Membaca Damai

Membaca Damai

Membaca adalah ibadah. Seperti sabda sebuah ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia (Al-Qur'an, surat Al-Alaq). Apakah setiap aktivitas membaca memiliki nilai ibadah ataukah hanya membaca dalam kerangka keberagamaan yang akan mendapatkan pahala? Juga, membaca yang bagaimana, yang berhadap-hadapan dengan buku dan teks ataukah membaca dalam arti yang seluas-luasnya: melihat dan menafsir dunia? Akan ada banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita, itulah kiranya mengapa umat manusia dikarunia aka l—untuk mencari jawab dan memberi makna atas hidup dan kehidupannya.

Barangkali, peribahasa "tak kenal maka tak sayang" patut untuk dikemukakan di sini. Tak kenal ayat membuat hidup menjadi berat. Tak kenal membaca membuat kita sempit cakrawala. Tak kenal orang membuat kita tak peduli. Tak kenal negeri memunculkan perpecahan yang ngeri. Tak kenal keberagaman menumbuhkan peperangan. Tak kenal rakyat membuat pemimpin jadi tak arif. Tak kenal pemimpin membuat rakyat jadi pemimpi. Tak kenal maka tak sayang adalah ungkapan sederhana yang kaya makna.

Kita bisa mengenali sesuatu dengan membaca. Tak hanya itu, membaca bisa membuat kita mengetahui, mengerti, memahami, dan memberi makna pada sesuatu itu. Dari situ, hidup yang mudah, indah, dan terarah akan dapat diciptakan. Boleh jadi kita kembali sampai pada pertanyaan, membaca apa dan membaca yang bagaimanakah kiranya?

Surat Al-Alaq yang telah disinggung di awal tulisan pada bagian lain menyatakan: Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Dari sini, layaklah jika kita tidak usah lagi mempertanyakan dan memperdebatkan apa dan bagaimana dari membaca. Kiranya Tuhan itu penuh rahmat dan kasih, kita jualah yang suka ruwet dan bertikai.

November ini adalah bulan Ramadhan, bulan puasa bagi kita yang beragama Islam. Bulan penuh rahmat dan anugerah. Bulan suci yang mesti diisi dengan ibadah-ibadah. Selepas hari-hari yang penuh dengan konflik dan kepedihan, kita berharap akan tercipta kesejukan dan kedamaian di bulan ini. Apakah harapan ini hanya tinggal harapan, sungguh kita tidak tahu. Dunia global masih juga diisi dengan tragedi-tragedi, negeri kita sendiri seperti tidak mau kalah dengan sekian persoalan yang tiada henti. Akan tetapi, Tuhan amat pemurah dan penuh kasih. Kepada-Nya kita berserah diri.

Menyimak fenomena dari tahun-tahun yang lalu, membaca kitab dan buku keagamaan —juga buku umum lainnya— menjadi aktivitas yang banyak dilakukan oleh masyarakat Islam, terutama di kalangan kaum muda dan mahasiswa, dalam mengisi waktu-waktu di bulan Ramadhan ini. Aktivitas membaca ini berlanjut pula pada kegiatan-kegiatan diskusi dan bedah buku yang juga dilaksanakan di masjid-masjid. Aktivitas ini membuat masjid-masjid menjadi lebih semarak. Umat Islam disegarkan oleh pengetahuan dan cakrawala baru. Buku-buku bertambah luas jangkauannya. Membaca bukan lagi suatu kegiatan yang asing dan ganjil di masyarakat kita.

Membaca memang aktivitas yang tepat untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini. Secara fisik, membaca tidak banyak menghabiskan energi. Membaca juga membuat kita menjauh dari kegiatan-kegiatan yang mendekati kemudharatan dan keburukan. Tentu, dalam hal ini, bacaan yang kita pilih juga agak lebih terseleksi, terutama yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama.

Demikianlah, aktivitas membaca menjadi jawab atas harapan kita akan kesejukan dan kedamaian dunia. Barangkali memang tidak bisa dinafikan bahwa membaca juga membawa konsekuensi ideologis yang sangat besar. Bahwa tulisan memiliki implikasi yang luar biasa bagi pemikiran. Bahwa tulisan memuat beban-beban. Kemudian, ada usaha untuk menyensor, melarang, membakar buku. Akan tetapi, kita kini lebih butuh kedamaian. Sejelek-jelek buku —sejelek-jelek bacaan— serugi-ruginya membaca, tetap ada gunanya. Maka, mengulang apa yang telah ditulis di muka: Bacalah dengan nama Tuhanmu.... Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah.

Gunawan Budi Susilo
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 3/November 2003 

Puisi Joko Pinurbo: Buku

Puisi Joko Pinurbo: Buku

Hadiah terindah yang kudapat dari buku ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.

Aku teringat sebuah buku yang pernah kulihat dua puluh tahun lalu. Buku kecil yang aku lupa-lupa ingat judulnya. Berkat jasa baik seorang pemulung bukulah akhirnya bisa kutemukan buku itu di sebuah kios buku loak yang letaknya ternyata tidak jauh-jauh amat dari rumahmu. Memang buku lama. Tapi apa bedanya lama dan baru jika aku belum pernah membacanya?

Ah, buku tua itu tidak sanggup lagi memamerkan keangkuhannya. Seluruh halamannya sudah kuning kecoklat-coklatan. Bagian pinggirnya sudah geriwing digerogoti waktu. Foto pengarangnya pun sudah pudar, bahkan keropos dan sebentar lagi hancur. Malang benar nasibmu, pengarang. Fotomu yang jelek kau tampangkan dengan penuh kebanggaan hanya untuk merana dan mungkin tak pernah digubris orang. Dan ngomong-ngomong, sudah mendapat bayaran atau belum, wahai pengarang budiman?

Buku itu isinya sederhana saja: berkhotbah tentang bagaimana sebaiknya membaca buku.
1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu.
2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kau pahami suatu saat toh akan membukakan diri.
3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu.
4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kau baca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu.

Alkisah, setelah sekian lama berpacaran dengan buku-buku, temanku seorang macan buku akhirnya menikah juga dengan pacarnya yang sungguhan, yang sama-sama pencandu buku. Karena tak biasa kasih kado, aku berikan saja buku tua itu sebagai kado pernikahannya.

Ngakunya bulan madu: baru sehari ia sudah meneleponku. Kukira mau mengucapkan terima kasih, tak tahunya cuma mau memaki-maki.
"Brengsek kau! Gara-gara buku rombeng pemberian kau, program malam pertamaku jadi kacau-balau."
"Maksud kau?"
"Ya aku jadi lebih sibuk membaca buku daripada membaca istriku."
"Terus?"
"Ia rebut buku itu, lalu ia tamparkan ke jidatku."
"O, bagus itu. Seperti awal-awal orang belajar mencintai buku kan?"
"Bagus matamu! Tahu nggak, gara-gara buku sialan itu istriku belum-belum sudah ngomongin cerai segala?"
"Ah, kau juga bego sih. Sudah sekian tahun jadi pembaca buku, belum juga tahu cara belajar membaca istrimu."
"Ala, sok tahu lu. Kawin aja belum."
"Belum atau sudah kawin kan aku sendiri yang lebih tahu. Lugu amat lu!"

Malang dapat ditolak, untung dapat diraih. Sekian tahun kemudian secara kebetulan aku bertemu pasangan pencinta buku itu di sebuah pesta buku. Mereka tampak bahagia (setidak-tidaknya di depanku).
"Kok sendirian?" sapa istri temanku.
"Dia bujang lapuk!" bisik temanku ke telinga istrinya, dan sialnya, istrinya mengangguk-angguk saja.
"Terima kasih ya untuk bukunya dulu itu," ujar istri temanku. "Salam untuk istri tercinta.*
Istri? Tercinta? Aku terbengong lama.
"Wah, bego juga lu," tukas temanku. "Ya buku-bukumu itu istrimu!"
Aku pilih melengos pergi sambil berkata dalam hati: ah, tampaknya mereka sudah pintar membaca buku.

Joko Pinurbo, dari buku puisi Telepon Genggam, Penerbit Buku Kompas, Mei 2002.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.2/Oktober 2003.

Menelusuri Buku Kehidupan 8: Sebuah Korporasi dan Kepercayaannya

Menelusuri Buku Kehidupan 8: Sebuah Korporasi dan Kepercayaannya

Alkisah dituturkan hikayat Dewi Fortuna yang turun mengembara ke bumi. Tangannya menggenggam tanduk kambing Amaltea yang di dalam rongganya terisi sejumlah besar hadiah. Ia membagi-bagikan hadiah itu kepada manusia yang ditemui sepanjang perjalanan. Namun, berhubung matanya tertutup, ia memberikannya secara acak. Ada manusia rajin yang menerima, tetapi ada juga orang malas yang memperoleh. Ada orang pintar yang mendapat, namun tak kurang terdapat juga manusia bodoh yang diberinya. Secara keseluruhan mereka yang beruntung itu sedikit (Hukum Pareto?), sebab agak sukar memang berpapasan dengan Dewi Fortuna.

Kesempatan berjumpa dengan Dewi Fortuna dapat dianggap semacam "hoki" dan itu boleh saja coba disiasati (umpama dengan ajaran Kriyasakti atau feng shui). Namun, dalam kehidupan nyata-keras ini, baik juga diutarakan ada faktor-faktor rasional yang mesti lebih dulu diperjuangkan. Umpama agar perusahaan dapat berhasil mesti ada kerja tuntas; perencanaan sasaran dan arah strategi (tak dapat kelewat jauh, karena alur masa depan adalah non-linear). Dari waktu ke waktu untuk semuanya itu perlu evaluasi, perhitungan ulang tersendiri.

Demikian setahun sebelum ia meninggal (1979), PK Ojong telah mengundang Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (LPPM) untuk membenahi korporasi Kompas-Gramedia. Sebab, selama hampir 15 tahun perusahaan berdiri, belum pernah dituangkan secara tertulis tujuan, visi; dan misinya. Begitu juga belum pernah diadakan perencanaan perusahaan, rumusan sasaran dan strategi serta budgeting (peranggaran). Selama itu perusahaan berjalan mengandalkan itikad dan watak baik, "common sense" manajemen, usaha keras, pembagian kerja serta kerja sama tim dilatarbelakangi oleh kehati-hatian dan kendali keuangan yang ketat.

Dalam perjalanan waktu selama 15 tahun itu telah terbit beberapa majalah (Intisari, Bobo, dan Hai), selain surat kabar Kompas, berdirinya toko buku dan penerbitan Gramedia, percetakan dan radio Sonora. Saat itu, korporasi sudah mempekerjakan kurang lebih sekitar 600 karyawan.

Apakah yang dilakukan Kelompok Kompas-Gramedia selama itu merupakan upaya yang ketinggalan dan terlambat? Bukankah sebuah perusahaan begitu berdiri sudah harus punya visi dan misi pegangan yang jelas dan tertulis?

Ternyata kalau dilacak dari sejarah berdirinya berbagai perusahaan yang berhasil di negara maju halnya tidakdemikian. Demikian menurut penuturan James Collins, et. al. dalam Built to Last (Random House, 1996). Pengarang buku itu menumbangkan sejumlah mitos yang selama ini diterima dan kuat beredar. Pertama, perlu sebuah ide besar untuk membangun perusahaan besar. Atau sejak awal berdirinya, perusahaan telah mempunyai visi-misi yang eksplisit (tersurat). Atau perusahaan yang amat berhasil itu melakukan langkah terbaiknya dengan perencanaan strategis yang kompleks dan cemerlang. Atau korporasi-korporasi berhasil itu memusatkan perhatiannya terutama untuk mengalahkan kompetitor.

Mitos-mitos itu coba disangkal dengan bukti-bukti oleh penulisnya. Justru hanya sedikit perusahaan visioner yang mulai kehidupannya dengan sebuah ide besar bahkan beberapa di antaranya tanpa suatu gagasan spesifik. Juga perusahaan-perusahaan itu mulai langkah awal terbaiknya lewat eksperimentasi dan bukan serta merta mulai dengan skenario canggih, ("Visionary Companies" versi Collins adalah perusahaan unggulan yang bertahan melewati sekian generasi kepemimpinan dan melampaui siklus kehidupan sekian banyak produk).

Dengan memakai acuan dari James Collins, sebagai retrospeksi saya dapat mengerti apa yang terjadi di Kelompok Kompas-Gramedia. Belum adanya visi, misi dan demikian pula perencanaan strategik tak menjadi halangan untuk sebuah perusahaan baru melangkah. Demikian yang terjadi di lebih banyak perusahaan yang berhasil dan berusia panjang. Sebetulnya juga tak begitu tepat untuk menyatakan "belum ada", hanya gagasan itu masih implisit dan ada di benak para pendiri serta belum sempat dijabarkan.

Ada parabel yang menggambarkan lomba antara kura-kura versus kelinci. Kelinci lincah, gesit dan kurang peduli terhadap sekelilingnya; sebaliknya kura-kura lambat, konsisten dan tahu ke mana harus pergi. Menurut penuturan parabel itu, akhirnya kura-kura yang menang —terlebih dulu sampai— dibanding sang kelinci. Tamsil itu berlaku untuk "The visionary companies" perusahaan-perusahaan unggulan yang walau tampak lambat "start" (mulai), di ujungnya muncul sebagai pemenang.

Falsafah Sebuah Perusahaan
Setelah sekian lama tanpa perencanaan perusahaan, sudah waktunya dilakukan penjabaran secara tertulis. Ada waktunya mulai dengan pelaksanaan, ada saatnya perlu konsolidasi dengan menata ulang secara lebih sistematik. Demikian dalam rangka menyusun "corporate planning", pihak konsultan LPPM minta agar pendiri perusahaan menuangkan pikirannya dalam satu risalah. Permohonan itu diajukan kepada PK Ojong, sebagai salah seorang pendiri.

Untuk itu, ia mengambil cuti beberapa hari di rumah peristirahatan perusahaan di Pacet. Hasilnya, sebuah risalah yang dengan rendah-hati disebutnya sebagai "Sifat Perusahaan Kita". Hakikatnya dokumen itu adalah cita-cita atau falsafah perusahaan Kelompok Kompas-Gramedia.

Ditulis dalam bahasa yang jernih dan mudah dimengerti, di situ dibentangkan bahwa para pendiri perusahaan berasal dari kalangan guru, pegawai negeri, dan wartawan. Inilah kalangan yang tidak bermodal sehingga tidak termasuk golongan ekonomi kuat. Yang dicita-citakan adalah perusahaan yang langgeng dalam arti tahan waktu, lebih dari satu generasi. Perusahaan-perusahaan di sini umumnya tidak bertahan lama. Dengan meninggalnya generasi pendiri, perusahaan itu mundurdan akhirnya mati.

Untuk mengatasinya, menurut konsep PK Ojong, pimpinan harus dilakukan secara kolektif, dengan team-work (berarti ia menjunjung interdependensi di atas independensi kepemimpinan seperti pendapat Stephen Covey), di antara persona yang berwatak baik. Watak baik yang mendapat tekanan utama itu ialah jujur, rajin, sederhana, rasional, berinisiatif, bersedia menerima pendapat orang lain, seimbang, adil, pandai membagi pekerjaan, dapat membedakan mana kepentingan sektoral dan mana kepentingan perusahaan secara keseluruhan. Baru syarat selanjutnya adalah kecerdasan, kepandaian, dan masa kerja.

Sewaktu pertama kali mendengar tekanan pada syarat "watak baik"', sebagai orang muda saya merasa PK Ojong terlalu menuntut keluhuran budi pekerti. Muncul sanggahan di hati, "Bukankah yang lebih penting prestasi dan kepandaian di pekerjaan?" Belakangan setelah makin mendalami manajemen, saya dapat mengakui kebenaran statement-nya. Peter Drucker juga punya pandangan serupa, "Integrity comes first, before the others" ("Integritas dilihat lebih dulu sebelum yang lain-lain"). Seorang boleh punya kekurangan di salah satu bidang dan itu masih bisa dimaafkan, tetapi kalau integritasnya sudah payah, dia tidak layak untuk menjadi pemimpin. T.P. Rakhmatyang lama menjadi CEO kelompok Astra pernah berceramah: "Bagi kami karakter mempunyai nilai lebih di atas kemampuan seorang pemimpin". Agaknya beberapa skandal sejumlah perusahaan di sini terjadi lebih karena tak ada ketulusan dan kelurusan hati pimpinannya.

Selanjutnya, dalam risalah itu juga dikatakan, "Dalam keadaan sekarang di mana negara kita belum merupakan negara kesejahteraan (welfare state) yang menjamin kesejahteraan setiap warga negara dari saat lahir sampai mati, tugas itu hendaknya seberapa bisa dilakukan oleh perusahaan". Ini berarti, ia (perusahaan) memperhatikan kebutuhan yang layak dari karyawan sejak masih berkarya sampai tidak mampu lagi, karena sudah lanjut usia atau sakit-sakitan. Dengan pandangan semacam ini, tak usah heran kalau Kelompok Kompas-Gramedia merupakan salah satu perusahaan swasta pertama yang tanggap dalam pendirian Yayasan Dana Pensiun.

Namun, ia juga memperingatkan, "... kesejahteraan karyawan itu tidak boleh demikian tingginya dan memahalkan biaya produksi sehingga perusahaan tidak dapat bersaing lagi dengan perusahaan lain yang sejenis dalam menawarkan produk atau jasa pada pembeli". Lebih lanjut "syarat dapat bersaing ini syarat mutlak, bila diabaikan... perusahaan kita lambat laun akan rugi dan hancur". Cukup logis dan dapat diterima akal.

Sekalipun demikian, secara keseluruhan konsep perusahaan sebagai "benteng keluarga" cukup dominan dalam mewarnai berbagai kebijakan dan peraturan di lingkungan Kelompok Kompas-Gramedia. Di samping gaji pokok, berbagai tunjangan sosiai atau fringe benefits merupakan komponen yang terberi (given) yang sering tak ada hubungannya dengan prestasi. Unsur sosial dan paternalisme menurut hemat saya tampak menonjol. Walaupun sebagian cukup besar karyawan merasa "happy", tidak sedikit dari mereka yang merasa dirinya profesional menganggap sistem yang ada kurang bersaing dan tampaknya memanjakan mereka yang kurang.

Saya kira semua ini tak terlepas dari pandangan hidup PK Ojong (yang bersama mentornya, Khoe Woen Sioe, mantan dirut PT Keng Po) terpengaruh oleh sosialisme Fabian. Fabianisme ini adalah paham sosialis-demokrat yang coba dipraktikkan Partai Buruh di Inggris. Sosialisme yang non-marxis ini berusaha memperjuangkan kesejahteraan pekerja dalam sistem ekonomi pasar bebas.

Konsultan LPPM tampaknya tak berniat menyentuh masalah-masaiah prinsipil yang berhubungan dengan falsafah perusahaan. Ia menganggap semua itu sebagai pandangan hidup pendiri dengan kekuatan dan kelemahannya. Yang lebih banyak digarap adalah bagaimana perusahaan menyusun misi, menentukan sasaran-strategis dengan jangka waktu dan penanggungjawabnya, setelah sebelumnya melakukan analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman), kemudian lebih lanjut menuangkan dalam anggaran tahunan.

Di samping itu, dengan melihat besaran dan jumlah aktivitas yang ada, diusulkan adanya pengelompokan unit dalam divisi-divisi. Demikian beberapa bagian yang sejenis membentuk divisi. Dalam restrukturisasi yang diadakan tahun 1980 muncul beberapa divisi operasional. seperti Divisi Surat kabar, Majalah, Percetakan, Penerbitan, Toko Buku dan Radio dengan penunjangnya seperti Divisi Kontrol, Keuangan, SDM dan Umum. Beberapa manajer menjadi terangkat naik dari kepala bagian menjadi kepala divisi. Atau dari "letnan" tiba-tiba saja naik pangkat menjadi "letnan kolonel". Saya pun termasuk salah seorang di antaranya.

Kehadiran konsultan LPPM temyata sudah menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola kerja perusahaan. Lebih dari itu, telah menyuntikkan orientasi baru dalam budaya korporasi. Secara metafora Charles Handy (The Gods of Management) menulis mengenai pengaruh empat dewa Yunani dalam manajemen. Zeus lambang dari patriarki dan kekuasaan tokoh sentral yang kuat di pusat. Kemudian budaya Apollo yang lebih menekankan sistem, prosedur, ketertiban dan organisasi. Sementara gaya Athenian memberi tempat paling terhormat kepada meritokrasi dan keterampilan tinggi. Akhirnya, kultur Dionysus, sang individualis seniman yang anti sistem dan menyukai kebebasan.

Tidak syak lagi dengan adanya perencanaan dan anggaran, gaya Apollonian menjadi lebih dominan dan punya pengaruh paling besar. Selama lebih dari 20 tahun dengan Manajemen Berdasar Sasaran dan strategi tahunan, korporasi KKG berhasil mencapai pertumbuhan yang berarti, walau tidak eksponensial. Gaya Apollonian memang paling efektif untuk jenis usaha, di suatu masa, di mana keadaan relatif stabil dan perencanaan jangka panjang dimungkinkan. Dengan memakai pendekatan otak kiri yang sequential, dengan logika dan analisis, masa depan sepertinya sudah ter-"peta"-kan.

Kini dengan tak menentunya keadaan dan alur yang makin non-linear dan sepertinya mendekati chaos, tampaknya pendekatan Athenian, Dionysian dan Zeusian perlu juga mendapat tempat. Sebetulnya, tak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Setiap organisasi, pada suatu waktu dan suatu tempat, memerlukan "adonan" yang senantiasa perlu diubah-ubah susunannya. Yang menjadi masalah adalah sikap dan keberanian untuk melepaskan diri dari pola pikir Aristotelian yang hanya mengenai bivalensi. Atau "ini" atau "itu". Atau mengibaskan diri dari stereotipe yang percaya hanya pada satu resep manjur tertentu —yang sudah bisa ditebak.

Prasetio dari Andersen Consulting (kini Accenture) pernah memuji nilai-nilai yang melekat pada Kelompok Kompas Gramedia. Semuanya tampak luhur dan dikagumi. Barangkali itu yang disebut ideologi inti (core ideology) yang perlu dipelihara. Namun, bagaimana dengan dorongan untuk kemajuan ("drive for progress") yang menghendaki perubahan terus-menerus dalam arah, metode, strategi, struktur, sistem, dan lain-lain?

Dengan bantuan LPPM, pernah dipancangkan tonggak kemajuan. Dengan upaya sendiri juga pernah ada terobosan. Persoalannya bagaimana kita dapat terus bergerak menari tanpa henti di seluruh lapisan sepanjang waktu? Tak begitu masalah untuk gajah yang istirahat menari, namun untuk sebuah korporasi? Korporasi itu wajib menari secara utuh dalam berbagai gaya campuran sebagai Apollo, Athena, Zeus dan Dionysus? Agaknya ini merupakan tantangan yang tidak ringan, apalagi jika untuk jangka panjang. Stamina, kelenturan dan semangat untuk pembaruan amat diperlukan.

Indra Gunawan, pecinta buku dan tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/Oktober 2003 

Upaya Mendongkrak Minat Baca

Upaya Mendongkrak Minat Baca

Setiap orang yang mengaku suka membaca, pasti betah berlama-lama di hall tujuh hingga sepuluh Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, pada 21 April-2 Mei lalu. Pasalnya, di ruangan seluas 150.000 meter persegi itu tersedia jutaan buku. Para pengunjung bisa berburu buku yang disediakan Big Bad Wolf (BBW) dengan diskon hingga 80% .

Presiden Direktur Big Bad Wolf (BBW) Indonesia, Uli Silalahi, menjelaskan bahwa BBW sudah ada sejak 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia. Bermula dari pasangan Andrew Yap dan Jacqueline Ng yang membuka toko buku sisa penerbitan. Rupanya, bisnis ini banyak peminat.

Karena itulah, Andrew Yap dan Jacqueline Ng menindaklanjuti dengan membuka bazar buku. Semula bazar hanya dalam sekala kecil-kecilan. Buku-bukunya mereka peroleh dengan mengirim proposal ke sejumlah penerbit, termasuk para penerbit besar seperti Penguin, Disney, DK, dan HarperCollins. Yang Mereka minta adalah buku-buku sisa penerbitan.

Ternyata sambutan para penerbit sangat baik. Mereka hanya mensyaratkan, buku-buku itu dijual di bazar, bukan di toko. Saat itulah untuk pertama kalinya BBW berlangsung. Pada tahun ketiga, BBW merambah ke sejumlah daerah di luar Kuala Lumpur, seperti Sarawak dan Johor.

Uli bertemu Andrew pada 2015. Saat itu, BBW sudah punya nama besar di negeri jiran tersebut. ''Waktu dia bilang jualan buku, saya tergerak sekali. Tapi saya sebagai pebisnis tetap berhitung. Saya agak berat. Dengan animo sekarang ini tampaknya tidak mungkin,'' kata Uli, mengenang situasi saat itu

Itu belum lagi ditambah adanya maraknya gawai (gadget) yang membuat orang semakin enggan membeli buku cetak. Toko buku sekelas Book & Barnes saja tutup. Teman-teman Uli pun tak ada yang percaya bahwa bisnis bazar buku bisa mendatangkan keuntungan. ''Saya dibilang gila. Akhirnya saya nekat,'' ujar Uli.

Alhasil, ketika BBW pertama kali diadakan di Jakarta pada April 2016 lalu, pengunjung pun membeludak. Jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Di acara itu, BBW menyuguhkan jutaan buku di ICE selama sepuluh hari. BBW ini punya sejumlah pakem yang tegas: diadakan minimal sepuluh hari, 24 jam, target pengunjung per hari minimal 10.000 orang, diskon besar-besaran (bahkan di Thailand sampai 90%), dan hanya di negara-negara berkembang.

BBW hari ini menjadi sebuah brand yang akan hadir di negara-negara berkembang lain di Asia. Uli menjelaskan, ke depannya, mereka membuka bazar serupa di Cina, Srilanka, Myanmar, termasuk seluruh negara Asia Tenggara. Pengecualian tentu saja untuk negara maju macam Singapura atau Jepang.

Di Indonesia, setelah mendulang sukses di Jakarta, pada Oktober tahun lalu, BBW hadir di Surabaya. Saat di Jakarta pengunjungnya mencapai 300.000, sedangkan di Surabaya 'hanya' 250.000 orang. Untuk BBW Jakarta kali ini, target pengunjung 700.000 dengan 12 hari bazar. Pada hari kesepuluh saja jumlah pengunjungnya lebih dari 500.000 orang. ''Saya rasa ini bukan sekadar tren. Walau menciptakan tren beli buku bagus juga. Tidak mungkin beli buku, lalu hanya dipajang,'' kata Uli.

Patut dicatat bahwa survei UNESCO menemukan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001%. Artinya, dalam seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca. Serupa dengan itu, nilai riset Program for Internasional Student Assesment (PISA) rata-rata 493, sedangkan nilai literasi Indonesia hanya 396.

Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah untuk mendongkrak minat baca adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud itu diwujudkan dengan wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai, khususnya bagi siswa SD, SMP, atau SMA.

Memang, kalau dibandingkan dengan negara lain, Permendikbud ini baru mengatur langkah kecil. Di Jepang, anak-anak yang hendak naik kelasnya, diwajibkan membaca 16 judul buku per tahun. Lalu Malaysia serta Singapura mewajibkan enam buku, dan Thailand mengharuskan membaca lima buku.

Indonesia layak prihatin dengan rendahnya minat baca, yang memicu kebodohan dan keterbelakangan. Berdasarkan survei Central Connecticut State University di New Britain yang dirilis pada 2016 lalu, peringkat minat baca Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara (Indonesia berada satu peringkat di atas Botswana). Penelitian itu kemudian menjadi rujukan UNESCO dalam data World's Most Literate Nations.

Selain lewat wajib membaca 15 menit sebelum belajar, upaya mendongkar minat baca juga dilakukan dengan menciptakan iklim yang mendukung tumbuh dan berkembangnya industri perbukuan. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan suguhan buku yang melimpah, kaya judul, dan tentu saja harganya terjangkau. Upaya ini, satu di antara lewat kehadiran kehadiran Undang-undang Sistem Perbukuan (Sisbuk) yang disahkan pada penghujung April lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). UU ini diharapkan membawa angin baru terhadap kemajuan industri perbukuan di Tanah Air.

Anggota Komisi X DPR Sutan Adil Hendra menyebutkan, pengesahan UU Perbukuan ini diapresiasi banyak kalangan, lantaran inisiasi dan wacana dibentuknya UU tersebut sudah digagas dalam dua periode DPR sebelum beleid tersebut disahkan. "UU Sistem Perbukuan ini sudah sepuluh tahun (digagas), berarti sudah dua kali di DPR dibahas. Alhamdulillah sekarang kita bisa rampungkan,'' ujar Sutan yang juga didapuk sebagai Ketua Panja RUU Perbukuan.

Menurut politikus Gerindra ini, pembahasan UU Perbukuan di legislatif memakan waktu cukup singkat, yakni sepuluh bulan pembahasan. Sejak diteken Presiden pada 16 April 2016, DPR langsung tancap gas membahas UU tersebut. Sutan menerangkan, dalam penggodokan tersebut, seluruh fraksi sepakat agar RUU tersebut dirampungkan menjadi undang-undang.

UU itu terdiri dari 72 pasal dan 12 bab. Ide pembentukan UU itu tidak lain adalah untuk mengakomodasi lahirnya buku-buku baru di Tanah Air yang memenuhi tiga kriteria, yakni buku yang bermutu, yang murah, dan yang merata. Sutan menyebutnya 3 M: Mutu, Murah dan Merata.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Awaluddin Tjalla, menyebutkan bahwa poin-poin utama yang disorot UU tersebut di antaranya tentang definisi buku, jenis buku, bentuk buku, dan isi buku. Ada juga menyangkut pengembangan ekosistem perbukuan yang bertanggung jawab melalui pengaturan hak dan kewajiban pelaku perbukuan. Termasuk pula bagaimana kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam ekosistem perbukuan.

Selain itu, katanya, juga dibahas pembentukan kelembagaan sebagai wujud dari wewenang dan tanggung jawab pemerintah yang berada dibawah Kemendikbud. ''Pengawasan yang mempertimbangkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi dan berkreasi,'' sebut Awaluddin.

UU ini hendak mengatur terwujudnya penyediaan buku murah dan terjangkau bagi semua kalangan. Sutan menyebutkan, pemerintah akan menjamin ketersediaan buku buat anak mulai untuk usia balita hingga pelajar. Harapannya kelak, buku untuk usia 0-12 tahun tidak dipungut biaya. Dengan demikian, ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi buta membaca dan minimnya budaya literasi.

Selanjutnya, penyediaan buku yang merata ke semua pelosok daerah. Untuk praktik di lapangan, pemerintah akan menggandeng Perpusnas yang memiliki jejaring hingga ke perpustakaan daerah. UU Sistem Perbukuan yang digodok ini, kata Sutan, akan menjadi solusi atas kekhawatiran insan perbukuan dan penulis buku. Melalui beleid ini, penerbit dan penulis memperoleh jaminan hak dari pemerintah terhadap hak cipta dan kekayaan intelektualnya. ''Di UU ini mereka (penulis) dilindungi haknya, sehingga mereka tidak macam ''hidup-mati'' dalam rangka pengabdiannya menulis buku,'' kata Sutan.

Kritik datang dari Ikapi Pusat. Wakil Ketua Bidang Humas, Riset dan Informasi Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Indra Laksana, menyatakan bahwa Ikapi turut berpartisipasi dalam sejumlah forum-forum penyusunan UU Sisbuk. ''Kami sudah secara aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam forum-forum yang memungkinkan kami terlibat. Namun dari hasilnya, ada hal-hal yang kami anggap masih berbeda dari aspirasi kami sebagai insan perbukuan,'' katanya.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ricky Pesik, mendukung kehadiran UU Sisbuk. Ia mengaku, saat ini memang masih ada banyak tantangan dalam industri perbukuan. Mulai dari masalah rendahnya minat baca hingga sistem perpajakan yang banyak dikeluhkan pelaku. Selain itu, ada pula masalah dalam sistem bagi hasil atau konsinyasi, di mana persenan ke toko buku dinilai terlalu besar. ''Banyak pekerjaan rumah dari penerbitan itu,'' kata Ricky ketika ditemui Gatra pada Kamis, 4 Mei.

Awaluddin tidak menutup mata adanya beberapa hal yang dikeluhkan oleh industri perbukuan. Itu ada kaitannya dengan bahan baku, khususnya kertas, mengingat kertas merupakan komponen utama dalam industri perbukuan. Selain itu, industri perbukuan juga mengeluhkan seputar perpajakan.''Terkait dengan pengaturan perpajakan, sudah ada UU yang mengatur tentang hal ini. Oleh karena itu UU Sistem Perbukuan tidak mengatur secara eksplisit tentang pajak,'' katanya. Dengan demikian, insentif fiskal dalam industri perbukuan dalam UU Sisbuk akan diatur dengan peraturan pemerintah, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ikapi mengaku tak habis pikir kenapa poin soal pajak tak masuk di UU Sisbuk. Masalah pajak dalam industri buku tak semata-mata bagaimana setiap buku itu masih dikenai pajak pertambahan nilai yang sebesar sepuluh persen itu. Semua komponen dalam produksi buku pun kena pajak. Mulai dari kertas yang kena cukai, lalu ketika percetakan hendak membeli kertas terkena pajak, ketika penerbit order barang ke percetakan juga kena pajak, lalu ketika buku sudah masuk ke toko pun masih ada pajak lagi. Semua komponen ini terakumulasi sehingga harga buku pun melambung.

Negara-negara lain banyak yang tak memberikan pajak bagi buku mereka. Malaysia malah sudah melangkah lebih jauh lagi dengan memberikan insentif kepada para siswa yang membeli buku. Indra menyebut, dalam tiap tahun penyelenggaraan Kuala Lumpur Book Fair, seluruh siswa tingkat dasar hingga perguruan tinggi mendapatkan voucher senilai 100-300 ringgit untuk belanja buku.

Bicara soal konsinyasi, CEO Renebook & Turos Pustaka, Luqman Hakim Arifin, mengatakan bahwa saat ini rata-rata persentase keuntungan yang diambil toko buku besar untuk satu barang sebesar 35-50% . Artinya, kalau kita membeli buku di toko seharga Rp 100.000, harga jual dari distributor atau penerbit ke toko buku sesungguhnya hanya sekitar Rp 50.000 . ''Walau besarnya tidak semua sama. Tergantung dari usia penerbit dan usia distributor,'' kata Luqman.

Di sisi lain, ada pula fakta bahwa jumlah penerbitan cetak konvensional semakin menyusut. Maka, kini bisnis penerbitan tidak hanya bicara peluang penjualan. Sekarang, bisnisnya merambah ke konten, bukan semata-mata bisnis buku. Frankfurt Bookfair pun sudah menyatakan ada transformasi, dan meninggalkan istilah buku menjadi konten. Setiap konten itu bisa dikembangkan menjadi bisnis lain, semisal film, komik, dan games.

Melihat tren sebagian masyarakat mulai beralih pola transaksinya dari luar jaringan (luring/offline) menjadi dalam jaringan (daring/online) mendorong Ikapi menawarkan solusi lain. Ikapi berupaya memfasilitasi penerbit dengan membuat toko buku daring berbasis marketplace yang bisa digunakan oleh anggota.

Flora Libra Yanti, Anthony Djafar, dan Andhika Dinata
Majalah Gatra edisi 27 / XXIII / 10 Mei 2017

Orang Awam Menulis Buku; Pengalaman Menjadi Self-Publisher

Orang Awam Menulis Buku; Pengalaman Menjadi Self-Publisher

Sore yang cerah, 14 Mei 2003. Setelah seharian suntuk menyelesaikan dua artikel tentang Hari Buku Nasional untuk dua koran daerah. Alangkah indahnya jika mencoba keluar. Menikmati temaram matahari sore ditemani buku dan teh tubruk tawar tambah sedikit madu. Beruntung ada warung yang selalu siap dengan request itu. Biasanya "ritual ini" saya akhiri dengan berkunjung ke toko buku. Pertama, mengetahui perkembangan (tema) buku. Kedua, menjaring ide untuk tulisan artikel. Ketiga—jujur saja—"cuci mata".

Tengah sibuk menyelidik buku-buku baru, tiba-tiba saya dikagetkan dengan tepukan, tepatnya sentuhan halus di bahu, "Kapan nulis buku?" suara yang saya dapatkan tepat ketika menoleh ke arah bahu. Oh, ternyata dia sahabat lama saya ketika kuliah. Pernah menjadi editor dan setting-layouters beberapa buku tulisan dosen. Kini menjadi wartawan sebuah tabloid di Jakarta. Demikian terang teman saya dalam komunikasi lisan yang akrab, hangat dan membahagiakan. Rupanya, sahabat saya ini belum tahu kalau saya sudah menulis dan menerbitkan buku, protes kecil dan upaya merevisi pertanyaan "Kapan nulis buku?" Maklum, terbilang lama kami tidak bertemu. Setelah bicara ngalor, ngidul, ber-haha hehe, saya pun tergoda menjadikan pertanyaan "Kapan nulis buku (lagi)?" sebagai keberlanjutan isi baku cakap kami.

Di MATABACA Vol. 1/No. 1/Agustus 2002, Frans M. Parera menulis "Kebanyakan kita hanya terbiasa dengan pengetahuan operasiona!, teknis, artistik, dan finansiai hasil pertanyaan 'bagaimana'. Perbukuan menantang kita memasuki horizon pengetahuan 'mengapa'... kemampuan refleksi menjadi bekal untuk mengembangkan pertanyaan 'mengapa' dan perbukuan menjadi sarana untuk kemampuan refleksi itu".

Dalam pemaknaan berbeda, pertanyaan "mengapa" menjadi hal mendasar bagi saya untuk menjadi self-publisher (penerbit swakelola): menulis sendiri, menyunting sendiri, mengemas sendiri (kalau bisa), dan memasarkan sendiri buah pikiran mereka dalam bentuk buku —pengertian minimal pemberian Bambang Trim. Mengembangkan pertanyaan "mengapa" dalam lingkup self-publisher berarti mempertanyakan dorongan hasrat/motivasi hingga seorang memilih untuk menulis sendiri buku, menyunting, menerbitkan dan memasarkan. Inherent, pilihan tema buku yang ditulis/diterbitkan.

Ada kegerahan dalam diri saya, tiap kali berkunjung ke toko buku. Ada banyak tanda tanya dalam benak saya. Tanda tanya itu kian bertambah seiring bertambahnya buku-buku dalam deretan rak. Mengapa masih saja saya betah menjadi pembaca, membuka dan membaca buku-buku orang lain. Orang lain baik dengan ukuran diri sendiri maupun orang lain dalam pengertian region (penulis/penerbit) yang berasal dari luar Semarang. Tidak satu pun karya saya di antara ratusan judul buku itu. Menghitung jumlah penerbit dari Semarang, jumlah jari tangan pun tidak akan habis. Menyadari kenyataan tersebut sering membuat saya tidak terlalu bersemangat jika hendak ke toko buku. Hingga pada satu titik, saya memutuskan diri sejenak "berpuasa" jalan-jalan ke toko buku, Dan tidak akan "berbuka" selama belum berhasil menerbitkan karya sendiri.

Sepertinya lebih merupakan sarkas-eufimis menyebut Semarang sebagai kota budaya atau pendidikan ketimbang sebuah sebutan prestatif. Kalau mobilitas masyarakat Semarang ke daerah lain terbilang tinggi, itu masih dalam pola interaksi bersifat fisik. Lebih didorong oleh orientasi afiliatif. Tidak ada yang salah dengan pola demikian, tetapi rasa-rasanya jadi kurang berimbang lantaran tidak ada produk budaya yang menyertainya.

Masyarakat Semarang diposisikan (atau memang memposisikan diri) sebagai target groups/objek penyebaran wacana dalam pesta pemikiran yang berkembang. Dialog atau tewar-menawar nilai tidak terjadi. Kalau begitu, tidak hanya impor konsumsi fisikal, pun makanan otak/pengetahuan. Sungguh, sebuah pemandangan indah jika ada dialog, ada semacam reserve, tawar-menawar nilai antar-daerah: Semarang dengan Makassar, Yogya dengan Banjarmasin, Bandung dengan Malang, Jakarta dengan Manado, dan seterusnya melalui produk kebudayaan, buku.

Alasan lain menjerumuskan diri menjadi self-publisher adalah upaya mendapatkan benefit tentang seluk-beluk perbukuan serta keuntungan bisnis yang proporsional. Dua alasan terakhir yang saya sebut tadi, terus terang saya masih sangat awam.

Bukannya tanpa hambatan saya menjadi self-publisher. Gagal dan berhasil maknanya sudah hampir berhimpit. Ada cerita menarik yang saya alami saat awal menjadi self-publisher. Mengingat ini sering saya tersenyum-senyum sendiri. Semakin saya tersadar betapa penting mengembangkan pertanyaan "mengapa".

Syahdan saya menawarkan buku Resep Kesehatan: Seri Terapi Madu, yang terdiri atas dua buku: Madu Plus untuk Kesehatan dan Vitalitas dan Ramuan Madu dengan Kayu Manis untuk Penyembuhan Kanker Tulang, Penyakit Jantung, Gangguan Lambung, kepada satu toko buku mainstream. Kebetulan ukuran fisik buku tersebut kecil karena saya maksudkan sebagai buku saku. Justru hal itulah yang menjadi alasan pertama keberatan (baca: penolakan). Gampang tercecer atau hilang, katanya. Alasan kedua —terlepas dari karakter kepribadian pegawai toko buku mainstream tersebut— harga buku terlalu mahal (dengan membandingkan dengan buku-buku lain).

"Buku ini dimaksudkan untuk kesehatan, tapi dengan huruf sekecil ini justru akan membuat orang yang baca sakit mata." Hingga entah karena kasihan atau tujuan memperolok-olok, pegawai itu mengatakan, "Barangkali kalau dijual di bus-bus bakalan laku" menutup kesuksesan penolakannya.

Agak stres juga saya. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya akan segera mencari "obat" dalam bentuk mekanisme pertahanan ego (self defence mechanism), dan obat itu saya dapat ketika membaca buku Berani Gagal: Hikmah Kegagalan karya "guru kegagalan" Billi PS. Lim. (Lagi-lagi harus berinteraksi dengan buku).

"Kegagalan pertama adalah pada saat Anda memutuskan diri untuk berhenti mencoba," demikian tulis Billi PS. Lim mengutip ucapan Stephen King, "Anda tidak gagal hanya saja belum menemukan cara yang paling sesuai/pas. Banyak yang dapat kita peroleh justu pada saat menemukan kegagalan tidak demikian jika kita mengalami keberhasilan," Lanjut Lim.

Membaca wiseword itu membuat suasana hati saya kembali membaik. Segera saya menulis daftar pertanyaan/keberatan ketika tawaran ditolak. Saya susun dengan jawaban yang sudah saya canggihkan (sophisticated) dalam bentuk paper guide, sambil membacanya secara berulang-ulang. Berharap jika ada pertanyaan sama, dapat saya jawab dengan baik.

Misalnya, huruf terlalu kecil? Tidak juga. Hampir semua koran menggunakan huruf Times New Roman 10 pt atau buku-buku yang dijadikan perbandingan menggunakan Arial 10 pt. Sementara buku (resep) ini menggunakan Garamond 10,5 pt yang terlihat tajam, sedangkan font 11 atau 12 menjadi tidak proporsional dengan ukuran buku. Agar semakin readable, dalam penyajiannya menggunakan pendekatan jurnalisme presisi atau dibuat sistematis mungkin, rapi dan ada pembedaan yang jelas antara judul resep, resep, petunjuk, dosis dan anjuran.

Ukuran buku yang terlalu kecil? Tujuan buku adalah guide book/pocket book, dapat dijadikan teman perjalanan, bisa ditaruh di kotak obat, organizer, dompet.

Harga yang terlalu mahal? Dengan harga Rp. 2.500 untuk orang yang biasa beli buku/intellectual property rights mungkin murah,  tetapi kerja intelektualnya itu yang mahal karena untuk menulis buku harus research dokumentasi yang panjang: kliping, buku, perpustakaan, website, ekperimentasi dan itu bukan sesuatu yang murah baik secara ekonomis maupun sosial (waktu, perhatian, dan lain-lain).

Tidak sia-siasaya menyiapkan catatan kecil ini. Ketika menawarkan ke toko buku lain (masih tergolong mainstream) ternyata pertanyaannnya sama. Dengan jawaban yang sudah mengalami pencangggihan, akhirnya toko buku mau membantu memasarkan. Tentu dengan diskon yang tidak bisa dibilang kecil (dan ini merupakan salah satu critical problem dalam dunia perbukuan).

Hasilnya? Sebanyak 500 eksemplar buku tentang madu habis terjual dalam waktu kurang lebih empat bulan. Dengan biaya promosi yang boleh dikatakan nol rupiah. Bahkan saya beberapa kali ditelepon untuk menyetok kembali. Kini, buku resep madu tengah memasuki proses akhir cetakan kedua.

Buku ketiga lain lagi ceritanya. Buku ketiga berjudul Pesta, Cinta dan Buku, tentang jejak pengalaman saya ketika menulis artikel di media massa. Berulang kali saya dihadapkan pada pertanyaan "mengapa". Mengapa harus menulis buku, menulis artikel, bukannya buku sejenis sudah banyak, "Kamu kan hanya menulis artikel di media lokal dengan kuantitas yang tidak banyak, you're nothing, belum pantas untuk menulis buku," bagian dari diri saya bertanya. Dari sekian panjang masa penyelesalan tulisan, waktu terbesar justu dihabiskan untuk menjawab pertanyaan mengapa tersebut.

Lama saya bersepi-sepi menyatukan kepercayaan diri yang tercerai berai. Lebih dari lima buku semuanya tentang menulis (artikel) saya baca berulang-ulang. Memetakan isi buku, menyusun dalam sebuah matrik, membanding-bandingkan hingga satu titik terang muncul, ada satu hal yang sering dilupakan oleh penulis buku (artikel), yaitu penjelasan tentang willingness to write sangat terbatas. Menempatkan pada skill (keterampilan) praktis sebagai porsi terbesar dari halaman bukunya. Ada satu hal terpenting —yang ini rupanya terlupakan— yaitu proses lahimya sebuah tulisan, bagaimana membuat orang termotivasi untuk menulis, serta kebiasaan hidup (habit) seperti apa yang dapat mendukung bagi tumbuhnya tradisi menulis yang kuat.

Temuan lain? Mereka yang menulis adalah para penulis mapan, orang-orang "lama" yang mempunyai kondisi dan tantangan berbeda dengan sekarang. Padahal, setiap buku kiat menulis (artikel) menempatkan mahasiswa dan golongan muda untuk menjadi (salah satu) target group. Saya pun berandai-andai. Seandainya yang menulis adalah anak muda, paling tidak bisa mengurangi kesenjangan umur (biologis) dan situasi (sosiologis) dengan pembaca.

Demi memperkuat alasan mengapa saya harus menulis buku Pesta, Cinta dan Buku, sekaligus pledoi atas kesimpulan belum pantas menulis buku karena selama ini menulis artikel hanya pada media di daerah, saya dapatkan dari membaca secara kontekstual (tentang ini dapat Anda baca pada tulisan saya "Membaca (Buku) Saja Belum Cukup", MATABACA Vol.1/No.12/Agustus 2003 hlm. 17-20). Ke depan, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah secara penuh, isu-isu yang mengemuka justru berada di daerah (lokal-regional).

Rasa-rasanya kok kurang adil jika semua penulis menjadikan media nasional (yang berada di Jakarta) sebagai pilihan untuk mempublikasikan tulisan. Terus, siapa yang akan melakukan transformasi proses "pencerdasan" serta sosialisasi nilai terhadap masyarakat pembaca di tingkat daerah? Padahal, jika orang daerah sendiri yang menulis tentang isu di daerah atau isu nasional, pengaruhnya terhadap daerah bukankah lebih nyekrup? Berdasarkan hal itu, lahirlah buku Pesta, Cinta dan Buku pada akhir Juli 2003. Soal distribusi boleh dibilang "sempuma" (Pesta, Cinta dan Buku sebelumnya mengalami masa penantian tiga bulan lebih di salah satu penerbit besar di Jakarta).

Jean Baptish Say (1767-1832), ekonom klasik yang terkenal dengan hukum Say mengatakan: production creates its own demand. Produksi saja suatu barang sebanyak-banyaknya, nanti pasti ada yang membeli. Demikian kira-kira terjemahan bebasnya. Hukum Say berlaku jika suatu korporasi punya dana besar sehingga dapat melakukan promosi gencar, menciptakan permintaan. Namun, buat yang punya dana cekak pilihannya safety (meminimalisasi risiko) dengan demand create its own supply. Jenis, kuantitas, kualitas, dan harga barang yang diproduksi ditentukan oleh permintaan pasar (konsumen).

Dalam konteks self-publisher, harus dilakukan apa yang dinamakan opportunity analysis. Yang tidak hanya berdasarkan kalkulasi ekonomi/bisnis, tapi juga mengikutsertakan nilai (benefit), baik melalui observasi, wawancara, maupun penyebaran kuesioner, termasuk menjawab pertanyaan mengapa.

Tulisan ini tidak ditujukan sebagai cermin kesuksesan, hanya sekadar berbagi cerita. Mungkin ketiga buku yang saya tulis dan terbitkan (buku keempat segera menyusul) tidak istimewa. Apalah artinya buku yang ditulis oleh orang biasa atau awam, lingkup distribusinya pun hanya memenuhi pasar di Semarang dan sekitarnya. Namun, mengutip epilog Joko Pinurbo dalam satu tahun MATABACA
"Belum apa-apa.
Baru langkah awal.
Kami kira, ini awal yang baik."

Agus M. Irkham, penggiat komunitas Pasar Buku Indonesia
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/Oktober 2003

Saat Artikel Bukan Lagi Pilihan

Saat Artikel Bukan Lagi Pilihan

Menjadi wartawan kerapkali dijadikan pilihan oleh sebagian penulis ternama. Hal ini tentu tak mengherankan karena dengan menekuni profesi ini, keterampilan menulis yang dimiliki biasanya semakin terasah.

Seorang Ernest Hemingway (1899-1961) secara resmi memilih profesi ini pada 1917 saat memutuskan bergabung dengan media Kansas City Star, tak lama setelah lulus sekolah menengah. Di media ini, Ernest Hemingway —yang pernah aktif menulis di koran sekolah— belajar banyak soal keterampilan menulis. Keterampilannya semakin terasah saat bergabung dengan media Toronto Star Weekly (1920) serta menjadi koresponden perang selama berlangsung perang di Spanyol (1937) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945).

Selama rentang waktu tersebut, Ernest Hemingway tak hanya melahirkan karya jurnalistik berupa artikel atau berita perang untuk medianya. Dia pun membuat karya non artikel dalam bentuk novel, cerita pendek, dan puisi. Misalnya, kumpulan cerita Men without Women (1927), Three Stories and Ten Poems (1929), novel cinta A Farewell to Arms (1929), Winner Take Nothing (1933), dan First Forty-nine Stories (1939).

Profesi yang pernah dijalani peraih Nobel bidang sastra tahun 1954 tersebut hingga kini masih menjadi jalur yang dipilih beberapa penulis buku di dunia. Tak terkecuali di Indonesia, yang beberapa waktu terakhir menampilkan para penulis muda. Putu Fajar Arcana, misalnya, yang saat ini aktif sebagai staf redaksi desk non berita harian Kompas dan penyunting untuk buku-buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Dalam kegiatan rutinnya sebagai wartawan, Putu yang aktif menulis, khususnya puisi semasa SMA, masih menyempatkan diri untuk menulis cerpen. Bahkan, dalam semalam ia sanggup menyelesaikan dua cerpen. Kini, beberapa karya cerpennya telah dibukukan dengan judul Bunga Jepun. Kumpulan cerpen yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini berisi enam belas cerpen yang ditulis Putu sejak masih bekerja sebagai wartawan pada media lokal di Bali hingga Kompas di Jakarta. Cerpen-cerpen yang dibuat merupakan deretan fakta yang kemudian didramatisasi menjadi fakta yang terbayangkan atau cerita.

Beberapa cerpen yang termuat dalam Bunga Jepun mendapatkan penghargaan. Salah satunya yang berjudul "Para Penari", berhasil memenangkan penghargaan pertama pada lomba penulisan cerpen di Batu, Malang.

Hadirnya buku kumpulan cerpen ini menambah deretan karya Putu sebelumnya, seperti kumpulan puisi berjudul Bilik Cahaya (1997), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Menagerie IV (2000), Bali The Morning After (2000), Bonsai's Morning (1996), The Ginseng (1993), Dari Negeri Poci III (1994), Kembang Rampai Puisi Bali (1999), Amsal Sebuah Patung (1996), dan Gelak Esei Ombak Sajak (2000).

Selain cerpen dan puisi, naskah sinetron pernah pula dihasilkan dari pria kelahiran Negara, Bali, 1965 ini. Bahkan, pada 1993, naskah sinetron yang ditulisnya memenangkan Lomba Menulis Naskah Sinetron di Denpasar. Selain itu, beberapa naskah lain yang ditulisnya pernah dipentaskan di TVRI Pusat dan TVRI Bali. Kini, salah satu obsesi yang ingin diwujudkan Putu dalam waktu dekat adalah menulis novel. Saat ini proses tersebut sedang berlangsung dan telah menyelesaikan dua bab. Ide pembuatan novel ini berasal dari cerpennya yang berjudul "Para Penari".

"Banyak kawan-kawan saya bilang cerpen 'Para Penari' novelty sekali. Maksudnya adalah bahan novel sebenarnya," ujar Putu. Omongan sang kawan rupanya sanggup membuat Putu merenung dan melihat lebih dalam adanya persoalan besar dari "Para Penari", khususnya mengenai perubahan pola pikir atau pandangan orang Bali masa lalu dan sekarang soal penari seiring berkembangnya Bali menjadi objek wisata mancanegara.

Seperti halnya Putu, menulis novel juga menjadi obsesi perempuan kelahiran Caruban, Madiun, 2 Mei 1975, bernama Ana Maryam. Bedanya, Ana yang terlahir dengan nama asli Triana Sari dan saat ini bekerja di rumah produksi Demi Kamu Cretive Works sekaligus redaktur tamu pada tabloid mingguan Lelaki telah menyelesaikan novelnya. Novel tersebut diberi judul Mata Matahari yang diselesaikan Ana sekitar satu setengah tahun termasuk revisi. Novel ini dikerjakan Ana saat masih bekerja sebagai wartawan harian Jawa Pos.

"Ide menulis novel sendiri sebenarnya adalah proses jawaban dari pertanyaan terhadap diri saya sendiri, apakah saya sanggup menulis sebuah novel. Tanpa ada target diterbitkan, pokoknya hanya menulis saja. Tidak saya pungkiri, saya sangat terinspirasi oleh Ayu Utami. Saat saya membaca Saman, saya jadi berpikir, berarti, kita bisa menulis apa pun yang kita inginkan," ungkap Ana yang memperoleh ide menulis novel Mata Matahari sekitar pertengahan tahun 2001.

Dalam novel Mata Matahari yang diterbitkan Penerbit Bentang, Yogyakarta, Ana menampilkan tokoh utama bernama Lola yang memutuskan untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri tanpa perlu terikat tali pernikahan. Hal ini dikarenakan Lola lebih mempercayai kesejatian dan keabadian cinta ibu dan anak. Konsekuensinya, sang tokoh utama harus mengalami proses pencarian untuk menemukan lelaki yang kelak menjadi penderma sperma untuknya.

Soal karakter sang tokoh utama, Ana menjelaskan, "Lola adalah cerminan kaum urban sekarang. Anda akan menemukan banyak perempuan yang mirip Lola. Saat ini, banyak sekali perempuan yang lebih terbuka soal seksualitasnya, modern, dinamis, tidak takut terhadap apa yang dipikirkan orang tentang dirinya. Lola, barangkali cerminan dari saya, secara karakter. Tapi seluruh cerita yang terjadi di dalamnya, adalah imajinasi saya. Atau mungkin bahkan harapan saya terhadap kehidupan." Setelah novel, Ana memilih skenario sebagai media ekspresi dirinya. Setidaknya, saat ini ia telah pula menyelesaikan Mata Matahari dalam bentuk skenario dan berkeinginan untuk memfilmkannya, "Saya ingin memvisualisasikan imajinasi saya, Selain itu, saya ingin menulis lagi, dan lagi dan lagi. Sebab saya bisa gila kalau tidak mengeluarkan isi otak saya dalam bentuk tulisan. Selain novel, saya ingin menjadi penulis skenario film. Saat ini, selain sedang menulis novel kedua, saya juga sedang menulis skenario film layar lebar, yang disutradarai Hermawan Riyanto (kakak dari Garin Nugroho, yang selama ini lebih banyak menyutradarai film dokumenter dan iklan)," tutur Ana.

Di luar novel dan skenario, Ana masih belum mengembangkan diri untuk menulis bentuk karya tulis yang lain seperti buku nonfiksi, cerpen, atau puisi. Menanggapi hal ini, Ana hanya berujar, "Saya dulu waktu SMP-SMA sering menulis puisi. Apalagi waktu SMA, saya pimred majalah sekolah. Jadi, saya punya wadah untuk mencurahkan puisi saya. Tapi saat saya sudah bekerja, saya agak kesulitan menulis puisi. Nggak tahu kenapa. Apalagi cerpen. Saya beberapa kali berusaha menulis cerpen, tapi selalu gagal total. Sebab saya selalu ingin menuliskan semuanya secara panjang lebar dan beromantik ria."

Berbeda dengan Putu dan Ana yang memilih karya fiksi sebagai media ekspresi, Hikmat S. Tanuwijaya lebih memilih menyusun sebuah karya non-fiksi, Pria kelahiran Bogor, 3 Mei 1974 yang sehari-hari bekerja sebagai salah seorang redaktur harian Media Indonesia tersebut menulis buku tentang sepakbola Liga Italia yang diberi judul Saksi Mata Liga Italia. Buku tersebut diterbitkan Penerbit Dian Rakyat dan merupakan hasil kolaborasinya dengan wartawan yang juga pengamat sepakbola, khususnya Liga Italia, Rayana Jakasurya.

Dalam buku ini dipaparkan data yang meliputi skor pertandingan, top score, pemain termahal dan tulisan "kesaksian" yang menyeluruh soal Liga Italia selama satu dekade (1990-2000). Menurut Hikmat S. Tanuwijaya yang menyusun buku tersebut saat masih bekerja sebagai staf redaksi majalah PC Media, "Buku merupakan media ideal bagi saya untuk mengekspresikan ide-ide saya yang tak akan selalu dapat diwujudkan dalam media tempat saya bekerja. Terlebih lagi, cita-cita saya adalah menjadi penulis."

Saat ini, Hikmat yang mengaku memiliki beberapa materi plus konsep untuk dibuat buku tengah menjajaki penulisan buku dengan salah satu penerbit di Bandung. Namun, penggemar berat olahraga sepakbola ini mengungkapkan bahwa ia masih belum bisa mewujudkan ide-idenya dalam bentuk cerpen atau puisi.

Menulis non artikel di sela-sela kegiatan sebagai jurnalis juga dilakukan Ihsan Abdul Salam saat dirinya masih bergabung di majalah Matra. Selama menekuni pekerjaan tersebut, ia telah menghasilkan buku kumpulan sajak berjudul Pura-pura dalam Perahu (ditulis bersama rekannya Rizal), Surat Cinta, dan Seikat Kata yang Beku. Ketiga buku tersebut diterbitkan Komunitas Bambu, sebuah organisasi terbuka nirlaba yang bergerak di bidang kebudayaan.

"Sebenarnya saya menulis bukan hanya sajak, tapi lainnya. Tapi buku yang kelihatan baru sajak saja," ujar Ihsan saat ditanya mengapa hanya menulis sajak. Bagi pria kalem kelahiran 3 September yang belum mau menyebut tahun kelahiran ini, menghasilkan karya yang dibukukan merupakan obsesi yang selalu menyeruak dalam dirinya.

"Buku kan tidak lekang oleh zaman. Tidak seperti media lainnya, sepertinya begitu. Mungkin suatu waktu meluas. Tapi saya ingin saat ini fokus hanya pada buku. Bukan koran atau lainnya," ungkapnya.

Oleh karena itu, Ihsan yang telah meraih beberapa penghargaan untuk menulis (juara penulisan sajak di FSUI, juara penulisan esai untuk sebuah kedutaan di Indonesia, dan peraih nominasi Khatulistiwa Award 2002) berharap suatu waktu ia punya waktu yang bebas untuk menulis banyak karya, sekaligus ada yang membiayai.

Tempaan lewat jalur jurnalistik setidaknya banyak membantu Ernest Hemingway untuk menyelesaikan beberapa karya yang melegenda. Beberapa di antaranya masuk deretan buku paling berpengaruh (most influential books) di dunia, seperti For Whom the Bell Tolls dan The Old Man and the Sea. Bahkan, The Old Man and the Sea yang mengisahkan pengadilan seorang nelayan Kuba membuat Ernest Hemingway dinobatkan sebagai peraih Nobel bidang sastra.

Akankah tempaan serupa bakal membuat sosok penulis, seperti Putu, Ana, Hikmat, dan Ihsan sanggup menjadi "Ernest Hemingway" negeri kita?

Agus Setiadi, Pertcinta buku dan film
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.2/Oktober 2003

Read'O Tourism (Wisata Baca)

Read'O Tourism (Wisata Baca)

Mengisi liburan dengan jalan-jalan ke tempat menakjubkan, lokasi berpemandangan indah, tempat hiburan yang unik dan mewah, dan belanja barang-barang bermerk memang mengasyikkan. Namun, pernahkah kita berwisata karena hanya ingin baca buku? Sebagai orang yang kecanduan dengan bahan bacaan, tak kuasa rasanya ingin mengenal budaya lain dengan bepergian ke luar negeri. Tujuannya bukan untuk jalan-jalan melihat lokasi-lokasi wisata, melainkan mengunjungi pusat-pusat buku di negara-negara tersebut.

Kesempatan ini saya dapatkan ketika harus menghadiri Asian Resource Foundation Council Meeting di Bangkok. Bermodalkan dana pas-pasan dan perangkat ala backpacker, saya memilih untuk menuju Bangkok lewat Malaysia. Selain lebih hemat, saya bisa mendapatkan pengalaman tambahan di Negeri jiran tersebut. 

Saat itu bulan Februari, bulannya cinta. Saat yang tepat untuk berkelana ke negeri Asia Tenggara. Bukan untuk bercinta dengan manusia, tapi bercinta dengan buku, mata air ilmu pengetahuan.

Singkat cerita, selamatlah saya menginjakkan kaki di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Mewah, megah, dan menakjubkan. Tak berani saya membandingkan dengan Soekarno-Hatta di Cengkareng. Mungkin Changi Airport di Singapura dan Dong Muang di Thailand boleh jadi perbandingan.
Sahabat saya di sana, Ahmad Rizal —sesama pencinta buku— telah menanti dan berjanji akan mengantar saya ke penginapan bertarif rendah: RM10 per malam. Tempat itu adalah Majelis Belia dan Sukan atau dalam bahasa Inggris Center for Youth and Sport, semacam Youth Hostel di Taman Mini Indonesia Indah.

Kelar menaruh barang-barang bawaan yang hanya berupa dua tas ransel besar, saya langsung menuju Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Di sana saya bertemu dengan Ketua Departemen Politik, Cik Dr. Ahmad Nizam Sulaiman. Saya akrab dengan beliau sejak perkenalan kami pada pertukaran pelajar yang diberi nama South East Asia Regional Exchange Program (SEASREP) di Bali, Mei 2002.

Sebagai seorang doktor lulusan Inggris, tentu beliau sangat sibuk sehingga saya dipercaya menjadi kuncen ruang kerjanya selama ia mengajar. Mata saya Iangsung terpana ketika melihat lebih dari 500 buku terjajar di rak bukunya. Walau agak kurang rapi, saya tetap nyaman memperhatikan koleksi buku tersebut. Mata saya beberapa kali terhenti pada buku Mahathir and Mahathirsm, Konfrontasi, A History of Southeast Asia, dan banyak buku lainnya. Lalu saya tarik keluar sebuah buku berjudul Remaja dan Budaya karangan Robiah Kulop Hamzah.

Remaja adalah sebagian dari golongan pemuda, sedangkan ada yang bilang, "Apabila ingin mengukur peradaban suatu negeri, lihatlah adab pemuda di negeri tersebut." Memang peradaban tak pernah lepas dari soal budaya tulis-menulis dan membaca. Dengan posisi Malaysia yang berada di peringkat ke-58 dalam Human Development Index 2003, membaca mungkin sudah mulai meresapi jiwa remaja Malaysia. Dan buku merupakan alat bantu efektif untuk mengkonfirmasi asumsi saya tersebut.

Belum puas menikmati koleksi Cik Nizam, saya ditarik keluar ruangan oleh seorang wanita keturunan Cina, Sophia Lim. Ia salah satu mahasiswa S2 yang dibimbing Cik Nizam, Jangan heran apabila Cik Nizam dan Sophia sangat akrab, walaupun berbeda ras. Malaysia sudah merumuskan metode pembauran yang relatif berhasil sejak kerusuhan Mei 1969. India dan Cina mengisi sekitar 50% dari seluruh populasi negeri yang dipimpin Mahathir Mohammad selama 22 tahun tersebut. Dr. M —julukan Mahathir Mohammad— juga menyumbangkan pemikiran tentang pembauran lewat karyanya, The Malay Dilemma. Sophia mengajak saya ke Perpustakaan Tun Seri Lanang: perpustakaan pusat di UKM.

Herannya, pustakawan yang pertama saya temui ternyata asli Yogya, masih fasih bahasa Jawa. Sophia Lim menjelaskan alasan saya mengunjungi Malaysia, yaitu berwisata membaca. Tanpa buang waktu, si pustakawan menjelaskan seluk-beluk perpustakaan tersebut dan mengajak saya keliling lantai dasar.

Pencarian koleksi dilakukan dengan sistem bernama VIRTUA, sedangkan di kampus saya —Universitas Indonesia— sistem yang dipakai bernama OPAC. Lantai pertama diisi dengan TV layar datar 50 inci yang sering menayangkan siaran CNN atau BBC. Bagian ruangan tersebut dilengkapi dengan sofa dan dirancang layaknya ruang keluarga.

Lantai kedua terdiri dari laboratorium bahasa, mikrofilm, CD, VCD, video, dan peta-peta, sedangkan lantai ketiga berisikan jurnal atau terbitan berseri, termasuk 4.500 jurnal elektronik yang dilanggan via internet. Perpustakaan ini juga memiliki koleksi koran-koran lama. Koleksi korannya dimuiai sejak edisi 1983.

Lantai keempat dilengkapi kembali dengan TV layar lebar dan layar datar serta beberapa komputer yang semuanya hasil sumbangan Samsung. Lantai ini juga berfungsi sebagai tempat peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan.

Hal yang menggembirakan ialah perpustakaan ini buka hingga pukul 22.30 tiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu. Pada akhir pekan, perpustakaan tutup pukul 18.00. Pada saat-saat mendekati ujian, perpustakaan ini akan dibuka lebih lama lagi, bahkan hingga pukul 00.00. Masa libur semester pun perpustakaan tetap buka hingga pukul 18.00. Satu-satunya saat perpustakaan ini tutup total ialah Sabtu-Minggu pertama tiap bulannya.

Puas? Tentu belum. Dalam waktu dua bulan pun, saya belum tentu bisa menghabiskan seluruh buku di perpustakaan ini. Saya Iangsung mengincar jurnal-jurnal ekonomi yang tidak pernah saya jumpai di perpustakaan di Tanah Air. World Executive Digest, menjadi pilihan untuk saya baca saat itu.

Mengapa? Dalam edisi Januari 1998, terbitan berkala tersebut memuat artikel bertajuk "The Best Ideas for 1998". Walau sudah lima tahun lalu, saya yakin sembilan puluh delapan ide yang terdapat di dalamnya masih ada yang relevan. Menurutsaya, idelah yang menggerakkan dunia. Tanpa ide, orang takkan mengubah cara hidup. Tanpa ide, tentu tak ada yang namanya materi. Soalnya, Plato bilang materi itu adalah kreasi dari idea.
Wisata baca saya berlanjut ke Perpustakaan Negara. Namun, saat itu mentari sudah pamit diri, rembulan kini jadi penerang di atas langit biru Malaysia. Kini saatnya saya membaca sastra. Sastra Melayu diakui sebagai salah satu sastra terbaik di dunia, bahkan sejarah orang-orang Melayu yang tersebar baik di Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, bahkan Filipina, harus ditelusuri lewat karya sastra bertajuk Hikayat Melayu. Tak jauh dari Perpustakaan Negara, ada sebuah gedung megah yang diperuntukkan khusus untuk pementasan drama. Saya lupa apa judul pertunjukan malam itu, namun kawan-kawan bilang bahwa grup yang sedang tampil berasal dari Kelantan. Dialek Kelantan tak semudah dialek Kuala Lumpur sehingga agak sukar untuk dipahami. Agaknya, rmereka menampilkan pertunjukan bertema kawin paksa. Dengan demikian, membaca bukan hanya literal melainkan bisa juga visual, dan pertunjukan ini masuk dalam agenda wisata baca saya.

Bicara soal membaca secara visual, keesokan harinya saya berangkat ke Malaka. Tujuannya untuk membaca sejarah Malaysia dan Indonesia secara visual. Malaka, pelabuhan yang menorehkan nama dalam catatan sejarah dunia sebagai pelabuhan terpenting sebelum kedatangan Portugis tahun 1511, masih dirawat keaslian arsitekturnya. Saya membaca Hang Tuah dan Hang Jebat secara visual di sini. Lalu membaca kelakuan Portugis dan Kesultanan Malaka di abad ke-16. Saya membaca tulisan yang terukir di batu setebal 30 cm dan berbentuk kotak 1,5 x 1 meter di bekas makam Fransiskus Xaverius. Orang ini adalah penyebar Kristen terpenting di wilayah Asia Tenggara.

Waktu tak berpihak pada saya. Council Meeting di Bangkok sudah makin dekat. Wisata baca di Malaysia untuk sementara ditutup sampai di Malaka. Dari stasiun bus Pudu Raya, saya menumpang bus tujuan Hat Yai, Kota itu adalah wilayah perbatasan Malaysia-Thailand. Selama di bus, saya mulai menyibak-nyibak halaman-halaman buku Thailand, Eyewitness-Travel Guide. Buku yang bermoto "The Guides That Show You What Others Only Tell You" ini memang penuh informasi. Dia memberikan pengetahuan tentang Negeri Gajah Putih yang sebelumnya mengalami dua fase kerajaan, yaitu Sukothai, Ayutthaya, dan kemudian baru Thailand. Buku tersebut juga memberikan gambaran bahwa kebudayaan Thailand terpengaruh oleh Sri Lanka dan Khmer (Kamboja). Yang pasti, buku tersebut mewanti-wanti bahwa Bangkok adalah kota rawan macet dan juga rawan banjir! Lihatlah, betapa buku dapat memberikan sesuatu yang dulu tak pernah kita ketahui dan kita duga sebelumnya. Saya pikir, cuma Jakarta saja yang rawan kedua hal tersebut.

Sampai di Hat Yai sebenarnya saya bisa naik kereta ke Bangkok, tapi jam ketibaannya masih lama. Saya putuskan untuk naik bus lagi dari Hat Yai ke Bangkok. Oh ya, apa yang saya baca secara visual di Hat Yai? Saya membaca bahwa kota ini banyak dihuni oleh warga keturunan Cina dengan kemahiran bahasa yang luar biasa. Paling tidak, mereka mesti menguasai bahasa Melayu, Thai, dan Inggris. Bahasa Perancis dan Jerman juga dikuasai beberapa orang di kota ini. Bayangkan betapa bahasa dapat membuat kota ini begitu disenangi oleh backpacker dari berbagai belahan dunia. Sampai-sampai Chris Rowthorn dan kawan-kawan, tak lupa menaruh Hat Yai di halaman 840 dalam Lonely Planet, Southeast Asia on a Shoe String, terbitan tahun 2001. Lalu apa yang saya baca secara literal di kota perbatasan ini? Lonely Planet tentunya. Buku yang dijuluki Yellow Bible ini memudahkan saya merencanakan apa yang harus saya lihat dan bagaimana menuju lokasi tersebut.

Pukul 19.00, saya memasuki kota Bangkok. Lama sekali rasanya. Bayangkan, selama 12 jam perjalanan dari Hat Yai ke Bangkok, tak satu pun penumpang yang dapat diajak bicara. Maunya sih, bisa ngobrol-ngobrol cari kenalan dengan sesama penumpang bus. Sayangnya, orang yang duduk di samping saya orang Thai tulen, tak bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Sesampainya di Bangkok Southern Bus Station, saya langsung dijemput oleh salah satu panitia. Tujuan pertama bukan hotel, melainkan tempat makan karena rasanya perut saya sudah keroncongan. Restoran itu berada di depan Phra Sumen Fortress, dekat Khaosan Road. Usai makan dan beramah-tamah dengan panitia lain, saya langsung keluar dan melihat-lihat taman yang mengelilingi benteng tersebut. Jangan bandingkan benteng tersebut dengan benteng di Yogyakarta atau Makassar. Ukurannya hanya sekitar 50 x 50 meter dan berbentuk persegi delapan.

Apa lagi yang saya temukan? Di pojok tembok luar benteng tersebut berdiri dua lemari kayu yang dijejali buku, koran, dan majalah. Tanpa pikir panjang, segera saya hampiri tempat itu dan mulai memeriksa koleksinya. Salah satu panitia memberi tahu bahwa bahan bacaan itu disediakan oleh pemerintah setempat agar taman tersebut dapat sekaligus berfungsi sebagai taman bacaan. Itulah Bangkok, ibu kota Thailand. Kota yang mungkin melahirkan separuh dari 9.459 orang bergelar doktor dan 74.315 orang bergelar master di Thailand pada 2000.

Keesokan harinya, saya melakukan wisata visual kembali. Kali ini ke kota lama Ayuthaya. Kota yang dibangun pada 1350 ini memiliki banyak wat atau candi. Arsitekturnya dipengaruhi oleh bangunan Chedi di Sri Lanka dan Phrang di Kamboja. Dulu, seluruh wat di kota ini dilapisi oleh emas. Namun, sejak penyerangan oleh tentara Burma di tahun 1767, kabarnya seluruh emas dilelehkan dengan cara dibakar dan dibawa ke Burma. Dari mana saya tahu semua ini? Lagi-lagi dengan membaca. Semua berita itu tertulis di brosur dan papan informasi yang terpampang hampir di seluruh lokasi.

Hawa panas dan jarak yang agak jauh memaksa saya balik ke Bangkok. Saya harus beristirahat. Namun, sesampainya di hotel, saya malah disuguhkan tumpukan novel berbahasa Inggris di lobi hotel. Karya Hemmingway, Sidney Sheldon, dan Charnvit Kasetsiri —sejarawan Thailand— menyita perhatian saya dan menghilangkan kelelahan sejenak.

Pagi tiba, Council Meeting masih satu hari lagi. Kami dikumpulkan untuk membuat draf agenda acara yang menyangkut presentasi dan diskusi. Asian Resource Foundation (ARF) bukanlah organisasi politik. ARF adalah wadah saling berbagi untuk para pekerja sosial. Oleh karena itu, draf acara selesai dibahas tak lebih dari dua jam. Saya tak boleh membuang waktu. Saya mesti ke Grand Palace. Tempat ini seperti Monas-nya Bangkok, wajib dikunjungi. Dengan tampang sok lugu dan tak mengucap sepatah kata pun, saya berhasil lolos melewati pintu khusus orang Thai, Sebenarnya orang asing harus membayar 20 Baht, tapi orang Thai boleh masuk dengan gratis! Tampang orang Asia Tenggara yang lumayan mirip satu sama lain, ternyata membawa manfaat. Lumayan, menghemat pengeluaran.

Pembacaan visual saya diasah lagi ketika terpana oleh lukisan yang menghiasi sekeliling dinding istana ini. Lukisan yang terdiri dari 178 panel ini bercerita tentang kisah Ramakien, atau kita mengenalnya dengan kisah Ramayana. Sebagai simbol ibu kota, bangunan yang dibangun pada 1782 ini juga punya kuil tempat beribadah para penganut Buddha. Kuil tersebut bernama Wat Phra Keo. Di dalamnya disimpan patung Emerald Buddha yang tiap berganti musim mesti diganti warna pakaiannya. Menjelang sore, saya bergegas ke Universitas Thammasat. Kebetulan saya punya kenalan. Di sana terdapat kelas Bahasa Indonesia di bawah Departemen of Southeast Asia. Ia langsung membawa saya ke Perpustakaan Pridi Panomyong.

Bangunan ini terletak di bawah tanah dan terdiri dari tiga tingkat. Lantai pertama ialah lantai teratas dan lantai tiga terletak di paling bawah. Posisinya persis di samping Sungai Chao Phraya, kanal air yang membelah kota Bangkok. Seluruh ruangan dilengkapi dengan AC (air conditioner) dan manajemen dikelola oleh orang kulit putih. Penggunaan OPAC dilakukan dengan posisi berdiri.

Di pojok lantai pertama perpustakaan ini terdapat koleksi surat kabar internasional. Jumlahnya lumayan banyak, menunjukkan keinginan pihak pengeiola mendorong mahasiswa Thammasat untuk mengetahui keadaan global. Pengelola berlangganan antara lain Information World Review, Le Monde, New York Review of Books, London Review of Books, Reading Today, The Time Literary Supplement. Selain itu, International Herald Tribune dapat kita konsumsi setiap hari yang dikombinasi dengan koran berbahasa Inggris terbitan lokal, The Nation dan Bangkok Post.

Saya kemudian turun ke lantai dua. Saya temui buku-buku khusus berbahasa Thailand. Di lantai ini pula saya temukan bagian penyimpanan koran-koran berusia tua. Koleksi buku tentang Asia Tenggara hanya dua baris dalam satu rak. Mengejutkan! Koleksi buku tentang Indonesia berjumlah satu rak buku penuh. Bahkan, dokumen fotokopi dari Cornell Papers —dokumen yang berisi analisis Peristiwa 30 September/1 Oktober 1965— dapat ditemukan di sini.

Jenuh dengan kegiatan membaca? Di lantai itu juga tersedia fasilitas audiovisual. Berbagai jenis VCD, CD, atau kaset video model VHS atau Beta dapat dinikmati lengkap dengan player dan headphone. Film-film terbaru atau box office dapat ditemukan dalam koleksi perpustakaan audiovisual ini. Film-film dokumenter tentang pergerakan mahasiswa semacam Tragedi 14 Oktober 1973 juga terdapat di antara koleksi tersebut. Di bagian paling belakang lantai ini terdapat koleksi microform dan sound lab (sejenis laboratorium bahasa).

Lantai ketiga ialah lantai terbawah dari bangunan bawah tanah ini. Lantai ketiga dikhususkan untuk koleksi buku berbahasa Inggris. Fasilitas internet dapat digunakan dengan cuma-cuma, tapi dengan pergiliran waktu pemakaian (1 jam maksimal) dan tidak diperbolehkan melakukan download. Oh ya, jangan sekali-kali menerima telepon lewat HP di dalam ruangan baca, dilarang keras! Mereka yang ingin menerima telepon harus keluar ruangan dan berbicara di balkon yang disediakan di tiap lantai.

Puas dengan wisata buku hari itu? Tidak! Jelas tidak! Masih ada perpustakaan Universitas Chulalongkom yang belum saya kunjungi. Namun, saya bukan turis di sini, saya berada di negara ini untuk mempresentasikan makalah tentang anak-anak Indonesia. Saya harus mempersiapkannya sebelum besok Council Meeting dimulai. Rencananya, saya juga akan mampir ke Singapura usai Council Meeting. Negara yang bersimbol Merlion ini punya beberapa toko buku berkualitas dan berharga murah sehingga sempat dijuluki A Heaven for Bookworms oleh The Jakarta Post.

Karena motifnya wisata baca, suvenir yang saya bawa pulang tak lain dan tak bukan buku! Lusinan buku, baik yang saya beli maupun diberi kawan, mengisi ransel hitam yang saya tenteng itu. New Deal for Asia, Mahathir's Paradigm Shift, dan karya Hishamuddin Rais —seorang oposan UMNO— Pilihan Raya atau Pilihan Jalan Raya adalah beberapa buku yang saya dapat di Malaysia. Sementara karya fiksi, seperti A Thai Short Story dan Time karangan Chart Korbjitti adalah sebagian dari buku yang saya peroleh di Thailand.

Dari cerita ini, wisata baca bisa juga menjadi alternatif pilihan untuk jalan-jalan ke luar negeri. Jadi, tunggu apalagi? Mulailah berwisata membaca!

Tubagus Arie Rukmantara, pencinta buku dan staf Laboratorium llmu Potitik FISIP UI.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No. 2/ Oktober 2003.

Buku, Film, dan Anak-anak Jalanan

Buku, Film, dan Anak-anak Jalanan

"Cobalah sekali-kali ikut kegiatan kami," suatu hari salah seorang teman, yang cukup aktif di kegiatan sosial anak-anak jalanan bertandang ke rumah. Ia tampak kepayahaan dengan beban daypack yang tergantung di lengan, begitu diletakkan di lantai terdengar bunyinya, brug!
 
"Pakaian bekas lagi?" tanyaku, sebab beberapa kali kedatangannya ke rumah untuk meminta koleksi pakaian-pakaian bekas yang akan diberikan ke sekumpulan anak-anak jalanan. Entah itu yang di sekitar wilayah Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Minggu, aku sendiri kurang hafal.

"Bukan," ia menggeleng, membongkar isi tasnya. Mataku terbelalak! Semua berisi buku, ada komik Donal Bebek, Asterix, majalah Bobo, buku Dongeng 1001 Malam, Putri Salju, Si Kancil, dan banyak lagi; dari yang masih bagus-bagus hingga lusuh.

"Kau punya buku cerita anak-anak yang sudah tak terpakai, atau cuma jadi koleksi pribadi? Lebih baik sumbangkan ke kami?" Aku menggeleng. Dulu, buku-buku seperti itu banyak sekali, tapi seiring waktu dan pertambahan usia, aku sudah tidak mengkonsumsinya, hingga buku-buku tersebut entah hilang atau lenyap ke mana. Mungkin ditukar abu gosok, diminta tukang sayur untuk pembungkus, atau terbuang ke bak sampah, aku sudah tidak ingat lagi.

"Payah," keluh temanku tampak benar ia kecewa. "Kau pasti akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakan sebuah buku jika sekali-kali ikut kegiatan ini."

Itulah awal aku terjun ke perkampungan kumuh dengan puluhan bocah-bocah kecil, dari pengemis, gelandangan, pemulung, pengamen, beberapa waktu lalu bersama lima aktivis yang salah satunya temanku.

"Untuk berbuat seperti ini tidak perlu punya yayasan, minta dukungan ini-itu, cuma berlima kami sudah melanglang buana, memasuki kehidupan mereka dengan memberi baju-baju bekas, vitamin, obat generik, dan sekarang kami coba memasukkan dunia pendidikan dengan buku cerita dan tontonan anak-anak. Mereka kan bocah-bocah yang banyak kehilangan dunia kanaknya."

Luar biasa! Pikirku, mengamati bagaimana bocah-bocah itu berebutan buku cerita yang kami bagikan. Bahkan mereka yang masih buta huruf pun tertarik dengan cara melihat gambar-gambamya. Mereka juga tanya pada temannya yang sudah bisa membaca, atau pada kami.

"Makanya kalian harus belajar membaca, ya? Supaya bisa tahu apa yang sedang kancil lakukan terhadap ratusan ekor buaya di sungai ini. Ayo, siapa yang mau belajar membaca?"

"Saya!"
"Saya!"
"Saya!"
"Saya!"
"Saya!"

Puluhan tangan mungil, hitam, dekil, berebut mengacungkan jari. Kami menerangkan, mereka akan belajar di rumah salah seorang dari kami setiap hari minggu. Semua yang mau belajar akan dijemput, selain mendapat alat tulis gratis: buku, pensil penghapus, rautan.

"Ini untuk pertama kali aku coba mengenalkan mereka dunia pendidikan supaya tidak buta huruf dengan buku cerita, dan film anak-anak. Kalau dengan belajar seperti anak-anak sekolah beneran, susahnya minta ampun."

"Kenapa hanya seminggu sekali?" 

"ltulah, orangtua mereka terhimpit ekonomi, bantuan anak-anaknya sangat diharapkan. Kalau anak-anak mereka diculik waktunya, bisa-bisa rencanaku gagal total dan mereka tetap jadi anak-anak bangsa yang bodoh."

Minggu depannya pukul 10 pagi, dengan mobil kijang kami menjemput anak-anak tersebut. Lumayan banyak, ada sepuluh orang. Lucu-lucu karena mereka mengenakan pakaian yang terbagus, tercium aroma wangi bedak, layaknya mau pergi piknik saja. Sepanjang jalan mereka bersorak-sorak, nyanyi. Kami sibuk memberi intruksi agar mereka tertib.

"Habis baru kali ini naik mobil bagus dan wangi, Mbak!"

Ruangan yang akan dibuat kelas bagi anak-anak itu merupakan garasi yang telah disulap menjadi kelas sederhana, ada white board, televisi berukuran 20 inci, sementara anak-anak dibiarkan duduk beralas karpet.

Acara pertama mengenalkan mereka abjad a, b, c, d —bagi yang belum dapat membaca sama sekali, lain menyalinnya ke dalam buku yang telah dibagi-bagikan, diberikan PR untuk menghafal huruf-huruf tersebut. Mereka yang nilainya terbagus mendapat hadiah buku mewarnai dengan gambar-gambar menarik.

Sementara untuk yang sudah dapat membaca, diminta maju ke depan membacakan buku cerita untuk teman-temannya. Mengagumkan sekali, sebab ada yang membaca seperti seorang pendongeng, dan mereka sebenarnya cukup banyak yang pintar-pintar. Kalau saja mereka diberikan, atau memiliki kesempatan sama seperti anak-anak Indonesia lain yang tak ikut terbebani ekonomi dalam usia dini.

Enam puluh menit acara membaca dan menulis selesai. Sambil menikmati bubur kacang hijau, mereka diberi kesempatan menonton film anak-anak.

"Harus ditonton benar-benar ya, setelah itu buat yang sudah bisa menulis, ceritanya ditulis lagi di buku. Sementara buat yang belum bisa menulis, bisa diceritakan ke depan untuk pertemuan berikutnya."

Terlihat sekali anak-anak itu gembira, duduk dengan tertibnya, tanpa suara kecuali bunyi sendok dan seruan tertahan jika yang mereka tonton mulai tegang atau seru. Film yang dipilih memang bagus dan cocok untuk anak-anak seusia mereka, yang berusia antara 7 hingga 14 tahun. Film keluarga buatan Australia berjudul 'Babe', yang menceritakan tentang seeker babi muda ingin menjadi anjing penggembala.

Tepat pukul satu siang, anak-anak siap diantar pulang. "Kapan lagi, Mbak, kita bisa belajar di sini?"

"Kenapa gak sering-sering aja sih, Mbak? Sorenya kita, kan masih bisa ngamen."

"lya, Mbak. Nanti saya bisa baca buku cerita ya, bisa nulis juga kalau sering-sering ikut belajar?"

"Mbak, filmnya bagus banget. Besok juga nonton lagi, kan?"

"Mbak, kita juga bisa seperti Babe, kan?"

"Mbak, nonton film Harry penyihir seperti yang kita lihat di gambar bioskop, dong!"

Kebahagiaan, kebanggaan, yang membanjiri hati melihat respons anak-anak tersebut, membuat apa yang telah kami ;akukan demikian ringan --dan memang ringan. Mengumpulkan buku-buku bekas, mengumpulkan uang untuk sekadar beli alat-alat tulis yang tidak mencapai beratus-ratus ribu, menyewa film anak-anak yang sebuah hanya lima ribu perak, menyulap garasi menjadi ruang kelas, semua dilakukan seminggu sekali, dan kami cuma berenam, berikut aku. Buat kami yang penting niat, bukan begitu?

Walau dibandingkan dengan acara seperti Global Action Week yang diadakan tanggal 6-13 April silam atas kerja sama The Centre for the Betterment of Education (CBE) Indonesia dengan UNESCO, Oxfam, dan beberapa LSM nasional yang menggelar aksi "Pendidikan untuk Semua", jelas belum ada apa-apanya, namun setidak-tidaknya kami telah mengembalikan sekeping hak dan kebahagiaan mereka sebagai seorang anak. Mengenalkan dunia pendidikan dari buku dan film, walau kelak mereka cuma bisa membaca, tanpa ijazah, untuk memasuki taraf hidup yang lebih baik, hingga tak selamanya jadi seorang pemulung, pengamen, pengemis.

Bahkan mereka telah mengatakannya, betapa bahkan seekor anak babi bernama Babe saja bisa mewujudkan impian menjadi anjing penggembala, bahkan memenangkan kompetisi anjing penggembala sedunia. Bukan impian yang mustahil memang jika kita mau belajar dan yakin.

Namun, yang lebih menyakinkan dari itu, tiga bulan berjalan, selain peserta bertambah, satu-dua dari mereka yang sama sekali tak mengenal abjad mulai mampu mengeja huruf demi huruf, terbata-bata membaca cerita Si Kancil. Dan, kami tidak tahu berapa tepatnya jumlah penderita buta huruf di negeri Indonesia....

Membaca buku ibarat berenang
di lautan ilmu
Yang sangat luasnya,
Marilah kita latih anak-anak
bangsa kita
Berenang di samudera ilmu

(mengutip dalam ingatan, Taufiq Ismail, 2000)

Eny M., pencinta dunia buku dan anak tinggal di Jakarta
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.2/Oktober 2003

Buku Hebat

Buku Hebat

Pembuatan buku tak.akan pernah berakhir. Begitu pula pembuatan daftar "buku hebat". Ada begitu banyak buku (tentunya yang berkualitas) yang bisa dibaca sehingga selalu cukup persediaan bagi Anda untuk membacanya. Penerbitan buku sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Tak heran, penghargaan atas buku pun sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu.

Namun, Anda tidak bisa membaca semua buku yang sudah terbit. Anda hanya dapat memilih dan membaca buku yang menurut Anda paling baik. Kenyataannya, buku-buku seperti itu (yang baik dari segi isi, tata letak, desain kulit muka, dan lain-lain) relatif sedikit.

Sebenarnya, pendataan buku-buku yang paling baik setua membaca dan menulis, dan hal ini pernah dilakukan oleh para pengajar dan pustakawan dari Alexandria kuno. Orang Quintillian melakukannya untuk pendidikan orang Roman, terutama untuk jenis buku klasik dan buku modern. Begitu pula pada zaman Renaisans, Montaigne dan Erasmus —pemimpin kebangkitan pembelajaran— membuat daftar buku yang mereka baca, yang pada zaman sekarang disebut sebagai katalog.

Memang, pemilihan buku berkualitas akan berubah dengan sendirinya seiring dengan berubahnya waktu. Namun, satu hal yang tidak bisa dipungkiri ada keseragaman dalam daftar yang mewakili pilihan paling baik dari periode apa pun. Para pecinta buku dari periode yang berbeda selalu memasukkan buku klasik dan buku modern ke dalam daftar buku-buku berkualitas. Mereka selalu ingin tahu apakah yang modern itu selalu mengarah kepada buku yang hebat dan bisa mengguncang dunia, paling tidak bisa mengubah perilaku masyarakat.

Alangkah baiknya bila kita mengenali tanda-tanda keunggulan buku yang masuk dalam kategori buku hebat itu. Ada enam tanda keunggulan buku dalam peradaban. Pertama, paling banyak dibaca. Buku-buku itu bukan saja laris selama setahun atau dua tahun melainkan abadi sebagai buku best seller. Misalnya, buku Gone with the Wind karya Margaret Mitchell yang pembacanya relatif sedikit dibandingkan dengan drama Shakespeare atau Don Quixote. Begitu pula dengan buku Homer's Iliad, telah dibaca sekurang-kurangnya oleh 25 juta masyarakat pada 3.000 tahun terakhir.

Sebuah buku bisa dikatakan hebat bukan karena habis terjual pada suatu periode, melainkan karena pembaca itu sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang agak lama dan panjang untuk menghimpun publik pembaca. Astronom Kepler dalam bukunya bahkan mengatakan, "mungkin perlu menunggu seabad untuk pembaca dan peneliti".

Kedua, buku hebat biasanya populer, bukan keilmuan. Buku jenis ini tidak ditulis oleh seorang spesialis (baik itu buku fiisafat, sains, sejarah atau puisi), berbicara tentang manusia, bukan akademik maupun kumpulan masalah. Buku-buku semacam ini ditulis untuk orang biasa, tapi bisa dan enak dibaca oleh siapa pun. Misalnya, untuk membaca sebuah buku teks pelajaran bagi siswa kelas atas, Anda harus membaca text book dasar dahulu karena di sana dibahas semua elemen dari subjek apa pun. Dengan membaca text book, kita dapat lebih mudah memahami buku teks pelajaran, walaupun text book tidak berhubungan satu sama lain.

Yang lebih aneh lagi, ada satu jenis buku hebat yang dapat memberikan "cahaya" bagi timbulnya para intelektual baru. Ambil contoh saja buku Euclid's Elements of Geometry and Newton's Mathematical Principles of Natural Philosophy. Untuk penulisan buku ini, Euclid memerlukan studi matematika. Buku yang ia tulis itu murni sebuah pengenalan dasar geometri dan aritmatika. Namun, persamaan-persamaan yang terdapat dalam buku Euclid tidak dapat dipakai oleh Newton yang menggunakan matematika dalam masalah fisika. Walaupun demikian, gaya yang ditampilkan Newton menunjukkan bahwa ia terpengaruh oleh perlakuan rasio dan proporsi Euclid.

Ketiga, buku hebat selalu aktual/kontemporer, dapat bertahan sampai satu atau dua tahun, bahkan sampai sepuluh tahun. Sampai-sampai kita (mungkin) tidak dapat menyebut ulang buku terlaris yang pernah terbit terdahulu, apalagi membacanya. Buku hebat tidak pernah ketinggalan zaman, meski gerakannya bagai angin kencang dari doktrin dan opini.

Jika buku hebat ini terbit di waktu yang akan datang, pasti masyarakat akan menghargainya karena keklasikannya. "Waktu kami adalah berbeda," ujar mereka. Sebaliknya, bagi kaum pelajar, buku hebat tidak pernah usang sebagai "penerang" untuk sebuah penelitian. Buku hebat adalah energi yang paling keras bagi setiap peradaban di dunia, kapan pun.

Masalah kemanusiaan yang mendasar tetap sama di semua abad. Siapa yang membaca pidato Demosthenes dan surat Cicero atau esai Bacon dan Montaigne akan menemukan seberapa konstan keasyikan orang dengan kegembiraan dan keadilan, dengan kebaikan dan kebenaran, dan bahkan kestabilan serta perubahan itu sendiri. Kita dapat menggerakkan energi kehidupan, tetapi kita tidak dapat melihat perubahan sesuai dengan rute yang dicita-citakan.

Keempat, buku hebat banyak dibaca. Jika membaca isinya, Anda tidak akan kecewa. Yang lebih penting lagi, buku itu memberikan ide lebih dari setiap halamannya daripada kebanyakan buku lain. Selain itu, isinya tidak pernah "basi" sepanjang zaman. Itulah sebabnya, mengapa Anda dapat membaca buku hebat berkali-kali.

Buku seperti itu dapat dibaca dengan berbagai tingkat pengalaman, pemahaman, dan interpretasi yang berbeda dari masing-masing pembacanya. Contohnya bisa dilihat pada buku Perjalanan Gulliver (Gulliver's Travels, Robinson Crusoe, dan Odyssey). Anak-anak dapat membaca buku itu dengan nikmat, tetapi gagal menemukan semua ide dan signifikansi yang menyiratkan sebuah pikiran dewasa.

Kelima, buku hebat adalah yang paling instruktif. Artinya, buku itu berupa komunikasi asli yang mengandung fakta dan memuat informasi yang tidak bisa ditemukan di buku lain. Inilah keunikan buku hebat: telah membuat sumbangan dasar bagi pikiran manusia.

Dengan demikian, kita tidak perlu untuk menambahkan bahwa buku hebat adalah buku yang sangat berpengaruh. Dalam tradisi pembelajaran, buku merupakan hal yang paling banyak dibahas oleh pembaca yang ingin menjadi penulis. Jenis buku ini banyak membahas buku lain yang jumlahnya tidak terhitung, bahkan sebagian telah terlupakan.

Keenam, buku hebat berurusan dengan masalah yang tidak terpecahkan yang berlangsung dalam kehidupan manusia. Ada misteri asli di dunia yang menandai batas pengetahuan manusia dan pendirian manusia. Penyelidikan dimulai dan diakhiri dengan rasa ingin tahu. Pikiran yang hebat mengakui misteri dengan jujur. Kebijaksanaan diperkuat, bahkan dihancurkan dengan batas pemahamannya.

Sebagai pembaca, kita memiliki hak istimewa dan memiliki persaudaraan yang besar yang tidak mengenal batas nasional. Saya tidak tahu bagaimana kita bisa menjadi teman dan semangat insani dalam semua manifestasi, tidak mengenal waktu dan tempat, dengan cara membaca buku hebat.

Mortimer J. Adler, editor, salah satu penyusun Encyclopedia Britannica, dan Ketua Rukun Baca "Great Books" dari Amerika Utara.
Tulisan yang telah dimuat di majalah Reader's Digest ini diterjemahkan secara bebas oleh Edi Warsidi.
Majalah Mata Baca Vol. 2/No.2/Oktober 2003.

Like untuk dapatkan update artikel terbaru