Bukoe

Bukoe
thumbnail

Biografi dan Sejarawan yang Malas Berkarya

Posted by Cinta Buku on

Andaikata tak ada paksaan dari Asrul Sani (alm.), mungkin hingga hari ini kita tak akan pernah membaca roman biografi karya K.H. Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Desakan sineas terkemuka itulah yang membuat semangat menulis K.H. Saifuddin Zuhri terlecut sehingga pada pertengahan tahun 1970-an lahir buku sederhana yang diakui banyak kalangan sebagai satu dari amat sedikit pustaka biografi (di) Indonesia yang mampu tampil fenomenal dan memikat.

Sepenggal kisah tersebut barangkali setali dengan kondisi perbukuan, terutama genre biografi saat ini. Maraknya penerbitan buku-buku biografi akhir-akhir ini, kita yakini juga lahir akibat munculnya desakan tertentu. Hanya saja, desakan tersebut sudah dibungkus oleh beragam motif dan kepentingan yang beraneka rupa.

Sulit ditepis, beragam buku biografi, autobiografi (biografi yang ditulis sendiri) ataupun prosopografi (biografi kolektif) terkini tersaji dengan latar yang berbeda-beda, antara lain latar politik serta —yang paling menonjol— kepentingan bisnis (profit).

Tak terlampau aneh jika para tokoh serta selebriti kita seolah "latah" untuk ikut-ikutan mewarnai tren semacam ini. Kondisi ini dapat dilihat ketika para figur publik beramai-ramai memamerkan sejarah hidup mereka lewat lembar-lembar halaman buku. Mulai artis senior Titik Puspa, Helmy Yahya, Krisdayanti, Hedy Yunus, Ki Manteb Sudarsono, Dorce Gamalama hingga pebulu-tangkis muda Taufik Hidayat.

Di lapangan politik, kondisinya tak jauh beda. Apalagi kondisi ini ditopang oleh konstelasi sosial-politik yang hingar-bingar menjelang digelarnya pemilu tahun ini. Biografi, dalam konteks ini, merupakan senjata ampuh guna memperkenalkan tokoh-tokoh politik pada masyarakat pemilih. Ia pun menjadi iklan politik yang cerdas dan gagas untuk memperkenalkan secara lebih dekat program partai ataupun sosok tertentu kehadapan publik.

Amien Rais dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bisa disebut sebagai dua tokoh yang banyak menelurkan buku-buku biografis mereka selama ini. Sejarah dan fenomena kepribadian kedua tokoh ini seakan tidak pernah lekang dikupas, dari beragam sisi. Bahkan biografi terakhir Amien "harus" diterbitkan di luar negeri (Singapura).

Di satu sisi, fenomena maraknya buku biografi ini dapat dibaca sebagai kelihaian sebagian pihak dalam membaca pasar buku. Walaupun secara ekonomis, ada beberapa buku yang tak begitu peduli dengan hitungan untung-rugi (misalnya biografi politik), tetapi kejelasan segmen dan pangsa pasar pembaca adaiah suatu jaminan yang menggiurkan.

Dalam buku terbarunya, Metodologi Sejarah: Edisi Kedua (2003), sejarawan Kuntowijoyo pernah menyimpulkan bahwa salah satu faktor laris-manisnya buku biografi adalah terciptanya segmen pembaca yang jelas dan kuat. Tak mengherankan bila pembaca rela merogoh saku lebih dalam, hanya untuk memiliki "panduan" sejarah tentang idola mereka.

Namun, di lain sisi, kemarakan ini serta-merta menimbulkan pertanyaan ihwal mutu dan kelayakan sebuah biografi. Kiranya, hal ini bisa dimaklumi sebab kebanyakan buku biografi yang notabene kisah sejarah itu, justru tidak ditulis oleh para sejarawan. Para penulis biografi umumnya seorang sastrawan serta jurnalis.

Tentu saja premis semacam ini bukan berarti berpretensi mengunggulkan ahli sejarah di atas yang lain. Namun, manakala sejarah itu diracik oleh tangan sejarawan, tentu hasil dan sentuhannya akan berbeda.

Asumsi senada ini lantas berimbas pada kekhawatiran dan kecurigaan akan adanya faktor "proyek" di balik penulisan buku biografi. Hal ini pun sesungguhnya memiliki alasan kuat. Bila John. A Garraty dalam karyanya The Nature of Biography menandaskan bahwa biografi tak lebih adalah "catatan tentang hidup seseorang", patut dipertanyakan jika penulisannya hanya menonjolkan sisi positif (heroisme) dari sang tokoh belaka.

Kendati hal itu nantinya akan berdampak pada "risiko bisnis", pengungkapan sisi hidup seorang tokoh secara lengkap, padu dan utuh (koheren) merupakan tugas utama dari seorang penulis sejarah. Ia semestinya menempatkan diri sebatas partisipan, bahkan sebagai pihak yang sama sekali belum tahu (the unknown). Atau bila perlu "menyamar" sebagai detektif yang penuh selidik. Lain dari itu, biografi sering dimaknai sebagai "merangkai sejarah dengan seni". Karena itu, ia membutuhkan kiat dan trik tertentu guna menyajikan sejarah secara kokoh, mengalir dan featurize.

Kecenderungan seperti itu bisa ditengok dari sedikitnya sejarawan yang sudi menulis biografi. Kita bisa mencatat hanya Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong yang (barangkali) mewakili secuil penulis dari kalangan sejarawan "murni". Sementara nama-nama seperti Moehammad Roem, Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Deliar Noor, Rosihan Anwar, A. Makmur Makka, hingga generasi Ninok Leksono, Alberthiene Endah ataupun trio Massardi bersaudara saat ini, tak lebih para sastrawan dan jurnalis andal yang "melancong" kedunia biografi.

Realitas dilematis serupa ini, seharusnya dapat menggugah minat para sejarawan untuk "turun gunung" dan tidak hanya mendekam di atas menara gading dunla akademik. Nama semisal Soebagjo I.N. adalah satu di antara teladan yang pantas mereka tiru. Soebagjo (walaupun bukan sejarawan) hingga kini telah mampu menghasilkan lebih dari sepuluh biografi tokoh nasional. Pada titik ini, ia layak digelari "penyelamat" sejarah yang, dalam terma tertentu, melebih jasa sejarawan sekalipun.

Langkanya buku-buku biografi yang layak-mutu, bila ditelisik lebih jauh, turut dipicu oleh kurangnya keseriusan penulis sejarah dalam upayanya rmenyajikan fakta historis dengan cara yang cakap dan terampil. Di era kini, kita lebih banyak disuguhi oieh aneka biografi yang lebih banyak menawarkan kegemerlapan hidup, pendiskreditan pihak lain (sembari pada saat yang sama menganut pola hero in history), pengaburan fakta sejarah (historical authenticity) serta kebercerai-beraian latar kisah.

Di era kini kita sudah demikian sulit menemukan buku-buku biografi yang turut membuat kesadaran pembaca geram sekaligus terharu-biru sebagaimana dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, kisah perjuangan remaja yang hiruk-pikuk dan penuh keringat dalam novel biografis Soekarno, Kuantar ke Gerbang, roman sejarah yang melukiskan kebersahajaan sekaligus keteduhan orang-orang pesantren di pedesaan seperti dituturkan dengan baik oleh Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren, ataupun feature romantika kekeluargaan yang memilukan seperti pengakuan pribadi mendiang Gandhi dalam An Autobiography-nya. yang terkenal itu.

Kita acapkali menjadi lebih berselera jika membaca biografi yang (justru) ditulis oleh para pengamat luar (Indonesianis). Hal ini disebabkan keyakinan kita yang —boleh jadi— berlebihan terhadap kesungguhan, profesionalitas dan netralitas mereka. Apalagi kondisi tersebut diperparah dengan sikap malas dan abai para sejarawan kita untuk (sekadar) menulis buku-buku sejarah yang terkemas secara populer dan memadai.

Dalam banyak hal, kita sungguh merindukan hadirnya pustaka-pustaka biografi bermutu seperti yang dihasilkan para penulis luar itu. Kita rindu kehadiran buku-buku, seperti Tan Malaka karya Harry A. Poeze, Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan-nya Bernhard Dahm atau bahkan Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto-nya O.G. Roeder hingga Biografi Gus Dur-nya Greg Barton.

Di bidang penerjemahan pun kita kesulitan mencari biografi yang betul-betul bagus sekaliber Hayatu Muhammad tulisan Hussein Haykal yang telah diindonesiakan sedemikian baik oleh Ali Audah.

Dari segi kualitas, barangkali kita pantas untuk kurang puas. Namun, hikmah penting yang bisa kita ambil dari meningkatnya kuantitas karya biografi ini adalah kian kuatnya kesadaran untuk melestarikan tradisi tulis dalam komunitas perbukuan kita. Sebagaimana ditengarai banyak kalangan bahwa tradisi keberaksaraan di negeri ini lambat laun telah mulai melunturkan budaya kelisanan yang sedemikian lama menghegemoni kesadaran kolektif masyarakat.

Pada bingkai tersebut, seburuk apa pun "iklan" yang hendak disuguhkan dalam buku-buku biografi (seperti tampak dalam aneka biografi politik), hal itu sewajarnya disikapi sebagai bagian dari simtom dan upaya cerdas jagad literasi kita dalam menembus tradisi lisan yang telah tumbuh "beranak-pinak" di tengah kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya budaya tulis yang dinamis dan kompetitif, kian mendapat respons positif dari khaiayak.

M. Ali Hisyam, pustakawan; bermukim di Yogyakarta
Majalah MataBaca Vol. 2, No. 12, Agustus 2004  
10.49
thumbnail

Nova Riyanti Yusuf: Aksi Sang Dokter Novelis

Posted by Cinta Buku on

Menghasilkan sebuah novel yang mampu menarik perhatian banyak pembaca tentu bukan hal gampang. Terlebih lagi, bila novel tersebut harus diselesaikan dalam tempo relatif singkat. Toh, hal itu dengan "gampang" dilakukan Nova Riyanti Yusuf. Betapa tidak, dalam kurun waktu dua tahun (2003-2004), Nova telah menghastlkan novel sebanyak tiga judul: Mahadewa Mahadewi (dirilis Agustus 2003), Imipramine (dirilis Maret 2004), dan 30 Hari Mencari Cinta (dirilis Maret 2004). Ketiganya telah mengalami cetak ulang dan masing-masing berhasil diselesaikan Nova hanya dalam tempo dua minggu.

Apa yang telah dihasilkan Nova memang merupakan "akumulasi" dari kebiasaan yang dilakukan sejak masa kecil. Saat itu, Nova yang sering berada di rumah kakeknya yang penulis sekaligus wartawan Antara lebih banyak mengisi waktu dengan membaca. "Di rumah kakek senantiasa banyak buku. Otomatis hiburan saya adalah buku. Saat anak-anak kecil masih main bekel, saya baca buku saja di perpustakaan. Kadang- kadang kalo lagi dijemput tidak ada, dikirain ke mana... padahal saya ada di perpustakaan. Bukan hanya komik, tapi juga yang lainnya," ungkap Nova mengawali pembicaraan dengan MATABACA saat ditemui di Istora Gelora Bung Karno, seusai mengisi acara talk show berkaitan dengan promosi novel terbarunya 30 Hari Mencari Cinta yang baru saja masuk lima buku fiksi terlaris selama bulan Mei versi Toko Buku Kharisma dan Gramedia (Kompas, 19 Juni 2004).

Nova mengakui bahwasanya bacaan-bacaan tersebut membuat imajinasinya terhibur. Bahkan, membuat dirinya terbuai yang pada gilirannya mendorong ia untuk membuat sesuatu. "Kok, bacaan ini begitu enaknya apalagi kalau saya sendiri yang bisa menciptakan sebuah cerita. Akhirnya, kala saya ada gundah dan kadang-kadang sebagai anak-anak kecil, SD, mulai ada rahasia dengan orang tua dan akhirnya saya cenderung untuk menuliskan rasa-rasa itu," papar Nova yang menjalani pendidikan sekolah dasar di SD Ora et Labora, Jakarta. Dari catatan ala diari, Nova mengasah keterampilan menulisnya dengan menulis cerita pendek. Hal ini lakukan saat duduk di SMP Al-Azhar, Jakarta. "Saat itu, tak ngaja melihat acara sebuah TV yang menjelaskan tentang sebuah tempat bernama Acapulco Island. Saya terpicu, kok tempat indah sekali. Entah kenapa itu pertama kali saya heran, saya itu bisa menulis dan akhirnya saya menulis cerpen. Anehnya, menulis cerpen dalam bahasa inggris karena saya menemukan kemudahan dengan 'I' (ai). Kalau di sini (bahasa Indonesia— red.) ada saya, ada aku, ada gue, yang buat anak SMP terlalu complicated dan akhirnya itu pertama kali saya sadar bahwa saya punya talent yang saat itu rasanya aneh. Kalau dulu menulis semata-mata untuk kenikmatan, sekarang saya menulis cenderung untuk, oh... saya punya bakat, tapi saya harus punya willingness to write, keinginan menulis."

Saat SMP, Nova sedikitnya telah menulis dua cerita pendek berbahasa inggris, "Love Story In Acapulco Island" (1991) dan "A Week In Paradise Island" (1991). Dari cerpen, perempuan kelahiran Palu, 27 November 1977 ini mulai menggarap sebuah novel (2003). Setelah novel lang diberi tajuk Mahadewa Mahadewi selesai ditulis, Nova memiiih untuk menerbitkannya sendiri. "Waktu itu, niatnya setelah selesai (ditulis), independent. Jadi, murni tidak ada niat untuk menghubungi penerbit. Kebetulan ada orang yang mau minjamkan modal, yakni ibu saya. Juga ada percetakan yang mau membantu saya dan bilang bayarnya setengah dan nanti pas setelah tiga bulan uangnya kembali. Jadi, gambling juga. Saya pikir, daripada menghabiskan waktu, misalnya enam bulan saya mengirim (ke penerbit), tak ada hasil, momentum hilang, lebih baik saya gambling. Saya terbitkan sendiri karena menurut teman-teman cerita itu layak diterbitkan, ya sudah saya terbitkan saja."

Novel Mahadewa Mahadewi pun diterbitkan dan dicetak sebanyak 4.000 eksemplar. Dalam tempo satu bulan, novel ini habis. Namun, tidak lantas membuat alumni SMA Tarakanita 1 ini senang, malah membuatnya bingung, "Buku itu laku, tapi (hasil penjualan) buku tidak ada di tangan saya. (Hasil penjualan) masih di tangan distributor, dan saya sempat ada problem (waktu itu) dengan distributor saya. Kemudian, saat bingung, tiba-tiba Gramedia (Gramedia Pustaka Utama—red.) menawarkan. Akhirnya, cetakan kedua diambil Gramedia. Terus terang saya sudah jenuh dan tidak kuat distribusinya. Uang saya belum kembali, untuk menerbitkan lagi tidak mungkin karena tidak ada dananya."

Sejak itu, novel Mahadewa Mahadewi diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dicetak pertama pada Agustus 2003. Pada tahun yang sama, novel ini memperoleh pengakuan saat dinobatkan sebagai novel pilihan (editors' choice) versi majalah Cosmopolitan. Tahun 2004, Nova menulis dan menyelesaikan novel keduanya yang berjudul Imipramine. Novel diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dicetak pertama bulan Maret 2004. Dalam bulan dan tahun yang sama, novel ketiga karya Nova dirilis. Novel tersebut berjudul 30 HariMencari Cinta yang diadaptasi dari skenario film karya Upi Avianto dan diterbitkan Gagas Media. Menurut Nova, saat itu Gagas Media mencari penulis yang bisa menciptakan karya dalam waktu cepat dan Gagas Media menghubunginya. "Ya, kemungkinan mereka baca story di media karena saya 'penulis dua mingguan'. Sebenarnya, saya tidak senang dengan (sebutan) 'penulis dua mingguan' karena karya yang ditulis telah dipikirkan secara masak-masak dan itu (dua minggu—red.) hanya teknis penulisan berarti harus intensif, harus konsisten. Intensitasnya akan berubah kalau saya sambi dengan kegiatan lain."

Selain novel 30 Hari Mencari Cinta yang diselesaikan dalam tempo relatif singkat (sekitar dua minggu), novel Mahadewa Mahadewi dan Imipramine pun di selesaikan dalam tempo yang relatif sama. Namun, kendala tetap muncul dalam penulisan ketiga novel tersebut. Dalam novel pertama dan kedua, Nova merasakan keinginan menulis yang semakin berkurang. "Semakin ke sini, rasa keinginan menulis itu berkurang karena saya terus merasa dalam proses pencarian. Belum dapat suatu format yang baku bahwa karya Nova seperti ini." Sementara itu, kendala yang muncul saat menyelesaikan dalam novel ketiganya lebih bersifat teknis. "Saya harus menulis tentang orang remaja, sedangkan saya sudah merasa tidak remaja lagi. Jadi, saya harus bisa menyelami. Itu mungkin kendalanya."

Saat ini, Nova yang lulusan Fakultas Kedokteran Umum Universitas Trisakti berpraktik sebagai dokter umum di klinik Universitas Paramadina Mulya. Latar belakang pendidikan kedokteran yang dijalaninya memberi warna tersendiri dalam karya-karyanya. Khususnya, dua novel pertamanya. Dalam dua novel ini, Nova menampilkan karakter utama yang berprofesi dokter (dr. Yukako dalam Mahadewa Mahadewi dan dr. Imi/Gardina dalam Imipramine) serta menebarkan beragam istilah medis.

"Kita menulis biasanya hal yang dekat dengan kita. Apakah seseorang dekat (dengan) masalah gender, seseorang dekat (dengan) masalah seksualitas, atau apalah. Kebetuian saya berlatar belakang medis dan sedikit banyak mungkin saya terpengaruh saat menulis. Saya buat reference, paperwork, itu semua dalam nuansa medis. Jadi, dalam bakat menulis nuansa medis sulit untuk dihllangkan. Hampir tujuh tahun saya ada di bidang kedokteran dan itu jadi selling point banwa setiap penulis punya style berbeda."

Toh, tak hanya tokoh utama yang berprofesi dokter dan istilah medis yang dimunculkan. Soal free sex yang menjadi bagian dari gaya hidup para tokoh utamanya |uga dimunculkan dalam dua novel pertamanya. Untuk soal yang satu ini, dara yang sejak kecil memang bercita-cita ingin menjadi penulis dan tumbuh dengan serial karya Enyd Blyton menjelaskan, "Sebenamya dalam proses kreatif saya tidak membatasi diri. Dalam arti, saya menulis apa saja yang ada dalam pikiran saya dan saya serahkan ke editor. Saya kalau disuruh mengedit, tidak tahu bagaimana mengeditnya. Terserah mereka mengeditnya, bila mereka menganggap bahwa itu (baca: free sex) terlalu vulgar. Tapi, ternyata mereka menganggap tidak vulgar."

Dalam kedua novel ini pun terdapat banyak tempat yang dijadikan setting cerita. Dari Jakarta hingga Darwin (Mahadewa Mahadewi) atau dari Jakarta, Sulawesi, hingga Bosnia (Imipramine). Menurut Nova, tempat-tempat tersebut ada yang pernah dikunjungi dan ada yang belum. "Darwin itu pernah dikunjungi beberapa kali, tapi saya tidak terpikir bakal menulis tempat itu. Jadi, tidak dalam konteks saya akan menuliskan cerita dengan setting di Darwin. Kalau Bosnia, itu riset. Dalam arti, saya berbincang dengan seorang dokter yang pernah tugas di sana, juga membaca buku tentang kisah-kisah mereka saat berada di sana. Juga lihat di TV tentang Bosnia. Jadi, ada gambaran! Untuk tempat di Indonesia, seperti Teluk Tomini, Sulawesi, kebetulan saya lahir di Sulawasi sehingga ada kedekatan."

Dari ketiga novel yang telah dihasilkan, Nova mengungkapkan bahwa Mahadewa Mahadewi adalah karya yang paling disukai. "Bagi saya, itu paling monumental. Pertama kali saya membuat sebuah karya yang diakui dan waktu itu majaiah Cosmopolitan memberikan pilihan editor (editor's choice). Bahkan, tanpa mendapat pengakuan pun, novel itu (berhasil) terbit."

Aktivitas yang dijalanif putri pasangan Yusuf Abbas dan Marsiswati Yusuf kian hari terasa bertambah dan semua masih berkaitan dengan dunia medis dan tulis menulis yang ia geluti. Dalam dunia medis, Nova melanjutkan studi kedokterannya dengan mengambil program pendidikan spesialisasi psikiatri (ilmu kedokteran jiwa) di Universitas lndonesia. Sementara itu, dalam dunia menulis, Nova yang sejak Juni 2004 menjadi kolumnis di majaiah Djakarta (sebelumnya juga kolumnis di majalah Gatra) mulai terlibat penggarapan film. Hal ini ia lakukan bersama Aria Kusuma Dewa dan Lola Amaria. Dalam film pertama "Betina", Nova ikut ambil bagian sebagai salah seorang cast. Dalam film kedua Tuhan, Beri Aku Kentut, Nova terlibat dalam penulisan skenarionya.

Karier dan hobi yang berjalan relatif mulus lantaran didukung talenta, pengetahuan, dan semangat yang cukup kuat tak memupus penyuka "Great Expectation" (Charles Dickens), "Lord of The Rings" Trilogy & The Hobbit" (JRR Tolkiens), "Harry Potter" (JK Rowling), serta "Einstein's Dreams" Alan Lightman ini untuk berobsesi. Lalu, apa obsesinya? "Obsesi yang berikutnya itu tetap menulis. Saya ingin sekali menemukan sebuah format penulisan saya. Seperti JK Rowling, dia benar-benar menemukan sebuah format bahwa dia menulis si Harry Potter itu adalah format dia. Jadi, sampai lima seri pun tidak berubah, tetap seperti itu. Saya ingin membuat sebuah cerita yang sederhana. sangat simpel, tidak harus mendunia tapi paling tidak diterima semua kalangan tanpa harus dipertanyakan orang: kenapa seksualitas harus selalu di-exposed. Saya ingin buat cerita sederhana yang tidak menimbulkan pertanyaan," tutup Nova. Semoga tercapai ya, Nov!

Agus Setiadi, pencinta buku
Majalah MataBaca Vol. 2, No. 12, Agustus 2004
12.13
thumbnail

Buku Harian: Sahabat yang Terpercaya

Posted by Cinta Buku on

"Buku adalah sahabat sejati". Demikian kalimat bijak yang pemah saya dengar mengenai nilai sebuah buku. Saya tak menyangkal, buku harian dapat menjadi teman yang dapat dipercaya. Buku harian adalah seorang sahabat yang berempati dalam dunia yang tidak simpatik. Christina Baldwin—seorang penulis—pernah mengatakan, buku harian memungkinkan kita mengabadikan koleksi peristiwa yang mengisahkan perjalanan hidup kita. Buku harian menyimpan bidikan peristiwa yang mengungkapkan dan mengabadikan perjalanan hidup kita dalam bentuk tulisan.bagaikan album foto kenangan yang merekam peristiwa di masa lalu.

Pada zaman Sebelum Masehi, orang Yunani mengembangkan sejenis almanak yang disebut ephemerides, yang berisi catatan pergerakan harian bintang dan planet. Orang Romawi, yang menaklukkan Yunani, turut menggunakan jurnal seperti itu, tetapi dengan berciri pada kepraktisan, dengan menambah nilainya dengan mencatat juga peristiwa sehari-hari yang perlu diketahui masyarakat. Mereka menyebutnya diarium, yangberasal dari bahasa latin dies, yang artinya hari.

Namun, baru pada abad ke-17 buku harian menjadi populer di negara-negara Barat sebagai catatan peristiwa pribadi setiap hari. Ketika seorang inggris bernama Samuel Pepys menulis jurnalnya. Buku harian Pepys yang berisi panduan tak lazim antara kesalehan dan keduniawian, menjadi salah satu sumber informasi terlengkap bagi para sejarahwan tentang.kehidupan di bawah pemerintahan Raja Inggris, Charles II.

Sejak itu, menulis jurnal menjadi kegiatan yang semaktn populer, Bahkan, banyak buku harian menjadi dokumen sejarah yang berharga. Salah satu yang terkenal adalah jurnal seorang gadis cilik Yahudi yang menyembunyikan diri dari Nazi. Diary of a Young Girl (Buku Harian Seorang Gadis Kecil) yang ditulis oleh Anne Frank menjadi bukti yang menyedihkan dari kebiadaban manusia terhadap sesamanya.

Daya Tarik Buku Harian 
Menulis jurnal tampaknya memang berkaitan dengan hasrat manusia yang fundamental, yakni ekspresi diri. Entah apakah kita mencatat kegembiraan ketika mendengar bayi kita mengucapkan kata-kata pertamanya atau tentang tumbuhnya suatu hubungan cinta. Buku harian memungkinkan kita mengenang peristiwa-peristiwa yang membentuk kebidupan kita. Dengan membacanya, kita menghidupkan kembali saat-saat berharga itu dan perasaan yang ditimbulkan.

Salah satu manfaat terbesar buku harian adalah kesanggupannya untuk membantu kita mengenal diri sendiri. Penulis Tristine Rainer menyebut buku harian sebagai alat psikologi praktis yang memungkinkan kita untuk menyatakan perasaan dengan lebih leluasa. Jika seseorang enggan membicarakan kekhawatiran dirinya dengan seseorang, mengekspresikan diri lewat tulisan mungkin dapat menjadi altematif. Itulah sebabnya, menulis jurnal sering dianjurkan sebagai sarana yang berguna dalam menghadapi luka emosi. Buku harian dapat digunakan untuk merenungkan kehidupan, menetapkan tujuan baru, dan mungkin mencari pemecahan masalah. Menulis tentang problem atau perasaan kita dapat membantu memusatkan perhatian pada masalah sebenamya dan memandangnya secara objektif.

Menulis buku harian juga dapat menjadi sarana pendidikan. Federasi Guru Amerika menyarankan para orang tua untuk menganjurkan anak-anak mereka untuk menulis buku harian. Menulis dalam jurnal dapat mengembangkan keterampilan menulis dan kreativitas.

Cara Memulai Menulis
Cara menulis buku harian bermacam-macam. Namun, yang penting, carilah tempat yang tenang dan sebuah jurnal atau buku catatan yang Anda sukai. Memang, selembar kertas kosong yang menunggu untuk diisi dapat membuat kita ciut. Kuncinya adalah jujur, spontan, dan sederhana. Anda dapat mengajukan pertanyaan: Apa yang saya lakukan hari ini? Apa pengaruhnya.terhadap saya? Apa yang saya makan? Siapa yang saya jumpai? Apa yang dialami oleh orang-orang yang saya sayangi? Atau, Anda dapat mulai memikirkan saat sekarang, dengan bertanya: Di manakah saya sekarang dalam kehidupan? Apa saja cita-cita saya? impian saya? Kemudian, tanpa bersikap kritis, biarkan tulisan mengalir.

Tulis sebanyak atau sesedikit yang Anda suka. Tulis sesering atau sejarang yang Anda suka. Berterus terang dan terbukalah. Jangan khawatir akan tata bahasa atau ejaan, tidak ada yang akan melihat tulisan Anda. Anda dapat mencoba menempelkan foto, kliping surat kabar, atau apa saja yang penting bagi Anda. Buku itu milik Anda. Terserah Anda, mau rapi atau berantakan, besar atau kecil. Anda hanya mesti menulis yang Anda inginkan. Jika menulis buku harian dijadikan tugas yang kaku, Anda akan merasa gagal dan kecewa.

Para ilmuwan atau peneliti sering kali menggunakan jurnal untuk mengamati dan mencatat perubahan organisme yang ia teliti. Ini dapat membantu mengamati dan mempeiajari pola perilaku dan kecenderungan kita dalam kehidupan. Jurnal Anda akan menyingkapkan kegembiraan, kesedihan, kelemahan, dan kekuatan Anda. Menulis jurnal akan meningkatkan kemampuan Anda untuk mengekspresikan diri. Memang menulis buku harian menuntut komitmen, tetapi komitmen itu akan mendatangkan imbalan melimpah. Jadi, mari mulai menulis buku harian.

Elizabeth Lilis, mahasiswa Univereitas Darma Cendika Surabaya, Fakultas Ekonomi Marajemen dan Interstudi, Jurusan Advertising Jakarta.
Majalah Mata Baca Volume 2, No. 12, Agustus 2004.

06.26
thumbnail

Perempuan, Seks, Sastra

Posted by Cinta Buku on

Belakangan ini terjadi polemik dalam berbagai diskusi serta sejumlah media massa mengenai fenomena munculnya para perempuan penulis muda yang hadir dengan karya-karya bermuatan seks. Banyak pandanganyang pada intinya menyiratkan "kekhawatiran" atas merebaknya fenomena tersebut. Mengamati polemik itu, saya melihat bahwa yang "diresahkan" oleh banyak kalangan adalah karena mereka yang giat "mengeksplorasi tubuh manusia" ini notabene para perempuan, tepatnya "perempuan muda". Begitulah, banyak orang ribut soal seks dalam sastra kita belakangan ini hanya karena yang menuliskannya seorang perempuan!

Kontroversi mengenai seks atau gambaran tentang hal-hal yang erotis dalam karya sastra kita sebenarnya sudah sering terjadi. Pada masa kolonial, terjadi polemik terselubung antara tokoh-tokoh Balai Pustaka dengan orang-orang di luar Balai Pustaka. Dalam Nota Rinkes, misalnya, disebut-sebut mengenai karya-karya sastra yang dianggap melanggar tabu dan "merusak moral". Pada akhir masa kolonial, kemunculan Belenggu karya Armijn Pane yang mempersoalkan cinta dan perselingkuhan juga menimbulkan kontroversi. Pada akhir 1960-an, terjadi diskusi panjang mengenai novel-novel Motinggo Busye sejak trilogi Bibi Marsiti yang dianggap mengandung banyak unsur pornografi. Selanjutnya, terjadi pula diskusi antara Harry Aveling dengan Goenawan Mohamad sebagaimana yang tampak dalam Seks, Sastra, Kita (ditulis 1969).

Seperti pernah diungkap oleh kritikus sastra Faruk HT melalui sebuah tulisan berjudul Seks dan Poiitik dalam Sastra Indonesia (2003). Dalam Seks, Sastra, Kita, Goenawan Mohamad melihat ada tiga pola sikap dalam karya sastra Indonesia terhadap persoalan seks dan cara penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks, tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai "mawar berduri". Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara "meneriakkannya dengan keras-keras". Karya-karya yang demikian mungkin digolongkan sebagai karya-karya "pornografis", yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.

Pada waktu novel Ayu Utami muncul, Saman (1998), terjadi pula kontroversi. Dalam sejarah sastra Indonesia, sejak Ayu Utami terjadi hal menakjubkan dalam persoalan seks dalam sastra. Bukan hanya karena keberaniannya dalam menulis seksualitas secara eksplisit dibandingkan dengan karya-karya sastra Indonesia sebelumnya, melainkan juga karena penulis yang mengikuti kecenderungan demikian justru para penulis perempuan, seperti Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, lalu Nova Riyanti dan Herlinatiens. Dalam sebuah wawancara, pemenang sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2004, Dewi Sartika, dengan terus terang mengakui bahwa novelnya, Dadaisme, dipengaruhi oleh cara penulisan Ayu Utami.

Sastra dan Gerak Zaman
Sejarah mencatat, kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering terjadi karena ketidaksiapan masyarakat yang bersangkutan atau penguasa (penguasa politis, spiritual, moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang berbeda bahkan bertentangan dengan tata nilai kolektif. Di sini, persoalan bergeser dari wilayah sastra menuju wilayah sosiologi, bahkan politik seperti yang terjadi pada karya-karya Milan Kundera.

Ketika D.H. Lawrence memublikasikan Lady Chatterley's Lover di Inggris seabad silam atau saat Gustave Flaubert di Prancis menerbitkan Madame Bovary beberapa tahun sebelumnya, banyak orang merasa tersengat bukan karena muatan seks kedua novel itu, melainkan karena kedua karya sastra itu dengan terbuka menyerang hipokrisi kelakuan seksual kaum elite masyarakatnya. Dalam kedua novel itu, dikisahkan perselingkuhan para istri lelaki terhormat (Lady Chatterley dan Emma Bovary) yang justru menemukan kebahagiaan di luar perkawinan. Lady Chatterley bahkan dikisahkan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya sendiri, seorang bangsawan dan veteran perang yang invalid. Sebuah tamparan bagi sebuah konstruksi sosial yang telah mapan dan tak menghendaki kritik. Itu pula yang terjadi di sini dengan Belenggu karya Armijn Pane di tahun 1930-an.

Ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis; keterbukaan seks menjadi tema pemberontakan anak-anak muda dan rasa takut pada maut (fear) dihadapi dengan cinta (love) lewat semboyan yang terkenal itu (make love, not war!), sejumlah nama muncul sebagai ikon, termasuk dalam sastra.

Salah satunya Ana'is Nin (1903-1977) yang kebetulan seorang perempuan. Novelis dan cerpenis Amerika keturunan Prancis yang rmenulis serangkaian catatan harian bermuatan seksual eksplisit itu di ujung usianya mengukuhkan namanya sebagai ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring dengan gerak zaman yang menuntut keterbukaan. Itu semua dikaitkan pula dengan sejumlah affair-nya dalam kehidupan nyata, termasuk dengan penulis terkemuka Amerika lainnya, Henry Miller.

Dalam pengantar untuk kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin yang merupakan pengagum D.H. Lawrence antara lain menulis bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menuliskan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki seperti yang dilakukan D.H. Lawrence melalui sejumlah karakter perempuan dalam novel-novelnya: Lady Chatterley, Ursula Brangwen.

Perempuan dan Kelamin dalam Sastra Kita
Hal serupa tampaknya sedang terjadi di sini sejak enam tahun silam. Memang bukan pertama kali dalam sejarah sastra kita perempuan menuliskan seksualitas secara terbuka dalam karyanya. Nh. Dini telah melakukannya, juga Titis Basino atau Dorothea Rosa Herliany yang oleh seorang penyair dijuluki "perempuan yang mengacaukan identitasnya dengan diksi laki-iaki". Bedanya, saat ini hal itu terjadi secara bersamaan, seperti wabah, dan melibatkan banyak nama baru yang sesungguhnya sangat potensial.

Momentumnya adalah runtuhnya rezim Orde Baru yang militeristis, patriarkis, puritan, otoriter dan monolitik. Rezim yang tumbang itu menyukai kekerasan, mengagungkan keseragaman dan membenci keberagaman. Mereka berkeras mendikte orang banyak tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Ekspresi unik individu direpresi atas nama stabilitas. Mereka memasung banyak hal: perempuan, seksualitas, kebebasan berkreasi, hak berpolitik, serta mencampuri banyak hal yang sesungguhnya berada pada wilayah privat.

Ayu Utami, sang pemula, melalui Saman (ditulis 1997, saat Soeharto masih berkuasa) menggugat banyak hal, bukan sekadar seks, melainkan—bila kita membaca dengan jeli—yang lebih kental dalam novel itu adalah nuansa politisnya, terutama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru yang militeristis dan segala kekuasaan patriarkis. Meminjam terminologi Mikhail Bakhtin, novel itu mengandung hetroglossia, keragaman, layaknya sebuah karnaval. Novel itu berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer lokal, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman Katolik, dominasi lelaki atas perempuan, seksualitas dan cinta, dibalut bahasa yang indah dan eksploratif.

Setelah Saman muncul, berbondong-bondong kaum perempuan yang sebelumnya terkekang menyatakan pemberontakan dalam karya-karya mereka, termasuk yang menggarap seksualitas sebagai tema, seperti Dinar Rahayu dan Djenar Maesa Ayu. Masyarakat yang tidak siap menyaksikan "sesuatu yang baru" gelagapan. Banyak reaksi yang terjadi justru tak lebih dari serangan terhadap kehidupan pribadi penulisnya, bukan diskusi yang bernas dan memperkaya tentang karya mereka. Kalimat-kalimat mereka dipotong dari konteksnya hanya untuk membuktikan betapa para perempuan ini telah mengumbar kecabulan dalam karya mereka.

Dalam acara diskusi buku pertamanya, Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch, yang menyingkap fenomena kelainan seksual dalam masyarakat urban kita, Dinar Rahayu dipojokkan dengan pertanyaan pribadi yang tak ada sangkut paut dengan karyanya. Dia dihujat dan dianggap tidak senonoh karena menulis sebuah gugatan melalui novel. Dia kemudian harus membayar publikasi novelnya itu dengan kehilangan pekerjaan sebagai guru kimia di sebuah sekolah swasta terkemuka di Bandung.

Mengapakah kita begitu terganggu ketika para perempuan menulis tentang kelamin dan perkelaminan? Begitu burukkah ketika seorang perempuan menulis dengan jujur tentang seksualitas dari kacamata perempuan sendiri?

Sesungguhnya tak ada pembagian kerja secara seksual dalam sastra. Artinya, tidak relevan mengatakan perempuan harus menulis apa dan lelaki boleh menulis apa. Juga tidak relevan mengaitkan sebuah karya dengan kehidupan pribadi penulisnya. Pada dasarnya, baik buruk sebuah karya sastra hanya layak diukur dengan parameter yang berkaitan dengan sastra.

Apa yang terjadi belakangan ini sebenarnya merupakan reaksi atas represi terhadap perempuan oleh tata nilai yang serba patriarkis. Karya "para sastrawati" itu justru menambah semarak khazanah sastra kita dengan keragaman tema dan suara. Ketika para perempuan bangkit dan meneriakkan gugatannya secara terbuka, mengapa kita harus "takut"?

Anton Kurnia, cerpenis dan esais
Majalah Mata Baca Vol. 2, No.12,  Agustus 2004
06.45
thumbnail

Menelusuri Buku Kehidupan: Saya Melihat Ada Jembatan

Posted by Cinta Buku on

"Who Moved My Cheese" pernah dijadikan topik pembahasan seminar di Jakarta dan Bandung pada Oktober 2001. Ya, siapa yang memindahkan "keju" kita yang dapat berupa kedudukan, uang, kesenangan, ketenteraman hati, kebahagiaan keluarga? Tampaknya segalanya cepat atau lambat berubah, tak ada yang tetap di tempat. Siapa atau apa yang mendatangkan perubahan? Takdir llahi, diri sendiri, atasan pemimpin atau pergantian zaman dan lingkungan? Bagaimana sikap kita masing-masing terhadapnya? Mendahului, mengantisipasi, menyesuaikan diri, acuh tak acuh, pasrah atau melakukan perlawanan? Sesungguhnya seminar itu diilhami oleh buku laris Spencer Johnson MD dengan judul serupa. Buku tersebut pemah bertengger selama 70 minggu di daftar buku laris New York Times.

Para pembahasnya dalam seminar di Jakarta adalah Hari Darmawan, pendiri grup Matahari. Dalam usia di atas 60 tahun, ia tampak masih energetik, penuh api, persis seperti dulu sewaktu ia masih muda. Ia seorang "petarung jalanan sejati" (the real street fighter) yang sanggup bertempur dari "pintu ke pintu". Dengan semangat besar, ia ingin come back membangun "kerajaan" Matahari jilid kedua, setelah yang pertama jatuh ke tangan kelompok Lippo. Ada yang menggelarinya sebagai Gatotkaca karena semangat juangnya yang pantang menyerah.

Pembahas yang lain adalah Gede Prama, konsultan, pembicara dan penulis produktif. Ia yang percaya pada keajaiban cinta dengan sikapnya yang teguh-terkendali itu lebih mirip seorang pertapa.

Hidupnya mengalir begitu saja mengikuti jalannya falsafah air. Dalam berdoa, menurut penuturannya, ia tak pemah minta-minta lagi kepada Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur dan pasrah semata. Seandainya dipanggil setiap saat oleh Yang Mahakuasa, ia menyatakan sudah siap. Dia dijuluki sebagai Yudhistira dalam seminar tersebut.

Sementara saya sendiri selaku pembicara lainnya lebih merasa sebagai pengembara yang tengah dalam perjalanan melakukan pencarian. Hilir mudik berupaya menemukan sesuatu yang dinilai lebih benar sekaligus berharga. Ada beberapa butir mutiara yang berhasil ditemukan, tetapi tampaknya masih belum memenuhi kelengkapan. Ada tendensi, ada arah yang dituju, sementara yang sudah digenggam kadang-kadang masih dipertanyakan kembali. Agaknya pada diri seorang pengembara sejati memang ada kegelisahan senantiasa dalam mencari.

Shaman atau Sufi Korporat
Sepanjang perjalanan hidup ini saya telah menemukan sejumlah teman yang bersedia menggiurkan ide dan kebijaksanaan terbaiknya. Saya menerimanya dengan tangan terbuka, tetapi kemudian memilah-milahnya. Mana yang bisa diterima, mana yang setengah dipetik dengan catatan, mana yang perlu diendapkan dulu dan mana yang terpaksa ditolak, karena kurang sesuai dengan pandangan hidup saya. Sekalipun yang disebut pandangan hidup itu sendiri mengalami perkembangan dan perubahan. Sejujurnya sejumlah teman itu lebih banyak muncul sebagai pemikir, pengolah gagasan dan penulis. Secara pribadi dari dekat, banyak yang saya tidak kenal. Namun, lewat karya-karyanya saya dapat merasa amat dekat dengan beberapa buah pikiran mereka.

Sewaktu terombang-ambing antara dua dunia yang berbeda, bisnis dan spiritualitas, beberapa di antaranya menawarkan diri untuk mencari jalan keluar. Yang dilihat bukannya sebuah jalan kompromi, melainkan terobosan baru yang penuh makna. Sesudah abad informasi maka kelanjutannya kini disebutnya sebagai abad spiritualitas. Sehubungan dengan itu, saya hanya akan menyebut beberapa karya mereka. Seperti The Corporate Shaman karangan Richard Whiteley (sebelumnya dikenal dengan buku The Customer Driven Company), The Corporate Mystic oleh Gay Hendricks Ph.D. et.al dan The Inner Edge karya Richard Wedemeyer dkk.

The Corporate Shaman menuturkan shaman—asal kata bahasa Tungis di Siberia—sebagai penyembuh perusahaan yang "dapat melihat dalam gelap". Dalam kisah perumpamaan itu bisnis perusahaan Primetec inc. mengalami kekusutan dan kemunduran. Untung ada manajer Jason Hand, shaman modern yang berperilaku layaknya seorang eksekutif masa kini. Hanya bedanya, ia seorang penyembuh dengan sifat welas asih, tetapi sekaligus juga seorang pejuang yang melatih kekuatan (power). Kedua sifat yang seperti bertabrakan itu, berhasil diseimbangkan, sembari menekan rendah ego yang kerap merasa serba tahu. Walau Jason Hand berpengalaman puluhan tahun dan menyandang MBA dari Wharton, ia jujur mengakui untuk sejumlah hal ia merasa betul tidak tahu. Dari ketidaktahuannya itulah ia dengan rendah hati mau mencari jawaban. Agaknya di situ terletak kekuatan sejati seorang shaman korporat.

Samentara The Corporate Mystic atau "mistikus korporat" tak ada hubungannya dengan istilah "mistik" dalam arti klenik yang berkonotasi negatif itu. Kedua penulisnya, Dr. Gay Hendricks dan Dr. Kate Ludeman, setelah melakukan ribuan jam wawancara menyimpulkan, bahwa di perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern kini mulai bemuinculan para mistikus atau sufi korporat. Apa ciri yang membedakan mereka dengan kaum lainnya? Mereka memiliki 12 sifat khas yang senantiasa coba diterapkan daiam pekerjaan setiap harinya. Di antaranya dapat disebut mereka menerapkan rumus unggulan yang memadukan kemampuan logika dengan kepekaan intuisi. Bekerja dengan dua tangan pasti lebih efektif dibanding kalau hanya dengan satu tangan. Kebanyakan kaum eksekutif kita lemah dalam hal intuisi karena untuk mernperoleh kepekaan perlu latihan semacam meditasi secara disiplin setiap harinya. Intuisi itu sendiri tidak sama dengan perasaan atau feeling yang kerap melengkapi pikiran atau datang bersama dengan pengalaman. Ia adalah suara dari lubuk hati kita yang paling dalam yang bukan dari hasil penalaran, perasaan atau pencerapan inderawi.

Hal lainnya yang perlu disebut adalah para sufi korporat itu mempunyai kejujuran tinggi (tak hanya dalam masalah uang, tetapi juga berani membeberkan kelemahan diri tanpa peduli dengan citra); visi rnerancang jauh ke depan, tetapi fokus perhatian pada bumi yang dipijak; bekerja efisien dengan memusatkan perhatian sepenuhnya pada rnomen sekarang (living in the present moment).

Dialog berikut ini cukup menarik untuk disimak bersama,

Manajer X: Saya adalah pekerja keras. Jika saya belajar meditasi, apakah hal itu tak akan mengganggu pola kerja saya?
Pertapa Zen: Tidak, tidak. Meditasi hanyalah akan membuat dirimu menjadi tenang, relaks. Siapa bilang bekerja itu harus dengan keras, tegang? (The Corporate Mystic, Gay Hendricks, Ph.D. dan Kate Ludeman, Ph.D.)

Bercermin kepada Jung
Perjalanan melewati sekian dimensi memberi banyak perubahan pada cara pandang saya. Ada orang yang semula saya hormati, tetapi dalam perjalanan waktu penghargaan saya menjadi berkurang terhadapnya. Sebuah contoh: Gus Dur. Sebaliknya, ada juga orang yang semakin didalami malah menimbulkan sikap kagum akan kedalaman dan keluasan wilayah yang pernah dijelajahinya. Pada saat saya tengah mengembara, ternyata ia sudah mendahului menyelam amat jauh dengan perjalanan dirinya. Salah seorang di antaranya ialah Carl Gustav Jung (1875-1961), seorang doktor psikiatri, psikolog, tetapi juga ahli metafisika dengan minat amat luas terhadap banyak bidang.

Sejak kecil Jung sudah menunjukkan diri sebagai anak introvert—melankonik, yang suka melamun, bermimpi dan berkhayal. Alkisah dituturkan dia kerap duduk sendirian di sebuah batu besar sembari bertanya dalam hati: "Apakah saya yang sedang duduk di atas batu atau saya adalah batu di atas mana dia tengah duduk?" Ungkapan sernacam itu menimbulkan analogi dengan pertanyaan Chuang-tse, seorang Taois terkemuka, setelah dia terjaga dari mimpinya. "Apakah saya tadi bermimpi menjadi kupu-kupu atau saya adalah kupu-kupu yang bermimpi menjadi Chuang-tse?" Suatu pertanyaan yang menyerempet masalah transformasi kehidupan.

Ada suatu periode (1907-1913) ketika Jung yang dua puluh tahun lebih muda merasa dekat dengan Freud. Kebetulan keduanya tertarik pada tafsir mimpi dalam hubungannya dengan wilayah ketidaksadaran (unconsciousness) manusia. Keduanya mula-mula saling menghargai dan pernah terpikir oleh Freud untuk menjadikan Jung sebagai "putra mahkota"-nya. Namun, dalam perjalanan waktu terkuak perbedaan mendasar di antara mereka, hingga perpecahan menjadi tak terhindarkan. Freud melihat "ilmu" eksoterik dan agama hanya ilusi, sedangkan Jung berpendapat aspek spiritual dari manusia adalah amat penting. Di mata Jung, Freud dianggap rnemberi tekanan berlebihan pada aspek libido seksualis; apa-apa senantiasa ditinjau dari kacamata seks. Sementara Freud menuduh Jung kurang rasional, karena memberi tempat kepada spiritualisme dan okultisme. Freud juga berpendapat, ketidaksadaran manusia itu didominasi oleh instink dan represi, sedangkan bagi Jung wilayah ketidaksadaran itu memiliki dimensi kreatif dan spiritual. Dua-duanya tokoh akbar di bidang psikiatri dan psikologi, tetapi dengan pendapat yang saling berlawanan.

Suatu saat sewaktu perdebatan antar-mereka memuncak, tiba-tiba Jung merasa wilayah sekitar uluhatinya (solar plexus) menjadi memanas dan mendadak terdengar letusan keras dari lemari buku. Lemari itu guncang dan ambruk, lalu Jung berseru "sebentar lagi akan terjadi ledakan kedua". Benar. Braakk! Dengan ini Jung ingin menjelaskan ledakan itu berasal dari energi psikis yang tak berhasil dikendalikan dan selama ini tak pemah dipercaya oleh Freud (Menarik untuk diteliti ada-tidaknya kesamaan pola antara bekerjanya energi psikis dengan bangkrinya tenaga dalam). Dalam kehidupan Jung peristiwa semacam ini (mind over matter) beberapa kali pernah dia alami sebelumnya.

Apayang menarik perhatian saya dari perjalanan hidup Carl Jung? Ternyata sebagai ilmuwan besar ia berani mempertaruhkan reputasinya untuk menyelidiki bidang-bidang kontroversial, seperti mistisisme, paranormal, alkimia, badan halus (aura), teka-teki UFO dan I Ching. Ia tidak bersikap apriori tertebih dulu, tetapi juga tidak serla merta langsung percaya begitu saja.

Sebagai peneliti ia tidak memelihara jarak, melainkan terjun langsung untuk mengalami sendiri, dengan semangat mau memahami (verstehen). Ia menjadi pelaku yang terlibat intens sebagai subjek-objek dalam sejumlah penelitian. Sepertinya untuk menemukan terapi terhadap pasiennya, Jung tidak keberatan menjadi "kelinci percobaan". Dalam keadaan mimpi dan setengah sadar Jung melihat bayangan khayali, fantasi-fantasi dan gambaran aneh-aneh. Mulai dari bangunan gelap tersembunyi bawah tanah, gua purba, ular hitam, burung pekakak yang baru mati, sampai makhluk-makhluk ganjil yang bermunculan.

Setema berbulan-bulan tampaknya Jung larut dalam perjalanan ke alam tak sadarnya sekaligus melakukan konfrontasi terhadapnya. Ia mengalami disorientasi, kekacauan dan gangguan batin karena keberaniannya menyelam sisi-sisi paling gelap dan terdalam dari jiwanya. Dari alam tidak sadarnya muncul sosok-sosok "roh", seperti Philemon, Eliyah, Anima, Ka yang mengajaknya bertukar pikiran.

Apakah Jung telah menjadi gila? Seperti ia mengalami guncangan-guncangan, tetapi akhimya setiap kali mampu lepas keluar dan pulih kembali:.Yang menakjubkan, dari ziarah batin semacam itu Jung memperoleh inspirasi untuk kelahiran karya-karya besarnya. Seperti penemuan utamanya berupa alam tak sadar kolektif (collective unconsciousness), kumpulan arketip (archetypes), keempat fungsi kesadaran (pikiran, perasaan, intuisi dan penginderaan) sinkronitas (ada yang menyamakan dengan "penyelenggaraan Ilahi") dan individuasi (perjalanan diri mencari keutuhan). Jung yang suka membaca Also Sprach Zarathustra karya Nietzsche—di samping Goethe dan Kant—pasti menyadari bahwa chaos (kekacauan) dalam diri itu perlu ada untuk memberi tempat bagi kelahiran bintang hidup yang menari berkilauan.

Saya coba menarik pelajaran dari ihwal Jung dan suka membatin sendiri. Tampaknya penemuan dan terobosan besar terjelma, kalau sebelumnya terjadi proses penempaan lewat kesakitan (psikis dan fisik). "No Pain; No Gain" (Tanpa Kesakitan, Tanpa Perolehan), agaknya merupakan semboyan yang rnasih berlaku. Justru di tepi chaos, kreativitas besar itu dapat lahir. Ini adalah pesan yang juga disampaikan oleh para penganut teori kompleksitas (complexity theory). Dalam keadaan serba tertib dan rapi jali, yang muncul hanya kemandulan. Tekanan dan persaingan eksternal dan internal senantiasa diperlukan untuk dinamika kelompok dan kemajuan. Siapa takut?

Mencoba Menarik Perbandingan
Menelusuri Jung, walau hanya selintas, membuat saya tercenung, sebab tanpa disengaja tampaknya ada juga kemiripan minat antara kami. Jung tertarik kepada gejala supranatural, parapsikologi dan metafisika. Selain yang sudah disebutkan terlebih dulu, juga terhadap mukjizat keagamaan, medium dan kesurupan, spritualisme, astrologi, kehidupan setelah mati dan sebagainya. Jadi, bidang jelajah Jung sungguh teramat luas. Sementara saya coba memusatkan diri pada aspek-aspek tertentu saja, seperti pernapasan dan energi vital (prana, chi), penyembuhan holistik, meditasi dan bawah sadar serta prakognisi. Menjadi ahli di satu bidang saja seperti prana sudah sulit, apalagi ingin mumpuni di banyak macam bidang. Namun, Jung melakukan itu semua sebagai ilmuwan dengan latar belakang ilmu kedokteran jiwa, psikologi, arkeologi, mitologi, mistisisme dan filsafat. Hasil telaah dan temuannya itu dituangkan dalam berjilid-jilid buku dan makalah. Gaya bahasanya penuh erudisi, serius dan ditujukan lebih untuk kalangan akademik. Sebaliknya tinjauan saya lebih merupakan kesan dan refleksi seperti seorang jurnalis. Jung seorang ilmuwan besar, sedangkan saya orang yang lebih pragmatis yang mencoba menarik manfaat dari apa yang diperlajari.
Akhir-akhir ini yang menarik minat saya adalah ditemukannya buku The Tao of Jung (1996) oleh David Rosen MD dan artikel John Ryan Haule "Jung's Practice of Analysis: A Western Parallel To Ch'an Buddhism" (Journal of Individual Psychology, 2000). Tanpa disangka di sana dibeberkan sejumlah kesejajaran antara ajaran Taoisme dan Zen dengan buah pikiran Jung. Apakah ini koinsidensi biasa atau kebetulan yang mengandung makna?

Memang kemudian hari Jung banyak mendalami I Ching dan Lao Tzu, tetapi saya tak mengetahui apakah itu yang mempengaruhi buah pandangannya. Atau sebenarnya sejak semula, sedari muda Jung memang pada dasamya seorang Taois. Kalau memang demikian halnya, tampaknya persamaan dan kesejajaran wacana dan kimiawi itu dapat terjadi di mana-mana. Antara manusia di Barat dengan insan lainnya di Timur tanpa mereka perlu saling rnengenal sebelum dan sesudahnya.

Di mata saya Jung dan beberapa yang lain (seperti penutls The Corporate Shaman dan The Corporate Mystic) telah berhasil membangun jembatan antara dunia-dunia yang berlainan. Antara ilmu dengan spiritualitas, antara fisik dengan metafisika, antara rasional dengan suprarasional. Saya dengan gembira meniti jembatan di atasnya dan hilir mudik bergerak dari tepi satu ke tepi lain serta sebaliknya. Ada rasa bahagia karena perjalanan hidup ini telah menuntun saya untuk tidak berhenti mengendap di salah satu tepiannya.

Indra Gunawan, pencinta buku dan tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2 No. 12 Agustus 2004
08.33
thumbnail

Andai Saya Guru Bahasa dan Sastra Indonesia

Posted by Cinta Buku on

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukkan siswa bagaimana menulis puisi, cerpen atau novel. Sehingga, ketika mereka lulus Aliyah (SMA) mereka sudah menghasilkan puisi-puisi, cerpen-cerpen, atau novel-novel. Hanya sayang, karena kebanyakan (?) guru bahasa dan sastra kita tidak bisa menulis, siswa pun ikut-ikutan tidak bisa menulis. Sebagaimana gurunya: hanya bisa membuat daftar novel klasik yang mereka sendiri belum tentu pernah membacanya.

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia; apa yang akan saya lakukan?

Prolog
Di rumah saya banyak buku anak-anak yang saya dapatkan dari SD. Kebanyakan buku itu adalah buku-buku cerita yang saya curi ketika saya masih SD. Sekarang saya kuliah semester 6. Jadi, buku itu sudah ada sejak 9-10 tahun lalu. Beberapa memang sudah hancur, tapi kebanyakan masih bisa dibaca. Masih menyisakan kenangan bagaimana saya mendapatkannya ketika pulang sekolah.

Hampir setiap hari saya dengan teman-teman SD membaca buku di perpustakaan sekolah yang satu ruangan dengan ruang kepala sekolah. Waktu membaca hanya ketika istirahat. Bagi saya, saat itu, dunia itu luar biasa. Karena dunia dilihat lewat buku, aktivitas membaca menjadi sangat luar biasa. Saya banyak tahu sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak mungkin terjangkau, bisa saya ketahui hanya dengan membaca. Terus terang, saya sangat senang ketika bisa mengeja dan menuliskan sesuatu. Guru SD kami menyuruh, setiap kali menemukan kertas apa saja, koran misalnya, harus dibaca. Dan memang, bisa membaca itu hebat!

Tetapi masalahnya rumah kami di kampung. Bapak ibu kami petani dan pedagang kecil. Tidak mampu membeli buku. Kalupun ada uang, ke mana kami harus membeli buku. Di kampung saya tidak ada toko buku bacaan. Paling saya hanya bisa meminta ibu membelikan saya TTS dan komik Tatang S jika sedang pergi ke pasar. Hal itu saja yang bisa dilakukan. Sementara setiap hari kebutuhan membaca terus melonjak, buku-buku tidak punya, jalan keluarnya meminjam buku ke perpustakaan SD itu.

Sehari dua hari, terasa kalau memunyai buku bacaan itu asyik. Kemudian terpikir, kalau tidak dikembalikan apakah pihak sekolah pada tahu? Maka dicobalah buku-buku yang dipinjam tidak dikembalikan. Terbukti, tidak ada yang menghukum karena tidak ada yang tahu. Saya, mungkin teman saya juga, hingga kini tidak pernah punya perasaan bersalah.

Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat teman-teman membawa buku dengan tidak lapor dulu kepada penjaga perpustakaan. Saya bertanya kepada kakak yang dua tahun lebih tua, dua kelas lebih tinggi. Kata kakak saya, kalau ingin buku, ketika istirahat, masuk saja ke perpustakaan, pilih buku yang kamu suka. Nanti masukkan ke celana, bajunya keluarkan. Seperti itu kakak saya memberi trik bagaimana mencuri buku. Alhamdulillah, beberapa kali mencuri buku saya selamat.

Lulus SD saya meianjutkan ke Tsanawiyah. Meski buku di perpustakaan tidak banyak, tapi di perpustakaan itu saya sempat membaca Salah Asuhan, Deru Debu dan lain-lain. Lama-kelamaan terbangun kesadaran bahwa penulis itu hebat. Luar biasa. Saya masih ingat bagaimana herannya ketika SD, saya sering menemukan koran yang dijadikan bungkus sayuran, jika ibu berbelanja. Saya tahu, koran itu terbitnya setiap hari. Terapi masalahnya, bagaimana koran sebanyak itu ditulis bisa selesai dalam sehari. Saya tidak sempat berpikir, kalau penulis koran yang sekarang saya tahu mereka wartawan menulisnya tidak sendirian.

Deru Debu dan beberapa antologi puisi itulah yang menyebabkan saya meminta ibu membelikan saya buku tulis yang bagus. Di buku itu, saya menulis puisi. Puisi-puisi itu awalnya saya tulis di mana saja. Setelah dianggap bagus, baru dipindahkan ke buku itu. Dan, sebagaimana juga buku-buku puisi saat ini, saat itu saya hanya membolehkan satu halaman untuk satu puisi. Sampai halaman-halaman buku tulis yang saya katakan tadi habis. Kumpulan puisi itu saya beri nama dengan sebuah judul puisi. Namanya: Duri Durian.

Tahun 1997, saya sekolah Aliyah di Menes Pandeglang, buku Duri Durian itu tidak dibawa dan ketika dicari sudah tidak ada. Seandainya saja sekarang masih ada, bagaimana perkembangan saya menulis puisi bisa diketahui. Kesadaraan baru muncul: dokumentasi itu sangat penting!

Di Aliyah semuanya berubah. Kebiasaan menulis cerpen dan puisi tidak pernah dilakukan, sirna. Semua waktu dihabiskan untuk membaca buku-buku pelajaran. Tidak begitu, saya bisa tidak mendapatkan rangking. Pola pikir kami dibentuk untuk bersaing. Siswa yang mendapatkan nilai bagus adalah siswa hebat; siswa yang mendapatkan rangking adalah siswa yang cerdas. Kehebatan dan kecerdasan semuanya diukur dengan angka. Sekolah menjadi lembaga penuh persaingan, bukan kerja sama. Sekarang hasilnya mana? Angka-angka itu ternyata tidak bisa menolong saya! Hingga akhirnya saya menemukan kesadaraan baru tentang belajar setelah membaca The Accelerated Learning Handbook, meski secara praktis sudah sangat lama. Bahwa belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif. melainkan mengumpulkan pengetahun secara aktif; bahwa kerja sama di antara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.

S3 dan Rumah Dunia
Tahun 2000 saya lulus Aliyah. Merasa tidak punya uang, saya memutuskan untuk tidak kuliah. Saya hanya akan meneruskan mesantran saja. Belum saya katakan, jarak kampung saya dengan Menes tempat saya sekolah bisa ditempuh dalam waktu 3-5 jam perjalanan mobil yang mengebut. Karena itu, di Menes saya mesantran. Jadi, saya akan mesantran saja. Hingga saya menemukan brosur pendidikan komputer D1 dengan bonus 6 bahasa Asing. Saya bilang ke orang tua, saya ingin kuliah meski hanya satu tahun. Saya ingin orang tua mau membiayai saya. Orang tua setuju walau agak keberatan dengan alasan... tidak punya uang.

Saya kuliah satu tahun di Tangerang. Ternyata, lembaga pendidikan itu bullshit. Janji doang. Enam bahasa yang dijanjikan tidak pernah ada. Bahasa Jepang yang diberikan beberapa pertemuan pun setelah saya ojok-ojok, setelah beberapa kali saya diintrogasi dan diancam akan dikeluarkan karena banyak ngomong.

Di Tengerang saya mesantran juga, seperti ketika sekolah Aliyah di Menes. 

Tidak sampai lulus, saya pergi ke Serang. Tidak bilang kepada siapa-siapa kalau saya mau kuliah S1 di Serang. Tahun pertama kuliah, saya masuk Lembaga Pers Mahasiswa. Tahun kedua saya jadi sekretaris umumnya. Mulailah kemampuan menulis dilatih dengan harus terus menulis buletin mingguan dan berita mingguan. Tahun ketiga, saya bergabung dengan Sanggar Sastra Serang (S3) yang diasuh oleh penyair Toto ST Radik. Di sana saya kembali belajar menulis puisi dan cerpen. Tidak lama saya mendapatkan informasi baru, selain S3 ada juga Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang mengajarkan bagaimana menulis. Sekarang PRD berubah nama menjadi Rumah Dunia (RD). Kini, Rumah Dunia memunyai Sekretaris benama: Ibnu Adam Aviciena—yaitu saya. Di sana saya belajar menulis jurnalistik, fiksi dan skenarioTV.

Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya tunjukjkan bagaimana menulis puisi dan cerpen (novel). Bagaimana saya menunjukkannya? Seperti Toto ST Radik di S3 dan Gola Gong di Rumah Dunia menunjukkan saya bagaimana menulis puisi, cerpen (novel) dan skenario TV. Sebuah metode belajar yang sederhana, gampang dan tidak melayang-layang di angkasa. Melainkan menapak di bumi! Bisa dipraktikkan dan bisa dibuktikan. Tidak seperti ketika saya Aliyah belajar bahasa dan sastra Indonesia, yang dipelajari tidak beranjak dari fungsi imbuhan, majas, dan menghapal daftar novel klasik beserta ceritanya! Hingga saya keluar Aliyah, hingga terasa tidak menemukan mana hasilnya mempelajari itu selama tiga tahun!

Rasanya, kalau belajar bisa lebih cepat dengan hasil lebih berkualitas dan ada buktinya, kenapa mesti memilih belajar yang hanya mampu memberi angka-angka?

Teori yang Menapak Bumi
Belajar teori pada prinsipnya untuk mengetahui yang ideal, yang seharusnya. Bisa dikatakan, teori sebagai gambaran abstrak dari yang praktis. Jadi, dengan teori diharapkan praktik terus menuju yang ideal lewat gambaran abstrak itu. Ketika teori tidak pernah bisa disentuh oleh hal-hal yang praktis, proses belajar bisa dianggap gagal. Contoh sederhana, kakak saya bilang waktu mengajari saya naik sepeda. "Naik sepeda itu pinggang harus stabil dan imbang..." Sekalipun kalimat ini terus dijejalkan ke dalam otak saya dan begitu paham maksud kakak saya lewat pernyataan itu, proses belajar akan tetap dianggap gagal ketika saya tidak bisa menaiki sepeda. Begitu maksud saya dengan paparan teori dan praktik. Singkatnya, teori tidak melayang-layang tak terjangkau. Teori harus bisa menapak di bumi, bisa dirasakan.

Kenyataan ini disadari betul oleh pengelola S3 dan Rumah Dunia. Dalam proses belajar menulis puisi, cerpen (novel) dan skenario TV di kedua sanggar itu, prinsip "teori yang menapak ke bumi" begitu diperhatikan. Teman-teman yang belajar minggu pagi di S3, setiap pertemuan harus mengumpulan puisi atau cerpen. Puisi atau cerpen itu dibahas setelah mempelajari teori: apakah puisi, bagaimana menulis puisi dan sebagainya. Teori-teori yang dipelajari itu, pada saat pembahasan dijadikan kacamata untuk menilai puisi-puisi itu. Karena dari awal, teori dipahami sebagai "alat" dan tujuan ideal, bahwa menurut teori anu, puisi itu harus begini dan harus begitu.

Tidak hanya sampai di situ, puisi-puisi (di S3, fokus belajar pada puisi) yang sudah dibahas, jika menurut "kacamata" kurang bagus, harus diperbaiki dan minggu depan harus dikumpulkan dengan puisi baru. Baru setelah dipandang ok disarankan untuk dikirim ke koran lokal, jika ke koran nasional belum berani, belum pede. Puisi dimuat, penulisnya harus membacakan, selain menjelaskan bagaimana puisi itu bisa lahir. Orang bilang proses kreatifnya.

Banyak metode belajar yang digunakan Toto ST Radik untuk menunjukkan jalan menulis puisi. Dikatakan menunjukkan jalan karena menurut presiden S3 ini, menulis tidak bisa diajarkan. Salah satu metode yang dipakai, yaitu dengan meminta setiap anak sanggar menyumbangkan satu kata—apa saja. Kata-kata yang terkumpul secara ramai-ramai dibuat puisi. Kata dasar yang disumbangkan boleh ditransformasi ke bentuk lain dengan menambah imbuhan. Hasilnya, sebuah puisi yang indah. Meski ini tentu tidak lahir dari sebuah ide yang menggatalakan kulit otak. Puisi lahir dari konstruksi kata-kata. Metode belajar seperti ini pernah juga disampaikan Jamal D. Rahaman dari majalah sastra Horison.

Berharap puisi dimuat tiap minggu di koran lokal tidak mungkin, mengirimkan ke media nasional belum berani, solusinya, S3 memilih membuat media sendiri. Yang dilakukan pada masa-masa awal, yaitu saat kerja sama dengan Horison bernama Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSS1) menerbitkan jurnal Ketika; pada program Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI), jurnal lain juga akan dibikin, Nama yang sedang dirancang adalah Koran Sastra.

Menurut Totot ST Radik, penyair memang gila. Orang lain cari untung, ini mencari rugi. Menerbitkan jurnal itu butuh tulisan, tulisan dibuat sendiri. Jurnal didesain sendiri, dicetak dengan uang sendiri, dijual dengan tenaga sendiri, tidak laku dibagi-bagikan sendiri. Kemudian kami menerbitkan lagi dengan segala-galanya sendiri. Lalu, di sanggar kami menertawakan diri kami. Kami bilang, "Di sini kami ada dan berbahagia."

Menjelang zuhur, kami pergi ke Rumah Dunia untuk mengikuti pelajaran berikutnya, tentang jurnalistik, fiksi dan skenario TV. Apa yang dikerjakan di S3 juga harus dikerjakan di Rumah Dunia. Tiap peserta setiap pertemuan harus menyerahkan tulisan. Di sini lebih fokus ke cerpen. Cerpen-cerpen itu dibaca dan dikritik oleh instruktur, terutama Gola Gong. Cerpen-cerpen yang dianggap memenuhi standar dikumpulkan untuk dijadikan antologi. Angkatan pertama sudah membuahkan hasil: antologi cerpen Kacamata Sidik, yang diterbitkan Senayan Abadi Publishing. Buku kedua sedang menunggu keputusan penerbit.

Lebih jauh ke depan, Rumah Dunia juga sedang mempersiapkan media sendiri. Kalau S3 berupa jurnal, Rumah Dunia entah apa. Pengelolanya sedang mempersiapkan uang untuk membeli komputer desain grafis.

Harapan yang berkali-kali dilontarkan, Rumah Dunia ingin membangun paper community. Memang saat ini juga sudah ada media berupa buletin. Tetapi itu hanya berfungsi untuk menampung informasi yang tidak tersebarkan lewat jurnal mingguan. Buletin ini terbit sebulan sekali.

Di S3 dan Rumah Dunia, kami menyadari teori belajar itu harus dari pengalaman. Kami mengatakan telah belajar menulis skenario kalau kami pernah menulisnya. Kami belum mengatakan sudah belajar jika hanya baru bermain-main pada wilayah teori. Teori tidak boleh terbang. Teori harus menapak di bumi bersama praktik.

Inilah!
Seandainya saya guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan menunjukkan siswa bagaimana menulis puisi cerpen atau novel. Sehingga, ketika lulus Aliyah (SMA), mereka sudah menghasilkan puisi-puisi. cerpen-cerpen, atau novel-novel. Bukan menunjukkan judul-judul novel yang pernah ditulis oleh novelis masa lalu. Saya akan meminta kelas membentuk kelompok. Masing-masing kelompok lima atau sepuluh orang, misalnya memerankan sebuah komunitas yang terdiri dari penerbit koran/buku, editor, penulis, pembaca, pembicara dalam diskusi bedah buku dan sebagainya. Tiap-tiap mereka bergiliran memerankan peran-peran itu. Masing-masing mereka harus bertanggung jawab terhadap kesuksesan teman-temannya. Kalau perlu, siswa diwajibkan membawa mesin tik ke sekolah. Kelas menjadi ruang redaksi, ruang penerbitan! Bukan tempat siswa mendengarkan guru ceramah tentang fungsi imbuhan me-, di-, dan teman-temanya, yang kemudian siswa diminta memberikan contoh.

Saya andai seorang guru bahasa can sastra Indonesia, tidak akan mengulangi "kesalahan" yang sudah terjadi pada pembelajaran yang diberikan guru bahasa dan sastra Indonesia saya ketika Aliyah. Saya bersama teman-teman lain, dan mungkin sedang berlangsung pada siswa-siswa yang sekarang masih Aliyah (SMA), telah belajar bahasa dan sastra Indonesia selama enam tahun: hasilnya nihil. Kalaupun ada satu dua anak Aliyah (SMA) yang mampu menulis novel, secara nasional sistem pendidikan tetap dianggap gagal. Bandingkan angka yang mampu menulis dengan seluruh siswa Aliyah (SMA). Perbandingan yang terlalu jauh. Pembelajaran masih dianggap gagal meski perbandingan yang mampu dan tidak mampu 1:1. Maka, bagi saya untuk menjadi pengarang tidak mesti kuliah di fakultas sastra, atau memang tidak mesti kuliah di mana pun. Gola Gong bilang, dia berhenti kuliah karena perguruan tinggi tidak menjamin dirinya untuk menjadi pengarang!

Jika saya seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, akan saya katakan kepada siswa saya bahwa penulis itu hebat. Sebagaimana anehnya saya ketika masih SD membaca koran. Bagaimana teks koran yang begitu banyak bisa diterbitkan setiap hari. Seperti juga kekaguman saya kepada yang bisa menulis buku. Betapa hebatnya mereka mampu memberikan pencerahan; mampu menggerakkan saya untuk tetap sekolah walau orang tua hanya petani kecil. Pikiran saya bilang, tuh tokoh anu dalam buku anu juga menjadi orang sukses. Padahal dia orang melarat!

Hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra Indonesia adalah dengan menjadikan menulis antologi puisi/cerpen sebagai syarat bisa mengikuti ujian atau kelulusan, umpamanya. Guru bisa membagi kelas dalam kelompok-kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat antologi puisi/cerpen, dicetak di percetakan. Atau jika masih juga kesulitan, bisa menerbitkan edisi fotokopi. Ide yang menarik saya kira. Buku-buku kumpulan puisi itu selain menjadi kenangan, bisa didokumentasikan di perpustakaan pula. Adik-adik kelasnya bisa membahas sejauh mana kemampuan kakak kelas berkarya sastra.

Di sebuah SMA di Serang, ide ini sudah dilaksanakan. Guru bahasa dan sastra Indonesia mewajibkan kelas tiga untuk membuat antologi puisi. Mereka bilang, mereka terinspirasi oleh terbitnya antologi puisi Sembunyi Sampai Mati yang diterbitkan oleh Sanggar Satra Serang dan Rumah Dunia, yang kebetulan, tiga dari penulis puisi pada buku itu anak kelas tiga SMA tersebut. Namun, ketika S3 dan Rumah Dunia memestakan—istilah kami untuk mendiskusikan—antologi itu, guru bahasa dan anak SMA yang hadir hanya beberapa orang. Padahal, buku yang mereka buat hingga delapan judul, delapan kelompok. Sialnya, menurut Firman Venayaksa mahasiswa S2 Sastra Ul yang menjadi pembahas, beberapa puisi pada antologi itu adalah puisi penyair terkenal. Anehnya, guru bahasa dan sastra Indonesianya, sepertinya tidak tahu. Selayaknya, si guru yang memberi tugas itu, sekalian menjadi "editor", siapa tahu ada puisi orang yang diaku muridnya. Sialnya (lagi), pengatasnamaan puisi milik orang ini terjadi.

Ide ini, ide yang bagus. Pantas saya (kita) lakukan jika saya (kita) menjadi (atau tidak) menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia (sekalipun). Tentu yang perlu menjadi catatan, menulis puisi atau cerpen sebagai syarat kelulusan bukan beban. Melainkan pekerjaan yang mengasyikkan, pekerjaan yang menanamkan kesadaran bahwa menjadi penulis berarti menjadi orang hebat!

Menanamkan kesadaran bahwa menjadi penulis berarti menjadi orang hebat, atau mentradisikan menulis, tentu bukan hanya kesenangan yang bisa dilakukan oleh seorang guru bahasa dan sastra Indonesia saja. Maka, kalaupun bukan guru bahasa dan sastra Indonesia, saya akan membangun tradisi menulis, tradisinya orang-orang hebat!   
        
Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa STAIN Serang pada Program Studi Pidana dan Politik Islam, Menjadi Sekretaris Rumati Dunia dan belajar menulis junalistik, fiksi dan skenario TV di sana. Dwilogi novel Proposal untuk Tuhan yang ditulisnya dalam proses penerbitan. Sekarang sedang menyelesaikan penulisan novel berikjtnya.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11 Juli 2004.
09.07
thumbnail

Toko Buku Ultimus Tak Sekedar Memberi Diskon

Posted by Cinta Buku on

Sore menjelang magrib, sepasang suami-istri bergegas memasuki sebuah toko buku tak lama setelah mereka memarkir mobil. Di dalam toko, mereka sejenak asyik melihat dan memilih beberapa judul buku. Setelah menemukan buku yang dicari, mereka pun segera menuju pojok toko buku, tempat pengelola toko buku yang juga bertindak sebagai kasir berada. Di sana, mereka tak langsung membayar, tapi mengobrol. Obrolan yang keluar tidak seperti obrolan antara seorang pembeli dan penjual, melainkan obrolan yang cukup bersahabat antara tiga orang pecinta buku.

Saat obrolan masih berlangsung, beberapa mahasiswa memasuki toko buku, seperti sepasang suami istri tadi. Mereka mulai asyik melihat dan memiiih buku koleksi dari sekitar 40 penerbit yang tertata cukup rapi pada rak buku yang terletak di kiri dan kanan toko.

Itulah sedikit suasana dalam Toko Buku Ultimus saat MATABACA menyempatkan diri singgah ke toko buku yang terletak di tepi Jalan Karapitan, Bandung. Menurut Bilven yang bertugas melayani sekaligus mengelola toko buku ini, sedikitnya ada sepuluh orang dalam sehari membeli buku-buku yang dipajang di Toko Buku Ultimus. Dari kunjungan para pembeli tersebut selama tiga bulan terakhir, toko buku yang dikelolanya memperoleh omzet rata-rata sekitar 25 juta rupiah per bulan. Perolehan ini tiga kali lipat dari perolehan kotor yang pernah dicapai saat pertama kali toko buku dibuka pada pertengahan Januari 2004 yang hanya sekitar 8 juta rupiah.

Diskon
Sepintas tak ada perbedaan antara toko buku ini dengan toko buku pada umunnya. Namun, saat memasuki toko dan "menyelami" lebih dalam, ada beberapa hal yang membuatnya rada beda. Selain menawarkan suasana bersahabat, Toko Buku Ultimus memiliki jadwal buka yang panjang, yakni setiap hari mulai pukul 09.00 hingga larut malam. Toko buku ini pun memberikan diskon nyaris ke seluruh buku yang dipajangnya dengan rate minimal 20 persen. Tak heran, bila toko buku ini berani mengusung jargon "Toko Buku Diskon". Menurut Bilven, diskon menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan Toko Buku Ultimus lantaran toko buku ini harnya menyediakan buku-buku humaniora yang terdiri dari buku-buku sastra, filsafat, serta sosial-politik. Peminat dari buku-buku ini kebanyakan mahasiswa.

Selain memberikan diskon reguler dengan rate 20 persen, toko buku ini menyajikan "bulan diskon" dengan memberikan rate diskon lebih besar terhadap buku-buku yang diterbitkan penerbit tertentu. "Setiap bulan, kita bekerja sama dengan penerbit-penerbit tertentu untuk membuat 'bulan diskon'. Misalnya, bila reguler, mereka (penerbit—red.) masuk ke kita dengan memberikan rabat 30 persen, saat bulan diskon mereka memberikan rabat sebesar 50 persen. Bulan ini dengan penerbit A, B, dan seterusnya," papar Bilven yang sehari-hari dibantu dua sahabatnya, Tiwi dan Hakim, untuk mengelola Toko Buku Ultimus. Lebih lanjut pria yang saat ini sedang merampungkan tesis S2 di Institut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwasanya program ini (bulan diskon—red.) sangat menguntungkan semua pihak. Pembeli diuntungkan dengan diskon yang lebih besar sehingga buku menjadi lebih murah, sedangkan bagi penerbit juga bisa memperoleh keuntungan yang signifikan karena setoran dari hasil penjualan buku meningkat. Sebagai pembanding antara reguler dan bulan diskon, setoran (jumlah uang yang harus disetorkan Toko Buku Ultimus) bisa naik lima sampai sepuluh kali lipat sehingga banyak penerbit yang mau bekerja sama seperti itu.

Perolehan yang meningkat rupanya mengingatkan pengelola toko buku ini untuk menyisihkan sedikit dari keuntungan bersih yang diperoleh. "Sejak April (2004), Toko Buku Ultimus menyisihkan Rp.500 dari setiap buku yang terjual. Hasilnya, setiap bulan diberikan kepada lembaga atau organisasi tertentu. Misalnya, pada April yang memiliki momen hari Kartini, Ultimus memberikannya kepada Institut Perempuan. Harapan kita bukan semata-mata memberi uang, melainkan (uang tersebut) bisa digunakan untuk membuat program-program yang berhubungan dengan literatur, seperti pembuatan booklet. Jadi, semua masih dalam konteks literatur," ujar Bilven.

Sampai Juli 2004, Ultimus baru berusia sekitar tujuh bulan. Toko buku yang dibuka resmi pada 15 Januari 2004 ini didirikan oleh tujuh orang (Bilven, Fenti, Tiwi, Ayunk, Hakim, Hadi, dan Fredo) yang menjalani pendidikan di kampus yang sama, STT Telkom, dan berasal dari tiga angkatan kuliah berbeda (96/97, 97/98, 98/99) yang kebetulan adalah satu kelompok diskusi dan senang membaca buku. Sehari-hari hanya tiga dari tujuh orang yang mengebla toko buku secara langsung, Mereka antara lain Bilven, Tiwi, dan Hakim. Kesepakatan untuk mendirikan usaha ini muncul sekitar satu tahun silam (2003) setelah beberapa di antara mereka telah menyelesaikan kuliah.

"Setelah sepakat (membuat usaha toko buku), kita membuat sebuah business plan (rencana bisnis), kira-kira toko buku seperti apa yang akan kita rintis. Kemudian, kita mulai melihat beberapa toko buku yang ada di Bandung. Salah satu yang diperhatikan adalah buku apa saja yang mereka jual. Dari sana, kita melihat ada satu jenis buku yang belum dipenuhi secara maksimal oleh toko-toko buku yang ada di Bandung. Jenis buku tersebut adalah humaniora," papar Bilven.

Jenis buku ini memang menjadi salah satu ciri dari Toko Buku Ultimus yang diakui Bilven tidak ingin bersaing secara frontal dengan kios-kios buku di kompleks Palasari yang juga sering memberikan diskon terhadap buku-buku yang dijual dan banyak didatangi mahasiswa.

Persaingan memang bukan kendala yang berarti bagi Bilven dkk. karena memang mereka hanya "melengkapi" pangsa pasar yang dianggap belum digarap optimal. Namun, di luar itu, hal berbau teknis kadang membuat mereka agak kerepotan, seperti keharusan membuat laporan untuk penerbit "Penerbit yang memasukkan buku ke Ultimus sekitar ada empat puluh. Mereka memberikan sistem pembayaran konsinyasi (hasil penjualan diberikan setelah buku terjual pada periode tertentu) dan setiap bulan kita harus membuat laporan. Dengan jumlah penerbit sebanyak itu, artinya minimal satu hari kita membuat satu laporan dan itu kadang bikin repot."

Sampai saat ini, selain rutin menggelar diskon, membagikan katalog, menyisihkan keuntungan bersih, dan tentu saja membuat laporan, Ultimus telah beberapa kali menggelar event yang berkaitan dengan buku. Event ini diadakan sedikitnya tiga kali di ruang Toko Buku Ultimus, seperti peluncuran buku dan diskusi; selebihnya sering diadakan di luar toko buku, yakni kampus. Menanggapi hal ini, Bilven mengatakan, "Soal event, Ultimus biasanya bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan penerbit dan kawan-kawan di kampus dan komunitas budaya. Jadi, kerja sama melibatkan tiga pihak, penerbit, Ultimus, panitia pelaksana (kampus/komunitas budaya). Saat kerjasama penerbit menanggung pembicara/penulis, Ultimus menyiapkan publikasi atau pembicara di Bandung sebagai pembanding." Dengan segenap aktivitas dan pencapaian yang belum banyak diraih, memang wajar bila Bilven dkk. berharap dalam waktu dekat bisa segera membuat Ultimus menjadi tempat mangkal yang lebih nyaman bagi para pecinta buku, yakni dengan mendirikan perpustakaan di samping toko, dan membangun "stage" yang lebih permanen sehingga bisa mengoptimalkan beragam kegiatan yang berkaitan dengan dunia buku. Jadi, semakin memperkuat kesan bahwasanya Ultimus tak sekadar memberi diskon.
 
Agus Setiadi, Pencinta buku tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004
10.56
thumbnail

Menelusuri Buku Kehidupan: Momen Menakjubkan dan Paradoks

Posted by Cinta Buku on

Masih ada kejadian kecil dari Frankfurt Book Fair (Oktober 2003) yang belum dituturkan oleh si empunya cerita. Saat itu, bersama beberapa rekan saya tengah menyusuri sejumlah stan mencari, siapa tahu ada buku Present Moment Wonderful Moment. Mungkin saja ada terselip bagaikan lembaran kertas di tengah gunungan buku di gelanggang akbar tersebut. Memang kami tak dapat mengharap banyak, karena tidak tahu nama penerbitnya, namun kalau ada jodoh atau sinkronitas, apa pun dapat terjadi. Suatu hari kami berhenti iseng, setelah lelah berjalan, di satu stan kecil berukuran 1 x 2 meter persegi: Parallax Press. Sepintas lalu mata mengerling menyapu sejumlah judul buku yang dipamerkan. Tidak begitu banyak, maklum penerbit kecil.

Tiba-tiba rekan Sulaiman Budiman setengah berseru menunjuk, "Bukankah itu buku yang Pak Indra cari-cari?" Si empunya nama datang mendekat. Memang benar di situ terpancang buku hijau tipis Present Moment Wonderful Moment, karangan Thich Nhat Hanh, seorang paderi Zen dari Vietnam. Buku itu sudah lama menarik perbatian saya, setelah James Redfield (Celestine Prophecy dalam bentuk eseinya) beberapa kali mensitirnya. Seperti terjemahan sajak berikut ini:
Menghirup napas,
saya menenangkan tubuhku
Menghembuskan napas,
Saya tersenyum
Mengembara dalam momen
kekinian
Saya tahu ini adalah momen
menakjubkan

Mendekati penjaga stan—sepertinya seorang Vietnam—saya bertanya apa dimungkinkan untuk membeli buku tersebut? Namun, karena buku itu salu-satunya yang dibawa: ia tidak dapat menjualnya. Hanya melihat kegairahan besar yang ada pada diri saya, ia membisiki agar datang pada hari terakhir pameran dan nanti boleh mengambilnya secara cuma-cuma....

Buku tersebut berisi sekumpulan gatha, syair-syair pendek disertai penjelasan dan tafsir oleh penulisnya. Syair-syair itu dapat disenandungkan dalam hati sembari melakukan pekerjaan sehari-hari. Di sinilah letak keindahannya dari "living in the present moment" (hidup dalam momen kekinian). Apa pun yang dilakukan apakah itu membasuh tangan, menyikat gigi, buang air, mencuci piring, menyapu lantai, membaca koran, mendengarkan suara tekukur, menghirup dan mengembuskan napas senantiasa disyukuri dan menjadi kesadaran yang sepenuhnya dihayati. Inilah sikap hidup meditatif yang tenggelam menyadari apa yang terjadi dengan tubuh, pikiran, perasaan dan dunia sekeliling kita. Pekerjaan apapun didekati dengan sikap yang senantiasa baru, seakan-akan baru pertama kali dikerjakan.

Saya kira ajaran Zen ini berbeda dengan sikap hidup yang hedonistis, carpe diem, "tangkaplah hari" mumpung masih ada kesempatan reguk hidup sepuas-puasnya. Umbarlah napsu, karena kesenangan adalah tujuan hidup yang semestinya, Pada Zen, justru kenikmatan dimunculkan dari pekerjaan sehari-hari yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Tak ada upaya untuk memburu peristiwa yang menghebohkan, yang sensualistis, yang dramatis.

Hal lain yang membuat saya tertarik pada Zen adalah pemahamannya mengenai pencerahan (enlightenment) yang berbeda dengan pencerahan (aufklarung) dari Barat. Pencerahan yang berjaya di Barat (1680-1780) itu terlalu mengagungkan rasionalisme dan kebebasan berpikir. Saat itu ada optimisme, bahwa dengan kecerdasan pikiran (IQ) kemajuan peradaban manusia dengan sendirinya niscaya akan menanjak. Kini pandangan semacam itu hanya mempunyai sedikit pengikut. Sebaliknya, pada Zen yang ditekankan adalah pencerahan batin, pengalaman satori, yang bebas dari abstraksi atau kata-kata muluk. Dengan demikian, apakah pencerahan pada Zen mengarah ke kecerdasan spiritual (SQ) yang holistik, yang menganggap pikiran hanya satu dari sekian banyak komponen?

Juga pada Zen, pencerahan bukan milik orang-orang tertentu yang dapat merenung, meditasi berjam-jam ataupun yang sanggup berpikir besar. Ia adalah pengalaman mendadak seperti sambaran kilatan petir yang membuat diri-sejati tiba-tiba terbuka. Guru-guru dan buku dapat menunjuk arah, tetapi pencerahan merupakan pengalaman yang sepenuhnya personal. Sebenarnya potensi pencerahan itu telah lama mengendap pada diri tiap orang—ia adalah indera di luar pancaindera yang tersembunyi, terabaikan. Atau ada juga yang menyebut pencerahan sebagai peristiwa terbukanya "mata ketiga" (the opening of the third eye).

Orang yang telah menerima pencerahan tidak akan mengaku-ngaku, bahwa ia telah tercerahkan. Ia bekerja seperti sediakala, bertingkah laku biasa, hanya orang lain mungkin tidak mengetahui, bahwa pandangan matanya kini sudah sepenuhnya baru, telah mengalami transformasi, menembus ke inti hakikat, melampaui pikiran.

Peribahasa Zen berikut ini sepenuhnya mewakili aktivitas keseharian ("Zen all the time") dari mereka yang telah menerima pencerahan.

Sebelum pencerahan memotong kayu mengangkut air 
Setelah pencerahan memotong kayu mengangkut air

Dunia luar masih seperti sediakala, hanya dunia dalam, mikrokosmos telah mengaiami transformasi perubahan. Kalau sebelum pencerahan, kerja adalah tugas-kewajiban maka setelah pencerahan kerja bukan lagi beban, melainkan menjadi dharma, panggilan dan amanah. Apakah tidak elok penghayatan seperti itu?

Teka-teki dan Paradoks
Saya kira kalau kita membicarakan Zen, sudah sepatutnya jika Taoisme juga ikut disinggung. Hubungan keduanya erat sekali bahkan Taoisme banyak berpengaruh pada Zen. Sebelum mengetahui perihal Zen, saya sendiri malah telah memiliki beberapa buku mengenai Taoisme. Taoisme adalah salah satu ajaran hidup utama di Tiongkok, selain Konfusianisme. Kalau Konfusianisme lebih banyak bicara mengenai manusia, masyarakat dan penguasa dengan pendekatan etis, bijak dan humanistik (jen dan li), Taoisme lebih tertarik mencermati jalannya Alam Semesta dengan transformasi dan perubahannya. Bagi seorang Taois, intuitive wisdom lebih unggul dari rational knowledge. Herannya penemuan fisika modern—khususnya kuantum—sampai kepada kesimpulan yang membenarkan pengamatan intuitif Taoisme tersebut (baca: The Tao of Physics, Fritjof Capra, 1976). Sepertinya intuitive wisdom yang membuka jalan dulu, kemudian rational knowledge yang menyusul dari belakang, melakukan verifikasi pembenaran.

Begitu saya membuka kitab Tao Te Ching, buah karya Lao Tzu, yang menonjol adalah aphorisme, perumpamaan dan frase-frase yang penuh teka-teki, makna kabur dan paradoks. Misalnya, "Tao yang bersinar tampak samar. Tao yang maju tampak mundur". Atau "Kembali adalah gerakan dari Tao, Menyerahkan adalah fungsi dari Tao". Kita tentu dapat melanjutkan dengan berimprovisasi, seperti "Kekuatan adalah kelemahan. Kelemahan adalah kekuatan". Atau dengar ungkapan seperti ini: "indah tetapi buruk. Buruk tetapi indah". Sepintas lalu frase itu sepertinya mirip permainan teka-teki kata yang omong kosong. Namun, kalau direnungkan, dalam situasi konkret tertentu, hal itu bukannya tak ada kebenarannya. [Sebagai conioh: (Indah muka) tapi buruk (hati). Buruk (rupa) tapi indah (hati)]. Apakah Tao itu sendiri? Banyak penerjemah dan penafsir yang memberi interpretasi yang berbeda-beda, hingga nuansanya menjadi makin kaya dan mungkin malah tambah membingungkan.

Seperti terjemahan Lin Yutang (The Wisdom of Laotse) berikut ini: "Tao itu bejana kosong (tapi......). Manfaatnya tak ada habis-habisnya. Betapa dalamnya! Menyerupai sumber asali dari semua benda" (cuplikan Bab 4). Lalu ada yang menyimpulkan Tao itu bukan hal, bukan proses, bukan zat, tetapi lebih mirip prinsip tunggal Jalan Semesta. Bagaimana sesuatu itu terjadi dan bagaimana sesuatu itu bekerja. Namun, banyak pihak lain yang tak dapat menerima definisi tersebut. Tao sejati itu tak memunyai arti atau nama dan lebih jauh: tak terumuskan. Biarlah para pakar itu berdebat dan menggali terus, sementara kita melanjutkan melihat sisi-sisi lainnya.

Dalam Taoisme yang juga penting dicatat adalah konsep perubahan yang terjadi karena dinamika interaksi antar kutub-kutub berlawanan. Yin dan Yang saling mempengaruhi terus, membuat perubahan tak terhindarkan. Dua-duanya, positif dan negatif, walaupun berlawanan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam hal ini, Lao Tzu sejalan dengan Heraclitus, filsuf Yunani yang terkenal dengan semboyannya panta rrhei, semuanya mengalir, semuanya berubah termasuk perubahan itu sendiri.

Bagaimana kemudian hubungan Zen dengan Taoisme? Ternyata kedua-duanya memiliki persamaan di samping perbedaannya. Zen adalah blending (ramuan) dari tiga budaya yang berlainan. Zen mengambil unsur Buddhisme dari India; Taoisme dan Konfusianisme dari Cina dan Shintoisme dari Jepang. Dari Taoisme ia menerima spontanitas, kewajaran dan cinta pada alam, paradoks dan mengembangkan permainan teka-teki (koan) dengan jawaban intuitif yang tak terduga-mengagetkan! Dari Konfusianisme ia menimba sikap pragmatis dalam menghadapi gaya hidup modern. Sementara dari Buddhisme ia tetap mempertahankan disiplin pencapaian satori, pengalaman pencerahan.

Taoisme lebih merupakan gaya hidup dengan disiplin yang lebih longgar. Seorang Taois umumnya lebih suka hidup bebas, independen, bohemian dan kurang mau terikat dengan konvensi yang kaku. Sementara Zen, karena aspek pragmatismenya dapat bergerak lebih fleksibel. Seorang master Zen tidak harus seorang rahib "gelo" yang muncul dalam film, tetapi dapat juga berupa sosok seorang saudagar yang kaya, santun dan dermawan. Yang penting dalam Zen adalah disiplin dalam meditasi (zazen). Olah dan praktik meditasi sendiri (experiencing) adalah lebih berharga daripada pemahaman berbagai doktrin atau ajaran tertulis, betapapun canggihnya itu.

Dalam perjalanan hidup saya, di samping pelajaran dari Barat (terutama lewat sekolah dan buku-buku wajib), ajaran seperti Taoisme dan Zen ternyata banyak mengimbangi alam pemikiran yang linear dengan yang non-linear; dualistik dengan holistik; mekanistik dengan organik; bivalensi dengan multivalensi.

Tidak Mudah Heran dan Kagetan
Memang Taoisme dan Zen membuka cara pandang baru, seperti kemampuan berpikir yang lebih lateral, melampaui sekadar memilih jawab antara "ya" dan "tidak". Ia coba menukik ke wawasan yang lebih dalam. Namun, sampai seberapa jauh relevansinya dengan pekerjaan manajemen yang saya gumuli? Demikian agaknya pertanyaan yang menyelinap ke benak si empunya cerita.

Hemat saya, cara pandang baru itu juga membawa dampak yang berarti dalam memecahkan persoalan dan mengambil keputusan. Kini muncul faktor X tambahan di mana kita dibiasakan berpikir mencari alternatif baru, dan tidak sekadar berhenti pada jawaban standar. Bukankah itu yang menjadi tugas pokok seorang eksekutif unggulan? Mengadakan diagnosa dari berbagai segi dan kemudian melakukan terapi secara lebih jitu?

Ada ungkapan yang menyatakan, jangan mudah kagetan, jangan mudah terheran-heran. Idiom seperti itu bukannya tak ada betulnya apalagi di zaman yang serba tak menentu dan tak terduga ini. Hemat saya, latihan dan bacaan mengenai Zen dan Tao itu dapat mengantar pribadi untuk lebih bisa memahami peristiwa yang ganjil atau kasus yang sepertinya tidak masuk akal, absurd.

Seperti ucapan Northcote Parkinson (Parkinson's Law, 1957) yang mengutarakan "orang yang paling sibuk, yang paling punya banyak waktu". Untuk mereka yang terbiasa berpikir dengan logika linear, hal itu kurang dapat diterima. Padahal kalau diteliti, bukannya tak ada kebenarannya. Seorang setengah pengangguran misalnya memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikan sepucuk surat. Berhubung kurang adanya tekanan waktu, ia berpikir pelan-pelan dalam merangkai kalimatnya, Sembari mulai menulis, ia juga menyelingi dengan makan roti dan minum kopi, kemudian bercanda dulu dengan burung perkututnya, sebelum menyelesaikan suratnya. Ini berbeda dengan orang sibuk yang langsung menulis dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 15 menit. Sisa waktunya kemudian dapat digunakan untuk keperluan lain. Hal itu baru menyangkut penghematan waktu untuk satu kegiatan, Bagaimana kalau orang sibuk tersebut memunyai banyak kegiatan dalam sehari?

Atau umpamanya ada keluhan dari pimpinan penerbitan sebuah majalah. Segala macam cara telah ditempuhnya untuk memperbaiki isi medianya dengan harapan sirkulasinya akan menanjak dan sebagai kelanjutannya jumlah iklannyajuga akan bertambah.

Namun, harapannya yang masuk akal itu kemudian ternyata kandas. Agaknya ia hanya memperhitungkan hubungan sebab-akibat yang lurus antara isi media dengan jumlah pembaca dan pemasang iklan. Padahal pemuatan iklan di berbagai media itu mempertimbangkan banyak faktor, selain segi isi dan sirkulasi, Di mana posisi majalah itu—sekalipun isinya sudah diperbaiki—di antara majalah lain yang sejenis? Apakah ia dapat menggolongkan diri di antara tiga besar dalam kelompoknya? Hukum Tiga atau The Rule of Three (Jagdish Sheth et.al, 2002) itu sampai seberapa jauh periu dipatuhi atau malah mesti dilanggar sama sekali? Ini baru sebagian dari sejumlah pertanyaan yang menggugat.

Kemudian sejak beberapa tahun terakhir ini saya juga mulai belajar mengapresiasi seni rupa modern. Saya dapat menikmati seni lukis dari semua mazhab, sepanjang estetikanya dapat dipertanggung-jawabkan. Rupa, rasa dan makna, demikian pedoman dari dr. Oei Hong Djin, kolektor pribadi terbesar di sini yang sekaligus juga pengamat dengan wawasan tajam.

Hanya akhir-akhir ini yang menarik perhatian saya adalah seni rupa dari aliran abstrak. Semakin sukar dipahami, semakin tertantang hati ini untuk mau menyelami lebih dalam. Ternyata dengan berulang-ulang mengamati, muncul getaran roso baru yang tidak sama dengan sebelumnya. Dalam seni rupa realis "sekali kucing selmanya adalah kucing". Sebaliknya, dalam seni abstrak, setiap kali memandang senantiasa dimungkinkan adanya pemahaman baru yang berbeda. Kita sepertinya tak hanya harus terpaku pada satu pengertian tunggal, tetapi mulai dibebaskan untuk melihat sejumlah pilihan lain, alternatif baru. Apresiasi seperti ini makin memperkaya wawasan yang sudah diperoleh dari Zen dan Tao. Seni ternyata tak hanya menawarkan keindahan semata, tetapi juga dapat memberikan pemahaman yang baru. Secara pribadi, saya mengenal beberapa pelukis abstrak yang baik, seperti Sadali (alm.) dari Bandung yang kerap melukis subuh hari dalam keadaan alfa-meditatif. Atau Nunung WS, perupa perempuan berusia 50-an tahun yang senantiasa serius dan intens dalam menggarap karyanya. Atau Hanafi, seniman muda yang berani bereksperimen, selain dalam komposisi warna juga membebaskan kanvas dari bingkai hingga lukisan menyatu dengan ruang dan suasana. Meditatif, intens dalam berkarya dan menyatu dengan ruang, alangkah menariknya untuk disimak.

Setiap kali mendengar perdebatan yang kurang bermutu, apakah itu di media, di kantor ataupun di sebuah seminar saya hanya dapat membatin. Sudah pota pendekatannya serba mekanistis dengan tarikan garis lurus linear, masih mengotot lagi. Sembari menikmati lukisan Hanafi atau Sadali, saya dapat menenggelamkan diri membaca buku yang menggambarkan paradoks zaman ini. Misalnya Why Smart Executives Fail (Sydney Finkelstein, 2003) yang isinya cukup tajam menikam atau The Tao is Silent (Raymond M. Smullyan, 1977) dengan muatan humor-bijak yang mengendap. Kali ini saya memilih yang kedua. Tiba-tiba: "Plung! Kodok kecemplung masuk kolam. Setelah itu, sepi kembali" (haiku). Tao itu diam. Keheningan bunga yang tumbuh diam-diam tanpa kata-kata. The Tao is Silent. Saya tahu ini adalah momen yang menakjubkan.

Indra Gunawan, pencinta buku, tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 11/Juli 2004  
06.30