait dengan pemerintah, agar tidak didikte olehnya. Pendapat lain menegaskan, kemitraan dengan pemerintah tetap dibutuhkan, sebab DBN bertujuan menyusun kebijakan perbukuan nasional yang kondusif bagi perkembangan perbukuan nasional sebagai ketentuan yang mengikat semua pihak. Selain itu, bila perbukuan nasional diurus oleh sektor swasta saja, dikhawatirkan aspek non-komersialnya terabaikan. Dalam hal yang dikatakan terakhir ini, pengalaman bertutur bahwa, meskipun pebisnis berhati lapang seperti Matsushita memandang profit bukan sebagai tujuan perusahaan, melainkan sebagai ujian validitas perusahaan, dalam praktiknya korporasi bersikap obsesif terhadap profit. Demikian sehingga terasa perlu terbitnya buku seperti Tiranny of the Bottom Line, Why Corporations Make Good People Do Bad Things (Ralph Easten).

Dugaan Presiden Megawati bahwa ada anggota Ikapi yang terlibat dalam pembajakan buku ditangapi dengan gerutuan bahwa banyak penerbit non-anggota Ikapi yang justru perlu ditindak karena melanggar hak cipta. Ikapi sendiri, yang telah lama membentuk tim pemberantasan pembajakan buku, menyatakan belum menerima laporan tentang anggotanya yang membajak buku. Untuk mengklarifikasi soal ini, ada usul agar Ikapi menyusun data base tentang semua judul karya asing yang lisensi penerjemahannya sudah dimiliki penerbit Indonesia. Mengenai pendisiplinan penerbit non-anggota Ikapi dalam hal hak cipta, Ikapi perlu bekerja sama dengan Dewan Hak Cipta, dan instansi pemerintah terkait.

Medan Kekuatan Sekaligus Medan Persaingan
Terjadinya pertarungan ide seperti tergambar di atas wajar saja. Sebab, kata Dr. Dhaniel Dakidae di depan peserta kongres, penerbitan buku dengan unsur kapital, tenaga kerja, dan bahasa, bermain dalam dunia ide, dunia literer, yang adalah suatu medan kekuatan sekaligus medan pertarungan. Di situ, setiap aliran dalam sastra, politik, kebudayaan, dan intelektual lainnya, mencari medannya masing-masing. Teori dunia literer yang diacu oleh Dakidae menjelaskan terjadinya persaingan ide dan kemungkinan unggulnya yang satu atas yang lain sehingga bisa memaksakan makna tertentu dalam diskursus publik. Tetapi sejauh yang bisa saya tangkap dari uraiannya di depan peserta kongres, teori tersebut tidak mengungkap rasionalitas sebagai penentu keunggulan tersebut. Atas pertimbangan itu, tulisan ini memilih untuk mengacu pada teori Karl R. Popper tentang “Dunia Ketiga”, yang merupakan dunia obyektif isi pikiran logis dari proses pemikiran subyektif, dunia teori, argumen, situasi problem, dan kritik dipandang dalam dirinya sendiri. Teori ini juga menjeiaskan terjadinya persaingan antar-ide, tetapi sekaligus memandang keberhasilan meyakinkan orang lewat argumen rasional berbeda dengan sukses memaksakan makna tertentu lewat propaganda atau kekuasaan. Untuk memanfaatkan perbendaharaan ide yang berjibun dalam “Dunia Ketiga”, menurut Popper orang harus bersikap rasional, terbuka, rendah hati, sedia belajar dari kritik. Menyoroti segala pertarungan ide dari perspektif teori “Dunia Ketiga” memungkinkan orang melihat kemungkinan adanya saling interaksi, fertilisasi, dan pengilhaman satu sama lain antar ide yang terlontar dalam diskursus publik. Dalam konteks Kongres XV Ikapi, adanya pendapat bahwa persaingan penerbit dan pengusaha toko buku, atau persaingan antar-penerbit dalam hal distribusi buku pelajaran, hanya merupakan peristiwa alamiah belaka, menantang orang untuk berpaling ke dunia gagasan etis yang perlu untuk mengendalikan hukum rimba. Dari situ muncul ide “memperhatikan etika distribusi buku yang sehat”, yang rumusan konkritnya masih harus dicari.

Contoh lain, ide buku murah melecut seorang peserta berpikir tentang GNP. Bila GNP naik, dan kesejahteraan masyarakat meningkat, persoalan buku mahal akan gugur. Hal ini mengingatkan orang akan kesimpulan Prof. Zigeo Minowa dari surveinya tentang perbukuan Indonesia dalam 1996 dan 1997. Menurutnya, pengorbanan ekonomis rakyat Indonesia dalam membeli buku sepuluh kali lebih tinggi daripada rakyat Jepang, Semakin tinggi GNP kita, semakin rendah pengorbanan ekonomis yang ditanggung oleh rakyat untuk membeli buku. Jadi, upaya membuat harga buku terjangkau oleh masyarakat banyak, bukan hanya urusan Ikapi maupun masyarakat perbukuan, melainkan urusan bangsa kita secara keseluruhan, dengan porsi terbesar di tangan pemerintah. Sebab, buku sebagai sarana pencerdasan dan peningkatan kesadaran etis bangsa merupakan suatu unsur vital dari kepentingan urnum, yang memang menjadi tugas pokok pemerintah.

Dari kongres XV Ikapi, tampak banyak persoalan yang menghadang organisasi ini. Adalah kenyataan, perkembangan Ikapi, seperti bisa disimpulkan dari buku 50 Tahun IKAPI Membangun Masyarakat Cerdas, tampak seakan berjalan di tempat. Bayangkan 50 tahun lalu, Ikapi mempunyai 5 cabang, dan kini cabang Ikapi baru berjumlah 7 di seluruh Indonesia. Contoh lain, sejak 1980-an, ketika Bapak Hutauruk, S.H. (almarhum) melaporkan dalam kongres IPA (International Book Publishers Association) produksi tahunan penerbit Indonesia menurut estimasi tak lebih dari 4.000 judul, sampai kini terpatok pada angka itu juga estimasi Ikapi tentang produk tahunan penerbit kita.

Begitu pun, masih ada benih harapan untuk maju. Sebab, dalam kongres yang sarat dengan perang kata itu pun, tampak bahwa pengurus Ikapi, baik yang lama maupun yang baru, secara eksplisit mengakui kritik sebagai sarana kemajuan, bahkan sebagai bagian kerja sama membangun peradaban di Indonesia.

Alfons Taryadi, Ketua I Himpunan Penerjemah Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 1/No. 5/Desember 2002